Sosialita's Profile

Your Profile Pic

sosialita


Birth Date : -

Website : -

Point : 1107

About me
-

Badges

1500 Points
2000 Points

Articles

No article yet.

Topics

Topic Posts Views Last post

Babak baru BIPI setelah kena denda Rp.500 juta "salah c

 Closed
0 2187 08 Dec, 2014 04:42

NASIB PENJUALAN PULAU-PULAU KARIMUNJAWA

 Closed
0 59 08 Dec, 2014 04:42

POLY Polysindo tukang sulap

 Closed
0 35543 08 Dec, 2014 04:42

Duit BNBR th 2010 jangan ditolak

 Closed
0 6136 08 Dec, 2014 04:42

MLPL Back Door listing Robbinz

 Closed
0 2442 08 Dec, 2014 04:42

DUIT ISAT Rp.5650 Jangan ditolak !

 Closed
0 514 08 Dec, 2014 04:42

Privatisasi dan Diversivikasi TINS

 Closed
0 14321 08 Dec, 2014 04:42

Duit Emiten Asuransi - Aturan Semua WNI harus punya Asuransi

8 113 07 Oct, 2010 02:22

MLPL Back Door listing Robbinz

pages: 1 2 3 4 ... 10
97 2564 20 Mar, 2020 01:08

Babak baru BIPI setelah menjadi Benakat Integra

pages: 1 2 3 4 ... 53
523 14521 19 Jun, 2016 15:28

KIAS ( THE SLEEPING GIANT AWAKENING )

pages: 1 2 3 4 ... 30
293 6686 07 Jun, 2013 01:49

5 saham unggulan di kala IHSG Jeblok. Duit jangan ditolak ...

pages: 1 2 3 4 ... 8
77 3118 18 Aug, 2010 12:15

Posts

21 Jul, 2005 01:58
Apakah harga saham selalu naik setelah melakukan Stock Split ?
21 Jul, 2005 01:59
Apakah yang sebenarnya terjadi di perusahaan ini ?
Mengapa British Virgin Island berani membeli dengan harga Rp.250 per lembar ?
21 Jul, 2005 02:10
apakah hari ini saham VOKS disuspensi oleh BEJ ? ukuran murah suatu saham dilihat dari sisi apa ? mungkinkah perusahaan yang mengalami defisit modal dapat dikatakan sebagai saham murah ?
kapan saham MITI akan dibuka suspensinya ?
Setelah Kejayaan Tambang Timah Berlalu \r\nJika ada pekerjaan lain tentu kami tidak lagi mendulang seperti ini,” keluh Joni, warga Batuberdaun, Dabo, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.Joni adalah satu dari puluhan warga Batuberdaun yang saat ini mengais rezeki dengan cara mendulang timah di pesisir pantai kawasan itu.Setiap pagi, dengan menggunakan sepeda kayuh, mereka berangkat dari rumah menuju pantai Batuberdaun. Berbekal nampan pendulang, sekop dan pengayak, mereka memulai pekerjaan mereka hari itu.”Sesampai di sini kami tidak dapat langsung bekerja. Harus menunggu air laut surut,” tutur Joni. Saat air surut, mereka berbondong-bondong ke pesisir, memilih tempat yang menurut mereka cukup banyak biji timahnya. Menggunakan sekop, mereka menggali batu dan pasir, lalu diletakkan di pendulangan.Mereka memutar pendulangan itu sambil berendam di pinggir laut. Pekerjaan itu mereka lakukan hingga tengah hari saat air mulai pasang. Jika beruntung, mereka dapat membawa pulang satu kilogram bijih timah. Jika kurang beruntung, mendapat setengah kilogram bijih timah pun sudah anugerah.Kepada perusahaan pengumpul, bijih timah itu mereka jual Rp 38.000 per kilogram. ”Lebih baik dibandingkan jika kami bekerja di proyek bangunan. Sebagai pekerja bangunan kami hanya diberi Rp 15.000 per hari,” ungkap Syam, pendulang timah lainnya.Menjadi pekerja bangunan terpaksa dilakukan kalau cuaca buruk dan air laut tidak kunjung surut. ”Kebun tidak dapat diandalkan dan tidak ada pilihan pekerjaan lain,” Syam menambahkan.Tambang terbesarDalam pelajaran ilmu bumi dulu, Dabo-Singkep, Kepulauan Riau, dikenal di seantero Indonesia sebagai salah satu tambang timah terbesar selain Bangka di Sumatera Selatan. Penambangan telah dimulai sejak 1812 ketika Pemerintah Hindia Belanda masih menguasai Indonesia.Setelah Indonesia merdeka, PT Timah mengambil alih pengelolaan tambang tersebut. Mereka membangun infrastruktur hingga terbentuk kota baru.Ketika PT Timah berhenti beroperasi pada 1992, menurut Camat Dabo Abu Hazim, perekonomian di kawasan itu pun ikut merosot. Warga kehilangan sumber mata pencarian.”Dulu kendaraan ramai melintasi jalan-jalan di Dabo, tetapi sekarang sepi,” ungkap seorang warga. Pelabuhan udara di Dabo yang dulu ramai dengan para petinggi PT Timah dan warga kini lengang.”Kemampuan warga terbatas, potensi lain tidak ada,” tutur Ashari, dulu guru di SD milik PT Timah. Bangunan infrastruktur yang tersisa dipakai untuk puskesmas, perumahan, instalasi air minum, serta jaringan jalan.Bangunan yang terbengkalai antara lain bangunan pengolahan bijih timah—dekat Pasar Dabo. Bangunan itu keropos dan atap sengnya banyak berlubang.Abu Hazim mengatakan, ”Sejak PT Timah ditutup, persoalan dasar di Dabo yaitu tidak ada lapangan pekerjaan, dan peninggalan PT Timah yang belum terurus.”Menggali kolongWarga kini menggali kolong-kolong tambang timah bekas PT Timah, namun hasilnya tak memuaskan.”Mereka tidak memiliki peta tanah seperti yang dimiliki PT Timah. Tinggal sisanya yang kini didulang penambang tradisional,” kata Ashari.Beberapa pemodal akhirnya menjual mesin pompa dan areal pertambangan miliknya dengan harga murah. Bekas tambang itu jika digali berisiko biaya tinggi.”Apalagi belum ada payung hukumnya. Kalaupun ada hasilnya, pihak pemerintah setempat belum dapat meminta retribusi. Semua penambangan yang saat ini dilakukan adalah ilegal,” tutur Abu Hazim, Camat Dabo. Tetapi ia tidak dapat melarang penambangan karena lapangan pekerjaan lain tidak ada.Ia berharap, Lingga sebagai kabupaten baru dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi penduduk dua kecamatan Dabo dan Singkep yang berpenduduk 38.000 jiwa itu. Dabo-Singkep merupakan kecamatan terpadat Kabupaten Lingga yang berpenduduk total 70.000 jiwa”Apalagi Dabo-Singkep merupakan kecamatan terpadat di Kabupaten Lingga yang total penduduknya mencapai 70.000 jiwa lebih,” kata Abu.Melalui pemekaran wilayah itu diharapkan pemerintah dapat membuka lapangan kerja baru seluas-luasnya bagi warga Dabo. Selama ini sebagian besar pemuda di Dabo lebih memilih pindah ke Batam, Tanjung Pinang, atau kota-kota lain di Indonesia untuk bekerja.Potensi perkebunanAbu Hazim mengatakan, Dabo dan Singkep sebenarnya memiliki potensi lain di bidang perkebunan. ”Dulu pernah ada investor yang hendak membuka perkebunan sawit di Singkep tetapi hingga saat ini belum terealisasi. Padahal potensinya cukup besar, mencapai lebih dari 20.000 hektar. Juga ada jeruk yang dikelola warga. Potensi itu juga belum dioptimalkan,” tuturnya.Selama ini, kata Abu Hazim, perolehan pemerintah setempat hanya dari hasil perikanan, perkebunan, dan terutama dari penambangan pasir.Ada enam perusahaan penambang pasir di Dabo-Singkep yang bekerja di atas lahan seluas 239.282 hektar.”Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Lingga memperoleh Rp 2 miliar dari penambangan pasir. Sekitar Rp 70 miliar perolehan pemerintah dari pajak,” ungkap Abu Hazim.Perolehan pemerintah daerah juga masih seret karena belum ada peraturan daerah tentang retribusi beberapa kegiatan ekonomi. Seperti misalnya untuk usaha sarang walet yang saat ini sedang menjamur di Dabo.Kini perolehan hanya dari penambangan pasir. Ini sebenarnya disayangkan warga. ”Sebentar lagi kami ini hanya punya air saja, tidak lagi tanah air. Karena tanah-tanah di sini sudah dijual semua. Dulu timah kami diserap habis. Sekarang ini pasir kami dijual juga. Dapat dilihat, sebentar lagi akan ada sungai besar di Dabo karena pengerukan pasir itu,” ungkap seorang warga.Saat memasuki hutan di kawasan air panas, Dabo, truk-truk besar lalu-lalang mengangkut berton-ton pasir berarak ke pelabuhan. Dengan kapal tongkang pasir-pasir itu keluar. Konon, ungkap warga Dabo, pasir-pasir itu dijual ke Singapura.Lenyap sudah kejayaan pertambangan timah yang dulu sempat memakmurkan warga Dabo-Singkep. Dan kini, jika tidak berhati-hati, kekayaan lainnya pun akan ikut pergi jika tidak dikelola dengan baik. Yang pasti warga masih mengais dan mendulang timah di kolong-kolong tambang.
Menatap Sisa-sisa Kejayaan \r\n\r\n\r\n"Usia saya terus bertambah. Meski punya pengalaman toh hingga saat ini belum dipanggil juga. Jadilah saya mengojek,” ungkap Ashari.\r\n\r\nDia belum beruban, namun dari wajahnya tampak dia sudah cukup berumur, sekitar 45 tahun. ”Anak saya nomor satu akan kuliah tahun ini,” ungkapnya.\r\n\r\nUntuk itu ia harus bekerja keras mencari penghasilan dengan mengojek—pekerjaan yang tidak dibayangkannya dulu. ”Saya mengajar anak-anak di sekolah PT Timah kala perusahaan itu masih aktif dan melakukan eksploitasi di Dabo-Singkep,” akunya. Setelah perusahaan itu hengkang, kandas juga karier Ashari.\r\n\r\n”Saat ada pemekaran wilayah dan Lingga menjadi kabupaten tahun 2003, saya mencoba mengajukan lamaran menjadi guru atau pegawai negeri. Tetapi karena harus bersaing dengan yang muda-muda saya kalah,” akunya.\r\n\r\nHarapannya tidak surut. Dia mencoba lagi, namun tak juga kunjung dipanggil. ”Umur terus bertambah. Akhirnya harus tahu diri juga. Saya tidak lagi berharap menjadi guru negeri,” keluh Ashari sambil terus memacu sepeda motornya menuju kolong-kolong bekas tambang timah di Dabo.\r\n\r\nNasib Ashari adalah nasib sebagian warga Dabo-Singkep. Setelah pesta timah usai pada tahun 1992, semarak kota itu pun meredup.\r\n\r\nSaat bertanya pada penjaga warung telekomunikasi, tempat bekas galian tambang PT Timah, Ashari cepat menjawab, ”Tanya saja kepada para tukang ojek, mereka tahu di mana kolong-kolong bekas tambang itu. Mereka semua bekas pekerja di kolong-kolong itu.”\r\n\r\n”Kami dulu adalah pekerja pada bagian eksplorasi, dia bagian sortir, kalau dia ini dulu sopir truk tetapi kadang-kadang ikut ngebor juga. Kalau saya, pernah ikut mengoperasikan bor laut dan bor darat,” ungkap seorang pengojek yang duduk berkelompok dengan rekan-rekannya di perempatan Pasar Dabo.\r\n\r\nMengalirlah cerita bahwa timah ketika itu menjadi sumber utama rezeki mereka. Jalan raya, rumah sakit, gedung-gedung, perumahan mewah milik perusahaan, hingga jaringan listrik dan air bersih, bandar udara, dan juga pelabuhan laut, semua ketika itu dibangun.\r\n\r\n”Di jalan ini hilir mudik truk-truk besar, mobil-mobil milik perusahaan. Pesawat terbang sering turun di sini, minimal seminggu tiga kali pulang-pergi ada jadwal pesawat,” ungkap Kam, seorang pengojek.\r\n\r\nItu kisah masa lalu. Saat ini Dabo tak ubahnya kota tua yang berderik saat bergerak.\r\n\r\nHanya beberapa pemuda tanggung berkumpul di kedai, menonton teman mereka bermain bola sodok. Beberapa penjual durian kaki lima duduk termenung menunggu pembeli yang hanya ada satu-dua.\r\n\r\nYang riuh adalah suara elektronik burung walet yang muncul dari berbagai pengeras suara yang dipasang di gedung-gedung tinggi. Suara itu untuk memikat walet agar datang dan bersarang di gedung itu.\r\n\r\nYa, hanya itulah bentuk geliat Dabo saat ini. Kalaupun ada pembangunan gedung baru, itu adalah gedung sarang walet.\r\n\r\nGedung itu dibangun bertingkat hingga setara dengan tiga lantai dan dari luar tampak seperti hotel bercat mencolok. Gedung sarang walet itu milik para pemodal dari Tanjung Pinang atau Batam. Ada juga yang konon berkongsi dengan pemodal dari Singapura.\r\n\r\nDi luar itu, Dabo adalah kota tua. Kedai-kedai kopi yang catnya pun telah berkerak asap kopi. Dan toko-toko lama dengan beberapa penjaga yang juga telah uzur. Di sana-sini hanya ada gedung-gedung tua tak terurus.\r\n\r\n”Dulu kantor ini bekas kantor bank, tetapi kemudian tutup bersama dengan perginya PT Timah,” ungkap Ashari.\r\n\r\nDi Dabo kini tinggal orang-orang tua. Mereka menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi atau duduk di perempatan jalan, tempat pengojek berkumpul. Yang lain adalah anak-anak sekolah SD, SMP, dan SMA.\r\n\r\n”Kalau sudah lulus mereka akan bersekolah di Tanjung Pinang atau di Batam dan Pekanbaru. Kalau keluarganya tidak mampu, mereka ke Tanjung Pinang atau Batam untuk bekerja. Mereka yang muda adalah pegawai negeri baru yang diangkat setelah Lingga menjadi kabupaten,” ungkap seorang warga.\r\n\r\nKondisi itu dibenarkan oleh Camat Dabo Abu Hazim yang mengatakan bahwa ketika Hari Raya tiba, kapal feri dari Tanjung Pinang selalu penuh sesak dengan penumpang.\r\n\r\n”Mereka adalah anak-anak yang pulang berlibur dan bersilaturahmi pada keluarga,” katanya.\r\n\r\nMereka yang agak muda dan bermodal menjadi tukang ojek. Yang tidak bermodal akan berendam di laut mengais timah. Selebihnya lagi, mengandalkan hasil perkebunan seperti durian, jeruk, dan karet.\r\n\r\nKolong-kolong timah yang telah berubah menjadi danau-danau besar itu hanya menyisakan kesepian yang larut bersama angin pegunungan. Begitulah Dabo seusai pesta timah
apakah Bank Bali akan membeli perusahaan taksi ?
21 Jul, 2005 03:32
dapatkah harganya turun lagi seperti dulu waktu VOKS di Rp.400 dan terjun bebas ke Rp.125 ?
bagaimana nasib cessie 500 MilyarRp. milik Bank Bali ? apakah itu dapat mengurangi laba BNLI ?
21 Jul, 2005 07:23
SCMA Tiba-tiba ada transaksi melalui broker KZ sebanyak 473.437.500 lembar di harga Rp.1225. Nilai transaksi Rp.579.960.937.500,- Ada berita apa di SCMA ?
21 Jul, 2005 07:44
berapa harga yang wajar untuk perusahaan seperti SCMA ?

Comments