Senokuncoro's Profile

Your Profile Pic

Seno Kuncoro


Birth Date : July 19, 1988

Website : http://www.stocom88.blogspot.co.id/

Point : 1260

About me

Economics Enthusiast

Badges

Citizen Journalist
PyoBie
Journalist
Paparazzi
PyoMe
PyoTastic

Articles

Posts

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat yang lebih rendah terhadap surat utang PT Intiland Development Tbk. (DILD) dari idA- pada kuartal I/2018 menjadi idBBB pada semester I/2019. DILD dinilai belum bisa pulih dari dinamika pasar properti yang mulai tertekan pada 2014 akibat pengetatan aturan penyaluran kredit properti serta pajak barang mewah dan sangat mewah. Ditambah, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional, industri properti menjadi sulit untuk bangkit lagi bahkan setelah pemerintah mulai satu per satu merevisi lagi kebijakan kredit dan pajak tersebut. Lagi pula, penopang ekonomi Indonesia, yakni penjualan komoditas juga melemah beberapa tahun terakhir sehingga menekan daya beli masyarakat. Analis Pefindo, Niken Indriarsih mengatakan peringkat yang lebih rendah pada periode semester I/2019 disebabkan masih lemahnya ekspektasi terhadap profil kredit. Alasannya, realisasi prapenjualan lebih rendah dari perkiraan khususnya pada proyek gedung bertingkat (high-rise) sulit terserap pasar. Dari sisi arus kas operasi, DILD pun mencatatkan angka negatif selama 5 tahun terakhir karena perseroan terus menarik utang guna menyelesaikan proyek. Kendati demikian, pada 2018 defisit berada di level yang lebih rendah. Hal itu pun menyebabkan peringkat surat utang DILD turun dari idA- menjadi idBBB+ pada kuartal I/2019. “Penurunan peringkat Intiland mencerminkan ekspektasi terhadap profil kredit DILD yang tetap lemah untuk kategori peringkat karena prapenjualan yang lebih rendah dari yang diperkirakan terutama untuk beberapa proyek high-rise yang tingkat take up-nya sulit untuk ditingkatkan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (18/7/2019). Adapun, peringkat perseroan bisa membaik bila leverage keuangan menurun dan arus kas membaik secara signifikan yang didukung oleh performa prapenjualan yang kuat. Sebaliknya, rating bisa menurun lagi bila pendapatan dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) perseroan melemah karena terdampak turunnya permintaan dan molornya penyelesaian proyek utama.
PT Phapros Tbk. akan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Agustus mendatang. Dalam keterbukaan informasi pada Jumat (19/7/2019), perusahaan farmasi ini mengumumkan akan menyelenggarakan RUPSLB pada 26 Agustus 2019. Panggilan RUPSLB akan dilakukan pada 2 Agustus 2019 melalui surat kabar nasional, situs web Bursa Efek Indonesia, dan situs web perseroan. Pemegang saham yang berhak menghadiri atau diwakili dalam RUPSLB adalah pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham sampai dengan 1 Agustus 2019 pukul 16.00 wib. Sekretaris Perusahaan Phapros Zahmilia Akbar menyampaikan, salah satu agenda yang akan dibahas dalam RUPSLB yakni seputar rencana rights issue emiten berkode saham PEHA ini. "Betul, salah satu agendanya terkait permohon izin rights issue," katanya pada Jumat (19/7/2019). Sebelumnya, produsen Antimo Herbal ini menargetkan dana yang diperoleh dari hasil rights issue sebesar Rp1,1 triliun. Penerimaan dana rights issue ditargetkan dapat diperoleh pada Desember 2019. Phapros menggandeng beberapa sekuritas BUMN terkait dengan rencana tersebut. Pada perdagangan Jumat (19/7/2019) pukul 13.32 WIB, saham PEHA berada di level Rp1.770 per saham, menguat 1,14%. Pada level harga itu, nilai kapitalisasi pasar PEHA sebesar Rp1,49 triliun. Saham PEHA saat ini diperdagangkan pada price to earning ratio (PER) 73,75 kali.
Stagnannya pertumbuhan otomotif di paruh pertama tahun ini tidak membuat performance kinerja keuangan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terkoreksi. Sebaliknya, perusahaan produsen ban terintegrasi ini mencatat pertumbuhan pendapatan dan penjualan usaha sebesar 6,74% menjadi Rp 7,66 triliun pada semester pertama 2019. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 7,18 triliun. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin dijelaskan, kontribusi terbesar pendapatan masih berasal dari pasar lokal. Total penjualan lokal GJTL semester pertama lalu mencapai Rp 6 triliun atau 78,33% dari total penjualan. Sedangkan sisanya merupakan penjualan ekspor. Bila priode yang sama tahun lalu membukukan rugi Rp 93,88 miliar, perseroan di semester pertama tahun ini membukukan untung Rp 167,76 miliar. Namun demikian, perseroan juga mencatat keuntungan kurs mata uang asing bersih Rp 136,17 miliar. Sementara tahun lalu GJTL membukukan kerugian kurs mata uang asing bersih Rp 358,39 miliar. Sekadar informasi, GJTL juga merupakan perusahaan yang memproduksi dan memasarkan berbagai ban, baik untuk sepeda motor, mobil penumpang, kendaraan komersial dan peralatan berat. Perusahaan ini juga memproduksi dan mendistribusikan produk karet lainnya seperti karet sintetis, tali ban, ban dalam, flap, o-ring dan yang lainnya. Melihat kinerja yang tumbuh positif, sebagian analis merekomendasikan untuk mengkoleksi saham Gajah Tunggal. Sebelumnya, analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony pernah bilang, meski perseroan tidak berencana ekspansi bisnis, diyakini akan tetap menunjukkan sentimen positif. Sebab, di tengah ketegangan perang dagang dan penjualan mobil yang menurun ada baiknya GJTL mengambil langkah yang lebih lambat. "Ada baiknya GJTL slow down terlebih dahulu sambil menunggu harga karet kembali menguat," ujar Chris. Sebelumnya, direktur GJTL Catharina Widjaja menyatakan, perusahaan akan fokus pada penjualan domestik dan ekspor saja dan tidak berencana untuk ekspansi baru di semester dua tahun ini. Tahun ini, perseroan juga menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) relatif sama dengan tahun lalu, yakni sejumlah US$30-35 juta yang seluruhnya dipergunakan untuk maintenance dan bukan untuk investasi baru. Disampaikan Catharina, tidak ada penambahan capex karena dua tahun lalu perseroan sudah menambahnya. Jadi sekarang capex untuk maintenance dan di kuartal pertama serapan capex mencapai US$8 juta.”Serapan capex hanya untuk maintenance seperti untuk pembaruan mesin karena mesin-mesin kita sudah lumayan lama. Seluruh dana capex itu berasal dari kas internal perseroan,” katanya. Perseroan juga tengah berupaya meningkatkan utilitas produksi menjadi 80% dari sekitar 65% hingga 70% saat ini. Selain itu, perseroan menargetkan porsi penjualan ekspor dalam dua tahun mendatang menjadi 40% dari posisi 38%. Peningkatan itu hanya dengan peningkatan volume penjualan dan bukan dengan menambah pasar baru. Pasar terbesar ekspor perseroan adalah negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan Eropa. Sementara untuk pasar baru, jumlahnya tidak begitu signifikan.
Lantaran bisnis komoditas sawit belum pulih menjadi alasan bagi PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) resmi menjual entitas anak tidak langsungnya, yakni PT Golden Blossom Sumatra (GBS) kepada PT Mitra Lintas Persada (MLP) dan Setiawan Ichlas pada Rabu (31/0smile lalu. Direktur GZCO, Yongki Tedja dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menyebutkan bahwa saat ini GBS memiliki lahan perkebunan dengan usia tanaman menghasilkan sekitar enam tahun. Adapun saat ini GBS tengah menanggung utang senilai Rp565 miliar dan pinjaman mitra plasma dengan nilai sekitar Rp280 miliar. Sayangnya, hasil kebun yang rendah dan ditambah dengan harga CPO yang tertekan secara global tidak dapat menutup beban operasi dan bunga atas pinjaman tersebut."GZCO tidak memiliki kas yang cukup untuk mengantarkan GBS pada level komersial yang diperkirakan dapat dicapai pada usia tanaman menghasilkan sekitar delapan hingga sembilan tahun atau pada dua hingga tiga tahun mendatang," kata Yongki. Sebagai informasi, nilai transaksi dari divestasi GBS tersebut mencapai Rp350 miliar atau setara dengan 32,71% dari ekuitas GZCO yang sebesar Rp1.070 juta, terhitung sampai dengan 31/12/2018 silam. Tahun ini, perseroan menargetkan produksi TBS inti mencapai 250.000 ton atau naik dari periode tahun lalu sebesar 228.549 ton. Sedangkan pada kuartal I-2019 baru tercapai 15% dari target atau senilai 40.049 ton. Untuk TBS Plasma dan third party ditargetkan mencapai 117.000 ton. Atau naik dari realisasi tahun 2018 sebesar 79.362 ton. Untuk produksi CPO di tahun 2019 mencapai 80.500 ton. Atau naik dari realisasi tahun 2018 mencapai 66.271 ton. Sampai kuartal I-2019 produksi CPO GZCO mencapai 48.109 unit atau baru mencapai 13% dari target. Andrew Michael Vincent, Direktur GZCO pernah bilang. ada dua sentimen negatif bagi industri CPO di tahun 2019. Mulai dari pengetatan ekspor CPO ke negara Uni Eropa dan juga harga CPO yang rendah. Adapun rata-rata harga CPO pada kuartal I-2019 menurutnya mencapai Rp 5.000 per kilogram (Kg). Sedangkan tahun lalu rata-rata mencapai Rp 7.000 per Kg. Meski demikian Vincent berharap pemerintah Indonesia saat ini sudah cukup banyak membantu agar dapat membangkitkan industri CPO. Mulai dari negosiasi dan lobi pemerintah di level global serta aturan penggunaan biodiesel (B20) pada kendaraan. "Harapannya tentu produk CPO bisa segera terserap di pasarandan kami harap dengan peningkatan itu bisa membantu kinerja kami," kata Vincent.
Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pemilik gerai Alfamart ini mengakusisi perusahaan yang bergerak dalam program poin member bersama yakni, PT Global Loyalty Indonesia (GLI).Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta. Kata Direktur PT Sumber Alfaria Tijaya Tbk, Tomin Widian, perseroan mencaplok sebesar 75% atau 15.000 lembar saham di perusahaan yang lebih dikenal dengan brand Ponta tersebut.”Untuk akuisisi 75% saham di GLI kami mengeluarkan dana investasi sebesar Rp17,8 miliar,”ujarnya. Lebih lanjut Tomin menuturkan apabila akuisisi dilakukan perseroan untuk memperkuat sinergi program poin member bersama (membership program) yang dikembangkan GLI dengan program aplikasi promosi dan belanja yang dikembangkan perseroan.Sebagai informasi, perseroan mencatat pendapatan neto sebesar Rp36,16 triliun hingga periode 30 Juni 2019 naik dari pendapatan neto Rp32,81 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Laba bruto naik menjadi Rp7,19 triliun dibandingkan laba bruto tahun sebelumnya yang Rp6,45 triliun dan laba usaha meningkat menjadi Rp731,99 miliar dari laba usaha Rp563,89 miliar. Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan badan diraih sebesar Rp522,73 miliar naik dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp264,66 miliar. Laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk diraih Rp400,36 miliar naik dari laba Rp218,08 miliar tahun sebelumnya. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal senilai Rp2 triliun untuk membuka 500 gerai baru. Disampaikan Tomin, belanja modal bakal digunakan untuk pembukaan gerai baru, memperpanjang masa sewa dan merenovasi gerai-gerai.”Belanja modal selama 2019 yang dianggarkan sekitar Rp2 triliun, selain pembukaan gerai baru tentunya kami masih akan memperpanjang dan merenovasi gerai-gerai yang sudah ada sekarang ini," ungkapnya. Selain menambah gerai, AMRT juga tengah mengkaji penutupan gerai. Menurutnya, jumlah gerai yang ditutup pada tahun ini tidak akan sebanyak 2018. Pada 2018, perseroan melakukan penutupan sekitar 200 gerai-300 gerai. Pada 2019, AMRT memproyeksikan pertumbuhan pendapatan bakal berada pada kisaran 8%-10%. Target pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan minimarket 2018. AMRT memproyeksikan pertumbuhan rerata penjualan per toko (SSSG) mencapai 5% pada 2019. Kinerja AMRT tergolong masih moncer. Laba bersih perseroan melonjak tahun lalu karena tingkat pertumbuhan pendapatan bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan beban operasional, kenaikan margin karena variasi produk, serta adanya peningkatan penghasilan berbasisfeeserta turunnya beban keuangan perseroan. Peningkatan penjualan tentunya masih didukung oleh promo menarik pada saat weekend dan juga promo menjelang liburan serta melakukan “Store Clustering”, dimana barang-barang yang tersedia di alfamart disesuiakan dengan kebutuhan sekitar dimana masing-masing toko berada.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengawasi perdagangan saham PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) karena telah terjadi penurunan harga saham di luar kewajaran. Maka lantaran hal tersebut, saham DEAL masuk kategori unusual market activity (UMA). Hingga akhir perdagangan sesi I, Selasa (19/11), harga saham DEAL turun hingga auto reject bawah sebesar 24,92% ke Rp 488 per saham. BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menjelaskan, masuknya saham DEAL pada kategori UMA karena penurunan harga di luar kebiasaan. BEI telah meminta konfirmasi kepada perusahaan tercatat pada tanggal 18 November 2019. Sampai saat ini, BEI masih menunggu jawaban konfirmasi perusahaan tercatat. Harga saham DEAL anjlok sejak pekan lalu setelah menyentuh level tertinggi pada 8 November 2019. Pada saat itu, harga saham DEAL mencapai Rp 2.090 per saham yang merupakan level tertinggi sejak IPO pada 9 November 2018. Dari level tersebut, harga saham DEAL terus merosot hingga Rp 650 per saham pada penutupan perdagangan kemarin. Dalam enam hari perdagangan, harga saham DEAL anjlok 68,90%. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, DEAL mencatat pendapatan Rp 129,56 miliar. Pendapatan ini turun 24,91% jika dibandingkan dengan pendapatan pada periode Januari-September 2018. Laba bersih Dewata Freight justru naik 23,08% ke Rp 1,92 miliar hingga akhir September 2019. Kenaikan pendapatan ini terjadi karena penurunan beban penjualan sebesar 36,83% menjadi Rp 2,71 miliar dan penurunan beban bunga sebesar 47,57% menjadi hanya Rp 4,32 miliar. Sebagai informasi, perseroan melalui anak usahanya PT Dewata Makmur Bersama tengah mempersiapkan ekspansi bisnis di bidang logistik energi. PT Dewata Makmur Bersama saat ini bergerak pada kegiatan usaha EPC (Engineering, Procurement, dan Construction) tengah bersiap untuk merampungkan inisiasi kontrak untuk pengiriman batu bara di wilayah Pulau Kalimantan dengan nilai investasi Rp200 miliar. Direktur Keuangan DEAL, Nurhasanah pernah bilang, guna memenuhi kontrak tersebut, perseroan telah mempersiapkan belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp50 miliar sampai dengan Rp100 miliar untuk menambah armada sebanyak 40–60 unit dump truck. Selain itu, melalui anak usahanya yang lain yakni PT Arrow Chain Management Logistics menambah peluang perseroan untuk menjadi perusahaan logistik yang terintegrasi dengan merambah bisnis dagang-el melalui kontrak bisnis yang telah terjalin sebelumnya. Dengan berbagai ekspansi bisnis yang dilakukan pada 2019, DEAL menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 84% atau Rp347 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan target pendapatan pada 2018 yakni Rp187 miliar.Pendapatan tersebut diproyeksi disumbang oleh kontribusi dari lini bisnis transportasi sebesar 71%, logistik 20%, dan usaha bisnis yang lain sebesar 9%. Selain itu, DEAL juga pernah menyampaikan aksi korporasi Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue dengan melepas sebanyak-banyak 280 juta lembar saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Di tengah geliatnya pertumbuhan industri pasar modal, dari segi nilai transaksi, jumlah investor lokal dan produk investasi yang ditawarkan, rupanya menjadi peluang bagi orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan terhadap kelengahan para investor. Ya, tergiur akan iming-iming imbal hasil yang fantastis dengan waktu singkat menjadi awal masyarakat menjadi korban produk investasi bodong. Oleh karena itu, sikap kritis investor sebelum berinvestasi terhadap beragam produk yang ditawarkan menjadi awal untuk tidak menjadi korban terhadap praktek investasi bodong. Ironisnya, praktek investasi ilegal ini juga dilakukan tidak hanya perusahaan kecil saja, tetapi juga perusahaan besar. Teranyar, kabar tidak mengenakkan terkait kasus penghimpunan dana masyarakat secara ilegal oleh PT Hanson International Tbk (MYRX) dalam bentuk surat utang jangka pendek. Meskipun sempat dibantah oleh pihak manajemen bahwa perseroan telah menghimpun dana sekitar Rp 2,4 triliun dalam bentuk utang-piutang dan bukan dalam bentuk simpanan, deposito atau sejenisnya. Namun menurut penelusuran Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK),Tongam L Tobing menyebut praktek penghimpunan dana oleh PT Hanson International Tbk tidak memiliki izin dan dikategorikan ilegal. Apa yang terjadi dengan penghimpunan dana masyarakat secara ilegal oleh Hanson International mirip dengan praktek investasi bodong Antaboga yang dilakukan bank Century pada tahun 2008 silam dengan menggelapkan dana korban triliunan rupiah. Padahal pada prakteknya, Antaboga sendiri bukan produk bank milik Century. Togam menceritakan, awalnya Hanson sempat tidak mengaku telah melakukan aktivitas penghimpunan dana tanpa izin. Kendati, akhirnya tindakan ilegal itu akhirnya berhasil dibuktikan. "Mereka mengatakan pada awal Oktober mereka tidak melakukan kegiatan itu dan bukan merupakan mereka, tapi kami kan tidak bisa ditipu oleh mereka," ujar Tongam. Mulanya, aktivitas Hanson telah diketahui oleh pengawas pasar modal OJK dan sudah dikenai sanksi. Setelah itu, temuan itu pun diserahkan kepada Satgas Waspada Investasi. Dari informasi tersebut, Tongam dan jajarannya pun melakukan pendalaman untuk membuktikan kegiatan yang dilakukan Hanson. Dan aktivitas itu terbukti, perseroan terungkap menghimpun dana dengan skema tiga bulan, enam bulan, 12 bulan, dan roll over. Karena itu, Satgas Waspada Investasi OJK pun menilai PT Hanson International Tbk melanggar Undang-undang Perbankan lantaran melakukan penghimpunan dana masyarakat tanpa izin. Perseroan diminta menghentikan aktivitas dan mengembalikan duit yang sudah dikumpulkannya itu."Karena dia (Hanson) tidak memiliki izin untuk itu, maka dia harus mengembalikan," ujar Tongam. Pengembalian dana investasi itu, kata dia, bisa dilakukan menggunakan sistem bulanan dengan tetap menjaga perusahaan tetap hidup. Menurut dia, perseroan mengumpulkan dana untuk ekspansi bisnis properti yang digelutinya dengan menjanjikan keuntungan berupa bunga. Penghimpunan dana tersebut, kata Tongam, telah dilakukan sejak 2016. Sehingga, jumlah duit yang dikantongi pun sudah mencapai triliunan rupiah dengan jumlah nasabah ribuan orang. "Mereka menghimpun dana dengan memberi bunga 10-12% seperti deposito, padahal itu bukan kegiatan mereka,”ujarnya. Menawarkan Fee Tertentu Berdasarkan penelusuran Satgas Waspada Investasi, kebanyakan investor yang menaruh duitnya kepada Hanson adalah individu. Modus operasinya, mereka melakukan teknik marketing untuk menawarkan investasi dengan fee tertentu. Berikutnya, duit masyarakat yang telah dihimpun lantas disimpan di perusahaan perbankan dalam negeri. Saat ini, Satgas Waspada Investasi dan pengawas pasar modal OJK juga tengah mendalami peran bank tersebut. "Hanson sudah kena sanksi pasar modal, tapi bank kan enggak tahu transaksinya," ujar dia. Sebab, nama yang tercantum di rekening perbankan adalah nama perusahaan Hanson. Selain itu, Hanson juga menempelkan logo Otoritas Jasa Keuangan dalam promosinya. Seolah-olah, OJK melegalkan aksi penghimpunan dana tersebut, padahal tidak. "PT Hanson itu memang di bawah pengawasan OJK karena perusahaan terbuka, tapi dengan cara seperti itu seakan memberi pemahaman bahwa OJK melegalkan itu, itu salah," ujar Tongam. Dirinya menegaskan bahwa izin perusahaan tersebut bukan untuk penghimpunan dana. Menanggapi teguran OJK, Head of Public Relations and Communication PT Hanson International Tbk Dessy A Putri mengatakan perseroan telah menerima teguran OJK agar tidak lagi menarik setoran dari masyarakat. "Perseroan akan mengikuti arahan dari OJK dan berkomitmen untuk memenuhi tanggung jawab kami sebagai perusahaan terbuka," ujar dia. Menyikapi kasus tersebut, pelajaran yang berharga dapat diambil adalah pentingnya sebuah pengawasan dan penegakan hukum untuk menjaga mahalnya sebuah kepercayaan investor di pasar modal. Bagaimanapun juga menjaga kepercayaan nasabah dan kenyamanan dalam bertransaksi di pasar modal menjadi hal yang mutlak dan harus di jungjung tinggi selain menghadirkan perangkat hukum dan instrument lain sebagai bentuk perlindungan terhadap para investor. Pasalnya, kondisi pasar yang tidak memiliki kepercayaan dari para investor akan ditinggal dan tertinggal dengan negara lain. Praktek pelanggaran hukum hingga investasi bodong dalam industri pasar modal akan terus bermunculan dengan berbagai macam praktek seiring dengan dinamisnya pertumbuhan industri pasar modal dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, OJK telah menetapkan beberapa kebijakan strategis dalam rangka mengembangkan industri pasar modal dan memberikan perlindungan kepada investor. Apalagi, menjaga kepercayaan investor dirasakan penting ketimbang hanya menjanjikan keuntungan besar. Asal tahu saja, kepercayaan investor yang sehat merupakan prinsip dasar bagi kesejahteraan ekonomi. Hal ini membuat lebih dari bertahun-tahun bahwa pasar modal telah membuktikan dirinya sebagai salah satu mesin penggerak yang paling kuat untuk pekerjaan, kesempatan, dan kemakmuran ekonomi global. Di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tertinggi ke-4 di Asia Pasifik. Pemerintah sendiri turut mengapresiasi capaian yang telah diraih pasar modal Indonesia dan mendorong investor di pasar modal untuk lebih mau beriventasi di sektor riil. Maka dari itu, pemerintah meminta kepada seluruh jajaran BEI serta otoritas terkait agar terus mendorong kepercayaan investor. Dengan demikian, harapan untuk terus mendongkrak nilai IHSG serta mendorong para perusahaan maupun investor untuk masuk ke lantai bursa dapat terwujud.
Di penghujung akhir tahun 2019, antrian beberapa perusahaan yang bakal menawarkan saham perdananya di publik mengulur panjang. Dimana salah satunya adalah PT Mulia Boga Raya yang telah menetapkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp750 per lembar saham dengan harga nominal Rp50 per lembar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta. Masa penawaran umum dilakukan pada tanggal 18-20 November 2019 dengan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 25 November 2019 mendatang. Disebutkan bahwa produsen keju bermerek Prochiz ini, melepas sebanyak-banyaknya 100 juta lembar saham. Sehingga dana maksimal yang bisa diraih Rp75 miliar. Dalam aksi korporasinya ini, perseroan menunjuk PT Lotus Andalan Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Bersamaan dengan penawaran umum perdana saham, perseroan akan menerbitkan saham baru kepada PT Tudung Putra Putri Jaya (TPPJ) dalam rangka pelaksanaan konversi obligasi wajib konversi yang diterbitkan berdasarkan perjanjian investasi sehubungan dengan obligasi wajib konversi tertanggal 25 Juni 2019 (Perjanjian OWK) sejumlah 200 juta saham biasa atas nama pada tanggal penjatahan. Adapun harga konversi OWK adalah sama dengan harga penawaran yaitu sebesar Rp750 per saham. Perseroan juga mengadakan program alokasi saham karyawan (Employee Stock Allocation atau ESA) dengan mengalokasikan sebesar 1,34% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum perdana saham atau sejumlah 1.340.000 saham. Sementara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, mengantongi 38 perusahaan dalam daftar pipeline calon perusahan tercatat.“Di pipeline ada 38 calon emiten, ada 4 yang menggunakan laporan per Agustus dan September. Sementara 34 menggunakan lapkeu per Juni yang siap tercatat tahun ini,”kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setya. Disampaikannya, apabila sukses tercatat semua, jumlah perusahaan tercatat pada tahun ini akan menyentuh rekor baru sebanyak 84 emiten. Adapun pada Senin (18/11), BEI telah kedatangan emiten ke-46 yang melantai di bursa yaitu PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE). Kendati terbilang banyak, Nyoman menegaskan bahwa pihak bursa tetap ketat dalam melakukan screening untuk proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Diharapkan dari 34 perusahaan dalam pipeline tersebut benar-benar dapat masuk ke bursa dengan memiliki prospek yang cerah dan pertumbuhan yang kuat. Adapun dari daftar tersebut, terdapat dua calon emiten yang akan mencatatkan sahamnya menggunakan aturan Reg S/1444 A dari Bursa AS. Aturan Reg S/144A merupakan aturan penawaran internasional (international offering) yang mana investornya akan berdatangan dari Amerika Serikat maupun luar AS. Kedua aturan perdagangan dari U.S. Securities and Exchange Comission (SEC) ini prosesnya lebih kompleks ketimbang IPO domestik. Pasalnya, regulasi yang menaunginya harus tunduk pada standar dokumentasi domestik dan internasional.
Aksi korporasi PT Phapros Tbk (PEHA) melakukan penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp1,1 triliun mundur dari jadwal awal. "Sementara ini masih proses registrasi di OJK. Ada kemunduran sedikit terkait dokumen administratif, yang semula dijadwalkan di November,"kata Sekretaris Perusahaan PT Phapros Tbk, Zahmilia Akbar di Jakarta. Disampaikannya, perseroan menjadwalkan tanggal pencatatan HMETD di Bursa pada 13 November 2019. Adapun, awal perdagangan HMETD di Bursa pada 13 November 2019 dan akhir perdagangan pada 20 November 2019. Sebelumnya, anak usaha PT Kimia Farma Tbk. ini telah mendapatkan persetujuan dari rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Agustus kemarin, untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 862,75 juta saham biasa dengan nilai nominal Rp100. Adapun, nilai emisi right issue sebanyak-banyaknya sebesar Rp1,1 triliun. Sementara itu, harga pelaksanaan dan jumlah final saham yang akan ditawarkan akan diumumkan kemudian. Mila mengatakan perseroan masih berharap dapat melakukan pemenuhan syarat administratif yang dibutuhkan di OJK, sehingga dapat selesai pada Desember."Kami berharap bisa tetap jalan tahun ini. We do our best," imbuhnya. Sebagai informasi, PT Kimia Farma Tbk. telah memberikan konfirmasi dukungan atas rencana right issue melalui surat tertanggal 28 Maret 2019. Perseroan juga telah memberikan uang muka setoran modal Rp395,95 miliar. Nilai ini merupakan jumlah minimal pelaksanaan penambahan modal sesuai undang-undang yang berlaku. Phapros berencana menggunakan dana yang diperoleh dari hasil right issue sekitar 50% untuk ekspansi organik maupun anorganik perseroan dan perusahaan anak, sekitar 20% untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek perseroan, dan 30% sisanya digunakan untuk memenuhi modal kerja perseroan. Sebagai informasi, di kuartal tiga 2019, PEHA membukukan laba bersih sebesar Rp 59,99 miliar atau tergerus 37,32% dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp95,73 miliar. Selain itu, perseroan juga membukukan kenaikan penjualan 13,6% menjadi Rp791,94 miliar. Penjualan berasal dari segmen Obat Generik Berlogo (OGB) yang tumbuh 17,93% menjadi Rp422,17 miliar. Diikuti segmen obat resep yang naik 20,33% menjadi Rp201,17 miliar, serta segmen obat bebas meningkat 9,4% menjadi Rp155,54 miliar.
Ambisi MNC Grup mengusai pasar televisi berbayar di Indonesia bakal berjalan mulus seiring rencana mengakuisisi -PT First Media Tbk (KLBV). Corporate Secretary First Media, Harianda Noerlan dalam siaran persnya di Jakarta, mengatakan, proses akusisi yang dilakukan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) terhadap perseroan masih merupakan tahap awal. Kedua perusahaan sudah menandatangani term sheet yang belum merupakan suatu perjanjian definitif dan tidak mengikat.”Pelaksanaan akuisisi akan bergantung antara lain pada hasil due diligence yang disepakati para pihak, pemenuhan kondisi prasyarat, kesepakatan pembiayaan oleh IPTV dengan pihak lainnya,"ujarnya. Kondisi dan prasyarat tersebut antara lain, ketentuan pasar modal dan peraturan perundang- undangan yang berlaku, serta ketentuan-ketentuan lain yang akan disepakati lebih lanjut oleh para pihak. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan, kedua belah pihak harus mencapai kesepakan dalam kurun waktu enam bulan. "Perseroan tetap dapat melakukan pengembangan bisnis dan sinergi sampai tercapainya kesepakatan lebih lanjut," tambah Harianda. Sebelumnya, direksi perusahaan penyedia layanan televisi berbasis internet milik Hary Tanoesodibjo, menyatakan resmi berniat mengakuisisi First Media milik Grup Lippo. Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur Utama MNC Vision Networks, Ade Tjandra seperti dikutip CNBC. “Perseroan sudah menekan term sheet untuk menjajaki akuisisi mayoritas saham Link dari First Media dan Asia Link," kata Ade. Namun pihaknya belum menyebutkan detail rencana transaksi tersebut kapan akan diselesaikan, bersama dengan besaran saham dan nilainya. Ade menjelaskan, akuisisi ini akan menciptakan berbagai sinergi dalam konten, infrastruktur jaringan, kapasitas bandwidth, dan lainnya yang akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan.
Bisnis ritel tahun ini masih penuh dengan tantangan bagi PT Hero Supermkaret Tbk (HERO) seiring beberapa gerai yang ditutup karena kalah bersaing dengan perusahaan ritel lainya. Namun demikian, HERO memiliki strategi untuk menghadapi persaingan yang begitu ketat di tahun depan. Dimana strategi perseroan adalah dengan transformasi dan rebranding untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen, suplaier dan juga karyawan. Kata Patrick Lindvall, Presiden Direktur HERO, perseroan akan fokus pada transformasi dan inovasi bisnis untuk meningkatkan kinerja keuangan di tahun depan. Namun demikian, dirinya tidak mau menyebutkan angka target bisnis dan termasuk nilai investasi yang dialokasikan,”Kita tetap fokus pada transformasi dan inovasi layanan yang mulai dirasakan dampaknya terhadap pencapaian pertumbuhan laba di bisnis makanan,”ungkapnya di Jakarta. Tahun depan, lanjutnya, perseroan masih akan tetap berinvestasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan perseroan. Dimana untuk IKEA, perseroan akan membuka dua cabang baru di Cakung, Jakarta Timur dan di Bandung, Pembukaan dua cabang baru ini merupakan kesuksesan membuka cabang IKEA di Sentul, Bogor. Maka dengan demikian, total IKEA hingga akhir tahun 2020 sebanyak 4 cabang. Selain membuka cabang baru IKEA, perseroan juga akan agresif membuka gerai baru guardian seiring dengan meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat masyarakat saat ini. Menurut Erwantho Siregar, Direktur Keuangan HERO, target investasi perusahaan tahun ini mencapai Rp 500 miliar. Dimana seluruh dana tersebut dialokasikan untuk ekspansi gerai tahun ini. Disampaikannya, dalam melakukan investasi perseroan harus fokus pada apa yang bisa lebih baik. “Untuk investasi di balance sheet dan cash flow kami sesuaikan," ujarnya. Yang jelas perusahaan yang telah beroperasi sejak 48 tahun lalu itu optimis transformasi gerai bakal memberikan kinerja bisnis yang lebih baik pada jangka panjang. Selain itu, ekspansi dan renovasi gerai dilakukan untuk mendekap lebih banyak pelanggan setia. Sebagai informasi, pencapaian kinerja HERO di kuartal tiga masih merugi. Tercatat sepanjang kuartal tiga masih tertekan. Pendapatan Hero Supermarket turun 3,7% dari Rp 9,48 triliun pada triwulan III-2019 dari periode sama tahun lalu Rp 9,84 triliun. Selain itu, perseroan tidak membukukan laba yang diatribusikan ke entitas induk, justru rugi Rp 7 miliar dari periode yang sama tahun lalu mencetak laba bersih Rp 86,18 miliar. Perseroan menjelaskan, laba yang lebih rendah dari tahun lalu disebabkan oleh investasi IKEA yang signifikan. Sementara itu, beban penjualan meningkat menjadi Rp 2,87 triliun dari periode tahun lalu Rp 2,85 triliun. Perseroan mengklaim sebenarnya jika dilihat secara umum, bisnis mengalami kemajuan yang positif. Optimasi yang dilakukan yakni perbaikan toko untuk meningkatkan kualitas dan standar operasional sudah mulai terlihat. Selain itu, Hero Group memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang baik dan berjangka panjang, dengan melaksanakan kegiatan pencegahan pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah, serta program pemanfaatan energi yang efektif.
PT Indonesia Fibreboard Industry berencana mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada 10 Desember 2019. Perusahaan pengolahan kayu itu, menetapkan harga penawaran saham sebesar Rp105 per saham. Berdasarkan informasi dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip Rabu (4/12/2019), perseroan menawarkan 1,41 miliar unit saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. Adapun, harga penawaran saham ditetapkan sebesar Rp105 per saham. IPO saham perseroan telah mendapatkan pernyataan efektif di OJK pada 2 Desember 2019. Selanjutnya, perseroan melakukan masa penawaran umum pada 3-4 Desember 2019. Pencatatan pada Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 10 Desember 2019. Perseroan telah menunjuk PT Investindo Nusantara Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sementara, PT Corpus Sekuritas Indonesia dan PT Panin Sekuritas Tbk. bertindak sebagai penjamin emisi efek. Perseroan mengadakan program ESA dengan mengalokasikan sebesar 1,20% dari jumlah penerbitan saham yang ditawarkan atau sebanyak 16,89 juta saham. Perseroan juga menerbitkan opsi saham untuk program MSOP sebanyak-banyaknya 1% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum perdana saham atau sebanyak-banyaknya 94,12 juta saham. Indonesia Fibreboard Industry (IFI) bergerak di industri pengolahan kayu seluas 50 ha yang berlokasi di Desa Mendis Jaya, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Pada awalnya, IFI hanya memproduksi Medium Density Fibreboard (MDF) dengan kapasitas mesin terpasang sebesar 250.000 m3 per tahun. Selanjutnya, perusahaan memperluas variasi produk kayu olahan lainnya seperti Veneer dan Plywood.

Comments