Senokuncoro's Profile

Your Profile Pic

Seno Kuncoro


Birth Date : July 19, 1988

Website : http://www.stocom88.blogspot.co.id/

Point : 1260

About me

Economics Enthusiast

Badges

Citizen Journalist
PyoBie
Journalist
Paparazzi
PyoMe
PyoTastic

Articles

Posts

Genjot pertumbuhan penjualan, inovasi dan pengembangan bisnis menjadi strategi yang dilakukan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Menggandeng perusahaan bioteknologi Scivision Biotech Taiwan sebagai mitra produksi, emiten farmasi ini meluncurkan produk baru di bisnis kecantikan yakni produk Facille Dermal Filler. Marketing Director KLBF, Mulia Lie menyatakan, Facille sebagai pilar baru bagi portofolio bisnis perseroan,”Bisnis ini dijalankan oleh divisi baru yang masuk ke sektor kesehatan khususnya lini aesthetic dan wellness. KLBF akan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap produk antiaging,”ujarnya di Jakarta, kemarin. Dirinya melihat potensi pasar yang menarik di usia produktif. Menurut dia,orang pada usia ini semakin sadar pada kesehatan dan penampilan. Sejalan dengan tren global dan meningkatnya kesadaran mayarakat mengenai dunia kecantikan terutama terkait penuaan, KLBF memberikan solusi dengan produk Facille Dermal Filler ini. Mulia bilang potensi di bisnis kecantikan masih bagus. Buktinya saja produk yang baru diluncurkan pada 6 Juli 2019 lalu sudah menerima lebih dari 100 permintaan alat suntik. Pada momen peluncuran tersebut, KLBF turut mengikuti event International Master Course in Aging Science (IMCAS) Asia yakni berkumpulnya dermatologi dan dokter bedah plastik se-Asia. KLBF mengajak dr Dikky SpKK sebagai dermatologist expert sekaligus ambassador produk-produk aesthetic KLBF. Skema bisnis produk ini secara rinci dijelaskan Mulia. Taiwan memproduksi dan menetapkan harga. Kemudian KLBF mengimpor untuk kepentingan penjualan di Indonesia. KLBF sebagai mitra Scivision Biotech Taiwan bertugas promosi dan distribusi produk lewat anak-anak usahanya. Khusus promosi dikerjakan KLBF karena punya hubungan baik dengan dokter dan klinik.Distribusi dilakukanlewat Enseval, entitas anak KLBF yang bergerak khusus di sektor logistik. Distribusi produk sudah ke kota besar di Jakarta khususnya ke rumah sakit aesthetic, klinik kecantikan dan dermatologis. Mulia bilang, sementara ini semua produk Facille masih impor. Namun, tidak menutup kemungkinan jika perkembangan penjualan semakin, baik bisa saja KLBF memproduksi sendiri. Rencana jangka panjang ini diakui Mulia untuk melengkapi portofolio KLBF di lini bisnis baru. Untuk target bisnis, lanjutnya, perseroan belum bisa memproyeksikan target kontribusi bisnis kecantikan ini terhadap KLBF karena masih merintis. Namun Mulia menyakini, potensi produk ini akan bertumbuh pesat. Dirinya berani menargetkan hingga satu tahun bisa menjual 3.000-5.000 jarum suntik. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) lebih dari Rp 1,5 triliun. Presiden Direktur KLBF, Vidjongtius bilang, anggaran terbesar akan digunakan untuk membangun dua pabrik baru di Cikarang dan Pulogadung dengan total mencapai Rp 1 triliun. Nantinya, kata Vidjongtius, kedua pabrik tersebut memproduksi obat bebas dari PT Bintang Toedjoe Saka Farma yang sebagian besar sahamnya dikuasai KLBF. Selain itu, untuk pengembangan pabrik bahan baku obat dan produk biologi sebesar Rp 500 miliar. Di mana, pengembangan tersebut rencananya mulai bisa dikomersilkan akhir tahun ini dengan menggandeng mitra dari Korea Selatan (Korsel) yang berkontribusi sekitar 40%. "Ini obat biologi untuk peningkatan sel darah merah, atau reitropoietin (EPO). Ini produk biologi pertama kita. Kita juga siapkan beberapa calon produk lainnya, tapi kita masih bicarakan bahan bakunya," jelasnya.
PT Unitras Pertama memborong 22,6 juta saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) untuk investasi. Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (16/7), Direktur Unitras Pertama, Donna Hendharto melaporkan pihaknya melakukan transaksi beli saham Saratoga pada periode 5 Juli hingga 15 Juli 2019. Perinciannya, Unitras Pertama membeli 5 juta saham SRTG pada 5 Juli 2019, 5 juta saham pada 8 Juli 2019, 5 juta saham pada 11 Juli 2019, dan 7,6 juta saham pada 15 Juli 2019. Dengan demikian, total saham SRTG yang diborong oleh Unitras Pertama mencapai 22,6 juta saham. Adapun, harga pembelian saham SRTG itu dilaporkan sebesar Rp3.880 per saham. Apabila dikalkulasi, total dana yang dikucurkan Unitras Pertama untuk membeli 22,6 juta saham SRTG mencapai Rp87,68 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Unitras Pertama dalam Saratoga meningkat dari 859,5 juta saham (31,68%) menjadi 882,1 juta saham (32,51%). Sebagai informasi, di kuartal pertama 2019, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk berhasil membukukan laba bersih Rp 1,13 triliun. Perolehan laba ini meningkat signifikan, mengingat pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan yang 22% sahamnya dimiliki Sandiaga Uno tersebut, masih mencatatkan rugi sebanyak Rp 317,61 miliar. Selain itu, SRTG juga berhasil membukukan pendapatan hingga Rp 1,39 triliun. Jumlah tersebut diperoleh dari pendapatan keuntungan bersih atas investasi pada efek ekuitas, penghasilan dividen dan bunga, serta pendapatan lainnya. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang hanya Rp 134,38 miliar. Sementara beban bunga SRTG meningkat sebanyak 110,04% dari Rp 39,42 miliar di kuartal I-2018, menjadi Rp 82,80 miliar. Diikuti kenaikan beban usaha sebanyak 38,68% menjadi Rp 53,09 miliar di kuartal I-2019. Perseroan mengungkapkan, capaian tersebut menandakan pemulihan yang baik bagi portofolio Saratoga dari kuartal sebelumnya. Manajemen menjelaskan, peningkatan laba sebagian besar berasal dari naiknya harga saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Presiden Direktur Saratoga, Michael Soeryadjaya pernah bilang, selama kuartal I-2019, keseluruhan portofolio Saratoga pulih cepat dari kuartal IV-2018. Peningkatan tersebut, diklaim mengungguli indeks Komposit Bursa Efek Jakarta (IHSG) yang naik 4% dalam periode yang sama.
Melorotnya penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) di semester pertama tahun ini, juga dirasakan oleh anak usahanya PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Dalam siaran persnya di Jakarta, perseroan mengungkapkan, volume penjualan semen di semester pertama terkoreksi 3,30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan yang tercatat berjumlah 4,69 juta ton dari 4,85 juta ton. Perusahaan yang dulunya bernama PT Holcim Indonesia Tbk. tersebut menjual sebanyak 4,45 juta ton semen di dalam negeri sepanjang semester I/2019, jumlah tersebut terkoreksi 2,13% dari realisasi 2018. Sementara itu, volume epenjualan ekspor jumlahnya turun 20,87% menjadi 240.060 ton dari realisasi tahun sebelumnya yang tercatat 303.373 ton. Pada Juni 2019, volume penjualan semen domestik Solusi Bangun Indonesia tercatat meningkat 3,49% menjadi 534.402 ton dibandingkan dengan Juni 2018 yang tercatat 516.362 ton. Untuk penjualan ke pasar ekspor tercatat meningkat 92,26% menjadi 31.613 ton dari tahun sebelumnya 16.443 ton. Realisasi volume penjualan pada Juni 2019 tercatat lebih lemah 29,55% dibandingkan dengan Mei 2019 yang sebelumnya tercatat 3,35 juta ton. Penjualan semen domestik pada Juni 2019 terkoreksi 29,77%, sedangkan penjualan semen ekspor terkoreksi 53,53%. Menjadi bagian dari Semen Indonesia, perseroan akan memperlebar sayap grup Semen Indonesia khususnya di daerah seperti Sumatera dan Jawa Barat. SMCB selama ini selain menjual semen curah dan kantung, perseroan diketahui juga menyediakan solusi agregat dan beton inovatif mulai dari ready mix hingga mortar. Perseroan sendiri akan dikelola oleh PT Semen Indonesia Industri Bangunan ( SIIB ) sebagai bagian dari SMGR. Saat ini setidaknya SMCB memiliki sekitar 30 ready mix plant. Soal bisnis produk turunan semen, bagi SMCB rata-rata porsinya masih sekitar 30% dari bisnis perseroan sedangkan sebagian besarnya 70% dari semen curah dan kantung. Tahun ini, perseroan tidak mematok target yang terlalu tinggi. Perseroan hanya akan fokus menjaga pangsa pasar penjualan semen hingga akhir tahun stabil pada 15%. Direktur Solusi Bangun Indonesia, Agung Wiharto pernah bilang bahwa pada awal tahun, pasar penjualan semen dalam negeri masih mengalami tekanan-tekanan yang disebabkan berbagai faktor. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga periode kuartal II/2019 yang akan habis. Selain itu, kondisi keuangan perseroan yang belum stabil, membuat perseroan tidak mematok target yang terlalu besar pada tahun ini. Adapun, hingga Mei 2019, SMCB tersebut menguasai 15,3% pangsa pasar semen dalam negeri.“Kami perkirakan pada semester II bisa tumbuh di atas 3% [industri] dan harapannya bisa tumbuh, paling tidak kami bisa menjaga market share kami seperti tahun lalu,” ujarnya.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) berpotensi mengalami gagal bayar notes senilai US$ 300 juta karena terjadinya perubahan pengendali sebagaimana dimaksud dalam perjanjian terkait dengan notes yang diterbitkannya. Pasalnya salah satu pemegang sahamnya, yakni PT Imakotama Investido (Imakotama) dengan porsi 6,387% saham disebut telah bertindak secara bersama-sama dengan beberapa pemegang saham lainnya (acting in concert) memiliki suara melebihi suara yang dimiliki oleh pemegang saham yang ditentukan dalam perjanjian terkait notes tersebut. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan menyebutkan bahwa pada saat pemunggutan suara dalam RUPST KIJA tanggal 26 Juni 2019, usul Imakotama dan afiliasinya melebihi suara yang dimiliki oleh pemegang saham (Permitted Holders) yang ditentukan dalam syarat dan kondisi dari notes. Perseroan menjelaskan, kejadian ini dapat dilihat sebagaiacting in concert, yang berpotensi mengakibatkan perubahan pengendalian berdaasrkan syarat dan kondisi notes. Lebih jauh disebutkan, dalam hal terjadinya perubahan pengendalian dalam KIJA sebagaimana dimaksud dalam syarat dan kondisi dari notes yang diterbitkan oleh Jababeka International B.V. (JIBV), anak perusahaan KIJA, yang mengacu pada hukum Amerika Serikat (US Law), maka KIJA/JIBV dalam jangka waktu 30 hari sejak terjadinya perubahan pengendalian berkewajiban untuk memberikan penawaran pembelian kepada para pemegang Notes dengan harga pembelian sebesar 101% dari nilai pokok Notes sebesar US$ 300 juta ditambah kewajiban bunga.
Emiten tekstil dan garmen, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) mengantongi penjualan dan laba bersih masing-masing US$631,64 juta dan US$63,25 juta pada semester I/2019. Penjualannya naik 16,16% secara tahunan, sedangkan laba bersihnya meningkat 12,28% dibandingkan dengan raihan pada Januari-Juni 2018. Sekretaris Perusahaan Sri Rejeki Isman Welly Salam mengatakan, kinerja positif perseroan didorong oleh penjualan ke Amerika Serikat yang meningkat pesat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penjualan ke Amerika Serikat dan Amerika Latin tercatat US$51,35 juta, naik 221,14% dari semester I/2018 sebesar US$15,99 juta. Penjualan ke Uni Emirat Arab dan Afrika juga meningkat 97,65% menjadi US$39,51 juta. Lebih lanjut, penjualan ke Australia tumbuh 55,38% dan Eropa tumbuh 56,97%. Pasar domestik dan Asia masih menjadi kontribusi penjualan terbesar bagi perseroan yakni masing-masing 40,20% dan 36,16% terhadap penjualan bersih. Adapun, penjualan ke pasar domestik dan Asia masing-masing tumbuh 0,78% dan 4,51% secara tahunan. Penjualan dikontribusikan dari produk pemintalan sebesar 40,11%, diikuti konveksi 26,74%, finishing kain 26,73%, dan pertenunan 6,42%. "Faktor kenaikan penjualan ke Amerika Serikat yang cukup besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu," katanya pada Selasa (16/7/2019). Dia menyebut, kinerja positif separuh tahun ini juga didorong normalisasi kapasitas produksi yang lebih cepat dari yang ditargetkan. Efisiensi produksi emiten dengan kode saham SRIL ini juga meningkat sesuai dengan strategi perseroan. Pada penutupan perdagangan Selasa (16/7/2019), saham SRIL parkir di level Rp340, sama dengan penutupan sebelumnya. Dalam 3 bulan terakhir, saham SRIL telah memberikan imbal hasil 0,59%. Saat ini saham SRIL diperdagangkan pada rasio harga per laba (price earnings ratio/PER) 3,91 kali.
Anak usaha BUMN, PT PP Properti Tbk. menawarkan Obligasi Berkelanjutan I PP Properti Tahap III Tahun 2019 dengan jumlah pokok sebesar sebesar Rp534,5 miliar. Obligasi tersebut merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I PP Properti dengan target dana yang akan dihimpun sebesar Rp2 triliun. Sebelumnya, emiten berkode saham PPRO itu telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I PP Properti Tahap I Tahun 2018 senilai Rp665 miliar dan Obligasi Berkelanjutan I PP Properti Tahap II Tahun 2019 senilai Rp800 miliar. Dengan demikian, PUB yang telah diterbitkan PPRO mencapai Rp1,46 triliun. Obligasi diterbitkan tanpa warkat kecuali Sertifikat Jumbo Obligasi yang diterbitkan atas nama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan dijamin secara kesanggupan penuh. Obligasi tersebut berjangka waktu 3 tahun dengan tingkat bunga 11% per tahun. Pada tahapan ketiga ini, PPRO berencana mengalokasikan 56,27% dana yang terhimpun untuk pembayaran sebagian atau seluruh pokok utang perseroan (refinancing). Beberapa di antaranya adalah pinjaman kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) sebesar Rp206,1 miliar dengan jatuh tempo 2021, pinjaman kepada PT Bank ICBC Indonesia Rp254,5 miliar dengan jatuh tempo kepada 2021, dan pinjaman kepada PT Bank KEB Hana Indonesia Rp200 miliar dengan jatuh tempo 2020. Sementara itu, sekitar 43,73% akan digunakan oleh perseroan untuk pembangunan proyek dan modal kerja. Secara terperinci, 21% akan digunakan untuk pembangunan proyek perseroan dalam bentuk pengembangan usaha di bidang properti di pulau Jawa dan Lombok. Proyek yang akan dibangun dan dikembangkan adalah commercial area dan hotel, yaitu Mall Lagoon Sungkono dan Prime Park Hotel Lombok untuk meningkatkan recurring income perseroan. Lalu sekitar 22,73% akan digunakan untuk modal kerja Perseroan sepenuhnya, antara lain konstruksi dan perizinan proyek realty. Adapun, PPRO menargetkan penjualan pada 2019 senilai Rp4,17 triliun atau naik 20% dari capaian 2018 senilai Rp3,48 triliun. Pada 2018, pertumbuhan marketing sales PPRO sebesar 13% dari posisi Rp3,01 triliun pada 2017. Selain meningkatkan marketing sales hingga 20% pada 2019, PPRO mengincar kenaikan pendapatan sekitar 17% dan laba bersih 18%, masing-masing menjadi Rp2,93 triliun dan Rp556,07 miliar. Berikut ini jadwal Obligasi Berkelanjutan I PP Properti Tahap III Tahun 2019 Tanggal Efektif : 28 Juni 2018 Perkiraan Masa Penawaran Umum : 15-16 Juli 2019 Perkiraan Tanggal Penjatahan : 17 Juli 2019 Tanggal Pengembalian Dana (Refund) : 19 Juli 2019 Perkiraan Tanggal Distribusi Obligasi Secara Elektronik : 19 Juli 2019 Perkiraan Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia : 22 Juli 2019
Emiten konstruksi pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. mengantongi nilai kontrak baru Rp14,7 triliun per Juni 2019 atau setara dengan 23,80% dari target tahun ini. Mahendra Vijaya, Corporate Secretary Wijaya Karya, menuturkan perseroan membukukan nilai kontrak baru Rp14,7 triliun pada Januari 2019—Juni 2019. Realisasi itu setara dengan 23,80% dari target Rp61,74 triliun. Realisasi itu lebih rendah dari periode Januari 2018—Juni 2018. Pasalnya, nilai kontrak baru yang dikantongi emiten berkode saham WIKA tersebut saat itu senilai Rp20,56 triliun. Mahendra menjelaskan bahwa penurunan realisasi kontrak baru pada semester I/2019 akibat proses bidding tender yang mundur ke semester II/2019. Hal itu sejalan dengan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Kendati demikian, pihaknya masih optimistis mencapai target tahun ini. Menurutnya, WIKA masih membidik sejumlah proyek besar pada semester II/2019. “Masih banyak proyek-proyek besar yang kami bidik dan juga proyek investasi karena capex spending kami besar masih lebih dari Rp15 triliun yang tersedia,” ujarnya. Dia menggambarkan proyek yang masih dibidik perseroan di antaranya mass rapid transit (MRT) Tahap 2 dengan nilai lebih dari Rp20 triliun. Selanjutnya, ada pekerjaan storage tank di wilayah Timur Indonesia sekitar Rp2 triliun. “Selain itu, di luar negeri WIKA masih mensasar proyek di Afrika dengan nilai lebih dari Rp500 miliar dan di Asia sekitar Rp400 miliar,” tuturnya. Sebelumnya, Direktur Operasi III Wijaya Karya Destiawan Soewardjono menuturkan perseroan telah merealisasikan kontrak baru dari luar negeri Rp827 miliar pada Januari 2019—Juni 2019. Nilai tersebut didapatkan kontraktor pelat merah itu dari sejumlah negara. Salah satu proyek yang didapatkan perseroan yakni Unit Logement di Aljazair. Dari situ, WIKA membukukan Rp506 miliar. Destiawan mengungkapkan masih membidik sejumlah proyek di luar negeri pada semester II/2019. Sebagai gambaran, WIKA mengincar proyek jembatan di Serawak, Malaysia, dengan nilai sekitar Rp900 miliar. Bahkan, perseroan juga tengah mengincar salah satu proyek perumahan di Pantai Gading. Nilai kontrak yang diincar perseroan dari negara itu sekitar Rp900 miliar. Saat ini, lanjutnya, WIKA dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) tengah melakukan negoisasi terkait nilai proyek, tata cara, dan terms pembayaran untuk proyek di Pantai Gading. “Jadi kalau target semester II/2019 tercapai semua jadi Rp4 triliun sehingga capaian kontrak baru dari luar negeri menjadi Rp4,8 triliun tahun ini,” paparnya.
PT Bursa Efek Indonesia akan melakukan hearing dengan PT Danayasa Arthatama Tbk. untuk mengklarifikasi rencana penghapusan pencatatan saham (delisting). I Gede Nyoman Yetna Setya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menyampaikan bahwa emiten bersandi saham SCBD tersebut memang telah menginformasikan rencana delisting secara sukarela. “Perseroan menginformasikan rencana voluntary delisting. Kami akan melakukan hearing pada minggu ini untuk mengklarifikasi hal tersebut,” kata Nyoman, Rabu (17/7/2019). Adapun, Nyoman menambahkan, pelaksanaan voluntary delisting dari SCBD akan merujuk kepada peraturan mengenai Delisting—Relisting dan akan ada kewajiban untuk membeli saham kembali. Sebelumnya, BEI menerima surat PT Danayasa Arthatama Tbk. No: 0081/SPR/DA/VII/2019 tanggal 5 Juli 2019 pada 8 Juli 2019 perihal Tanggapan atas Reminder Potensi Penghapusan Pencatatan Efek (Delisting) PT Danayasa Arthatama Tbk. dan Pemenuhan Ketentuan V.2 Peraturan Bursa No. I-A., serta Pengumuman Bursa no: Peng-SPT-00011/BEI.PP2/07-2017 tanggal 28 Juli 2017. Merujuk hal tersebut, SCBD menyampaikan rencana untuk melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari BEI dan akan go private. Dalam Ketentuan V.2 Peraturan Bursa No. I-A., emiten berkode saham SCBD itu diwajibkan untuk memenuhi jumlah pemegang saham paling sedikit 300 (tiga ratus) nasabah pemilik rekening. Namun hingga akhir Juni 2019, jumlah pemegang saham perusahaan properti milik Tomi Winata itu hanya sebanyak 74 pemegang saham. Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek PT Sirca Datapro Perdana, kepemilikan saham SCBD pada 30 Juni 2019 terdiri atas PT Jakarta International Hotels Development Tbk. 82,41%, PT Kresna Adi Sembada 8,87%, saham treasury 0,15%, dan masyarakat 8,57%. Sementara itu, saham yang digenggam Tomi Winata yang duduk sebagai komisaris di PT Danayasa ArthatamaTbk. tercatat sebanyak 2.000 saham atau setara 0,0001%. BEI pun telah melakukan penghentian sementara perdagangan saham SCBD yang efektif sejak sesi I perdagangan hari ini, Rabu (17/7/2019). “Berdasarkan hal tersebut, maka Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek perseroan (SCBD) di pasar negosiasi mulai sesi I perdagangan efek 17 Juli 2019,” tulis BEI dalam pengumuman di laman resmi, Rabu (17/7/2019). Selanjutnya, perdagangan efek SCBD akan disuspensi di seluruh pasar yang juga efektif pada saat yang sama. BEI mengimbau agar pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PT Danayasa Arthatama Tbk. Adapun, saham SCBD telah disuspensi sejak 31 Juli 2017 di pasar reguler dan tunai. Saat ini saham SCBD berada di level harga Rp2.700. Kapitalisasi pasar emiten yang melantai di BEI pada 19 April 2002 itu mencapai Rp8,97 triliun. Di sisi kinerja, perusahaan properti itu membukukan pendapatan Rp1,1 triliun pada 2018 tumbuh 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan paling besar ditopang oleh segmen real estate Rp524 miliar, hotel Rp343 miliar dan jasa telekomunikasi Rp215 miliar. Akan tetapi, SCBD membukukan penurunan laba sebesar 15,1% yoy menjadi Rp192 miliar pada tahun lalu.
PT Bursa Efek Indonesia akan melakukan hearing dengan PT Danayasa Arthatama Tbk. untuk mengklarifikasi rencana penghapusan pencatatan saham (delisting). I Gede Nyoman Yetna Setya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menyampaikan bahwa emiten bersandi saham SCBD tersebut memang telah menginformasikan rencana delisting secara sukarela. “Perseroan menginformasikan rencana voluntary delisting. Kami akan melakukan hearing pada minggu ini untuk mengklarifikasi hal tersebut,” kata Nyoman, Rabu (17/7/2019). Adapun, Nyoman menambahkan, pelaksanaan voluntary delisting dari SCBD akan merujuk kepada peraturan mengenai Delisting—Relisting dan akan ada kewajiban untuk membeli saham kembali. Sebelumnya, BEI menerima surat PT Danayasa Arthatama Tbk. No: 0081/SPR/DA/VII/2019 tanggal 5 Juli 2019 pada 8 Juli 2019 perihal Tanggapan atas Reminder Potensi Penghapusan Pencatatan Efek (Delisting) PT Danayasa Arthatama Tbk. dan Pemenuhan Ketentuan V.2 Peraturan Bursa No. I-A., serta Pengumuman Bursa no: Peng-SPT-00011/BEI.PP2/07-2017 tanggal 28 Juli 2017. Merujuk hal tersebut, SCBD menyampaikan rencana untuk melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari BEI dan akan go private. Dalam Ketentuan V.2 Peraturan Bursa No. I-A., emiten berkode saham SCBD itu diwajibkan untuk memenuhi jumlah pemegang saham paling sedikit 300 (tiga ratus) nasabah pemilik rekening. Namun hingga akhir Juni 2019, jumlah pemegang saham perusahaan properti milik Tomi Winata itu hanya sebanyak 74 pemegang saham. Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek PT Sirca Datapro Perdana, kepemilikan saham SCBD pada 30 Juni 2019 terdiri atas PT Jakarta International Hotels Development Tbk. 82,41%, PT Kresna Adi Sembada 8,87%, saham treasury 0,15%, dan masyarakat 8,57%. Sementara itu, saham yang digenggam Tomi Winata yang duduk sebagai komisaris di PT Danayasa ArthatamaTbk. tercatat sebanyak 2.000 saham atau setara 0,0001%. BEI pun telah melakukan penghentian sementara perdagangan saham SCBD yang efektif sejak sesi I perdagangan hari ini, Rabu (17/7/2019). “Berdasarkan hal tersebut, maka Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek perseroan (SCBD) di pasar negosiasi mulai sesi I perdagangan efek 17 Juli 2019,” tulis BEI dalam pengumuman di laman resmi, Rabu (17/7/2019). Selanjutnya, perdagangan efek SCBD akan disuspensi di seluruh pasar yang juga efektif pada saat yang sama. BEI mengimbau agar pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PT Danayasa Arthatama Tbk. Adapun, saham SCBD telah disuspensi sejak 31 Juli 2017 di pasar reguler dan tunai. Saat ini saham SCBD berada di level harga Rp2.700. Kapitalisasi pasar emiten yang melantai di BEI pada 19 April 2002 itu mencapai Rp8,97 triliun. Di sisi kinerja, perusahaan properti itu membukukan pendapatan Rp1,1 triliun pada 2018 tumbuh 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan paling besar ditopang oleh segmen real estate Rp524 miliar, hotel Rp343 miliar dan jasa telekomunikasi Rp215 miliar. Akan tetapi, SCBD membukukan penurunan laba sebesar 15,1% yoy menjadi Rp192 miliar pada tahun lalu.
Volume penjualan dan produksi batu bara PT Bukit Asam Tbk. tumbuh dua digit secara tahunan pada semester I/2019. Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman mengungkapkan realisasi volume produksi batu bara perseroan hampir mencapai 13 juta ton pada Januari 2019—Juni 2019. Menurutnya, jumlah itu naik 14% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Dari sisi penjualan, Suherman menuturkan perseroan merealisasikan sekitar 13,4 juta ton per akhir Juni 2019. Pencapaian tersebut tumbuh 10% dari periode semester I/2018. “Pasar masih cukup prospektif,” ujarnya. Berdasarkan informasi yang ada, perseroan membidik volume produksi 27,26 juta ton pada 2019. Target yang dibidik tumbuh 3% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. Adapun, volume penjualan yang dibidik emiten berkode saham PTBA itu sebanyak 28,38 juta ton atau tumbuh 15% secara tahunan. Secara detail, jumlah itu berasal dari penjualan domestik 13,67 juta ton dan penjualan ekspor 14,71 juta ton. Dengan volume penjualan dan produksi per semester I/2019, artinya PTBA telah merealisasikan sekitar 47,68% target produksi dan 47,21% target penjualan tahun ini. Manajemen PTBA sebelumnya memaparkan target penjualan 2019 ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke pasar premium sebesar 3,8 juta ton. Untuk mendukung optimasi pengangkutan batu bara, PTBA juga telah bekerja sama dengan PT Kerata Api Indonesia (Persero). Tahun ini, produsen batu bara milik negara itu akan menyelesaikan pengembangan proyek angkutan batu bara jalur kereta api Tanjung Enim—Kertapati dengan kapasitas 5 juta ton per tahun serta pengembangan fasilitas Dermaga Kertapati. Selain itu, proyek angkutan kereta api arah Tanjung Enim—Tarahan direncanakan akan diselesaikan pada 2019 dengan kapasitas 20,3 juta ton per tahun dan menjadi 25 juta ton per tahun pada 2020. Secara terpisah, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menilai realisasi volume penjualan dan produksi PTBA per semester I/2019 masih sejalan dengan ekspektasi pasar. Dengan demikian, pencapaian itu menurutnya akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. “Harusnya [kinerja keuangan] masih tumbuh walau tidak akan double digit,” jelasnya. Seperti diketahui, berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2019, PTBA mengantongi laba bersih Rp1,13 triliun. Posisi itu turun 21,63% dibandingkan Rp1,45 triliun pada akhir Maret 2018. Lebih lanjut, Janson menjelaskan bahwa prospek PTBA sebenarnya masih lebih baik dibandingkan dengan emiten batu bara lainnya yang memiliki orientasi ekspor ke China dan negara Asia Pasifik seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. “PTBA penjualannya lebih orientasi ke domestik, itu kelebihan kompetitifnya karena Indonesia masih sangat membutuhkan power plant untuk menunjang pembangunan infrastruktur ke depan,” jelasnya. Dia menambahkan harga batu bara dunia masih cenderung datar dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, China saat ini lebih berorientasi ke penguatan konsumsi domestik. Dengan strategi PTBA yang lebih fokus ke domestik, Janson merekomendasikan buy on weakness (bow) saham PTBA di level Rp2.700 dengan target harga Rp3.300. Faktor lain yang membuat saham perseroan atraktif yakni dividend yield yang tinggi secara historis dengan rata-rata 5%—6%. Berdasarkan data Bloomberg, harga saham PTBA terkoreksi 20 poin atau 0,70% ke level Rp2.820 pada penutupan perdagangan, Rabu (17/7/2019). Untuk periode berjalan 2019, pergerakan tercatat telah mengalami koreksi 34,42%.
PT Hartadinata Abadi Tbk. mengakuisisi 90 persen saham PT Aurum Digital Internusa, perusahaan di bidang e-commerce. Dalam keterbukan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (17/7/2019), emiten berkode saham HRTA itu melakukan penandatangan akta perjanjian penyertaan modal pada PT Aurum Digital Internusa pada 15 Juli 2019. PT Aurum Digital Internusa merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Salah satu bidang usahanya yakni bergerak di bidang jasa aktivitas e-commerce. Nilai transaksi dari perjanjian tersebut sebesar Rp4,5 miliar. Angka tersebut setara dengan 45.000 saham atau setara dengan 90 persen dari saham yang ditempatkan dan dikeluarkan oleh Aurum Digital Internusa. Dengan transaksi tersebut, produsen dan penyedia perhiasan emas terintegrasi itu menjadi pengendali Aurum Digital Internusa. “Informasi atau fakta material yang diungkapkan ini tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan. Transaksi yang dilakukan oleh perseroan tersebut di atas memiliki nilai transaksi Rp4,5 miliar,” kata Direktur Utama Hartadinata Abadi Sandra Sunanto dalam keterbukaan. Sebelumnya, perseroan agresif memperbesar cakupan pasar melalui sejumlah ekspansi di antaranya usaha gadai dan e-commerce. Platform dagang-el itu bakal dirilis pada kuartal III/2019. Harapannya, aplikasi jual beli logam mulia ini dapat mendorong penjualan ritel di masa mendatang.
Volume penjualan mobil PT Astra International Tbk. sepanjang semester I/2019 tercatat mengalami penurunan sebesar 5,58% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dikutip Rabu (17/7/2019), Astra International menjual sebanyak 253.489 unit mobil sepanjang Januari-Juni 2019. Realisasi itu lebih rendah dibandingkan dengan volume penjualan pada semester I/2018 sebanyak 268.483 unit. Kendati demikian, penjualan mobil emiten berkode saham ASII itu masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi penjualan di Industri. Pada periode tersebut, penjualan mobil dalam negeri yang tercatat sebanyak 481.557 unit atau turun 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 553.773 unit. Sementara itu, penjualan mobil ASII paling rendah tercatat pada Juni 2019 yang berjumlah 26.539 unit mobil. Sementara itu, penjualan mobil pada Maret 2019 tercatat paling tinggi sebanyak 50.368 unit terjual. Adapun, pangsa pasar atau market share ASII pada Juni 2019 turun menjadi 45% dari bulan sebelumnya yang tercatat 54%. Merek Toyota merupakan yang paling banyak terjual dari Astra dengan jumlah 18.690 unit, disusul dengan Daihatsu 6.020, Isuzu 1.823 unit, dan Peugeot 7 unit.

Comments