Senokuncoro's Profile

Your Profile Pic

Seno Kuncoro


Birth Date : July 19, 1988

Website : http://www.stocom88.blogspot.co.id/

Point : 1260

About me

Economics Enthusiast

Badges

Citizen Journalist
PyoBie
Journalist
Paparazzi
PyoMe
PyoTastic

Articles

Topics

Topic Posts Views Last post

Trade Recommendations

1 17 28 Apr, 2017 00:57

Market Break

1 14 27 Apr, 2017 06:19

Sentimen Pasar

1 15 27 Apr, 2017 02:53

Aksi Emiten

1 18 27 Apr, 2017 02:50

Trade Recommendations

1 20 27 Apr, 2017 01:24

Sentimen Pasar

1 17 26 Apr, 2017 02:40

Trade Recommendations

1 10 26 Apr, 2017 01:17

Market Summary

1 16 25 Apr, 2017 10:11

Market Break

1 14 25 Apr, 2017 06:15

Aksi Emiten

1 27 25 Apr, 2017 02:31

Sentimen Pasar

1 19 25 Apr, 2017 01:57

Trade Recommendations

1 24 25 Apr, 2017 00:57

Posts

Kembangkan ekspansi bisnisnya dengan menambah 15 cabang baru, PT Sentra Mitra Informatika Tbk (LUCK) menginvestasikan dana Rp 30 miliar. “Semua dana yang kami gunakan berasal dari IPO,”kata Sekretaris Perusahaan Sentral Mitra Informatika, Teddy Pohan di Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan bahwa untuk setiap cabang yang didirikan, perseroan mengucurkan investasi senilai Rp2 miliar, nominal tersebut dapat berbeda di setiap daerahnya. Untuk aksi tersebut, Sentral Mitra Informatika menganggarkan dana investasi yang bersumber dari internal perseroan. Adapun, dari gelaran initial public offering (IPO) pada November 2018 lalu, perseroan mengantongi dana segar senilai Rp44,22 miliar. Teddy menjelaskan bahwa hingga Desember 2018, dana tersebut telah terserap sebesar 25% untuk aksi ekspansi perseroan. Hingga saat ini, LUCK telah mendirikan 7 kantor cabang baru dari target 15 kantor cabang pada tahun ini. Dalam waktu dekat ini, Sentral Mitra Informatika akan mendirikan dua cabang lagi di daerah Batam, dan Denpasar. Menurut Teddy, daerah tersebut dinilai potensial, untuk Batam, Sentral Mitra Informatika mengincar kawasan industri di daerah tersebut, sedangkan Denpasar, menjadi target karena merupakan daerah wisata, sehingga terdapat banyak hotel yang menjadi pangsa pasar potensial untuk penjualan atau penyewaan printer."Sampai akhir tahun ini kami harapkan bisa seluruh 15 cabang selesai,"ungkapnya. Tahun ini, PT Sentra Mitra Informatika Tbk menargetkan pendapatan Rp118 miliar atau tumbuh 15%. Perseroan mengungkapkan, target tersebut akan dikontribusikan oleh penjualan dan printer perseroan. Dari penjualan printer, perseroan menargetkan pendapatan senilai Rp99,99 miliar atau tumbuh 30% dari realisasi pada 2018 senilai Rp86,94 miliar. Sementara itu, untuk penyewaan printer perseroan menargetkan pendapatan senilai Rp18 miliar atau tumbuh 14% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp15,78 miliar. Kemudian masih dalam mengejar target pendapatan, perseroan juga berinvestasi dalam pengembangan teknologi seperti meluncurkan software "Boost" Managed Print Service (MPS) yang memonitor dan melaporkan otomatis integrasi mesin printer dari tiap unit. Lalu sistem mobile service dan warehouse berjalan, "Mobilink" yang melayani kebutuhan print. Saat ini Mobilink baru tersedia di daerah Jakarta. Whistle, sebuah end user portal yakni layanan keamanan yang informatif dan efisien. Selain itu, LUCK juga menggandeng Sinarmas mendirikan Chopchoprint. Lalu Serial System Pte.Ltd yakni perusahaan publik berdomisili di Singapura dalam pengembangan MPS. Perusahaan tersebut juga sudah terlebih dahulu memiliki pengalaman dalam mengembangkan bisnis Managed Print Services (MPS) di regional Asia.
Mengantungi dana hasil penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 152 miliar, PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) melalui anak perusahaan baru akan mengembangkan platform online yang dapat mengumpulkan botol plastik secara massal dari seluruh wilayah di Indonesia. Kata Direktur Inocycle Technology Group, Suhendra Setiadi, aplikasi yang dikembangkan tersebut berupa aplikasi plastic pay dan nantinya akan memasok kebutuhan bahan baku di pabrik perseroan. Bila tidak ada aral melintang, perseroan menargetkan aplikasi ini dapat beroperasi paling lambat kuartal IV/2019. “Perseroan berencana melakukan proyek percontohan di 5 kota yang lokasinya berdekatan dengan pabrik,”ujarnya di Jakarta. Disebutkan, investasi untuk pengembangan platform online tersebut sebesar Rp 45,60 miliar atau 30% dari dana hasil IPO. Sebagai informasi, saat ini perseroan memiliki sejumlah pabrik yang berlokasi di Karang Anyar berkapasitas 10.200 ton per tahun, Mojokerto 8.250 ton per tahun, Tangerang 850 ton per tahun. Tiga pabrik tersebut memproduksi serat stapel poliester dari produk daur ulang yang bahan bakunya menggunakan PET botol plastik yang telah dicacah. Adapun 2 pabrik lainnya berlokasi di Kabupaten Semarang dan Banyuasin. Kedua pabrik untuk memproduksi produk non woven (bukan tenunan) yang bahan bakunya berasal dari serat stapel poliester."Dengan hasil IPO, kami bisa ekspansi. Namun, kami harus secure raw material. Untuk itu kami mendirikan PT Plastic Pay," katanya. Lebih lanjut, pada 2019, perseroan mengincar penjualan dapat tumbuh 30% secara tahunan atau mencapai Rp514,32 miliar. Pada 2018, penjualan fiber mendominasi penjualan sebesar Rp299,49 miliar atau 75,70% terhadap total penjualan sebesar Rp395,63 miliar. Kontribusi penjualan lainnya berasal dari segmen non woven 16,60%, homeware 7,30%, dan lainnya 0,40%. Direktur Utama Inocycle Technology Group Tbk, Jaehyuk Choi pernah bilang, tahun ini perseroan menargetkan bisa meningkatkan penjualan sampai 50% serta laba usaha 80%. Disampaikannya, laba bersih perseroan pada 2018 sebesar Rp16,04 miliar atau naik 5,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Adapun laba bersih pada 2017 yakni Rp15,26 miliar. Choi mengatakan bahwa pertumbuhan itu diikuti dengan naiknya laba kotor 47,1%, laba usaha 55,1% dan laba sebelum pajak 9,4%.”Kemampuan pengembangan produk kapabilitas produksi dan rekam jejak inovasi merupakan salah satu keunggulan kami dibandingkan dengan pesaing. Kami akan berkembang lebih lanjut dan yakin tren penggunaan fiber daur ulang akan meningkat,”ungkapnya.
15 Jul, 2019 06:02
Lantaran terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham di luar kebiasaan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pergerakan saham PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) atau masuk dalam kategori unusual market activity (UMA),”Sehubungan dengan terjadinya unusual market activity atas saham TRIO tersebut, perlu kami sampaikan bahwa BEI saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,"kata Lidia M. Panjaitan, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi dan Irvan Susandy, Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI dalam siaran persnya di Jakarta. Investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa. Investor pun perlu mencermati kinerja emiten dan keterbukaan infomasinya. BEI pun mengimbau investor untuk mengkaji kembali rencana aksi korporasi emiten apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham. Terakhir, BEI mengimbau investor untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi. Pada akhir pekan, harga saham TRIO naik 24,54% ke Rp 274 per saham. Dalam sepekan terakhir, harga saham TRIO melonjak 309% atau lebih dari empat kali lipat ketimbang Kamis pekan lalu yang masih ada di Rp 67 per saham. Di kuartal pertama 2019, TRIO mencatat kerugian bersih Rp 3,28 miliar.Kondisi berbalik dibandingkan priode yang sama tahun lalu masih mencetak laba sebesar Rp 48,58 miliar. Selain akibat penurunan pendapatan, kerugian ini berasal dari beban keuangan TRIO yang melonjak hingga 50% menjadi Rp 14 miliar. Selain itu, pada kuartal pertama 2018 lalu TRIO mencatatkan pendapatan lain-lain bersih Rp 97,93 miliar, jauh lebih tinggi daripada pendapatan lain-lain bersih periode yang sama tahun ini sebesar Rp 10,98 miliar.
PT Hensel Davest Indonesia Tbk secara resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) Jumat (12/7/2019) dan mendapatkan kode saham HDIT untuk emiten ke-32 sepanjang 2019. Dalam penawaran saham perdana, perseroan melepas sebanyak 381,17 juta lembar saham ke publik atau setara tersebut 25% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Adapun harga yang ditawarkan sebesar Rp525 per saham. Dengan demikian perseroan bakal mengantongi dana hasil IPO sebesar Rp200,11 miliar. Direktur Keuangan HDIT Dahniar Akhmad Akhiri mengatakan seluruh dana hasil dari penawaran umum perdana saham ini akan dialokasikan sekitar 65% untuk peningkatakan modal kerja, terutama untuk mengakuisisi sejumlah marchant. "Sekitar 65% memang kita akan gunakan untuk modal kerja, terutama untuk mengakuisisi marchant berupa UMKM dan individu, pembelian persedian barang dagang, uang muka dan pembiayaan piutang kepada pelanggang," kata Dahniar di Gedung BEI Jakarta. Sementara sekitar 10% akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi serta pengembangan SDM perusahaan, sedangkan sekitar 25% sisanya akan digunakan untuk pembelian bangunan untuk operasioanal perusahaan. Dalam aksi koorporasi ini perseroan menunjuk PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Adapun perusahaan Hensel Davest Indonesia bergerak di bidang pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (e-commerce) serta pendistribusian produk digital.
15 Jul, 2019 08:01
PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. sedang menjajaki peluang ekspansi anorganik melalui aksi akusisi. Aksi korporasi itu rencananya akan dieksekusi 2 tahun ke depan. Ridwan Goh, Presiden Direktur Mark Dynamics Indonesia, menuturkan perseroan sedang fokus untuk menambah varian produk. Tujuannya adalah untuk mengejar target laba bersih Rp100 miliar pada 2019. Dalam jangka 2 tahun ke depan, lanjutnya, emiten berkode saham MARK itu berencana melakukan akuisisi bisnis baru untuk mendorong laba perseroan. Saat ini, Mark Dynamics telah melihat beberapa bisnis yang dianggap cukup menjanjikan. Meski belum membeberkan sektor bisnis yang bakal diakuisisi, Ridwan menyebut ada investor strategis yang siap mendanai rencana aksi korporasi itu. "Banyak private equity fund besar yang tertarik dengan kami. Ada dari AS, Korea, Jepang," sebutnya. Lebih lanjut, Ridwan mengatakan kinerja keuangan Mark Dynamics pada semester I/2019 masih sesuai dengan target. Pada tahun ini, MARK memasang target pendapatan sebesar Rp360 miliar dan laba bersih Rp100 miliar. Kapasitas produksi mencapai 7,2 juta unit per tahun. Hingga kuartal I/2019, Mark Dynamics merealisasikan pendapatan Rp88,06 miliar dan laba bersih Rp23,05 miliar. Pendapatan sebesar Rp79,92 miliar berasal dari penjualan ekspor. Selain penetrasi pasar baru, Ridwan menambahkan kinerja positif di tahun ini bakal didorong oleh keberhasilan Mark Dynamics melakukan efisiensi kerja di setiap departemen. "Semester I/2019, profit margin sekitar 26%. Kami lihat apakah profit margin dapat mencapai 27%-28%," katanya.
Emiten perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. memangkas anggaran capital expenditure (capex) yang semula ditargetkan antara Rp1,6 triliun—Rp1,7 trilun menjadi Rp1,3 triliun—Rp1,5 triliun. Pada awal tahun ini, emiten berkode saham AALI itu merencanakan belanja modal sebesar Rp1,6 triliun-Rp1,7 triliun dari kas internal perseroan. Rencananya, mayoritas penggunaan akan dihabiskan untuk perawatan pohon kelapa sawit yang belum menghasilkan. Adapun dana untuk perawatan tanaman yang belum menghasilkan senilai Rp700 miliar, peningkatan kapasitas pabrik atau ekstension senilai Rp150 miliar dan sisanya untuk perawatan infrastruktur seperti jalan, rumah, jembatan dan lain-lain. Akan tetapi, Direktur Astra Agro, M Hadi Sugeng mengungkapkan untuk semester II ini perseroan memiliki rencana yang berbeda. Dimana capex tahun ini akan ditekan sekitar Rp300 miliar – Rp400 miliar. “Semester dua ini kami sedang melakukan pembenahan kebun dan efisiensi kebun saja. Efisiensi yang kami maksud ialah lebih mengoptimalkan [biaya] operasional,” katanya pada akhir pekan lalu. Menurutnya, beberapa pengeluaran yang tidak berhubungan dengan inti bisnis AALI akan diefisienkan. Hadi menyebut efisiensi perlu dilakukan supaya kinerja perseroan lebih baik. “Kami menjalankan yang ada korelasinya dengan produktivitas tanaman dan tenaga kerja. Kami juga memanfaatkan teknologi supaya pengambilan keputusan lebih presisi lagi,” katanya. AALI, lanjutnya, akan menunda beberapa proyek yang tidak terlalu penting selama posisi harga crude palm oil (CPO) masih tertekan. Sebagai informasi, harga CPO di Bursa Malaysian Derivatives Exchange pada Jumat di kisaran 1.931 ringgit per ton, merosot dibandingkan dengan Februari yang sempat menyentuh 2.300 ringgit perton. Beberapa proyek, lanjutnya, akan ditunda sampai tahun depan. Misalnya, proyek infrastruktur di lapangan berupa jalan dan pembangunan perumahan karyawan masih bisa digeser ke tahun ke depan. “[Belanja modal] paling banter yang kami keluar tahun ini Rp1,5 triliun, sedangkan tahun lalu itu Rp1,7 triliun. Mungkin tahun ini akan kami tekan sampai Rp1,3 triliun,” katanya. Hingga Juli 2019, AALI memperkirakan dana capex yang terserap sekitar Rp600 miliar-Rp700 miliar. Hadi menyebut, AALI harus ikat pinggang untuk bisa survive karena harga CPO masih kurang bagus.
Perusahaan properti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mengantongi tambahan modal baru sebesar Rp 11,2 triliun yang diperoleh melalui skema penerbitan saham baru atau rights issue. CEO LPKR John Riady menyebut mayoritas tambahan modal yang berasal dari investor luar negeri itu menunjukkan kepercayaan global akan potensi perekonomian nasional. Dana rights issue Lippo Karawaci ini merupakan salah satu investasi masuk terbesar ke Indonesia di tahun ini. “Kami rasa dengan banyaknya investor asing yang tertarik dengan rights issue Lippo Karawaci menunjukan kepercayaan global yang makin tinggi terhadap perekonomian nasional,” CEO LPKR John Riady, ddalam keterangan pers Senin (15/7/2019). Realisasi rights issue tersebut diyakini akan memberikan efek positif bagi pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, kepercayaan pasar global yang tinggi kepada perekonomian Indonesia akan turut mengundang investor asing lain untuk menyuntikkan dananya ke Indonesia. “Investasi masuk ke Indonesia tentu saja sangat positif karena turut menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan memberikan kesempatan bagi industri terkait untuk ikut maju. Lippo Karawaci berbahagia dapat membantu pemerintah agar arus investasi ke dalam negeri semakin meningkat,” kata John Riady. Nantinya, dana rights issue Lippo Karawaci akan digunakan untuk melanjutkan investasi di proyek-proyek utama di sejumlah daerah. Berbagai proyek ini akan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di berbagai pelosok nusantara, termasuk Meikarta di Cikarang. Disebutkan bahwa pada Agustus mendatang akan dilakukan topping off empat tower pertama Meikarta. Sejauh ini, 65 persen dari seluruh apartemen Meikarta yang ditawarkan diklaim telah laku terjual, atau sejumlah 14.000 unit. Menurutnya, kesenjangan pembangunan rumah dan kebutuhan masyarakat akan perumahan (backlog) saat ini masih tinggi. Dengan dana itu, LPKR ingin membantu pemerintah dengan menyediakan produk properti yang lebih terjangkau oleh masyarakat, baik landed house, hingga apartemen. John melanjutkan, transformasi yang terus dilakukan perseroan diyakini akan mendorong momentum pertumbuhan Indonesia dan optimisme terhadap LPKR sebagai perusahaan real estat terbesar di Indonesia dalam hal pendapatan dan aset. “Lippo Karawaci berkomitmen untuk dukung akselerasi pertumbuhan ekonomi. Aksi korporasi sejalan dengan keinginan pemerintah untuk terus meningkatkan dana investasi langsung ke dalam negeri. Kami pun memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan yang meningkat akan perumahan di Indonesia,” kata John Riady. Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai, ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki agar FDI makin besar, antara lain permasalahan pembebasan lahan, perizinan, konsistensi kebijakan, koordinasi pusat daerah, perburuhan, pengupahan, hingga ketersediaan bahan baku. Ia menyebut bahwa masuknya FDI melalu rights issue tentu sangat positif, menjadi bukti ekonomi kita kian positif. Diharapkan, semakin banyak investor lain yang masuk. “Tentu investasi juga bukan kepemilikan equity saja sehingga bisa sewaktu-waktu menjual kepemilikannya dan keluar,” ujar Piter. Ia mewanti-wanti, meskipun pemerintah sudah mengeluarkan 16 paket kebijakan tahun lalu yang mayoritas bertujuan memperbaiki ease of doing business khususnya terkait dengan perizinan termasuk mengeluarkan kebijakan OSS, perizinan tetap menjadi faktor penghambat realisasi investasi khususnya FDI.
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. melakukan penandatanganan perubahan dan pernyataan kembali perjanjian pokok utang perseroan dengan sejumlah perbankan pelat merah dan swasta. Dalam keterangan resmi, Senin (15/7/2019), Krakatau Steel melaporkan telah melakukan penandatanganan dengan lima bank sindikasi terkait restrukturisasi utang yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Selain itu, penandatangan juga dilakukan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan PT Bank Central Asia Tbk. dengan disaksikan oleh perwakilan bank swasta yang terdiri atas PT Bank Cimb Niaga Tbk., PT Bank OCBC NISP Tbk., PT Bank ICBC Indonesia, Standard Chartered Bank Indonesia, dan PT Bank DBS Indonesia. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan perjanjian kerja sama perbankan, yang merupakan restrukturisasi utang itu, perlu dilakukan guna menyelamatkan perseroan. Menurutnya, emiten berkode saham KRAS itu memiliki aspek strategis dalam pembangunan nasional khususnya sebagai tulang punggung industri dan pembangunan infrastruktur. “Selain itu diharapkan dengan program ini, Krakatau Steel akan lebih lincah dalam pengembangan bisnis dan pasarnya di masa mendatang,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (15/7/2019). Dalam memenuhi perjanjian sama, KRAS menyatakan akan berkomitmen untuk menjaga kelangsungan operasional dan anak usaha. Restrukturisasi itu melibatkan anak-anak usaha perseroan. Penandatanganan persetujuan pembiayaan itu dilakukan untuk mendukung rencana transformasi bisnis dan keuangan KRAS. Diharapkan, strategi itu dapat membuat perseroan mencapai level likuiditas yang sehat. Manajemen KRAS menyebut juga telah mendapatkan pinjaman untuk kebutuhan modal kerja tambahan senilai US$200 juta dari sindikasi bank. Selanjutnya, langkah yang ditempuh produsen baja pelat merah itu yakni penjualan aset-aset non-core, perampingan organisasi, mencari mitra bisnis strategis, spin-off, serta pelepasan unit kerja yang semula bersifat cost center atau hanya melayani induk perusahaan (KS), menjadi bagian dari pengembangan bisnis anak perusahaan sehingga bersifat profit center. Sebelumnya, Silmy mengungkapkan perseroan mengincar dana US$1 miliar atau sekitar Rp14 triliun dari pelepasan aset non-core. Dana yang didapatkan akan digunakan untuk membayar utang. Dia menyebut perseroan akan melepas sebagian kepemilikan saham di entitas anak di antaranya PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Daya Listrik (KDL), dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI). “[Pelepasan aset non-core] kami harus mencari harga yang optimal dan waktu terbaik,” ujarnya. Untuk KDL, Silmy menyebut tengah melakukan pembahasan dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Menurutnya, dua BUMN itu tertarik dengan bisnis pembangkit listrik dan distribusi gas di entitas anak tersebut.
16 Jul, 2019 01:04
Emiten kosmetik, PT Martina Berto Tbk. tengah fokus memperbaiki kinerja perseroan yang tercatat masih membukukan rugi Rp854,93 juta per 31 Maret 2019. Direktur Utama Martina Berto Bryan David Emil optimistis dapat membukukan kenaikan penjualan pada semester I/2019 didorong oleh konsumsi yang meningkat pada Ramadan dan Lebaran. Di samping itu, pihaknya meyakini dapat menekan rugi pada sisa bulan tahun ini. Optimisme ini didorong strategi renovasi produk yang saat ini tengah dilakukan perseroan. Renovasi produk mencakup penggantian kemasan, formula, komunikasi, serta strategi yang lebih fokus pada kebutuhan konsumen saat ini dan masa depan. Pada kuartal I/2019, perusahaan kosmetik Sariayu ini mengantongi penjualan Rp140,87 miliar atau turun 6,15% secara tahunan. Sementara itu, rugi bersih tercatat Rp854,93 juta pada kuartal I/2019, lebih besar dibandingkan dengan rugi bersih kuartal I/2018 sebesar Rp479,18 juta. "Jika dilihat trennya kuartal II/2019 akan lebih baik dari kuartal I/2019 karena ada musim Lebaran. Harapannya kuartal III dan IV juga akan lebih baik," katanya ditemui di sela-sela Bisnis Indonesia Award 2019 pada pekan lalu. Dia mengungkapkan, perseroan dapat menekan rugi sepanjang tahun ini. Di samping karena renovasi produk yang sedang dilakukan, perusahaan juga giat melakukan efisiensi serta promosi ke segmen milenial. "Kami lebih efieinsi seperti biaya pemasaran akan langsung membantu ke topline," imbuhnya. Sebagai informasi, emiten dengan kode saham MBTO ini mengincar penjualan bersih dapat tumbuh 39% secara tahunan atau Rp698,50 miliar pada 2019. Target ini diyakini bakal tercapai melalui sejumlah strategi yakni meningkatkan bisnis di modern trade dan penjualan ekspor, memperkuat bisnis kontrak manufaktur melalui PT Cedefindo. Perusahaan juga menambah 2 gerai ritel Martha Tilaar Shop dan memperkuat gerai existing. Saat ini Martha Tillar Shop tersebar di 24 lokasi.
Perusahaan konsultasi keuangan PT Surya Fajar Capital Tbk. melaporkan telah menyerap dana hasil initial public offering senilai Rp26,9 miliar atau sekitar 67,33% dari total dana IPO. Direktur Utama Surya Fajar Capital Hary Herdiyanto menyampaikan, seluruh dana hasil IPO mencapai Rp39,95 miliar. Dengan demikian, sisa dana penawaran umum saham perdana emiten bersandi saham SFAN tersebut tercatat senilai Rp11,15 miliar per 30 Juni 2019. “Sampai dengan 30 Juni 2019 terdapat saldo yang belum digunakan sebesar Rp11,15 miliar,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (15/7/2019). Berdasarkan keterbukaan informasi, dana IPO milik Surya Fajar Capital telah disalurkan sebagai setoran modal kepada entitas anak PT Surya Fajar Sekuritas senilai Rp20 miliar, investasi pada efek atau surat berharga jangka pendek senilai Rp4,99 miliar, dan modal kerja senilai Rp1,90 miliar. Adapun investasi pada efek atau surat berharga jangka pendek ditempatkan di saham PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA), PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA), dan PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk. (BOSS). Sebelumnya, Surya Fajar Capital resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode perdagangan saham SFAN dengan total himpunan dana Rp39,95 miliar pada 19 Juni 2019. Surya Fajar Capital melepas 212,5 juta saham atau setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah melakukan IPO. Saham perdana Surya Fajar Capital dilepas pada harga pelaksanaan Rp188 per saham. SFAN merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan dan investasi. Saat ini, sumber pendapatan Surya Fajar Capital yang terbesar berasal dari jasa konsultasi keuangan dan kegiatan investasi. Selain itu, pendapatan juga disumbangkan dari bisnis komisi perdagangan efek dan komisi pendanaan yang berasal dari entitas anak.
Lesunya penjualan semen di semester pertama 2019, dirasakan betul bagi produsen semen. Salah satunya PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang mencatatkan penjualan sepanjang semester pertama tahun ini terkoreksi 4,86% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta. Sepanjang semester I/2019, SMGR itu mencatatkan penjualan semen sebanyak 12,74 juta ton, turun 4,86% dari 13,39 juta ton pada semester I/2018. Penjualan itu terdiri atas penjualan domestik sebanyak 11,21 juta ton lebih rendah 5,14% dibandingkan tahun sebelumnya 11,82 juta ton. Sementara itu, untuk penjualan semen untuk pasar ekspor tercatat terkoreksi 2,79% menjadi 1,52 juta ton dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya yang tercatat 1,57 juta ton. Di sisi lain, penjualan semen SMGR pada Juni 2019 tercatat meningkat tipis 0,58% menjadi 1,58 juta ton dari catatan tahun sebelumnya 1,57 juta ton. Pada periode tersebut, penjualan semen domestik naik 11,53% secara tahunan menjadi 1,43 juta ton dan penjualan semen untuk pasar ekspor terkoreksi cukup dalam 48,28% year-on-year menjadi 148.857 ton. Realisasi penjualan semen pada Juni 2019 lebih rendah 31,89% dibandingkan dengan realisasi penjualan semen pada Mei 2019, dengan penjualan domestik yang terkoreksi 28,14% dan penjualan ekspor yang terkoreksi 54,55%. Pada 6 bulan pertama 2019, total volume penjualan industri semen mencapai 28,24 juta ton. Jumlah itu menyusut 1,91% dari 28,79 juta ton pada semester I/2018. Sebaliknya, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) malah mengalami pertumbuhan, baik dari permintaan maupun produksi. Meski harus diakui pertumbuhannya berada dalam rentang mini. Produksi semen SMBR mengalami pertumbuhan yang stagnan. Sepanjang semester I-2019, SMBR memproduksi 897.893 ton. Jumlah itu lebih tinggi sekitar 1% dari tahun lalu. “Semester satu 2018 kapasitas produksi kami sebesar 887.047 ton,”kata Direktur Keuangan Semen Baturaja, Dede Parasede. Penjualan semen SMBR juga mengalami pertumbuhan. Dede mengatakan realisasi penjualan semen semester I perusahaannya mencapai 880.000 ton. Periode yang sama tahun lalu, SMBR mencatatkan sales sebesar 866.000 ton. “Meski tipis hanya sekitar 2%, namun itu kondisi yang bagus di tengah kondisi konsumsi semen nasional yang lesu,”ujar Dede. Kalau dihitung, realisasi penjualan semen SMBR mencapai sekitar 40% dari total target tahun ini. Tahun ini,Dede berharap pihaknya mencatatkan penjualan semen hingga mencapai 2,3 juta ton. Dede optimistis perusahaannya bisa memacu bisnis di semester kedua. Dede mengakui, tipisnya pertumbuhan produksi dan penjualan semen SMBR tak dapat dilepaskan dari tertundanya beberapa proyek. “Demand sepanjang semester I banyak tertahan karena sepertinya pihak-pihak tertentu masih memantau kepastian politik,” kata Dede. Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Widodo Santoso pernah bilang, buruknya serapan semen pada paruh pertama tahun ini karena proyek-proyek belum dimulai. Disampaikannya, konsumsi semen pada Juni anjlok 27,4% secara bulanan menjadi 2,7 juta ton. Namun, konsumsi semen pada Juni naik 12,8% secara tahunan. Widodo menduga hal tersebut disebabkan oleh libur lebaran selama 10 hari.
Moody's Investors Service menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) menjadi B2 dari B1. Pada saat yang sama, Moody's juga menurunkan peringkat Senior Notes yang akan jatuh tempo pada 2024 yang diterbitkan oleh anak usaha Agung Podomoro Land, APL Realty Holdings Pte. Ltd. menjadi B2 dari B1. Adapun outlook peringkat tersebut diubah menjadi under review for downgrade dari sebelumnya negatif. Dalam keterangan resmi, Moody's Vice President and Senior Credit Officer Jacintha Poh mengatakan perubahan peringkat itu merefleksikan ketidakpastian Agung Podomoro Land untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Selain itu, keuangan perusahaan juga dinilai kurang fleksibel karena terbebani oleh investasi properti, termasuk hotel. "Penurunan peringkat mencerminkan lemahnya manajemen keuangan Agung Podomoro Land dan proyeksi kami bahwa kinerja operasional perusahaan tidak meningkat pada 2019," kata Poh dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (16/7/2019). Pada Mei 2019, Agung Podomoro Land memperoleh fasilitas pinjaman berjangka untuk melunasi obligasi senilai Rp1,3 triliun yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Perusahaan menggunakan sebagaian dari fasilitas pinjaman untuk membiayai kembali pinjaman obligasi senilai Rp750 miliar yang jatuh tempo pada 6 Juni 2019. Menurut Moody's, ketersediaan dana APLN untuk membayar kembali sisa obligasi Rp550 miliar dengan perincian Rp491 miliar jatuh tempo pada Desember 2019 dan Rp99 miliar jatuh tempo pada Maret 2020, sekarang tidak pasti. Risiko pembiayaan kembali APLN diperburuk oleh fasilitas sindikasi senilai Rp1,3 triliun yang jatuh tempo. Saat ini, APLN belum menyampaikan rencana refinancing yang konkret. Moody's memperkirakan metrik kredit Agung Podomoro Land akan tetap lemah selama 12-18 bulan ke depan. Hal itu sejalan dengan risiko sulitnya perseroan untuk mencapai target marketing sales Rp3 triliun pada 2019 dan 2020, serta merampungkan penjualan lahan industri di Podomoro Industrial Park Karawang senilai Rp2,5 triliun. Lebih lanjut, Agung Podomoro Land berencana untuk menjual salah satu properti investasinya di Jakarta pada paruh kedua 2019 untuk mengurangi utang. Namun, rencana penjualan itu tertunda dan tidak akan mendukung perbaikan yang berkelanjutan terhadap metrik kredit perusahaan. Kajian Moody's akan fokus pada kemampuan Agung Podomoro Land dalam memberikan rencana refinancing yang jelas dan konkret untuk utang yang jatuh tempo dalam 12-18 bulan ke depan. Apabila rencana perseroan dinilai kurang memadai, Moody's bisa menurunkan lagi peringkat Agung Podomoro Land dalam 1-2 bulan ke depan.

Comments