Senokuncoro's Profile

Your Profile Pic

Seno Kuncoro


Birth Date : July 19, 1988

Website : http://www.stocom88.blogspot.co.id/

Point : 1260

About me

Economics Enthusiast

Badges

Citizen Journalist
PyoBie
Journalist
Paparazzi
PyoMe
PyoTastic

Articles

Topics

Topic Posts Views Last post

Trade Recommendations

1 17 28 Apr, 2017 00:57

Market Break

1 14 27 Apr, 2017 06:19

Sentimen Pasar

1 15 27 Apr, 2017 02:53

Aksi Emiten

1 18 27 Apr, 2017 02:50

Trade Recommendations

1 20 27 Apr, 2017 01:24

Sentimen Pasar

1 17 26 Apr, 2017 02:40

Trade Recommendations

1 10 26 Apr, 2017 01:17

Market Summary

1 16 25 Apr, 2017 10:11

Market Break

1 14 25 Apr, 2017 06:15

Aksi Emiten

1 27 25 Apr, 2017 02:31

Sentimen Pasar

1 19 25 Apr, 2017 01:57

Trade Recommendations

1 24 25 Apr, 2017 00:57

Posts

PT Bursa Efek Indonesia telah menerima laporan tentang minat PT Softex Indonesia untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna Setya mengatakan, manajemen Softex Indonesia telah melakukan kunjungan ke Bursa untuk menyampaikan minatnya melakukan IPO. Namun demikian, manajemen Softex Indonesia belum menyampaikan dokumen resmi. "Softex kemarin baru bertemu salah satu direktur kami, Pak Laks [Laksono Widodo, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa] untuk menyampaikan minatnya. Saat ini sedang dalam proses. Belum ada informasi berupa dokumen, hanya informasi secara lisan," katanya di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (11/7/2019). Dikutip dari pemberitaan Bloomberg pada pertengahan Mei lalu, PT Softex Indonesia berencana melakukan IPO dengan membidik dana segar senilai US$500 juta atau setara dengan Rp7,05 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.093 per dolar AS). Produsen produk saniter itu didukung oleh perusahaan ekuitas swasta CVC Capital Partners, sedang merencanakan penawaran umum perdana yang dapat mengumpulkan US$500 juta. Perusahaan yang berbasis di Tangerang itu telah bertemu dengan penasihat potensial untuk penjualan saham di Indonesia yang segera dapat terjadi tahun ini. Didirikan pada 1976, Softex telah menjual produk-produknya di lebih dari 35 negara, termasuk negara-negara berkembang. Selain pembalut wanita, Softex juga memproduksi popok bermerek Happy Napy dan tisu basah.
Entitas anak PT Medco Energi Internasional Tbk., PT Medco Power Indonesia, melepas kepemilikan 49% di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Blawan Ijen, Jawa Timur. Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/7/2019), Medco Power Indonesia (MPI) mengumumkan telah meneken dan menyelesaikan perjanjian penjualan 49% saham milik perseroan di PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) kepada PT Ormat Geothermal Power. Sisanya, atau sebanyak 51% saham MCG masih dimiliki oleh MPI. MCG memiliki perjanjian jual beli tenaga listrik dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selama 30 tahun untuk mengembangkan dan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 110 megawatt (MW) di Blawan Ijen, Jawa Timur. Manajemen MPI menuturkan kapasitas pembangkit akan ditentukan setelah selesainya aktifitas eksplorasi dan penilaian. Operasi secara komersial diharapkan akan dimulai pada akhir 2022. Direktur Utama Medco Power Indonesia Eka Satria mengatakan kemitraan strategis dengan Ormat merupakan kelanjutan setelah sukses dengan pengembangan PLTP Sarulla. “Saya yakin bahwa kerjasama antara kedua perusahaan akan memberikan nilai bagi pemegang saham serta mendukung program pemerintah Indonesia dalam mengembangkan kelistrikan di sektor energi terbarukan,” jelasnya dalam siaran pers, Kamis (12/7/2019). Medco Energi Internasional memasang target penjualan 2.850 Gigawatt Hour (GWh) tahun ini. Jumlah itu naik sekitar 5,39% dari realisasi 2.704 GWh pada 2018. Hilmi Panigoro, Presiden Direktur Medco Energi Internasional menuturkan penjualan listrik pada tahun ini merupakan kontribusi penuh dari Geothermal Sarulla. Pihaknya menyebut MPI mengoperasikan gross capacity 645 megawatts (MW) dari independent power producer (IPP) dan 2.174 MW operating and maintenance (OM). Dia menyebut telah memformulasikan beberapa platform untuk bisnis kelistrikan. Pertama, pengembangan gas to power IPP. Kedua, pengembangan bisnis OM. Ketiga, combine cycle power plant di Riau, diharapkan rampung pada 2021. “Selain itu, kami juga tengah mengembangkan proyek tenaga listrik panas bumi, geothermal di Ijen yang berlokasi di Jawa Timur dengan kapasitas 110 MW,” tuturnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.
Emiten farmasi, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. berencana kembali menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) senilai Rp1 triliun pada kuartal III/2019 sebagai upaya perseroan memperbaiki struktur pinjaman. Pada Selasa (9/7/2019), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat emisi MTN I dan MTN Syariah Mudharabah I Kimia Farma masing-masing senilai Rp250 miliar. MTN I Kimia Farma 2019 dicatatkan di KSEI pada Selasa (9/7/2019) dengan kupon 8,75% per tahun. Sementara itu, MTN Syariah Mudharabah I Kimia Farma 2019 memberikan tingkat bagi hasil floating. Instrumen tersebut masing-masing memiliki tenor 3 tahun dan tanggal jatuh tempo MTN pada 10 Juli 2022. Pembayaran bunga dan bagi hasil dilakukan setiap 3 bulan, yang pertama kali jatuh pada 10 Oktober 2019. Direktur Keuangan Kimia Farma IG Ngurah Suharta mengatakan, perseroan merealisasikan rencana penerbitan MTN I senilai total Rp500 miliar. Dana hasil MTN I tersebut akan digunakan untuk refinancing utang jangka pendek dan modal kerja. Meski demikian, Suharta belum dapat memerinci komposisi penggunaan dana hasil MTN. Dia berharap dana MTN yang digunakan untuk refinancing utang jangka pendek dapat memperbaiki current ratio perusahaan. "Kami refinancing dulu. Cost of fund relatif sama, tetapi tenor lebih panjang sampai 3 tahun sehingga current ratio jadi lebih baik," katanya, Rabu (10/9/2019). Lebih lanjut, emiten dengan kode saham KAEF ini, berencana menerbitkan MTN II senilai Rp1 triliun pada kuartal III/2019. Suharta memperkirakan, penerbitan MTN II dapat dilakukan sekitar Agustus dan September tahun ini. Rencananya dana penerbitan MTN itu juga akan digunakan untuk refinancing utang jangka pendek dan ekspansi usaha. Suharta menjelaskan, perseroan berupaya memperbaiki struktur pinjaman melalui penerbitan MTN. Dia mengatakan, selama ini banyak modal kerja perseroan berasal dari utang jangka pendek. Berdasarkan laporakan keuangan per 31 Maret 2019, jumlah liabilitas perusahaan farmasi itu sebesar Rp8,94 triliun. Sementara itu, jumlah liabilitas jangka pendek KAEF sebesar Rp6,47 triliun. Sekitar 76,66% dari liabilitas jangka pendek merupakan utang bank atau sebesar Rp4,96 triliun. "Kemarin lebih banyak pinjaman dari bank yang jangka pendek. Ini akan menekan current ratio perusahaan. Kalau MTN menjadi utang jangka panjang, sehingga current ratio menjadi lebih kuat," imbuhnya. Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, strategi Kimia Farma menggunakan dana hasil penebritan MTN untuk refinancing dan ekspansi merupakan strategi yang tepat. Sebab, di samping memperbaiki utang, juga akan langsung memperkokoh struktur perusahaan. Dia menambahkan, prospek saham KAEF masih bagus. Berdasarkan analisa teknikal, saham KAEF dalam tren sideways dengan supportRp3.300 dan resistanceRp3.400. "Rekomendasi buy on breakoutRp3.400 dengan target Rp3.520-Rp3.800," katanya. Pada penutupan perdagangan Rabu (10/7/2019), saham KAEF parkir di level Rp3.320, sama dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Meski demikian, secara year to date saham KAEF telah menguat 27,69%.
Perusahaan pemeringkat kredit SP Global mengumukan kenaikan corporate credit rating PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dari B- dengan outlook positif menjadi B dengan outlook positif sejalan dengan pertumbuhan kinerja perseroan. Dalam siaran pers, Rabu (10/7/2019), Manajemen Aneka Tambang mengumumkan kenaikan peringkat menjadi B dengan outlook positif. Perseroan mengklaiam pencapaian itu berka pertumbuhan kinerja produksi dan penjualan komoditas yang tercermin pertumbuhan kinerja keuangan yang solid sepanjang 12 bulan ke depan. Selain itu, outlook positif perseroan didukung oleh pertumbuhan bisnis melalui implementasi proyek penghiliran serta perkembangan kinerja operasional positif dari pabrik Chemical Grade Alumina di Tayan, Kalimantan Barat. Direktur Utama Aneka Tambang Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan pihaknya menargetkan pertumbuhan kinerja operasi dan keuangan yang semakin positif pada 2019. Menurutnya, emiten berkode saham ANTM itu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid dengan penjualan bersih Rp6,22 triliun atau naik 9 persen secara tahunan. Adapun, pihaknya menyebut capaian laba bersih Rp171,67 miliar pada kuartal I/2019 dibukukan di tengah volatilitas harga komoditas global. “Capaian kinerja keuangan yang tetap solid didukung oleh pertumbuhan kinerja produksi dan penjualan komoditas ANTM yang berujung kepada stabilnya level biaya tunai operasi,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (10/7/2019). Arie mengatakan perseroan berkomitmen dalam penyelesaian proyek penghiliran yang telah diinisiasi sebagai bagian dari upaya pengembangan bisnis. “Serta meningkatkan nilai tambah komoditas tambang guna menghasilkan nilai ekonomis yang positif bagi perusahaan dan pemegang saham,” imbuhnya.
11 Jul, 2019 06:42
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati rencana bisnis PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) setelah perseroan menggelar paparan publik insidentil pada Selasa (9/7/2019). Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihaknya perlu mencermati rencana bisnis ke depan perseroan yang mampu menopang keberlangsungan bisnis. Pihaknya pun perlu mendapat keterangan dari pemegang saham pengendali dan jajaran direksi terkait bisnis yang akan dijalani beserta hasil riset untuk menjaring kepercayaan sebelum akhirnya suspensi dicabut. Menurutnya, hal itu menjadi penting karena komitmen direksi dan pemegang saham pengendali akan menentukan apakah perusahaan akan berakhir dengan delisting setelah 24 bulan. Seperti diketahui, BTEL mendapatkan opini disclaimer atau tak mendapat opini dari kantor akuntan publik pada laporan keuangan 2017 dan 2018. "Bisnisnya itu yang menjadi salah satu concern dari bursa akan dibawa ke mana nih," ujarnya, Rabu (10/7/2019). Dia pun bakal mengagendakan diskusi dengan pemegang saham pengendali dan jajaran direksi untuk mengetahui rencana bisnis perusahaan. Dia berujar pihaknya tak akan dengan mudah mencabut suspensi bila tak ada tindakan signifikan dari pihak terkait untuk membenahi perusahaan. Sebelumnya, perusahaan berencana untuk melakukan restrukturasi. Setelah itu, perusahaan bakal ingin meluncurkan bisnis baru seperti layanan contact center services, akses nomor premium dan solusi suara dan data bagi segmen ritel. "Yang perlu kami pastikan, pemilihan sektor tertentu [untuk rencana ke depan]," katanya. Dalam paparan publik tersebut, Manajemen Bakrie Telecom menuturkan perseroan terus mengembangkan bisnis penyediaan layanan (business solution) telekomunikasi dengan sasaran korporasi di gedung-gedung tinggi (high rise building). Di samping itu, BTEL juga terus berupaya meningkatkan kapasitas call center atau contact center untuk dapat melayani lebih banyak customer dari badan usaha atau korporasi yang mempergunakan jasa call center Perseroan. Perseroan juga mengklain sudah menjajaki untuk masuk dalam bisnis infrastruktur yang mendukung bisnis penyiaran TV digital seiring dengan kebijakan pemerintah yang mendorong peralihan teknologi penyiaran TV dari analog menjadi digital.
Usai menggalang dana melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. (BOLA) fokus kembangkan anak usaha. Perusahaan pemilik klub Bali United tersebut akan lebih banyakan mengucurkan dana segar dari gelaran IPO kepada empat anak usahanya. Bali Bintang Sejahtera memiliki empat entitas anak yakni PT Kreasi Karya Bangsa, PT Bali Boga Sejahtera, PT IOG Indonesia Sejahtera, dan PT Radio Swara Bukit Bali Indah. Direktur Utama Bali Bintang Sejahtera Yabes Tanuri mengatakan bahwa untuk pembangunan infrastruktur stadion, perseroan belum bisa banyak merealisasikannya tahun ini. "Kebanyakan untuk anak perusahaan tahun ini, infrastruktur sebagian, karena masih banyak pertandingan," ujarnya. Bali United resmi mencatatkan sahamnya dan menjadi perusahaan publik ke-632 di Bursa Efek Indonesia pada Senin (17/6/2019). Perusahaan pengelola klub sepakbola profesional Liga 1 Indonesia itu memperoleh dana segar senilai Rp350 miliar. Yabes mengatakan bahwa hingga saat ini dana hasil IPO teesebut belum banyak direalisasikan perseroan. "[Penyerapan dana IPO] 1% lah terpakainya [hingga saat ini]. Itu [dana hasil IPO] kan untuk schedule 3 tahun," jelasnya. Adapun, pada 2019, BOLA menargetkan pendapatan pada tahun ini bisa naik 38,02% ditopang oleh pemasukan sponsorship. Dengan demikian, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp159 miliar pada 2019, naik dari realisasi pendapatan pada tahun lalu yang senilai Rp115,20 miliar.
Mempertimbangkan ketatnya likuiditas antar bank, tidak terkecuali yang dialami PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), mendorong PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat MAYA dari idA- menjadi idBBB+. Senada dengan itu peringkat Obligasi Subordinasi V/2018, obligasi subordinasi berkelanjutan I/2017 dan obligasi subordinasi IV/2014 juga dipangkas menjadi idBBB- dari idBBB dan obligasi subordinasi III/2013 menjadi idBBB dari idBBB+. Dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (10/7) disebutkan, penurunan itu disebabkan penurunan indikasi kualitas aset seperti rasio kredit dalam perhatian khusus yang meningkat ke 67,3% per 31 Maret 2019 dari 32,9% per 31 Desember 2018. Sedangkan rasio Non performing loan (NPL) dari 5,5% pada akhir tahun 2018 menjadi 5% pada akhir kuartal I 2019. Bahkan, lembaga pemeringkat efek itu dapat saja kembali menurunkan peringkat efek dan perusahaan jika masalah kualitas aset bank tidak dapat ditangani secara cepat dan berkelanjutan. Sehingga prospek negatif tetap disematkan pada MAYA. Adapun peringkat ini berlaku pada 4 Juli 2019 hingga 1 Juli 2020. Sebelumnya, Direktur Kepatuhan Bank Mayapada Rudy Mulyono perah bilang, pihaknya optimistis kredit di akhir tahun masih bisa naik satu digit. Sementara dana pihak ketiga (DPK) dipatok sedikit lebih rendah dari pertumbuhan kredit. "Kami pasang target kredit konservatif. Harapannya di high single digit," ujarnya. Menurutnya, Bank Mayapada masih memiliki ruang untuk mendongkrak kredit di beberapa segmen terutama UMKM, konsumer dan komersial. Pada kuartal I-2019 Bank Mayapada tetap berhasil mencetak kredit sebesar Rp 65,95 triliun atau naik 11,8% secara year on year (yoy). Kendati kredit tumbuh tinggi, laba bersih Bank Mayapada susut 37,4% secara yoy menjadi hanya sebesar Rp 142,78 miliar. Rudy menjelaskan, penyusutan laba tersebut sudah lebih dulu diantisipasi oleh perusahaan. Sebab, pihaknya memang tengah mempertebal rasio pencadangan guna memenuhi baleid pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 71 yang akan mulai diterapkan pada 1 Januari 2020 mendatang. "Laba turun itu karena untuk PSAK 71, kami mengalokasikan dana di 2018 sebesar Rp 550 miliar untuk masuk ke CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai)," jelasnya. Disampaikannya, perseroan masih memiliki dua amunisi penambahan modal yang akan dieksekusi pada kuartal III-2019. Pertama, melalui skema penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp 2 triliun dan obligasi subordinasi senilai maksimal Rp 1 triliun. Lewat aksi korporasi tersebut, Rudy meramal setidaknya rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) perseroan bisa meningkat ke 20% dari posisi saat ini 14,59%. Sebagai upaya peningkatan kredit, Bank Mayapada akan mendorong segmen UMKM dengan memanfaatkan 216 jaringan kantor perusahaan. Serta mendorong debitur komersial produktif sebagai kunci pertumbuhan kredit. "Sektornya jelas di perdagangan, dengan ticket size mungkin di kisaran Rp 5 miliar," katanya.
12 Jul, 2019 09:16
Tekan angka kerugian guna menopang pertumbuhan kinerja keuangan, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terus melakukan efisiensi. Salah satu yang dilakukan melalui anak usahanya yaitu PT Medco Power Indonesia dengan melepas kepemilikan 49% di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Blawan Ijen, Jawa Timur. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta. Medco Power Indonesia (MPI) mengumumkan telah meneken dan menyelesaikan perjanjian penjualan 49% saham milik perseroan di PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) kepada PT Ormat Geothermal Power. Sisanya, atau sebanyak 51% saham MCG masih dimiliki oleh MPI. MCG memiliki perjanjian jual beli tenaga listrik dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selama 30 tahun untuk mengembangkan dan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 110 megawatt (MW) di Blawan Ijen, Jawa Timur. Manajemen MPI menuturkan kapasitas pembangkit akan ditentukan setelah selesainya aktifitas eksplorasi dan penilaian. Operasi secara komersial diharapkan akan dimulai pada akhir 2022. Direktur Utama Medco Power Indonesia, Eka Satria mengatakan, kemitraan strategis dengan Ormat merupakan kelanjutan setelah sukses dengan pengembangan PLTP Sarulla,”Saya yakin bahwa kerjasama antara kedua perusahaan akan memberikan nilai bagi pemegang saham serta mendukung program pemerintah Indonesia dalam mengembangkan kelistrikan di sektor energi terbarukan,”ujarnya. Medco Energi Internasional memasang target penjualan 2.850 Gigawatt Hour (GWh) tahun ini. Jumlah itu naik sekitar 5,39% dari realisasi 2.704 GWh pada 2018. Hilmi Panigoro, Presiden Direktur Medco Energi Internasional menuturkan penjualan listrik pada tahun ini merupakan kontribusi penuh dari Geothermal Sarulla. Pihaknya menyebut MPI mengoperasikan gross capacity 645 megawatts (MW) dari independent power producer (IPP) dan 2.174 MW operating and maintenance (OM). Dia menyebut telah memformulasikan beberapa platform untuk bisnis kelistrikan. Pertama, pengembangan gas to power IPP. Kedua, pengembangan bisnis OM. Ketiga, combine cycle power plant di Riau, diharapkan rampung pada 2021.“Selain itu, kami juga tengah mengembangkan proyek tenaga listrik panas bumi, geothermal di Ijen yang berlokasi di Jawa Timur dengan kapasitas 110 MW,” tuturnya. Kuartal pertama 2019, MEDC membukukan pertumbuhan laba bersih US$ 28,05 juta atau tumbuh 29,68% dibandingkan priode yang sama tahun lalu US$ 21,63 juta. Dibalik pertumbuhan laba bersih dua digit, rupanya tidak seirama dengan perolehan pendapatan yang terkoreksi 0,60% di kuartal pertama tahun ini menjadi US$ 283,90 juta dibandingkan tahun lalu US$ 285,60 juta. Namun demikian, beban pokok penjualan dan biaya langsung lainnya yang dikeluarkan perseroan turun lebih besar. Tercatat, pos tersebut turun 17,16% secara tahunan dari US$134,72 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$111,60 juta pada kuartal I/2019. Perseroan juga membukukan laba kotor US$172,30 juta per akhir Maret 2019. Jumlah tersebut naik 14,20% dari US$150,87 juta pada kuartal I/2018. Sementara margin kotor perseroan meningkat dari 52,8% pada kuartal I/2018 menjadi 60,7% pada kuartal I/2019. Earning before interest, taxes, depreciation, and emortization (EBITDA) mencapai US$159,5 juta atau naik 8,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. MEDC melaporkan peningkatan marjin EBITDA menjadi 56,2% pada kuartal I/2019 dibanding 51,6 persen pada kuartal I/2018. Pencapaian itu didorong oleh volume gas, harga gas, harga listrik yang lebih tinggi. Roberto Lorato, CEO Medco Energi Internasional mengatakan hasil pertama sangat didorong oleh mulai meningkatnya produksi dari Blok A Aceh dan kinerja yang solid dari aset perseroan lainnya.
PT Kresna Sekuritas menyebutkan salah satu calon emiten yang ditanganinya dan bakal IPO dalam waktu dekat adalah PT Gunung Raja Paksi. “Perusahaan produsen lembaran baja tersebut akan menggunakan laporan keuangan Maret 2019 untuk proses IPO, sehingga tenggat dokumen tersebut yakni pada September,”kata Direktur Utama Kresna Sekuritas, Octavianus Budianto di Jakarta, Kamis (11/7). Disampaikannya, Gunung Raja Paksi akan melepas 10% sahamnya ke publik dan kabarnya aksi korporasi ini sudah tertunda dua kali, setelah sebelumnya perusahaan berencana untuk menggunakan laporan keuangan yang berakhir pada Juni dan Desember 2018. Asal tahu saja, PT Gunung Raja Paksi menargetkan dana IPO sebesar Rp 1 triliun. Presiden Direktur Gunung Raja Paksi, Alouisius Maseimilian pernah bilang. setelah melakukan aksi korporasi ini perusahaan akan mengakuisisi satu perusahaan milik induk usahanya dengan tujuan untuk mengembangkan bisnis perusahaan sebagai produsen produk baja.”Tidak terlalu besar (lepasnya), sekitar 10,22% di market, tahap awal. Total targettnya mungkin Rp 1 triliun ke atas,"tuturnya. Saat ini penjualan perusahaan yang berbasis di Sukadanau, CikarangBarat, ini mayoritas masih di dalam negeri mengingat tingkat kebutuhan baja dalam negeri masih sangat tinggi. Sementara 5% lainnya dieskpor ke Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara di Asia. Perusahaan memproduksi lembaran baja yang terdiri dari pelat dan gulungan baja. Kapasitas produksi gabungan mencapai 2,8 jutaton per tahun, yang dihasilkan dari produk lembaran baja panas dalam skala luas.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham milik PT Sugih Energy Tbk (SUGI) sejak perdagangan Kamis (11/7). Pihak BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis menjelaskan, suspensi saham dilakukan karena perseroan tidak memenuhi kewajiban dan ada ketidakpastian atas kelangsungan usahanya. Mempertimbangkan hal tersebut, BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek PT Sugih Energy Tbk di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan efek tanggal 11 Juli 2019 hingga pengumuman bursa lebih lanjut. Bursa pun mengimbau kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbubkaan informasi yang disampaikan oleh perseroan. Sugih Energy merupakan emiten yang rajin keluar masuk suspensi BEI. Di paruh pertama tahun 2018, PT Sugih Energy Tbk mencatatkan rugi bersih mencapai US$ 10,25 juta, melonjak hampir 13 kali lipat atau membengkak 1.194% dari semester 1 tahun lalu yang sebesar US$ 791.740. Kondisi ini berbalik dengan pendapatan perseroan yang justru tumbuh 49,95% menjadi US$ 316.825 dari US$ 211.284 pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan menyebutkan, seluruh pendapatan berasal dari penjualan minyak mentah kepada PT Pertamina. Beban pokok penjualan yang justru turun menyebabkan laba kotor Sugih Energy melambung. Beban pokok pendapatan SUGI turun 40,29% menjadi US$ 56.210 dari tahun lalu US$ 94.146. Laba kotor SUGI naik 122% menjadi US$ 260.615 dari sebelumnya US$ 117.138. Tapi, beban keuangan yang besar menyebabkan lonjakan laba kotor tak tampak pada bottom line SUGI. Pada semester I, SUGI mencatatkan beban keuangan US$ 12,18 juta. Tahun 2017 SUGI tidak memiliki beban keuangan. Beban keuangan ini berasal dari beban bunga atas utang lain-lain sebesar US$ 6,23 juta dan selisih pinjaman US$ 5,94 juta.
Meskipun PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) sudah memberikan penjelasan terkait potensi gagal bayar atau default atas obligasi yang terbitkan, namum hal tersebut belum dirasakan puas oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Alhasil, pihak BEI belum bisa mengambil keputusan dan termasuk mencabut suspensi saham KIJA. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya masih akan meminta penjelasan lagi dari KIJA. Pasalnya, penerbitan global bonds bukan berada di pengendali yang sekarang dan karenanya BEI kembali akan meminta penjelasan KIJA. “Kita masih akan mempelajari lagi informasi mengenai klausul penerbitan global bonds tersebut dan juga melihat bagaimana definisi pergantian pengendali ini, apakah sesuai atau tidak,”ujarnya di Jakarta. Oleh sebab itu, lanjutnya, pencabutan suspensi belum dapat dilakukan karena informasi yang disampaikan Jababeka belum cukup kuat.”Kita tunggu dulu. Hearing lebih banyak pertanyaan. Kita dalami lagi beberapa hal, termasuk yang jadi concern kita, pengendali dari sisi apa. Kita juga bikin pertanyaan (perihal) kesepakatan yang ada,"kata Yetna. Sebagai informasi, pada Kamis (11/07) kemarin, Jababeka telah mengeluarkan keterbukaan informasi yang menjelaskan kronologis peristiwa sehingga akhirnya menyatakan ada risiko mengalami gagal bayar.Pihaknya menyampaikan, risiko gagal bayar tersebut terjadi setelah ada perubahan kepengurusan dalam internal perusahaan. Dengan adanya hal itu, Jababeka berkewajiban untuk membeli kembali notes senilai US$300 juta. Perusahaan mengungkapkan, tidak mampu melaksanakan penawaran pembelian tersebut dan akan berada dalam keadaan lalai atau default. Sebelumnya analis Bahana Sekuritas, Muhamad Wafi pernah bilang, potensi gagal bayar oleh surat utang anak perusahaan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) masih jauh dari potensi kepailitan. Dirinya menuturkan, Jababeka memiliki beberapa opsi untuk menyelesaikan pembellian kembali (buyback) obligasi global senilai US$ 300 juta. Caranya dengan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan mengajukan beberapa opsi dengan mengagunkan lahan yang dimiliki perseroan atau memperpanjang jatuh tempo obligasi. Wafi juga menyebut, dari sisi rating sebetulnya obligasi ini tidak ada masalah. Begitu juga halnya dari sisi kinerja perseroan, kata Wafi, operating revenue dan penjualan lahan KIJA cukup baik. “Masih jauh sampai ke pailit, ini kan masalahnya harus dipaksa buyback padahal gak ada duit. KIJA harus RUPO, dari RUPO mereka bisa mengajukan beberapa opsi, misalkan mengagunkan lahan,"tandasnya. Sementara Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Marutho mengatakan, kepercayaan pelaku pasar meredup lantaran pengumuman kemungkinan gagal bayar ini diumumkan secara tiba-tiba oleh KIJA.”Perusahaan yang menyatakan gagal bayar atau sudah gagal bayar itu mengganggu trust pasar. Jadi harus diselidiki awal masalahnya apa ada, mungkin dari pemegang saham jadi beberapa yang tidak sepakat," tuturnya.
Emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal perkuat modal dengan aksi korporasi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement sebanyak-banyaknya 215 juta saham baru. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 215 juta lembar saham. Jadwal penerbitan saham tambahan hasil private placement yakni pada 18 Juli 2019. Adapun, jadwal pencatatan saham tambahan hasil private placement dilakukan pada 19 Juli 2019. Disebutkan, perseroan telah mendapatkan izin untuk melaksanakan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) pada 11 Maret 2019. Izin yang diajukan yakni private placement sebanyak-banyaknya 416,45 juta saham baru. Sekretaris Perusahaan Merdeka Copper Gold,Adi Adriansyah Sjoekri mengatakan alokasi capital expenditure (capex) tahun ini senilai US$160 juta. Perseroan menurutnya akan menggunakan sebagian besar dana itu untuk mengoptimalkan operasional dan eksplorasi di proyek tambang emas dan perak Tujuh Bukit di Jawa Timur, proyek tambang tembaga di Pulau Wetar, Maluku Barat, dan proyek tambang emas di Pani, Gorontalo. Adi menjelaskan bahwa emiten berkode saham MDKA itu berencana meningkatkan produksi pada lapisan oksida di proyek tambang Tujuh Bukit dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton bijih yang diremukkan, ditumpuk, dan ditempatkan untuk irigasi. Untuk mendukung rencana itu, anak usaha yang mengoperasikan tambang Tujuh Bukit, PT Bumi Suksesindo (BSI), akan memperluas tapak pelindian dari kapasitas 36 juta ton menjadi 56 juta ton. Rencana ekspansi itu ditargetkan rampung pada 2019. Di sisi lain, untuk proyek tembaga Wetar, perseroan sedang mengembangkan Pit Lerokis, salah satu prospek yang berjarak 14 kilometer dari tempat pelindian. Lerokis akan menjadi tambang terbuka kedua di proyek tembaga Wetar dan dijadwalkan memulai produksi komersial tahun ini. Pada akhir 2018, lanjut dia, MDKA melakukan akuisisi pembelian saham di proyek tambang emas Pani. Pihaknya mengklaim operasional tambang Pani turut memberikan dampak positif dari keberlangsungan operasional serta meningkatkan produktivitas.“Pada 2019, kami fokus bisnis pertambangan dan penjualan emas serta tembaga dengan mengoptimalkan potensi sumber daya mineral dari masing-masing anak usaha. Kami yakin seluruh kegiatan ekspansi itu akan selesai pada 2019,” jelasnya.

Comments