Rivankurniawan's Profile

Your Profile Pic

Rivan Kurniawan


Birth Date : -

Website : http://rivankurniawan.com/

Point : 60

About me

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Badges

Citizen Journalist

Articles

Posts

Alkisah, ada seekor keledai dan ayam jantan di sebuah peternakan. Keledai dan ayam adalah dua teman baik. Mereka hidup bahagia bersama di sebuah peternakan. Suatu hari datanglah seekor singa lapar melewati peternakan itu. Singa tersebut melihat seekor keledai yang gemuk. Si singa, yang kelaparan, memutuskan untuk memangsa keledai tersebut. Si singa berdiri di sana, berpikir, bagaimana cara membuat keledai keluar dari pertanian. Di sisi lain, si singa tidak sadar, bahwa gerakannya sedang diamati oleh ayam jantan. Si singa tidak melihat ayam jantan itu, karena ia hanya asyik dengan keledai saja. Ayam jantan menyadari bahwa singa itu sesuai dengan sesuatu. Si ayam berusaha ingin membantu temannya yang dalam kondisi bahaya. Singkat cerita, ayam jantan berkokok, megepakan sayapnya dan membuat bunyi-buyian berisik. Aksi ayam jantan yang tiba-tiba, tentu saja mengejutkan singa. Akhirnya si singa memutuskan untuk kabur dan dari tanah pertanian tersebut. Keledai juga mendengar suara berisik dari temannya. Dia mengamati sekitarnya dan melihat bahwa ada seekor singa lari ketakutan. Melihat kejadian tersebut, si keledai berpikir bahwa singa tersebut pengecut dan keledai memberanikan diri mengejar singa. Setelah lari beberapa meter, segera singa berpikir, “Kenapa aku kabur? Dan berpikir untuk: “Aku akan berbalik dan bertarung.” Singa itu menoleh ke belakang, dan siap untuk kembali ke tanah peternakan untuk berduel. Siapa sangka, ketika melihat ke belakang si singa malah melihat keledai yang sedang mengejarnya. Si Singa merasa sangat senang melihat mangsanya sendiri mendekatinya. Singa melompat ke keledai malang dan membunuhnya. Saat dia mulai makan, dia berhenti dan berkata, “Hari ini saya tertipu. Mangsa saya sendiri mengejarku!” [h3]Moral Story Cerita Dongeng Singa, Ayam Jantan dan Keledai[/h3] Cerita atau pelajaran berharga dari cerita dongeng: singa, ayam jantan dan keledai adalahjangan terlalu percaya diri dan arogan. [list][li]Singa terlalu percaya diri, bahwa dirinya mampu memakan keledai. Jangan pernah merasa cepat puas, karena makanan yang belum ada di tenggorokan Anda belumlah menjadi makanan Anda.[/li][li]Jangan juga menjadi arogan seperti keledai, yang mengejar singa.[/li][li] [/li][/list][h2]Investor : Jangan Terlalu Yakin dan Arogan[/h2] Banyak orang-orang yang baru berinvestasi melakukan kesalahan-kesalahan fatal. Kesalahan tersebut mengakibatkan banyak hal, termasuk kerugian, kekecewaan terhadap diri sendiri dan beberapa diantaranya menyebabkan orang “kapok” untuk berinvestasi lagi. Berikut ini 5 kesalahan investor pemula: [h3]#1 Tidak Mempelajari Terlebih Dahulu[/h3] Kesalahan yang pertama dilakukan investor baru adalah berinvestasi tanpa mempelajari terlebih dahulu produk investasi. Investor yang baik dan sukses, adalah investor yang tahu cara mengendalikan investasinya. Bagaimana cara mengendalikan investasi, jika Anda tidak memiliki ilmunya terlebih dahulu? [h3]#2 Tidak Mampu Menguasai Mindsetnya[/h3] Investor selalu bermasalah denganmindset, seperti tamak (greedy) dan takut (fear). Seorang investor professional dapat menguasai keduamindset. Seseorang yang dapat mengendalikan emosi danmindset-nya akan jauh lebih sukses, karena keputusan-keputusan investasi dibuat atas dasar rasional. [h3]#3 Tidak Memulai dari Jumlah yang Kecil[/h3] Apakah Anda tahu bahwa belajar berinvestasi itu seperti seseorang yang belajar berenang? Tidak ada seorang pun yang jago berenang hanya dengan menghafalkan teori-teori cara berenang. Mereka perlu berlatih dan berlatih untuk mempertajam kemampuannya. Orang yang baru belajar berenang juga tidak belajar di kolam yang dalam, mereka memulai dengan kolam yang dangkal. Setelah memiliki kemampuan lebih, baru pindah ke kolam yang lebih dalam. [Baca Juga:Belajar Berinvestasi Itu Mirip Dengan Belajar Berenang] Jika Anda mau belajar berinvestasi, jangan hanya menghafalkan teori-teori berinvestasi. Investasi itu perlu dipraktekkan, namun mulailah dari angka yang kecil. Fokus pada berinvestasi dengan cara yang benar, bukan pada hasil yang besar (dengan cara yang salah). [h3]#4 Tidak Memiliki Rencana Investasi[/h3] Banyak orang melakukan eksekusi tanpa strategi atau tanpa rencana matang. Seorang investor professional pasti memiliki rencana investasinya, mulai dari berapa modal yang dimiliki, berapa harga belinya, berapa harga jualnya, berapa target keuntungan, berapa toleransi kekalahan maksimal dan lain sebagainya. Jika Anda ingin berinvestasi, mulailah dengan membuat sebuah rencana keuangan. Rencana keuangan adalah GPSAnda, yang mempermudah jalan Anda untuk mewujdukan tujuan-tujuan keuangan. Investasi adalah alat atau kendaraan yang membawa Anda mencapai tujuan keuangan tersebut. [h3]#5 Berinvestasi Seperti Berjudi[/h3] Seorang investor professional berinvestasi selayaknya investor, bukan penjudi. [list][li]Mereka melakukan perhitungan, bukan hanyafeelingatau untung-untungan.[/li][li]Mereka mengetahui apa yang mereka lakukan, bukan sekedar tebak-tebakan.[/li][/list][h3]#6 Tidak Melakukan Review Berkala[/h3] Investor amatir: beli, diamkan dan berharap harga naik tanpa ada kejelasan (tanpa ada analisa sebelumnya). Investor professional: melakukan analisa, membeli (sesuai rencana investasi), me-reviewLaporan Keuangan secaraberkala dan menjual jika sudah sesuai dengan target. Reviewberkala bertujuan agar Anda tetapupdatedengan kondisi investasi Anda terkini. Namanya investasi, bisa jadi hasilnya sesuai dengan rencana investasi atau malah tidak sesuai dengan rencana. Dengan adanyareviewberkala, Anda dapat mengambil tindakan yang diperlukan. [Baca Juga:Jangan Malas Melakukan Evaluasi Investasi Anda] [h3]#7 Berinvestasi dengan Uang Sisa[/h3] Apakah Anda “menyisihkan pemasukan” untuk ditabung atau diinvestasikan? Jika ya, berarti investasi Anda bisa jadi tidak jalan, karena Anda kehabisan sisa uang. Alih-alih menyisihkan, mulai sekarang Anda perlu memprioritaskan pemasukan untuk ditabung dan diinvestasikan. Kami menempatkan pengeluaran untuk tabungan dan investasi, di atas pengeluaran rumah tangga. Artinya Anda mendahulukan atau memprioritaskan investasi. [h2]Jadilah Seorang Investor yang Professional[/h2] Jika Anda ingin mendapatkan keuntungan dan mampu mewujudkan tujuan-tujuan keuangan, maka Anda perlu berinvestasi dengan cara yang dilakukan oleh investor-investorprofessional, caranya: [li]Pelajari produk investasinya terlebih dahulu.[/li][li]Belajar mengendalikanmindsetdari sikap tamak (greed) atau takut (fear).[/li][li]Berinvestasilah mulai dengan uang yang lebih kecil untuk belajar.[/li][li]Miliki rencana investasi dan rencana keuangan (financial plan)[/li][li]Berinvestasilah, bukan berjudi.[/li][li]Buatreview[/li][li]Jadikan investasi sebagai prioritas.[/li] Semoga kita dapat belajar dari cerita dongeng singa, ayam jantan dan keledai. Jangan jadiinvestoryang arogan dan sok, melainkan jadilahinvestoryangprofessional. Sumber Referensi: [list][li]Finansialku. 14 Mei 2017.Cerita Dongeng Singa, Ayam Jantan, dan Keledai serta Pesan Moral Untuk Para Investor.https://www.finansialku.com/cerita-dongeng-singa-ayam-jantan-dan-keledai-serta-pesan-moral-untuk-para-investor/[/li][/list]
27 Nov, 2017 01:59
Salah satu tugas manajemen sebuah perusahaan adalah meningkatkan apa yang disebut denganshareholders valueatau nilai bagi para pemegang saham. Salah satu KPI yang termasuk dalamshareholders valuetersebut adalahROA (Return on Asset)danROE (Return on Equity). Dalam berinvestasi, seringkali seorang investor juga menjadikan Rasio ROA dan ROE ini menjadi salah satu patokan untuk memilih saham. ROA merupakan imbal hasil atau tingkat pengembalian laba atas total aset yang tertera di dalam neraca perusahaan. ROA ini biasanya merupakan ukuran kinerja manajemen tingkat atas, karena melihat bagaimana manajemen dapat memanfaatkan aset ini menjadi laba perusahaan. Sementara ROE merupakan imbal hasil atau tingkat pengembalian laba atas total ekuitas, yang menjadi ukuran kinerja perusahaan sekaligus pemegang saham. Bagi pemegang saham yang menginvestasikan dananya di perusahaan sebagai tambahan ekuitas, ROE ini juga menjadi tolak ukur seberapa besar ia akan mendapatkan imbalan atas modal yang diinvestasikan. Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa rasio ROA dan ROE didapat dari rumus sebagai berikut : Pertanyaannya adalah rasio mana yang lebih dapat dijadikan acuan? Saya pribadi lebih suka menggunakan ROE sebagai indikator ketimbang ROA. Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan coba menggunakan ilustrasi sederhana berikut ini agar dapat lebih mudah untuk dipahami. Perusahaan APerusahaan B Total Aset Rp 100 juta Rp 100 juta Laba BersihRp 20 juta Rp 15 juta Perusahaan A memiliki aset Rp 100 juta dan dapat menghasilkan laba bersih Rp 20 juta. Sementara Perusahaan B memiliki aset Rp 100 juta dan dapat menghasilkan laba bersih Rp 15 juta. Dari antara kedua perusahaan tersebut, mana menurut Anda perusahaan yang lebih baik dalam hal pengembalian laba bersih terhadap aset nya? Dengan menggunakan rumus di atas, kita akan mendapatkan ROA untuk kedua perusahaan sebagai berikut : [list][li]ROA Perusahaan A = Rp 20 juta / Rp 100 juta = 20%[/li][li]ROA Perusahaan B = Rp 15 juta / Rp 100 juta = 15%[/li][/list] Tentu saja jawabannya adalah Perusahaan A, karenadengan modal yang sama, perusahaan A mampu menghasilkan laba bersih yang lebih besar. Namun apakah benar fundamental perusahaan A lebih baik dibandingkan perusahaan B? Perlu diingat bahwa Total Aset sebuah perusahaan terdiri dari Liabilitas (Hutang atau pinjaman) dan Ekuitas (setoran pemilik dan laba ditahan), atau dapat digambarkan dalam persamaan berikut ini. Menggunakan contoh yang sama seperti di atas, sekarang mari kita lihat struktur permodalan dari perusahaan A dan perusahaan B. Perusahaan APerusahaan B Total Liabilitas Rp 20 jutaRp 50 jutaTotal EkuitasRp 80 juta Rp 50 juta TOTAL ASETRp 100 juta Rp 100 juta Perusahaan A dan B sama-sama memiliki aset sebesar Rp 100 juta. Namun jika dilihat lebih detail, total aset perusahaan A terdiri dari Total Ekuitas sebesar Rp 80 juta ditambah dengan Liabilitas sebesar Rp 20 juta. Sementara total aset perusahaan B terdiri dari total Ekuitas sebesar Rp 50 juta ditambah dengan liabilitas sebesar Rp 50 juta. Dengan asumsi bahwa Laba Bersih yang dihasilkan masih tetap sama (Laba Bersih Perusahaan A : Rp 20 juta dan Laba Bersih Perusahaan B : Rp 15 juta), maka rasio ROE yang dihasilkan oleh kedua perusahaan adalah sebagai berikut : [list][li]ROE Perusahaan A = Rp 20 juta / Rp 80 juta = 25%[/li][li]ROE Perusahaan B = Rp 15 juta / Rp 50 juta = 30%[/li][/list] Dilihat dari sudut pandang tingkat pengembalian laba terhadap total ekuitas, Perusahaan B ternyata lebih baik dibandingkan dengan perusahaan A. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar dana yang dapat dikembalikan dari ekuitas menjadi laba. Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri. ROE tinggi akan menyebabkan posisi pemilik modal perusahaan semakin kuat. Kembali lagi, mengapa saya lebih menyukai memakai ROE ketimbang ROA? Karena ROE lebih mencerminkan kemampuan perusahaan menggunakan modal dari setoran pemilik dan laba ditahan saja, sehingga lebih mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan asumsi tanpa hutang sekalipun. Yang perlu diperhatikan pula adalahhati-hati jika ternyata rasio ROA dan ROE perusahaan berbeda jauh, misalkan ROA = 20% dan ROE = 50%, itu artinya perusahaan cenderung memiliki hutang yang relatif besar ketimbang ekuitas nya, karena ROE itu sendiri memiliki persamaan lain, yaitu : Dari persamaan di atasi, kita mengenal satu istilah baru, yaituFinancial Leverage. Financial Leverage ini bahasa sederhana nya adalah daya ungkit yang didapat dari hutang (liabilitas) perusahaan.Jika FL 2, artinya Utang Ekuitas, sedangkan jikaFL 2, artinya Utang Ekuitas. Jadi, apabila ROA = 20% dan ROE = 50%, makaFL = 2.5 (di atas 2), artinya Utang Ekuitas. Kesimpulan : Jadi, kesimpulannya adalah apabila Anda menemukan bahwa rasio ROA sebuah perusahaan lebih besar dibandingkan dengan perusahaan lainnya (misal : kompetitor di industri yang sama), maka Anda perlu melangkah lebih jauh ke dalam perhitungan ROE nya. Apabila ROE nya juga lebih besar dari kompetitor, barulah dapat dikatakan perusahaan tersebut memiliki tingkat pengembalian laba yang lebih baik. Namun, perhatikan juga apakah rasio ROA dan ROE nya terlalu jauh? Karena apabila ROA dan ROE terlalu jauh, besar kemungkinan bahwa hutang di dalam perusahaan tersebut lebih besar dibandingkan dengan ekuitas nya
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2018 kepada seluruh investor saham di tanah air. Semoga tahun 2018 lebih memberikan kebahagiaan, kedewasaan, kebijaksanaan, serta pastinya kesuksesan bagi kita semua. Pada artikel sebelumnya kita sempat membahas mengenai fenomena Window Dressing yang terjadi pada bulan Desember 2017 (Anda bisa baca kembali artikelnya disini), dan ternyata di bulan Desember 2017 kemarin, tradisi Window Dressing masih berlanjut. IHSG bertumbuh 4.69% sepanjang Desember 2017. Kenaikan ini menambah panjang catatan positif tradisi Window Dressing yang terjadi selama ini. Nah kalau bulan Desember mengenal istilah Window Dressing, Bulan Januari juga mengenal istilah yang disebutJanuary Effect. Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu January Effect, dan bagaimana seorang Value Investor perlu menyikapi January Effect? Apa itu January Effect? January Effectpertama kali diamati oleh seorang banker bernama Sidney B. Wachtel, seorang Pakar Ekonom, Investment Banker, dan Founder Watchtelco. Ia mencatat bahwa sejak tahun 1925, harga-harga saham cenderung meningkat juga di bulan Januari. Teori yang menjelaskan fenomena ini adalah investor cenderung melepas saham di akhir tahun untuk untuk mengamankan dana atau merealisasikan capital gain serta mengurangi beban pajak (Tax Loss Selling). Pada awal tahun (Januari), investor membeli kembali saham tersebut yang mengakibatkan harganya naik. Teori lainnya adalah investor yang bekerja mendapatkan bonus tahunan yang umumnya diperoleh pada akhir tahun, untuk kemudian dibelikan saham pada bulan Januari. Bagaimana pengaruh January Effect terhadap pasar modal Indonesia? Dari tahun 1995 – 2017 (23 tahun),IHSG naik sebanyak 16 kali, dan turun 7 kali di bulan Januari. Probabilitas IHSG naik di bulan Januari adalah69%. Angka ini sebenarnya masih di bawah Window Dressing Desember, di mana dalam Window Dressing selama 22 tahun terakhir (1995 – 2016), IHSG hanya pernah 1 kali memiliki kinerja negatif dalam bulan Desember (probabilitas 95%). Sebagai catatan, jika Window Dressing Desember berlangsung sepanjang bulan, January Effect biasa terjadi hanya sampai pekan kedua – ketiga Januari, sementara pada pekan keempat Januari, para investor mulai melakukan profit taking sehingga biasanya indeks mengalami koreksi hingga pertengahan bulan Februari. Berdasarkan pengamatan, January Effect juga biasanya lebih berpengaruh padasecond linerdanthird liner, menyusul saham-saham big caps yang telah naik sebelumnya. Bagaimana Seorang Investor Perlu Menyikapi January Effect ? Meskipun secara probabilitas January Effect masih bekerja di pasar saham, namun Penulis perlu ingatkan bahwa January Effect bukanlah jaminan. Segala kemungkinan bisa terjadi. Oleh karena itu,January Effectini lebih baik jangan dijadikan pedoman atas keputusan investasi. Apalagi pada bulan Desember 2017 kemarin IHSG mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan, sehingga bisa jadi January Effect akan memberikanefek sebaliknya. Sebagai Value Investor,kita tidak perlu ambil pusingapakah January Effect akan terjadi pada Januari 2018 ini. Di Januari 2017 yang lalu, January Effect hanya memberikan impact sedikit saja dengan kenaikan IHSG 0.05% di bulan Januari 2017. Namun seperti yang Anda saksikan sendiri, IHSG naik 19.99% sepanjang tahun 2017. Hal sebaliknya terjadi di tahun 2015. Di bulan Januari 2015 silam IHSG naik 1.19% di bulan Januari, namun IHSG justru turun 12.13% sepanjang tahun 2015. Intinya, kita cukup berinvestasi di saham-saham yang sesuai dengan kaedah value investing saja. Tetap berinvestasi di saham yang memiliki fundamental bagus pada harga yang murah, karena meskipun IHSG cenderung naik di bulan Januari, bukan berarti semua saham akan naik. Jadi,jangan juga nekat mengambil marginhanya karena secara historical IHSG lebih banyak naik di bulan Januari. Jika ternyata January effect memberikan efek negatif bagi Anda, justrukerugian Anda menjadi 2x lipatdengan mengambil margin. Semoga dengan membaca artikel ini, dapat memberikan Anda sudut pandang yang baru mengenai January Effect dan pastinya kebijaksanaan dalam berinvestasi di pasar saham. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Sektor properti dinilai masih memiliki daya tarik pada investor asing di Indonesia. Dari grafik kebutuhan rumah tangga, kebutuhan rumah masih berada pada rasio 1 berbanding 10, atau dengan kata lain 1 rumah masih diperebutkan oleh 10 keluarga. Pada artikel sebelumnya kita telah membahas sedikit mengenai prospek sektor property disini, dan kita juga pernah membahas salah satu emiten property yaitu Modernland Reaty (MDLN), yang bisa Anda baca kembali artikel nya disini. Nah pada kesempatan kali ini, kita akan membahas satu lagi emiten property yang menurut kacamata Penulis masih prospektif dan memiliki fundamental yang bagus yaituAlam Sutera Realty (ASRI). Okay, kita mulai dengan mengenal sekilas dari PT Alam Sutera Realty. Saat ini sekitar 43.89% saham kepemilikan ASRI dimiliki oleh The Ning King Family (orang terkaya no 50 di Indonesia menurut Forbes 2017) melalui penyertaan saham PT Tangerang Fajar Industrial Estate dan PT Manunggal Prime Development, sementara 56.11% saham lainnya dimiliki oleh publik. ASRImemiliki portfolio bisnis yang terfokus pada pengembangan residensial dan komersial, yang terpusat di Jakarta, Tangerang, dan Bali. Beberapa portfolio yang dimiliki oleh perusahaan saat ini adalah The Tower dan Wisma Argo Manunggal di Jakarta; Kawasan Alam Sutera (Mall @ Alam Sutera, The Prominence, Paddington Heights, dan Flavor Bliss), Suvarna Sutera, serta Kota Ayodhya di Tangerang; serta Garuda Wisnu Kencana “GWK” di Bali. Tangerang sendiri menjadi lokasi pengembangan paling sibuk bagi ASRI dengan proyek Kota Ayodhya, Suvarna Sutera, serta Alam Sutera. Banyak orang mungkin hanya mengetahui bahwa kawasan Alam Sutera menawarkan perumahan berkonsephealthydangreen. Namun kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir kawasan Alam Sutera mulai berkembang menjadi kawasan komersial dan sejatinya telah menjadi pusat bisnis baru di Kota Tangerang. Sebut saja beberapa institusi yang mulai memindahkan atau mengembangkan pusat kegiatan bisnisnya ke Tangerang, seperti Universitas Bina Nusantara dan Sekolah Santa Laurensia untuk sektor pendidikan, serta IKEA (gerai perabotan rumah tangga asal Swedia) yang beroperasi pada Oktober 2014 dan Decathlon (gerai peralatan olahraga asal Prancis) yang pertama kalinya membuka bisnis di Indonesia dan memilih Alam Sutera sebagai pusat bisnisnya. Singkat kata, kawasan Alam Sutera telah bertransformasi menjadiCentral Business Districtnya kawasan Kota Tangerang. Beberapa Bisnis yang Berlokasi di Kawasan Alam Sutera Dari segi kemudahan akses, akses untuk menuju kawasan Kota Tangerang pun sekarang menjadi lebih mudah sejalan dengan dibongkarnya Tol Karang Tengah sejak April 2017 ini. Sebelum dibongkar, akses menuju kawasan Alam Sutera terhambat karena untuk mengantri di Tol Karang Tengah saja membutuhkan waktu 30 – 60 menit. Dari akses lain, Tol JORR ke arah Serpong juga telah beroperasi, sehingga memudahkan akses menuju Alam Sutera. Bagaimana dengan kinerja keuangan ASRI? Sejakbooming propertypada tahun 2011 – 2013 lalu, kebanyakan emiten property termasuk ASRI memang mengalami penurunan kinerja baik dari harga saham maupun penurunan kinerja keuangan. Sebagai gambaran,laba bersihASRI yang normal nya mencapai sekitar Rp 1.1 triliun, turun menjadi Rp 500 – 600 miliar, atauterpangkas hampir setengahnyaterutama di tahun 2015 – 2016. Demikian pula dengan tingkat pengembalian laba /Return on Equity (ROE)ASRI yang normalnya berada di 20 – 25%,terpangkas menjadi 7% – 9%saja di tahun 2015 – 2016. Tak pelak harga saham ASRI yang sempat menyentuh titik tertinggi di 1130 di 2013, harga sahamnya turun sampai saat ini berada pada harga 350 an, atau turun hampir 70%. Stock Price ASRI 2013 – 2017 Sejak pertengahan 2016 beberapa katalis sebenarnya telah diupayakan Pemerintah untuk membangkitkan kembali sektor property, akan tetapi memasuki awal 2017 perusahaan seolah belum kembali kepada kinerja positif nya, terlihat di Laporan Keuangan Kuartal I 2017 yang belum juga membaik. Namun cerita mulai berubah sejak pertengahan tahun 2017, di mana ASRI mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif, yang Penulis sebut sebagai salah satu Laporan Keuangan dengan kinerja terbaik di tahun 2017 untuk sektor property. Secara bisnis, tahun 2017 ini bisa menjadi titik balik kebangkitan perusahaan. Meskipun saat ini pencapaian Marketing Sales ASRI belum mencapai target, namun dalam 9 bulan pertama di tahun 2017, penjualan segmen perumahan kembali meningkat dan berkontribusi 22.8% dari total marketing sales 2017. Hal ini yang kemudian memunculkan sejumlah optimisme mengenai kinerja ASRI ke depannya. Tingkat profitabilitas ASRI di tahun 2017 juga jauh lebih menarik dibandingkan dengan 2016. Sebagai gambaran, Gross Profit Margin ASRI meningkat dari 58% di 2016 menjadi 67% di 2017, serta Net Profit Margin sebagaibottomlinemampu meningkat dari 18% di 2016 menjadi 35% di 2017. Apa artinya? Artinya perusahaan saat ini lebih sehat dari segi profitabilitas, setidaknya apabila dibandingkan dengan tahun 2015 dan 2016 yang lalu. Cash Flow ASRI juga lebih sehat dengan Posisi arus kas yang jauh lebih sehat. Apabila di kuartal-kuartal sebelumnya ASRI lebih banyak mencatatkan arus kas negatif dari aktivitas operasinya (uang keluar lebih besar daripada uang masuk), maka di tahun 2017 ini perusahaan mencatat arus kas positif dari aktivitas operasinya. Bahkan arus kas tersebut mampu menutupi kebutuhan investasi perusahaan, dan juga digunakan sebagian lagi untuk membayar hutang perusahaan. Per Kuartal III 2017, arus kas masuk dari aktivitas operasi ASRI tercatat positif Rp 1.2 triliun. Bandingkan misalkan dengan LPCK dan LPKR, yang sampai pertengahan tahun 2017 arus kas operasinya masih negative Rp 411 miliar dan Rp 880 miliar Pertanyaannya, mengapa kinerja keuangan ASRI bisa lebih baik padahal sebelumnya disebutkan bahwa pencapaian marketing sales belum mencapai target di tahun 2017 ini? Salah satunya adalah faktor ASRI memilikirecurring income(pendapatan berulang) yang terus meningkatsejak 2012 yang lalu. Sekedar gambaran, di tahun 2012 kontribusirecurring incomebaru Rp 71 miliar, dan di tahun 2017 ini diperkirakan akan mencapai Rp 400 miliar. Artinya, investasi yang dilakukan oleh ASRI beberapa tahun belakangan (seperti Mall @ Alam Sutera, Perkantoran Wisma Argo Manunggal, dan Garuda Wisnu Kencana) ini mulai memberikanrecurring incomeyang cukup stabil sehingga perusahaan bisa tetap bertumbuh di saat penjualan property baru masih belum terlalu menggembirakan. Apakah artinya kita telah menemukan salah satu saham yang sedang salah harga? Yep bisa jadi demikian. Karena sejatinya ASRI ini perusahaan yang memiliki fundamental bagus. MeskipunDebt to Equity Ratio (DER)ASRI berada di kisaran 1.47x, namun kecenderungan ketergantungan terhadap hutang sudah mulai menurun di tahun ini 2017. Menurut penilaian Penulis, ASRI telah mampu melewati masa sulit di 2015 dan 2016, dan mulai menunjukkan kinerja positif di tahun 2017 ini. Dengan kinerjanya yang terbaru, di harga saham 350 an,P/E Ratio nya masih 4.7x denganP/BV Ratio 0.8xalias masih murah. Bagaimana prospek nya di tahun 2018? Proyek baru ASRI yaitu The Tower, Ayodhya Residence, Ayodhya Garden House, serta beberapa proyek lainnya akan menjadi tambahan pemasukan bagi ASRI di tahun 2018 nanti. Sentimen positif dengan Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah di 4.25% meskipun The Fed menaikkan suku bunga juga tetap menjadi katalis positif bagi perusahaan. Dengan syarat Anda sabar menunggu harga sahamnya terapresiasi ke harga wajar nya, cukup besar peluang bagi Anda untuk meraih profit di tahun 2018 nanti. Lalu berapa harga wajar ASRI? Untuk informasi harga wajar ASRI bisa Anda dapatkan dengan berlangganan E-Book Quarter Outlook dan Cheat Sheet, yang informasinya dapat Anda lihat disinidan disini. Info: [list][li]Monthly Investing Plan Februari 2018akan segera terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing 2018 dapat dilihat disini.[/li][/list]
24 Jan, 2018 04:14
Sebagai seorang investor, salah satu hal yang cukup mendasar namun sangat penting untuk dipahami adalah pemahaman mengenaikonsep Price dan Value. Konsep yang sederhana namun powerful ini lah yang selalu saya ingat setiap membuat keputusan beli dan jual dalam berinvestasi saham. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas apa itu Price dan apa itu Value, serta apa kaitannya dalam hal berinvestasi di saham. [h4]Apa perbedaan Price dan Value ?[/h4] Pemaparan mengenaiPrice VS Valuetelah dijelaskan dengan sangat baik oleh Warren Buffett dalam Annual Letter kepada Shareholders di tahun 2008. Dalam Annual Letter tersebut, Warren Buffett menyebutkan bahwa : [h4]“Price is What You Pay, Value is What You Get” -Warren Buffett[/h4] Dalam bahasa Indonesia, pemahamannya kurang lebih berbunyi “Priceadalah apa yang Anda bayarkan,Valueadalah apa yang Anda dapatkan”. Untuk memahami ungkapan tersebut, coba perhatikan contoh berikut ini. Katakanlah Anda sedang membangun sebuah rumah, dan Anda sedang mencari batu bata dari sebuah toko yang ada di dekat rumah. Anda mendapatkan penawaran Rp 1000 dari toko tersebut untuk per batu bata yang akan Anda beli. Karena di hari tersebut Anda sedang tidak membawa uangcash, maka Anda memutuskan untuk kembali esok hari. Keesokan harinya, Anda datang ke toko yang sama namun kali ini Anda mendapatkan penawaran Rp 1500 untuk per batu bata yang akan Anda beli. Pertanyaannya, apakahkualitasdari batu bata tersebut berubah? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Jadi, jika Anda kemudian memutuskan untuk membeli batu bata tersebut, maka artinya Andamembayar harga (price) yang lebih mahal untuk sebuah kualitas (value) batu bata yang sama. Jika Anda membayar batu bata dengan harga lebih mahal, apakah kualitasnya berubah? Dari contoh sederhana tersebut, kita dapat memahami bahwaketika harga (Price) meningkat, maka tidak selalu kualitas (Value) ikut meningkat. Seringkali kita keliru memahami dan menganggap bahwapricesama denganvalue. Pada tingkatan yang lebih tinggi kita juga seringkali menganggap bahwa semakin mahal harga sebuah barang dan jasa, maka kualitas nya juga semakin baik. Dalam istilah marketing hal tersebut dikenal dengan istilahprice perceived value,dan seringkali teknik tersebut digunakan oleh para professional marketer. Mau tahu contohnya? Oke sekarang coba Anda perhatikan gambar berikut ini. Anda pasti tahu produk apakah di bawah ini.. Yup ! Gambar tersebut adalah parfum. Bukan sembarang parfum, parfum tersebut adalah keluaran Elie Saab, perancang busana terkenal di dunia. Dengan teknik marketing yangsophisticated, dengan menampilkan model dan perpaduan desain yang terkesan mewah (plus biasanya packaging nya pun juga tidak kalah mewah), jadilah parfum tersebut dibanderol dengan harga Rp 1.000.000. Advertising Parfum Elie Saab membuat kesan mewah Pertanyaannya, apakah harga (price) yang Anda keluarkan untuk membeli Parfum tersebut (Rp 1.000.000), sebanding denganvalueyang didapat?I’m not a perfume expert, namun saya percaya cost untuk membuat parfum tersebut mungkin tidak sampai Rp 100.000 (CMIIW). Jadi, dilihat dari sudut pandang value investor maka harga tersebut terbilangoverpriced. Ilustrasi Value dan Price Lalu, apa hubungannya antara pemahaman price dan value ini dengan berinvestasi di pasar saham? Sama seperti beberapa contoh di atas, kebanyakan investor seringkali menganggap bahwaketika harga saham naik dan dihargai lebih mahal ketimbang sebelumnya, maka saham tersebut dianggap memiliki kinerja lebih bagus.Sebaliknya, ketika harga saham turun dan dihargai lebih murah ketimbang sebelumnya, maka saham tersebut dianggap memiliki kinerja tidak bagus. Tidak heran, banyak investor retail yang lebih suka mengejar saham-saham yang menunjukkan pola uptrend, bahkanmengejar saham yang naiknya cepat (baca : terbang)karena menganggap kinerja perusahaannya bagus. Dengan kata lain, kebanyakan investor menganggap bahwaharga saham telah secara efisienmenggambarkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Efficient Market Hypothesis). Padahal Warren Buffett pernah mengatakan : [h4]“I’d be a bum on the street with a tin cup if the markets were always efficient” [/h4] Warren Buffett Warren Buffett (dan rata-rata value investor lainnya) percaya bahwapasar saham tidaklah efisien, Bahkan, seringkali investor berlaku secarairasional, karena mengambil keputusan berdasarkanfeardangreednya. Hal ini lah yang membuat harga saham bisa naik sampai ke harga yang tidak masuk akal, dan bisa juga sebaliknya membuat harga saham bisa turun sampai ke harga yang tidak masuk akal. [h4]Beberapa Kesalahan yang Dilakukan Investor Menilai Harga Saham[/h4] Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh investor dalam menilai harga sebuah saham : [li]Menjadikan nominal harga saham sebagai patokan[/li] Kesalahan yang paling umum terjadi adalah seorang investor berpatokan pada nominal harga saham yang ditawarkan oleh Mr Market saat ini. Misal, harga saham A Rp 1000 per lembar saham, dan harga saham B Rp 700 per lembar saham. Banyak investor berpikir bahwa saham B lebih murah, karena nominal harga sahamnya yang lebih murah. [li]Membandingkan harga saham saat ini dengan periode sebelumnya[/li] Kesalahan kedua yang sering dilakukan investor adalah membandingkan harga saham saat ini dengan periode sebelumnya (minggu lalu, bulan lalu, atau tahun lalu). Misalkan harga sebuah saham turun dari harga Rp 2000 di tahun lalu, menjadi saat ini diperdagangkan di harga Rp 1000. Seringkali seorang investor menganggap ketika harga sahamnya turun cukup jauh dibandingkan periode sebelumnya, maka harga sahamnya dianggap sudah murah. [h4]Market Tidak Efisien = Opportunity ![/h4] Seperti disampaikan pada bagian sebelumnya, Warren Buffett dan rata-rata Value Investor memahami bahwa pasar saham tidak bergerak secara efisien, dan pasar saham lebih banyak dikendalikan olehFeardanGreeddari orang-orang yang berada di dalamnya. Oleh karena itulah, akan selalu ada saham-saham yang menjadisalah harga. Menemukan saham-saham yang sedang salah harga ini lah yang kemudian menjadiopportunitybagi para Value Investor. Untuk menilai apakah sebuah harga saham disebut mahal atau murah, sebuah harga saham tidak dapat dibandingkan dengan melihat nominal harga sahamnya. Dalam kesalahan pertama di atas, harga saham A (Rp 1000) justru bisa menjadi lebih murah dibandingkan saham B (Rp 700) apabila nilai intrinsic saham A ternyata adalah Rp 1500, dan nilai intrinsic saham B ternyata Rp 500. Dalam kasus seperti ini, harga saham A justru dapat dikatakan lebih murah (undervalued) ketimbang saham B. Demikian pula dalam kesalahan yang kedua di atas, meskipun benar secara nominal harga sahamnya lebih murah, kita perlu cek terlebih dahulu apakah harga sahamnya kemudian menjadiundervaluedi harga Rp 1000? Bisa jadi perusahaan mencatat penurunan laba, ataufundamental perusahaan berubahkarena regulasi pemerintah, ataupun hal lainnya yang membuat harga Rp 1000 tadi pun sebenarnya belum layak disebutundervalue. Namun, jika ternyata perusahaan tersebut kinerjanya tetap baik dan harga sahamnya turun hanya karenasentiment negative sesaat, maka bisa jadi penurunan harga saham tersebut merupakanopportunity, karena setelah dilakukan valuasi harga sahamnya saat ini berada di bawah nilai intrinsik nya(undervalue). Kesimpulan Sekarang Anda telah memahami bahwaprice tidak sama dengan value. Price adalah apa yang kita bayarkan dan Value adalah apa yang kita dapat. Sebagai investor saham yang bijak, maka kita harus mengetahui cara untuk menilai harga wajar (nilai intrinsic) sebuah saham. Sehingga kita dapat mengetahui apakah harga yang kita bayarkan untuk sebuah lembar saham (price) sebanding atau berada di bawah dari nilai (value) yang kita dapatkan. Semoga dengan memahami konsep price dan value ini, kita tidak terjebak untuk membeli harga saham yang lebih tinggi dibandingkan nilainya (overvalued). Info: [list][li]Monthly Investing PlanJanuari 2018sudahterbit, Anda dapat memperolehnya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel :t.me/ValueInvestingIndonesiauntuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis ![/li][li]New Program : Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]JadwalWorkshop Value Investing (For Intermediate)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Tahun 2017 merupakan tahun yang cukup spesial bagi para investor saham Indonesia, di mana sepanjang tahun 2017 IHSG bisa dikatakan menunjukan trendstrong bullishsepanjang tahun. Tercatat, IHSG hanya menorehkan return negatif hanya 2 bulan sepanjang tahun 2017 ini, yaitu di bulan Januari 2017 dan November 2017. Itupun, hanya minor di bawah 1% (Januari -0.05%, dan November -0.99%). Selebihnya, IHSG lebih banyak bergerak positif dengan kenaikan YTD sebesar 15.5% (Ketika artikel ini ditulis, IHSG baru saja kembali mencatatkan rekor harga tertinggi yaitu 6119. Data pertumbuhan IHSG yang lebih lengkap, dapat Anda lihat pada tabel di bawah ini. Jan’17Feb’17Mar’17Apr’17May’17Jun’17Growth MoM(0.05%)1.75%3.42%2.22%0.99%1.73%Growth YTD(0.05%)1.70%5.12%7.34%8.33%10.06%Jul’17Aug’17Sep’17Oct’17Nov’17Dec’17*Growth MoM0.21%0.44%0.70%1.98%(0.99%)3.13%Growth YTD10.27%10.71%11.41%13.39%12.40%15.53% Pertumbuhan MoM dan YTD IHSG Jan – Dec 2017 * Growth IHSG per 15 Dec 2017 Market bullish(uptrend) adalah masa-masa paling menyenangkan bagi seorang investor saham, di mana probabilitas untuk meraih profit dapat dikatakan lebih besar saat periode tersebut. Apalagi saatmarket bullish, ada saja saham yang menghasilkan profit jumbo hanya dalam hitungan bulan, seperti yang terjadi padaKBLI,INDY, ataupunMBSS. Namun, sayangnya dalam siklus pasar saham tidak mungkin IHSG naiksecara terus-menerus, melainkan pasti ada masanya di mana market akan bergerak ke arah yang berlawanan, atau yang biasa disebut denganmarket bearish (downtrend).Pada saatmarket bearishdi mana kebanyakan harga saham biasanya akan mengalami penurunan pada periode tersebut. Saya punya kabar buruk dan kabar baik untuk Anda : Kabar buruknya, setiap kali IHSG menembus level psikologis, biasanya akan mengalami koreksi yang cukup lumayan setelahnya. Mau lihat faktanya? Oke kita lihat fakta-faktanya selamabeberapa tahun terakhir (2010 – 2017) : [list][li]IHSG tembus level psikologis3000padaJuli 2010, kemudian koreksi sampai2514padaSeptember 2010(2 bulan – koreksi 15%)[/li][li]IHSG tembus level psikologis4000padaJuli 2011, kemudian koreksi sampai3373padaSeptember 2011(2 bulan – koreksi 11%)[/li][li]IHSG tembus level psikologis5000padaMei 2013, kemudian koreksi sampai3967pada SeptemberAgustus 2013(4 bulan – koreksi 25%)[/li][li]IHSG tembus level psikologis5000kedua kalinya padaApril 2015, kemudian koreksi sampai4120padaSeptember 2015(6 bulan – koreksi 23%)[/li][/list] Kalau kita lihat data-data di atas, IHSG kebanyakan mengalami koreksi di atas 10% setiap kali menembus level psikologis. Mengerikan? Okay itu tadi kabar buruknya, lalu apa kabar baiknya? Kabar baiknya adalah, kalau Anda perhatikan lagi data dan fakta di atas,masa bearish IHSG tidak pernah di atas 1 tahun. Masa bearish IHSG paling lama adalah 6 bulan pada tahun 2015 (actually, sebelumnya IHSG juga pernah mengalami masa bearish 10 bulan pada tahun 2008, itu pun karena terjadi krisis global). Namun jika 2 periode itu tidak kita perhitungkan, makamasa bearish akan terjadi “hanya” 2 – 4 bulan saja. Dalam artikel ini, saya akan mencoba untuk sharing bagaimana strategi jika nanti (seandainya) kita menghadapimarket bearish? Periode Bearish IHSG April – September 2015 Terakhir kalinya IHSG mengalami koreksi yang cukup dalam adalah periode April 2015 – September 2015, di mana IHSG mengalamikoreksi sebesar 23 – 25%dari 5,523 ke 4,120. Nah kalau kita tarik snapshot pergerakan 510 saham (tahun 2015 jumlah saham yang listing adalah 510 emiten) antaraApril 2015 dan September 2015itu, maka akan didapatkan hasil sebagai berikut : [list][li]Harga saham naik 10% – 44 saham[/li][li]Harga saham naik 0 – 10% – 45 saham[/li][li]Harga saham turun 0 – 10% – 131 saham[/li][li]Harga saham turun 10% – 290 saham[/li][/list] Total saham yang justru bergerak naik saat IHSG bearish periode April 2015 – September 2015 adalah89 saham. Artinya jika kita mulai invest sepanjang periode bearish tersebut, makapeluang kita untuk meraih profit adalah 18%saja. Katakanlah Anda memegang 10 emiten, maka kemungkinan hanya 2 saham yang naik, sementara 8 saham akan turun. Apakah itu berarti kita harus keluar sama sekali dari market? Jawabannya adalahtidak harus. Meskipun peluang Anda adalah 20%, namun apabila kita cermat memilih saham, tetap ada kemungkinan kita untuk mencetak profit dalam masa bearish. Berikut ini adalah beberapa tips berinvestasi yang dapat membantu Anda apabila nantinya kita harus menghadapi kembali periode market bearish : [li]Pilihlah sahamdefensivedengan fundamental bagus danundervalued.Ini adalah kunci yang paling utama. Sebelum Anda memutuskan untuk membeli saham, pastikan saham tersebut memenuhi 3 hal : Fundamental nya bagus (laba bersih, pendapatan, dan ekuitas meningkat), harga sahamnya masihundervalued(PER 5.0 dan PBV 1.0), sertaMargin of Safety(MOS) nya masih tinggi (MOS 50%). Pengalaman yang saya alami selama ini, saham-saham yang terjun bebas (minus nya paling besar) adalah saham-saham yang fundamentalnya jelek (apalagi perusahaannya rugi) atau saham-saham yang harganya sudahovervalued. Sementara saham-saham yang memenuhi 3 hal tadi, meskipun tidak ada jaminan harganya naik, namun penurunannya tidak akan sedalam saham-saham yang fundamentalnya jelek atau overvalued tadi.[/li][li]Batasi portofolio Anda hanya menjadi 5 – 8 emiten saja.Jika Anda termasuk investor / trader yang gemar memiliki banyak saham, dan terbiasa menyimpan banyak saham, strategi tersebut biasanya tidak berjalan pada saatmarket bearish, karena Anda akan kesulitan mengatur portfolio saham Anda sendiri. Lebih parah lagi, hal tersebut bisa membuat psikologis Anda menjadi terganggu karena secara psikologis warna merah mengirimkan pesan negatif pada otak kita. Namun apabila Anda fokus pada 5 – 8 emiten, Anda bisa fokus dan konsentrasi mengatur portfolio Anda. Dan ingat, portfolio Anda HARUS memenuhi syarat no 1 di atas tadi.[/li][li]Jangan belanja full power. Jika saatmarket bullishbiasanya kitafull powerbelanja saham (tidak menyisakan cash), maka saatmarket bearishAnda tidak bisa melakukan strategi itu lagi (WARNING : jangan menggunakan fasilitas margin atau hutang saatmarket bearish).Selalu siapkan cashselama masamarket bearish. Sisakan setidaknya 30 – 40%cash on handuntuk berjaga-jaga. Jangan terlalu ngotot untukfull powerbelanja saatmarket bearish, karena Anda akan kalah langkah apabila saham-saham pegangan Anda bergerak turun.[/li][li]Money Management. Dengan Anda memegang setidaknya 30 – 40% cash, maka Anda punya “peluru cadangan” apabila saham yang Anda pegang benar bergerak turun. Namun, saya menyarankan agar jangan terlalu cepat menembakkan peluru Anda tadi. Hal yang biasa saya lakukan adalahscaling in, atau masuk secara bertahap. Misal : Anda membeli saham A di harga 200 (harga wajar misalkan di 300), kemudian harga saham bergerak turun ke 180, maka Anda bisa melakukanscaling inkedua, ternyata harga sahamnya masih bergerak turun lagi ke 160, maka Anda bisa melakukanscaling inketiga, dst.Strategi money management ini biasanya saya bahas secara lebih detail dalamWorkshop Value Investing.[/li] Kesimpulannya, kombinasikan langkah 1 sampai dengan langkah 4 di atas.Dimulai dari pemilihan saham, pilihlah saham dengan fundamental bagus dan harganya masihundervalued, serta memilikimargin of safetyyang besar. Kemudian analisathe best 5 – 8 sahamyang menurut Analisa Anda akan mampu bertahan dari market bearish, atau bahkan bergerak naik selama masamarket bearish. Mulai susun portfolio Anda namun jangan langsung belanjafull power.Sisakan 30 – 40% cash, untuk kemudian Andaaverage downdengan metodescaling in. Dengan memegang saham bagus pada harga murah, anda akan mendapatkanprofit jumbosaat market dan saham yang Anda pegang berbalik arah. Semoga Anda dan saya tetap bisa mencetak profit meskipun IHSG dalam masa bearish sekalipun. Anda punya tips lain atau ingin sharing pengalaman dengan pembaca lainnya saatmarket bearish? Silakan tinggalkan comment di bawah ini… Info: [list][li]Monthly Investing Plan Februari 2018 akan segera terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Kemarin (17 Jan 201smile, salah satu saham yang sedang menjadi bahan perbincangan adalah Perusahaan Gas Negara (PGAS), di mana PGAS ini harga sahamnya naik 25% alias ARA (Auto Reject Atas). Ada apa gerangan dan apakah harga sahamnya masih layak untuk dikoleksi? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, pertengahan tahun lalu kita sempat membahas mengenai fundamental PGAS yang artikel nya dapat Anda baca kembali disini. Baca Kembali :Ada Apa Di Balik Turunnya Saham PGAS ? Sudah? Oke, dalam artikel tersebut kita membahas bahwa sejak tahun 2015,fundamental PGAS tidaklah sebaik 2006 – 2014 yang lalu.Salah satu indikator nya adalah PGAS yang biasanya konsisten mencetak laba bersih di atas US$ 700 juta, per tahun 2015 hanya mampu mencetak laba bersih US$ 401.2 juta, tahun 2016 mencetak laba bersih US$ 304.3 juta, dan per Kuartal III 2017 laba bersih nya hanya US$ 97.9 juta. Dari segi tingkat pengembalian modal (Return on Equity), PGAS yang biasanya mencapai ROE 30%, per tahun 2017 ini ROE nya hanya 3 – 4% ! Jadi jelas bahwa saat ini kondisi PGAS tidak sama dengan PGAS sebelum tahun 2015. Namun,bukan berarti PGAS adalah perusahaan jelek, karena meskipun indikator laba bersih dan ROE menurun signifikan, PGAS tetap mampu mencetak arus kas operasional yang positif US$ 546.4 juta. Historical ROE PGAS 2011 – 2017, perhatikan ROE PGAS menurun drastis beberapa tahun terakhir (Source : idx.co.id diolah dalamcheat sheet) Loh kalau begitu apa yang menyebabkan harga saham PGAS naik sampai Auto Reject Atas (ARA) 25%? Kemarin kembali muncul berita bahwaHolding Migas antara PGAS dan Pertagas segera terbentuk akhir bulan Januari 2018, yang beritanya dapat Anda baca disini. Dalam bursa saham, sudah biasa terjadi ketika muncul sebuah berita yang menjadi sentiment positif, maka pasar menjadioverreaction, dan dalam kasus kali ini adalahpanic buying, yang membuat harga sahamnya juga kemudian naik dengan sangat cepat. Perlu diketahui, rencana PGN akuisisi Pertagas ini sebenarnya sudah muncul dari tahun 2016 silam, yang beritanya juga dapat Anda baca kembali disini. Situasinya sama seperti kemarin, ketika muncul berita tersebut, harga sahamnya kemudian naik signifikan dari 2300 an ke 3350 an (naik hampir 50%) dengan sangat cepat. Namun ketika beritanya mulai dilupakan orang (karena pembentukan holding tersebut tak kunjung terjadi), harga sahamnya kembali turun melebihi level harga sebelum naik tadi. Untuk lebih jelasnya Anda bisa lihat historical chart PGAS di bawah. Harga Saham PGAS 2016 – 2018, perhatikan pergerakan harga saham ketika muncul berita pembentukan holding migas. (Source : YahooFinance) “Tapi Pak, kali ini kan beneran akan terjadi pembentukan holding nya?” Yup, saya setuju dengan Anda. Saya pun termasuk pihak yang berpendapat bahwa apabila holding migas ini benar-benar terjadi, maka akan memberikan keuntungan untuk kedua belah pihak. Penyatuan Pertagas ke PGN ini akan menjadi entitas yang solid, mempercepat pembangunan infrastruktur gas, serta distribusi gas yang lebih merata ke masyarakat, dan yang pasti aset PGAS akan menjadi lebih besar. Hanya saja, keuntungan tersebuttidak akan dinikmati secara instan. Sekedar gambaran, ketika dua entitas menjadi satu, akan ada banyak halangan terlebih dahulu misalkan seputarcorporate culture, kemudian akan ada efisiensi pegawai, pembentukan sinergi, dsb. Bahkan bisa jadi pembentukan holding migas tersebut justru berefek negatif karena bisa jadiberpotensi terjadi monopoli, sehingga yang tadinya diharapkan harga gas bisa menjadi lebih murah, bisa jadi yang terjadi justru sebaliknya. Penulis pribadi masih pesimis kinerja keuangan PGAS akan membaik setidaknya sampai rilis Q4 2017 nanti. Masih banyak Pekerjaan Rumah yang perlu diselesaikan oleh PGAS. Jangan lupakan juga beban bunga yang masih perlu dibayarkan oleh PGAS. Per Laporan Keuangan yang terakhir, masih ada beban bunga sebesar $ 106.9 juta turut membebani laba bersih PGAS. Sekedar gambaran, sejak 2015 juga PGAS mulai banyak menerbitkan hutang di mana yang terbaru adalah PGAS menerbitkan pinjaman US$ 250 juta di Agustus 2017 lalu.Debt to Equity RatioPGAS yang tadinya konsisten di bawah 1.0, dalam 3 tahun terakhir juga menjadi di atas 1.0. So, kesimpulannya apakah setelah ARA kemarin boleh masuk atau tidak ? Jika tujuan Anda adalah untuktradingatauscalping, maka mungkin saja harga nya masih bisa naik lebih lanjut. Namun dilihat dari kacamata Value Investing,di harga sekarang PGAS belum bisa dikatakan menarik.Di harga 2360, PER PGAS berdasarkan kinerja yang terakhir adalah 32.5x alias tergolong mahal. Jadi,stand pointkami masih tetap sama, yaitu kita akan menunggu kinerja nya PGAS mulai membaik yang terlihat di Laporan Keuangannya. Tidak usah takut ketinggalan kereta karena masih banyak kereta bagus lainnya. Untuk minggu depan, kita akan membahas satu emiten yang bisa dikatakan sedang “salah harga”. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018akan segera terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel untuk menerima update tips berinvestasi dengan Value Investing disini[/li][li]New Program : Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Beberapa waktu yang lalu, kita membahas sebuah konsep sederhana mengenai Price VS Value, yang artikel nya dapat Anda baca kembali disini. Dalam artikel tersebut, saya menyebutkan bahwa apabila sebagai seorang Investor yang bijak, kita jangan berpatokan pada harga saham (Price) yang ditawarkan oleh Mr Market, melainkan kita perlu mengetahui berapa nilai intrinsik (Value) dari perusahaan tersebut. Nah pertanyaannya, tahu dari mana Nilai / Value dari perusahaan tersebut? Well, untuk mengetahui Nilai perusahaan tersebut akan memerlukan penjelasan yang sangat panjang dan tidak mungkin cukup untuk dijabarkan dalam sebuah artikel. Namun dalam tahap ini, Anda perlu mengetahui bahwa setiap perusahaan dan lembar sahamnya memiliki nilai. Masih berhubungan dengan Nilai, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana perusahaan menciptakan Nilai bagi para pemegang sahamnya? Nah inilah yang akan kita bahas pada artikel kali ini. [h4]Mengapa Kita Perlu Memahami Proses Perusahaan Menciptakan Nilai ?[/h4] Kebanyakan investor atau trader pemula yang gagal memahami pentingnya hal ini, hanya berpatokan pada satu hal :yang penting harga sahamnya naik. Akibatnya, ketika harga saham mengalami penurunan, yang terjadi adalahPANIK. Kebanyakan orang tidak memahami mengapa harga saham naik dan turun, sertahanya mengandalkan beritasebagai sumber informasi. Tak terelakkan,panic sellingseringkali terjadi di pasar saham, yang membuat harga saham menjadi turun demikian cepatnya. Panic Selling yang Sering Terjadi di Pasar Saham Namun, sebagai seorang investor yang bijaksana, Anda juga perlu mengetahui bagaimana sebuah perusahaan menciptakan value bagi Anda, para pemegang sahamnya, sehingga dapat memberikan keuntungan jangka Panjang bagi Anda. Ketika harga sahamnya kemudian turun sekalipun, Anda tidak menjadi panik seperti kebanyakan investor / trader. Sebaliknya, Anda bisa tetap tenang dan melihat hal tersebut sebagaiopportunity. [h4]Proses Perusahaan Menciptakan Value bagi Pemegang Saham[/h4] Oke langsung kita mulai bagaimana perusahaan menciptakan value bagi Anda : Pertama,sebuah perusahaan menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan keuntunganke dalam perusahaannya. Tidak hanya sekedar menciptakan laba, namun laba ini diharapkan meningkat dari waktu ke waktu. Semakin tinggi sebuah perusahaan mencetak laba, maka semakin besar value yang diberikan kepada Anda pemegang sahamnya. Misalkan di tahun ini perusahaan mencetak laba Rp 100 miliar, dan di tahun berikut nya perusahaan mencetak laba Rp 110 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda juga ikut meningkat. Sebaliknya apabila ternyata di tahun berikutnya perusahaan mencetak laba Rp 90 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda ikut menurun. Kedua,sebuah perusahaan tidak hanya menciptakan nilai bagi Anda dengan memberikan keuntungan yang lebih besar ke dalam perusahaan, perusahaan juga memberikan nilai yang lebih besar kepada pemegang saham denganmeningkatkan ekuitas.Bagaimana cara perusahaan meningkatkan ekuitas? Salah satunya adalah dengan memutarkan kembali laba bersih yang didapatkan pada tahun sebelumnya sebagai Laba Ditahan. Laba ditahan ini biasa disebut sebagairetained earnings. Dengan ekuitas yang semakin besar, perusahaan dapat melakukan ekspansi usaha yang lebih besar, dan dalam jangka yang lebih Panjang diharapkan akan mencatatkan kembali keuntungan yang lebih besar. Ketiga,sebuah perusahaan bisa menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan dividend. Ketika perusahaan mencetak keuntungan, perusahaan tidak hanya memutarkan kembali keuntungan tersebut sebagai Laba Ditahan (Retained Earnings), melainkan juga membagikan sebagian keuntungannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividend. Bedanya, dividend ini dapat langsung Anda nikmati sesuai dengan jadwal pembagian dividend yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Namun perlu dicatat, porsi pembagian dividend yang terlalu besar justru dapat memperlambat langkah perusahaan dalam berekspansi. [h4]Apakah Value Berhubungan Langsung Dengan Harga Saham?[/h4] Setelah Anda mengetahui bagaimana proses perusahaan meningkatkan Value bagi para pemegang saham, mungkin Anda bertanya : Apakah ketika Value meningkat, maka harga sahamnya PASTI meningkat juga? Jawabannya adalah : belum tentu. Lah kalau begitu, untuk apa saya perlu repot-repot tahu tentang bagaiamana proses perusahaan menciptakan nilai bagi para pemegang saham? Kembali lagi, harga saham ditentukan olehbanyak faktor. Dalam jangka pendek, harga saham akan bergerak bergerak secara fluktuatif, entah itu naik ataupun turun. Namun perlu diingat dalam jangka yang lebih panjang, harga saham akan bergerak sesuai dengan fundamental perusahaannya. Hal ini disampaikan oleh Leon Shirman dalam bukunya, 42 Rules of Sensible Investing : [h4]“In short term, there is often no correlation between a company’s fundamentals and its stock price. However, in long-term, there is 100% correlation.”[/h4] Leon Shirman Kesimpulan Sekarang, Anda sudah selangkah lebih maju lagi untuk menjadi seorang investor saham yang professional. Semoga setelah membaca artikel ini, Anda tidak hanya berpikiran bahwa ketika Anda berinvestasi“yang penting harga sahamnya naik”. Seorang investor saham yang bijaksana perlu untuk memahami bagaimana sebuah perusahaan menciptakan dan meningkatkan Value bagi pemegang sahamnya, sehingga Andatidak panikketika harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaliknya, Anda tetap bisa makan enak dan tidur enak karena mengetahui bahwa Price yang Anda bayarkanlebih murahdibandingkan Value yang Anda dapatkan. Semoga bermanfaat bagi Anda dan please share jika dirasa artikel ini bermanfaat. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel untuk menerima update tips berinvestasi dengan Value Investing disini[/li][li]Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Beberapa waktu yang lalu, kita membahas sebuah konsep sederhana mengenai Price VS Value, yang artikel nya dapat Anda baca kembali disini. Dalam artikel tersebut, saya menyebutkan bahwa apabila sebagai seorang Investor yang bijak, kita jangan berpatokan pada harga saham (Price) yang ditawarkan oleh Mr Market, melainkan kita perlu mengetahui berapa nilai intrinsik (Value) dari perusahaan tersebut. Nah pertanyaannya, tahu dari mana Nilai / Value dari perusahaan tersebut? Well, untuk mengetahui Nilai perusahaan tersebut akan memerlukan penjelasan yang sangat panjang dan tidak mungkin cukup untuk dijabarkan dalam sebuah artikel. Namun dalam tahap ini, Anda perlu mengetahui bahwa setiap perusahaan dan lembar sahamnya memiliki nilai. Masih berhubungan dengan Nilai, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana perusahaan menciptakan Nilai bagi para pemegang sahamnya? Nah inilah yang akan kita bahas pada artikel kali ini. [h4]Mengapa Kita Perlu Memahami Proses Perusahaan Menciptakan Nilai ?[/h4] Kebanyakan investor atau trader pemula yang gagal memahami pentingnya hal ini, hanya berpatokan pada satu hal :yang penting harga sahamnya naik. Akibatnya, ketika harga saham mengalami penurunan, yang terjadi adalahPANIK. Kebanyakan orang tidak memahami mengapa harga saham naik dan turun, sertahanya mengandalkan beritasebagai sumber informasi. Tak terelakkan,panic sellingseringkali terjadi di pasar saham, yang membuat harga saham menjadi turun demikian cepatnya. Panic Selling yang Sering Terjadi di Pasar Saham Namun, sebagai seorang investor yang bijaksana, Anda juga perlu mengetahui bagaimana sebuah perusahaan menciptakan value bagi Anda, para pemegang sahamnya, sehingga dapat memberikan keuntungan jangka Panjang bagi Anda. Ketika harga sahamnya kemudian turun sekalipun, Anda tidak menjadi panik seperti kebanyakan investor / trader. Sebaliknya, Anda bisa tetap tenang dan melihat hal tersebut sebagaiopportunity. [h4]Proses Perusahaan Menciptakan Value bagi Pemegang Saham[/h4] Oke langsung kita mulai bagaimana perusahaan menciptakan value bagi Anda : Pertama,sebuah perusahaan menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan keuntunganke dalam perusahaannya. Tidak hanya sekedar menciptakan laba, namun laba ini diharapkan meningkat dari waktu ke waktu. Semakin tinggi sebuah perusahaan mencetak laba, maka semakin besar value yang diberikan kepada Anda pemegang sahamnya. Misalkan di tahun ini perusahaan mencetak laba Rp 100 miliar, dan di tahun berikut nya perusahaan mencetak laba Rp 110 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda juga ikut meningkat. Sebaliknya apabila ternyata di tahun berikutnya perusahaan mencetak laba Rp 90 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda ikut menurun. Kedua,sebuah perusahaan tidak hanya menciptakan nilai bagi Anda dengan memberikan keuntungan yang lebih besar ke dalam perusahaan, perusahaan juga memberikan nilai yang lebih besar kepada pemegang saham denganmeningkatkan ekuitas.Bagaimana cara perusahaan meningkatkan ekuitas? Salah satunya adalah dengan memutarkan kembali laba bersih yang didapatkan pada tahun sebelumnya sebagai Laba Ditahan. Laba ditahan ini biasa disebut sebagairetained earnings. Dengan ekuitas yang semakin besar, perusahaan dapat melakukan ekspansi usaha yang lebih besar, dan dalam jangka yang lebih Panjang diharapkan akan mencatatkan kembali keuntungan yang lebih besar. Ketiga,sebuah perusahaan bisa menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan dividend. Ketika perusahaan mencetak keuntungan, perusahaan tidak hanya memutarkan kembali keuntungan tersebut sebagai Laba Ditahan (Retained Earnings), melainkan juga membagikan sebagian keuntungannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividend. Bedanya, dividend ini dapat langsung Anda nikmati sesuai dengan jadwal pembagian dividend yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Namun perlu dicatat, porsi pembagian dividend yang terlalu besar justru dapat memperlambat langkah perusahaan dalam berekspansi. [h4]Apakah Value Berhubungan Langsung Dengan Harga Saham?[/h4] Setelah Anda mengetahui bagaimana proses perusahaan meningkatkan Value bagi para pemegang saham, mungkin Anda bertanya : Apakah ketika Value meningkat, maka harga sahamnya PASTI meningkat juga? Jawabannya adalah : belum tentu. Lah kalau begitu, untuk apa saya perlu repot-repot tahu tentang bagaiamana proses perusahaan menciptakan nilai bagi para pemegang saham? Kembali lagi, harga saham ditentukan olehbanyak faktor. Dalam jangka pendek, harga saham akan bergerak bergerak secara fluktuatif, entah itu naik ataupun turun. Namun perlu diingat dalam jangka yang lebih panjang, harga saham akan bergerak sesuai dengan fundamental perusahaannya. Hal ini disampaikan oleh Leon Shirman dalam bukunya, 42 Rules of Sensible Investing : [h4]“In short term, there is often no correlation between a company’s fundamentals and its stock price. However, in long-term, there is 100% correlation.”[/h4] Leon Shirman Kesimpulan Sekarang, Anda sudah selangkah lebih maju lagi untuk menjadi seorang investor saham yang professional. Semoga setelah membaca artikel ini, Anda tidak hanya berpikiran bahwa ketika Anda berinvestasi“yang penting harga sahamnya naik”. Seorang investor saham yang bijaksana perlu untuk memahami bagaimana sebuah perusahaan menciptakan dan meningkatkan Value bagi pemegang sahamnya, sehingga Andatidak panikketika harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaliknya, Anda tetap bisa makan enak dan tidur enak karena mengetahui bahwa Price yang Anda bayarkanlebih murahdibandingkan Value yang Anda dapatkan. Semoga bermanfaat bagi Anda dan please share jika dirasa artikel ini bermanfaat. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel untuk menerima update tips berinvestasi dengan Value Investing disini[/li][li]Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Beberapa waktu yang lalu, kita membahas sebuah konsep sederhana mengenai Price VS Value, yang artikel nya dapat Anda baca kembali disini. Dalam artikel tersebut, saya menyebutkan bahwa apabila sebagai seorang Investor yang bijak, kita jangan berpatokan pada harga saham (Price) yang ditawarkan oleh Mr Market, melainkan kita perlu mengetahui berapa nilai intrinsik (Value) dari perusahaan tersebut. Nah pertanyaannya, tahu dari mana Nilai / Value dari perusahaan tersebut? Well, untuk mengetahui Nilai perusahaan tersebut akan memerlukan penjelasan yang sangat panjang dan tidak mungkin cukup untuk dijabarkan dalam sebuah artikel. Namun dalam tahap ini, Anda perlu mengetahui bahwa setiap perusahaan dan lembar sahamnya memiliki nilai. Masih berhubungan dengan Nilai, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana perusahaan menciptakan Nilai bagi para pemegang sahamnya? Nah inilah yang akan kita bahas pada artikel kali ini. [h4]Mengapa Kita Perlu Memahami Proses Perusahaan Menciptakan Nilai ?[/h4] Kebanyakan investor atau trader pemula yang gagal memahami pentingnya hal ini, hanya berpatokan pada satu hal :yang penting harga sahamnya naik. Akibatnya, ketika harga saham mengalami penurunan, yang terjadi adalahPANIK. Kebanyakan orang tidak memahami mengapa harga saham naik dan turun, sertahanya mengandalkan beritasebagai sumber informasi. Tak terelakkan,panic sellingseringkali terjadi di pasar saham, yang membuat harga saham menjadi turun demikian cepatnya. Panic Selling yang Sering Terjadi di Pasar Saham Namun, sebagai seorang investor yang bijaksana, Anda juga perlu mengetahui bagaimana sebuah perusahaan menciptakan value bagi Anda, para pemegang sahamnya, sehingga dapat memberikan keuntungan jangka Panjang bagi Anda. Ketika harga sahamnya kemudian turun sekalipun, Anda tidak menjadi panik seperti kebanyakan investor / trader. Sebaliknya, Anda bisa tetap tenang dan melihat hal tersebut sebagaiopportunity. [h4]Proses Perusahaan Menciptakan Value bagi Pemegang Saham[/h4] Oke langsung kita mulai bagaimana perusahaan menciptakan value bagi Anda : Pertama,sebuah perusahaan menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan keuntunganke dalam perusahaannya. Tidak hanya sekedar menciptakan laba, namun laba ini diharapkan meningkat dari waktu ke waktu. Semakin tinggi sebuah perusahaan mencetak laba, maka semakin besar value yang diberikan kepada Anda pemegang sahamnya. Misalkan di tahun ini perusahaan mencetak laba Rp 100 miliar, dan di tahun berikut nya perusahaan mencetak laba Rp 110 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda juga ikut meningkat. Sebaliknya apabila ternyata di tahun berikutnya perusahaan mencetak laba Rp 90 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda ikut menurun. Kedua,sebuah perusahaan tidak hanya menciptakan nilai bagi Anda dengan memberikan keuntungan yang lebih besar ke dalam perusahaan, perusahaan juga memberikan nilai yang lebih besar kepada pemegang saham denganmeningkatkan ekuitas.Bagaimana cara perusahaan meningkatkan ekuitas? Salah satunya adalah dengan memutarkan kembali laba bersih yang didapatkan pada tahun sebelumnya sebagai Laba Ditahan. Laba ditahan ini biasa disebut sebagairetained earnings. Dengan ekuitas yang semakin besar, perusahaan dapat melakukan ekspansi usaha yang lebih besar, dan dalam jangka yang lebih Panjang diharapkan akan mencatatkan kembali keuntungan yang lebih besar. Ketiga,sebuah perusahaan bisa menciptakan nilai bagi Anda denganmemberikan dividend. Ketika perusahaan mencetak keuntungan, perusahaan tidak hanya memutarkan kembali keuntungan tersebut sebagai Laba Ditahan (Retained Earnings), melainkan juga membagikan sebagian keuntungannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividend. Bedanya, dividend ini dapat langsung Anda nikmati sesuai dengan jadwal pembagian dividend yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Namun perlu dicatat, porsi pembagian dividend yang terlalu besar justru dapat memperlambat langkah perusahaan dalam berekspansi. [h4]Apakah Value Berhubungan Langsung Dengan Harga Saham?[/h4] Setelah Anda mengetahui bagaimana proses perusahaan meningkatkan Value bagi para pemegang saham, mungkin Anda bertanya : Apakah ketika Value meningkat, maka harga sahamnya PASTI meningkat juga? Jawabannya adalah : belum tentu. Lah kalau begitu, untuk apa saya perlu repot-repot tahu tentang bagaiamana proses perusahaan menciptakan nilai bagi para pemegang saham? Kembali lagi, harga saham ditentukan olehbanyak faktor. Dalam jangka pendek, harga saham akan bergerak bergerak secara fluktuatif, entah itu naik ataupun turun. Namun perlu diingat dalam jangka yang lebih panjang, harga saham akan bergerak sesuai dengan fundamental perusahaannya. Hal ini disampaikan oleh Leon Shirman dalam bukunya, 42 Rules of Sensible Investing : [h4]“In short term, there is often no correlation between a company’s fundamentals and its stock price. However, in long-term, there is 100% correlation.”[/h4] Leon Shirman Kesimpulan Sekarang, Anda sudah selangkah lebih maju lagi untuk menjadi seorang investor saham yang professional. Semoga setelah membaca artikel ini, Anda tidak hanya berpikiran bahwa ketika Anda berinvestasi“yang penting harga sahamnya naik”. Seorang investor saham yang bijaksana perlu untuk memahami bagaimana sebuah perusahaan menciptakan dan meningkatkan Value bagi pemegang sahamnya, sehingga Andatidak panikketika harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaliknya, Anda tetap bisa makan enak dan tidur enak karena mengetahui bahwa Price yang Anda bayarkanlebih murahdibandingkan Value yang Anda dapatkan. Semoga bermanfaat bagi Anda dan please share jika dirasa artikel ini bermanfaat. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel untuk menerima update tips berinvestasi dengan Value Investing disini[/li][li]Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
07 Feb, 2018 06:03
Sebagai seorang investor, salah satu hal yang cukup mendasar namun sangat penting untuk dipahami adalah pemahaman mengenaikonsep Price dan Value. Konsep yang sederhana namun powerful ini lah yang selalu saya ingat setiap membuat keputusan beli dan jual dalam berinvestasi saham. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas apa itu Price dan apa itu Value, serta apa kaitannya dalam hal berinvestasi di saham. [h4]Apa perbedaan Price dan Value ?[/h4] Pemaparan mengenaiPrice VS Valuetelah dijelaskan dengan sangat baik oleh Warren Buffett dalam Annual Letter kepada Shareholders di tahun 2008. Dalam Annual Letter tersebut, Warren Buffett menyebutkan bahwa : [h4]“Price is What You Pay, Value is What You Get”[/h4] Warren Buffett Dalam bahasa Indonesia, pemahamannya kurang lebih berbunyi “Priceadalah apa yang Anda bayarkan,Valueadalah apa yang Anda dapatkan”. Untuk memahami ungkapan tersebut, coba perhatikan contoh berikut ini. Katakanlah Anda sedang membangun sebuah rumah, dan Anda sedang mencari batu bata dari sebuah toko yang ada di dekat rumah. Anda mendapatkan penawaran Rp 1000 dari toko tersebut untuk per batu bata yang akan Anda beli. Karena di hari tersebut Anda sedang tidak membawa uangcash, maka Anda memutuskan untuk kembali esok hari. Keesokan harinya, Anda datang ke toko yang sama namun kali ini Anda mendapatkan penawaran Rp 1500 untuk per batu bata yang akan Anda beli. Pertanyaannya, apakahkualitasdari batu bata tersebut berubah? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Jadi, jika Anda kemudian memutuskan untuk membeli batu bata tersebut, maka artinya Andamembayar harga (price) yang lebih mahal untuk sebuah kualitas (value) batu bata yang sama. Jika Anda membayar batu bata dengan harga lebih mahal, apakah kualitasnya berubah? Dari contoh sederhana tersebut, kita dapat memahami bahwaketika harga (Price) meningkat, maka tidak selalu kualitas (Value) ikut meningkat. Seringkali kita keliru memahami dan menganggap bahwapricesama denganvalue. Pada tingkatan yang lebih tinggi kita juga seringkali menganggap bahwa semakin mahal harga sebuah barang dan jasa, maka kualitas nya juga semakin baik. Dalam istilah marketing hal tersebut dikenal dengan istilahprice perceived value,dan seringkali teknik tersebut digunakan oleh para professional marketer. Mau tahu contohnya? Oke sekarang coba Anda perhatikan gambar berikut ini. Anda pasti tahu produk apakah di bawah ini.. Yup ! Gambar tersebut adalah parfum. Bukan sembarang parfum, parfum tersebut adalah keluaran Elie Saab, perancang busana terkenal di dunia. Dengan teknik marketing yangsophisticated, dengan menampilkan model dan perpaduan desain yang terkesan mewah (plus biasanya packaging nya pun juga tidak kalah mewah), jadilah parfum tersebut dibanderol dengan harga Rp 1.000.000. Advertising Parfum Elie Saab membuat kesan mewah Pertanyaannya, apakah harga (price) yang Anda keluarkan untuk membeli Parfum tersebut (Rp 1.000.000), sebanding denganvalueyang didapat?I’m not a perfume expert, namun saya percaya cost untuk membuat parfum tersebut mungkin tidak sampai Rp 100.000 (CMIIW). Jadi, dilihat dari sudut pandang value investor maka harga tersebut terbilangoverpriced. Ilustrasi Value dan Price Lalu, apa hubungannya antara pemahaman price dan value ini dengan berinvestasi di pasar saham? Sama seperti beberapa contoh di atas, kebanyakan investor seringkali menganggap bahwaketika harga saham naik dan dihargai lebih mahal ketimbang sebelumnya, maka saham tersebut dianggap memiliki kinerja lebih bagus.Sebaliknya, ketika harga saham turun dan dihargai lebih murah ketimbang sebelumnya, maka saham tersebut dianggap memiliki kinerja tidak bagus. Tidak heran, banyak investor retail yang lebih suka mengejar saham-saham yang menunjukkan pola uptrend, bahkanmengejar saham yang naiknya cepat (baca : terbang)karena menganggap kinerja perusahaannya bagus. Dengan kata lain, kebanyakan investor menganggap bahwaharga saham telah secara efisienmenggambarkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Efficient Market Hypothesis). Padahal Warren Buffett pernah mengatakan : [h4]“I’d be a bum on the street with a tin cup if the markets were always efficient” [/h4] Warren Buffett Warren Buffett (dan rata-rata value investor lainnya) percaya bahwapasar saham tidaklah efisien, Bahkan, seringkali investor berlaku secarairasional, karena mengambil keputusan berdasarkanfeardangreednya. Hal ini lah yang membuat harga saham bisa naik sampai ke harga yang tidak masuk akal, dan bisa juga sebaliknya membuat harga saham bisa turun sampai ke harga yang tidak masuk akal. [h4]Beberapa Kesalahan yang Dilakukan Investor Menilai Harga Saham[/h4] Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh investor dalam menilai harga sebuah saham : 1. Menjadikan nominal harga saham sebagai patokan Kesalahan yang paling umum terjadi adalah seorang investor berpatokan pada nominal harga saham yang ditawarkan oleh Mr Market saat ini. Misal, harga saham A Rp 1000 per lembar saham, dan harga saham B Rp 700 per lembar saham. Banyak investor berpikir bahwa saham B lebih murah, karena nominal harga sahamnya yang lebih murah. 2. Membandingkan harga saham saat ini dengan periode sebelumnya Kesalahan kedua yang sering dilakukan investor adalah membandingkan harga saham saat ini dengan periode sebelumnya (minggu lalu, bulan lalu, atau tahun lalu). Misalkan harga sebuah saham turun dari harga Rp 2000 di tahun lalu, menjadi saat ini diperdagangkan di harga Rp 1000. Seringkali seorang investor menganggap ketika harga sahamnya turun cukup jauh dibandingkan periode sebelumnya, maka harga sahamnya dianggap sudah murah. [h4]Market Tidak Efisien = Opportunity ![/h4] Seperti disampaikan pada bagian sebelumnya, Warren Buffett dan rata-rata Value Investor memahami bahwa pasar saham tidak bergerak secara efisien, dan pasar saham lebih banyak dikendalikan olehFeardanGreeddari orang-orang yang berada di dalamnya. Oleh karena itulah, akan selalu ada saham-saham yang menjadisalah harga. Menemukan saham-saham yang sedang salah harga ini lah yang kemudian menjadiopportunitybagi para Value Investor. Untuk menilai apakah sebuah harga saham disebut mahal atau murah, sebuah harga saham tidak dapat dibandingkan dengan melihat nominal harga sahamnya. Dalam kesalahan pertama di atas, harga saham A (Rp 1000) justru bisa menjadi lebih murah dibandingkan saham B (Rp 700) apabila nilai intrinsic saham A ternyata adalah Rp 1500, dan nilai intrinsic saham B ternyata Rp 500. Dalam kasus seperti ini, harga saham A justru dapat dikatakan lebih murah (undervalued) ketimbang saham B. Demikian pula dalam kesalahan yang kedua di atas, meskipun benar secara nominal harga sahamnya lebih murah, kita perlu cek terlebih dahulu apakah harga sahamnya kemudian menjadiundervaluedi harga Rp 1000? Bisa jadi perusahaan mencatat penurunan laba, ataufundamental perusahaan berubahkarena regulasi pemerintah, ataupun hal lainnya yang membuat harga Rp 1000 tadi pun sebenarnya belum layak disebutundervalue. Namun, jika ternyata perusahaan tersebut kinerjanya tetap baik dan harga sahamnya turun hanya karenasentiment negative sesaat, maka bisa jadi penurunan harga saham tersebut merupakanopportunity, karena setelah dilakukan valuasi harga sahamnya saat ini berada di bawah nilai intrinsik nya(undervalue). Kesimpulan Sekarang Anda telah memahami bahwaprice tidak sama dengan value. Price adalah apa yang kita bayarkan dan Value adalah apa yang kita dapat. Sebagai investor saham yang bijak, maka kita harus mengetahui cara untuk menilai harga wajar (nilai intrinsic) sebuah saham. Sehingga kita dapat mengetahui apakah harga yang kita bayarkan untuk sebuah lembar saham (price) sebanding atau berada di bawah dari nilai (value) yang kita dapatkan. Semoga dengan memahami konsep price dan value ini, kita tidak terjebak untuk membeli harga saham yang lebih tinggi dibandingkan nilainya (overvalued). Info: [list][li]Monthly Investing Plan Februari 2018sudahterbit, Anda dapat memperolehnya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel :t.me/ValueInvestingIndonesiauntuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis ![/li][li]Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]JadwalWorkshop Value Investing (For Intermediate)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]
Di saat IHSG meningkat 19.99% sepanjang 2017, banyak perusahaan yang meningkat harga sahamnya seiring dengan kenaikan IHSG itu sendiri. Namun dalam pasar saham. selalu ada perusahaan yang harga sahamnya justru bergerak berlawanan dengan arah pasar. Salah satu saham yang Penulis maksud adalahPT Gajah Tunggal (GJTL). Dalam 1 tahun terakhir, harga saham GJTL turun dari posisi tertinggi nya di Rp 1.265 per lembar saham pada bulan Maret 2017, menjadi Rp 670 an di bulan November 2017 (terkoreksi hampir 50%), sebelum akhirnya naik ke 875 belakangan ini. Harga Saham GJTL 1 tahun terakhir Source : YahooFinance So, pertanyaannya apakah penurunan saham ini bisa disebutopportunityatau bukan? Dan apakah di harga Rp 800 an per lembar saham ini, GJTL sudah dapat disebutundervalueatau salah harga? Mari kita bahas bersama dalam artikel ini.. [h4]SEKILAS TENTANG GJTL[/h4] PT Gajah Tunggal (GJTL) adalah produsen ban terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan didirikan pada tahun 1951. Awalnya Perusahaan berdiri sebagai produsen sekaligus distributor ban sepeda. Setelah lebih dari 2 dekade beroperasi, atau tepatnya di tahun 1971, Perusahaan mulai memproduksi ban sepeda motor. Perusahaan baru mulai memproduksi ban bias untuk kendaraan penumpang dan komersial pada tahun 1981. Dan akhirnya pada tahun 1993, Perusahaaan mulai memproduksi dan menjual ban radial untuk mobil penumpang dan truk ringan. Saat ini 49.5% saham GJTL dimiliki oleh Denham Pte Limited (anak perusahaan Giti Tire Pte. Ltd) yang berpusat di Singapore. Giti Tire sendiri merupakan pemain besar industri ban di China. Michelin juga memegang 10% saham GJTL, di mana sejak 2004 GJTL menjalin kerjasama strategis dengan Michelin. GJTL dalam hal ini memproduksi ban untuk Michelin untuk pasar ekspor. Danpublic shareholdersmemegang 40.5% saham GJTL. GJTL saat ini juga memegang 25.6% saham PT Polychem Indonesia Tbk (terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham : ADMG) dan 99.0% saham PT Prima Sentra Megah. [h4]INKONSISTENSI PROFIT GJTL[/h4] GJTL sendiri pertama kali mencatatkan penawaran saham secara publik (IPO) pada tahun 1990, yang mana artinya Perusahaan sudah hampir 3 dekade malang melintang di Bursa Efek Indonesia. Sebagai perusahaan yang sudah memiliki history yang cukup panjang, sayangnya GJTL termasuk perusahaan yangkurang konsisten dalam hal pencetakan laba. Sebagai gambaran, dalam 7 tahun terakhir, perusahaan mencetak 2 x kerugian yaitu di tahun 2015 dan 2017. Yup jadi sejatinya, GJTL per artikel ini ditulis masih menyandang statusPerusahaan RUGI. Selepas perusahaan membukukan laba bersih Rp 1.1 triliun di tahun 2012, Perusahaan hanya mampu mencetak laba bersih Rp 120 miliar di 2013 dan Rp 283 miliar di tahun 2014. Harapan bahwa GJTL akan mampu kembali ke masa jayanya sempat muncul ke permukaan, ketika GJTL membukukan laba bersih Rp 627 miliar di tahun 2016. Sayangnya, seperti dikemukakan di atas, GJTL kembali menderita kerugian di tahun 2017 ini. Ada banyak faktor yang menyebabkan inkonsistensi GJTL dalam hal pencetakan profit.Harga bahan baku karet yang berfluktuasimisalkan, menjadi faktor yang turut mempengaruhi profitabilitas GJTL. Di awal tahun 2017 harga karet sempat melonjak tinggi yang membuat beban produksi GJTL menjadi meningkat. Hal ini membuat Gross Profit Margin (GPM) GJTL menurun dari 23.8% di tahun 2016 menjadi 16.8% di tahun 2017.Nilai tukar rupiahjuga menjadi faktor yang turut mempengaruhi profitabilitas GJTL. Di tahun 2015 misalkan ketika nilai tukar rupiah melemah secara signifikan terhadap dolar AS turut membuat GJTL harus menanggung Rp 705 miliar dari kerugian kurs mata uang asing, yang membuat GJTL akhirnya kembali mengalami kerugian Rp 313 miliar. Di tahun 2017 sendiri, ada satu faktor lainpenarikan produksecara sukarela(voluntary recall) sebanyak hampir 400 ribu ban yang sudah didistribusikan yang terjadi di Juli 2017 Laba Bersih GJTL 2011 – 2017. Perhatikan GJTL tidak konsisten dalam hal pencetakan laba. Source : idx.co.id diolah dalamCheat Sheet. Meskipun Perusahaan tidak konsisten dalam hal pencetakan laba, perusahaan masih termasuk konsisten dalam hal Pendapatan perusahaan. Selama 2011 – 2017, Pendapatan perusahaan selalu bertumbuh. Hanya saja perlu dicatat bahwa CAGR atau rata-rata pertumbuhan Perusahaan hanya sekitar 3.3% per tahun nya atau dibawah rata-rata pertumbuhan inflasi tahunan 7%. Pendapatan GJTL 2011 – 2017 Source : idx.co.id diolah dalamCheat Sheet. Saat ini mayoritas pendapatan GJTL berasal daripenjualan ban radial(merk GT Radial) untuk mobil penumpang, truck, dan bus. Penjualan ban radial ini memberikan kontribusi terhadap 45% dari total revenue. Sementara itu, penjualan ban bias untuk kendaraan komersial (merk Gajah Tunggal) memberikan kontribusi 26% revenue, dan ban sepeda motor (merk IRC Tire) memberi kontribusi 25% revenue. Sisa 4% lainnya adalah penjualan ban dalam, aksesoris, serta kain ban dan karet sintesis (integrasi vertikal). Perlu dicatat bahwa GJTLtidak hanya menjual ban untuk kendaraan baru, melainkan juga kendaraan lama (replacement). Hal ini cukup menguntungkan posisi GJTL karena misalkan di tahun 2015 industri otomotif lesu darah, penjualan GJTL “hanya” turun 1% (lihat lagi grafik penjualan di atas). GJTL jugatidak hanya menjual produk-produk nya ke domestik, melainkan juga ekspor ke market internasional. Komposisi penjualan GJTL ke market domestik dan market ekspor saat ini adalah sekitar60% : 40%.Sebagai gambaran, dari total pendapatan GJTL US$ 10.8 juta per Kuartal III 2017, $ 6.5 juta adalah penjualan ke pasar domestik (Jawa dan Luar Jawa), sementara total penjualan ke market ekspor adalah US$ 4.3 juta. Untuk market eksporpenjualan GJTL ke pasar Amerika cukup signifikan, di mana penjualan ke Amerika bahkan saat ini sudah mengalahkan penjualan ke market domestik di luar Jawa. Meningkatnya penjualan ekspor ban ke Amerika sedikit banyak dipengaruhi oleh kebijakan Amerika yang membatasi impor dari China, yang membuka peluang bagi GJTL untuk meningkatkan ekspornya ke Amerika. Sayangnya penjualan ke Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika mengalami penurunan di tahun 2017 ini. Di satu sisi, hal ini menjadi kekuatan GJTL karena komposisi penjualan yang cukup berimbang antara market domestik dengan market ekspor. Ketika misalkan penjualan ke market domestik masih cenderung stagnan, total penjualan tetap meningkat karena didorong meningkatnya penjualan ekspor GJTL ke produk Amerika. Namun di sisi lain hal ini juga menjadi risiko bagi GJTL karena otomatiscurrencyatau mata uang yang digunakan GJTL juga memakai dollar AS, termasuk utang usaha (baca lagi mengenai risiko nilai tukar pada bagian sebelumnya di artikel ini). [h4]REFINANCING HUTANG GJTL[/h4] Dari segi struktur permodalan, Penulis sebenarnya menilai GJTL cukup berisiko. GJTL ini termasuk perusahaan yang hutangnya banyak. Per Kuartal III 2017,Debt to Equity Ratio(DER) GJTL mencapai 2.4x, yang mana artinya perusahaan memiliki jumlah hutang 2.4x lipat lebih besar ketimbang Ekuitas nya. Angka ini jauh lebih besar ketimbang perusahaan lain di industry yang sama. Perusahaan memang terkenal doyan menerbitkan surat hutang. [list][li]Tahun 2005 – US$ 325 juta[/li][li]Tahun 2007 – US$ 95 juta[/li][li]Tahun 2009 – US$ 435 juta[/li][li]Tahun 2013 – US$ 500 juta (obligasi baru untuk membayar obligasi lama, jatuh tempo 201smile[/li][li]Tahun 2017 – US$ 500 juta (obligasi baru untuk membayar obligasi lama, jatuh tempo 2022)[/li][/list] GJTL sendiri saat pada pertengahan tahun 2017 kemarin kembali melakukanrefinancinghutang melalui penerbitan global bond plus pinjaman perbankan. Penerbitan surat hutang baru ataunotestersebut adalah sebesar US$ 500 juta dengan kupon 8.375%. Seperti yang sudah disebutkan di atas, dana hasil penerbitan obligasi ini adalah untuk melunasi surat utang sebelumnya (senior notes) dengan besaran yang sama (dengan kupon 7.75%) yang diterbitkan pada tahun 2013 dan akan jatuh tempo pada Februari 2018 ini. Surat hutang / notes yang baru ini akan jatuh tempo pada tahun 2022. Secara Value Investing, penerbitan hutang baru untuk melunasi hutang yang lama sebenarnya bukan indikator yang baik bagi sebuah perusahaan. Akan tetapi, ada faktor lain yang perlu dijadikan pertimbangan oleh investor. Faktor X tersebut adalah faktorcredit rating. Kabar baiknya, Moody’s sebagai Lembaga pemeringkat telah menaikkan rating surat hutang GJTL dari Caa1 menjadi B2, yang mana artinya Moody’s menganggap surat hutang GJTL memilikirisiko relatif rendah. Bahkan, rating bisa kembali dinaikkan jika GJTL mampu meningkatkan basis pendapatan dan menjaga EBITDA Margin pada kisaran 20%, memperoleh Free Cash Flow positif, serta mempertahankan level Debt to EBITDA di level 3.25 x. Sebaliknya, rating ini bisa suatu saat diturunkan jika ternyata ke depannya EBITDA Margin turun di bawah 15%, serta posisi Debt to EBITDA melewati level 4.5x. [h4]Jadi, Kesimpulannya Ini Opportunity atau Bukan?[/h4] Di bagian sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa di satu sisi GJTL termasuk perusahaan yang inkonsisten dari segi pencetakan laba bersih, kemudian juga tergolong perusahaan yang memiliki banyak hutang, apakah ini artinya GJTL termasuk perusahaan dengan fundamental jelek? Penulis berani katakantidakdemikian. Salah satu indikator nya adalahmeskipun kompetisi pasar Indonesia sangat ketat, Ban Mobil GT Radial tetap mampu menduduki posisi keempat (di bawah Goodyear, Bridgestone, Dunlop). Sementara itu IRC menduduki posisi pertama di segmen Ban Motor. Yang perlu menjadi catatan di sini meskipun kompetisi untuk Ban sangat ketat di Indonesia,GJTL memiliki penjualan ekspor yang hampir sama besar dengan market domestik.Selain ituGJTL juga memiliki sejumlah keunggulan lain, misalkan lini produk perusahaan yang terintegrasi dengan karet sintesis dan kain ban sehingga membuat supply terjaga dan meminimalisir fluktuasi produksi ban. GJTL juga memiliki kedekatan dengan bahan baku seperti karet alam, sehingga mengurangi biaya logistik dan inventory. Di awal tahun 2018 sendiri, sejumlah kondisi lebih menguntungkan untuk GJTL. Pertama, Harga karet yang menjadi bahan utama pembuatan ban sudah mengalami penurunan dan cukup stabil, sehingga kita bisa cukup optimis untuk melihat margin profit GJTL kembali meningkat. Kedua, Perusahaan juga akan meningkatkan kapasitas produksi ban TBR dari 2.000 ban per hari menjadi 3.500 ban per hari pada tahun 2018 ini. Ketiga, faktor kurs rupiah terhadap mata uang asing juga masih relatif stabil, setidaknya hingga saat ini. Keempat, faktor penarikan produk juga telah diantisipasi oleh manajemen agar tidak terulang kembali. Secara valuasi, di harga 800 an, GJTL bisa dikatakan tergolongundervalue. Meskipun kita tidak bisa menjadikan PER sebagai patokan (karena saat ini perusahaan masih menyandang status perusahaan rugi) namun dari segi Ekuitas perusahaan, saat iniPBV GJTL hanya 0.5 xatau terendah dalam kurun waktu 6 – 7 tahun terakhir ini (GJTL rata-rata dihargai di PBV 0.9x – 2.3x). Dengan catatan perusahaan mampu untuk menurunkan cost dan kembali meningkatkan revenue (serta kasus hukum terkait kasus BLBI yang belakangan beredar sudah selesai), maka kita bisa berharap bahwa perusahaan akan kembali membukukan laba di tahun 2018 ini dan tentu saja dibarengi dengan kenaikan harganya. Lalu sejauh mana GJTL akan melaju? Berapa harga wajar sahamnya? Apakah GJTL ini cocok untuk diinvestasikan atau hanya ditradingkan saja? Lebih lanjutnya penulis akan bahas secara detail dalamMonthly Investing Plan Februari 2018nanti. Info: [list][li]Monthly Investing PlanFebruari 2018sudah terbit, Anda dapat memperolehnya disini[/li][li]Join Our Telegram Channel :t.me/ValueInvestingIndonesiauntuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis ![/li][li]New Program : Value Investing Bootcamp (For Beginner)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0812-9828-9288 (Afiandy)[/li][li]Jadwal RegulerWorkshop Value Investing (For Intermediate)dapat dilihat disini. Info lebih lanjut WA0896-3045-2810 (Johan)[/li][/list]

Comments