Rivankurniawan's Profile

Your Profile Pic

Rivan Kurniawan


Birth Date : -

Website : http://rivankurniawan.com/

Point : 60

About me

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Badges

Citizen Journalist

Articles

Posts

Pada Workshop Value Investing beberapa waktu yang lalu, ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan yang sangat bagus. Peserta tersebut bertanya “Menurut Pak Rivan, apakah semakin banyak kita membaca berita semakin bagus? Informasi seperti apa sih yang sebaiknya dibaca atau didengar oleh seorang investor atau trader seperti kita?” Nah memang, pada era teknologi seperti sekarang ini, arus informasi begitu mudah nya untuk didapat. Bahkan saking mudahnya didapat, bisa dibilang arus informasi yang masuk lebih deras daripada kemampuan otak kita untuk menyerap informasi tersebut. Namun apakah semakin banyak informasi yang kita serap akan menghasilkan keputusan investasi atau keputusan trading yang lebih baik? Pada artikel kali ini, saya ingin membahas sedikit mengenai yang namanya RACUN INFORMASI. Tahukah Anda bahwa banyak berita, rumor, rekomendasi teman, obrolan di group trading, analisa “pakar”, dan sebagaimana bisa menjadi racun bagi pengambilan keputusan investasi atau trading kita? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memulai dengan sebuah cerita. Pada akhir 1980 – an, seorang psikolog bernama Paul Andreassen melakukan eksperimen kepada mahasiswa MIT. Andreassen membiarkan masing-masing mahasiswa memilih sendiri portfolio investasi saham, kemudian ia membagi mahasiswa menjadi dua kelompok. [list][li]Kelompok Pertama hanya bisa melihat perubahan harga saham mereka dengan didukung informasi sebatas laporan keuangan perusahaan saja (tidak bisa mengakses sumber berita lain)[/li][li] [/li][li]Kelompok Kedua diberi akses ke berbagai berita, seperti menonton CNBC, membaca Wall Street Journal, dan berkonsultasi dengan ahli untuk analisis pasar. Coba Anda tebak, kelompok mana yang menghasilkan return investasi yang lebih baik?[/li][/list] Hasilnya cukup mengejutkan. Kelompok pertama yang hanya bisa mengakses data seputar laporan keuangan dan menganalisa berdasarkan laporan keuangan tersebut mendapatkan profit dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok kedua yang bisa mendapatkan akses berita CNBC, Wall Street Journal, dan konsultasi dengan analis (source diambil dari :https://www.fastcompany.com/45655/too-much-information). Ketika akan membuat keputusan investasi, sering kali kita menganggap bahwa lebih banyak informasi akan lebih baik, bukan? Termasuk juga banyak trader saham yang membuat ruang kerja mereka penuh dengan sumber informasi untuk mengambil keputusan. Mereka berlangganan berita, mengikuti berbagai grup trading, aktif di social media mengikuti analisa dari para analis. Kalau diperlukan, mereka memasang beberapa monitor sekaligus untuk memantau semua informasi. Ruang Kerja “Dambaan” Seorang Trader Namun, faktanya memiliki akses informasi yang banyak tidak menjamin trading atau investasi Anda menjadi lebih sukses. Mengapa? Dalam penelitian di atas, mahasiswa di kelompok kedua dengan akses informasi penuh ke sumber berita dengan cepat fokus kepadaOPINI dan RUMORterbaru. Hasilnya mahasiswa di kelompok kedua ini terlibat dalam pengambilan keputusan trading yang berkualitas rendah karena didasarkan pada opini dan rumor tadi. Mengapa terlalu banyak informasi tidak menjamin trading yang lebih baik (malah sering kali justru menghasilkan keputusan trading yang buruk)? Jawabannya adalah karenaotak kita memiliki keterbatasan.Otakprefrontal kortekskita hanya dapat menangani satu informasi pada satu waktu, sehingga ketika ada terlalu banyak informasi yang datang secara bersamaan, otak tidak dapat memproses secara sempurna dan akan menghasilkanBIASdalam pengambilan keputusan. Manusia bukan seperti computer yang dapat dimasuki berbagai informasi bersamaan danmultitasking. Otak manusia hanya bisa menangani satu pekerjaan dalam satu waktu. Jika dipaksakan, manusia akan cenderung memilih keputusan yang salah. Dalam hal ini, seorang investor atau trader akan cenderung mengambil keputusan salah dalam jual dan beli saham. Jadi, bagaimana cara untukmengurangi efek negatif dari Racun Informasi ini?Berikut beberapa tips yang biasanya saya lakukan untuk mengurangi efek negatif informasi : 1. Batasi arus informasi yang masuk ke otak kita Maksud saya batasi arus informasi di sini adalah batasi sumber nya. Saya hanya mengizinkan informasi yangreliableyang masuk ke otak saya. Apa saja informasi yangreliable? Misalkan : data Laporan Keuangan Kuartal yang terbaru, Laporan Tahunan (jadi saya bisa lihat penjelasan manajemen seputar kondisi perusahaannya), Public Expose yang resmi dikeluarkan oleh perusahaan, dan kalau berita pun saya hanya mempercayai sumber tertentu saja. Bagaimana dengan informasi dari group WA atau Telegram? Informasi tersebut saya abaikan, jadi hati-hati jika Anda mendapatkan informasi dari group WA atau Telegram karena biasanya sumber nya tidak dapat dipertanggungjawabkan 2.Bedakan mana FAKTA dan mana OPINI Seringkali kita tidak dapat membedakan mana fakta dan mana opini. Fakta dan opini adalah dua hal yang jauh berbeda. Fakta adalah data yang disampaikan apa adanya dan sesuai dengan yang telah terjadi. Contoh : Laporan Keuangan, Laporan Tahunan, Public Expose. Sedangkan Opini adalah pendapat seseorang atau kelompok. Masalahnya di era teknologi seperti sekarang, banyak berita yang bersifat opini, sehingga otak kita akan “membeli” opini tersebut. Jadi berhati-hatilah terhadap berita. 3. Menjadi Silent Investor Percaya atau tidak, ketika Anda menyendiri dan menjauhkan diri dari segala arus informasi, Anda akan menjadi investor atau trader yang lebih baik. Inilah yang saya lakukan. Dengan begitu, Analisa yang saya lakukan adalah murni dari hasil pemikiran saya sendiri dan tanpa diracuni oleh opini orang lain yang sering kali tersamar dalam berita maupun informasi dari group WA atau Telegram tadi. 4. Konfirmasi Berita yang Anda Baca / Dengar Kepada Investor Relation Perusahaan Ketika membaca berita, jangan telan mentah-mentah informasi yang baru Anda baca atau dengar. Melainkan, tanyakan lagi kepada otak rasional Anda. Bener gk sih informasi ini? Contoh, Anda mendengar emiten ABC akan diakuisisi oleh XYZ sehingga diprediksi harga sahamnya akan naik. Nah, kalau baca berita seperti ini, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Cari tahu kebenarannya, misalkan cari informasinya di website IDX atau langsung ke website perusahaan. Kalau tidak ada informasinya, bisa jadi berita tersebut rumor. Kalau Anda masih penasaran, Anda bisa menghubungi via email ke bagian Investor Relation atau Corporate Secretary perusahaan. Tanyakan saja apakah berita yang baru Anda baca atau Anda dengar tersebut hanya rumor atau benar adanya. Demikian informasi yang bisa saya share kepada Anda kali ini. Semoga setelah membaca artikel ini, Anda menjadi lebih bijak dengan hanya mengizinkan informasi yang tepat dan terpercaya yang masuk ke otak Anda, sehingga Anda pun bisa menghasilkan keputusan trading atau investasi yang lebih baik. By : Rivan Kurniawan
Dalam industri perbankan, ada sebuah istilah yang dikenal dengan nama BUKU. BUKU ini adalah singkatan dariBank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha. Artikel kali ini akan menjelaskan mengenai apa itu BUKU, dan apa pengaruhnya terhadap harga saham nya. Perlu untuk diketahui, setiap Bank (dalam hal ini Bank Umum dan Bank Syariah) dalam operasionalnya harus memiliki modal yang disebut denganModal Inti. Modal Inti ini terdiri dari modal yang disetor ditambah keuntungan yang diperoleh Bank dari hasil usaha setelah dipotong pajak. Mengapa Modal Inti ini penting? Modal inti ini penting karena menyangkuttingkat keamanan dan kekuatan bankdalam menghadapi resiko operasional. Dengan kata lain, semakin besar Modal Inti maka semakin aman dana nasabah yang disimpan di dalam Bank. Sejak 2012, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan aturan tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank. Peraturan ini mengelompokkan Bank ke dalam 4 kategori BUKU. Saat ini Bank terbagi ke dalam 4 (empat) kategori BUKU, yaitu : [list][li]BUKU 1adalah Bank dengan Modal Inti Rp 1 triliun.[/li][li]BUKU 2adalah Bank dengan Modal Inti antaraRp 1 triliun – Rp 5 triliun.[/li][li]BUKU 3adalah Bank dengan Modal Inti antaraRp 5 triliun – Rp 30 triliun.[/li][li]BUKU 4adalah Bank dengan Modal Inti= Rp 30 triliun.[/li][/list] Sebagai contoh, Bank dengan modal inti Rp 35.0 Triliun dikategorikan sebagai Bank BUKU 4, dan Bank dengan modal inti Rp 4.5 Triliun dikategorikan sebagai Bank BUKU 2. Khusus untuk unit usaha Syariah, pengelompokan BUKU akan didasarkan pada modal inti yang dimiliki oleh Bank umum konvensional yang menjadi induknya. Saat ini (per 1H17), ada 43 emiten Bank yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia. Sebagai gambaran, dari 43 emiten Bank tersebut, Bank dengan modal inti terbesar adalah Bank Mandiri (Rp 154 triliun) dan Bank dengan modal inti terkecil adalah Bank Artos (Rp 142 miliar). Coba Anda bayangkan, apabila terjadiforce majeureyang menyebabkan kondisi ekonomi terganggu, kira-kira Bank mana yang lebih aman? Pastinya Bank dengan modal inti yang lebih besar. Oleh karena itu bisa kita katakan, bank dengan Modal Inti yang lebih besar relatif lebih aman dibandingkan dengan Bank dengan Modal Inti yang lebih kecil. Cakupan produk dan aktivitasyang dapat dilakukan oleh masing-masing kategori BUKU juga berbeda : [list][li]Bank BUKU 1hanya dapat melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana yang merupakan produk atau aktivitas dasar dalam Rupiah, kegiatan pembiayaan perdagangan, kegiatan system pembayaran dan e-banking secara terbatas, serta kegiatan valuta asing terbatas sebagai pedagang valuta asing.[/li][li]Bank BUKU 2bisa melakukan seluruh kegiatan produk atau aktivitas Bank BUKU 1 PLUSkegiatan treasury terbatas mencakup spot dan derivatifserta melakukanpenyertaan 15% pada lembaga keuangan dalam negeri.[/li][li]Bank BUKU 3bisa melakukan seluruh kegiatan produk atau aktivitas Bank BUKU 2 PLUSpenyertaan 25% pada lembaga keuangan di dalam dan luar negeri terbatas di kawasan Asia.[/li][li]Bank BUKU 4 bisa melakukan seluruh kegiatan produk atau aktivitas Bank BUKU 3 PLUSpenyertaan sebesar 35% pada lembaga keuangan di dalam dan luar negeri dengan cakupan wilayah international worldwide.[/li][/list] Selain cakupan produk dan aktivitas, masing-masing kategori BUKU juga dibedakan daritarget penyaluran kredit atau pembiayaan produktif kepada UMKMdengan ketentuan sebagai berikut : [list][li]Bank BUKU 1paling rendah55%dari total kredit atau pembiayaan[/li][li]Bank BUKU 2paling rendah60%dari total kredit atau pembiayaan[/li][li]Bank BUKU 3paling rendah65%dari total kredit atau pembiayaan[/li][li]Bank BUKU 4paling rendah70%dari total kredit atau pembiayaan[/li][/list] Sebenarnya masih banyak lagi perbedaan antara Bank BUKU 1, Bank BUKU 2, Bank BUKU 3, Bank BUKU 4, yang bisa Anda pelajari selengkapnya di Website Bank Indonesia. Berikut ini adalah link nya :http://www.bi.go.id/id/peraturan/perbankan/Pages/pbi_142612.aspx Dan berikut ini adalah list Kategori Bank berdasarkan Kategori Buku Bank : [li]Bank BUKU 4 (Modal Inti = Rp 30 Triliun):BBNI(Bank Negara Indonesia),BMRI(Bank Mandiri),BBRI(Bank Rakyat Indonesia),BBCA(Bank Central Asia),BNGA(Bank CIMB Niaga Tbk – per 25 April 2017)[/li][li]Bank BUKU 3 (Modal Inti Rp 5 – 30 Triliun):BBKP(Bank Bukopin Tbk),BDMN(Bank Danamon Indonesia Tbk),BTPN(Bank Tabungan Pensiunan Nasional),BJBR(Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat),BJTM(Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur),BNII(Bank Maybank Indonesia Tbk),BBTN(Bank Tabungan Negara),BNLI(Bank Permata),BAEK(Bank Ekonomi Raharja),NISP(Bank OCBC NISP), MEGA (Bank Mega), MAYA (Bank Mayapada International – per 2 Juni 2017), PNBN (Bank Pan Indonesia)[/li][li]Bank BUKU 2 (Modal Inti Rp 1 – 5 Triliun):AGRO(BRI Agro Niaga),BSIM(Bank Sinar Mas),BVIC(Bank Victoria),BKSW(Bank QNB Indonesia),BNBA(Bank Bumi Arta),BABP(Bank MNC Internasional),BMAS(Bank Maspion Indonesia),BINA(Bank Ina Perdana),MCOR(Bank China Construction),BACA(Bank Capital Indonesia),BGTG(Bank Ganesha),BBNP(Bank Nusantara Parahyangan Tbk),NOBU(Bank Nobu),SDRA(Bank Woori Saudara Indonesia)[/li][li]Bank BUKU 1 (Modal Inti Rp 1 Triliun):AGRS(Bank Agris Tbk),BEKS(Bank Pembangunan Daerah Banten),BBYB(Bank Yudha Bhakti),BBHI(Bank Harda Internasional),BSWD(Bank Of India Indonesia),ARTO(Bank Artos)[/li] Jika selama ini kita mengenal rasio-rasio fundamental saham perbankan sepertiCAR (Capital Adequacy Ratio), NIM (Net Interest Margin),danNPL (Non Performing Loan), maka dengan mengetahui Kategori BUKU ini, sekarang Anda memiliki satu hal lagi untuk dipertimbangkan, apabila Anda ingin berinvestasi di saham perbankan. Info : [list][li]Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini.[/li][li]Monthly Investing Plan Oktober2017akan segera terbit, Anda bisa berlangganan disini.[/li][/list][list][li]JadwalWorkshop Value InvestingRoadshow, info selanjutnya dapat dilihat disini:[list][li]28 Oktober 2017 : Bandung[/li][li]11 November 2017 : Jakarta[/li][li]25 November 2017 : Surabaya[/li][/list][/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan) atau Email : rivan.investing@gmail.com
17 Oct, 2017 12:40
Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pertanyaanyang sangat menarik melalui email dari salah seorang pembaca website. Bagi yang belum tahu, Anda bisa mengirimkan pertanyaan kepada saya disini. Berikut adalah pertanyaannya : ———————————————————————————————————————————— Yth Pak Rivan, Salam kenal, nama saya Glen. Senang rasanya membaca ulasan yang bapak tulis di website bapak. Emiten CPO adalah salah satu yang selalu ada di dalam portofolio saya mengingat CPO merupakan minyak nabati yang sangat diperlukan baik untuk konsumsi maupun industri. SIMPadalah perusahaan terintegrasi mulai dari kebun sampai berbagai consumer products berbasis sawit. Saya memeriksa beberapa lapkeu emiten sawit danSIMP. Mari kita tengok satu indikator kinerja, yaitu RoA (return on asset). – LSIP = 9.51% (anak perusahaanSIMP) – AALI = 8.47% – SGRO = 4.31% Ketiga emiten tsb murni hanya menjual CPO. SedangkanSIMPterintegrasi, yang menurut hemat saya seharusnya dapat menghasilkan RoA yang lebih tinggi dibanding ketiga emiten di atas dikarenakan ada nilai tambah pada setiap jenjang produk turunan sawitnya. Tapi kenapaSIMPmalah RoA nya kecil yaitu hanya 2.19%? Itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa? Bukankah lebih baik jualan CPO saja kalau begitu. Ngapain repot-repot ngurusin berbagai macam produk turunan jika return nya malah lebih kecil. Semoga Pak Rivan bersedia meluangkan waktu untuk mengulasnya. Terima kasih. Hormat saya, Glen ———————————————————————————————————————————— Okay, untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama mari kita cek terlebih dahulu ROA untuk masing-masing emiten. Per data Laporan Keuangan Q2 2017, ROA per masing-masing emiten adalah : [list][li]Astra Agro Lestari (AALI) : 8.4%[/li][li]Sampoerna Agro (SGRO) : 4.3%[/li][li]London Sumatera Indonesia (LSIP) : 9.5%[/li][li]Salim Ivomas Pratama (SIMP) : 2.2%[/li][/list] Nah kalau Anda lihat di atas, ROA SIMPlebih kecil dibandingkan dengan LSIP ataupun emiten CPO lainnya. Padahal SIMP sebagai induk usaha LSIP, bisnis nya lebih terintegrasi (SIMP memiliki divisi perkebunan serta divisi minyak lemak nabati).Pertanyaannya, mengapa SIMP menjual produk turunan lainnya di mana hal tersebut justru membuat ROA nya menjadi kecil? Bukankah lebih baik fokus saja menjual CPO sehingga ROA nya bisa menjadi lebih besar? Integrated Business Model – SIMP (source : Salim Ivomas Pratama’s corporate web) Okay, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin mengajak Anda untuk mengingat kembali silsilah dari LSIP, SIMP, dan Indofood Group secara keseluruhan. LSIP merupakan anak usaha dari SIMP, di mana SIMP memiliki 59.5% kepemilikan di LSIP. SIMP sendiri merupakan anak usaha dari INDF, dimana INDF melalui Indo Agri, memiliki 73.5% saham kepemilikan di SIMP. INDF sendiri 50.07% sahamnya dimiliki oleh First Pacific Company Ltd (FPL), yang sahamnya listing di Hong Kong Stock Exchange. Tambahan lagi, INDF juga memiliki 80.5% saham dari ICBP. Jadi, kalau diurutkan daristrata paling atas adalah : [h4]FPL – INDF – ICBP SIMP – LSIP[/h4] Untuk lebih jelasnya, Anda bisa lihat pada gambar di bawah ini : Lini Bisnis First Pacific Ltd (FPL) – salah satunya INDF (source : First Pacific’s corporate web) Nah kalau Anda perhatikan gambar di atas, kita bisa melihat bahwa bisnis IndofoodGroup ini begitu luas. LSIP fokus di perkebunan kelapa sawit. SIMP selain isinya adalah bisnis LSIP, juga ada bisnis lain seperti tebu, gula, kakao, teh, minyak goreng, margarin, dan produk turunan lainnya. ICBP bisnis nya adalah noodles, dairy, snack, food seasoning, beverages, nutrition foods. Dengan kata lain, Indofood Groupmembangun bisnis dari hulu ke hilir. Di mana bisnis hulu nya diurusi oleh LSIP, di tengah-tengah diurusi oleh SIMP, sementara bisnis hilir nya diurusi oleh ICBP. Oleh karena itu, kalau kita bicara SIMP dan LSIP, maka kita juga harusmelihat dari perspektif yang lebih luas. Dengan membangun bisnis dari hulu ke hilir, manfaat buat bisnis IndofoodGroup secara keseluruhan adalah : [li]Cost Efficient.Bahwa untuk mendapatkan bahan baku seperti CPO ataupun yang sudah diolah menjadi minyak nabati, Indofood Group tidak perlu membeli dari pihak luar, melainkan bisa memproduksi sendiri dan mengambil dari LSIP dan SIMP, dan dengan skala yang lebih besar akan terciptaeconomies of scale. Apalagi dalam jangka panjang, economies of scale ini akan semakin murah bagi Indofood Group[/li][li]Additional Revenue.Meskipun ROA nya SIMP relative kecil, namun SIMP mampu memberikantambahan pendapatan sekitar Rp 10.7 triliun(Per 2016, total pendapatan SIMP Rp 14.5 triliun, total pendapatan LSIP Rp 3.8 triliun), dan berkontribusi terhadap21.7%dari pendapatan INDF (total pendapatan INDF : Rp 66.7 triliun). LSIP menjual CPO nya ke pasar domestik, namun SIMP juga mengekspor minyak goreng dan margarin ke berbagai negara.[/li][li]Bisnis yang lebih stabil.Dengan membangun bisnis dari hulu ke hilir, maka Indofood Group memiliki fondasi bisnis yang lebih kuat dan tahan terhadap resesi ekonomi. Misalkan saat CPO jatuh di tahun-tahun kemarin, bisnis INDF tetap aman terkendali… dan sekarang ketika ICBP pendapatan nya sedang flat karena isu menurun nya daya beli masyarakat, maka INDF justru tertolong dengan kenaikan pendapatan SIMP dan LSIP.[/li] Sebagai kesimpulan, Indofood Group membangun bisnis dari hulu ke hilir untukmenjaga dominasi market.Dengan membangun bisnis dari hulu ke hilir, Indofood Group menjaga dominasi market nya agar tidak mudah disaingi oleh kompetitor lain nya. Dengan kata lain, Indofood Group membangun benteng agartidak mudah ditembus oleh pesaingnya, atau kalau pun mau untuk menembus maka membutuhkan biaya yang sangat besar. Jadi kembali lagi ke pertanyaan di awal,tapi kan tetap saja hal tersebut membuat ROA SIMP menjadi kecil? Nah saya melihat itu adalah bagian dari resiko yang ditempuh oleh manajemen. Saya percaya manajemen juga pastiawarebahwa ROA dan ROE SIMP menjadi kecil, namun kembali lagi itu adalah resiko yang diambil untukmanfaat yang lebih besar, yaitu 3 hal yang saya ceritakan di atas. Sebagai tambahan, kalau kita ingat SIMP ini ketika IPO di tahun 2011, tujuannya adalah untuk kasih modal ke LSIP untuk membuka lebih banyak perkebunan kelapa sawit. Jadi, diharapkan kehadiran SIMP ini juga mendukung bisnis LSIP itu sendiri secara lebih luas. Pertanyaan berikutnya, jadi lebih baik beli LSIP, SIMP, ICBP, atau INDF nih? Nah kalau itu saya kembalikan lagi ke para pembacasekalian smile. Demikian kira-kira pandangan yang dapat saya share mengenai bisnis SIMP dan LSIP, serta Indofood Group dalam perspektif yang lebih luas.. Semoga dapat memberikan manfaat… By : Rivan Kurniawan Info : [list][li]Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini.[/li][li]Monthly Investing Plan Oktober2017 sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini.[/li][li]JadwalWorkshop Value InvestingRoadshow, info selanjutnya dapat dilihat disini:[list][li]28 Oktober 2017 : Bandung[/li][li]11 November 2017 : Jakarta[/li][li]25 November 2017 : Surabaya[/li][/list][/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : [h4]SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan)[/h4][h4]atau[/h4][h4]Email : rivan.investing@gmail.com[/h4]
Setelah pada artikel sebelumnya saya share mengenai tips apabila ingin menjadi Full Time Investor (kalau belum bisa baca kembali artikelnya disini), kali ini saya ingin membagikan kepada Anda pengalaman saya pribadi ketika awal mulai berinvestasi. Sebagai investor yang dulu juga masih baru memulai belajar berinvestasi, saya melakukan begitu banyak kesalahan yang membuat saya sempat merasakan pahit nya pasar modal. Namun demikian, saya bersyukur dengan merasakan pahit nya pasar modal saya menjadi semakin cepat belajar nya. Namun, Anda tidak perlu untuk mengulangi kesalahan yang pernah saya buat. Untuk membuat artikel ini, saya bahkan harus mengarungi lagi masa-masa kelam di dunia investasi untuk mengingat lagi kesalahan apa yang pernah saya lakukan dan semoga Anda tidak mengulangi kesalahan saya tersebut.. Berinvestasi dengan menggunakan uang “dapur” bahkan “hutang” Ketika saya mulai berinvestasi di 2008, awalnya saya hanya menggunakan modal kecil yaitu sebatas syarat minimum buka rekening saja sebesar Rp 10 juta. Kemudian, saya secara disiplin mulai nabung saham sekitar 30 – 40% dari gaji bulanan (jadi sebelum kampanye #yuknabungsaham digencarkan BEI, saya sudah mulai nabung saham duluan). FYI, waktu saya mulai berinvestasi di akhir 2008, IHSG baru kembali bangkit setelah dihajar habis-habisan sebelumnya. Jadi waktu tahun 2009 – 2011 itu adalah waktu keemasan bagi semua investor termasuk saya, beli saham apa saja pasti untung. Nah, karena cepat dapat profit (terlalu cepat malahan), saya jadi semakin “bernafsu” untuk menambah modal lebih besar lagi. Bahkan, saya nekat memakai fasilitas margin trading yang diberikan sekuritas, dan bahkan gestun (gesek tunai) limit kartu kredit. Saya berpikir kalau saya bisa menggandakan modal yang saya punya, maka saya bisa dapat profit lebih besar lagi. Maklum, namanya juga investor kemarin sore, jadinya mikirin untung saja tanpa memikirkan resiko dan bahaya yang mengintai di belakangnya. Dan hasilnya seperti yang mungkin Anda pernah lihat di postingan saya di awal membuat website ini, investasi saya jatuh akibat keserakahan saya sendiri. Oleh karena itu, saya selalu “pesan sponsor” setiap kali saya mengadakan event, agar jangan pernah menggunakan uang dapur apalagi hutang yang didapat dari fasilitas margin dan kartu kredit (apalagi hutang sama keluarga). Beban yang akan Anda pikul jauh lebih berat ketimbang kemampuan Anda untuk menanggungnya. Berapapun dana kelolaan yang Anda punya, pastikan itulah kemampuan Anda untuk memikul beban tersebut. Terlalu pelit terhadap diri sendiri Ketika awal berinvestasi, saya bisa dibilang sangat jarang memberikan vitamin bagi otak saya. Salah satu alasannya seperti yang sudah dibahas di atas tadi,beginners’ luckketika mendapatkan profit besar di awal-awal berinvestasi saham. Jadilah saya merasa jagoan dalam saham, sehingga merasa tidak perlu untuk mengikuti pelatihan ataupun membeli buku-buku tentang investasi. “Buat apa beli buku, kalau sekarang saja beli saham profit melulu”, begitulah kira-kira pemikiran saya waktu itu. Begitu saya mengalami kejatuhan di tahun 2012, saat itulah saya mulai “disadarkan” mengenai pentingnya investasi terhadap diri sendiri. Saya ingat betul saya membeli sebuah buku yang berjudul“Secret of Self-Made Millionaires” by Adam Khoo (terbitan 2006). Buku itu yang kemudian mulai merubah mindset saya mengenai berinvestasi dengan Value Investing. Dalam buku itu juga saya barungehsama prinsip yang namanyathe power of compounding return, dan prinsip ini lah yang dipegang oleh Warren Buffett dalam menggandakan asetnya. Mulai dari situlah, saya membeli berbagai macam buku dan memaksa diri saya untuk membaca lebih banyak buku sampai dengan saat ini. Lima tahun berlalu, dan ketika saya membuka kembali buku-buku tersebut, saya baru menyadari bahwa banyak hal yangI don’t know what I don’t know(saya tidak tahu apa yang saya tidak tahu) kalau saya tidak membeli buku-buku tersebut. Semakin banyak membaca, maka semakin saya menyadari kalau saya ini banyak gak tahu nya. Tapi beryukurlah habit membaca yang tadi nya sangat sulit dibentuk, lama-lama menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut saya kembangkan lagi menjadi tulisan-tulisan seperti yang sedang Anda baca di website ini. Jadi saya ingin berpesan juga alangkah baiknya jika Andainvest in yourself, atau berinvestasi kepada diri sendiri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan atau membaca buku, dll…Believe me, investasi yang anda keluarkan untuk diri Anda sendiri akan kembali berkali-kali lipat. Mengambil “jalan pintas” dengan analisa orang lain. Sebagai seorang investor yang baru mulai berinvestasi, biasanya kitasuka melihat contekan stock pick kanan dan kiri, bahkan banyak yang ikut menggunakan jasa stockpick harian. Atau Anda menggunakan hasil riset dari perusahaan sekuritas Anda. Bagi beberapa investor, laporan ini sering membantu karena meringkas dari tebalnya laporan tahunan hanya menjadi 1 – 2 lembar (plus ramalan sampai 3 tahun mendatang), sertaada “jalan pintas” nya yaitu rekomendasi buy, hold, atau sell, serta melihat berapa target price nya. Dulu pada awal berinvestasi, saya adalah orang yang termasuk kecanduan membaca rekomendasi orang lain. Tapi setelah semakin matang dalam menemukan strategi investasi saya sendiri,saya jadi lebih percaya dengan hasil riset dan analisa diri sendiri. Apakah salah menggunakan rekomendasiorang lain? Sebagai orang yang awam, sebenarnya sah-sah saja untuk menggunakan hasil riset atau rekomendasi tersebut. Namun,apabila Anda menjadi ketergantungan terhadap hasil riset orang lain, barulah itu bahaya. Kita menjadi malas untuk menganalisa sendiri, dan disadari atau tidak, ketika hasil analisa tersebut salah, kita punya kecenderungan untuk menyalahkan rekomendasi orang tersebut. Padahal sebenarnyainvestasi Anda adalah tanggung jawab Anda pribadi. Sewaktu saya menggunakan hasil riset dari orang lain, saya pun cenderung menyalahkan jika analisanya salah. Tapi kemudian saya berpikir, yang salah saya atau dia ya? Wong udah tahu itu uang saya kenapa saya hanya mempercayakan pada Analisa yang dibikin orang lain? Jadi yang salah itu yaa saya sendiri. Sejak saat itu, saya selalu berinvestasi hanya jika saya yakin dengan analisa saya sendiri. Sehingga ketika Analisa saya pun salah, saya tetap merasa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Tidak peduli dengan fundamental analisis Ini adalah kesalahan saya yang paling fatal yang membuat saya pernah merasakan pahitnya pasar modal. Saya sering sharing di website ini, bahwa saya pada awalnya adalah seorang technical trader. Namun karena saya tidak peduli dengan fundamental analysis, saya bahkan tidak bisa membaca bahwa akan terjadicommodity crash. Bahkan saya juga tidak tahu kalau saham yang saya belihutangnya 5x lipat daripada ekuitasnya! Memang sih, dalam keadaanmarket bullishbiasanya fundamental analysis menjadi seolah-olah kurang relevan, karena saham gorengan atau saham yang memiliki fundamental jelek saja bisa naik, bahkan naiknya bisa lebih cepat. Jadi wajar saja banyak orang yang meremehkan analisa fundamental ini. Bahkan beberapa ada yang bilang bahwa metode value investingout of datedan cenderung membosankan. Hmm saya gak bisa comment, cuma bisa mendoakan agar dia gak perlu kejedot seperti saya. Dalam setiap workshop value investing, ataupun seminar lain yang saya adakan, saya selalu sharing mengenai pentingnya fundamental analysis, tak terkecuali bagi para technical trader. Saya selalu berusaha “mengajak” para trader untuk juga peduli dengan fundamental analysis. Saya juga seringmengatakan bahwa fundamental analysis dan technical analysis tidak berlawanan, melainkansaling melengkapi. Melibatkan emosi secara berlebihan Jika Anda pernah merasakan nikmatnya profit taking, Anda akan merasa bahagia. Sementara Anda merasa ketakutan, stress, bahkan frustasi ketika market turun dan memaksa Anda untuk cut loss. Padahal jika Anda perhatikan, angka di layar trading Anda hanyalah deretan angka merah, putih, dan hijau yang berubah-ubah setiap saat. Secara psikologis, warna merah mengirimkan pesan bahaya kepada otak kita, dan warna hijau mengirimkan pesan bahagia kepada otak kita. Jadi ketika kita melihat layar trading penuh dengan warna merah, secara tidak langsung otak Anda merespon bahwa ada semacam “bahaya” yang membuat Anda menjadi takut atau bahkan frustasi. Saya punya kabar buruk untuk Anda : Menurutbuku Psikologi Trading yang saya baca dari Pak Desmond Wira,Otak manusia pada dasarnya tidak didesain untuk investasi atau trading, melainkan untuk survival. Jika Anda memahami cara kerja otak, Anda akan terkejut bahwa otak reptile dan otak emosional kita bekerja lebih cepat ketimbang otak rasional kita, sehingga jika kita tidak bisa mengendalikan otak rasional kita, emosional lah yang akan bermain. Contohnya yaa seperti tadi, Anda merasa frustasi kalau saham Anda turun. Ketika awal berinvestasi, saya pun demikian. Kalau profit taking rasanya seperti semua barang bisa dibeli. Namun kalau market turun dan harus cut loss rasanya seperti besok mau kiamat. Seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwacut loss adalah bagiandari perjalanan investasi itu sendiri. Ketika saya bisa mengontrol emosi supaya tidak berlebihan (jadi tidak terlalu euphoria saat profit taking dan tidak terlalu frustasi saat cut loss), saya tetap bisa menganalisa secara rasional. Dengan kata lain, saya mengizinkan otak rasional saya mengambil alih dan mendominasi dibandingkan otak reptile dan otak emosional saya. Kira-kira itulah lima kesalahan terbesar yang saya lakukan pada awal berinvestasi, saya harap Anda tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama dengan yang saya lakukan. Apabila ada di antara Anda yang pernah melakukan kesalahan lain yang belum dishare pada artikel ini, Anda bisa menambahkan dalam kolom comment di bawah.. Semoga bermanfaat, by : Rivan Kurniawan
Ketika saya sedang mengisi acara dalam suatu event Investment Club di Jakarta, ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang peserta. Pertanyaannya kurang lebih adalah apabila kita sudah menganalisis sebuah saham dengan metode Value Investing, dan menemukan sebuah saham yangmemiliki fundamental bagus dengan murah,apakah mungkin perusahaan tersebut bisa berubah fundamental nya? (Maksudnya dari yang tadinya fundamental nya bagus menjadi kurang bagus)..Dan kalau fundamentalnya bisa berubah,Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Sebagai seorang Value Investor, seringkali orang menyalahartikan bahwa setelah membeli saham yang dinilai memiliki fundamental bagus dan undervalue, maka tugas kita sebagai seorang investor telah selesai. Well nyatanya tidak demikian. Tugas kitasebagai investor baruSETENGAH selesai. Lho memang masih ada lagi tugas nya? Tentu saja ada.. Sebagai seorang investor, Anda wajib untuk “mengawal” perusahaan tersebut. Karena, perusahaan yang Anda beli sahamnya tersebut bisa saja berubah fundamental nya. Saya coba ambil beberapa contoh : Kita ambil contoh misalkanCPINdanJPFA, sepanjang 2016 sampai awal 2017 ini memang mencatatkan kinerja yang cemerlang, namun karena regulasi pemerintah yang menstop impor jagung (di mana membuat harga jagung menjadi meningkat), sehingga membuat cost menjadi naik dan sebaliknya membuat laba bersih nya menjadi tertekan. Meskipun sejatinya CPIN dan JPFA adalah perusahaan yang bagus, di sini kita bisa mengatakan bahwafundamental sebuah perusahaan bisa berubah karena adanya regulasi dari pemerintah. Contoh lain saya ambil contoh yang baru-baru ini masih hangat dibicarakan, yaituAISA. AISA ini secara fundamental juga bisa dibilang bagus. Pendapatan dan laba bersih meningkat secara konsisten, ekuitas meningkat, secara valuasi harga sahamnya juga masih di bawah harga wajarnya. Namun, ketika kemarin diberitakan mengenai tuduhan praktik bisnis menjual beras subsidi menjadi beras premium, tentu saja fundamentalnya bisa berubah. Dengan catatan kalau memang itu benar terjadi,fundamental nya bisa menjadi berubah karena faktorbusiness issues. Perusahaan big caps sepertiASIIpun bukannya tidak pernah berubah fundamental nya. Ketika tahun 2015, di mana Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, industry otomotif menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Penjualan mobil dan sepeda motor turun drastis di tahun 2015, membuat laba bersih ASII juga merosot dari Rp 19.2 T menjadi Rp 14.4 T. Harga sahamnya pun merosot dari 8500 an ke 5100 an. Untuk case ASII ini, kita bisa mengatakan bahwafundamental berubah karena kondisi sektoral. Nah dari ketiga contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa penting bagi seorang investor untuk tetap mengawasi perkembangan dari perusahaan yang kita beli sahamnya. Dengan membeli saham, kita sudah menjadi bagian dari pemilik perusahaan, maka dari itu, selayaknya kita juga turut mengawasi kinerja perusahaan. Perusahaan yang “dulu bagus” belum tentu sekarang juga masih bagus. Sebaliknya, perusahaan yang “sempat tidak bagus” belum tentu ke depannya tidak bagus juga. Oleh karena itu, Anda wajib memiliki pengetahuan setidaknya kondisi terakhir perusahaan dan sektor industri perusahaan. Khusus di market Indonesia sendiri, saya melihat hanya sedikit perusahaan yang senantiasa selalu bagus. Hal tersebut bukan hal yang mengejutkan, karena sebagai negara berkembang, Indonesia masih sensitif terhadap perubahan dari internal maupun eksternal. Investor lokal pun belum bisa menjadi tuan rumah dari pasar modal Indonesia. Investor asing yang notabene masih memegang porsi yang lebih besar, tentu lebih waspada terhadap perubahan-perubahan ini. Itulah yang menyebabkan kondisi perusahaan di Indonesia terkadang bisa bagus dan terkadang bisa turun. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa mengetahui apakah perusahaan yang kita beli ini memiliki fundamental yang bagus SAAT INI? Well, sebagai investor Anda memiliki senjata yang namanyalaporan keuangan. Di laporan keuangan itulah Anda bisa melihat bagaimana kondisi terakhir perusahaan.Lihat rasio-rasio yang penting seperti ROE, NPM, DER, dlluntuk melihat apakah perusahaan sedang dalam kondisi sehat atau sakit. Perhitungkan juga harga wajar saham tersebut. Apabila Anda mendapatkan perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan yang sehat, harga nya masih undervalue, dan secara bisnis sedang tidak dalam kondisi yang kurang menguntungkan (seperti tiga contoh di atas), makaAnda bisa lebih aman dalam berinvestasi. Namun tetap saja, Anda harus selalu memperhatikan perkembangan terakhir mengenai kinerja perusahaan. Info : Cheat Sheet dan E-Book Quarter Outlook untuk Laporan Keuangan Kuartal II2017sudah terbit hari ini, Anda dapat memperoleh nya disinidan disini Monthly Investing Plan Agustus 2017juga sudahterbit hari ini, Anda dapat memperolehnya disini.
Sebagai investor saham, pastinya kita ingin setiap investasi yang kita lakukan membuahkan hasil alias profit. Jika pasar bersahabat dan saham-saham yang kita beli naik, pekerjaan menganalisa akan tampak menyenangkan bagi investor dan trader mana pun. Namun bagaimana kalau gilirannya saham Anda turun? Apakah Anda masih bisa menyusun porto Anda dengan suasana happy dan santai? Padahal jika Anda sampai down hanya karena mengalami rugi, maka biasanya anda tidak bisa menganalisa lagi dengan baik. FYI, seorang Warren Buffett maupun Pak Lo Kheng Hong pun pernah rugi juga. Problemnya bukan di rugi tersebut, melainkan bagaimana menjaga mood nya agar tetap happy dan tetap mampu menganalisa dengan baik, dan bukannya down karena terpengaruh oleh kerugian yang dialami. Saya pun demikian. Ketika awal baru mulai berinvestasi, sering sekali saya larut dalammoodini. Pokoknya kalau saham lagi turunmoodnya jelek terus bawaannya. However, seiring berjalannya waktu jam terbang, mental saya pun semakin terlatih dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Tahun 2015 kemarin misalkan, IHSG ditutup 12.1% sepanjang tahun, dan pastinya banyak investor yang mengalami rugi di atas 12.1%. Saya sendiri pun juga terpaksa cut loss beberapa saham pegangan, namun karena saya tetap berusaha agar kepala saya tetap dingin dalam menganalisa, beberapa saham pegangan lainnya justru menuai profit yang cukup signifikan, sehingga secara overall portfolio investasi saya tetap bertumbuh secara positif. Dan inilah yang saya lakukan.. Saya adalah penyuka musik.. Oleh karena itu, ketika menganalisa saya suka memutar musik (either itu melalui laptop, iPod, atau Spotify), dan biasanya musik yang saya putar adalah yang ada beat – nya sehingga membuatmoodsaya menjadi semangat dan happy. Saya juga membuat artikel-artikel seperti yang sedang Anda baca saat ini, untuk mengalihkan kejenuhan saat lagi penat (the best timeuntuk menulis artikel adalah jam 9 malam ke atas atau di bawah jam 8 pagi). Selain itu, terkadang juga kalau lagi suntuk saya juga suka sambil nonton film atau membaca buku, dan jika diperlukan terkadang juga saya ganti suasana misalkan dengan bekerja di mall. Pokoknya apapun itu yang bisa membuat Anda tetap rileks dan tidak stress. Kemudian, jangan pernah menganalisa ketikamoodAnda lagi jelek (misalkan karenacut lossterus-terusan, atau sedang ada masalah keluarga). Jika Anda menganalisa menggunakan emosi atau perasaan, maka biasanya analisanya akan kacau. Padahal, analisa yang dilakukan seharusnya menggunakan logika dan pikiran yang jernih. Istilah keren nya :If… then… else…Misalkan : kalau laba bersih naik dan valuasinya murah, maka seharusnya sahamnya naik, namun kalau masih turun mungkin ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Atau, kalau saham saya turun 10% maka saya akan cut loss, tapi kalau naik target saya minimal 30%. Jika Anda tetap menganalisa dengan kepala dingin, Anda mungkin justru akan menemukan peluang emas di balik penurunan saham-saham. Saya juga bukan tipe investor yang melihat ticker harga setiap hari, sehingga jujur saja itu cukup membantu saya agar tidak stress ketika market lagi turun. Lalu apa yang saya lihat? Saya melihat laporan keuangan terbaru yang dirilis perusahaan. Dengan melihat laporan keuangan, saya menjadi lebih memahami peluang dan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing emiten, dan sejujurnya hal itu membuat saya lebih tenang ketika market sedang turun. Koq bisa? Karena dengan memahami isi laporan keuangan, saya menjadi yakin bahwa saham-saham yang saya invest adalah saham-saham yang fundamental nya bagus dan saya mendapatkannya dengan harga murah. Sehingga ketika harga sahamnya bergerak turun, saya percaya bahwa hal tersebut hanyaSEMENTARA. Sementara ketika kita tidak memahami isi laporan keuangan (dan hanya berpatokan pada ticker harga), kita menjadi tidak percaya diri dengan saham yang kita pegang. Ilustrasinya begini, saham yang anda pegang saat ini harga nya terus turun, kalau Anda hanya berpatokan pada ticker besar kemungkinan Anda akan menjadi gelisah dan stress. Namun kalau Anda memahami bahwa laporan keuangannya positif (laba bertumbuh, ekuitas bertumbuh, dll), bukankah itu artinya adalahPELUANG? Sehingga Anda justru happy ketika harga saham tersebut turun dan justru Anda bisa membeli lebih banyak.Make sense? Saya biasanya merangkum laporan keuangan ini di dalamcheat sheetyang saya buat sendiri secaracustomized, sehingga mempermudah saya untuk melihat dari “helicopter view” kinerja laporan keuangan perusahaan setiap kuartal nya. Saya bisa memantau 500+ kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan terbarunya dalam satu sheet excel saja. Saya tidak perlu satu search satu per satu kode saham, melainkan langsung melihatnya secara sekaligus dalam satu file. Dan juga saya biasanya melihat harga wajar saham tersebut, sehingga jika harga sahamnya saat ini masih jauh di bawah harga wajar sahamnya, saya akan merasa lebih tenang memegang saham tersebut. Terakhir, percayalah pada Analisa diri sendiri. Banyak sekali investor yang memutuskan membeli saham karena mendengar rekomendasi dari orang lain. Misal si A menyebut saham XYZ, namun ternyata saham XYZ malah turun, biasanya investor yang seperti itu akan menyalahkan (dalam hati) orang yang memberi rekomendasi saham XYZ. Padahal, mungkin timeframe orang yang memberikan rekomendasi saham XYZ itu lebih panjang. Namun, karena investor tersebut hanya ikut-ikutan tanpaMENGETAHUI ALASANmembeli saham tersebut, biasanya akan mudah untuk cut loss. Well, it’s time buat Anda untuk mulai levelling up analisa Anda. Kurang lebih itu yang dapat saya share tips-tips untuk tetap dapat menganalisa dengan baik di saat market sedang naik ataupun turun. Jika Anda memiliki tips lain yang dapat membuat Anda untuk tetap dapat menganalisa dengan baik untuk dishare, silakan masukkan ke dalam comment di bawah ini..
Siapa yang tidak kenal SARI ROTI? Rasanya kita semua pasti mengenal produsen roti yang satu ini. Kegemaran masyarakat dalam mengkonsumsi roti sebagai sarapan membuat ROTI menjadi salah satu perusahaan yang secara konsisten pendapatannya selalu bertumbuh setiap tahun nya. Di tahun 2011, katakanlah pendapatannya “baru” Rp 813 miliar. Sedangkan di tahun 2016, pendapatannya sudah 3x lipatnya, yaitu Rp 2.5 triliun. Laba bersih nya juga sama, di tahun 2011, laba bersihnya “baru” Rp 116 miliar, sedangkan di tahun 2016, laba bersihnya sudah Rp 280 miliar. Kinerja nya yang konsisten ini membuat harga saham ROTI terus meningkat dari 295 semenjak IPO tahun 2010, menjadi 1600 an di Mei 2017. However, nilai sahamnya selama 1 bulan terakhir ini sedang terkoreksi menjadi Rp 1275 (atau turun sekitar 25%) ketika artikel ini ditulis. Padahal kinerja nya bisa dibilang tidak ada masalah. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan gambar di bawah ini… Harga Saham ROTI turunselama 1 bulan terakhir Ternyata penurunan saham tersebut dikarenakan saat ini ROTI, yang memiliki 8 pabrik di Indonesia dan mulai berekspansi ke Filipina tersebut, akan melakukan right issue. Hal tersebut yang disampaikan dalam prospektus ringkas pada akhir Mei 2017. Diberitakan, produsen Sari Roti itu akan melepas sebanyak-banyaknya 1.15 miliar saham atau setara sekitar 23% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga nominal sebesar Rp 20 per saham. Untungnya, ROTI akan menggunakan dana hasil rights issue tersebut untuk ekspansi ke Filipina tadi, di mana ekspansi pabrik tersebut merupakan kelanjutan aksi Nippon Indosari membentuk perusahaan patungan bersama dengan Monde Nissin Corporation dengan komposisi sahamnya meliputi 55% Nippon Indosari dan 45% Monde Nissin.Right issue sendiri ditargetkan akan menarik dana sebesar Rp 1.6 triliun, angka yang cukup besar dibandingkan dengan ekuitasnya saat ini yang sebesar Rp 1.4 triliun. Penjualan dan Laba Bersih ROTI per Pabrik – 2015 VS 2016 Berbeda apabila right issue dilakukan untuk membayar hutang (gali lubang tutup lubang), ROTI menggelar right issue ini untuk ekspansi, yang target nya pabrik di Filipina tadi akan mulai beroperasi Kuartal I 2018. Bagi investor, jelas ROTI ini menarik untuk investasi jangka panjang. However, untuk right issue ini sendiri ROTI perlu memperoleh persetujuan pemegang saham terlebih dahulu, dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk membahas aksi korporasi ini akan dilakukan pada 7 Juli mendatang. Jadi, mungkin tidak usah terburu-buru untuk mengkoleksi saham ROTI ini, setidaknya sampai jadwal dan harga pelaksanaan right issue itu sendiri diumumkan, sehingga kita bisa mengetahui harga teoritisnya. Mengenai valuasinya sendiri, ROTI ini memang tidak bisa dibilang murah, karena di harga saham 1275, PER nya tercatat 29x dengan PBV 5.8x. Namun, secara historical, memang bisa dibilang hampir tidak mungkin kita bisa mendapatkan ROTI ini pada PER di bawah 10, atau PBV di bawah 1.0. Bahkan ROTI sempat dihargai pada valuasi PER 47x dan PBV 10.5x pada tahun 2012 silam. Apalagi kinerjanya bisa dibilang konsisten dengan ROE 20% dengan NPM 10% setiap tahunnya. Jadi, yap sepertinya kita baru saja menemukan satu pilihan bagus untuk saham investasi jangka panjang. Tinggal tunggu momentumnya, kemudian bisa ditinggal tidur.
Sebagai investor saham, pastinya kita ingin setiap investasi yang kita lakukan membuahkan hasil alias profit. Jika pasar bersahabat dan saham-saham yang kita beli naik, pekerjaan menganalisa akan tampak menyenangkan bagi investor dan trader mana pun. Namun bagaimana kalau gilirannya saham Anda turun? Apakah Anda masih bisa menyusun porto Anda dengan suasana happy dan santai? Padahal jika Anda sampai down hanya karena mengalami rugi, maka biasanya anda tidak bisa menganalisa lagi dengan baik. FYI, seorang Warren Buffett maupun Pak Lo Kheng Hong pun pernah rugi juga. Problemnya bukan di rugi tersebut, melainkan bagaimana menjaga mood nya agar tetap happy dan tetap mampu menganalisa dengan baik, dan bukannya down karena terpengaruh oleh kerugian yang dialami. Saya pun demikian. Ketika awal baru mulai berinvestasi, sering sekali saya larut dalammoodini. Pokoknya kalau saham lagi turunmoodnya jelek terus bawaannya. However, seiring berjalannya waktu jam terbang, mental saya pun semakin terlatih dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Tahun 2015 kemarin misalkan, IHSG ditutup 12.1% sepanjang tahun, dan pastinya banyak investor yang mengalami rugi di atas 12.1%. Saya sendiri pun juga terpaksa cut loss beberapa saham pegangan, namun karena saya tetap berusaha agar kepala saya tetap dingin dalam menganalisa, beberapa saham pegangan lainnya justru menuai profit yang cukup signifikan, sehingga secara overall portfolio investasi saya tetap bertumbuh secara positif. Dan inilah yang saya lakukan.. Saya adalah penyuka musik.. Oleh karena itu, ketika menganalisa saya suka memutar musik (either itu melalui laptop, iPod, atau Spotify), dan biasanya musik yang saya putar adalah yang ada beat – nya sehingga membuatmoodsaya menjadi semangat dan happy. Saya juga membuat artikel-artikel seperti yang sedang Anda baca saat ini, untuk mengalihkan kejenuhan saat lagi penat (the best timeuntuk menulis artikel adalah jam 9 malam ke atas atau di bawah jam 8 pagi). Selain itu, terkadang juga kalau lagi suntuk saya juga suka sambil nonton film atau membaca buku, dan jika diperlukan terkadang juga saya ganti suasana misalkan dengan bekerja di mall. Pokoknya apapun itu yang bisa membuat Anda tetap rileks dan tidak stress. Kemudian, jangan pernah menganalisa ketikamoodAnda lagi jelek (misalkan karenacut lossterus-terusan, atau sedang ada masalah keluarga). Jika Anda menganalisa menggunakan emosi atau perasaan, maka biasanya analisanya akan kacau. Padahal, analisa yang dilakukan seharusnya menggunakan logika dan pikiran yang jernih. Istilah keren nya :If… then… else…Misalkan : kalau laba bersih naik dan valuasinya murah, maka seharusnya sahamnya naik, namun kalau masih turun mungkin ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Atau, kalau saham saya turun 10% maka saya akan cut loss, tapi kalau naik target saya minimal 30%. Jika Anda tetap menganalisa dengan kepala dingin, Anda mungkin justru akan menemukan peluang emas di balik penurunan saham-saham. Saya juga bukan tipe investor yang melihat ticker harga setiap hari, sehingga jujur saja itu cukup membantu saya agar tidak stress ketika market lagi turun. Lalu apa yang saya lihat? Saya melihat laporan keuangan terbaru yang dirilis perusahaan. Dengan melihat laporan keuangan, saya menjadi lebih memahami peluang dan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing emiten, dan sejujurnya hal itu membuat saya lebih tenang ketika market sedang turun. Koq bisa? Karena dengan memahami isi laporan keuangan, saya menjadi yakin bahwa saham-saham yang saya invest adalah saham-saham yang fundamental nya bagus dan saya mendapatkannya dengan harga murah. Sehingga ketika harga sahamnya bergerak turun, saya percaya bahwa hal tersebut hanyaSEMENTARA. Sementara ketika kita tidak memahami isi laporan keuangan (dan hanya berpatokan pada ticker harga), kita menjadi tidak percaya diri dengan saham yang kita pegang. Ilustrasinya begini, saham yang anda pegang saat ini harga nya terus turun, kalau Anda hanya berpatokan pada ticker besar kemungkinan Anda akan menjadi gelisah dan stress. Namun kalau Anda memahami bahwa laporan keuangannya positif (laba bertumbuh, ekuitas bertumbuh, dll), bukankah itu artinya adalahPELUANG? Sehingga Anda justru happy ketika harga saham tersebut turun dan justru Anda bisa membeli lebih banyak.Make sense? Saya biasanya merangkum laporan keuangan ini di dalamcheat sheetyang saya buat sendiri secaracustomized, sehingga mempermudah saya untuk melihat dari “helicopter view” kinerja laporan keuangan perusahaan setiap kuartal nya. Saya bisa memantau 500+ kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan terbarunya dalam satu sheet excel saja. Saya tidak perlu satu search satu per satu kode saham, melainkan langsung melihatnya secara sekaligus dalam satu file. Dan juga saya biasanya melihat harga wajar saham tersebut, sehingga jika harga sahamnya saat ini masih jauh di bawah harga wajar sahamnya, saya akan merasa lebih tenang memegang saham tersebut. Terakhir, percayalah pada Analisa diri sendiri. Banyak sekali investor yang memutuskan membeli saham karena mendengar rekomendasi dari orang lain. Misal si A menyebut saham XYZ, namun ternyata saham XYZ malah turun, biasanya investor yang seperti itu akan menyalahkan (dalam hati) orang yang memberi rekomendasi saham XYZ. Padahal, mungkin timeframe orang yang memberikan rekomendasi saham XYZ itu lebih panjang. Namun, karena investor tersebut hanya ikut-ikutan tanpaMENGETAHUI ALASANmembeli saham tersebut, biasanya akan mudah untuk cut loss. Well, it’s time buat Anda untuk mulai levelling up analisa Anda. Kurang lebih itu yang dapat saya share tips-tips untuk tetap dapat menganalisa dengan baik di saat market sedang naik ataupun turun. Jika Anda memiliki tips lain yang dapat membuat Anda untuk tetap dapat menganalisa dengan baik untuk dishare, silakan masukkan ke dalam comment di bawah ini..
Ketika saya sedang mengisi acara dalam suatu event Investment Club di Jakarta, ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang peserta. Pertanyaannya kurang lebih adalah apabila kita sudah menganalisis sebuah saham dengan metode Value Investing, dan menemukan sebuah saham yangmemiliki fundamental bagus dengan murah,apakah mungkin perusahaan tersebut bisa berubah fundamental nya? (Maksudnya dari yang tadinya fundamental nya bagus menjadi kurang bagus)..Dan kalau fundamentalnya bisa berubah,Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Sebagai seorang Value Investor, seringkali orang menyalahartikan bahwa setelah membeli saham yang dinilai memiliki fundamental bagus dan undervalue, maka tugas kita sebagai seorang investor telah selesai. Well nyatanya tidak demikian. Tugas kitasebagai investor baruSETENGAH selesai. Lho memang masih ada lagi tugas nya? Tentu saja ada.. Sebagai seorang investor, Anda wajib untuk “mengawal” perusahaan tersebut. Karena, perusahaan yang Anda beli sahamnya tersebut bisa saja berubah fundamental nya. Saya coba ambil beberapa contoh : Kita ambil contoh misalkanCPINdanJPFA, sepanjang 2016 sampai awal 2017 ini memang mencatatkan kinerja yang cemerlang, namun karena regulasi pemerintah yang menstop impor jagung (di mana membuat harga jagung menjadi meningkat), sehingga membuat cost menjadi naik dan sebaliknya membuat laba bersih nya menjadi tertekan. Meskipun sejatinya CPIN dan JPFA adalah perusahaan yang bagus, di sini kita bisa mengatakan bahwafundamental sebuah perusahaan bisa berubah karena adanya regulasi dari pemerintah. Contoh lain saya ambil contoh yang baru-baru ini masih hangat dibicarakan, yaituAISA. AISA ini secara fundamental juga bisa dibilang bagus. Pendapatan dan laba bersih meningkat secara konsisten, ekuitas meningkat, secara valuasi harga sahamnya juga masih di bawah harga wajarnya. Namun, ketika kemarin diberitakan mengenai tuduhan praktik bisnis menjual beras subsidi menjadi beras premium, tentu saja fundamentalnya bisa berubah. Dengan catatan kalau memang itu benar terjadi,fundamental nya bisa menjadi berubah karena faktorbusiness issues. Perusahaan big caps sepertiASIIpun bukannya tidak pernah berubah fundamental nya. Ketika tahun 2015, di mana Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, industry otomotif menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Penjualan mobil dan sepeda motor turun drastis di tahun 2015, membuat laba bersih ASII juga merosot dari Rp 19.2 T menjadi Rp 14.4 T. Harga sahamnya pun merosot dari 8500 an ke 5100 an. Untuk case ASII ini, kita bisa mengatakan bahwafundamental berubah karena kondisi sektoral. Nah dari ketiga contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa penting bagi seorang investor untuk tetap mengawasi perkembangan dari perusahaan yang kita beli sahamnya. Dengan membeli saham, kita sudah menjadi bagian dari pemilik perusahaan, maka dari itu, selayaknya kita juga turut mengawasi kinerja perusahaan. Perusahaan yang “dulu bagus” belum tentu sekarang juga masih bagus. Sebaliknya, perusahaan yang “sempat tidak bagus” belum tentu ke depannya tidak bagus juga. Oleh karena itu, Anda wajib memiliki pengetahuan setidaknya kondisi terakhir perusahaan dan sektor industri perusahaan. Khusus di market Indonesia sendiri, saya melihat hanya sedikit perusahaan yang senantiasa selalu bagus. Hal tersebut bukan hal yang mengejutkan, karena sebagai negara berkembang, Indonesia masih sensitif terhadap perubahan dari internal maupun eksternal. Investor lokal pun belum bisa menjadi tuan rumah dari pasar modal Indonesia. Investor asing yang notabene masih memegang porsi yang lebih besar, tentu lebih waspada terhadap perubahan-perubahan ini. Itulah yang menyebabkan kondisi perusahaan di Indonesia terkadang bisa bagus dan terkadang bisa turun. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa mengetahui apakah perusahaan yang kita beli ini memiliki fundamental yang bagus SAAT INI? Well, sebagai investor Anda memiliki senjata yang namanyalaporan keuangan. Di laporan keuangan itulah Anda bisa melihat bagaimana kondisi terakhir perusahaan.Lihat rasio-rasio yang penting seperti ROE, NPM, DER, dlluntuk melihat apakah perusahaan sedang dalam kondisi sehat atau sakit. Perhitungkan juga harga wajar saham tersebut. Apabila Anda mendapatkan perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan yang sehat, harga nya masih undervalue, dan secara bisnis sedang tidak dalam kondisi yang kurang menguntungkan (seperti tiga contoh di atas), makaAnda bisa lebih aman dalam berinvestasi. Namun tetap saja, Anda harus selalu memperhatikan perkembangan terakhir mengenai kinerja perusahaan.
14 Nov, 2017 02:18
Sepanjang weekendbeberapaminggu yang lalu saya pergi ke Bandung selama 3 hari. Selain mengadakan workshop, saya juga menyempatkan diri bertemu dengan salah seorang rekan lama, yang saat ini menjadi pengusaha yang cukup sukses di Bandung. Kami bertemu di sebuah tempat makan daerah Ciembeluit untuk saling berdiskusi mengenai berbagai hal. Di tengah-tengah pembicaraan kami, perhatian kami tertuju kepada salah seorang anak kecil, yang kelihatannya berusia sekitar 8 tahun, menangis cukup keras merengek kepada orang tua nyadan meminta agar lekas pulang karena sang anak ingin lekas bermain dengan mainan baru nya. Padahal sang orang tua saat itu masih belum menghabiskan makan siangnya, dan makanan di atas piring mereka pun bahkan belum habis setengahnya. Namun sang anak seperti tidak peduli bahwa orang tua nya masih belum menyelesaikan makan siangnya dan terus-menerus merengek agar keinginannya untuk pulang tersebut segera dipenuhi. “Sak dheg sak nyut”, tiba-tiba saya mendengar komentar salah seorang tamu lainnya yang sepertinya merasa cukup terganggu dengan tangisan keras sang anak. Saya sendiri bukan asli Jawa, sehingga saya cukup asing dengan kata “Sak dheg sak nyut” (saya bahkan tidak tahu apakahspellingnya benar atau tidak). Saya kemudian bertanya kepada rekan saya tersebut, apa arti dari kata-kata tersebut? Ternyata saya baru mengetahui bahwa “sak dheg sak nyut” itu adalah ungkapan di mana seseorang ingin mendapatkan keinginannya agar segera terwujud dalam waktu seketika. Saya kemudian juga mendapatkan tambahan informasi di sebuah blog, di mana kata “sak dheg” itu menunjukkan ketika suatu keinginan terasa dalam hati, sedangkan kata “sak nyut” adalah untuk menunjukkan waktu yang singkat,sak nyutan, cepet banget. Jadi,apa-apa maunya serba cepat serba instan. Lalu apa hubungannya dengan pasar saham? Dalam pasar saham, sayangnya masih banyak investor atau trader yang seperti nya masih memiliki watak “sak dheg sak nyut” ini. Biasanya investor yang masih pemula masih memiliki watak seperti ini. Seringkali saya masih mendapatkan pertanyaan, “Pak, saham apa yang bakal naik minggu depan?”. Jujur, saya paling bingung kalau mendapatkan pertanyaan seperti ini. Biasanya kalau ada pertanyaan seperti ini saya coba jawab dengan nada halus saja, “wah kalau pertanyaan seperti itu sepertinya bapak / ibu salah alamat kalau tanya ke saya”. Memang sih ketika sudah beli saham nya, kita pasti ingin kalau bisa seminggu kemudian harga sahamnya sudah naik dan kita sudah mendapatkan untung. Bahkan kalau bisa, 10 menit setelah kita beli harga sahamnya langsung naik. Siapa sih yang tidak ingin harga sahamnya naik ketika kita sudah menekan tombol buy? Kalau bisa malahan kita beli di harga terendah, dan jual pada harga tertinggi. Cuma pada kenyataannya kan tidak bisa selalu seperti itu. Bahkan ada kala nyaharga saham yang kita beli akan bergerak turun terlebih dahulu, atau bergeraksideways, sebelum kemudian harga sahamnya bergerak naik. Berapa lama? Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Singkat kata,kesabaranmenjadi salah satu hal yang paling penting dan cukup krusial dalam berinvestasi di pasar saham. Warren Buffett juga pernah menyampaikan analogi terkait hal ini dengan mengatakan “You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.”. Dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya : kita tidak bisa mempersingkat waktu kelahiran seorang bayi menjadisatu bulan dengan menikahi 9 wanita. Melalui kalimatnya tersebut, Buffett ingin menyampaikan bahwa membutuhkanwaktuagar investasi kita bisa memberikan keuntungan yang optimal. Tidak hanya dalam berinvestasi di saham, dalam jenis usaha apa pun pastinya kita tahu bahwa di awal kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menjalankan usaha tersebut. Katakanlah kita membuka usaha warung kopi, di awal kita membutuhkan sejumlah uang untuk sewa dan dekorasi tempat, testing produk supaya bisa membuat kopi yang sesuai selera pembeli, dll. Bahkan ketika warung kopi tersebut sudah dibuka, kita tetap harus mengeluarkan sejumlah uang untuk beriklan, promosi di social media, memberikan sample, sampai mengadakanevent offlineuntuk menarik orang datang ke warung kopi tersebut. Apakah dengan kita mengeluarkan sejumlah uang untuk hal-hal di atas, akan membuat warung kopi kita menjadi terkenal? Bisa jadi tidak. Malahan bisa jadi tetap tidak banyak orang yang datang ke warung kopi tersebut. Kita perlu melakukan yang namanyaevaluasi. Kita melakukan evaluasi, dari sisi manakah ada hal-hal yang masih perlu untuk diperbaiki? Apakah produk nya masih kurang sesuai selera, apakah tempat nya kurang nyaman, apakah lokasi nya yang kurang strategis, dll. Baca kembali :Jangan Malas Melakukan Evaluasi Investasi Anda Demikian pula ketika kita mulai berinvestasi di pasar saham, dan ternyata bukannya memetik keuntungan, melainkan justru kita menderita kerugian di awal, apakah artinya pasar saham bukan tempat potensial untuk memberikan kita keuntungan? Tidak. Justru kita yang perlu melakukan evaluasi terhadap3M :Money, Mind, Method.Apakah Money Management kita sudah benar? Apakah Pola Pikir (Mind) kita sudah benar? Apakah kita sudah menggunakan Metode dengan konsisten? Bahkan ada kalanya kita perlu mengalami kerugian (cut loss) agar kita bisa belajar dan melakukan evaluasi ke depannya. Kebanyakan investor atau trader yang masih pemula terlalu fokus pada bagaimana menghasilkan keuntungan secepat dan sebesar mungkin di pasar saham, sehingga muncul lah pertanyaan di atas : “Pak, saham apa yang bakal naik minggu depan?” Sekarang Anda tahu, bahwa untuk bisa sukses dalam berinvestasi di pasar saham, kita tidak bisa “Sak dheg sak nyut”, berharap harga saham akan segera naik begitu kita beli. Demikian pula, memperhatikan layar trading dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore tidak membuat hasil investasi Anda menjadi lebih baik. Kita juga sekarang mengetahui bahwa investasi yang berhasilmembutuhkan waktu. Semoga artikel kali ini bisa membuat Anda lebih bijaksana dalam berinvestasi di pasar saham. Info: [list][li]Monthly Investing Plan November 2017sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]JadwalWorkshop Value Investing, info selengkapnya dapat dilihat dibit.ly/WorkshopValueInvesting:[list][li]28 Oktober 2017 : Bandung[/li][li]11 November 2017 : Jakarta[/li][li]25 November 2017 : Surabaya[/li][/list][/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : [h4]SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan)[/h4][h4]atau[/h4][h4]Email : rivan.investing@gmail.com[/h4]
Dalam berinvestasi di pasar saham, kita mengenal bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dipakai dalam menganalisis sebuah saham. Kita mengenai ada istilahFundamental Analysisdan ada istilahTechnical Analysis. Dalam keseharian nya (meskipun tidak selalu), fundamental analysis lebih banyak dipakai oleh value investor dan technical analysis lebih banyak dipakai oleh trader. Termasuk yang mana kah saya? Well, sebelum saya menjawab, semoga apa yang akan saya tuliskan dalam artikel ini tidak menjadi debat kusir yang tidak berkesudahan. Karena sudah sering sekali terjadi debat kusir bahwa tipe trader lebih cepat kaya daripada tipe investor, atau tipe investor lebih baik daripada tipe trader, dst. Buat saya, baik investor maupun trader adalahPILIHAN. Tidak ada yang lebih baik atau buruk, yang ada hanyalah manakah tipe investasi yanglebih cocokdengan Anda? Apabila Anda memiliki waktu full time untuknongkrongdi depan laptop atau smartphone Anda mengecek pergerakan harga saham, mungkin Anda lebih cocok menjadi trader. Namun bagi Anda yang memiliki kesibukan lain (dan saya yakin banyak dari Anda yang menjadikan investasi di saham sebagaisecond source of income), mungkin Anda lebih cocok menjadi investor. Saya sendiri awal nya ketika tahun 2009 – 2012 lebih banyak menjadi seorang Trader. Namun, sejak 2013 dan sampai saat ini, saya lebih memilih menjadi seorang Value Investor. Why? Nah inilah yang akan saya coba jelaskan dalam artikel ini. Sekali lagi, semoga apa yang akan saya tuliskan ini tidak menjadi bahan perdebatan, namun alangkah indahnya jika Anda bisa melihat nya dengan perspektif setengah gelas kosong dan bukan setengah gelas isi. Ketika saya menjadi seorang trader di tahun 2009 – 2012, memang berasa sekali bahwa jika mestakung (semesta mendukung), profit yang dihasilkan dengan menjadi seorang trader bisa lebih cepat. Misalkan jika MA20 memotong MA50 ke atas (Golden Cross), maka itu adalah sinyal untuk membeli saham tersebut. Sebaliknya jika MA50 memotong MA20 ke bawah (Dead Cross), maka itu adalah sinyal untuk menjual saham tersebut. Namun secara tidak sadar, ketika menjadi seorang trader, saya seperti “dipaksa” untuk selalu berada di depan laptop memperhatikan pergerakan harga saham. Ketika market dibuka pukul 09.00, saya sudah standby di depan laptop. Saya bisa melepaskan mata saat pukul 12.00 – 13.30 (market break) dan setelah 16.15 (market closing). Di kantor pun, saya selalu mencuri waktu untuk melihat harga saham. Bahkan ketika lagi meeting, saya juga selalu pegang smartphone dan membuka layaronline trading. Intinya adalah saya menjadiaddicteduntuk selalu melihat pergerakan harga saham. Hal ini dimaklumi karena untuk seorang trader,every second is momentum. Namun, ketika Semesta Tidak Mendukung,psikologis sebagai seorang trader biasanya akan mulai terganggu.Seorang trader terbiasa untuk “berperang” setiap hari, sehingga ketika ia harus melakukancut loss, yang ada dibenak nya adalah bagaimana membalikkancut losstadi supaya menjadi profit. Masalahnya di sini adalah, seorang trader biasanya memiliki jiwa harus menang. Jika saya cut loss 2%, maka saya harus profit 3% di transaksi berikut nya. Namun jika di transaksi berikutnya saya cut loss lagi 3% (sehingga kasar nya sudah cut loss 5%), saya harus profit 6% di transaksi berikutnya, dan begitu seterusnya. Dan inilah pelajaran terbesar yang saya pelajari ketika menjadi seorang trader: Ketika Anda berusaha “membalikkan” kerugian Anda menjadi profit, maka sebenar nyaFEARdanGREEDAnda sudah menguasai diri Anda. Dan ketika Fear dan Greed itu sudah menguasai diri Anda, maka keputusan trading Anda biasanya akan SALAH.Anda tidak lagi berpikir bahwa tujuan awal Anda berinvestasi di pasar saham adalah untuk melindungi nilai asset anda, namun tanpa disadari Anda sedang menuju arah menjadikan pasar saham sebagai arena judi.Singkat katanya, Anda tidak lagi bisa berpikir jernih. Akibatnya? Anda menjadi stress dan depresi, dan bukan hal yang asing ketika kita mendengar ada trader saham yang bunuh diri karena menderita kerugian di pasar saham. Ini yang sempat saya alami di tahun 2012 (meskipun Puji Tuhan tidak sampai bunuh diri), namun saya merasakan stress dan depresi akibat kerugian yang saya alami di pasar saham. Keuntungan yang saya raih dari tahun 2009 – 2011 hilang disapu bersih saat tahun 2012. Sejak saat itu, saya menepi dari pasar saham selama kurang lebih 1 tahun. Dengan sisa kepercayaan diri yang ada saat itu (lebih tepat nya penasaran), saya mulai membaca lebih banyak lagi literasi tentang pasar saham. Salah satu buku yang “menampar” saya adalah buku “How to Lose Money in Investment” karya Jere Jefferson. Di buku itu 100% menampar karena semua “kebodohan” saya ada semua di buku itu hahaha (tertawa miris mengingat masa lalu). Cover Buku How to Lose Monet in Investment – Jere Jefferson. Lalu kemudian, saya juga lebih banyak membaca buku-buku yang membahas investasi ala Warren Buffett ataupun buku yang membahas tentang Analisa Fundamental (kalau sebelumnya saya lebih banyak baca buku tentang membaca candle stick, membaca garis support dan resisten, dantechnical analysislainnya). Di dalam negeri pun saya banyak belajar dari pakar Value Investing, yaitu Teguh Hidayat. Darimix and matchitu semua, saya mulai mengumpulkan lagi keberanian (dan tentu saja modal) untuk memulai lagi investasi saya di pasar saham dari pertengahan tahun 2013. Menjadi seorang value investor sangatlah indah bagi saya. Saya melihat pasar saham dari sisi yang berbeda 180 derajat. Tidak hanya skill Analisa fundamental nya, namun yang lebih saya soroti adalah sisi psikologis nya. Berikut adalah beberapa perbedaan sudut pandang mendasar yang saya alami antara menjadi seorang value investor dan menjadi seorang trader. Pertama, Seorang Value Investor justru senang jika harga saham turun.Loh koq bisa? Katakan Anda membeli saham A di harga 1000, jika harga saham tersebut kemudian turun ke 900 (turun 10%), seorang trader akan melihat itu sebagai sebuah KESALAHAN dan harus segera melakukancut loss. Sementara seorang Value Investor akan melihat itu sebagai sebuah KESEMPATAN dan justru melakukan pembelian lebih banyak dengan catatan tidak ada masalah dengan fundamental perusahaannya. Bahasa kerennya,Saham Turun? Be Happy! Kedua, seorang value investor tidak harus selalu berada di depan laptop.Seperti yang sudah dijelaskan di atas,every second is momentumbagi seorang trader. Namun, bagi seorang value investor, harga saham akan naik dengan sendirinya selama kinerja perusahaan juga meningkat. Dan Value Investor sadar betul bahwa itu membutuhkan waktu. Menunggu di depan laptop tidak akan membuat harga saham naik, namun Analisa yang baik dan benar, akan memperbesar peluang kita mendapat profit dari pasar saham. Ketiga,Seorang value investor membeli perusahaan, sedangkan seorang trader membeli harga saham.Dengan menjadi seorang value investor, saya tidak khawatir jika harga saham turun. Tapi saya akan khawatir jika perusahaan yang saya pegang sahamnya mengalami penurunan kinerja. Bukan nya bertanya kenapa harga sahamnya turun, tapi value investor akan menganalisa kenapa laba bersih nya turun? Mengapa arus kas nya negative? Mengapa hutang perusahaan meningkat? Dsb. Buat saya, mengetahui hal-hal seperti itu jauh lebih memberikan ilmu ketimbang mencari tahu kenapa harga saham naik atau turun. Keempat dan yang paling penting buat saya, menjadi seorang Value Investor jauh lebih santai dan jauh dari kata stress.Tahukah Anda bahwa rata-rata Value Investor berusia panjang? Hal ini karena Value Investor jarang stress dan menikmati hidup. Warren Buffett di usianya yang 86 tahun masih terlihat sangat aktif dan sehat, bahkan ada yang lebih senior lagi, yaitu Irving Kahn, yang berusia 109 tahun ketika meninggal tahun 2015. Menjadi seorang trader, jujur saja, tingkat stress nya jauh lebih tinggi. Apa gunanya jika punya banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hidup, bukan? Apakah mudah berevolusi dari seorang trader menjadi seorang value investor? Tentu saja tidak. Awalnya masih saja tergoda untuk melakukan trading. Namun, saya berusaha konsisten dan semakin hari saya semakin bisa mengontrol diri. Hasilnya? Sejauh ini mampu membuat saya tertawa lebar melihat hasil investasi saya. Sekali lagi, artikel ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan teman-teman trader, karena balik lagi ini semua adalah PILIHAN. Akhir kata, jika Anda memutuskan menjadi seorang trader,BE THE BEST TRADER. Dan jika Anda memutuskan menjadi seorang Value Investor,BE THE BEST VALUE INVESTOR. That’s All !!! Info: [list][li]Monthly Investing Plan November 2017sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]JadwalWorkshop Value Investing, info selengkapnya dapat dilihat dibit.ly/WorkshopValueInvesting:[list][li]28 Oktober 2017 : Bandung[/li][li]11 November 2017 : Jakarta[/li][li]25 November 2017 : Surabaya[/li][/list][/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : [h4]SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan)[/h4][h4]atau[/h4][h4]Email : rivan.investing@gmail.com[/h4]
Apakah Anda pernah melihat pertandingan lari marathon? Jika Anda perhatikan, teknik yang dipakai oleh para pelari marathon berbeda dengan teknik yang biasa dipakai olehsprinter(pelari jarak pendek). Bagi pelari jarak pendek, momentum danspeedmenjadi faktor yang terpenting, mengingat durasi perlombaan yang hanya beberapa detik saja. Oleh karena itu, seluruh bagian dari start sampai dengan finishing harus dilatih secara sempurna. Namun berbeda hal nya bagi pelari marathon, di mana waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lomba bisa mencapai beberapa jam, makaspeedbukan lah menjadi hal yang terpenting. Daya tahan (endurance) dan konsistensi lah yang menjadi salah satu faktor terpenting bagi pelari marathon. Ternyata, dalam perjalanan investasi pun demikian. Dari pengalaman saya berinvestasi di pasar saham sejauh ini, prinsip-prinsip yang digunakan oleh pelari marathon ternyata lebih cocok untuk diterapkan ketimbang prinsip yang digunakan oleh pelari jangka pendek. Dalam artikel kali ini, saya ingin mengilustrasikan bahwa perjalanan berinvestasi di pasar saham sama seperti hal nya pelari marathon. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari para pelari marathon untuk membantu kita agar bisa lebih sukses dalam dunia investasi di pasar saham. [h4]Start from Small Steps[/h4] Lomba lari marathon sering dipandang sebagai lomba lari yang paling bergengsi, sedangkan lomba lari 5K (5 Kilometer) seringkali dianggap lomba lari yang sepele. Namun, faktanya tidak ada pelari marathon profesional yang langsung terjun ke perlombaan marathon untuk pertama kalinya. Melainkan mereka konsisten meningkatkan jarak lari nya dari 5K, 10K, 21K (Half Marathon), baru lah mengikuti lomba lari marathon. Selain itu para pelari marathon biasanya justru mengikuti lomba lari 5K untuk menjaga stamina, dan para pelatih lari marathon di seluruh dunia justru menganjurkan perlunya berlomba 5K di antara latihan marathon. Demikian pula dalam berinvestasi, investor yang berpengalaman tahu bahwa kita tidak bisa langsung mengelola dana miliaran rupiah apabila tidak dilatih dari mengelola dana jutaan rupiah terlebih dahulu. Apabila dana kelolaan kita hari ini baru beberapa juta rupiah, hal itu karena beban sebesar itulah yang mampu kita pikul hari ini. Jika kita sudah bisa memikul dana kelolaan beberapa juta rupiah, kita bisa kemudian menambah dana kelolaan menjadi puluhan juta rupiah. Demikian pula apabila kita sudah bisa memikul dana kelolaan puluhan juta rupiah, kita bisa menambah dana kelolaan menjadi ratusan juta rupiah, miliaran rupiah, sampai seterusnya. Seperti halnya pelari yang kapabilitas fisiknya masih di lomba lari 5K, pelari tersebut kemungkinan besar akan mengalami cedera atau tidak mampu menyelesaikan lomba apabila langsung memaksakan diri mengikuti lomba lari marathon. Demikian pula, akan sangat berisiko apabila Anda memaksakan diri untuk mengelola dana yang melebihi kapasitas Anda untuk menanggung risiko nya. [h4]Keep The Pace[/h4] Para pelari professional biasanya menjaga tempo dalam berlari. Mereka tidak boleh berlari terlalu cepat di awal. Apabila mereka berlari terlalu cepat di awal, mereka justru akan kesulitan mengatur tempo dan akan membuat mereka merasa kelelahan di tengah jalan. Kecepatan tetap menjadi salah satu faktor penting bagi pelari marathon, namun mereka harus mengatur kecepatan tersebut secara konsisten dan tidak membuat mereka kehabisan nafas di tengah jalan. Demikian pula dalam berinvestasi, kita tidak perlu terburu-buru untuk mencari saham-saham yang akan “terbang” dalam waktu singkat. Percayalah, Anda akan lebih banyak kecewa nya dibandingkan dengan merasakan manfaatnya. Jika Anda menghabiskan seluruh energi Anda hanya untuk mencari saham-saham yang berpotensi terbang, Anda akan kelelahan di tengah jalan. Sebaiknya, Anda mencari saham-saham dengan fundamental bagus, pada harga undervalued, dan Margin of Safety yang besar. Dengan mencari saham-saham seperti itulah Anda akan bisa mengatur mental Anda, mengatur mood Anda, mengatur spirit Anda sehingga bisa senantiasa profit dengan konsisten di pasar saham. Recover for Real Ada hari-hari di mana pelari marathon membutuhkan waktu untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri untuk berlatih keras untuk memperbaiki otot-otot mereka. Apabila mereka berlatih terlalu keras sampai tidak menyempatkan diri untuk beristirahat, justru akan membuat otot kaki menjadi terlalu tegang dan tidak dapat berkinerja dengan maksimal. Pada program latihan yang dicanangkan oleh pelatih pun biasanya tidak selalu pada level intens, melainkan ada kalanya beberapa latihan hanya dilakukan pada level santai. Dalam berinvestasi, dibutuhkan pikiran yang jernih untuk dapat menganalisa sebuah saham dengan baik, dan pikiran jernih tersebut itu tidak bisa kita dapatkan kalau kita terlalu keras memaksakan diri untuk berpikir. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan tidak terlalu memaksakan diri untuk mengetahui semua informasi yang tersedia, yang mungkin saja justru akan membuat Anda kebingungan sendiri untuk mengambil kesimpulan. Satu hal yang cukup mengejutkan, mengetahui seluruh informasi tidak membuat hasil investasi Anda menjadi lebih baik. Saya pernah menyampaikan hal ini dalam artikel sebelumnya, yang dapat Anda baca kembali disini. Ada kalanya pula, kita perlu beristirahat saat pikiran sedang tidak jernih. Sesekali Anda juga perlu untuk menjauhkan diri dari segala hingar-bingar informasi, termasuk menjauhkan diri dari layar trading. Investor itu juga manusia, bukan seperti robot yang bisa dikendalikan oleh mesin. Saya sering menjumpai banyak investor yang seperti merasa “berdosa” apabila sehari saja tidak melihat layar trading.Seriously, jika Anda telah melakukan pekerjaan Anda sebagai investor (baca : analisa), maka selanjutnya biarkan harga saham tersebut bergerak sesuai dengan kinerja fundamental nya. Kira-kira itulah beberapa prinsip dari para pelari marathon yang bisa kita terapkan dan aplikasikan dalam keseharian kita berinvestasi di pasar saham. Untuk diingat bahwa dalam pasar saham, kita tidak sedang berlomba lari jarak pendek di manaspeeddan momentum menjadi faktor yang terpenting. Jadi, kita tidak perlu mencari saham-saham yang diisukan bakal “terbang” dan memberikan keuntungan puluhan persen dalam waktu singkat. Hal tersebut malahan bisa membuat Anda tergelincir di pasar saham dan justru mengalami kerugian. Jadi, kalau misalkan Anda pernah ketinggalan kereta di sebuah saham, bukan berarti peluang Anda lantas habis, nyatanya masih banyak kereta-kereta lain yang lebih aman dan menanti giliran untuk berangkat. Sebaliknya, lihat lah bahwa berinvestasi di pasar saham sama halnya seperti lari marathon, oleh karena itudaya tahan (endurance)sertakonsistensilah yang menjadi hal penting untuk dijaga. Semoga dengan memahami hal ini, Anda bisa selangkah lebih bijak dalam menjadi seorang investor saham. Info: [list][li]Monthly Investing Plan November 2017sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya disini[/li][li]Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalamCheat Sheet, yang dapat Anda peroleh disini[/li][li]JadwalWorkshop Value Investingberikutnya:[list][li]25 November 2017 : Hotel Amaris Bintoro Surabaya[/li][/list][/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : [h4]SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan)[/h4][h4]atau[/h4][h4]Email : rivan.investing@gmail.com[/h4]

Comments