Rivankurniawan's Profile

Your Profile Pic

Rivan Kurniawan


Birth Date : -

Website : http://rivankurniawan.com/

Point : 31

About me

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Articles

  • Memahami Value Chain Indofood

    Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pertanyaan yang sangat menarik melalui email dari salah ...

    created on: 17 Oct 2017

    0 comments

  • Mengenal Istilah Perbankan : Kategori BUKU

    Dalam industri perbankan, ada sebuah istilah yang dikenal dengan nama BUKU. BUKU ini adalah singkatan ...

    created on: 06 Oct 2017

    0 comments

  • Racun Informasi dan Cara Mengatasinya

    Pada Workshop Value Investing beberapa waktu yang lalu, ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan yang ...

    created on: 26 Sep 2017

    0 comments

Topics

Posts

Semenjak pertumbuhan harga properti mencapai puncaknya di akhir tahun 2013, pemerintah mengetatkan regulasiLoan To Value (LTV)sehingga para spekulan yang tadinya berani untuk membeli property pada harga berapapun (sehingga muncul idiom beli property pasti untung), sekarang ini tidak bisa lagi berspekulasi dengan adanya pengetatan regulasi Loan To Value (LTV) tadi. Hal tersebut merupakan salah satu faktor yang membuat sektor property seperti mati suri sampai tahun 2016. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang terus melambat dari 2013 – 2016 turut membuat sektor property kian tertekan. Hal ini terlihat dari laporan keuangan sektor property yang rata-rata mencatatkan penurunan laba bersih dan pendapatan sepanjang 2013 – 2016. Sejak pertengahan 2016, pemerintah sebenarnya meluncurkan kebijakan baru sebagai upaya untuk membangkitkan kembali sektor property seperti pelonggaran LTV, di mana sejak Agustus 2016 pembiayaan KPR diubah menjadi 85%, 80%, dan 75% dari harga rumah masing-masing untuk rumah ke 1, rumah ke 2, dan rumah ke 3. Pemerintah juga menurunkan PPH dari pajak final atas penjualan property dari 5% menjadi 2.5%. Selain itu, menurunnya BI Rate ke 4.75% juga diharapkan mampu meningkatkan kembali minat masyarakat untuk berinvestasi di sektor property. Namun demikian, ternyata berbagai inisiatif di atas masih membutuhkan waktu lebih untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap sektor property. Terbukti, sepanjang 2016 rata-rata emiten property masih mencatatkan kinerja laporan keuangan di bawah ekspektasi. Lalu bagaimana dengan tahun 2017 ini? Berhubung baru-baru ini emiten di BEI baru saja merilis Laporan Keuangan Q2 2017, apakah ada perbaikan? Dari sekitar 50 an emiten property di BEI, saya mengamati memang belum semua emiten yang mencatatkan laporan keuangan yang memuaskan. Hanya saja, jika kita mengerucutkan kembali dan memfokuskan kepada emiten dengan market cap yang terbesar, dapat kita temukan bahwasebagian besar emiten property mengalami perbaikan kinerja di semester I 2017 ini. Untuk lebih lengkap nya, dapat dilihat pada table berikut ini : Kinerja Sektor Property Q2 2017 Jika dilihat pada table di atas, emiten property yang cukup populer di kalangan investor seperti APLN, ASRI, BSDE, MDLN, DILD, BKSL, PWON, SMRA mencatatkan kenaikan laba bersih dan pendapatan yang positif dibandingkan dengan semester I 2016. Bahkan beberapa emiten mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup signifikan, sepertiMDLN (+834% YoY), BSDE (145% YoY), APLN (+126% YoY), BKSL (99% YoY). Fakta ini setidak nya memberikan gambaran kepada kita bahwa sektor property, meskipun belum seluruhnya, sepertinya mulai bangkit dari tidur panjang nya. Hanya saja, masih ada beberapa emiten yang kinerja nya masih terpuruk. Misalkan,DMAS yang laba bersih nya turun 84% YoY, LPCK (-26% YoY), dan MTLA (-14% YoY).Beberapa emiten seperti BEST, CTRA, dan LPKR belum merilis laporan keuangan nya per artikel ini ditulis. Pertanyaannya sudah tentu, apa yang menyebabkan kinerja emiten property mulai bangkit? Ada beberapa faktor yang saya lihat membuat emiten property mulai bangkit di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih belum pulih betul. Faktor pertama, saya melihatbeberapaemiten property mendiversifikasi bisnis nya ke bisnis lain. Katakanlah ASRI (Alam Sutera Realty) yang melakukan akuisisi perusahaan pengelola kawasan pariwisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali sejak tahun 2012. Meskipun sampai saat ini patung berwujud Dewa Wisnu masih tampak separuh badan saja, alias belum rampung, namun GWK tetap menjadi salah satu destinasi favorit yang selalu ditawarkan paratour guidelokal ke para wisatawan lokal maupun asing, dan mampu memberikan pemasukan tambahan bagi ASRI. Kedua,pengelolaan beban operasional yang efektif dan efisien. Saya ambil contoh MDLN, di mana tercatat bahwa beban operasional MDLN turun tajam dari Rp 210.8 miliar menjadi Rp 51 miliar. Pengelolaan hutang pun terus diperhatikan oleh manajemen, sehingga rasio Debt to Equity Ratio (DER) menurun dari 1.20x menjadi 1.16x. Pengelolaan beban operasional dan hutang memang sangat penting bagi sebuah perusahaan untuk bertahan, sehingga perusahaan tidak hanya fokus untuk meningkatkan pendapatan melainkan juga mengurangi beban dan hutang perusahaan. Faktor ketiga adalahmeningkatnya kontribusirecurring income(pendapatan berulang). Saya ambil contoh APLN, di mana pada tahun 2016 yang lalu kontribusirecurring incomeAPLN adalah Rp 1.6 triliun dan manajemen menargetkanrecurring incomedi tahun 2017 ini adalah menjadi Rp 3 triliun. Recurring income ini akan didapat dari hotel dan mal yang telah beroperasi, salah satunya adalah melalui Mall Neo Soho dan beberapa hotel yang telah beroperasi. Recurring income menjadi salah satusource of revenueyang dapat diandalkan ketika penjualan untuk property baru masih mengalami kesulitan. Lalu bagaimana prospek sektor property ke depan? Apabila kita kaitkansektor property dengan pembangunan infrastuktur, maka pembangunan infrastruktur yang sekarang ini sedang gencar-gencar nya dibangun oleh pemerintah, akan membawa dampak positif terhadap sektor property. Misalkan saja Jalan Tol Akses Tanjung Priok yang telah resmi beroperasi di tahun ini, menambah kemudahan mobilitas penghuni Jakarta Garden City yang terletak di Cakung, Jakarta Timur. Padahal dulu kalau ke sana harus melewati Jl Tipar Cakung yang isinya truk container semua. Contoh lain, adalah pembangunan LRT yang memudahkan mobillitas dari Sentul City ke Jakarta. Ditambah lagi apabila BI Rate tetap dipertahankan pada posisi saat ini (4.75%), maka bukan tidak mungkin 2018 nanti bisa kembali menjadi tahunnya sektor property. Mengenai valuasi emiten sektor property, seperti dapat anda lihat table di atas, banyak pilihan emiten property dengan harga yangundervalued. KatakanlahAPLN (PER 3.3x dan PBV 0.6x), ASRI (PER 4.8x dan PBV 0.9x), BSDE (PER 8.5x dan PBV 1.5x), LPCK (PER6.3x dan PBV 0.7x), serta MDLN (PER 7.0x dan PBV 0.5x). Tinggal disesuaikan dengan time frame investasi anda masing-masing. Bahkan, jika kita perhatikan beberapa waktu belakangan ini (1 – 2 minggu terakhir), harga saham property juga seperti sudah mulai mendapat denyut jantung pasca keluarnya LK Q2 2017. Bisa jadi, ini adalah titik balik dari harga-harga saham sektor property, meskipun tidak ada yang pernah tahu ke depannya seperti apa. Oleh karena itu, jika Anda merupakan tipikal investor yang memiliki time frame setidak nya untuk 1 tahun, maka Anda bisa mulai mencicil masuk dari sekarang, sementara sisa nya nanti bisa menambah posisi saat Laporan Keuangan Q3 2017 rilis di 3 bulan dari sekarang, sekaligus mengkonfirmasi bahwa perbaikan kinerja Q2 2017 ini bukan hanya kenaikan sesaat saja. Siapa tahu, Anda bisa mendapatkan saham bagus pada bargain price yang hasilnya bisa kita petik di tahun depan (201smile, seperti hal nya saham sektor batubara yang mulai bangkit di pertengahan 2016 lalu dan hasilnya bisa kita petik hari ini. By : Rivan Kurniawan Info : Jadwal Workshop Value Investinghadir diKota Pangkal Pinangtanggal26 – 27 Agustus 2017, dan Kota Jakarta 9 16 September 2017. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut dapat dilihat disini,Anda juga dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : rivan.investing@gmail.com. Workshop Value Investing – 26-27 Agustus 2017 @Pangkal Pinang Workshop Value Investing – 9 16 September2017 @ Jakarta
Beberapa minggu lalu, tepat nya tanggal 8 Agustus 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 sebesar 5.01%. Pencapaian tersebut sama persis dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2016 yang mencapai 5.18%. Meskipun tidak jelek-jelek amat, namun angka 5.01% bisa dibilang cukup mengecewakan. Padahal pemerintah telah berupaya mendorong proyek infrastruktur secara masif. Pertanyaannya tentu mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia belum juga bertumbuh ke arah yang lebih baik? Hingga saat ini, hal ini masih menjadi perdebatan dan mencari tahu apa yang salah dengan perekonomian Indonesia. Di saat pertumbuhan ekonomi tergolong stagnan, ada satu fakta yang cukup menarik, yaitu jumlah tabungan masyarakat yang tersimpan di perbankan justru meningkat signifikan. Dana masyarakat di perbankan menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) naik dari Rp 184.1 triliun di Juni 2016 menjadiRp 216.7 triliun di Juni 2017, atautumbuh 17.6 %. Kemudian kalau kita hubungkan data ini dengan data dari OJK, di mana penyaluran kredit baru sepanjang Januari – Mei 2017 “hanya” sebesar Rp 46.6 triliun, artinyaada sejumlah dana yang menumpuk di perbankan. Kenaikan jumlah dana masyarakat ini dapat kita lihat pada Laporan Keuangan Q2 2017 emiten-emiten perbankan di BEI, yang dapat Anda download di www.idx.co.id. Saya coba summary kan kenaikan kas emiten perbankan di BEI dari End of Year2016 VS Q2 2017. Jika kita perhatikan, kecuali AGRO,jumlah kas emiten Perbankan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Silakan lihat tabel di bawah ini untuk lebih lengkap nya.. *jumlah kas dalam miliar Rupiah Posisi Kas Q2 2017 VS Q4 2016 Emiten Perbankan (Source : www.idx.co.id) Kenaikan jumlah tabungan masyarakat ini agak tidak wajar, mengingat sampai dengan saat ini BI Rate berada di titik terendah 4.75%. Padahal seperti kita ketahui pada teori ekonomi mengatakan bahwa ketika BI menurunkan suku bunga, maka diharapkan hal tersebut akan mentriggermasyarakat untuk tidak menaruh uang di bank, melainkan untuk berinvestasi yang ujungnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun yang terjadi sekarang ini justru tidak demikian. Malahan dana tabungan di perbankan meningkat signifikan, namun pertumbuhan ekonomi masih stagnan. Dari beberapa opini para ekonom dan analis yang saya baca, beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa dana pihak ketiga meningkat cukup signifikan di perbankan adalah smileertama,terdapat kemungkinan bahwa masyarakat sedang berjaga-jaga dari kondisi terburuk karena ekspektasi kondisi ekonomi yang kurang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai berita menyebutkan bahwa kondisi retail sales sedang lesu, banyak usaha yang kemudian gulung tikar, dan yang paling terbaru adalah perusahaan jamu sekelas Nyonya Meneer yang disinyalir gulung tikar karena menurun nya daya beli (selain terbelit oleh hutang).Kedua,terdapat kemungkinan juga masyarakat mengantisipasi instabilitas dalam politik dalam negeri. Faktor politik ini lebih kepada arah pilkada serentak dan juga pilpres 2019 yang menyebabkan masyarakat menjadi lebih berjaga-jaga. However, ini menjelaskan perdebatan mengenai turun nya daya beli masyarakat. Jika melihat fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa bukan daya beli masyarakat yang menurun (karena toh jumlah pengangguran terus menurun dan jumlah GDP per capita terus meningkat), melainkan masyarakat bersikap berjaga-jaga dari ekspektasi ekonomi yang kurang baik dan mengantisipasi instabilitas dalam politik dalam negeri. Setelah memahami fenomena yang terjadi di atas, selanjutnya kita pasti bertanya apa hubungannya dengan pasar saham? Saat ekonomi tengah lesu (atau stagnan seperti saat ini),biasanyasaham defensif menjadi andalan investor saham, karena sifatnya yang lebih tahan banting dari situasi ekonomi. Kinerja emitenconsumer goodsbiasanya mengalahkan kinerja sahamcyclicaldi saat ekonomi sedang kurang baik. Namun, seperti Anda lihat di atas, situasinya kali ini agak sedikit berbeda. Hal ini juga tercermin dari kinerja sahamretail tradedanconsumer goodsyang kurang baik di semester II 2017 ini. EmitenConsumer Goodshanya mencatatkan kenaikan tipis dari segi laba bersih. MisalkanICBPyang laba bersih nya hanya naik tipis dari Rp 1.9 triliun di Q2 2016 menjadi Rp 2.1 triliun di Q2 2017(+5.7% YoY),laba bersihMYORturun dari Rp 591.2 miliar menjadi Rp 547.8 miliar(-7.3% YoY). Di sisi lain, emitenretail tradebahkan lebih berdarah-darah.MPPAmencatatkanrugi bersih Rp 169.8 miliarper Q2 2017,AMRTlaba bersih nya turun dari Rp 90.3 miliar menjadi Rp 75.5 miliar(-16.3%),DNETturun dari Rp 105.4 miliar menjadi Rp 30.5 miliar(-71%), dll. Oleh karena itu, dapat pula kita simpulkan bahwa kinerja emiten sektorconsumer goodsdanretail tradeini membuat investor khawatir terhadap lesunya perekonomian Indonesia. Dan investor tentunyatidak bisa mengandalkan strategi memilih saham defensifdi Semester II 2017 ini.Lalu strategi apa yang sebaiknya diterapkan di Semester II 2017? Akan lebih bijak, apabila investor memilih sektor lain yang lebih menarik ketimbangconsumer goodsdanretail trade(setidaknya untuk saat ini). Investor dapat memilih saham-saham yang bersifat cyclical seperti saham komoditas, saham perbankan, atau sektor yang menunjukkan recovery seperti sektor property (analisanya sudah kita bahas disini). Saham komoditas umumnya masih menarik meskipun sudah naik cukup banyak selama 1 tahun terakhir, dikarena harga batubara yang kembali meningkat di atas $ 90 per ton, serta kinerja saham emiten batubara yang terbaru juga masih positif. Saham perbankan juga diuntungkan dengan meningkatnya jumlah dana masyarakatdan juga pemberian status investment grade beberapa waktu yang lalu. Sektor property menunjukkanearly recoverydi mana emiten property mulai menunjukkan laporan keuangan yang positif di Q2 2017. Namun tentu saja, tidak semua saham dari sektor tersebut bisa dijadikan pilihan, kita tetap harus memperhatikan fundamental perusahaannya masing-masing. Ada yang punya pandangan lain ? By : Rivan Kurniawan Info : Jadwal Workshop Value Investinghadir diKota Pangkal Pinangtanggal26 – 27 Agustus 2017, dan Kota Jakarta 9 16 September 2017. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut dapat dilihat disini,Anda juga dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : rivan.investing@gmail.com. Workshop Value Investing – 26-27 Agustus 2017 @Pangkal Pinang Workshop Value Investing – 9 16 September2017 @ Jakarta
Minggu lalu, saya mengadakan sebuah free event yang saya beri namacafé saham, dan berlokasi di Mall Central Park.Dalam salah satu pembahasan, ada sebuah diskusi tentang menjadi Full Time Investor atau bahasa kerennya adalah Investing for Living. Menjadi Full Time Investor memang “terlihat keren” di satu sisi, karena bisa bekerja di manapun berada, alias tidak perlu berada di kantor. Menjadi investor juga tidak memiliki bos, yang artinya kita tidak perlu takut diomelin bos L. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang tidak orang lain lihat, yaitu dengan menjadi Full Time Investor, kita menghadapi satu bos yang lebih besar, yaitu :diri sendiri. Nah malam itu kami berdiskusi, bahwa belum semua orang bisa menjadi Full Time Investor, karena jangan sampai hanya tergiur dengan hal-hal di atas tadi, namun perlu dipikirkan juga mengenai resiko-resiko nya. Bagaimana kalau misalkan market sedang bearish? Apakah kita sanggup untuk bertahan? Bagaimana kalau ternyata kita dipaksa untuk cut loss? Bagaimana kalau Analisa kita ternyata salah? dll.. Oleh karena itu, dalam artikel ini saya ingin berbagi tips apa saja yang harus dipersiapkan apabila ingin menjadi Full Time Investor : Pertama,pastikan bahwa Anda memiliki dana investasi yang terpisah dengan uang sehari-hari atau istilahnya uang dapur. Sehingga apabila dana investasi Anda terganggu, Anda tidak perlu khawatir dengan kebutuhan rumah tangga Anda. Berapa besarannya? Kembali lagi tergantung pengeluaran Anda. Saya sendiri menyarankan bahwadana investasi adalah 50X pengeluaran bulanan, dan itu terpisah dari dana untuk kebutuhan rumah tangga. Logikanya, return yang konvensional dari berinvestasi di saham adalah 2% per bulan atau 25% per tahun, sehingga return tadi mampu untuk mencukupi pengeluaran bulanan. Contoh : pengeluaran bulanan anda adalah Rp 10 juta, maka disarankan dana investasi adalah Rp 10 juta X 50 = Rp 500 juta. Sehingga apabila Rp 500 juta tadi konsisten menghasilkan return 2% per bulan,maka Anda akan mendapatkan2% X Rp 500 juta = Rp 10 juta, sesuai dengan pengeluaran bulanan Anda. Boleh gak kalau saya pakai asumsi return 4% per bulan? Boleh saja, namun semakin besar target biasanya semakin besar pula beban di benak Anda. Saya pribadi tidak muluk-muluk hanya mentargetkan return 25% – 30% per tahun. Kedua,dana kebutuhan rumah tangga.Dana kebutuhan rumah tangga yang disarankan adalah12x pengeluaran bulanan. Sehingga apabila dana investasi Anda terganggu, minimal Anda dapat bertahan 12 bulan atau 1 tahun. Kembali pada contoh di atas, apabila pengeluaran bulanan Anda adalah Rp 10 juta, maka dana kebutuhan rumah tangga Anda minimal adalahRp 10 juta X 12 bulan = Rp 120 juta. Ketiga, siapkan pula dana darurat,Dana darurat ini akan menjaga Anda dari hal-hal yang di luar rencana. Bedanya apa dengan dana kebutuhan rumah tangga ? Dana kebutuhan rumah tangga tadi sifatnya adalah yang PASTI KELUAR (misal : kebutuhan rumah tangga, uang sekolah Anak, dll), namun kita perlu juga menyiapkan dana darurat untuk berjaga-jaga, misalkan : Anggota keluarga sakit dan perlu perawatan dokter, tetangga Anda mengalami emergency dan Anda diminta pertolongan. Atau hal-hal yang tidak kita duga sebelumya. Besarannya kira-kira 7x pengeluaran bulanan apabila anda memiliki 1 istri dan 1 anak. Keempat, siapkan pula asuransi kesehatan untuk Anda dan keluarga.Mengapa asuransi penting? Karena kita tidak tahu kapan kita akan sakit dan membutuhkan perawatan. Lho kn sudah ada dana darurat, buat apa asuransi lagi? Untuk beberapa kasus penyakit, membutuhkan biaya yang sangat besar, katakanlah untuk operasi jantung butuh setidaknya ratusan juta (atau mungkin miliaran), yang kemungkinan besar kita belum persiapkan di dana darurat tadi. Berapa besarannya? Kalau ini silakan hubungi agen asuransi kepercayaan Anda. So far, empat hal itu setidaknya yang perlu Anda perhatikan sebelum memulai menjadi Full Time Investor. Mungkin ada yang ingin menambahkan? Silakan berikan comment di bawah… Info: Jadwal Workshop Value InvestingdiKota Jakarta 9 16 September 2017.Pendaftaran via online di :http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : info@ticmi.co.id.
Sepanjang bulan Agustus 2017, saham INDY menjadi salah satu saham dengan kenaikan harga tertinggi, di mana harga sahamnya naik dari 800 an ke 1200 an, atau naik 50% an dalam waktu satu bulan. Dan analisa mengenai INDY sudah pernah kita tuangkan sebelumnya, yang dapat Anda baca lagi disini. Terkait dengan hal tersebut, di mana INDY merupakan holding group yang memiliki beberapa anak usaha, di mana salah satu yang menarik perhatian adalah MBSS. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)adalah penyedia solusi logistik dan transportasi laut terpadu untuk bahan curah yang terkemuka di Indonesia, khusus nya batubara. Didirikan di Jakarta pada tahun 1994, MBSS memulai dari usaha perusahaan pelayaran (shipping company). MBSS sewaktu itu memulai denganbarging contractdengan PT Varia Usaha (anak usaha Semen Gresik) dan PT Arutmin Indonesia untuk transportasi batubara domestik. Ketika tahun 1998, MBSS juga mendapatkan kontrak jangka panjang untuk transportasi batubara dari PT Bahari Cakrawala Sebuku. Seiring waktu, MBSS tumbuh menjadi penyedia jasa logistik dan transportasi utama (dengan layanan yang lebih komprehensif ketimbang hanya perusahaan pelayaran). Dan pada tanggal 6 April 2011, MBSS memulai pencatatan Perdana di Bursa Efek Indonesia (waktu itu namanya masih Bursa Efek Jakarta). Dan pada tahun dan bulan yang sama, PT Indika Energy (INDY) mengakuisisi 51% saham di MBSS dan menjadi pengendali di MBSS. Ownership Structure MBSS (source: company presentation) Per Agustus 2017, MBSS memiliki 85 Tug Boat (kapal penarik tongkang), 4 floating cranes (FC), 2 Floating Loading Facilities (FLF), 71 barges (kapal tongkang). Jika dilihat secara historikal selama beberapa tahun ke belakang, perusahaan tidak menambah jumlah armada nya, setidaknya itulah yang terlihat dari arus kas investasi MBSS yang positif $ 290.4 ribu per semester I 2017 ini. Di sisi lain, jumlah pendapatan juga masih flat ketimbang periode yang sama di tahun lalu. Per semester I 2017, pendapatan MBSS sejumlah $ 33.1 juta, hanya naik 0.25% dibandingkan semester I 2016. Meskipun demikian, MBSS masih memiliki sejumlah klien besar seperti Kaltim Prima Coal (KPC) dan Adaro yang memiliki kontrak sampai 2017 ini, Kideco Jaya Agung (kontrak sampai 2019), Berau Coal (kontrak sampai 2022), dan beberapa klien besar lainnya sampai 2018. Sejatinya MBSS adalah perusahaan yangprofitablesejak IPO, di mana pada tahun 2011 misalkan MBSS mencatatkan laba bersih $ 29.6 juta. Laba bersih ini terus naik hingga pada tahun 2013, MBSS mencatatkan laba bersih $ 38.2 juta. Penurunan harga komoditas batubara berkepanjangan yang dimulai pada akhir tahun 2012, turut mempengaruhi kinerja MBSS sejak 2014, di mana laba bersih nya turun hampir setengahnya, yaitu hanya tercatat $ 20.1 juta. Dan lebih parahnya lagi, MBSS mencatatkan rugi bersih sejak tahun 2015 sampai dengan kuartal II 2017 (tahun 2015 : rugi $ 12.1 juta, tahun 2016 : rugi $ 29.8 juta). Saat harga komoditas batubara mulai naik sejak pertengahan tahun 2016, banyak investor berharap bahwa MBSS juga akan mencatatkan profit di tahun 2017 ini seperti layaknya induk usahanya. Namun sampai dengan semester I 2017, MBSS masih belum juga berhasil mencatatkan profit. Per semester I 2017, MBSS masih mencatatkan rugi bersih $ 3.8 juta. Net Profit / (Loss) MBSS 2011 – 2017 Anlz (dalam Rp miliar) Source: idx.co.id yang diolah Pertanyaannya sudah tentu,mengapa MBSS masih rugi di tengah meningkatnya harga komoditas batubara?Kalau kita bedah lebih dalam, problem utama MBSS ini terletak didirect costataucost of goods sold,sehingga menekan Gross Profit nya. Coba bandingkan pada tahun 2013 saat puncak kejayaan MBSS, Gross Profit nya bisa mencapai 40%. Sedangkan di semester I 2017,Gross Profit MBSS hanya 5.9%. Kalau kita bedah lagidirect costperusahaan di tahun 2016,direct costterbesar perusahaan adalah dariDepreciation yang berkontribusi terhadap 37.0% totaldirect costperusahaan, diikuti olehFuel atau biaya bahan bakar (17.9%), biaya gaji (13.6%), RM (9.0%), rental (1.5%) dan biaya lain-lainnya (21.0%). Dari komponen-komponen cost tersebut, perusahaan sebenarnya bisa menekan biaya rental, biaya gaji, dan biaya RM, hanya sayangnyakomponen tersebut hanya berkontribusi sekitar 24.1% dari totalDirect Costperusahaan. Sementarakomponen Direct Cost yang berkontribusi lebih besar seperti Fuel naik 17.9% YoY dan Depresiasi naik 1.7%. Direct Cost MBSS 2016 VS 2017 (Source : company presentation) Sekilas, kita melihat bahwa MBSS ini belum layak untuk diinvest karena di satu sisi perusahaan masih rugi, dan di sisi lain perusahaan juga masih terbebani cost yang tinggi. Namun, mengapa investor sekelas Pak LKH berani berinvestasi di MBSS sebanyak 48 juta lembar saham (2.74% dari total saham beredar)? Pemegang Saham MBSS (Source : MBSS Annual Report 2016) Saya coba melihat dari sisi lain bahwa, meskipun perusahaan sejak 2015 sampai dengan Semester I 2017 ini masih rugi, namun perusahaan tergolongperusahaan yang tidak terlalu bergantung kepada hutang. Sebagai perbandingan, hutang MBSS saat 2011 adalah Rp 1.1 triliun dan hutang MBSS saat ini (Semester I 2017) adalah Rp 749 miliar. Di sisi lain, ekuitas MBSS saat 2011 adalah Rp 1.6 triliun dan ekuitas MBSS saat ini (Semester I 2017) adalah Rp 2.4 triliun. Dengan kata lain,jumlah hutang MBSS saat ini hanya 30% dari total ekuitas nya.Dan seperti yang dikatakan oleh Peter Lynch “Companies that have no debt can’t go bankrupt”. Dilihat dari valuasinya pun MBSS masih sangat murah. Meskipun kita tidak mungkin melihat dari sisi PER karena perusahaan masih rugi, namun dariPBV saat ini masih tercatat hanya 0.3X. Jika kita relate dengan INDY, di manasaat perusahaan masih dalam kondisi rugi hingga harga sahamnya terpuruk di 100 an, tapi lihat harga saham INDY sekarang bertengger di 1200 an.Who knows, hal yang sama juga akan terjadi di MBSS, mengingat MBSS pernah dihargai di harga 1400 an (bahkan pernah di 1600 saat 2012), sebelum kemudian turun ke 300 – 400 an saat ini. Itu artinya, harga sahamnya sudah turun lebih dari 75%. Jadi, meskipun perusahaan saat ini belum bisa kembali mencetak profit seperti usaha induknya (INDY), namun di sisi lain ekuitas perusahaan bisa terus bertumbuh dan liabilitas terus menurun, yang disertai dengan arus kas yang stabil. Well, itu bukankah itu artinyaperusahaan sedang melalui masa yang sulit saja? Jadi bukan karena perusahaan nya yang jelek.Jika nanti (saya juga tidak tahu kapan persisnya) perusahaan kembali mencetak untung bersih, maka bukan tidak mungkin harga sahamnya akan kembali ke harga 1000 an. Seperti kata-kata yang sering disampaikan Pak LKH:buy in bad times, sell in good times, and you will be rich. However, analisa ini sifatnya adalah informasi, bukan rekomendasi ajakan untuk menjual atau membeli saham ini.Do your own research, dan Disclaimer is ON. By : Rivan Kurniawan Notes : Tulisan ini pernah dimuat juga dalam http://rivankurniawan.com Info: Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini. Jadwal Workshop Value InvestingdiKota Jakarta 9 16 September 2017.Pendaftaran via online di :http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : info@ticmi.co.id.
PGAS merupakanmarket leaderuntuk bisnis distribusi gas di Indonesia. Karena dominasi inilahyang membuat PGAS bisa mencetakReturn on Equity(ROE) lebih dari 30% sejak 2006 – 2014. Net Profit dan pendapatannya juga selalu meningkat konsisten setiap tahunnya, alias bisa dibilang salah satu wonderful company yang ada di Indonesia. Namun sejak 2015 (sampai dengan saat ini), kondisi yang dialami PGAS sedikit berubah. PGAS yang biasanya konsisten mencetak net profit di atas US$ 700 juta setiap tahunnya, per tahun 2015 hanya mampu mencetak profit US$ 401.2 juta, bahkan di tahun 2016 kemarin, PGAS “hanya” mencetak profit US$ 304.3 juta. Karena penurunan Net Profit ini pula, ROE pun menjadi turun cukup drastis. Di mana PGAS biasanya mampu mencatatkan ROE di atas 30%, di tahun 2015 PGAS hanya mencatatkan ROE 15%, bahkan di tahun 2016 ROE tercatat hanya 10.6%. Sebuah catatan yang kurang baik sebenarnya untuk seukuran perusahaan yang menguasai pangsa pasar distribusi gas di Indonesia 80%. Harga sahamnya pun turun dari 5700 an ke posisi saat artikel ini ditulis, yaitu 2250, posisi terendah sejak tahun 2013. Anda dapat melihat grafik di bawah ini untuk lebih jelasnya. Pergerakan Harga Saham PGAS 2003 – 2017, Source : Yahoo Finance Ada apa dengan PGAS? Itulah pertanyaan banyak investor saham. Ternyatasejak tahun 2015,pemerintah banyak mengintervensi harga gas, sehingga profit margin perusahaan menjadi terpengaruh. Meski pendapatan tidak terlalu menurunpada kuartal II 2017, laba kotor PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun sampai 67%. Penurunan pendapatan distribusi gas memicu turunnya laba kotor. Memang, PGAS punya kontrakbusiness-to-business(B2B) dengan para pelanggannya sehingga belum tentu harga gasPGAS ikut turun sesuai ketentuan pemerintah. Tekanan harga minyak mentah yang berkepanjanganjuga terus menghadirkan tantangan besar bagi Perusahaan. Tekanan berkepanjangan pada harga minyak mentah yang masih belum kembali stabil sejak menurun tajam dari kisaran US$ 100 – 120 / barrel pada 2014 menjadi rata-rata sebesar US$ 40 / barrel di tahun 2016. Karena itulah konsumen energi beranggapan bahwa keunggulan kompetitif gas bumi terhadap minyak melemah secara drastis, dan dampaknya mereka memilikiekspektasi untuk mendapatkan harga gas dengan harga murah, namun di saat yang bersamaanbiaya yang menjadi beban PGAS belum dapat mengikutiproporsi murahnya harga yang diharapkan. Namun demikian, PGAS berhasil mengelola dan mengimbangi sebagian ekspektasi pelanggan antara lain dengan memanfaatkan fasilitas LNG, mengingat sebagaimana berlaku umum di industri minyak dan gas, harga LNG dibentuk berdasarkan harga minyak mentah. Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia 2012 – 2017, Source : Trading Economics Bagi pelanggan utama PGN di sektor listrik dan industri, kondisi ekonomi yang tumbuh terbatas memperpanjang kondisi pelemahan permintaan terhadap hasil produksi. Alhasil,permintaan pembangkit dan industri terhadap gas bumi pun menjadi menurun. Namun harapan muncul berkat tindak lanjut dari program amnesti pajak yang dilakukan pada tahun 2016, yang memberi pemerintah kelonggaran fiskal untuk kembali membiayai pengeluaran infrastruktur. Kegiatan ini akan mendorong munculnya kebutuhan akan listrik ke depannya, dan tentu saja hal ini akan membuka kesempatan bagi PGN untuk terus meningkatkan peran gas dalam sektor listrik. However, di tengah kondisi pasar yang kurang menguntungkan, PGAS tetap menunjukkan ketangguhannya dengan kondisiFree Cash Flow (FCF)positif, dimana per Kuartal II 2017, Free cash flow (FCF)PGASmasih positif $162.6 juta. Hal tersebut merefleksikan kondisi fundamental perusahaan yang kokoh. Sebagai tambahan, Pemerintah masih tetap memercayakan program perluasan akses pelanggan rumah tangga terhadap energi murah dan aman kepada PGAS, dengan mengamanatkan PGAS untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur. Program ini dilaksanakan bersamaan dengan program “PGN Sayang Ibu’, di mana program ini berhasil menambah 57 ribu sambungan rumah tangga pada tahun 2016. Jadi, kesimpulannya apakah PGAS ini layak invest atau tidak? Well, jika melihat kondisi saat ini, sepertinya sekarangbelum saat yang tepatbuat masuk ke PGAS mempertimbangkan faktor-faktor di atas tadi. Namun, sebagai perusahaan dengan fundamental yang kuat, saya dapat katakan PGAS pasti dapat melalui keadaan yang kurang menguntungkan ini dengan baik. Lalu kapan saat yang tepat? Pertama, saat harga minyak mentah mulai naik, yang itu berarti ekspektasi terhadap harga gas juga akan meningkat. Kedua, saat laporan keuangannya nanti sudah mulai mencerminkan kenaikan kinerja. Patokannya adalah laba bersih yang meningkat, Net Profit Margin yang membaik, dan juga Return on Equity nya kembali seperti tahun 2014 ke bawah yaitu di sekitar 30%.When the time is right, PGAS ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk investasi jangka panjang, seperti hal nya kinerja PGAS yang sangat konsisten bertumbuh di tahun 2006 – 2014. Info: Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini. Jadwal Workshop Value InvestingdiKota Jakarta 9 16 September 2017 jam 09.00 – 16.00.Pendaftaran via online di :http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : info@ticmi.co.id.
Jika kita berbicara mengenai investasi di pasar modal, mungkin paradigma yang terbentuk di benak kita adalah bagaimana kita sebagai investor mendapatkan profit dari pasar saham melalui kenaikan harga saham, dan begitu pula pimpinan perusahaan memiliki kewajiban untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham dengan kinerja perusahaan yang positif dan konsisten. Namun, tahukah Anda bahwa dengan menjadi seorang investor saham, kita bisa turut melestarikan lingkungan? Nah, mungkin belum banyak dari kita yang menyadari atau mengetahui bahwa di Bursa Efek Indonesia, ada satu indeks yang bernamaSRI KEHATI. Apa itu indeks SRI KEHATI? Sebelum kita membahas mengenai indeks SRI KEHATI, saya ingin mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam mengenai Yayasan KEHATI. Berikut ini adalah sekilas mengenaiYayasan KEHATIyang saya rangkum dari websitewww.kehati.or.id. Yayasan KEHATI merupakan kependekan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia, yang berdiri sejak 12 Januari 1994 untuk menghimpun dan mengelola sumber daya yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah dan berbagai fasilitas lain untuk menunjang program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Penggagas Yayasan KEHATI ini adalahBapak Emil Salim, mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat Kabinet Pembangunan III, IV, dan V (1978 – 1993), di mana waktu itu beliau diminta oleh pemerintah Indonesia untuk membentuk sebuah organisasi untuk menampung bantuan hibah dari Pemerintah Amerika Serikat dan Jepang. Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia sepakat bekerjasama untuk membantu program pelestarian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan di Indonesia, yang kemudian dirumuskan dalam Deklarasi Tokyo tahun 1993. Hibah yang diperoleh ini berbentuk dana cadangan abadi atau biasa disebutendowment fund, dan hibah ini kemudian diinvestasikan kembali di pasar modal dalam bentuk saham dan obligasi. Hasil dari perputaran dana ini kemudian akan dipakai untuk membiayai program bantuan hibah yang dilaksanakan oleh mitra KEHATI. Logo Yayasan KEHATI Sejak 8 Juni 2009, Yayasan KEHATI bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia meluncurkan indeks yang disebut SRI KEHATI, di mana Indeks ini mengacu pada tata caraSustainable and Responsible Investment(SRI). Tujuan dibentuknya indeks SRI KEHATI adalah memberikan informasi secara terbuka perusahaan-perusahan yang dianggap memiliki kepedulian pada lingkungan, tata kelola perusahaan, dan etika bisnis yang baik. Setiap 2x setahun (lebih tepatnya di bulan April dan Oktober), Yayasan KEHATI akanmenetapkan 25 perusahaanyang dianggap memenuhi kriteria tersebut. Mekanisme pemilihannya cukup sederhana.Langkah pertama, dilakukan seleksi negatif awalyang mencegah perusahaan berorientasi pada hal-hal negatif seperti nuklir, senjata, tembakau, alcohol, pornografi, judi, dll.Langkah kedua dilakukan seleksi dari aspek finansialdengan kriteria Market Cap Rp 1 triliun, total asset Rp 1 triliun, free float rate 10%, dan memiliki PE Ratio yang positif (dengan kata lain perusahaannya harus menghasilkan keuntungan). Setelah itu, barulah masuk kepadalangkah ketiga yaitu seleksi dari aspek fundamental, dengan mengedepankan tata kelola perusahaan, lingkungan, keterlibatan masyarakat, SDM, dan HAM. Tahapan Seleksi Indeks SRI KEHATI (Source :https://www.kehati.or.id/indeks-sri-kehati/) Setelah terpilih 25 perusahaan, maka selanjutnya Yayasan KEHATI akan menginformasikan ke Bursa Efek Indonesia, dan selanjutnya BEI akan mempublikasikan Indeks SRI KEHATI tersebut melaluiwww.idx.co.id. Dan inilah daftar emiten yang masuk ke dalam Indeks SRI-KEHATI Periode Mei – Oktober 2017 : No Stock Code Nama Perusahaan 1 AALIAstra Agro Lestari Tbk. 2 ADHI Adhi Karya (Persero) Tbk. 3ASII Astra International Tbk. 4 BBCABank Central Asia Tbk. 5 BBNIBank Negara Indonesia (Persero) Tbk.6BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 7BDMN Bank Danamon Indonesia Tbk. 8 BMRIBank Mandiri (Persero) Tbk.9BSDE Bumi Serpong Damai Tbk. 10 GIAAGaruda Indonesia (Persero) Tbk.11INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. 12JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk. 13 JSMRJasa Marga (Persero) Tbk.14KLBF Kalbe Farma Tbk. 15 LSIPPP London Sumatra Indonesia Tbk. 16 PGASPerusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.17PJAA Pembangunan Jaya Ancol Tbk. 18SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk. 19 TINSTimah (Persero) Tbk.20TLKM Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. 21 UNTRUnited Tractors Tbk.22UNVR Unilever Indonesia Tbk. 23 WIKAWijaya Karya (Persero) Tbk.24WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk. 25 WTON Wijaya Karya Beton Tbk. Pada pelaksanaanya, kehadiran Indeks SRI KEHATI ini diharapkan dapat meningkatkanexposurekeberadaan emiten yang sadar lingkungan, peduli terhadap sosial, dan memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Sehinnga investor yang memiliki wawasan sosial dan memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial yang tinggi pun dapat memilih saham yang berada di dalam indeks tersebut. Pertanyaan berikutnya,apakah ada hubungan antara Indeks SRI KEHATI dengan Value Investing? Secara tidak langsung, jawabannya adalah ADA. Kalau Anda lihat lagi seleksi indeks SRI KEHATI ini juga mempertimbangkan indikator finansial, di mana salah satunya adalah perusahaan memiliki positivePrice Earning Ratio (PER)selama 6 bulan terakhir, yang artinya perusahaan yang masuk ke dalam indeks SRI KEHATI ini adalah perusahaan-perusahaan yang sehat karena mencetak keuntungan selama 6 bulan terakhir (Kalau perusahaan rugi, maka tentu saja PER nya menjadi bernilai negatif). Hanya saja, Indeks SRI KEHATI tidak terlalu menekankan pada aspek valuasi perusahaan, sehingga mungkin saja emiten yang masuk dalam Indeks SRI KEHATI ini secara valuasi sudah mahal. Namun, Anda sebagai value investor, bisa menggabungkan strategi SRI HAYATI ini dengan Value Investing, di mana Anda dapat menghitung valuasi dari 25 saham di atas apakah masihundervaluedataukah sudahovervalued? However, sekarang Anda memiliki perspektif baru bahwa investasi di saham tidak hanya melulu mencari keuntungan semata. Dengan menggabungkan Indeks SRI KEHATI dengan Value Investing, Anda akan mendapatkan 2 hal sekaligus. 1) Perusahaan dengan fundamental bagus pada hargaundervalued, serta 2) Perusahaan yang yang sadar lingkungan, peduli terhadap sosial, dan memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Jadi selagi Anda mendapatkan profit di pasar saham, Anda juga mendukung lingkungan dan sosial agar menjadi lebih baik lagi.Sounds good? Jadi, apakah ada di antara 25 saham yang masuk di dalam Indeks SRI-KEHATI ini yang masuk ke dalam portfolio Anda saat ini? Please share atau comment ke pembaca lainnya jika ada… Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini. Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini.
Dalam menganalisa apakah sebuah saham bisa dikatakan masih murah atau mahal, kita sering menggunakan metodePER (Price to Earning Ratio). Di mana PER membandingkan Market Cap perusahaan dengan laba bersih yang dihasilkan. Namun dalam perkembangannya ada teori lain yang mengatakanMarket Capperusahaan bukanlah nilai sebenarnya dari sebuah perusahaan. Nilai sesungguhnya sebuah perusahaan dapat dilihat dengan melihatEnterprise Value (EV)nya. Apa ituEnterprise Value (EV)? Sebelum kita melanjutkan mengenai pembahasanEnterprise Value (EV), saya ingin mengingatkan bahwa analisa menilai sebuah perusahaan menggunakan Market Cap dan Enterprise Value, bukanlah bersifat substitusi (saling menggantikan), melainkanbersifatkomplementer (saling melengkapi). Oke jadi, apa Enterprise Value itu? Kalau kita cari mengenai Enterprise Value di Wikipedia, perhitungannya sebenarnya cukup kompleks. Definisi Enterprise Value (Source :https://en.wikipedia.org/wiki/Enterprise_value) Meskipun terlihat cukup kompleks, namun kita dapat menghitung Enterprise Value dalam pengertian yang lebih sederhana. Secara sederhana, rumusEnterprise Value (EV)adalah nilai kapitalisasi pasar (Market Cap) ditambah hutang kepada bank (lembaga keuangan) dikurangi uang kas perusahaan saat ini. Atau kalau kita jabarkan rumusnya menjadi : [h4]Enterprise Value = Market Cap + Hutang Bank – Kas[/h4] Jadi,Enterprise Value (EV)di sini tidak hanya memperhitungkan Market Cap nya saja, melainkan juga memperhitungkan hutang bank dan juga kas yang dimiliki perusahaan. Untuk memudahkan, saya akan mencoba untuk menggunakan sebuah contoh. Misalkan perusahaan A saat iniharga sahamnya adalah Rp 500. Saatini jumlah saham beredar nya adalah 1 miliar lembar saham, serta perusahaan memilikiuang kas Rp 40 miliar,hutang bank Rp 70 miliar. Di sisi lain, perusahaan mencatatkannet profit Rp 100 miliar, danCash Flow From Operation Rp 50 miliar. Dari informasi di atas, kita dapat menghitungMarket Capnya adalah Rp 500 X 1 miliar lembar =Rp 500 miliar.Apabila kita bandingkan Market Cap Rp 500 miliar ini dengan Net Profit Rp 100 miliar, maka kita akan mendapatkanPER 5X. Artinya dalam waktu 5 tahun, investasi kita sebesar Rp 500 miliar dapat dikembalikan dari hasil keuntungan Rp 100 miliar per tahun nya. Nah seperti dikemukakan di atas, ada pendapat lain bahwa ketika kita ingin mengambil alih perusahaan A, yaitu kita tidak hanya menikmati keuntungan Rp 50 miliar tadi. Namun,kita juga menanggung hutang kepada bankyang sudah berjalan sebelum kita mengambil alih perusahaan A tadi,serta menikmati kas perusahaan. Jadijika PER hanya melihat dari sudut pandang laba yang akan kita nikmati, EV melengkapi nya dengan memperhitungkan pula hutang yang ditanggung dan kas yang menjadi hak kita. Jadi nilai sebenarnya yang kita bayarkan bukan Market Cap Rp 500 miliar di atas, melainkanRp 500 miliar + Hutang Bank Rp 70 miliar – Kas 40 miliar = Rp 530 miliar. Harga Rp 530 miliar ini lah yang disebut Enterprise Value (EV), dan EV ini lah yang kemudian kita bandingkan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tunai dari kegiatan operasional nya, atau biasa kita sebut denganCFO (Cash Flow from Operations). Nah ternyata CFO Perusahaan A adalah Rp 100 miliar, sehingga investasi kita sebesar Rp 530 miliar dapat dikembalikan dari hasil operasi Rp 50 miliar, atau10.6 tahun(lebih lama dari perkiraan). Jadi di metode pertama ketika kitamembandingkan Market Cap dan Laba Perusahaan (PER Ratio), kita mendapatkan imbal hasilnya adalah5 tahun, sementara di metode kedua ketika kita membandingkanEnterprise Value dan Cash Flow from Operation, kita mendapatkan imbal hasilnya ternyata lebih lama yaitu10.6 tahun. Lalu, metode mana yang paling benar? Kembali lagi saya mengingatkan bahwa dua metode ini bukan bersifat substitusi (saling menggantikan), melainkan komplementer (saling melengkapi). Dan yang baru saja kita lakukan, adalah menilai sebuah perusahaan dari 2 sudut pandang berbeda. Sudut pandang pertama kita melihat dari sudut pandang pengembalian hasil investasi dari laba bersih yang dihasilkan, sementara sudut pandang kedua kita melihat dari sudut pandang pengembalian investasi daricash flow from operation. Jadi, kesimpulannya yaa kita cari perusahaan yang menghasilkan nilai sekecil-kecil nya dari dua perhitungan di atas. Dengan kata lain yang net profit nya positif dan bertumbuh, serta arus kas operasional nya juga positif dan bertumbuh. Hanya saja sekedar informasi, dalam praktiknya arus kas dari operasi ini bisa dikatakan lebihreal, karena arus masuk dan keluar kas semua tercatat dalam rekening koran. Sementara laba bersih terkadang bisa terlihatkurang real,tergantung dari sistem pengakuan akuntansi yang digunakan. Misalkan karena target perusahaan sudah tercapai, bisa saja pengakuan laba bersih nya dialihkan ke periode selanjutnya. Atau dalam contoh yang lebih ekstrim, bisa saja ada sebuah perusahaan yang laba bersih nya positif, namun arus kas dari operasinya negatif. Nah jadi dalam hal ini kita perlu berhati-hati juga dalam melihat laba bersih sebuah perusahaan. Semoga dengan memahamiEnterprise Valueini dapat mempertajam analisa Anda dalam menilai sebuah perusahaan. Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini. Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini.
Bulan lalu (23/smile saya bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk sharing pengalaman mengenai berinvestasi dengan metode Value Investing di IDX Channel. Yang menarik pada bagian akhir dari sesi wawancara tersebut, ada sebuah pertanyaan dari presenter yang bertanya mengenai apakah saya pernah mengalami pengalaman jatuh di pasar modal. Dalam hitungan sepersekian detik, otak saya langsung berputar danflashbackke tahun 2012, tahun di mana merupakan tahun yang amat gelap bagi saya pribadi, di mana saya sempat mengalami kejatuhan di pasar modal. Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai proses kejatuhan saya di pasar modal pada artikel ini, karena hal tersebut sudah pernah saya sharing pada artikel-artikel awal di website ini. Anda bisa membaca kembali pengalamanmengenai kejatuhan saya di pasar modal disinidan disini. Saya tidak sendirian waktu itu, ada banyak orang yang saya tahu juga menderita kerugian di pasar saham, Beberapa yang saya kenal cukup dekat bahkan sampai datang ke kantor sekuritas menuntut ganti rugi, di mana tentu saja hal tersebut tidaklah mungkin. Masih jelas dalam bayangan saya, mereka benar-benar meluapkan emosi nya sampai mengeluarkan sumpah serapah bahwa merekatidak akan pernah lagi bergulat dengan yang namanya pasar saham. Sedangkan saya? Saya hanya bisa menahan napas, melihat fakta bahwapasar saham bisa menjadi sangat kejambagi mereka yang tidak memahami resiko. Seperti kutipan dari Warren Buffett“Risk comes from not knowing what you’re doing”. Sedih ? Pastinya… Hasil kerja keras selama beberapa tahun bekerja, kemudian harus direlakan begitu saja. Akhirnya dengan berat hati, saya menjual semua saham yang saya miliki. Ironis nya, tidak semua saham tersebut bisa dijual (Ya, ada peninggalan saham yang mati di gocap an yang tidak bisa dijual bahkan hinggasaat ini). Saya jual saham-saham yang bisa saya jual pada harga berapapun waktu itu. Setelah kemudian saya hitung-hitung, sisa nya tidak sampai setengah dari modal awal berinvestasi.Nightmare! Setelah beberapa bulan “cuti” dari pasar modal, saya bertanya kepada diri sendiri, apakah masih mungkin bagi saya untuk bangkit? Setelah memulihkan kembali psikologis yang hancur lebur, saya mulai meyakinkan diri sendiri bahwa peluang tersebut masih ada. Dan inilah beberapa hal yang saya lakukan untuk mulai bangkit kembali. Pertama,“make peace with myself”. Hal pertama yang saya lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri. Mungkin terkesan dramatis, tapi percayalah hal tersebut sangatlah penting. Jika saya tidak bisa berdamai dengan diri saya sendiri mungkin saya tidak akan pernah kembali ke pasar modal. Sama seperti beberapa rekan yang sampai dengan saat ini masih trauma dan tidak pernah kembali ke pasar modal. Saya mencari tahu letak kesalahan saya, merubah style investasi saya menjadi Value Investing, dan yang terpenting adalah menghilangkan pola pikir “mengembalikan kerugian”. Yup! Jangan memiliki pola pikir mengembalikan kerugian, karena kita akan melihat hal tersebut menjadi beban di mana seolah-olah kita berada di dasar jurang dan berusaha naik ke atas. Saya merubah mindset saya bahwa saya tidak sedang mengembalikan kerugian, melainkan“memulai sesuatu yang baru”. Dengan mindset memulai sesuatu yang baru tersebut, pikiran menjadi lebih tenang, terbuka dan bisa berpikir dengan lebih jernih. Kedua, “do the extra mile”. Setelah saya berhasil berdamai dengan diri sendiri, selanjutnya saya sadar bahwa saya perlu melakukan sesuatu yang lebih untuk mendapatkan penghasilan tambahan di samping penghasilan utama dengan bekerja sebagai karyawan. Jadi yang saya lakukan adalah saya mencari peluang-peluang lain di samping penghasilan utama saya sebagai karyawan. Salah satunya, saya bersama dengan salah seorang sahabat waktu itu membuat usaha sampingan yaitu mengimpor barang-barang yang cukup murah darie-commerceluar untuk kemudian dijual kembali di Indonesia. Saya juga sempat memberikanles private, membuka tempat makan di sebuah pusat grosir di Jakarta, dll. Intinya apapun yang bisa saya lakukan untuk menambah penghasilan, saya bersedia lakukan. Tidak hanya itu, saya mulai membentuk kebiasaan membaca buku-buku, terutama buku-buku tentang investasi. Ketiga,“tighten the seatbelt”. Tidak hanya berusaha memperoleh penghasilan tambahan, saya juga berupaya menekan pengeluaran. Jika sebelumnya saya tidak pernah mencatat pengeluaran, sejak saat itu saya selalu mencatat pengeluaran. Saya juga seringkali menolak secara halus ajakan hangout rekan kantor sepulang kerja, membawa bekal makan siang dari rumah, sampai naik transportasi umum untuk menghemat pengeluaran. Weekend? Lebih banyak saya habiskan waktu untuk baca buku, kalau keluar pun yaa hanya sekali-sekali. Kemudian, yang biasanya saya hanya mengalokasikan 30 – 40% penghasilan untuk dibelikan saham, sejak saat itu saya ubah dengan mengalokasikan 60 – 70% penghasilan untuk dibelikan saham. Apakah mudah untuk bangkit kembali? Tentu saja tidak.. Namun seperti hal nya lebih berat mendorong mobil yang berhenti ketimbang merubah arah kemudi mobil yang berjalan.. Saya terus mempertajam pemahaman mengenai Value Investing dengan mengikuti beberapa pelatihan dan membaca lebih banyak buku. Semakin membaca lebih banyak buku, semakin saya menyadari bahwa saya banyak tidak tahunya (Padahal sebelumnya merasa jagoan saham paling hebat sedunia).Hasilnya? Perlahan tapi pasti, dana kelolaan berinvestasi terus bertumbuh setiap bulan nya hingga saat ini. Tidak ada hal hebat apapun yang saya lakukan, hanya hal-hal sederhana yang saya lakukan secara konsisten. Terakhir, izinkan saya untuk menutup artikel ini dengan sebuah kisah nyata, yang menginspirasi dan turut membuat saya kembali bangkit. Kisah nyata tersebut adalah kisah tentang Lim Tow Yong, seorang pengusaha yang sangat sukses di tahun 1960-an dan 1970-an. Saya mengetahui kisah tersebut dari buku“Winning The Game of Life (2012)” by Adam Khoo,halaman 155. Berikut saya terjemahkan penggalan kisahnya untuk Anda : “Lim Tow Yong memiliki sebuah perusahaan bernama “Emporium” yang merupakan perusahaan retail terbesar di Singapura selama 2 dekade (1960-an sampai 1970-an). Pada tahun 1980-an, Ia mengalami serangkaian kejadian yang sulit. Singapura dihantam resesi yang parah dan berkepanjangan. Pesaing-pesaing asing seperti Courts, Harvey Norman, Giant, dan Carrefour masuk ke dalam industri tersebut. Akibat tidak ada inovasi, bisnis nya terjerembap dan usahanya kolaps. Pada saat mengalami kebangkrutan,usianya 72 tahun dengan hutang $80 juta! Kebanyakan orang yang berada dalam situasi itu mungkin akan berpikir, “Habislah saya! Saya hancur! Saya terlalu tua untuk dapat mengembalikan semua itu !”. Mereka akan menyesali nasib mereka dan berpikir tidak ada hal lain yang dapat dilakukan lagi. Namun Lim tahu bahwa kejadian itu tidak menentukan hasil yang akan diperolehnya. Ia tahu bahwa responsnya lah yang akan menentukan nasib nya kemudian. Bukannya berpikir tentang usianya yang sudah tua, ia berfokus dengan apa yang masih dimilikinya : teman-teman, pengetahuan, dan pengalamannya. Bukannya memikirkan apa yang telah hilang, ia berfokus untukmemulai sesuatu yang baru. Dengan gairah, antusiasme, dan tekad dalam dirinya, ia pergi ke Brunei dan Malaysia, dan memulai sebuah bisnis retail yang baru di sana. Dengan uang yang diperolehnya dari pemberi pinjaman, investor baru, dan rekan penyertaan modal, ia membangun 17 toko dan supermarket dalam 10 tahun berikutnya.Pada usia 82 tahun, ia kembali memiliki kekayaan $ 4.2 juta!” Kisah Nyata Lim Tow Yong Membaca kisah tentang Lim Tow Yong yang mampu bangkit dari keterpurukan dengan hutang $ 80 juta pada usia 72 tahun, menampar muka saya agar bisa segera bangkit ! Dan berkat Tuhan yang luar biasa, saya pun bisa kembali bangkit. Yang ingin saya bagikan kepada para pembaca dalam artikel ini adalah,selalu ada kemungkinan bagi kita untuk bangkit seburuk apapun keadaannya. Semoga dengan apa yang saya sharing pada artikel ini, setidaknya bisa menunjukkan bahwaharapan selalu ada. Jika Anda mengetahui ada rekan di luar sana yang membutuhkan semangat untuk bangkit dari keterpurukan, baik itu tentang di pasar modal ataupun di luar pasar modal, Anda bisa menceritakan pengalaman saya di atas, ataupun kisah Lim Tow Yong tadi. Dan ketahuilah bahwa mereka tidak sendirian…
Pada artikel sebelumnya, kita sempat membahas mengenai disparitasinformasi yang mempengaruhi kualitas investasi atau trading kita. Jika Anda belum sempat membaca nya, bisa baca terlebih dahulu disini. Nah sehubungan dengan disparitasinformasi tersebut, ada satu efek yang seringkali ditimbulkan oleh media, yang biasa disebut denganPriming Effect.Apa yang dimaksud dengan Priming Effect ? Definisi Priming Effect menurut Wikipedia adalah suatu keadaan di mana sebuah stimulus atau kejadian tertentumempengaruhi persepsi kitaterhadap stimulus atau kejadian kita berikutnya.(Source :[url=https://en.wikipedia.org/wiki/Priming_(psychology)]https://en.wikipedia.org/wiki/Priming_(psychology)[/url]). Misalkan ketika kita baru saja selesai menonton film hantu, tiba-tiba saja membuat kita jadi takut ke kamar mandi sendirian (karena stimulus yang dihasilkan dari film hantu tersebut). Padahal, sebelumnya kita berani-berani saja kalau ke kamar mandi sendirian. Contoh lainnya, ketika kita membaca koran tentang seseorang yang dirampok dan kemudian dibunuh saat mengambil uang di ATM, membuat kita menjadi lebih waspada ketika mengambil uang di ATM. Dalam bisnis,Priming Effectbanyak dimanfaatkan oleh pihak pengiklan agarpesan yang ingin disampaikan dalam iklan dapat efektif masuk ke alam bawah sadar konsumen, yaitu dengan cara mengasosiasikan produk nya dengan suatu karakter. Misalkan, apakah Anda memperhatikan bahwaiklan produk makanan ringan banyak beredar di sela-sela acara kartun di TV? Dan banyak iklan produk makanan ringan menggunakan karakter kartun favorit untuk menstimulasi anak-anak membeli produk makanan ringan tersebut. Secara tidak disadari,Priming Effectini juga banyak kita jumpai dalam keseharian kitaberinvestasi atau trading. Informasi yang sama dan terus-menerus membuat kita secara tidak sadar menjadi terpengaruh dan cenderung berpikir bahwa informasi tersebut adalah benar (padahal belum tentu demikian). Misalkan : teman kita bercerita bahwa toko nya sedang sepi, kemudian ketika baca koran diberitakan saham regional berguguran, demikian pulaketika mendengarkan radio Anda mendengar ekonomi sedang lesu dibayangi melemahnya daya beli masyarakat, dan akhirnya secara tidak langsung, rangkaian stimulus negatif tersebut membuat kita menjadi berpikir dan percaya bahwa harga-harga saham akan turun. Dewasa iniada pula beberapa berita yang sengaja dipublish untuk mempengaruhi perilaku pasar, atau istilah yang sering kita dengar adalahmenggoreng berita. Di mana berita buruk dipublish agar publik ramai-ramai menjual saham tersebut, atau sebaliknya berita baik dipublish agar publik ramai-ramai membeli saham tersebut.Actually,kalau anda amati, banyak pemberitaan yang menggunakan teknik seperti ini, dan alhasil cara media mengemas suatu berita pun dapat mempengaruhi opini yang berkembang di masyarakat terkait sebuah saham, yang menyebabkan harga saham nya naik atau pun turun. Contohnya ketika di bulan November 2016 Donald Trump memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat,muncul berita yang “mengingatkan” masyarakat bahwa Donald Trump pernah memiliki hubungan bisnis dengan pengusaha tanah air Hary Tanoe, dan alhasil saham MNC Investama (BHIT), yang merupakan perusahaan investasi milik Hary Tanoe, langsung terbang saat itu. Namun tak lama setelah beritanya mulai dilupakan, maka saham tersebut akankembali lagi ke posisi harganya semula. Jadi, yang ingin saya coba sampaikan di sini adalahjangan membeli saham hanya karena Anda terbuai dengan berita. Lalu, bagaimana cara untuk mengurangipriming effectini dalam berinvestasi atau trading ? [li]Kurangi memasukkan berita yang bersifat RUMOR atau OPINI, atau berita lainnya yang kurang relevan kepada otak Anda.[/li][li]Melakukan trading atau investasi secara mandiri tanpa terlalu dipengaruhi olehnoiseyang tidak perlu[/li][li]Jadikan laporan keuangan yang resmi dirilis oleh perusahaan (atau dari website IDX) sebagai sumber informasi utama bagi pengambilan keputusan jual dan beli saham.[/li][li]Pilihlah saham-saham yang fundamental nya bagus, sehingga jika penurunan karena berita itu terjadi, kita tahu bahwa penurunan saham itu adalahopportunity, sehingga kitatidak perlu ikutan panik.[/li] So, sekarang Anda tahu bahwaPriming Effectini bisa membuat kualitas trading atau investasi Anda menjadi kurang baik. Dan sekarang Anda juga sudah tahu bagaimana mengantisipasinya. Buatlah sistem trading atau investasi Anda sendiri, dan konsisten untuk menjalankan nya, tanpa harus terpengaruh olehnoisedi sekitar Anda. Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini. Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini.
Beberapa waktu lalu (tepat nya tanggal 12 Sep 2017), salah satu perusahaan BUMN pelat merah, Waskita Karya (WSKT) terkena berita negatif terkait gagalnya divestasi 10 ruas jalan tol, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi arus kas WSKT terhadap pembiayaan proyek-proyek pembangunan di 2018 dan 2019, seperti proyek pembangunan jalan tol sepanjang 1.250 km, proyek transmisi 500 kv sepanjang 700 km, dan juga proyek LRT Palembang. Tak pelak, harga saham WSKT kemudian terjun 11% dari 2100 an ke 1900 an (kemudian berlanjut ke 1800 an beberapa hari kemudian). Investor yang melihat gagal nya divestasi jalan tol ini melihatnya sebagai sebuahbad news, yang kemudian ramai-ramai menjual sahamnya yang membuat harga saham WSKT turun lebih dalam lagi. Pergerakan saham WSKT 6 bulan terakhir. Perhatikan penurunan harga pada Sep 2017 Pertanyaannya sudah tentu,apakah benar gagal nya divestasi tol ini menjadi sebuah bencana?Kalau kita lihat dalam jangka pendek, maka jawabannya adalah YA! Gagal nya divestasi tol ini menjadi sebuah bencana. Namun, jika kita melihat dalam jangka yang lebih panjang, maka jawabannya adalah TIDAK! Berikut adalah kutipan dari apa yang disampaikan oleh Dirut WSKT (M. Choliq) : “Dengan tertundanya divestasi tadi terkendala atau tidak? Jawabannya sangat tidak. Jangankan tahun ini, tahun depanpun seandainya tidak ada divestasi kita tidak menghadapi kendala dana,” ujar Direktur Utama Waskita Karya, M. Choliq di Hotel Fairmount, Jakarta, Senin (18/9/2017)– OKEZONE (18 Sep 2017) Bagaimana mungkin gagalnya divestasi tol WSKT ini tidak menjadi kendala? Okay, pertama kita perlu tahu terlebih dahulu berapa kebutuhan dana WSKT untuk membiayai proyeknya. Kebutuhan WSKT untuk membiayai proyek-proyek adalah Rp 120 triliun. Rencananya, Rp 80 triliun akan dicari melalui pinjaman dan Rp 40 triliun akan diambil dari ekuitas. Dari rencana Rp 80 triliun,so fartotal liabilitas jangka panjang perusahaan saat ini adalah sekitar Rp 15 triliun. WSKT juga diberitakan baru memperoleh fasilitas kredit dari 9 bank asing senilai Rp 5 triliun dengan tenor 5 tahun. Jadi dalam hal ini, manajemen masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Di sisi lain, dari rencana Rp 40 triliun yang diambil dari ekuitas, saat ini ekuitas WSKT hanya Rp 22 triliun. Artinya perusahaan masih butuh tambahan ekuitas sebesar Rp 18 triliun. Katakanlah divestasi tol tadi berhasil, maka dana yang didapatkan oleh WSKT adalah sekitar Rp 20 triliun atausatu pekerjaan rumah sudah selesai, namun bukan berarti tidak ada jalan lain, bukan? Yang saya ingin garisbawahi di sini adalahgagalnya divestasi ini bukanlahmain issueperusahaan.Lagipula di awal 2018 nanti, perusahaan bisa memperoleh pembayaran dari proyekturnkeyyang telah selesai sebesar Rp 30 triliun. Jadi, perusahaan masih memilikiwaktu yang cukup untuk tetap beroperasisambil mencari pendanaan untuk menutupi kekurangan tadi. Setelah gagalnya (saya sebenarnya lebih suka menyebutnya TERTUNDA ketimbang gagal) divestasi jalan tol ini,So what’s next? Pertama, perusahaan masih tetap akan melanjutkan skema divestasi namun kali ini denganmekanisme yang berbeda. Jika sebelumnya divestasi berupa skema paketan (bundling), namun kali ini divestasi dilakukan denganskemaone on one. Nah mekanismeone on oneini ditargetkan selesai paling lambat akhir semester I 2018. Kedua, kalau sampai akhir semester I 2018 skema divestasi jalan tolone on oneini tidak juga berhasil, lalu bagaimana? Nah disinilah menariknya. Jika skema divestasi jalan tol ini tidak berhasil, maka perusahaan sudah menyiapkan skema lainnya, yaituInitial Public Offering (IPO). Untuk IPO ini pun WSKT memiliki 2 skema. Pertama, IPO dilakukan sendiri. Kedua, IPO Bersama dengan Jasa Marga (JSMR). Dengan skema IPO sendiri, WSKT akan melepas 40% kepemilikannya di PT Waskita Toll Road untuk dilepas ke public. Sementara dengan skema IPO dengan Jasa Marga, rencananya WSKT akan membentuk anak usaha baru dengan Jasa Marga. Hanya saja, dalam hal ini WSKT akan menjadi minoritas dan JSMR yang akan menjadi mayoritas. So, di mana peluang nya?Dengan harga saham WSKT jatuh ke 1900 an akibatbad newstadi, bisa jadi itu merupakangood newsuntuk value investor. Perhatikan, di saat harga saham WSKT jatuh ke 1900 an, maka PER nya menjadi hanya 10X. Berdasarkan historical 2011 – 2016, WSKT lebih banyak diperdagangkan di PER 15X – 30X, dengan kata lain kita hampir tidak pernah mendapatkan WSKT di PER 10X. Jadi dalam hal ini, sepertinya kita baru mendapatkan satu saham dengan tingkat CAGR Net Profit tertinggi di BEI (yup rata-rata pertumbuhan laba bersih WSKT mencapai 50% per tahun) di harga murah! Bahkan, termurah apabila dibandingkan dengan sektor konstruksi lainnya (WIKA 16.4X, PTPP 12.7X, ADHI 27.7X) Lalu, kapan kita bisa memetik hasil investasi di WSKT? Ingat bahwa secara historical WSKT ini lebih banyak diperdagangkan di PER 15X – 30X (kita ambil PER 10X – 15X sebagai asumsi konservatif). Ingat juga bahwa secara historical rata-rata pertumbuhan laba bersih WSKT naik di atas 50% per tahun. Dengan asumsi bahwa laba bersih perusahaan di tahun 2018 juga akan tumbuh 50%, maka EPS WSKT yang di tahun 2017 ini sebesar Rp 189 per lembar saham, makaEPS akan menjadi Rp 280 per lembar saham di tahun 2018.Maka, apabila dua asumsi di atas valid, maka harga saham nya akan menjadiRp 280 (EPS) X 10 s/d 15 (PER) = Rp 2800 – Rp 4200, ataupotensi upside 50% – 120% dalam waktu 1 tahun! Kalau minggu depan, udah naik belum Pak harga saham WSKT? Wah kalau pertanyaannya seperti itu, jangankan saya, Dirut WSKT pun sepertinya gak bisa menjawab.. By : Rivan Kurniawan Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini. Monthly Investing Plan October2017akan segera terbit, Anda bisa berlangganan disini. JadwalWorkshop Value Investing Roadshow : [list][li]28 Oktober 2017 : Bandung[/li][li]11 November 2017 : Jakarta[/li][li]25 November 2017 : Surabaya[/li][/list] Pendaftaran dan informasi lebih lanjut : SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan) atau Email : rivan.investing@gmail.com
26 Sep, 2017 01:24
Per tahun 2017 ini, sudah sekitar 25 perusahaan yang mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia. Bahkan cukup banyak perusahaan yang akan IPO di semester II 2017 ini. Salah satu IPO yang menarik dan cukup banyak dibicarakan oleh kalangan investor adalahGMF AeroAisa, di mana GMF AeroAsia dijadwalkan akan melakukan IPO pada tanggal 10 Oktober 2017. GMF AeroAsia diperkirakan akan melepas 20% – 30% dari seluruh total saham perusahaan. Dalam artikel ini, saya akan coba membahas sedikit mengenai GMF AeroAsia, dan bagaimana prospek IPO ke depannya. Pertama kali dibentuk sejak 1949, GMF berawal dari divisiMaintenance Engineering(ME) Garuda Indonesia. Pada tahun 1998 divisi ME ini berubah menjadi Strategic Business Unit Garuda Maintenance – Facility (SBU – GMF) yang menangani seluruh aktivitas perawatan armada Garuda Indonesia, sehingga Garuda Indonesia lebih fokus kepada core business nya, yaitu operator penerbangan. Barulah pada tahun 2002, Garuda Indonesia melakukanspin-offterhadap SBU – GMF sehingga resmi menjadi anak usaha dengan namaPT Garuda Maintenance Facility AeroAsia. Struktur Organisasi Garuda Indonesia Group Perusahaan bergerak pada jasa perawatan, reparasi, dan overhaul pesawat terbang. GMF memiliki 5 jasa yang ditawarkan : [li]Line Maintenance.[/li] Merupakan perawatan pesawat seperti Pre-Flight Check, Transit Check, Daily Check, serta perawatan lainnya yang bertujuan mengurangi perawatan yang tidak terjadwal dan keterlambatan teknis. [li]Base Maintenance[/li] Merupakan jenis perawatan heavy check rutin, modifikasi besar, pengecatan eksterior, hingga finishing dekoratif. Untuk perawatan ini dilakukan di hanggar besar di mana GMF saat ini memiliki fasilitas tiga hangar [li]Component Services[/li] Merupakan jasa repair dan overhaul untuk instrument pesawat, kontrol elektronik, radar, navigasi, flight data recorder, dan gyros. [li]Engine Maintenance[/li] Merupakan perawatan mesin pesawat dan Auxiliary Power Unit (APU) yang dilakukan di Engine Workshop [li]Cabin Maintenance[/li] Merupakan jasa perawatan kabin pesawat, termasuk di dalamnya in-flight entertainment, yang dilakukan saat Pre-Flight Check, Transit Check, Daily Check, dan Monthly Inspection. Saat ini, 65% dari revenue GMF didapatkan dari induk usahanya Garuda Indonesia, sementara 35% sisanya dari Non Garuda Indonesia Group. Perusahaan mentargetkan bahwa di tahun 2021, rasio nya akan berbalik menjadi 65% revenue didapatkan dari Non-Garuda Indonesia Group. Saat ini, pangsa pasar GMF baru sebesar 32% dan belum menyentuh pangsa pasar pesawat asing. Oleh karena itu wajar saja apabila perusahaan memiliki target untuk mencapai pendapatan US$1 miliar di tahun 2021 nanti. Kinerja GMF AeroAsia selama 6 tahun terakhir cukup baik, terlihat daripertumbuhan laba bersih dan pendapatan yang cukup konsistenselama 2011 – 2016. Sebagai gambaran, di tahun 2011, perusahaan membukukan laba bersih US$ 7.3 juta dan di tahun 2016, perusahaan membukukanlaba bersih US$ 57.7 juta. Kenaikan laba bersih ini juga disumbangkan darikenaikan pendapatan usahajuga bertumbuh dari US$ 185.8 juta menjadiUS$ 388.6 juta. Dari kinerja pendapatan dan laba bersih tersebut, kita juga dapat melihat bahwa perusahaan memilikiNet Profit Margin yang meningkat, dari 3.9% di tahun 2011 menjadi14.86% di tahun 2016.ROE juga meningkatdari 12.4% di 2011 menjadi33.5% di 2016. Hanya saja perusahaan memilikiDebt to Equty Ratio (DER)1.56X, di mana per posisi terakhir, perusahaan memiliki hutang US$ 270.0 juta berbanding ekuitas US$ 172.5 juta. Jika kita bicara mengenai prospek kinerja perusahaan, bisa dikatakan industri penerbangan dan MRO juga masih memiliki prospek yang sangat baik. Aspek perawatan pesawat menjadi kebutuhan mendasar dan memegang peranan penting bagi maskapai penerbangan dalam menjaga kualitas operasional dan keamanan pesawat komersial. Industri penerbangan global sendiri ke depan diprediksi meningkat 4.8% per tahun. However, kinerja GMF yang cemerlang iniberbanding terbalik dengan induk usahanya, Garuda Indonesia, di mana seperti kita ketahui, GIAA mencatat kerugian sebesar US$ 283.8 juta (setara Rp 3.8 triliun) pada 1H17. Berdasarkan pengalaman, kinerja saham anak usaha turut dipengaruhi oleh kinerja saham induk usaha, faktor ini lah yang kemungkinanbisa menjadi pemberatbagi GMF AeroAsia nantinya. Lewat IPO GMF AeroAsia ini pun Garuda Indonesia juga berharap bisa memperkecil kerugian sekaligus juga meningkatkan nilai ekuitasnya. Dalam IPO nya nanti, GMF menawarkan 30% sahamnya (setara 10.89 miliar lembar saham) pada harga Rp 390 – 510 per lembar saham. Artinya, dari proses IPO ini diperkirakan GMF akan mendapatkandana segar sekitar Rp 4.2 triliun – Rp 5.5 triliun.Dana ini bisa dibilang cukup besar. Jika terserap maksimal, bisa dikatakan IPO GMF akan menjadiIPO dengan nilai emiten terbesar sepanjang tahun 2017. Sekedar gambaran, angka ini juga setara dengan dana yang diterima oleh WSBP saat IPO tahun 2016 silam (Rp 5.07 triliun). Menurut keterangan saatpublic expose, sebanyak 60% dari hasil IPO ini nantinya akan digunakan untuk investasi peningkatan kapasitas diline maintenance, 25% untuk kebutuhan modal kerja, dan 15% untuk refinancing. Lalu apakah harga Rp 390 – 510 ini tergolong murah atau mahal? Dengan asumsi target laba perusahaan sebesar US 69juta (Rp 920 miliar) di tahun 2017 ini tercapai,dan jumlah saham beredar GMF saat ini adalah 36.3 miliar lembar saham. Maka, kita bisa dapatkanlaba bersih per lembar saham GMFadalah Rp 920miliar : 36.3 miliar lembar saham, yaitu sekitarRp 25.3 per lembar saham.Demikian pula, jumlah ekuitas yang saat ini sebesar US$ 172.5 juta (setara Rp 2.3 triliun), ditambah dana IPO Rp 4.2 triliun – Rp 5.5 triliun, maka ekuitas GMF akan menjadi Rp 6.5 triliun – Rp 7.8 triliun setelah IPO (kita pakaiRp 7.1 triliunsebagai nilai tengah). Maka, kita juga bisa dapatkannilai buku (book value) per lembar saham GMF termasuk dana IPOadalah Rp 7.1 triliun : 36.3 miliar lembar saham, yaitu sekitarRp 195.6 per lembar saham. Dengan demikian,Price to Earnings Ratio (PER)GMFadalah15.4X –20.1XdenganPrice to Book Value (PBV) GMFadalah1.9 X –2.6X.Untuk ukuran perusahaan dengan ROE di atas 30%, maka valuasinya masih bisa dibilang cukup menarik. Meskipun,in my personal opinion, dengan kondisi GIAA yang rapor nya masih merah seharusnya GMF bisa memberikan diskon yang lebih besar lagi untuk menarik minat yang lebih besar. Secara overall, IPO GMF sejatinya cukup menarik karena setidaknya kinerja GMF AeroAsia ini lebih meyakinkan ketimbang induk usahanya PT Garuda Indonesia (GIAA), selain di satusisi jenis usahanya yang lebihrisk-moderateketimbang induk usahanya, di sisi lain jenis usahanya juga tidak terlalu memakan biaya yang terlalu besar. Hal ini dapat terlihat dariGross Profit Margin sebesar 77.5%,Operating Profit Margin sebesar 22.5%, danNet Profit Margin sebesar 14.9%. Di sisi lain, GMF juga cukup sehat dengan rasio likuiditas yang cukup baik (Current Ratio 2.24X). Jadi kesimpulannya, apakah IPO GMF ini layak dibeli atau tidak? Kalau itu, saya kembalikan kepada Anda masing-masing. Saya pun tidak tahu apakah harga sahamnya akan terbang di hari-hari pertama seperti saham-saham yang IPO di semester 1 2017 lalu. Namun yang jelas, saya melihat setidaknya perusahaan memiliki fundamental yang cukup bagus dan resiko yang lebih rendah dalam berinvestasi. Semoga dengan beberapa penjelasan di atas bisa membantu Anda untuk mengambil keputusan terkait beli atau tidaknya IPO GMF ini. Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini. Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini.
Anda pernah mendengar kisahtentang Dr Jekyll dan Mr Hyde? Kisah yang diangkat dari novel karya Louis Stevenson tahun 1886 yang berjudulThe Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde.Novelinimengisahkan tentang sosok Dr Jekyll, seorang dokter terhormat yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar. Dalam sebuah kesempatan, ada sebuah kejanggalan di mana Dr Jekyll menitipkan sebuah surat wasiat kepada Mr. Utterson (pengacara Dr Jekyll) yang berbunyi:“Jika saya (Dr Jekyll) meninggal ataupun dinyatakan menghilang, maka semua kekayaan akan diwariskan kepada Mr Hyde”.Mr Utterson yang cukup lama mengenal Dr Jekyll merasa aneh karena ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Mr Hyde. Setelah diselidiki, ternyata Mr Hyde adalah seorang yang misterius dan kejam, bahkan juga seorang pembunuh. Pertanyaannya tentu, mengapa Dr Jekyll mau mewariskan hartanya kepada seorang pembunuh? Di akhir cerita baru terungkap bahwa ternyataMr Hyde adalah transformasi dari Dr Jekyll, di mana sosok Mr Hyde akan muncul apabila Dr Jekyll meminum sebuah ramuan. Nilai moril yang dapat kita petik dari kisahThe Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hydeini mengingatkan bahwa setiap dari kita sebagai manusia memiliki dua sisi : sisi baik dan sisi buruk.Sisi baik yang disebut Mr Rational, dan sisi buruk yang disebut Mr Emotional.Hal yang menarik adalah Mr Hyde hadir setiap kali Dr Jekyll menghilang, keduanya tidak bisa tampil di saat yang bersamaan. Saat sosok Mr Jekyll (Mr Rational) muncul, sosok Mr Hyde (Mr Emotional) tidak terlihat, dan demikian pula sebaliknya. Dalam kondisi normal di kehidupan kita sehari-hari, sosok Mr Rational yang biasanya akan muncul dan mendominasi setiap keputusan kita. Misalkan, kita tahu bahwa berat badan yang berlebih akan berbahaya bagi kesehatan, dan karenanya Mr Rational akan mengajak kita untuk mengontrol pola makan misalkan dengan tidak makan secara berlebihan. Namun, ketika kita mulai merasakan lapar, Mr Emotional mulai muncul dan berbisik : “kenapa harus diet? Mending makan yang enak-enak. Tuh lihat di depan ada tukang bakso kesukaan kamu”. Apabila kita membiarkan Mr Emotional yang menang, maka kita akan mengabaikan tekad untuk mengontrol makan tadi. Dua sisi ini (Mr Rational dan Mr Emotional) sebenarnya jugasangat relevan ketika kita berinvestasi di pasar modal. Agar lebih jelas mari kita berikan sebuah contoh. Misalkan, ketika kita menganalisa sebuah saham dengan metode value investing, kita yakin bahwa saham tersebut akan memberikan keuntungan karena fundamental nya bagus dan harganyaundervalued. Pada saat kita menganalisa tadi, sebenarnya Mr Rational yang muncul dan mendominasi analisa saham tadi. Awalnya harga saham bergerak naik memberikanfloatingprofit5%, namun minggu-minggu berikutnya ternyata harga saham berbalik arah dan malahan memberikanfloating loss5%.Bagaimana reaksi kita?Sebagai manusia normal, kita akan merasa cemas, was-was, bahkan merasa “terancam”. Dalam keadaan seperti ini, Mr Emotional mulai muncul dan mendominasi. Mr Emotional akan mengirimkan pesan kepada otak kita : “bagaimana kalau harga sahamnya terus turun? Nanti malah kamu makin rugi lhoo..”. Padahal di awal tadi jelas-jelas kita memutuskan untuk membeli sebuah saham setelah melakukan analisa. Pertanyaannya,sanggupkah kita menjaga agar Mr Emotional tidak mengalahkan Mr Rational? Ada pepatah di bursa saham yang mengatakan :markets are motivated by two emotions : greed and fear.Basically, keputusan berinvestasi yang didominasi olehgreed and fearadalah kurang bijaksana. Namun sebaliknya, tidak mungkin juga kita berinvestasi tanpa melibatkangreed and fearsama sekali, karena pasar saham berisi sekumpulan manusia dan bukan robot. Namun, yang ingin saya sampaikan di sini adalah : Kita harus melatih agarMr Rational tetap mendominasi keputusan investasi Anda, dan jangan biarkan Mr Emotional mendominasi keputusan investasi kita. Mengapa? Karena emosi dapat dengan mudah nya mengubah skenario berinvestasi. Dalam kasus di atas, apabila kita membiarkanMr Emotionalmenguasai keputusan investasi kita, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kita akan menjual saham tersebut (padahal mungkin penurunan saham dikarenakan sentiment negative sesaat). Bayangkan apabila ribuan atau lebih orang berpikiran sama, maka harga saham akan jatuh makin dalam atau inilah biasa disebutpanic selling. Sama hal nya dengan contoh pertama, apabila kita membiarkan Mr Emotional mendominasi, maka kita akan memutuskan untuk mengabaikan pola makan yang sehat dan meneruskan pola makan yang tidak sehat sehingga berbahaya bagi kesehatan. Lalu bagaimana cara mengendalikan Mr Emotional?Ada beberapa cara, yangpertamaadalah kita menerapkan set of rules dalam trading atau berinvestasi. Misalkan, tetapkan batas maksimal loss yang ditoleransi adalah 10%, atau tetapkan position sizing dalam sebuah saham maksimal 20% dari porto, dll. Aturan-aturan ini yang akan menjaga kita dari Mr Emotional. Dalam kasus di atas, jika akhirnya kita memutuskan untukcut loss, sebaiknya karena faktor telah mencapai stop loss yang kita tetapkan, bukan karena faktor emosional tadi. Kedua,kendalikan informasi masuk yang dapat membangkitkan emosional Anda. Misalkan, hindari membaca berita-berita yang masih bersifat rumor dan belum pasti, hindari membuka software online trading Anda terlalu sering, atau hindari membaca berlebihan grup-grup saham yang justru bisa membuat analisa anda menjadi bias karena terpengaruh opini dari member lain yang bilang bahwa pilihan saham Anda keliru, dll. Terakhir,ada cara ampuh yang bisa ditempuh buat investor yang masih sering tergoda untuk bertransaksi terlalu sering. Anda dapat membuat dua account yang terpisah. Satu account yang berisikan dana mayoritas untuk investasi denganbuy-and-hold strategy, account kedua berisi dana minoritas untuk trading (buy and sell). Account kedua ini bisa digunakan untuk memuaskan sisi Mr Emotional kita tadi. Namun, jangan mengotak-ngatik account yang pertama. Lalu, coba bandingkan di akhir tahun kinerja portfolio antara account pertama dan account kedua. Dari situ, Anda bisa menilai diri Anda sendiri lebih cocok dengan gaya investasibuy and hold, atau gaya investasibuy and sell. Kesimpulannya, sangatlah penting bagi kita seorang investor ataupun trader untuk memahami bahwa setiap dari kita memiliki Mr Rational dan Mr Emotional, dan itu adalah hal yang sangat MANUSIAWI karena kita adalah manusia biasa. Namun tugas kita adalah melatih agar Mr Rational tetap mendominasi keputusan dalam berinvestasi, dan jangan biarkan Mr Emotional mengambil alih. Semoga dengan memahami hal ini, kita dapat mengingatkan diri kita agar lebih mengedepankan rasionalitas dalam berinvestasi. By : Rivan Kurniawan Info : Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlanggananCheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik disini.

Comments