Poker's Profile

Your Profile Pic

poker


Birth Date : -

Website : -

Point : 0

About me
-

Articles

No article yet.

Topics

Topic Posts Views Last post

Posts

01 Oct, 2008 08:25
THE NINE MOST TERRIFYING WORDS IN THE ENGLISH LANGUAGE ARE "I AM VIERJAMAL AND I AM HERE TO TEACH" HOO….HOOOOOOO.HIKS
Resesi Ekonomi Amerika = Great Revival?\r\n\r\n\r\nResesi ekonomi kembali menerpa Amerika Serikat. Bank investasi Amerika, Lehman Brothers, dikabarkan ambruk. Hal ini memicu penurunan indeks harga saham merosot di pasar keuangan dunia. Tidak berhenti disitu, AIG (American International Group), salah satu grub asuransi terbesar didunia ini ikut terpukul dengan ambruknya Lehman Brother.\r\n\r\nBank sentral Amerika, the Fed, mengumumkan paket penyelamatan 85 miliar dollar untuk perusahaan asuransi AIG demi menyelamatkannya dari kebangkrutan. AIG akan memperoleh pinjaman $85 juta, dengan penukar 80 persen saham publik di perusahaan tersebut. Hal ini sungguh mengejutkan karena AIG dan Lehman Brothers dikenal sebagai raksasa ekonomi di Amerika.\r\n\r\nKrisis yang memukul Amerika ini, berdampak kepada ekonomi di seluruh dunia. Hal ini terlihat dari lesunya perdagangan di bursa saham.\r\n\r\nTerpukulnya ekonomi Amerika dan hancurnya perdagangan bursa saham dunia ini bukan pertama kali yang terjadi. CBN.com memaparkan sebuah fakta yang mengejutkan mengenai ambruknya ekonomi negara paman Sam yang terjadi 150 tahun lalu. Percayakah Anda, bahwa ditahun Amerika mengalami kehancuran ekonomi, saat itulah di Amerika mengalami yang namanya America''s last Great Awakening (Kebangunan rohani terbesar yang pernah terjadi di Amerika).\r\n\r\nSaat itu adalah tahun 1857, dimana Amerika perdagangan saham di Amerika tengah berada dalam kehancuran, hal itu membuat seorang bisnisman berteriak kepada Tuhan dan bertanya apa yang harus dibuatnya, sementara banyak pengusaha waktu itu yang bunuh diri ataupun menjadi gila karena kehilangan harapan.\r\n\r\n"Jeremiah Lanphier pada tahun itu, ditengah kehancuran keuangan berkata kepada Tuhan, ‘Tuhan, apa yang Engkau mau aku lakukan," cerita pendeta Bruce Berliner, penulis dari The Wall Street Revival.\r\n\r\nPada 150 tahun lalu, di jalan William dan Fulton dekat Manhattan, sebuah perempatan yang sangat padat karena dekat dengan Wall Street, New York. Disana dulu ada sebuah gereja kecil Reformed Belanda, dimana Jeremiah mulai berteriak kepada Tuhan dengan memulai sebuah persekutuan doa kecil di siang hari. Tetapi yang tak pernah disangka, pertemuan doa itu menjadi sebuah momentum yang akan membawa keselamatan kepada sekitar 2 juta orang.\r\n\r\n"Jeremiah bertanya pada Tuhan, ‘Tuhan apa yang Engkau mau aku lakukan?'' dan Tuhan menjawabnya , ‘Berdoa''. Maka dia memulai pertemuan doanya pada hari Rabu, 23 September 1857."\r\n\r\nSatu setengah jam pertama dia berdoa seorang diri. Namun kemudian ada enam orang datang. Pada minggu depannya hadir 14 orang. Dan setiap minggunya yang hadir dalam doa siang itu semakin bertambah, bahkan tak tertampung lagi.\r\n\r\n"Dan dalam beberapa bulan, di New York lebih dari 10.000 orang di selamat kan setiap minggunya," jelas pendeta Bruce.\r\n\r\nPada setiap siang di seluruh New York, di setiap gedung selalu ada orang yang berdoa. Di hotel, di bioskop, apartemen, kantor, dan setiap tempat yang memungkinkan selalu dipenuhi dengan orang-orang yang berdoa. Kemudian kegerakan ini menyebar ke seluruh Amerika.\r\n\r\n"Bayangkan, saat itu ada 30 juta orang yang hidup di Amerika. Satu juta diantaranya diselamatkan karena pertemuan doa waktu itu." Kata Pendeta Ted Lavigne dari the Fulton Street Revival.\r\n\r\n"Uniknya kebangunan rohani saat itu adalah tidak ada campur tangan manusia saat itu. Hal itu benar-benar hanya karena hadirat Tuhan. Tidak ada kotbah sama sekali. Orang-orang hanya datang untuk berdoa," tambahnya.\r\n\r\nSetelah itu, kebangunan rohani ini menyebar keseluruh dunia. Doa membawa Amerika bangkit kembali dan berjaya menjadi negara yang kuat.\r\n\r\nHari ini, keadaan yang sama terjadi ditempat yang sama dalam waktu yang berbeda. Apakah Tuhan akan menjamah Amerika dengan cara yang sama? Hanya Tuhan yang tahu, cara apa yang terbaik untuk membawa Amerika dan bangsa-bangsa kembali padanya. Tetapi Tuhan selalu bergerak dengan cara yang sama, baik di jaman kuno masa para nabi, pada tahun 1857, maupun hari ini. Saat umatnya bertobat, berdoa dan datang pada-Nya, Dia akan melangkah dari tahta-Nya. Jadi mari berdoa bagi Amerika, karena kesejahteraan Amerika pastinya berdampak pada kesejahteraan Indonesia bahkan dunia.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n2 taw 7 :14\r\ndan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
One Man''s Obedience to Prayer\r\nJeremiah Lanphier Story \r\n In 1857 Jeremiah Lanphier was at a crossroads in his life; he was a single, middle-aged businessman without children and family. Following his heart to reach the neediest around him, he put aside his regular business and began to work with the North Dutch Church in Manhattan as a lay missionary. At that time, there were 30,000 men idle on the streets of New York. Drunkenness was rampant, and the nation was divided by slavery. Ministering in the dark slums of Hell’s Kitchen, Lanphier poured himself into the lives of people who were homeless, helpless and hopeless. Month after month he went door to door sharing the Good News, distributing tracts, and holding Bible studies with whomever would listen. \r\n\r\nLanphier would begin each day going from office to office, house to house, and shop to shop; but by midday he was physically, emotionally and spiritually worn out. He discovered that, even as the body needs food, the soul and spirit need prayer. Lanphier realized his need and regularly returned to a room in the church Consistory building to cry out to God for spiritual strength. This fresh, personal experience of the power of prayer suggested to Lanphier that there might be others, especially those engaged in business, who might profit from time in prayer. He handed out some 20,000 flyers advertising the first noonday prayer meeting on September 23, 1857. \r\n\r\nFor the first thirty minutes he sat alone praying. Eventually, steps were heard coming up the staircase and another joined. Then another and another until Lanphier was joined by five men. The next Wednesday the six increased to twenty. The following week there were 40. Lanphier and the others then decided to meet daily, and within weeks thousands of business leaders were meeting for prayer each day. Before long over 100 churches and public meeting halls were filled with noonday prayer meetings. God moved so powerfully that similar prayer meetings sprang up around the nation. For a season there were 10,000 conversions to Christ each week in New York City, and it is estimated that nearly one million people across the U.S. were transformed during this incredible move of God.\r\n\r\nOne man’s obedience to prayer… began a revival… \r\nthat transformed a nation.
ometimes it is during the days of hopelessness and despair that revival comes to a people! So it was in the middle of the nineteenth century. In the United States, it was a spiritual, political, and economic low point. Many people had become disillusioned with spiritual things because of preachers who had repeatedly and falsely predicted the end of the world in the 1840''s. Agitation over the slavery issue had bred much political unrest, and civil war seemed imminent. A financial panic hit in 1857. Banks failed, railroads were bankrupt, factories closed, unemployment increased. Many Christians realized the need for prayer in such dire situations, and prayer-meetings began to spread around the country. order back issues of this story Ferment from Fulton street In the lower Manhattan section of New York, a Dutch Reformed church had been steadily losing members; they hired missionary Jeremiah Lanphier to reverse the trend with an active visitation program. However, he had little success in awakening church members by his visits, so in September, 1857, he rented a hall on Fulton street in New York City and advertised its availability for prayer meetings. Six men assembled for that first prayer meeting on September 23. Two days later the Bank of Philadelphia failed. In October the men began praying together daily; on October 10 the stock market crashed. The financial panic triggered a religious awakening, and people flocked to the prayer meetings. Within six months 10,000 people were gathering daily for prayer in New York City alone. The movement explodes Other cities also were experiencing a renewed interest in prayer. In Chicago, the Metropolitan Theater was filled every day with 2000 people assembling for prayer. In Louisville, several thousand came to the Masonic Temple for prayer each morning. Two thousand assembled for daily prayer in Cleveland, and the St. Louis churches were filled for months at a time. The newly formed YMCA also played an important role in holding prayer meetings and spreading the revival throughout the country. When media actually helped In February, 1858, Gordon Bennett of the New York Herald gave extensive coverage to the prayer meeting revival. Not to be outdone, the New York Tribune devoted an entire issue in April, 1858 to news of the revival. News of the revival quickly traveled westward by telegraph. This was the first revival in which the media played an important role in spreading the revival. Prayer everywhere The prayer meetings were organized in the cities by lay people and were interdenominational. Unlike earlier awakenings, prayer rather than preaching was the main instrument of revival. Tents were often set up as places where people could gather for prayer, introducing a custom followed by later revivalists. The meetings themselves were very informal – any person might pray, exhort, lead in a song, or give a word of testimony, with a five minute limit placed on each speaker. In spite of the less structured nature of the prayer meetings, they lacked the extreme emotionalism which some had criticized in earlier revivals. America''s good gift This was the first revival beginning in America with a worldwide impact. From the United States the revival spread to Ireland, Scotland, Wales, England, Europe, South Africa, India, Australia, and the Pacific islands. In geographical and proportionate numerical extent, the revival of 1857-1860 has not been equaled. Even ships coming into British ports told of the revival in America. Ireland soon began to experience a prayer meeting revival as well, with crowds becoming so large they had to meet in the open air. When John Cairns preached in Belfast in May, 1859, he had never before seen such eagerness to hear the gospel or lives which had been so transformed by the revival. He said: "Nature does not contain any epidemic so like to Christian conversion." Thirst for the Spirit in Scotland When Andrew Bonar heard of the work in Ireland, he increased his prayer for a revival in Scotland. In his diary of July 3, 1859, he wrote, "Again this night in sorrow of heart over the terrible carelessness, indifference, deadness of this ‘'valley of dry bones.’' O my God, come over to Scotland and help us!" Within two months Andrew Bonar found himself in the midst of revival in Scotland. On September 10th he wrote in his diary, "This has been a remarkable week: every day I have heard of some soul saved among us…" All classes became interested in salvation, backsliders returned, conversions increased, and Christians desired a deeper instruction in spiritual truths. Families established daily devotions, and entire communities underwent a noticeable change in morals. Not celebrities but ordinary people praying Similar changes were noted as the revival spread to Wales, England, and beyond. There was an absence of great names connected with the revival; lay people in prayer were the prime instruments used by God in awakening the people. The preaching, which in many areas had become too intellectual and lifeless, now concentrated on the truths of the gospel of Christ and His cross. The results of the revival of 1859 in the areas of evangelism, missions, and social action continued for decades. Many who became Christian leaders during the second half of the nineteenth century were greatly affected by the revival– such as D.L. Moody, William Booth, C.H. Spurgeon, and A.B. Simpson. As James Buchanan of Scotland summarized, it was a time when "new spiritual life was imparted to the dead, and new spiritual health imparted to the living." Getting a people spiritually ready to face tragedy? The revival of 1859 had similar effects in the North and the South, and may have prepared many Americans spiritually to survive the horrors of the war that broke out a few years later. The awakening continued into the Civil War period, a great revival occurring in the Southern armies in 1863-64.
14 Oct, 2008 01:07
HIT KANAN SIAPA CEPAT DIA DAPAT !!!
21 Oct, 2008 10:07
BTEL telkom liat btel mah geli geli aja (BUKAN ANCAMAN SAMASEKALI ) abis keliatannya BAHAYAKAN RITEL SEH
NTAR DEHHHHHHHHHHHH KALAU BULAN 6 TH 2009 SEMUA DATA EKONOMI US DI UP DATE OBAMA !!! SEMOGA ENGKAU LULUS DEH DALAM UJIAN YANG AKAN DISELENGGARAKAN DOW JONES UNTUKMU KHUSUS UNTUK DIKAU SEORANG.SEMOGA LULUS YAAAAAA
SEKARANG YANG GUA MINTA DARIMU OBAMA REDAM DULU MARKET YANG VOLATILE
SEKARANG YANG GUA MINTA DARIMU OBAMA REDAM DULU MARKET YANG VOLATILE Kalong78 telah sms Obama..Buat market lebih volatile lagi :rofl: :rofl: :rofl: Kalo ngak volatile copet ngak ada kerja :rofl: :rofl: :rofl: Saya dukung dung Bung Kalong.. Anak saya makan apa dong… Setetes keringat untuk anak istri…. :rofl: obama !!!karena banyak yang pilih volatile maka gua ngalah deh tapi uptrend keatas volatile nya . KALAU BISA !!!
Pak Granville , pertanyaan Bapak diatas sangat bagus sekali,cuma saya ngak bisa jawab seluruhnya secara detail.kebetulan saya ada posting satu article yang berhubungan dengan pertanyaan dan jawabannya harus diketahui member disini mengenai per..free float dan operasional suatu perusahaan itu berjalan dengan baik atau ngak.jangan sampai kita beli..tunggu lama ehhh perusahaan ngak jalan malah delisting.untuk menghindari hal diatas walau pun dalam postingan ini saya ngak ambil kesempatan untuk jawab pertanyaan diatas malah mau nambah pertanyaan lagi ,harap Bapak ngak keberatan saya numpang posting di thread ini free float kecil = jumlah saham yang beredar di masyarakat kecil. pertanyaannya jumlah berapa lembar saham yang beredar dimasyarakat diaanggap kecil…?berdasarkan persentase ataukah jumlah lembar ? kalau jawabannya lembar saham.apakah dibawah 100 jt lembar atau dibawah 1 milyar lembar ? issued share = total jumlah saham owner + institusi + masyarakat kalau misalnya ada 1 grup orang bandel yang makan terus saham dipasar dan emiten nya ngamuk selain RI apakah ia boleh melepas saham owner atau pengendali tanpa pemberitahuan resmi kepada otoritas bursa…?dulu pernah diissuekan di inkp kalau ngak salah.saham taiwan pertanyaan lain saham ada yang disebut saham biasa dan saham preferrence.treatment terhadap saham ini perbedaannya dimana ?saat perusahaan bangkrut ?kalau dalam trading gimana ?contoh saham mami ..myrx ( saya belum ada niat invest disini dikarenakan saya belum ketemu alasan yang kuat untuk invest disini ) pertanyaan ke 3 apakah hub PE dan EBITDA.dan apakah itu EBITDA ? TERIMA KASIH UNTUK THREAD BAPAK INI.SEMOGA BISA MEMBANTU BANYAK PENCERAHAN UNTUK KITA KITA YANG ADA DI MILIS….
PEKA Bacaan : Efesus 5:6-14 Dalam bukunya The Gospel According to Starbucks, Leonard Sweet menuliskan kisah Ed Faubert, seorang ahli pencicip kopi (coffee-taster) ternama. Ia sangat peka pada cita rasa kopi. Berikanlah kepadanya secangkir kopi dan ia akan segera bisa menjelaskan segala hal tentang kopi itu secara perinci. Bahkan dengan mata tertutup, ia bisa tahu kopi yang dicicipinya berasal dari negara mana, ditanam di ketinggian berapa, dan di gunung apa. Kepekaan dibentuk oleh latihan dan pengalaman terus-menerus. Kepekaan rohani pun demikian. Untuk dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10), Paulus meminta jemaat Efesus untuk terus-menerus belajar hidup sebagai anak terang. Maksudnya, hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dengan mempraktikkan firman setiap hari, semakin lama mereka akan menjadi semakin peka. Hasilnya? Mereka dapat membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Mereka takkan mudah disesatkan, sekalipun tiap hari hidup berbaur dengan orang-orang yang memiliki cara pikir dan gaya hidup duniawi. Bukannya terpengaruh, mereka bahkan bisa "menelanjangi perbuatan kegelapan" itu. Artinya, bisa menyadarkan orang lain akan perbuatannya yang berdosa. Kita hidup pada zaman di mana penyesatan terjadi di mana-mana: lewat buku-buku, media massa, dan aneka tawaran dunia yang menggiurkan. Sudahkah kita memiliki kepekaan rohani? Banyak orang kristiani masih belum "bangun dari tidur" (ayat 14), bahkan ikut terbius dalam keduniawian. Tidak ada cara lain: kita harus belajar hidup taat sesuai firman Tuhan. Hanya dari situ kita bisa semakin peka -JTI CARA UNTUK MENGUSIR KEGELAPAN SANGAT SEDERHANA: BAWALAH PELITA YANG MENYALA saran saya sih jangan pelita pakai lampu tembak aja minta urapan double portion seperti yang ELISA minta kepada ELIA how ? THE ANSWER IS IMPARTATION saya sampai hari ini masih geleng gelengkan kepala ( bukan ngak mau beli saham lho ) karena heran aja melihat bagaimana kuasa urapan itu bekerja untuk show demonstrasi kasih ALLAH. yang sakit sembuh buta melihat pincang berjalan mungkin saham yang udah mati lama di gocap akan terbang bukan karena reverse stok murni terbang lho can you believe this ? TO GOD BE THE GLORY TO GOD BE THE GLORY TO GOD BE THE GLORY
PEKA Bacaan : Efesus 5:6-14 Dalam bukunya The Gospel According to Starbucks, Leonard Sweet menuliskan kisah Ed Faubert, seorang ahli pencicip kopi (coffee-taster) ternama. Ia sangat peka pada cita rasa kopi. Berikanlah kepadanya secangkir kopi dan ia akan segera bisa menjelaskan segala hal tentang kopi itu secara perinci. Bahkan dengan mata tertutup, ia bisa tahu kopi yang dicicipinya berasal dari negara mana, ditanam di ketinggian berapa, dan di gunung apa. Kepekaan dibentuk oleh latihan dan pengalaman terus-menerus. Kepekaan rohani pun demikian. Untuk dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10), Paulus meminta jemaat Efesus untuk terus-menerus belajar hidup sebagai anak terang. Maksudnya, hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dengan mempraktikkan firman setiap hari, semakin lama mereka akan menjadi semakin peka. Hasilnya? Mereka dapat membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Mereka takkan mudah disesatkan, sekalipun tiap hari hidup berbaur dengan orang-orang yang memiliki cara pikir dan gaya hidup duniawi. Bukannya terpengaruh, mereka bahkan bisa "menelanjangi perbuatan kegelapan" itu. Artinya, bisa menyadarkan orang lain akan perbuatannya yang berdosa. Kita hidup pada zaman di mana penyesatan terjadi di mana-mana: lewat buku-buku, media massa, dan aneka tawaran dunia yang menggiurkan. Sudahkah kita memiliki kepekaan rohani? Banyak orang kristiani masih belum "bangun dari tidur" (ayat 14), bahkan ikut terbius dalam keduniawian. Tidak ada cara lain: kita harus belajar hidup taat sesuai firman Tuhan. Hanya dari situ kita bisa semakin peka -JTI CARA UNTUK MENGUSIR KEGELAPAN SANGAT SEDERHANA: BAWALAH PELITA YANG MENYALA saran saya sih jangan pelita pakai lampu tembak aja minta urapan double portion seperti yang ELISA minta kepada ELIA how ? THE ANSWER IS IMPARTATION saya sampai hari ini masih geleng gelengkan kepala ( bukan ngak mau beli saham lho ) karena heran aja melihat bagaimana kuasa urapan itu bekerja untuk show demonstrasi kasih ALLAH. yang sakit sembuh buta melihat pincang berjalan mungkin saham yang udah mati lama di gocap akan terbang bukan karena reverse stok murni terbang lho you can believe this ? TO GOD BE THE GLORY TO GOD BE THE GLORY TO GOD BE THE GLORY DAN BERITA PALING GEMBIRA YANG BISA GUA SAMPAIKAN YANG MISKIN BERKATA KU KAYA !!!

Comments