Jesse.Livermore's Profile

Your Profile Pic

jesse.livermore


Birth Date : -

Website : -

Point : 0

About me
-

Articles

No article yet.

Topics

Topic Posts Views Last post

Posts

15 Jun, 2003 12:22
Para bandar masuk kategori voter yang mana……?
Wow, ternyata little boy sudah punya adik…… Atau ini adek ketemu gede……… smile
29 Jun, 2003 03:17
Masih ada sedikit kesempatan buat mini rally, yaitu menjelang listing Mandiri. Setelah itu silahkan dump and take profit. Tapi hati-hati karena ‘'market maker’' juga akan memanfaatkan momentum tsb.
29 Jun, 2003 03:36
Fundamental first, guys.
Sebetulnya saham-saham emiten farmasi layak masuk dalam kategori restrukturisasi. Kita lihat saja beberapa diantaranya, yaitu Kalbe Farma, Kimia Farma dan Indofarma. Tidaklah salah untuk mengharapkan kinerja mereka untuk kembali seperti semula setelah hutang-hutang direstrukturisasi dan manajemen diperbaiki.
11 Oct, 2003 04:45
Berhati-hatilah. Kenaikan saham Mandiri tidaklah seiring dengan kinerja fundamental. Beberapa hal yang perlu diingat: # RUPSLB akhir September yang lalu memutuskan jumlah hapus tagih atas piutang pokok macet hapus buku yang akan menjadi kewenangan manajemen Mandiri dengan persetujuan komisaris adalah sebesar 2 triliun rupiah atau setara 10 persen dari saldo piutang pokok macet write off sampai dengan 30 Juni 2003 yang mencapai 20,04 triliun rupiah. # Adanya usulan untuk menjual 10 persen kepemilikan pemerintah di Mandiri melalui pasar. # Di bulan Januari 2004 akan berakhir masa lock-up dari saham bonus/diskon milik karyawan/manajemen, sehingga akan membanjiri likuiditas pasar. # Adanya sinyalemen oleh Bank Indonesia bahwa tingkat kredit macet (non performing loan, NPL) perbankan meningkat. Fokus perhatian BI sebenarnya adalah Mandiri, yang rajin membeli asset kredit dari BPPN dan menyalurkan kredit secara tidak pruden kepada korporasi besar. Berhati-hatilah.
14 Jan, 2004 13:35
Ada salah satu hal yang perlu diingatkan, yaitu bahwa setelah dilakukan kuasi reorganisasi maka laba Mandiri otomatis akan berkurang. Diperkirakan untuk tahun 2003 laba Mandiri hanya sekitar 3 trilyun rupiah. Dengan perkataan lain earning per share nya adalah 150 rupiah. Setelah Mandiri membagikan dividen sementara (interim) 50 rupiah, maka diperkirakan hanya tersisa 25 rupiah untuk dibagikan sebagai dividen di tahun 2004 ini. Bisa diperhatikan bahwa harga saat ini sudah wajar bahkan agaknya sedikit mahal.
09 Aug, 2005 12:21
Berhati-hatilah. Kenaikan saham Mandiri tidaklah seiring dengan kinerja fundamental. Beberapa hal yang perlu diingat: # RUPSLB akhir September yang lalu memutuskan jumlah hapus tagih atas piutang pokok macet hapus buku yang akan menjadi kewenangan manajemen Mandiri dengan persetujuan komisaris adalah sebesar 2 trilyun rupiah atau setara 10 persen dari saldo piutang pokok macet write off sampai dengan 30 Juni 2003 yang mencapai 20,04 trilyun rupiah. # Adanya usulan untuk menjual 10 persen kepemilikan pemerintah di Mandiri melalui pasar. # Di bulan Januari 2004 akan berakhir masa lock-up dari saham bonus/diskon milik karyawan/manajemen, sehingga akan membanjiri likuiditas pasar. # Adanya sinyalemen oleh Bank Indonesia bahwa tingkat kredit macet (non performing loan, NPL) perbankan meningkat. Fokus perhatian BI sebenarnya adalah Mandiri, yang rajin membeli asset kredit dari BPPN dan menyalurkan kredit secara tidak pruden kepada korporasi besar. Berhati-hatilah. Sedari semula memang secara fundamental Mandiri tidak bagus. Sejak dikenakannya peraturan kualitas kredit oleh BI maka laba Mandiri tergerus oleh pencadangan kredit macet. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ini: # Laba periode Juni 2005 hanya 560 milyar rupiah, yaitu hanya naik sedikitt dibandingkan laba periode Maret 2005 sebesar 520 milyar rupiah. Bila dibandingkan dengan periode Juni 2004 maka laba ini adalah penurunan sangat drastis. # Pencadangan untuk kredit macet periode Juni 2005 sebesar 2,21 trilyun rupiah, meningkat drastis empat kali lipat dari periode Maret 2005 sebesar 560 milyar rupiah. # BI sudah memutuskan Mandiri untuk masuk dalam kategori bank dalam pengawasan intensif. Ini hal yang sangat serius. # Terbetik berita kalau manajemen juga sudah melepas kepemilikan saham hasil opsi saham. Prospek ke depannya tidak jelas.
15 Aug, 2005 12:38
Sedari semula memang secara fundamental Mandiri tidak bagus. Sejak dikenakannya peraturan kualitas kredit oleh BI maka laba Mandiri tergerus oleh pencadangan kredit macet. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ini: # Laba periode Juni 2005 hanya 560 milyar rupiah, yaitu hanya naik sedikitt dibandingkan laba periode Maret 2005 sebesar 520 milyar rupiah. Bila dibandingkan dengan periode Juni 2004 maka laba ini adalah penurunan sangat drastis. # Pencadangan untuk kredit macet periode Juni 2005 sebesar 2,21 trilyun rupiah, meningkat drastis empat kali lipat dari periode Maret 2005 sebesar 560 milyar rupiah. # BI sudah memutuskan Mandiri untuk masuk dalam kategori bank dalam pengawasan intensif. Ini hal yang sangat serius. # Terbetik berita kalau manajemen juga sudah melepas kepemilikan saham hasil opsi saham. Prospek ke depannya tidak jelas. Data dapat darimana ?? smile Begini Pak Bobby, saya tegaskan lagi bahwa: # Fakta dan data tersebut diatas akan diuraikan oleh Mandiri nanti pada tanggal 22 Agustus 2005. # Mandiri sudah ditegaskan oleh BI menjadi bank dalam pengawasan khusus. # Direksi Mandiri sudah menjual kepemilikan saham hasil opsi saham, dimana contohnya adalah Direktur Konsumer yang telah menjual 10 ribu lot saham. # Nilai valuasi wajar Mandiri disebut-sebut hanya cuma 1200 rupiah. # Percaya tidak percaya mau tidak mau harus mengakui penurunan harga saham Mandiri. Sekian.
Terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian mengenai saham perbankan sbb: # Net Interest Margin (NIM) perbankan pasti turun sehingga pendapatan bank akan menurun pula. # Seiring diperlakukannya peraturan Bank Indonesia mengenai peningkatan Giro Wajib Minimum (GWM), perbankan mulai mengalami kesulitan likuiditas. Bank-bank besar namun memiliki Loan to Deposit Ratio (LDR) rendah akan mengalami kesulitan likuiditas paling parah karena peningkatan GWM paling besar. Pada gilirannya mereka akan menaikkan suku bunga deposito yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya dana dan akhirnya menurunkan NIM. # Suku bunga yang tinggi akan menyulitkan perbankan dalam menyalurkan kredit dan bila perbankan memaksakan diri ke sektor konsumer di tengah inflasi dan dollar yang tinggi maka akan terjadi peningkatan Non Performing Loan (NPL) yang pada akhirnya akan menggerus laba perbankan.
11 Dec, 2005 09:06
Sedari semula memang secara fundamental Mandiri tidak bagus. Sejak dikenakannya peraturan kualitas kredit oleh BI maka laba Mandiri tergerus oleh pencadangan kredit macet. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ini: # Laba periode Juni 2005 hanya 560 milyar rupiah, yaitu hanya naik sedikitt dibandingkan laba periode Maret 2005 sebesar 520 milyar rupiah. Bila dibandingkan dengan periode Juni 2004 maka laba ini adalah penurunan sangat drastis. # Pencadangan untuk kredit macet periode Juni 2005 sebesar 2,21 trilyun rupiah, meningkat drastis empat kali lipat dari periode Maret 2005 sebesar 560 milyar rupiah. # BI sudah memutuskan Mandiri untuk masuk dalam kategori bank dalam pengawasan intensif. Ini hal yang sangat serius. # Terbetik berita kalau manajemen juga sudah melepas kepemilikan saham hasil opsi saham. Prospek ke depannya tidak jelas. Data dapat darimana ?? smile Begini Pak Bobby, saya tegaskan lagi bahwa: # Fakta dan data tersebut diatas akan diuraikan oleh Mandiri nanti pada tanggal 22 Agustus 2005. # Mandiri sudah ditegaskan oleh BI menjadi bank dalam pengawasan khusus. # Direksi Mandiri sudah menjual kepemilikan saham hasil opsi saham, dimana contohnya adalah Direktur Konsumer yang telah menjual 10 ribu lot saham. # Nilai valuasi wajar Mandiri disebut-sebut hanya cuma 1200 rupiah. # Percaya tidak percaya mau tidak mau harus mengakui penurunan harga saham Mandiri. Sekian. Terdapat beberapa fakta yang tidak diketahui pasar berkaitan dengan kondisi Mandiri. Kenaikan harga beberapa waktu ini tidaklah ditunjang dengan perbaikan kinerja keuangan dalam hal ini khususnya kredit. Beberapa hal yang perlu diketahui antara lain: # Kredit bermasalah Mandiri masih berada pada rentang angka 25%. Bilamana kredit bermasalah ini menjadi kredit macet maka bisa dipastikan bahwa modal Mandiri akan habis. # Terbetik berita bahwa Mandiri akan segera melakukan proses hapus tagih kredit macet untuk lebih dari 2 ribu debitur dimana jumlah kredit macet tersebut diperkirakan antara 2 sampai 3 trilyun rupiah. # Terbetik pula informasi bahwasannya Mandiri mengalami kerugian ratusan milyar rupiah yang berasal perdagangan surat berharga. Bank-bank pada umumnya juga mengalami kerugian berasal dari surat berharga sebagai akibat dari terjadinya kenaikan suku bunga. Contohnya adalah apa yang dialami oleh BRI. Namun demikian jumlah yang diderita Mandiri sangatlah besar bila dibandingkan dengan bank-bank lainnya. # Sampai dengan akhir tahun 2005 nanti diperkirakan laba bersih Mandiri hanya akan mencapai angka antara 1,5 sampai 1,6 trilyun rupiah. Angka pencapaian ini hanyalah sepertiga dari angka laba bersih yang dicapai Mandiri pada tahun 2004. Harga Mandiri pernah mencapai di bawah 1200 rupiah manakala beberapa fakta dipaparkan ke publik. Maka tidak ada salahnya kita cermati dengan seksama. Marilah kita lihat bersama perkembangannya sampai dengan diadakannya RUPS nanti pada tanggal 21 Desember 2005. Sampai jumpa.
18 Dec, 2005 12:19
Sampai dengan September 2005 ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian sebagai berikut : # Posisi kredit meningkat menjadi 106,68 trilyun (dari 87,03 trilyun di periode September 2004). Namun demikian kualitas kredit menurun yang ditunjukkan oleh meningkatnya pencadangan penyisihan aktiva produktif (PPAP) untuk kredit sebesar 11,76 trilyun (meningkat dari 8,11 trilyun). # Posisi surat berharga menurun menjadi 5,73 trilyun (dari 9,07 trilyun). Namun penurunan ini justru diikuti peningkatan pencadangan kerugian surat berharga menjadi 1,37 trilyun (dari 1,06 trilyun). Hal ini menunjukkan penjualan surat berharga kualitas bagus sementara yang tersisa adalah surat berharga tidak lancar dan macet. # Pendapatan bunga bersih (net interest income) menurun menjadi 6,68 trilyun (dari 7,19 trilyun). Hal ini menunjukkan kemampuan margin yang mengecil. # Tambahan PPAP meningkat menjadi 2,85 trilyun (dari 0,13 trilyun). # Terdapat kerugian akibat aktivitas perdagangan surat berharga sebesar 104 milyar. Selain itu terdapat rencana penghapusan tagih terhadap kredit macet sekitar 2 ribu debitur yang melibatkan lebih dari 2 trilyun saldo pinjaman macet. Hal ini tentunya akan mengurangi labah bersih untuk tahun berjalan. Pergerakan positif beberapa saat lalu adalah akibat dorongan pemain besar (JP Morgan) untuk berusaha keluar dari posisinya yang salah. Kalau dihitung sejak April maka harga rata-rata perolehannya adalah di kisaran 1400 rupiah. Sedangkan kalau menghitung periode Oktober dan November maka harga rata-rata adalah 1300. Dengan harga saat ini di 1600 tentunya mudah bagi JP Morgan untuk mengambil keuntungan. Pertanyaan yang kemudian timbul apakah dia sudah keluar dari posisinya ataukah belum ? Terlepas dari fakta di atas sebenarnya pemulihan kondisi kredit macet perbankan membutuhkan waktu. Pada saat suku bunga turun kemarin membutuhkan waktu lama, maka sama halnya saat ini. Untuk mencapai tingkat suku bunga kembali di kisaran 7 sampai 8 persen dibutuhkan waktu sekitar 1 tahun. Sedangkan ke depannya suku bunga sertifikat Bank Indonesia justru diperkirakan akan menembus 13,5 persen. Jadi untuk kasus Mandiri maka dibutuhkan waktu 2 tahun untuk kembali pulih. Perlu diingat bahwa tingkat NPL Mandiri adalah 25 persen dimana batasan yang ditetapkan dari Bank Indonesia adalah 10 persen. Tentunya berdasarkan logika maka untuk menurunkan tingkat NPL tersebut tidak dapat dilaksanakan hanya dalam hitungan bulan saja, melainkan minimal tahunan. Saya harapkan dapat membantu.

Comments