Boby31's Profile

Your Profile Pic

boby31


Birth Date : -

Website : -

Point : 0

About me
-

Articles

No article yet.

Topics

Topic Posts Views Last post

BUMI dibeli Putera Sampoerna ???

pages: 1 2 3 4 ... 15
150 5579 01 Nov, 2008 07:04

Posts

China diambang krisis, harga komoditi anjlok karena menurunnya permintaan China selelah pesta pora Olimpiade
Kalo besok AR kanan pasti pada nyanjung BUMI… smile smile smile yang nyanjung paling BUMIers yang bbrp hari ini ilang ga nongol2 smile) (kalo belom loncat dari jendela) :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: Saya juga termasuk tidak senang dgn Etich Bussiness dari Bakrie Grup , walaupun yach senang atau tidak senang memang boleh masing-2 semua orang pilih sendiri-2. Tapi coba kita sekarang melihat Kemungkinan yang dapat dilihat dari "Kehancuran " dari semua Saham akhir-2 ini dan yang termasuk terbesar adalah Kemarin. Secara perasaan tentu seperti tulisan beberapa tulisan yang lalu saya setuju dengan kata-2 Jangan sentuh Saham Bakrie. Tapi selain itu kita juga perlu SMART . Coba kita lihat sekarang dari beberapa saham Grup Bakrie hancur semua , Mentok semua kemarin. Terutama BUMi setelah rontok sehari sebelumnya dan diperparah dengan mentoknya kemarin. Hari ini juga cenderung akan turun lagi Sekarang nilainya hanya 25 % dari yang pernah dicapai tertinggi kalau tidak salah 8500 Kita juga lihat Bayan sekarang sekitar 25-28% dari nilai tertingginya 5800 ( saat IPO) Tapi kalau kita bisa mabil mereka di Harga bottom ini bisa jadi benefit kita saham apa saja nanti kalau rebound Kita lihat kemungkinan kalau terjadi Rebound , tentu terjadi suatu waktu , dan kita tidak tahu kapannya ? Tetapi tentu ini harapan setiap pemain stock Kita lihat kemungkinan kalau tidak Bangkrut BUMI ini ,seperti Lehman , dan juga Bayan juga tidak Bangkrut untuk Grup Batubara ini . Kita lihat Gap yang paling besar 75 % lost adalah salah satunya BUMI dan BYAN. Memang sekarang yang paling parah , karena selain Performance Grup ini sendiri , juga karena kelompok Comodity . Tetapi Gap yang 75 % ini juga bisa dilihat menjadi suatu peluang yang cukup dapat diperhitungkan untuk kembali ke angka 10-20 % keatas lebih mudah dari Stock yang lain yang Gapnya hanya 50% misalnya. Ini yang perlu menjadi Perhatian dari Retail untuk kemungkinan menarik kerugian yang lalu yang pernah mereka alami . Jadi bukan hanya BUMI/ BYAN ,tetapi kita perlu pelajarai Gap kehancuran saham-2 yang lain untuk berapa persen kira-2 kemungkinan Rebound . Sekali lagi untuk itu perlu dilihat Hystorical Pricenya dari yang lalu-2, supaya sedikit banyak kita bisa mempelajari kemungkinan besaran yang akan tercapai nantinya . Pengaruh dari Global krisis ini terhadap spesifik saham-2 yang akan kita pilih akan mempengaruhi juga ,kemungkinan mana yang akan dahulu reboundnya ? Salam satu contoh dengan krisis seperti ini, apa kebutuhan pertama orang Jelas Makan , jadi kita bisa lihat ke saham-2 Makanan. Baru buat terjadinya makanan itu selain bahan tentu adanya industri , ini tentu perlu bahan bakar ….. Minyak …Batubara dll Baru kalau orang bisa terpenuhi makannya tentu baru urutan selanjutnya Rumah , kendaraan dsb… Ini prioritas selanjutnya kalau sudah kebutuhan pangan terpenuhi . Kita ihat INDF , tapi swingnya keatas sedikit paling 20% jadi gap kecil , walaupun saham ini akan pertamakali yang paling mendekati stabil., dan bisa rebound duluan Kita lihat saham safe swing kecil. Ada saham kurang safe atau juga High Risk Seperti BUMI tapi Swing (Gap besar ) Ada saham seperti ASII Stabil ,GAP kecil , kebutuhan prioritas lebih rendah dari Bahan Bakar utk industri. Jadi ini perlu diperhitungkan kemana kita kan pilih. Semua pilihan adalah selera berdasarkan tingkat resiko masing-2. Tapi ini perlu di perhatikan dan dipelajari untuk memperkecil resiko. Tentu kita pernah pelajari High Risk High Gain , Low Risk High Gain ini yang perlu kita otak atik sendiri ,menurut tingkat keberanian dan kemampuan kita sendiri. Inilah saatnya dalam Krisis kita tetap cari peluang. Stocker stock sorry bro, tata bahasanya tidak bagus, orang asing ya ???
Akankah Bakrie Brothers menyusul saudara tuanya Lehman Brothers, karena saat ini group Bakrie paling aktif berhutang sampai lupa saat ini US mengalami krisis keuangan yang maha dasyat… Akankah Bakrie menjadi triger/pemicu krisis moneter ke-2 di Indo, karena Bakrie saat ini sangat haus akan US dollar untuk membayar cicilan hutangnya ??? Kalau ya… keluarga Bakrie akan jadi sasaran sumpah serapah 200 jutaan rakyat indo, termasuk korban lumpur Lapindo….
coba ada yang kenal sama grup Michael Tjojoadi dia ini orang fortis tetapi orang yang satu ini tidak mudah diajak bicara/pendiam. coba tanya micael tjojoadi atau friendsnya ada apa ini biar kita jelas dan cross check dengan orang bakrie tuntas sudah teka-teki ini Dia orang Schroeder…..
Gara-gara repo group Bakrie, mereka sekarang haus US dollar, BI intervensi terus untuk menyediakan dolar kalau tidak sudah melambung ke 12.000. Kalau ini terjadi berarti negara sudah gagal melindungi masyarakatnya karena ulah nakalnya group Bakrie…
08 Oct, 2008 06:17
cash inflow dari investor asing sebagian besar di portfolio bukan di sektor rill, tahun lalu menkeu Sri mulyani sudah warning bahwa hot money di bursa bisa memicu krisis moneter ke-2. Mampukah BI dengan cadangan devisa +/- 50 M menyuplai dolar yang di butuhkan investor asing yang ingin mengembalikan dananya ke negara asal yang sekarang juga mengalami krisis likuiditas…
10 Oct, 2008 04:25
Bodoh sekali di suspend.. waktu libur lebaran aja terbukti tidak bisa menahan jatuh nya index. Jadi tetap aja akan terakumulasi, mau dibuka kapan pun. Padahal hari ini ane udah siap2 melototin monitor buat day trading hiks… seruuuu…. :tembak: soalnya ente nggak pegang barang. coba bayangin perasaan temen2 lain yang nyangkut, dan ketika bursa buka, harga sahamnya langsung drop 10%. :#-o Mana ada org senang liat org senang yg ad tuh org senang liat org susah…. smile setuju itu sifat dasar manusia, tetapi jangan berlebihan bisa memancing orang marah…
krisis ini sudah diramalkan sendiri oleh Men Keu Sri Mulyani bulan Mey tahun lalu : Dari Antara 7 Mei 2007: "Finance Minister Sri Mulyani Indrawati said the world economy was now in a situation similar to that prevailing before the crisis 10 years ago so there was need for readiness to face a sudden global economic upheaval. "The present situation resembles that in the run up to the crisis in which capital inflow was quite big and many countries experienced an appreciation in their currencies such as Thailand and India," Sri Mulyani said at a coffee morning with journalists at the Finance Ministry here on Thursday. Countires in Asia, in Southeast Asia (ASEAN) in particular, should have learned much from the crisis 10 years ago. Exchange rate plicies in Southeast Asia were very sensitive and should therefore be managed with caution since the beginning, she said. "
Econit juga sudah meramalkan tahun lalu :\r\n\r\nDari Kompas :\r\n"Ancaman Krisis Tak Sekadar Basa-basi\r\nOleh Hendri Saparini (Managing Director Econit).\r\nSepuluh tahun pascakrisis, Indonesia kembali menghadapi ancaman terperosok pada kesalahan yang sama. Tim Indonesia Bangkit telah menyampaikan peringatan tersebut sejak delapan bulan lalu. Namun, pemerintah dengan tegas membantahnya.\r\nSetelah warning yang sama disampaikan oleh pejabat lembaga asing dalam pertemuan para menteri ekonomi di Kyoto pada Mei 2007, barulah Menteri Keuangan RI menyatakan ekonomi Indonesia saat ini mirip kondisi menjelang krisis 1997/1998. Namun, pernyataan tersebut segera dibantah oleh menteri ekonomi lainnya maupun Bank Indonesia.\r\nReaksi cepat "asal bantah" tersebut sangat mirip dengan peristiwa sepuluh tahun lalu. Pada bulan November 1996, ECONIT dalam Econit’s Economic Outlook 1997 mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia akan memasuki tahun ketidakpastian dan berpotensi terjadi koreksi.\r\nPada waktu itu, rupiah telah overvalued sebesar 7-8 persen dan overleverage yang berlebihan di dunia usaha akibat cross ownership dan cross management sehingga struktur ekonomi sangat rapuh.\r\n\r\n"Financial bubble"\r\nSejak beberapa kuartal terakhir telah terjadi peningkatan modal jangka pendek (hot money) yang luar biasa ke kawasan Asia Timur. Perkembangan ini dinilai banyak negara, seperti Korea Selatan, Thailand, dan China, cukup mengkhawatirkan.\r\nAlasannya, aliran hot money telah mengakibatkan mata uang mereka terlalu kuat sehingga mengganggu kinerja ekspor.\r\nNegara-negara tersebut segera mengambil langkah untuk memperlemah nilai tukarnya, termasuk meredam overheating, menaikkan pajak transaksi di pasar modal dan pasar uang, untuk mengempeskan financial bubble dan property bubble yang berlebihan.\r\nPerlu diingat, sepuluh tahun lalu Indonesia terseret gelombang krisis jauh lebih dalam dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya karena struktur ekonomi yang rapuh.\r\nTerlalu menyederhanakan masalah bila saat ini tim ekonomi pemerintah menganggap Indonesia lebih kuat menghadapi ancaman krisis hanya karena alasan aliran dana dari luar telah dicatat dengan baik dan transparan dibandingkan sepuluh tahun lalu.\r\nSebagaimana negara-negara Asia lainnya, saat ini Indonesia juga mengalami financial bubble. Namun, respons yang diambil sangat berbeda. Pemerintah Indonesia tidak mengakui adanya financial bubble sehingga tidak ada respons kebijakan optimal untuk mengurangi potensi bahaya. Padahal, indikasi bubble dan rapuhnya struktur ekonomi sudah cukup banyak.\r\nPertama, Indonesia paling rentan terhadap krisis karena peningkatan ekspor dan cadangan devisa lebih banyak ditopang oleh kenaikan harga komoditas dan aliran hot money. Sangat berbeda dengan negara Asia Timur lainnya yang mengalami kenaikan ekspor dan cadangan devisa dari kenaikan produktivitas dan volume ekspor.\r\nKedua, pelaksanaan regulasi legal lending limit belum betul- betul efektif. Data kami menunjukkan telah kembali terjadi peningkatan group lending dan pembiayaan di sektor properti yang berlebihan. Hal tersebut sangat rentan terhadap potensi peningkatan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) perbankan.\r\nKetiga, terjadi pertumbuhan semu di sektor perbankan. Saat ini net interest margin (NIM) perbankan sangat tinggi (6 persen), paling tinggi di dunia. Padahal, pertumbuhan kredit masih sangat rendah dan kredit yang tak dicairkan sangat tinggi (26,8 persen di sektor manufaktur).\r\nIni menunjukkan bahwa NIM yang tinggi tersebut terutama diakibatkan oleh penerimaan bank dari bunga rekap dan investasi besar-besaran di instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN) atau Surat Perbendaharaan Negara (SPN), bukan akibat membaiknya kinerja sektor riil.\r\nKesehatan bank juga belum sepenuhnya pulih. Banyak bank membukukan peningkatan profit yang tidak sebanding dengan pertumbuhan kredit. Ini terjadi karena bank tetap menjadi pasien negara yang masih terus diinfus lewat bunga bank rekap, SBI, dan SUN.\r\nKredit konsumsi tumbuh lebih cepat dibandingkan kredit modal kerja dan investasi. Bila porsi kredit konsumsi pada tahun 2000 hanya sebesar 15 persen, saat ini telah melonjak hampir dua kali lipat menjadi 29 persen. Tambahan pula, saat ini mulai terjadi peningkatan kredit macet di sektor konsumsi akibat rendahnya daya beli.\r\nKeempat, sektor riil, seperti manufaktur, mengalami perlambatan pertumbuhan. Manufaktur yang biasanya menjadi lokomotif pertumbuhan saat ini justru tumbuh di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi.\r\nSementara itu, kinerja sektor finansial dan pasar uang sangat luar biasa, padahal kenaikan indikator fundamental tidak mendukung. Terjadi gap yang semakin tinggi antara harga aset finansial dan faktor fundamental pendukungnya.\r\nKelima, telah terjadi property bubbles. Seperti diketahui, empat tahun terakhir pertumbuhan pasok properti cukup tinggi, baik residensial maupun bisnis. Sementara permintaannya masih rendah akibat belum pulihnya daya beli masyarakat dan tidak adanya investasi baru yang signifikan.\r\nAkibatnya, terjadi kelebihan pasok yang mengancam kredit macet di sektor properti yang cukup besar (Kompas, 24 Mei 2007, "Ribuan Kios di Pertokoan Hayam Wuruk-Kota Kosong&quotsmile.\r\nCepat atau lambat financial bubble pasti akan mengalami koreksi. Alan Greenspan, mantan pemimpin Bank Sentral AS, telah mengingatkan kemungkinan akan terjadinya koreksi ekonomi dunia sebesar sepertiganya.\r\nJika prediksi ini benar, target pertama pelarian modal adalah negara-negara yang financial bubble-nya paling besar dan struktur ekonominya paling rapuh.\r\nMasih banyak indikator lain yang menunjukkan terjadinya financial bubble dan lemahnya struktur ekonomi Indonesia. Pemerintah sebaiknya tidak terlalu cepat "asal bantah" tentang adanya ancaman krisis. Lebih baik segera melakukan langkah-langkah antisipasi ketimbang sibuk menyangkalnya.\r\nAkibat belum membaiknya ekonomi rakyat yang diindikasikan dari tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, aktivitas dan tekanan politik mulai meningkat saat ini, lebih awal dari perkiraan sebelumnya, yaitu tahun 2008.\r\nMembesarnya financial bubble dan peningkatan tekanan politik merupakan kombinasi yang sangat berbahaya seperti halnya yang terjadi pada tahun 1997/ 1998. Tambahan pula, kualitas dan kredibilitas data serta prediksi pemerintah sangat rendah.
dari Antara :\r\n\r\n12/10/08 00:17\r\n\r\nBakrie Negosiasikan Penjualan Saham Bumi Resources\r\n\r\n\r\nJakarta (ANTARA News) - Bakrie Group tengah bernegosiasi untuk melepas 35 persen kepemilikan sahamnya pada perusahaan pertambangan batubara Bumi Resources setelah harga saham perusahaan itu tertekan akibat tindakan "margin call" dari banknya, demikian Strait Times, Singapura, seperti dikutip Reuters, Sabtu.\r\n\r\nBakrie yang dikuasai keluarga Menko Kesra Aburizal Bakrie telah menjaminkan Bumi Resources dan dua perusahaan lainnya sebagai agunan untuk pinjamannya yang mencapai satu miliar dolar AS.\r\n\r\n"Keluarga itu harus menambah pembayaran 500 juta dolar pada 14 Oktober akibat turunnya harga saham-sahamnya," kata sebuah sumber di Jakarta menurut media Singapura itu. \r\n\r\nBakrie berutang pada konsorsium perbankan Indonesia dan asing atas nama Bumi yang adalah produsen batubara terbesar.\r\n\r\nMenurut sumber bank yang tidak mau disebutkan namanya, Bakrie telah bernegosiasi dengan beberapa grup bisnis dan para taipan, termasuk Tommy Winata dan Putera Sampoerna, juga perusahaan investasi AS Avenue Capital.\r\n\r\nNamun, prosesnya menjadi kompleks setelah pemerintah menutup Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat sebagai upaya mencegah dampak penurunan pasar saham global.\r\n\r\nBEI juga telah menghentikan perdagangan saham enam perusahaan Bakrie pada Selasa, termasuk Bumi Resources dan Bakrie & Brothers.\r\n\r\nSaat ini kapitalisasi saham Bumi Resources mencapai 4,4 miliar dolar AS.\r\n\r\nRabu lalu Bakrie Brothers menyatakan tidak akan menjual saham anak perusahaannya itu, meski telah dijadikan agunan.\r\n\r\nEksekutif Senior Bakrie, Dileep Srivasta mengatakan kepada Strait Times, bahwa grup usahanya tidak mengalami gagal bayar utang-utangnya (deafult).\r\n\r\nDileep buru-buru mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui tujuan grupnya menjual Bumi Resources.\r\n\r\nSaham Bakrie dan Bumi telah merosot nilainya sekitar 50 persen pada bulan lalu akibat kekhawatiran berlanjutnya resesi global. (*)\r\n\r\nCopyright © 2008 ANTARA
Pada saat krisis seperti ini yang pegang cash adalah THE WINNER : Kabar penjualan Sampoerna itu seperti petir di hari terang. "Tak pernah ada yang mendengar rencana itu," ujar Erwan Teguh, analis Danareksa Sekuritas. Di bursa saham Jakarta, Senin pekan lalu, ketika berita itu terdengar, saham Sampoerna naik hingga 18 persen. Heboh tak hanya di gedung bursa. Sepanjang pekan lalu, langkah Putera melepas "ayamnya yang bertelur emas" itu menjadi berita utama di berbagai media. Bagaimana tidak, transaksi penjualan saham itu melibatkan nilai tak kepalang. Dengan menjual 33 persen saham miliknya, Putera dipastikan menjadi triliuner nomor satu di negeri ini. Usai melepas sahamnya, Jumat pekan lalu, Putera mengantongi uang tunai Rp 18,6 triliun.
dari Antara :\r\n\r\n12/10/08 00:17\r\n\r\nBakrie Negosiasikan Penjualan Saham Bumi Resources\r\n\r\n\r\nJakarta (ANTARA News) - Bakrie Group tengah bernegosiasi untuk melepas 35 persen kepemilikan sahamnya pada perusahaan pertambangan batubara Bumi Resources setelah harga saham perusahaan itu tertekan akibat tindakan "margin call" dari banknya, demikian Strait Times, Singapura, seperti dikutip Reuters, Sabtu.\r\n\r\nBakrie yang dikuasai keluarga Menko Kesra Aburizal Bakrie telah menjaminkan Bumi Resources dan dua perusahaan lainnya sebagai agunan untuk pinjamannya yang mencapai satu miliar dolar AS.\r\n\r\n"Keluarga itu harus menambah pembayaran 500 juta dolar pada 14 Oktober akibat turunnya harga saham-sahamnya," kata sebuah sumber di Jakarta menurut media Singapura itu. \r\n\r\nBakrie berutang pada konsorsium perbankan Indonesia dan asing atas nama Bumi yang adalah produsen batubara terbesar.\r\n\r\nMenurut sumber bank yang tidak mau disebutkan namanya, Bakrie telah bernegosiasi dengan beberapa grup bisnis dan para taipan, termasuk Tommy Winata dan Putera Sampoerna, juga perusahaan investasi AS Avenue Capital.\r\n\r\nNamun, prosesnya menjadi kompleks setelah pemerintah menutup Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat sebagai upaya mencegah dampak penurunan pasar saham global.\r\n\r\nBEI juga telah menghentikan perdagangan saham enam perusahaan Bakrie pada Selasa, termasuk Bumi Resources dan Bakrie & Brothers.\r\n\r\nSaat ini kapitalisasi saham Bumi Resources mencapai 4,4 miliar dolar AS.\r\n\r\nRabu lalu Bakrie Brothers menyatakan tidak akan menjual saham anak perusahaannya itu, meski telah dijadikan agunan.\r\n\r\nEksekutif Senior Bakrie, Dileep Srivasta mengatakan kepada Strait Times, bahwa grup usahanya tidak mengalami gagal bayar utang-utangnya (deafult).\r\n\r\nDileep buru-buru mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui tujuan grupnya menjual Bumi Resources.\r\n\r\nSaham Bakrie dan Bumi telah merosot nilainya sekitar 50 persen pada bulan lalu akibat kekhawatiran berlanjutnya resesi global. (*)\r\n\r\nCopyright © 2008 ANTARA

Comments