Universalbroker's Profile

Your Profile Pic

UniversalBroker


Birth Date : -

Website : -

Point : 132

About me
-

Badges

Citizen Journalist
PyoBie

Articles

  • Mengamati Pullback dengan Waspada...

    Pada perdagangan kemarin, rebound yang terjadi pada saham-saham perbankan dan big caps lainnya, akhirnya bisa ...

    created on: 22 Apr 2016

    0 comments

  • Sentimen Negatif Kinerja Kelompok Indofood

    Selamat pagi… Sentimen dari bursa regional pagi hari ini, sebenarnya relatif netral.  Kenaikan tipis 13 ...

    created on: 28 Mar 2016

    43 comments

  • Menanti Fed Rate, Menanti BI Rate...

    Selamat pagi… Nanti malam, The Fed akan memulai pertemuan FOMC untuk yang biasanya akan menetapkan ...

    created on: 15 Mar 2016

    0 comments

  • Kinerja Positif BMRI

    Selamat pagi… Pada hari ini, Bank Mandiri mengumumkan kinerja FY2015.  Pada sisi bottom line, BMRI ...

    created on: 24 Feb 2016

    4 comments

  • Net Interest Margin

    Selamat pagi… Pada perdagangan hari Jumat, mengalami penurunan yang cukup tajam sebagai reaksi pasar atas ...

    created on: 22 Feb 2016

    0 comments

  • Sentimen Positif Kinerja WSKT

    Selamat pagi… Hari ini, PT. Waskita Karya (WSKT) mempublikasikan kinerja FY2015.  Dari sisi bottomline, WSKT ...

    created on: 10 Feb 2016

    0 comments

  • Peluang Rebound Terbatas pada IHSG...

    Selamat pagi… Sempat terkoreksi lebih dari 500 poin, Indeks Dow Jones Industrial semalam ditutup dengan ...

    created on: 21 Jan 2016

    5 comments

  • Menanti Data GDP China

    Selamat pagi… Indeks Dow Jones Industrial semalam tidak mengalami perubahan mengingat Bursa New York libur ...

    created on: 19 Jan 2016

    5 comments

  • Menanti Data GDP China

    Selamat pagi… Indeks Dow Jones Industrial semalam tidak mengalami perubahan mengingat Bursa New York libur ...

    created on: 19 Jan 2016

    5 comments

  • PBB Hapuskan Sanksi atas Iran

    Selamat pagi… Pada akhir minggu kemarin, PBB dan beberapa negara adidaya telah menghapuskan sanksi ekonomi ...

    created on: 18 Jan 2016

    5 comments

  • Ketakutan akan Harga Minyak Mereda...

    Selamat pagi… Harga minyak WTI semalam memang masih bergerak turun hingga ditutup pada level US ...

    created on: 13 Jan 2016

    5 comments

  • Shanghai Factor

    Koreksi 7% yang terjadi pada indeks CSI300 akhirnya membuat Bursa Shanghai melakukan supsensi perdagangan.  Sentimen ...

    created on: 05 Jan 2016

    5 comments

Topics

Topic Posts Views Last post

Mengamati Pullback dengan Waspada...

1 31 22 Apr, 2016 03:16

Sentimen Negatif Kinerja Kelompok Indofood

pages: 1 2 3 4 5
44 416 03 Dec, 2019 10:15

Menanti Fed Rate, Menanti BI Rate...

1 22 15 Mar, 2016 02:33

Kinerja Positif BMRI

5 53 24 Feb, 2016 08:41

Net Interest Margin

1 23 22 Feb, 2016 02:31

Sentimen Positif Kinerja WSKT

1 40 10 Feb, 2016 02:47

Peluang Rebound Terbatas pada IHSG...

6 52 21 Jan, 2016 03:13

Menanti Data GDP China

6 42 19 Jan, 2016 03:16

Menanti Data GDP China

6 42 19 Jan, 2016 02:53

PBB Hapuskan Sanksi atas Iran

6 63 18 Jan, 2016 03:57

Ketakutan akan Harga Minyak Mereda...

6 37 13 Jan, 2016 09:56

Shanghai Factor

6 53 05 Jan, 2016 08:32

Posts



Posisi dari harga minyak WTI yang turun dibawah level psikologis US$50 pada perdagangan semalam, telah membuat indeks Dow Jones Industrial (DJI) terkoreksi tipis 23,60 poin (-0,13 persen) sehingga ditutup pada level 18.116,84. Koreksi ini bukan merupakan signal negatif karena indeks DJI masih ditutup cukup jauh dari suport di level psikologis 18.000. Indeks dari bursa di kawasan Asia pagi ini bergerak bervariasi, dengan indeks Hang Seng dibuka dengan koreksi sebesar 0,24 persen, sedangkan indeks Strait Times naik sebesar 0,23 persen. Pelaku pasar terlihat dalam mode wait and see, menjelang testimoni dari Chairman The Fed, Janet Yellen yang sedianya akan dilaksanakan pada nanti malam.



Aksi wait and see ini, diperkirakan juga akan berlangsung pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG pada hari ini diperkirakan bakal bergerak bervariasi pada kisaran 5.380 – 5.450. Hanya penutupan dibawah suport 5.380 yang akan memberikan signal negatif bagi pergerakan IHSG selanjutnya.



IHSG semakin mendekati kisaran resisten di 5.450 – 5.600. Dengan IHSG dibawah resisten, pemodal hanya bisa melakukan hold atas posisi jangka menengah. Posisi-posisi spekulatif baru, sebaiknya hanya dilakukan dalam jumlah kecil, sehingga pemodal hanya mengalami kerugian yang minim jika menerapkan stoploss pendek. Exit atas posisi jangka menengah sebaiknya hanya dilakukan jika suport IHSG di 5.380 gagal bertahan.



Spec Buy: ROTI, UNVR.

Buy On Weakness: BBRI, ASII.




Pada hari Sabtu kemarin, Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga BBM Subsidi sebesar Rp 200 menjadi Rp 6.800. Meski kenaikan tersebut adalah wajar karena harga minyak sebenarnya sudah relatif tinggi semenjak pertengahan bulan, tapi kenaikan tersebut tetap saja mengejutkan mengingat kenaikan yang terjadi cukup besar, sebesar 3,03 persen.

Pelaku pasar sebenarnya juga sedang dalam mode wait and see, menanti angka inflasi Februari yang akan dipublikasi nanti siang. Pelaku pasar lokal sebenarnya sudah seminggu terakhir nervous, melihat posisi nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang sudah mendekati level 13.000.

Kabar baik malah berasal dari bursa regional, dimana pada hari Sabtu kemarin, Bank Sentral China (PBoC) menurunkan suku bunga pinjaman sebesar 25 basis poin.

Dengan minimnya sentiment ini, IHSG hari ini diperkirakan bakal bergerak bervariasi pada kisaran 5415 – 5450. Kisaran 5450 – 5500 adalah resisten kuat untuk jangka pendek. Kondisi ini yang membuat bursa di kawasan Asia cenderung bergerak naik, dengan indeks Hang Seng naik 0,5 persen, sedangkan indeks Strait Times turun tipis sebesar 0,26 persen.

IHSG sendiri, posisi terakhirnya sedang berada pada resisten jangka pendek, pada kisaran 5450 – 5600. Jika masih bergerak naik, IHSG terlihat masih memiliki ruang hingga kisran 5550 – 5600. Disisi lain, suport pertama dari IHSG ada di level 5.425. Jika ditutup dibawah suport tersebut, IHSG bakal memiliki potensi mengalami konsolidasi dengan kisaran suport diantara level 5.200 dan level 5.300.

Harga BBM Subsidi yang naik, sebaiknya membuat pelaku pasar berhati-hati. Jika kenaikan ini disikapi negatif oleh pelaku pasar dan angka inflasi Februari 2015 kemudian diatas perkiraan konsensus yang besarnya hanya 0,1 persen, pemodal sebaikny waspada akan kemungkinan penembusan suport, dan IHSG masuk dalam masa konsolidasi.

Meskipun demikian, bagi anda yang memiliki tujuan investasi yang lebih panjang, selama IHSG tidak turun dibawah suport di 5.121, IHSG tetap berada dalam trend naik dengan potensi kenaikan hingga kisaran 6.100 – 6.350 untuk tahun ini. Konsolidasi adalah kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah. Pemodal tetap bisa melakukan posisi buy on weakness dalam melakukan akumulasi, terutama pada saham-saham sektor perbankan dan konstruksi yang merupakan pilihan untuk tahun ini. Meski, untuk sektor konstruksi, pemodal sebaiknya lebih berhati-hati dalam melakukan positioning, karena saham-saham di sektor ini terlihat tengah berada dalam trend turun (konsolidasi) jangka pendek, menunggu harga right issue daripada Adhi Karya (ADHI) dan Waskita (WSKT).

BOW: BBRI
SpecBuy: AKRA


02 Mar, 2015 08:55


Liputan6.com,
Jakarta - Pemerintah akan mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10
persen kepada pengguna jasajalan tolsebesar 10 persen. Kebijakan
tersebut akan dibebankan kepada konsumen atau pengguna jasa jalan tol. Lalu
bagaimana dampaknya ke sektor logistik?



Ketua
Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldy Ilham Pratama menuturkan, kenaikan tarif tol
dengan tambahan PPN akan menambah biaya operasional perusahaan logistik. Meski
demikian, dampaknya kecil.



“Dampaknya
terhadap total biaya logistik sangat kecil dan juga tidak mengakibatkan
kenaikan tarif biaya transportasi,” kata Zaldy saat
dihubungiLiputan6.com
, yang ditulis Senin (2/3/2015).



Menurut
Zaldy, biaya logistik karena kemacetan di jalan tol masih lebih besar dari pada
PPN untuk tarif logistik. Oleh karena itu, ia menuturkan, pemerintah tidak
hanya membebankan PPN pada tarif tol tetapi juga berusaha mengurangi kemacetan
di jalan tol.



“Biaya
logistik gara-gara kemacetan bisa mencapai 15 persen dari biaya transport. Ini
jadi salah satu faktor utama tingginya biaya logistik di Indonesia,” kata
Zaldy.



Sekretaris
Perusahaan PT Jasa Marga Tbk, David Wijayanto menuturkan, tarif tol yang naik
akan sebesar PPN yang dikenakan. Saat ini tarif yang berlaku belum
memperhitungkan PPN. Dengan kebijakan ini, menurut David tidak berdampak
terhadap perseroan



“Bagi
Jasa Marga tidak masalah karena tidak mengurangi pendapatan dari tarif yang
ada,” ujar David, lewat pesan singkat yang diterimaLiputan6.com.



Sebelumnya
Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo menuturkan, langkah penerapan PPN terhadap
pengguna jasa jalan tol untuk mengejar target pendapatan negara dari sektor
pajak. Penerimaan pajak sekitar Rp 1.439 triliun dalam Anggaran Pendapatan
Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.



“Kami
sudah berikan poin-poin untuk mencapai target penerimana pajak sesuai APBN-P
2015. Itu salah satunya kami ingin lakukan seperti itu (PPBN 10 persen jalan
tol-red),” kata Mardiasmo. (Ahm/)



Source:
http://bisnis.liputan6.com/read/2183792/tarif-tol-kena-ppn-ini-pinta-pengusaha-logistik


02 Mar, 2015 08:57
tes
03 Mar, 2015 07:04




Selamat siang…


Dorongan sentiment positif
dari bursa regional, akhirnya membuat IHSG mencapai resisten kuat dari trend
naik jangka pendek di level 5.485. Resisten ini adalah resisten penting
karena merupakan retracement 161,8% dari swing jangka pendek IHSG, yang
berlangsung pada periode Agustus 2014 – Januari 2015.













Sampainya IHSG di posisi
resisten ini memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah IHSG bakal melanjutkan
trend naiknya hingga resisten berikutnya di level 5.850? Atau kah IHSG akan
mengalami konsolidasi dulu untuk jangka pendeknya? Yang jelas, dengan
pembukaan IHSG yang sedikit melompat tadi pagi, IHSG memiliki kisaran gap kecil
diantara level 5.477 – 5.478 sehingga hanya penutupan dibawah kisaran gap
tersebut, yang akan memberikan signal negatif pada pergerakan IHSG selanjutnya.


Aksi beli dari pemodal
asing terlihat agak surut pada hari ini. Hingga akhir dari sesi pertama,
posisi net buy dari pemodal asing tercatat hanya sebesar Rp 16,4 miliar.
Turun jauh dari Rp 402,25 miliar yang dilakukan oleh pemodal asing
kemarin. Buruknya kinerja emiten yang yang mempublikasikan laporan
keuangan tadi pagi, membuat pemodal asing membatasi minat untuk melakukan
akumulasi. Kinerja SMGR kurang bagus (EPS FY2015 Rp 938 vs estimasi Rp
962) membuat saham ini hari ini mengalami tekanan jual. Sedangkan kinerja
TBIG yang kurang bagus (EPS FY2015 Rp 274,90 vs estimasi Rp 294,23) , membuat
saham TLKM juga mengalami tekanan jual.


Kondisi IHSG yang mencapai
kisaran resisten, sebaiknya membuat pemodal berhati-hati. Meskipun
demikian, exit atas posisi trading, sepertinya bisa dilakukan jika harga saham
mengalami pembalikan arah.


Sejauh ini, saham-saham
komoditas batubara terlihat masih melanjutkan trend naiknya. Disisi lain,
saham-saham sektor konstruksi terlihat masih melanjutkan konsolidasi, setelah
pada perdagangan kemarin setidaknya ADHI dan WIKA telah ditutup dengan signal negatif.


Take Profit: ADHI, WIKA




04 Mar, 2015 02:13




Selamat pagi…


Indeks Dow Jones Industrial
(DJI) semalam turun 85,26 poin (-0,47 persen) setelah minimnya sentiment dari
data-data ekonomi memicu aksi profit taking.
Indeks Dow Jones Industrial ditutup pada level 18.203,37. Terkena imbas penurunan tersebut, bursa di
kawasan regional Asia pagi ini cenderung bergerak turun, dengan indeks Hang
Seng running dengan koreksi tipis sebesar 0,3 persen, sedangkan indeks Strait
Times bergerak naik tipis 0,08 persen.


Sentimen negatif dari bursa
regional tersebut, diperkirakan akan membuat IHSG sulit untuk bergerak naik,
setelah posisi Rupiah terhadap US$ masih saja tertahan pada kisaran 12.900 –
13.000. Di satu sisi, potensi penembusan
level psikologis 13.000 ini diperkirakan tetap akan membuat pelaku pasar dalam
negeri menjadi nervous. Disisi lain,
aksi beli dari pemodal asing di pasar reguler, diperkirakan masih akan tetap
deras sehingga IHSG sulit untuk bisa
terkoreksi banyak.


IHSG pada hari ini
diperkirakan bakal bergerak bervariasi pada kisaran 5.470 – 5.500. Penutupan dibawah 5.470 bakal mengakhiri
trend naik jangka pendek yang tengah berlangsung. Level 5.410 akan menjadi suport kedua untuk
pergerakan IHSG pada hari ini.


Dari pergerakan harga
kemarin, tekanan jual yang kembali muncul pada saham-saham konstruksi (seperti
ADHI dan WIKA) serta pada perbankan (seperti BBNI) telah kembali memunculkan
trend turun pada saham-saham tersebut.
Pada perdagangan hari ini, pemodal sebaiknya mewaspadai kemungkinan berlanjutnya
aksi profit taking pada saham-saham sektor tersebut.


Disisi lain, pengumuman
kinerja positif dari PTBA, diperkirakan masih akan membuat saham-saham sektor
pertambangan batubara masih akan bertahan.
Untuk FY2014, PTBA berhasil membukukan laba bersih persaham (EPS) sebesar
Rp 927. Pencapaian ini sentimennya
positif, mengingat konsensus analis yang kami pantau di Reuters, hanya
memperkirakan EPS PTBA sebesar Rp 912.

Jika suport pertama IHSG di 5.470 gagal bertahan, pemodal sebaiknya
hanya melakukan positioning atas posisi jangka menengah, setidaknya setelah
IHSG mencapai suport kedua di 5.410.

04 Mar, 2015 07:19




Selamat siang…


Kemarin, IHSG sempat
menguji resisten di 5.480, sebelum akhirnya ditutup turun tipis. Itu
menyebabkan level 5470 menjadi suport pertama untuk pergerakan IHSG hari
ini.


Hingga siang hari ini, IHSG
terlihat gagal untuk bertahan diatas suport pertama tersebut dan mengakhiri
pergerakan sesi pertama ini, pada level 5.458,90. IHSG terkoreksi 15,72 poin
(-0,29 persen).


Jika hingga akhir
pergerakan nanti sore IHSG gagal ditutup diatas suport pertama di kisaran 5.470
– 5.475, maka trend naik jangka pendek IHSG bakal berakhir, dan IHSG bakal
memasuki fase konsolidasi. Meskipun demikian, pemodal sepertinya tidak
perlu khawatir mengingat jika IHSG reversal hari ini dan memasuki masa
konsolidasi, konsolidasi pada IHSG hanya untuk menguji suport di kisaran 5300 –
5425. Potensi koreksi IHSG tidak terlihat besar.


IHSG sulit terkoreksi
banyak karena pemodal asing masih terus melakukan akumulasi secara agresif.
HIngga akhir dari perdagagnan sesi pertama, posisi net buy dari pemodal asing
di pasar reguler baru terjadi sebesar Rp 212 miliar. Selama aksi beli
pemodal asing masih diatas level psikologis Rp 250 miliar per hari, IHSG masih
akan tetap kuat.


Hingga siang hari ini, aksi
profit taking lanjutan pada saham-saham konstruksi, terlihat masih terus
berlanjut. Saham-saham penambang batubara juga terlihat tengah menguji
suport. Disisi lain, saham-saham sektor perkapalan terlihat mulai
bergerak naik. Positioning atas saham-saham sektor perkapalan sebaiknya
dilakukan dengan berhati-hati, mengingat saham-saham ini sebagian besar
memiliki likuiditas yang sangat terbatas.


Jika IHSG gagal ditutup
diatas suport level 5.470, pemodal bisa sebaiknya menunda posisi akumulasi
hingga IHSG memasuki kisaran suport 5.410 – 5.300.




05 Mar, 2015 02:15


Selamat pagi…

Sentimen negatif dari data ekonomi, telah mengirimkan indeks Dow Jones Industrial (DJI) untuk bergerak turun sebesar 106,47 poin (-0,58 persen) pada pergerakan tadi malam. Indeks Dow Jones Industrial memang masih ditutup diatas level psikologis 18.000, tepatnya pada level 18.096,90. Meskipun demikian, koreksi tersebut merupakan konfirmasi bahwa trend naik jangka pendek indeks ini memang sudah berakhir. Sentimen negatif dari koreksi DJI tersebut, direspon secara bervariasi pagi ini di Bursa kawasan Asia. Indeks Hang Seng running dengan koreksi sebesar 0,49 persen, sedangkan indeks Strait Times naik tipis 0,16 persen.

Setelah kemarin ditutup dengan signal negatif, dibawah support pertama di 5.740, IHSG pada hari ini diperkirakan masih akan bergerak bervariasi pada kisaran 5400 - 5.485. Hanya penutupan diatas resisten 5.485 yang akan mengakhiri trend turun yang baru saja muncul pada pergerakan IHSG kemarin. Sentimen negatif masih berasal dari posisi nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang pada pagi hari ini masih bercokol diatas level 13.000.

Jika dilihat dari pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir. Pemodal lokal dan pemodal asing memang terlihat memiliki visi yang berbeda. Pemodal lokal yang cenderung memiliki investment time horizon yang pendek, terlihat khawatir pada posisi nilai tukar Rupiah yang menembus level psikologis 13.000. Disisi lain, pemodal asing yang cenderung memiliki investment time horizon yang panjang, terlihat masih terus melakukan posisi beli, karena mereka melihat bahwa kedepan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik daripada apa yang berlangsung saat ini. Itu sebabnya mereka terus melakukan akumulasi dengan agresif, dengan aliran dana asing yang stabil diatas Rp 250 miliar per hari.

Melihat posisi teknikal IHSG, IHSG kalaupun terkoreksi, juga tidak bisa terlalu besar. IHSG tetap dalam trend naik jangka panjang dengan potensi kenaikan hingga kisaran 6100 - 6350 hingga satu-dua tahun kedepan. Untuk jangka pendek, konsolidasi hingga kisaran 5.300 - 5.425 adalah wajar, sehingga pemodal tetap bisa melakukan akumulasi dengan strategi Buy On Weakness.






Selamat siang…


Kenaikan tipis 0,21 persen
yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial (DJI) semalam, telah kekhawatiran
di bursa regional Asia, terlihat sedikit mereda. Indeks Hang Seng hanya terkoreksi tipis 0,01
persen, sedangkan indeks Strait Times running dengan kenaikan sebesar 0,58
persen.


Redanya sentimen negatif
ini, membuat pemodal asing kembali melakukan aksi beli di lantai Bursa Efek
Indonesia. Hingga akhir dari sesi
pertama, pemodal asing membukukan posisi net buy sebesar Rp 106,92 di pasar
reguler. Pemodal asing sepertinya bakal recover
posisi net sell sebesar Rp 221,51 miliar yang terjadi kemarin, dengan aksi beli
dalam jumlah yang kurang lebih sama.


Aksi beli dari pemodal
asing tersebut membuat IHSG mengalami rebound, dan mengakhiri pergerakan sesi
pertama ini pada level 5.485,09, naik 34,15 poin (+0,63 persen). IHSG berhasil mengakhiri sesi pertama tipis
diatas resisten pertama di 5.480. Jika
bertahan hingga sore hari nanti, IHSG bisa mengakhiri trend turun jangka
pendeknya dan mengubahnya menjadi trend flat.



Kekhawatiran akan munculnya
sentimen negatif ketika nilai tukar Rupiah terhadap US$ menembus level 13.000,
sepertinya tidak menjadi kenyataan.
Pasar terlihat mensikapinya dengan wajar, dan tidak terlihat adanya
kepanikan. Pemodal tetap bisa melakukan
akumulasi atas posisi jangka menengah, terutama pada saham-saham sektor
perbankan dan konsumer.




09 Mar, 2015 01:45




Selamat pagi…


Sentimen positif dari data
tenaga kerja, telah memunculkan spekulasi bahwa The Fed akan mempercepat
kenaikan suku bunga yang akan dilakukannya.
Indeks Dow Jones Industrial (DJI) pada hari Jumat bergerak turun 278,94
poin (-1,54 persen), sehingga ditutup pada level 17.856,78. Chairman The Fed sendiri, pada bulan Februari
lalu, telah menyatakan bahwa tidak ada kenaikan suku bunga dalam dua kali Fed
Meeting (FOMC) mendatang. Itu artinya,
The Fed sebenarnya baru akan menaikkan suku bunga paling cepat pada FOMC bulan
Juni nanti. Bursa regional pagi ini
mensikapi koreksi DJI tersebut sebagai sentiment negatif. Indeks Hang Seng pagi ini running dengan
koreksi sebesar 0,75 persen, dan indeks Strait Times juga running dengan koreksi
sebesar 0,75 persen.


Sentimen negatif dari bursa
regional ini, diperkirakan bakal kembali menekan pergerakan IHSG, setelah pada
hari Jumat lalu mengalami kenaikan yang cukup tajam sebagai akibat dari aksi
beli di penutupan. IHSG pada hari ini
diperkirakan bakal bergerak flat turun dengan suport utama di level 5.490 dan
resisten pertama di 5.600. Jika suport
5.490 gagal bertahan, kisaran suport di 5.410 – 5.450 bakal menjadi suport yang
kedua.


Kondisi dari indeks Dow
Jones Industrial (DJI) yang sedang berada di sekitar level psikologis 18.000
memang memudahkan munculnya kekhawatiran pasar yang kemudian memicu aksi profit
taking. Menurut pandangan kami, selama
berita tersebut tidak berasal dari Janet Yellen sendiri, spekulasi-spekulasi
seperti itu, hanya akan terjadi untuk jangka pendek.


Pergerakan IHSG sendiri,
diperkirakan akan lebih dipengaruhi oleh kemungkinan dari Bank Indonesia untuk
melanjutkan penurunan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur BI mendatang, disampin
juga dengan posisi nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang masih berada di sekitar
level psikologis Rp 13.000.


IHSG memiliki suport dari
trend jangka menengah di level 5.325.
Selamat IHSG tidak mencetak new low di bawah suport tersebut, IHSG masih
tetap memiliki potensi kenaikan hingga kisaran 6.100 – 6.350 untuk jangka
menengah. Pemodal bisa memanfaatkan
koreksi harga untuk melakukan akumulasi posisi jangka menengah, dan
posisi-posisi spekulatif untuk jangka pendek.









Selamat siang…


Problem terbesar bagi IHSG
sebenarnya adalah: bahwa pada hari Jumat kemarin, IHSG ditutup sedikit terlalu
tinggi karena adanya aksi beli pada sesi penutupan (closing session). Itu yang membuat IHSG, yang pada pre-closing
berada dibawah level psikologis 5.500, akhirnya bisa ditutup pada level
5.514,787. Penutupan yang terlalu tinggi ini, yang
membuat IHSG di awal pergerakan tadi pagi, langsung dibuka pada level
5.483,858, atau sudah dibawah suport pertama di level 5.490, sebagai respon
dari koreksi yang tengah berlangsung pada bursa regional.


Sentimen negatif dari bursa
regional ini juga membuat pemodal asing memilih mengambil posisi wait and see,
sambil melihat keadaan. Aksi ini bisa
dilihat dari aliran dana asing di pasar reguler yang hingga siang hari ini
tercatat pada posisi net sell sebesar Rp 43,80 miliar. Pemodal asing menghentikan posisi beli, belum
mulai melakukan tekanan jual.


Kondisi dari bursa regional
kawasan, sebenarnya terlihat masih cukup kuat.
Indeks Hang Seng hanya terkoreksi tipis (bahkan sudah mulai positif 0,04
persen pada jam 13.15 ini), sedangkan indeks Strait Times hanya terkoreksi 0,4
persen. Koreksi IHSG terlihat terlalu
besar akibat penutupan hari Jumat yang terlalu tinggi.


Hingga penutupan sesi
pertama, IHSG masih berhasil bertahan diatas suport kedua di 5.435. IHSG masih bertahan di kisran suport 5.410 –
5.450.


Spekulasi bahwa The Fed akan
menaikkan suku bunga lebih cepat, sebenarnya bisa dikatakan terlalu
berlebihan. Ini karena Chairman dari The
Fed sendiri, Janet Yellen, tidak mengindikasikan hal itu pada Fed Minutes
beberapa waktu yang lalu. Kondisi ini
membuat pelaku pasar sebaiknya tidak perlu terlalu khawatir. IHSG memang sedang berada pada fase
konsolidasi. Tapi, selama suport di 5.325
masih bertahan, posisi buy on weakness tetap menarik untuk dilakukan, mengingat
IHSG masih memiliki potensi kenaikan hingga kisaran 6.100 – 6.350 hingga akhir
tahun.

BOW: Perbankan, Konsumer, Batubara.

12 Mar, 2015 01:56



Selamat pagi…


Setelah koreksi lebih dari
300 poin pada hari Selasa kemarin, pada indeks Dow Jones Industrial (DJI)
terlihat sedikit mereda, setelah pada pergerakan semalam indeks ini hanya
terkoreksi sebesar 27,55 poin (-0,16 persen) sehingga ditutup pada level
17.635,39. Meredanya tekanan pada indeks Dow Jones Industrial ini membuat ini
telah membuat indeks dari bursa di kawasan Asia cenderung rebound, dengan
indeks Hang Seng pagi ini running dengan kenaikan sebesar 0,15 persen,
sedangkan Strait Times turun tipis 0,1 persen.


Berkurangnya tekanan sentiment
negatif ini juga diperkirakan akan membuat IHSG lebih leluasa untuk bisa
bertahan diatas suport pertama di level 5.410.
IHSG hari ini diperkirakan bakal bergerak flat-naik dengan suport di
5.410 dan resisten 5.440 sebagai kisaran utama.
Jika level psikologis 5.400 gagal bertahan, suport selanjutnya pada IHSG
berada pada level 5.325. Disisi lain,
penutupan diatas resisten 5.440 akan menjadi sebuah signal positif, dan bakal memunculkan
trend naik jangka pendek, dengan potensi kenaikan hingga kisaran 5.500 – 5.610.


Beberapa hari terakhir,
Rupiah dan IHSG mengalami tekanan sebagai akibat dari spekulasi bahwa The Fed
akan menaikkan suku bunga di bulan Juni.
Kondisi ini membuat IHSG mengalami konsolidasi dan dalam pergerakan
terakhirnya, telah mencapai suport kuat di 5.410. Dengan posisi IHSG berada di suport,
posisi-posisi spekulatif terlihat mulai menarik untuk dilakukan, terutama pada
saham-saham perbankan dan konstruksi yang tengah berada di suport
levelnya. Meskipun demikian, posisi beli
secara agresif, sebaiknya hanya dilakukan hanya dilakukan pada saat harga saham
berhasil ditutup diatas resisten pertamanya.
Jika pada IHSG, resisten pertama IHSG ada di level 5.440. IHSG akan mengakhiri trend turun jangka
pendek jika berhasil ditutup diatas resisten tersebut.

BOW: Perbankan, Konstruksi, Konsumer, Batubara, CPO

Comments