Tyranus's Profile

Your Profile Pic

Tyranus


Birth Date : -

Website : -

Point : 61

About me
-

Articles

No article yet.

Topics

Topic Posts Views Last post

IHSG - PREDIKSI PAPAH LOREN & SUHU2 LAINNYA

pages: 1 2 3 4 ... 20
191 6916 05 Oct, 2019 18:57

Posts

Pemerintah Konversi Utang PGN Tahun Depan Pemegang saham menuntut manajemen mengumumkan hasil audit pipa Grissik-Singapura Ewo Raswa posted by kontan on 12/15/07 JAKARTA. Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhirnya menyerah. Rencana menjual sebagian saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dari hasil konversi utang tidak jadi digelar akhir tahun ini, melainkan mundur jadi tahun depan. Pasalnya, waktu yang dimiliki kementerian buat mengkonversi utang menjadi kepemilikan saham di perusahaan yang kerap disingkat PGN itu terlampau sempit menjelang akhir 2007. "Kami baru bisa melakukannya tahun 2008," kata Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu, di Jakarta, kemarin (14/12). Pemerintah pun memastikan tidak akan ada lagi tambahan setoran privatisasi BUMN tahun ini. Sumber KONTAN di BUMN membisikkan, sesungguhnya proses konversi utang PGN ini sudah digodok sejak akhir 2006. Menteri Keuangan kala itu memerintahkan agar proses pengurusan peraturan pemerintah tentang konversi ini bisa rampung awal 2007. Namun hingga kini peraturan tersebut belum rampung tanpa alasan yang jelas. Padahal, kata sumber itu, jika piutang pemerintah ke PGN dikonversi bisa menjadi 5% saham. Sedikit kilas balik, pemerintah pernah memberikan dana sebesar Rp 136,2 miliar untuk proyek jaringan distribusi gas rumahtangga di Jakarta, Surabaya, dan Medan pada 2003 silam. Dari jumlah itu, PGN hanya menggunakan sekitar Rp 127 miliar. Sekarang, piutang pemerintah di PGN jika mengacu kepada total modal disetor perusahaan mencapai 254 juta saham. Namun gara-gara lambat melakukan konversi saham tersebut, pemerintah pun kehilangan potensi dividen 2006 sebesar 5% dari total dividen yang dibagikan pada tahun ini. Asal tahu saja, Juni lalu PGN telah membagikan dividen sebesar Rp 946 miliar atau setara dengan 50% dari laba bersih tahun lalu. "Karena saham pemerintah tidak bisa bertambah, kami kehilangan potensi pendapatan dividen hampir Rp 50 miliar," katanya. Di sisi lain, penjualan saham PGN hasil konversi ini bisa jadi opsi menambal defisit setoran divestasi BUMN tahun ini sebesar Rp 700 miliar. Bila mengacu kepada harga saham emiten berkode PGAS ini kemarin Rp 15.900 per saham, maka pemerintah berpeluang meraup dana Rp 4,039 triliun. Soal tekukan pipa Ketika dikonfirmasi, Heri Yusup, Sekretaris Perusahaan PGN, menyatakan menyerahkan sepenuhnya keputusan konversi tersebut kepada pemegang saham. Tapi, dia mengingatkan, konversi utang menjadi saham itu bisa mendilusi pemegang saham lain. "Kami bersikap pasif," imbuhnya. Selain soal konversi utang tersebut, PGN masih terbelit masalah dugaan tekukan atau buckle pipa transmisi gas dari Grissik ke konsumennya di Singapura. Pipa transmisi ini milik anak usahanya, PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo). Menurut Said, semestinya direksi PGN segera memberikan pengumuman terbuka soal potensi kerusakan tersebut. "Seharusnya PGN tunduk pada peraturan pasar modal," tandas dia. Memang, persoalan ini masih bisa diperdebatkan kalau melihat dari sisi nilai material atas kerusakan tersebut dan ketentuan yang diatur Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Pemerintah sudah menyampaikan soal pentingnya keterbukaan informasi itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PGN, tiga hari lalu. Hasilnya, rapat itu memutuskan direksi PGN harus memberikan informasi secara terbuka tentang hasil audit konsultan independen perihal temuan tekukan pada jalur pipa gas Grissik-Singapura tersebut. Menurut Heri, proses kajian oleh konsultan independen masih terus berlangsung. Sehingga, pengumuman kepada publik belum bisa dilakukan. Bahkan, dia pesimistis informasi tersebut bakal sampai ke publik dalam bulan ini.
16 Dec, 2007 06:19
Ekspansi Gede-gedean Juragan Sorbitol PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk akan berinvestasi hingga Rp 1,5 triliun di kebun singkong Davy Dotulung posted by kontan on 12/15/07 JAKARTA. PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI) mendadak saja menyodok perhatian pasar. Bagaimana tidak, perusahaan ini menganggarkan investasi sebesar Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun untuk membeli dan menanami kebun singkong seluas 40.000 hektare di Sulawesi. Emiten saham berkode SOBI ini memang adalah produsen sekaligus pemasok tepung tapioka dan turunannya ke berbagai perusahaan industri barang konsumsi dan farmasi di seluruh dunia. Di bidangnya, SOBI adalah pemain terbesar di kawasan Asia Pasifik. Tadinya, perusahaan ini bernama PT Sorini Corporation Tbk. Tapi lantaran ingin membesarkan usahanya di sektor agribisnis, mulai Agustus lalu perusahaan ini berganti nama menjadi Sorini Agro. Sorini didirikan keluarga Adikoesoemo di Surabaya pada 1983. Tahun 2004, SOBI meningkatkan daya saingnya di industri tepung dengan mendirikan PT Sorini Towa Berlian Corporation (STBC), perusahaan patungan dengan Towa Chemical Industry Co Ltd dan Mitsubishi asal Jepang, untuk memproduksi sorbitol cair dan bubuk. Tahun itu juga, SOBI diakuisisi PT AKR Corporation Tbk. Saat ini, SOBI memproduksi lima jenis produk turunan tepung, yaitu sorbitol cair, sorbitol bubuk, sirup maltose, dextrose monohydrate, dan maltodextrine. Produk-produk itu merupakan bahan baku pasta gigi, vitamin C, permen, es krim, kue, susu bubuk, sabun, kosmetik, makanan, dan minuman diet. SOBI memasok produk-produknya ke sejumlah perusahaan multinasional di Indonesia. Diantaranya: Unilever, Procter & Gamble, Colgate, dan BASF di Jepang. SOBI mengekspor produknya ke lebih dari 60 negara. Pangsa pasar terbesar SOBI di luar negeri adalah Vietnam, Filipina, dan Myanmar. Upaya menekan biaya Pendapatan SOBI tumbuh 17,8% selama 2004-2006. Sayangnya laba kotor, laba operasional, dan laba bersih terus menurun sejak 2005. Menurut Sekretaris Perusahaan SOBI V. Suresh, penurunan itu disebabkan fluktuasi kurs rupiah serta meningkatnya harga bahan baku. Tapi, tahun ini SOBI bangkit. Selama sembilan bulan pertama 2007, SOBI sudah membukukan pertumbuhan pendapatan 27,3% dibanding periode serupa 2006. Laba kotor, laba operasional, dan laba bersihnya melonjak masing-masing 92,18%, 243,3%, dan 209,3%. "Ini berkat kenaikan volume produksi 11%-12%, kenaikan rata-rata harga jual 15%-18%, dan pengendalian biaya perusahaan," ujar Suresh. Untuk kian menggenjot kinerjanya, tahun depan SOBI akan menanamkan investasi sebesar US$ 12 juta-US$ 15 juta untuk meningkatkan kapasitas terpasang pabriknya sebesar 15%-20% dari 333.000 ton tahun ini. Adapun dananya dari kas internal. Di luar itu, SOBI juga menganggarkan investasi Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun untuk mengakuisisi lahan seluas 40.000 hektare (ha) secara bertahap hingga tahun 2013. Lahan itu akan dita-nami singkong, bahan baku utama tepung tapioka. Biaya penanaman ini juga bersumber dari dana investasi tersebut. Dengan akuisisi itu, SOBI berharap bisa menekan biaya produksinya. Maklum, saban tahun SOBI butuh 200.000 ton tepung tapioka untuk memproduksi sorbitol. Masalahnya, pabrik SOBI di Ponorogo dan Lampung hanya mampu memproduksi 78.000 ton tepung tapioka per tahun. Untuk menutupi sisanya, SOBI pun terpaksa membeli dari petani atau impor dari Thailand. Menurut Presiden Direktur SOBI Haryanto Adikoesoemo, 60% dari kebutuhan dana investasi Rp 1 triliun- Rp 1,5 triliun itu akan dipenuhi dari dana eksternal. Sisanya dari kas internal. Tahun ini, SOBI menargetkan pendapatan dan laba bersihnya masing-masing Rp 1,04 triliun dan Rp 90 miliar. Untuk 2008, pendapatan dan laba bersihnya ditargetkan tumbuh 20%. Sejak Awal 2007, Harga Saham SOBI Naik 216% Saham Sorini terdaftar di Bursa Efek Indonesia (dulu: Bursa Efek Jakarta) pada 1992 dengan kode SOBI. Saat itu, SOBI melepas 3,5 juta sahamnya ke publik. Harga perdananya Rp 6.000 per saham. Dari hajatan initial public offering (IPO) atawa penawaran saham perdana itu, SOBI meraup duit Rp 21 miliar. SOBI pernah menerbitkan saham baru sebanyak 10 juta saham dengan harga Rp 1.000 pada 14 Desember 1994. SOBI juga pernah menerbitkan saham bonus pada 12 September 1996 sebanyak 115 juta saham. Pada 22 Agustus 2007 SOBI memecah sahamnya dengan rasio 1:5. Awal September lalu, PT AKR Corporindo Tbk sebagai pemegang saham mayoritas menambah kepemilikan sahamnya dari 58,24% menjadi 69,91%. Sisanya beredar di masyarakat. Saham SOBI juga mencatatkan kenaikan harga yang amat tinggi, yakni sudah naik sekitar 216,67% sejak awal 2007. Kemarin harga saham ini ditutup Rp 1.140 per saham. Adapun nilai kapitalisasi pasar SOBI saat ini sebesar Rp 1,03 triliun.
16 Dec, 2007 06:23
Indikasi Resesi Ekonomi AS Semakin Nyata Citigroup dan Lehman mencatat kerugian baru akibat subprime Hari Widowati, Bloomberg, Reuters posted by kontan on 12/15/07 SANFRANSISKO. Tanda-tanda resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) kian nyata. Tak kurang dari mantan Gubernur The Federal Reserve Alan Greenspan kembali melontarkan peringatan soal ini. "Mungkin terlalu dini mengatakan bakal terjadi resesi, tetapi indikasinya semakin jelas," kata Greenspan dalam wawancara dengan National Public Radio, Kamis (13/12). Indikasinya, ekspansi ekonomi AS yang berjalan sejak 2001 melesu seiring terpuruknya pasar perumahan tiga tahun terakhir. Konsumsi yang jadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi juga mulai turun. Pendapat Greenspan ini didukung Martin Feldstein, Kepala Biro Riset Ekonomi Nasional AS, yang bertugas mendata siklus perekonomian AS. Senada, mantan Menteri Keuangan AS Lawrence Summers juga menaikkan kemungkinan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Greenspan, yang memimpin The Fed selama 18,5 tahun itu, menilai perekonomian AS rentan terinfeksi penyakit-penyakit ekonomi akibat krisis kredit yang membandel. Namun, tak semua ekonom sepakat dengan pandangan ini. Salah satunya Alan Meltzher, Guru Besar Ekonomi Politik di Carnegie Mellon University, Pittsburgh. "Kita harus melihat pertumbuhan penjualan ritel yang tidak menunjukkan tanda-tanda resesi," ujarnya. Korban subprime berjatuhan Departemen Perdagangan AS memang mengumumkan angka penjualan ritel AS pada November 2007 naik 1,2%. Ini dua kali lipat di atas perkiraan para analis. Meltzher tetap optimistis meski harga energi yang tinggi juga mengancam sektor riil. Tapi prediksi Greenspan bisa jadi benar. Buktinya, korban krisis kredit perumahan berisiko tinggi(subprime mortgage) semakin banyak. Tengoklah Citigroup Inc. Bank beraset terbesar di AS ini memutuskan mengambil alih tujuh structured investment vehicle (SIV)-yang bermasalah. Akibatnya, aset SIV yang diambil alih itu pun dicatatkan sebagai utang senilai US$ 58 miliar. Lembaga pemeringkat internasional Moody''s Investor Service pun langsung memangkas peringkat utang Citigroup menjadi Aa3. Padahal, sehari sebelumnya Moody''s memberikan peringkat Aa2 pada bank tersebut. Lehman Brothers Holding Inc juga mengumumkan pendapatannya pada kuartal keempat 2007 anjlok 11%. Sebab pada kuartal itu, asetnya yang berbasis subprime menyusut sebanyak US$ 830 juta. Sebelum melakukan lindung nilai dan aksi penyelamatan lainnya, penyusutan aset itu pada periode tersebut sempat mencapai US$ 3,5 miliar. Awal pekan ini, Chief Executive Officer (CEO) Wachovia Corp Ken Thomson pun mengaku harus menyisihkan dana talangan US$ 1 miliar untuk menutup kerugian investasinya di subprime.
16 Dec, 2007 06:25
RISET EKONOMI Fitch: Inflasi Membayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia 2008 posted by kontan on 12/15/07 SINGAPURA. Prospek perekonomian Asia tahun depan masih suram. Kabar buruk ini datang dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings. Dalam risetnya, Jumat (14/12), lembaga rating internasional ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2008 bakal melambat menjadi 7,7%. Ini lebih rendah ketimbang pertumbuhan ekonomi Asia tahun ini yang diperkirakan mencapai 8,7%. Analis Fitch James McCormack mengatakan, perlambatan ekonomi Asia itu akan terjadi akibat inflasi Asia yang tahun depan diperkirakan naik dari 4,3% pada tahun ini menjadi 4,8% tahun 2008. Sinyal merangkaknya inflasi ini sudah tampak. "Kenaikan harga makanan, energi, dan perumahan sudah terlihat jelas di beberapa negara. Risiko inflasi bakal semakin tajam," kata McCormack. Bank-bank sentral Asia bakal bekerja keras menahan laju inflasi akibat kenaikan harga barang-barang itu. Tapi, tantangan negara-negara Asia berhenti di sini. Mereka pun harus bersiap menghadapi masalah lain yang tak kalah berat. Ekspor negara-negara Asia ke Amerika Serikat (AS) bakal turun seiring melambatnya ekonomi negara adidaya itu. Padahal, sebagian besar negara Asia memiliki ketergantungan pada pasar AS dua kali lipat lebih besar dari negara-negara di benua lain. Kian terbukanya perdagangan dan aliran investasi antar negara-negara Asia ternyata telah membuat perekonomian Asia rentan terhadap faktor eksternal. Asia pun jadi mudah terpengaruh sentimen positif maupun negatif di pasar global. Di balik prospek yang suram itu, ada juga kabar baik. Fitch menilai, perlambatan ekonomi Asia tahun 2008 tidak akan berpengaruh terhadap prospek peringkat utang negara-negara Asia. Lembaga pemeringkat ini masih yakin, sebagian besar negara Asia mampu meningkatkan surplus neraca perdagangannya, sehingga posisi cadangan devisanya tetap tinggi. Lebih rinci, Fitch memperkirakan nilai tukar rupee masih akan menguat terhadap US$. Sejak awal tahun, rupee sudah menguat 12,3% terhadap US$. Soal China, Fitch memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nya pada 2008 bakal melambat menjadi 10,1%, dari 11,4% tahun ini. Bank Sentral China juga diperkirakan melanjutkan pengetatan moneternya. Antara lain dengan meningkatkan rasio cadangan bank terhadap simpanannya, dari 13,5% menjadi 14,5% per 25 Desember nanti. Untuk Indonesia, Fitch memprediksi Bank Indonesia bakal memperlambat penurunan suku bunga patokan, BI rate. Hari Widowati, Bloomberg
16 Dec, 2007 12:27
bingung…..,bingung…….aku bingung………. :rofl: :rofl:
collect terus……. buat longterm juga kelihatannya masih ok…. kalo lihat PER….. masih murah dibandingkan perusahaan sejenisnya…..
apa besok senin berlanjut ke three round……????
jangan khawatir….. cuma geolan2 aja…..!!!! longterm masi ok…… yang pusing…..pake duit MARGIN…..
Mudahan-mudahan aja indeks saham global bisa naik lagi………dgn adanya sinyal yen carry trade…. Minggu, 16/12/2007 - 16:06 WIB Amerika Diambang Resesi, Asia-Eropa Hati-Hati! SIDNEY - Amerika Serikat tengah menghadapi resesi. Senior Executive Morgan Stanley, Stephen Roach, melihat sejumlah negara salah merespons kondisi ini. Negara-negara merespons bahwa resesi AS tidak akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Asia. Seperti dikutip AFP, Minggu (16/12/2007), Roach mengatakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve akan kembali menurunkan suku bunganya untuk mengenjot perekonomian. "AS akan mengalami resesi," katanya. Menurutnya, The Federal Reserve memiliki sejumlah tugas yang harus dilakukan. Tugas ini mencakup pemotongan suku bunga sebesar satu hingga satu setengah persen. Hal ini akan dilakukan dalam kurun waktu sembilan atau 12 bulan mendatang. Roach menilai adanya kesalahan pandangan selama ini. Pandangan itu melihat jika percepatan pembangunan ekonomi China dan India dapat mengimbangi resesi AS. "Pendapat ini menarik dan berpotensi mengganggu. Sejumlah negara juga tidak mempersoalkan kondisi AS," ujarnya. Selain itu, ada pandangan yang mengatakan bahwa bagaimanapun juga perkembangan dunia tidak bisa disejajarkan dengan mesin pertumbuhan ekonomi AS. "Pandangan itu salah. Suasana global memberi konsekuensi ke Asia dan Australia," terangnya. Roach mengatakan, sisi eksternal perekonomian AS membutuhkan keputusan, sejauh mana permintaan dari konsumen suatu negara dibanding permintaan konsumen di AS. "Kesimpulannya tidak sebanyak yang dikira banyak orang," jelasnya. Pertumbuhan Asia ditopang dari sisi ekspor. Konsumsi AS sering menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Asia. "Di AS, pertumbuhan konsumsi mencapai USD9,5 triliun. Sedangkan China senilai USD1 triliun. India USD senilai USD650 miliar," terangnya. "Secara perhitungan, hampir tidak mungkin bagi konsumen China dan India untuk menyamai tingkat konsumsi di AS," lanjutnya. (mbs)
ya kalo ga naik pasti turun bung…… :rofl: :peace:
ya… kalo menurut ogut….mau naik bagus…..( supaya semuanya bisa dpt cuan….) mau stagnan juga boleh……. asal jangan turun aja……( kasian yang sudah punya……ntar bisa rugi….) , bisa2 ntar ical bakal banyak yang nyumpahin lagi deh…. dia kan sekarang sudah di nobatkan menjadi orang terkaya di indonesia….. sudah cukup korban lumpur lapindo……………jangan sampai ada KORBAN BATU BARA BUMI…… :rofl: :peace:
wah…..mr Blackjack baru muncul…………uda kasi info…… how are u mr ??? thanks infonya….

Comments