User  Password   Remember me   REGISTRASI (GRATIS)
Sep 06, 2010 - 09:35 PM
MAIN MENU

Who's Online
There are 59 unlogged users and 76 registered users online.

You can log-in or register for a user account here.

Renungan Agama dan Latihan Berpikir
Posted by: Imam_semar on Oct 09, 2005 - 06:15 AM
Artikel Aliran Fundametalis, Liberal, Pluralis dan Sesat

Imam Semar
Pengamat Politik, Sosial dan Ekonomi, KlubSaham.Com

Saya penganut aliran Fundamentalis Kebenaran Absolut (sebut saja begitu) yang mendasari falsafah hidupnya di atas kebenaran yang absolut. Manusia tidak bebas, melainkan terikat oleh kebenaran-kebenaran yang absolut. Andaikata mereka mengabaikannya, maka mereka sendiri yang rugi. Misalnya, satu (1) ditambah satu (1) adalah dua (2) atau yang setara dengan dua (2), seperti (7-5), atau (6-4) atau 10 bilangan binari, dsb. Dikatakan kebenaran absolut karena kenyataan bahwa 1 + 1 = 2 menjadi dasar hukum-hukum yang lain dan kalau ditanya kenapa 1 + 1 = 2, maka jawabnya adalah ”dari sono udah begitu”. Tanyalah pada Tuhan yang membuat hukum itu. Andaikata, suatu masyarakat secara kolektif percaya selain dari itu, misalnya 1 + 1 = 4, maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi kekacauan. Seseorang yang meninjam uang Rp 4 juta bisa mengangsurnya 2 kali, masing-masih Rp 1 juta. Bisa dibanyangkan implikasinya lainnya. Saya tidak ingin hidup di dalam masyarakat seperti itu. Karena saya tidak bisa toleran terhadap hal seperti ini..

Begitulah saya beragama. Cukup sekuler bukan? Terserah anda, tetapi saya menamakan aliran saya fundamentalis berkebenaran yang absolut, yang hakiki, karena prinsip-prinsip dasar (aksioma) yang dianut mempunyai nilai kebenaran yang hakiki. Kebalikannya adalah aliran liberal dan pluralis yang sesat. Dikatakan sesat, karena banyak prinsip mendasari pemikiran aliran ini tidak mempunyai nilai kebenaran, sehingga membingungkan dan dengan mudah bisa dibuktikan salah.

Akhir-akhir ini banyak sekali artikel-artikel di koran, atau di TV yang berasal dari aliran Jaringan Islam Liberal, JIL atau kaum moderat. Dari situ saya mencoba untuk menangkap beberapa prinsip-prinsip yang secara implisit dianut mereka yang masuk dalam kategori sesat. Sesat dalam arti tidak mempunyai nilai kebenaran dan bersifat self defeating. Dari sekian banyak, hanya 5 saja yang akan saya bahas, walaupun masih banyak lagi karena aspek kehidupan masih banyak. Yang penting essensinya tersampaikan.

1. Prinsip Sesat 1:
“Tidak ada yang tahu kebenaran hakiki, kecuali Tuhan”
Ada beberapa varian dari dalil sesat ini, tetapi intinya sama, misalnya: “Di dunia ini tidak ada yang absolut, semuanya relatif.” Novriantoni (Opini – Media Indonesia, 9 Agustus 2005) mengutip ayat Quran Al Isra 84: ”Tiap-tiap orang berbuat dengan caranya masing-masing. Soal siapa yang terbimbing dan siapa yang tersesat hanya Tuhan yang Mahatahu”. Dengan penyisipan kata hanya dan Maha, pengertian ayat ini menjadi terplintir menjadi prinsip yang menyesatkan. Dua kata itu tidak ada dalam text Qurannya.

Prinsip ini masuk dalam kategori self defeating. Kalau ditanyakan: ”Apa benar bahwa hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang hakiki?”. Kalau jawabnya “ya” berarti orang yang menjawab tahu hakiki kebenaran prinsip 1 (dalil 1) di atas. Jadi jawabnya harus “tidak”. Artinya bahwa prinsip itu salah dan “bukan hanya Tuhan yang tahu hakiki kebenaran, tetapi juga manusia”.

2. Prinsip Sesat 2:
“Agree to disagree”
Prinsip ini saya tangkap dalam wawancara Adnan Buyung Nasution di Metro TV beberapa waktu dalam rangka membela Ahmadiyah. Pewawancaranya, penyiar TV cantik Sandrina Malakiano. Pada akhir acara, bang Buyung menganjurkan (kepada kelompok yang berseberangan dengan Ahmadiyah) untuk “agree to disagree”. Dan Sandrina mendukungnya.

Prinsinsip ini juga sifatnya self defeating. Kalau waktu itu mbak Sandrina menanyakan pada bang Buyung: ”Anda dan Ahmadiyah seharusnya agree dong dengan disagreement MUI dan kelompok yang berseberangan dengan Ahmadiyah. Jangan mereka yang harus mengikuti anda dan Ahmadiyah”. Kalau bang Buyung dan Ahmadiyah mengikuti “agree to MUI disagreement” maka MUI dan kelompok yang berseberangan dengan Ahmadiyah tidak perlu bergeming dari posisi mereka. Bingung ya? Problemnya Ahmadiyah dan bang Buyung tidak mau agree dengan disagreement dari MUI.

3. Prinsip Sesat 3:
“Dilarang melarang” – berilah orang lain kebebasan.
Dalil “jangan melarang” sering digunakan untuk membuka jalan untuk perbuatan yang tidak disukai oleh kelompok yang berseberangan. Dalihnya adalah kebebasan, liberalisme. Pada dasarnya prinsip ini juga self defeating. “Kita TIDAK BOLEH melarang” katanya.

Kata JANGAN dan TIDAK BOLEH adalah kata melarang. Jadi kalau anda tanyakan:”Apakah anda tadi melarang?”. Atau: “Lho kok anda melarang saya untuk melarang”. Nah dia akan bingung. “Jangan melarang” adalah larangan juga. Bingung ‘kan? Memang self defeating principles membuat penggunanya bingung seperti orang tersesat.

4. Prinsip Sesat 4:
“Di dunia ini tidak ada yang pasti”
Ini salah satu varian dari prinsip sesat 1. Untuk membuktikan kesesatannya, coba tanyakan: ”Apakah kamu yakin”. Kalau jawabnya: ”Ya pasti!”. Kita balas lagi: ”Lha itu ada yang pasti!” Nah bingung ‘kan dia. Seseorang yang meragukan semua hal di dunia ini, maka dia harus meragukan keraguannya sendiri. Mau tidak mau manusia harus percaya bahwa ada yang pasti dan secara absolut benar.

5. Prinsip Sesat 5:
“Semua agama/aliran pada hakekatnya sama”
Ini prinsip yang sering ditonjolkan JIL bersama penganut pluralisme. Pernyataan pada hakekatnya adalah suatu kebohongan. Kalau mau jujur, secara theologis, antara Islam, Kristen dan Buddha, umumnya berlainan sekali. Bahkan di antara sesama Kristen, atau sesama Islam, theologinya bisa berlainan. Oleh sebab itu kalau didesak, kenapa dia (JIL dan penganut pluralisme) tidak ikut saja agama/aliran kami, toh menurut dia sama saja? Mereka mundur dengan mengatakan bukan sama persis, tetapi tujuannya sama. Berbeda-beda jalan tetapi tujuannya sama. Mungkin keinginan yang dicita-citakan sama, yaitu keselamatan, tetapi tetapi persoalannya adalah apakah semuanya menuju arah yang sama. Saya harap demikian. Tetapi kenyataanya tidak. Contohnya, bagi penganut agama Kristen (Protestan dan Katholik), doktrin untuk memperoleh keselamatan (salvation) adalah mengakui Jesus sebagai Tuhan yang berkorban untuk menebus dosa manusia. Sedangkan menurut Islam menyetarakan Jesus (atau apapun) dengan Tuhan dikategorikan dosa yang tak terampuni. Bukankah ini bertolak belakang?

Kebanyakan orang menganggap bahwa masalah agama dan kebenaran yang hakiki identik dengan persoalan spiritual dan sepantasnya misterius serta tidak bisa dinalar. Semakin misterius semakin benilai religius. Oleh sebab itu yang disebut kepercayaan dipercayai bertolok ukur rasa dan hati. Kalau demikian halnya maka dialog antar agama tidak akan pernah mencapai titik temu. Kebenaran itu unik, sedang lawannya plural. Yang menarik di Quran ialah, kata cahaya pencerahan, nur, selalu digunakan bentuk singular bukan plural – anwar. Sedang untuk kesesatan selalu digunakan bentuk plural.

Tuhan adil. Hakiki suatu realita jelas, tidak misterius dan dapat dinalar. Andaikata harus dilakukan dialog antar umat beragama, sudah sepatutnya dalam domian akal dan nalar agar tercapai titik temu. Siapa saja yang (mendalami dan) berpegang pada Quran pasti sudah siap. Kata spiritual (bahasa Arabnya rohani dan rohaniah) tidak dijumpai dalam Quran. (Untuk ini saya berani bertaruh akan menghadiahi Rp 10 juta, bagi yang dapat menemukan kata rohani dan rohaniah di Quran.)

Yang sering saya jumpai ialah pada akhir banyak dialog masing-masing tidak bergeming dari posisinya, walaupun ada pihak sudah dibuktikan salah opininya. Hakiki dari realita adalah tidak tergantung/tidak perduli pada persepsi yang melihat. Bagi yang tidak mau menyesuaikan persepsinya dengan realitas maka akan tersesat dan merugi. Dalam istilah Qurannya, bahwa Allah tidak menganiaya pendosa, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya diri sendiri. Dengan demikian tidak ada kebebasan dalam kepercayaan dan dalam persepsi terhadap realita. Itu hukum alam yang sudah diset demikian oleh Penciptanya. Manusia diberi kebebasan memilih untuk menerima kebenaran hakiki itu atau menutup mata.

Sebagai akhir kata, dari pada menyamakan persepsi, bukankah lebih baik kita mencari kebenaran yang hakiki. Ini yang seharusnya menjadi jalan hidup menuju keselamatan (salvation) yang digariskan sang Pencipta. Masih banyak aspek-aspek kehidupan yang tidak bisa dibahas dalam artikel pendek ini. Agama bukan masalah spiritual, tetapi berdomain nalar yang bisa didiskusikan secara cerdas. Diskusi (bukan dialog) masih terbuka hanya untuk mencari kebenaran yang hakiki bukan untuk menyamakan persepsi.

“Tidak kau lihat orang-orang yang menentang Tuhan dengan menjadikan dorongan hatinya sebagai tuhannya”. Berhati hatilah terhadap perasaan dan hati anda. Gunakanlah akal dan nalar agar tidak tersesat.

Sebaliknya dalam Surat Yusuf ayat 100 dinyatakan bahwa Tuhan akan menghukum orang yang TIDAK MENGGUNAKAN AKALNYA. (Sudah dikasih kok tidak dipakai).

Selamat berpuasa dan semoga anda menggunakan akal anda. Sinetron-sinetron TV akhir-akhir ini melakukan pembodohan terhadap umat Islam dan masyarakat. Gunakan akal anda, jangan menonton.


7 Oktober 2005
Renungan Agama dan Latihan Berpikir | Log-in or register a new user account | 0 Comments
Comments are statements made by the person that posted them.
They do not necessarily represent the opinions of the site editor.
Copyright © KlubSaham.Com 2003

Seluruh isi klubsaham.com dilindungi oleh Undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi, mengambil seluruh maupun sebagian dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari KlubSaham.Com.

This document is based on information obtained from sources which we believe to be reliable but we do not represent that it is accurate or complete. Neither the information nor the opinion expressed herein constitutes, or is to be construed as an offer or the solicitation of an offer to sell or buy securities referred to herein. Opinions and estimates constitute our judgment at the date of the document and may change without notice.