ETF Instrumen Baru Yang Menggoda

Dikirim dari Indo Premier ke email g minggu lalu, hanya mau berbagi aja :hug:
Multi Quote Quote
Akhirnya Exchange Traded Fund (ETF) hadir di Indonesia di penghujung tahun ini. Instrumen ini sangat cocok bagi investor yang menginginkan investasi dengan cara gampang namun berhasil mengalahkan Manajer Investasi (MI) handal. Mungkin banyak yang belum mengenal apa itu ETF. Hal ini wajar mengingat para pelaku pasar modal juga masih banyak yang awam terhadap ETF. Sebetulnya ETF adalah reksa dana yang isi portofolionya mereplikasi indeks, misalnya LQ-45 dan ETF ini dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga para investor bisa membeli / menjual ETF seperti layaknya saham melalui pialang sahamnya masing-masing.\r\n\r\nKeuntungan investasi di LQ-45\r\nKarena ETF mereplikasi indeks maka ada baiknya kita lihat apakah bijaksana berinvestasi di indeks? Simak angka-angka berikut ini. Bila Anda berinvestasi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maka setahun terakhir return yang didapat sebesar 56.4% YoY (periode: 30 Nov 06 – 30 Nov 07). Sedangkan di LQ-45 untuk periode yang sama returnnya 57.02%. Dalam jangka panjang, periode 30 Nov 2002 – 30 Nov 2007 Anda mendapatkan return 588.57% di IHSG dan 610.19% di LQ-45. Perlu diingat bila Anda berinvestasi di IHSG berarti seluruh saham yang ada di BEI harus dibeli dengan bobot masing-masing saham sebesar market kapitalisasinya. Melakukan hal ini sangat tidak praktis karena banyak saham yang tidak likuid dan kurang bagus fundamentalnya. Lain halnya dengan LQ-45 yang diterbikan oleh BEI, hanya terdiri dari 45 saham yang likuid dan berfundamental baik. Selain itu secara historis return LQ-45 lebih baik dari IHSG untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jadi investasi di LQ-45 lebih praktis dan hasilnya tidak kalah dari IHSG. \r\n\r\nPengaruh Deviden Saat Membandingkan Kinerja\r\nLalu bagaimana kinerja LQ-45 dibandingkan reksa dana saham? Untuk membandingkan keduanya kita harus benar-benar fair artinya benar-benar membandingkan secara apple to apple. Reksa dana saham berisi saham-saham yang membagikan deviden, nah deviden ini direinvestasi dan tercermin di “harga” atau Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan (NAB/UP). Bila harga semua saham yang menjadi portofolio reksa dana tersebut tidak berubah maka deviden yang direinvestasi akan memperbesar “harga” atau NAB/UP. Sedangkan LQ-45 tidak memasukkan faktor deviden yang direinvestasi. Akibatnya perbandingan reksa dana saham dengan LQ-45 sebenarnya kurang fair. Seharusnya kita membandingkan reksa dana saham dengan LQ-45 yang mereinvestasikan deviden. Pengaruh deviden direinvestasi sangat besar seperti terlihat di grafik 1. Untuk periode 8 Des 2002 – 8 Des 2007, LQ-45 tanpa memperhitungkan deviden direinvestasi memberikan keuntungan 622% bandingkan dengan LQ-45 dengan deviden direinvestasi yang menghasilkan 769% atau lebih unggul 147%. \r\n\r\nGrafik 1. Kinerja LQ-45 vs LQ-45 (deviden direinvestasi)\r\nSumber : Bloomberg\r\n\r\nUmumnya Manajer Investasi membandingkan kinerjanya dengan LQ-45 tanpa deviden direinvestasi. Dampaknya adalah mereka membandingkan dengan benchmark yang terlalu rendah. Berarti kita patut curiga apabila ada klaim sebuah reksa dana saham lebih unggul dibandingkan LQ-45 karena belum tentu reksa dana tersebut tetap masih unggul bila faktor deviden direinvestasi turut diperhitungkan.\r\n\r\nLQ-45 vs Reksa Dana Saham\r\nSetelah mengetahui kinerja LQ-45 dengan deviden direinvestasi barulah kita bisa bandingkan dengan kinerja reksa dana saham. Untuk selanjutnya LQ-45 dengan deviden direinvestasi kita sebut saja indeks. Memakai periode yang sama yaitu dari 8 Des 2002 – 8 Des 2007, hanya ada 21 reksa dana saham yang masuk hitungan. Hasil perbandingan return cukup mengejutkan karena hanya 5 reksa dana saham saja yang bisa unggul! Seperti terlilhat pada tabel 1, return tahunan (annualized return) ke lima reksa dana saham tersebut berkisar 54.5% - 59.8% bandingkan dengan indeks sebesar 54.3%. Anda bisa berargumen toh masih ada reksa dana yang lebih baik dibanding indeks. Mari kita bermimpi menjadi investor lucky yang hanya invest di 5 reksa dana unggulan tersebut. Rata-rata return kelimanya adalah 56.55% atau 2.3% lebih tinggi dibanding indeks. Masih lebih unggul reksa dana saham? Jangan senang dulu! Coba hitung biaya pembelian reksa dana yang biasanya berkisar 2% dan biaya penjualan kembali sekitar 1%. Total biaya tersebut 3% segera menenggelamkan keunggulan 2.3% reksa dana saham Anda. Jadi kalau dihitung setelah biaya-biaya, reksa dana saham tidak lebih baik dibanding indeks, mengapa tidak investasi di indeks saja?\r\n\r\nTabel 1. Return Tahunan Reksa Dana Saham vs LQ-45 (deviden direinvestasikan)\r\nNama Reksa Dana Return Tahunan (%)\r\nA 59.84%\r\nB 58.50%\r\nC 55.08%\r\nD 54.81%\r\nE 54.50%\r\nLQ-45 (deviden direinvestasi) 54.25%\r\nSumber : Bloomberg \r\nETF\r\nSudah siap berinvestasi di indeks? Yach, Anda beli semua 45 saham penghuni LQ-45 dengan bobot sesuai market kapitalisasinya. Misalnya Telkom harus dialokasikan + 15% dari dana kelolaan, Astra International + 8% dan seterusnya. Wah! Ternyata cukup merepotkan dan bila dana Anda relatif sedikit maka tidak bisa mendapatkan semua saham tersebut. Lalu bagaimana cara paling mudah bagi investor yang ingin berinvestasi di indeks? Bapepam & LK memahami hal ini sehingga dibuatlah peraturan mengenai ETF. Sekuritas pertama yang menerbitkan ETF adalah Indo Premier Securities dengan ETF yang mereplikasi LQ-45. \r\n\r\nPassive Investment = Biaya Murah\r\nSeperti sudah disebutkan, ETF LQ-45 mereplikasi LQ-45 sehingga isi portofolionya tidak berubah bila BEI tidak merubahnya. Strategi investasi demikian bisa disebut Passive Investment Strategy. Oleh karena tidak memerlukan keaktifan MI untuk bertransaksi maka fee MI sangat rendah, hanya 0.5% p.a jauh dibawah fee MI reksa dana saham sekitar 3% p.a. Lagi pula MI yang aktif melakukan transaksi beli/jual akan terbebani biaya transaksi pembelian / penjualan saham yang pada akhirnya akan mengurangi NAB/UP.\r\n\r\nTransparan\r\nETF sangat transparan karena investor mengetahui seluruh isi portofolio plus prosentase di tiap-tiap saham. Rasanya tidak ada MI yang berani buka-bukaan isi portofolio ke semua orang baik nasabah maupun bukan nasabah seperti ETF. Dengan mengetahui semua isi portofolio maka Anda bisa memperkirakan berapa besar resiko bila berinvestasi di ETF. Masih ada transparansi lainnya di ETF yaitu transparansi harga. Bila reksa dana biasa hanya dihitung berdasarkan harga penutupan saja maka ETF (yang akan dikeluarkan Indo Premier) dihitung setiap 15 detik selama jam bursa. Informasi harga real time ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan beli/jual ETF oleh investor.\r\n\r\nDana Kecil Tapi Terdiversifikasi\r\nBagi investor kecil, ETF sangat bersahabat karena tidak perlu modal besar untuk memilikinya. Saat ini LQ-45 pada posisi sekitar 600, nah ETF yang baru terbit boleh menggunakan harga pada indeks level tidak harus Rp. 1,000 seperti reksa dana biasa. Berarti untuk membeli 1 lot (=500 lembar) ETF hanya perlu sekitar Rp. 300.000,- saja. Dengan Rp. 300 ribu Anda mendapat 45 macam saham. Betapa terdiversifikasinya! Ingat, menurut teori portofolio, diversifikasi mengurangi resiko.\r\n\r\nTransaksi Sangat Mudah\r\nUntuk membeli / menjual ETF sangat mudah karena transaksinya persis seperti membeli / menjual saham. Anda hanya perlu buka rekening di salah satu pialang saham (perusahaan sekuritas). Setelah menyetor dana sesuai ketentuan pialang saham tersebut dan formulir pembukaan rekening disetujui maka Anda bisa melakukan order beli/jual ETF pada jam bursa dari pk : 09.30 – 16.00 WIB. Pada reksa dana biasa, dana Anda harus good funds sebelum pk : 13.00 WIB agar dapat dicatat sebagai pembelian hari itu. Lewat dari pk : 13.00 WIB akan diberi ”harga” keesokan harinya. \r\n\r\nSangat Likuid\r\nHarga per lot yang hanya sekitar Rp. 300 ribuan menjadikan ETF terjangkau semua investor sehingga makin banyak pemain dan menjadikannya makin likuid. ETF juga bisa dibeli/dijual oleh semua pialang sehingga bisa dianggap semua pialang adalah distribution channel ETF. Ini memperluas daya jangkau atau accessibility sehingga investor tidak perlu mengkhawatirkan likuiditas ETF.\r\n\r\nBisa Untuk Intraday Trading\r\nKeunggulan unik ETF lainnya dibanding reksa dana biasa adalah kenyataan bahwa Anda bisa membeli ETF pada pagi hari dan menjualnya siang/sore harinya atau istilah kerennya intraday trading. Apabila harganya naik maka Anda memperoleh keuntungan yang langsung ditransfer ke rekening Anda tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Namun bisa juga harganya turun sehingga Anda harus membayar kerugian. Penulis kurang menganjurkan untuk berinvestasi ETF seperti ini. \r\n\r\nTetap Ada Resikonya\r\nETF tetap mengandung resiko yaitu resiko penurunan harga. Selain itu permintaan dan penawaran (bid-offer) bisa jauh bedanya sehingga investor yang ingin menjual perlu menurunkan harga penawarannya cukup jauh. Untuk mengantisipasi hal ini Bapepam & LK mewajibkan penerbit ETF menunjuk Dealer Partisipan yang berfungsi sebagai market maker dengan tugas membeli ETF bila terjadi tekanan jual dan menjual ETF bila terjadi permintaan yang luar biasa besar. \r\n\r\nWalaupun ada resikonya namun keunggulan ETF sangat banyak dan biasanya investor asing yang ingin masuk berinvestasi di suatu negara lebih menyukai membeli ETF indeks negara tersebut. Penulis percaya bahwa ETF akan menjadi permulaan yang baik bagi investor ritel karena sesungguhnya Anda tidak perlu menjadi kaya untuk berinvestasi di ETF justru sebaliknya Anda berinvestasi di ETF untuk menjadi kaya.\r\n\r\n\r\nTulisan ini merupakan pendapat pribadi.\r\nOleh : Parto Kawito - Direktur PT Indo Premier Securities
Multi Quote Quote
asal anda tau ye di amrik yang ngelola ETF punya gedung lebih tinggi dan megah itu artinya keunutngan ETF lebih berlipat-lipat dari yang diberikan ke nasabah mending maen ndiri selama lu pnya waktu dan otak keunutngannya lu makan sendiri dah
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...