KISAH & CERITA YG MEMOTIVATOR

Bagaimana cara merawat seorang ibu yang sedang sakit .. ? Saya sendiri pernah menemani ibu saya yang masuk rumah sakit juga .. \r\n\r\n\r\nIni sekedar uraian yang diberikan oleh Yang Ariya Ajahn Chah kepada seorang ibu yang sudah sakit2an dan menjelang ajal … sangat menyentuh … "anicca vatta sankhara" .. ingat .. selama hidup .. jangan mabuk kehidupan .. seolah2 kita akan hidup terus … banyak2 lah berbuak kebaikan … \r\n\r\n==========\r\n\r\n"Rumah Kita Yang Sebenarnya" - Ajahn Chah\r\nRumah Kita Yang Sebenarnya\r\n\r\nOleh : Venerable Ajahn Chah\r\n\r\nSekarang, bertekadlah di dalam batin anda untuk mendengarkan Dhamma dengan penuh hormat. Ketika saya sedang berbicara, perhatikanlah kata-kata saya seolah-olah Sang Buddha sendiri yang duduk di hadapan anda. Tutuplah mata anda dan buatlah diri anda nyaman, tata pikiran anda dan jadikan ia terpusat pada satu titik. Izinkanlah dengan segala kerendahan hati, Tiga Permata dari kebijaksanaan, kebenaran dan kemurnian untuk tinggal di hati anda, sebagai cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada Yang Telah Tercerahkan.\r\n\r\nHari ini, saya tidak membawa benda-benda material untuk diberikan kepada anda, hanya Dhamma, ajaran dari Sang Buddha. Anda seharusnya memahami bahwa bahkan Sang Buddha sendiri, dengan segudang besar kebajikan yang telah dikumpulkan, tidak dapat menghindar dari kematian fisik. Ketika beliau mencapai usia tua, beliau menyerahkan tubuhnya dan melepaskan beban yang begitu berat. Sekarang, anda juga semestinya belajar untuk merasa puas dengan telah sebegitu lamanya anda bergantung kepada tubuh anda. Anda seharusnya merasa bahwa itu sudah cukup.\r\n\r\nSeperti alat-alat rumah tangga yang telah anda miliki untuk waktu yang lama – cangkir, piring-piring kecil, panci dan seterusnya – ketika pertama kali anda memilikinya, mereka tampak bersih dan mengkilat, tetapi kini setelah memakainya begitu lama, mereka mulai usang. Beberapa sudah rusak, ada yang sudah hilang, dan yang masih tersisa pun sudah berkarat, mereka tidak memiliki bentuk yang stabil. Dan itu adalah sifat alami mereka untuk menjadi seperti itu. Tubuh anda juga sama… ia telah secara terus-menerus berubah dari sejak anda dilahirkan, melalui masa kanak-kanak dan masa muda, hingga sekarang ia telah mencapai usia tua. Anda harus menerimanya. Sang Buddha mengatakan bahwa kondisi-kondisi, apakah internal, kondisi-kondisi tubuh atau kondisi-kondisi eksternal, adalah tanpa inti, sifat alami mereka adalah untuk berubah. Renungkanlah kebenaran ini secara jernih.\r\n\r\nGumpalan daging yang sedang melapuk ini adalah suatu kenyataan (note: Saccadhamma). Fakta-fakta tentang tubuh ini adalah kenyataan, mereka adalah ajaran Sang Buddha yang tak lekang oleh waktu. Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenungkan hal ini dan menerima sifat alami mereka. Kita harus bisa berdamai dengan tubuh ini, tidak peduli dalam keadaan apa pun dia. Sang Buddha mengajarkan bahwa kita seharusnya memastikan hanya tubuh ini saja yang terpenjara, dan bukan batin yang ikut dipenjara bersamanya. Sekarang, ketika tubuh anda mulai merosot dan melapuk sejalan dengan bertambahnya usia, janganlah melawannya, tetapi jangan pula membiarkan pikiran anda ikut lapuk dengannya. Jagalah pikiran agar tetap terpisah. Berikan energi kepada pikiran dengan cara menyadari sifat-sifat sejati dari segala sesuatu. Sang Buddha mengajarkan bahwa inilah sifat alami dari tubuh, tidak ada lagi jalan yang lain. Begitu dilahirkan, ia menjadi tua dan sakit dan kemudian ia mati. Ini adalah kebenaran mulia yang saat ini sedang anda saksikan. Lihatlah tubuh ini dengan kebijaksanaan dan sadarilah hal ini.\r\n\r\nJika rumah anda kebanjiran atau terbakar habis, atau apapun ancaman terhadapnya, biarkanlah ia berurusan hanya dengan rumahnya saja. Jika ada banjir, jangan biarkan ia membanjiri batin anda. Jika ada kebakaran, jangan biarkan ia membakar hati anda. Biarkan saja rumah itu yang mengalaminya sendirian, yang berada di luar anda, apakah ia kebanjiran ataupun terbakar. Kini sudah saatnya anda mengizinkan batin anda untuk melepaskan segala kemelekatan.\r\n\r\nAnda telah hidup untuk waktu yang lama sampai saat ini. Mata anda telah melihat berbagai macam bentuk dan warna, telinga anda sudah mendengar begitu banyak suara-suara, anda telah memiliki banyak pengalaman. Dan hanya itu saja mereka adanya – pengalaman. Anda telah menyantap makanan-makanan yang enak, dan semua citarasa yang enak tersebut hanyalah citarasa yang enak, tidak lebih. Citarasa yang tidak enak hanyalah citarasa yang tidak enak, itu saja. Jika mata melihat suatu bentuk yang indah, hanya itu saja… suatu bentuk yang indah. Bentuk yang jelek hanyalah bentuk yang jelek. Telinga mendengar suara yang lembut dan merdu, dan tidak lebih dari itu. Bunyi yang ribut dan menggelisahkan, juga hanya itu, tidak lebih.\r\n\r\nSang Buddha mengatakan bahwa kaya atau miskin, muda atau tua, manusia atau binatang, tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang dapat mempertahankan diri mereka dalam suatu keadaan yang tetap untuk waktu yang lama. Semuanya mengalami perubahan dan kehilangan. Ini adalah suatu kenyataan hidup yang kita tidak bisa lakukan apapun untuk menghentikannya. Tetapi Sang Buddha mengatakan bahwa yang bisa kita lakukan adalah merenungkan tubuh dan pikiran ini guna melihat ketiadaan jati dirinya, bahwa tidak ada satupun dari mereka yang merupakan “aku” ataupun “milikku.” Mereka hanyalah kenyataan yang sementara saja. Seperti rumah ini, ia hanyalah milik anda secara nominal. Anda tidak dapat membawanya ke mana-mana. Hal yang sama berlaku untuk kesehatan anda, harta anda dan keluarga anda. Mereka hanyalah milik anda di dalam nama dan sebutan saja. Mereka tidaklah benar-benar milik anda, mereka adalah milik alam ini.\r\n\r\nSekarang, kebenaran ini tidak hanya berlaku untuk anda seorang saja, semua orang berada dalam perahu yang sama – bahkan Sang Buddha sendiri dan murid-muridNya yang telah tercerahkan. Mereka berbeda dari kita hanya dalam satu hal, dan itu adalah pemahaman mereka akan sifat sejati dari segala sesuatu. Mereka melihat bahwa tidak ada jalan yang lain lagi.\r\n\r\nJadi, Sang Buddha mengajarkan kita untuk menelusuri dan menyelidiki tubuh kita, mulai dari telapak kaki hingga ke puncak kepala kita, dan kemudian kembali lagi ke kaki. Perhatikan saja tubuh kita. Benda-benda apa yang anda lihat? Adakah sesuatu yang benar-benar bersih di sana? Bisakah anda menemukan unsur-unsur yang tetap dan tidak berubah? Seluruh tubuh ini melapuk dan merosot secara teratur. Sang Buddha mengajarkan kita untuk memahami bahwa ia bukanlah milik kita. Adalah merupakan hal yang alamiah jika tubuh berlaku seperti ini, karena segala fenomena yang berkondisi akan tetap berubah. Dengan cara apa lagi anda akan menanggapinya? Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sifat-sifat tubuh ini. Bukan tubuh kita yang menyebabkan penderitaan, tetapi pemikiran yang salah yang menyebabkan penderitaan. Ketika anda memandang sesuatu dengan cara yang salah, akan ada kebingungan.\r\n\r\nSeperti air di sungai. Ia mengalir ke tempat yang lebih rendah secara alami, ia tak pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Itu adalah sifat alaminya. Jika seseorang pergi dan berdiri di tepi sungai dan menginginkan air tersebut untuk mengalir kembali ke tempat yang lebih tinggi, dia adalah orang bodoh. Ke mana pun dia pergi, pemikiran bodohnya itu akan membuat batinnya tidak tenang. Dia akan menderita karena pandangan salahnya, pikirannya melawan arus. Jika dia mempunyai pandangan yang benar, dia akan memahami bahwasannya air akan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan sampai dia menyadari dan menerima kenyataan ini, dia akan tetap bingung dan frustrasi.\r\n\r\nAir sungai yang harus mengalir di sepanjang alurnya itu adalah seperti tubuh anda. Setelah melewati masa muda, tubuh anda menjadi tua dan bergerak terseok-seok menuju kematiannya. Jangan mengharapkan yang sebaliknya, ia bukanlah sesuatu yang bisa anda hentikan. Sang Buddha mengatakan kepada kita untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya dan melepaskan kemelekatan kita terhadap mereka. Ambillah perasaan melepaskan ini sebagai tempat perlindungan anda. Teruslah bermeditasi walaupun jika anda merasa lelah dan kehilangan tenaga. Biarkan pikiran anda bersama-sama dengan nafas. Tariklah beberapa nafas panjang dan kemudian pusatkan perhatian pada pernafasan, dengan memakai mantra Bud-dho. Jadikanlah latihan ini sebagai rutinitas. Semakin anda merasa kehabisan tenaga, akan semakin halus dan semakin fokus pula konsentrasi anda, sehingga anda dapat mengatasi apapun rasa sakit yang timbul. Ketika anda mulai merasa lelah, hentikan semua pikiran anda, biarkan pikiran anda mengumpulkan dirinya sendiri dan kemudian arahkanlah ia untuk memperhatikan nafas. Teruslah melafalkan dalam batin, Bud-dho, Bud-dho.\r\n\r\nLepaskan semua hal yang berada di luar. Jangan terikat pada pikiran-pikiran tentang anak-anak dan sanak keluarga anda, jangan terikat pada apapun. Lepaskanlah. Biarkan pikiran berkumpul dalam satu titik dan arahkan pikiran yang menyatu ini untuk memperhatikan nafas. Biarkan nafas menjadi objek tunggal pengetahuannya. Berkonsentrasilah hingga pikiran menjadi semakin halus, hingga perasaan menjadi tidak berarti lagi dan terdapat kejernihan serta kesadaran yang tinggi di dalam batin. Lalu, apapun rasa sakit yang muncul akan sedikit demi sedikit menghilang dengan sendirinya.\r\n\r\nPada akhirnya, anda akan memandang nafas anda seolah-olah seperti sanak-saudara yang datang mengunjungi anda. Ketika sanak-saudara anda pergi, anda mengikuti mereka keluar untuk mengantarkan mereka. Anda memperhatikan hingga mereka naik ke kenderaan mereka dan menghilang dari penglihatan, dan kemudian anda masuk kembali ke dalam. Kita memperhatikan nafas dengan cara yang sama. Jika nafas terasa kasar, kita tahu bahwa ia kasar, jika ia halus maka kita tahu bahwa ia halus. Ketika nafas menjadi semakin nyaman, kita terus mengikutinya, dan dalam waktu yang sama menyadarkan pikiran kita. Selanjutnya nafas akan menghilang seluruhnya dan yang tersisa hanyalah kewaspadaan. Inilah yang dinamakan bertemu dengan Sang Buddha. Kita memiliki kesadaran diri yang telah dibangkitkan dan jernih, yang dinamakan Bud-dho, yang mengetahui, yang telah dibangunkan, yang bersinar. Inilah yang disebut bertemu dan tinggal dengan Sang Buddha, dengan pengetahuan dan kejernihan. Hanya Sang Buddha zaman dulu yang telah wafat. Sang Buddha yang sebenarnya, Sang Buddha yang jernih, yang mengetahui, tetap dapat dialami dan dicapai pada hari ini. Dan jika kita benar-benar telah mencapainya, hati menjadi satu.\r\n\r\nJadi, lepaskan, letakkanlah semuanya, semuanya kecuali Yang Mengetahui. Jangan tertipu jika gambar-gambar atau suara-suara muncul dalam pikiran selama meditasi. Letakkanlah mereka semua. Jangan memegang apa pun, tetaplah tinggal bersama-sama dengan kesadaran diri yang menyatu ini. Jangan mengkhawatirkan masa lalu atau masa depan, tetaplah diam dan anda akan mencapai suatu tempat di mana tidak ada kemajuan, tidak ada kemunduran dan tidak ada penghentian, di mana tidak ada sesuatu untuk dilekati dan digenggam. Mengapa? Karena di sana tidak ada diri, tidak ada “aku” atau “milikku.” Semuanya lenyap. Sang Buddha mengajarkan untuk mengosongkan diri kalian dari segala sesuatu dengan cara ini, tidak membawa apa pun ke mana-mana… untuk mengetahui, dan setelah mengetahui, lepaskanlah.\r\n\r\nMenyadari akan Dhamma, jalan menuju kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian, adalah tugas yang harus kita lakukan sendiri. Jadi, teruslah mencoba untuk melepaskan dan memahami ajaran-ajaran ini. Berusaha keras lah di dalam perenungan anda. Jangan mengkhawatirkan keluarga anda. Saat ini, mereka adalah mereka, di masa depan mereka akan menjadi seperti anda. Tidak ada seorang pun di dunia yang bisa melarikan diri dari kematian yang telah ditentukan ini. Sang Buddha mengajarkan untuk meletakkan hal-hal yang tidak memiliki inti yang benar-benar kekal. Jika anda meletakkan semuanya, anda akan melihat kebenaran yang sejati, jika tidak, maka anda tidak akan melihatnya. Beginilah adanya. Dan semuanya sama untuk setiap orang di dunia. Jadi, jangan mengenggam apa pun.\r\n\r\nBahkan jika anda sedang berpikir, itu juga tidak apa-apa, sepanjang kalian berpikir secara bijaksana. Jangan berpikir secara bodoh. Jika anda memikirkan anak-anak anda, pikirkanlah mereka dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebodohan. Apa pun yang sedang dipikirkan, pikirkanlah ia dengan kebijaksanaan, waspadalah akan sifat alaminya. Mengetahui sesuatu dengan bijaksana adalah dengan melepaskannya dan tidak menderita karenanya. Pikiran ini terang, penuh kenikmatan, dan damai. Ia menjauhi kekacauan dan tidak terpisahkan. Kini, yang bisa anda harapkan untuk menolong dan mendukung anda, adalah nafas anda.\r\n\r\nIni adalah pekerjaan anda sendiri, bukan orang lain. Biarkan orang lain melakukan pekerjaan mereka sendiri. Anda mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri, anda tidak perlu mengambil alih tugas dan pekerjaan dari keluarga anda. Jangan mengambil alih apa pun yang lain, lepaskanlah semua. Dengan melepaskan, akan membuat batin anda menjadi tenang. Satu-satunya tanggung jawab anda sekarang adalah memusatkan pikiran anda dan buatlah ia menjadi damai. Biarkanlah hal-hal yang lain diurus oleh orang lain. Bentuk-bentuk, suara-suara, bau-bau, rasa-rasa kecapan… biarkanlah mereka diurus oleh orang lain. Tempatkan semuanya di belakang dan lakukanlah pekerjaan anda sendiri, penuhilah tanggung jawab anda sendiri. Apa pun yang muncul dalam pikiran anda, apakah itu ketakutan akan sakit, ketakutan akan kematian, kerinduan terhadap orang lain, atau apa pun itu, katakan saja,”Jangan ganggu saya. Engkau tidak lagi merupakan kekhawatiran bagi saya.” Teruslah mengatakan hal ini di dalam diri anda ketika anda melihat dhamma-dhamma itu muncul.\r\n\r\nApa yang dimaksud dengan kata dhamma ini? Segala sesuatunya adalah dhamma, tidak ada sesuatu pun yang bukan dhamma. Dan bagaimana pula dengan “dunia” ? Dunia adalah suatu keadaan mental yang menghasut anda pada saat ini. “Apa yang akan mereka lakukan? Ketika saya sudah pergi, siapa yang akan menjaga mereka? Akan bagaimanakah keadaan mereka nanti?” Ini semua hanyalah “dunia.” Bahkan hanya dengan munculnya pikiran yang takut akan kematian atau rasa sakit saja adalah dunia. Buanglah dunia ini jauh-jauh! Dunia adalah sebagaimana adanya ia. Jika anda membiarkan ia menguasai pikiran anda, pikiran akan menjadi suram dan tak dapat melihat dirinya sendiri. Jadi, apapun yang muncul di dalam pikiran, katakan saja,”Ini bukan urusan saya. Ia tidak permanen, tidak memuaskan dan tidak mempunyai inti.”\r\n\r\nBerpikir bahwa anda lebih suka meneruskan hidup untuk jangka waktu yang lama, akan membuat anda menderita. Tetapi berpikir bahwa anda ingin mati seketika atau dengan sangat cepat, juga tidak benar. Ia adalah penderitaan, bukan? Kondisi bukanlah milik kita, mereka mengikuti hukum alam mereka. Anda tidak dapat melakukan apapun untuk mempengaruhi sifat-sifat alami tubuh ini. Anda bisa mempercantiknya sedikit, membuatnya bersih dan menarik untuk sementara, seperti gadis-gadis muda yang mengecat bibir mereka dan membiarkan kuku mereka tumbuh panjang, tetapi ketika usia tua tiba, semua orang berada dalam perahu yang sama. Itulah sifat alami tubuh, anda tidak dapat mengubahnya. Yang bisa kalian perbaiki dan percantik adalah batin.\r\n\r\nSiapa pun bisa membangun rumah dari kayu dan batu bata, tetapi Sang Buddha mengajarkan bahwa rumah seperti itu bukanlah rumah kita yang sebenarnya, ia hanyalah milik kita di dalam sebutan saja. Ia adalah rumah di dunia dan ia mengikuti jalannya dunia ini. Rumah kita yang sebenarnya adalah kedamaian di dalam. Sebuah rumah bermateri, yang berada di luar, bisa saja indah tetapi ia tidaklah begitu damai. Ada kekhawatiran yang ini dan kemudian yang itu, kecemasan yang ini, lalu yang itu. Jadi, kita mengatakan bahwa ia bukanlah rumah kita yang sebenarnya, ia berada di luar kita. Cepat atau lambat kita harus melepaskannya. Ia bukanlah sebuah tempat di mana kita dapat tinggal secara permanen karena ia bukan milik kita yang sebenarnya, ia adalah milik dunia ini. Tubuh kita juga sama. Kita menganggapnya sebagai suatu diri, sebagai “aku” atau “milikku”, tetapi kenyataannya ia sama sekali tidak demikian, ia adalah satu lagi rumah duniawi yang lain. Tubuh anda telah mengikuti jalur alaminya semenjak lahir, hingga sekarang ketika ia sudah tua dan sakit, dan anda tidak bisa melarangnya untuk berbuat demikian. Begitulah ia adanya. Menginginkannya untuk menjadi sesuatu yang berbeda, adalah sama bodohnya dengan menginginkan seekor bebek menjadi seekor ayam. Ketika anda melihat bahwa itu tidak mungkin – bahwa seekor bebek haruslah menjadi seekor bebek dan seekor ayam haruslah tetap seekor ayam, dan bahwasannya tubuh harus menjadi tua dan mati – anda akan menemukan keberanian dan energi. Sekuat apa pun keinginan anda agar tubuh ini tetap bertahan, ia tidak akan melakukannya.\r\n\r\nSang Buddha berkata (note: Sebuah paritta yang secara tradisi biasanya dibacakan pada upacara pemakaman),\r\nAnicca vata sankhara Semua kondisi adalah tidak permanen\r\nUppada-vaya-dhammino Muncul dan pergi\r\nUppajjitva nirujjhanti Setelah dilahirkan, mereka semua harus berakhir\r\nTesam vupasamo sukho Menenangkan kondisi adalah kebahagiaan sejati\r\n\r\nKata “sankhara” merujuk kepada tubuh ini dan pikiran. Sankhara-sankhara itu tidak permanen dan tidak stabil. Setelah terbentuk mereka pun menghilang, setelah muncul mereka akan pergi, namun setiap orang menginginkan mereka untuk menjadi permanen. Ini adalah kebodohan. Lihatlah nafas. Begitu ia masuk, ia pun keluar, itu sudah merupakan sifat alaminya, begitulah ia seharusnya. Nafas masuk dan nafas keluar berlangsung silih berganti, harus ada perubahan di sana. Kondisi tercipta melalui perubahan, anda tidak dapat mencegahnya. Coba pikirkan, bisakah anda menghembuskan nafas tanpa menarik nafas? Akankah ia terasa nyaman? Atau dapatkah anda hanya menarik nafas saja? Kita ingin segala sesuatunya menjadi permanen tetapi mereka tidaklah bisa demikian, itu tidak mungkin. Begitu nafas masuk, ia harus keluar lagi. Ketika ia sudah keluar, ia masuk kembali lagi, dan itu hal yang alami, bukan? Setelah dilahirkan, kita menjadi tua dan kemudian mati, dan itu merupakan hal yang sepenuhnya alami dan normal. Karena kondisi-kondisi telah melakukan pekerjaan mereka, karena nafas masuk dan nafas keluar telah berlangsung silih berganti dengan cara ini, sehingga umat manusia bisa tetap ada di sini sampai hari ini.\r\n \r\nBegitu kita dilahirkan, kita sudah mati. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal yang sama. Seperti sebuah pohon: di mana ada akar, maka di situ harus ada rantingnya, di mana ada ranting, maka di situ harus ada akarnya pula. Anda tidak bisa memiliki yang satu tanpa memiliki yang lain. Agak lucu ketika melihat bagaimana pada saat kematian, orang-orang begitu berdukacita dan bingung, dan pada saat kelahiran, begitu senang dan bahagia. Itu semua adalah khayalan, tidak seorang pun yang pernah melihat hal ini dengan jelas. Saya kira jika anda benar-benar ingin menangis, maka akan lebih baik jika anda melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Kelahiran adalah kematian, kematian adalah kelahiran; ranting adalah akar, akar adalah ranting. Jika anda harus menangis, tangisilah akarnya, tangisilah kelahiran. Perhatikanlah dengan cermat: jika tidak ada kelahiran maka tidak akan ada kematian. Bisakah anda memahami ini?\r\n\r\nJangan mengkhawatirkan segala sesuatu secara berlebihan, pikirkan saja “beginilah sifat sejati dari segala sesuatu.” Ini adalah pekerjaan anda, tugas anda. Saat ini, tidak ada yang dapat menolong anda, tidak ada yang bisa dilakukan oleh keluarga dan harta anda untuk membantu anda. Satu-satunya yang bisa menolong anda sekarang adalah kesadaran diri yang jernih.\r\n\r\nJadi, jangan ragu-ragu. Lepaskan. Buanglah semuanya jauh-jauh.\r\n\r\nWalaupun anda tidak melepaskannya pergi, bagaimanapun juga semuanya akan mulai meninggalkan anda. Bisakah anda lihat, bagaimana semua bagian dari tubuh anda yang berbeda-beda sedang mencoba untuk melepaskan diri mereka? Ambil contoh rambut anda; ketika anda masih muda, ia begitu tebal dan hitam. Kini, ia sudah rontok. Ia sudah beranjak pergi. Mata anda dulunya masih bagus dan kuat tetapi sekarang mereka sudah lemah, penglihatan anda sudah tidak jelas. Ketika organ-organ tubuh anda sudah kadaluarsa, mereka akan pergi, ini bukanlah rumah mereka. Ketika anda masih kecil, gigi anda sehat dan kokoh, kini mereka sudah goyang, atau anda telah memakai gigi palsu. Mata, telinga, hidung, lidah anda – semuanya sedang mencoba untuk pergi karena ini bukanlah rumah mereka. Anda tidak bisa membuatnya menjadi rumah yang permanen di dalam suatu keadaan yang berkondisi, anda hanya dapat tinggal untuk waktu yang singkat dan kemudian anda harus pergi. Seperti seorang penyewa yang mengawasi rumah kecilnya dengan matanya yang sudah lemah. Giginya sudah tidak begitu bagus, matanya sudah tidak begitu baik, tubuhnya sudah tidak sehat, semuanya mulai pergi.\r\n\r\nJadi, anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, karena ini bukanlah rumah anda yang sebenarnya, ia hanyalah tempat penampungan sementara. Setelah datang ke dunia ini, anda seharusnya merenungkan sifat-sifat alaminya. Semua yang ada di sana sedang bersiap-siap untuk menghilang. Lihatlah tubuh anda. Apakah ada sesuatu di sana yang masih berada dalam bentuk aslinya? Apakah kulit anda masih seperti dulu? Bagaimana dengan rambut anda? Mereka tidak sama lagi, bukan? Ke manakah semuanya pergi? Inilah yang dinamakan alam, sifat sejati dari segala sesuatu. Ketika waktu mereka telah habis, semua kondisi akan pergi melalui jalan mereka. Di dunia ini, tidak ada apa pun yang bisa dijadikan tumpuan – ia adalah sebuah lingkaran gangguan dan masalah, kesenangan dan kepedihan, yang tidak akan pernah berakhir. Tidak ada kedamaian. Bila kita tidak memiliki rumah yang sebenarnya, kita seperti seorang pengembara di jalanan yang tidak mempunyai tujuan, pergi ke sini dan ke sana, berhenti sebentar dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Sebelum kita kembali ke rumah kita yang sebenarnya, maka kita akan tetap merasa cemas, sama seperti seorang penduduk desa yang meninggalkan desanya. Hanya ketika dia sudah berada di rumah, barulah dia merasa benar-benar santai dan damai.\r\n\r\nTidak ada tempat yang benar-benar damai di dunia ini. Yang miskin tidak damai dan begitu juga dengan yang kaya; orang-orang dewasa tidak damai dan demikian juga halnya dengan orang yang berpendidikan tinggi. Tidak ada kedamaian di mana pun, itulah sifat sejati dari dunia ini. Mereka yang memiliki sedikit harta menderita, dan begitu juga dengan yang memiliki banyak harta. Anak-anak, orang dewasa, tua dan muda… semuanya menderita. Penderitaan karena usia tua, penderitaan karena usia muda, penderitaan karena kekayaan yang melimpah dan penderitaan karena kemiskinan… semuanya tidak lain dan tidak bukan, adalah penderitaan.\r\n\r\nKetika anda merenungkan segala sesuatunya dengan cara ini, anda akan melihat aniccam, ketidakkekalan, dan dukkham, ketidakpuasan. Mengapa segala sesuatu itu tidak kekal dan tidak memuaskan? Karena mereka adalah anatta, bukan suatu diri.\r\n\r\nKedua-duanya, tubuh anda yang sedang terbaring lemah dan kesakitan, dan pikiran yang menyadari rasa sakit ini, disebut dhamma. Yang tidak berbentuk, yakni pikiran-pikiran, perasaan, dan persepsi, dinamakan namadhamma. Yang diserang rasa sakit dan pegal, disebut rupadhamma. Yang bermateri disebut dhamma dan yang tidak bermateri disebut dhamma. Jadi, kita hidup dengan dhamma, di dalam dhamma, dan kita adalah dhamma. Sebenarnya, tidak ada suatu diri untuk ditemukan, yang ada hanyalah dhamma-dhamma yang secara terus-menerus muncul dan lenyap sesuai sifat alami mereka. Setiap saat kita terus menjalani kelahiran dan kematian. Begitulah sifat-sifat sejati segala sesuatunya.\r\n\r\nBila kita memikirkan Sang Buddha, begitu bersungguh-sungguhnya beliau dalam berbicara, kita merasa bahwa beliau memang sangat pantas untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan. Bilamana kita melihat kebenaran akan sesuatu, kita melihat ajaran-ajaran beliau, walaupun jika sebenarnya kita tidak pernah mempraktekkan Dhamma. Tetapi meskipun kita memiliki pengetahuan tentang ajaran-ajaran tersebut, telah mempelajari dan mempraktekkannya, selama kita belum melihat kebenaran, kita tetap tidak memiliki rumah.\r\n\r\nJadi, pahamilah hal ini. Semua orang, semua makhluk, sedang bersiap-siap untuk pergi. Ketika makhluk-makhluk sudah hidup untuk waktu yang sepadan, mereka harus pergi melalui jalan mereka masing-masing. Kaya, miskin, muda dan tua, semuanya harus mengalami perubahan ini.\r\n\r\nKetika anda menyadari bahwa begitulah sifat-sifat sejati dunia ini, anda akan merasa bahwa dunia ini adalah tempat yang melelahkan. Ketika anda melihat bahwa tidak ada apa pun yang nyata atau penting yang bisa anda jadikan sebagai tumpuan, anda akan merasa jemu dan tidak tertarik. Tidak tertarik bukan berarti anda merasa enggan. Pikiran sudah jernih. Ia akan melihat bahwa tidak ada satu pun yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal-hal ini. Ini hanyalah sifat-sifat alami dari dunia. Memahami dengan cara ini, anda bisa melepaskan kemelekatan, melepaskan dengan pikiran yang tidak bahagia atau tidak sedih, tetapi berdamai dengan kondisi-kondisi melalui pemahaman secara bijaksana tentang sifat-sifat sejati perubahan mereka. Anicca vata sankhara – semua kondisi adalah tidak kekal.\r\n\r\nSecara sederhana, ketidakkekalan adalah Sang Buddha. Jika kita memperhatikan dengan benar suatu kondisi yang tidak kekal, kita akan melihat bahwa ia kekal. Ia kekal dalam artian bahwa kecenderungan untuk berubah itulah yang tidak berubah. Ini adalah kekekalan yang setiap makhluk hidup miliki. Ada perubahan secara terus-menerus, dari kanak-kanak manjadi tua, dan ketidakkekalan, kecenderungan untuk berubah itulah, sesuatu yang kekal dan tetap. Jika anda melihatnya seperti ini, hati anda akan merasa nyaman. Bukan hanya anda seorang saja yang harus melaluinya, namun setiap orang juga harus begitu.\r\n\r\nBila anda mempertimbangkan hal-hal dengan cara ini, anda akan menganggap mereka sebagai sesuatu yang menjemukan, dan ketidaktertarikan pun akan muncul. Ketertarikan anda akan dunia kesenangan inderawi akan hilang. Anda akan melihat bahwa jika anda memiliki banyak harta, anda harus meninggalkan begitu banyak di belakang. Jika anda memiliki sedikit, anda juga meninggalkan sedikit di belakang. Kekayaan adalah hanya kekayaan, umur panjang adalah hanya umur panjang… mereka bukan sesuatu yang istimewa. Yang benar-benar penting adalah bahwa kita seharusnya melakukan apa yang diajarkan Sang Buddha dan membangun rumah kita sendiri, membangunnya dengan metoda yang telah saya jelaskan kepada anda. Bangunlah rumah anda sendiri. Lepaskan. Lepaskanlah hingga pikiran mencapai ketenangan, yang bebas dari kemajuan, bebas dari kemunduran dan bebas dari penghentian. Kesenangan bukanlah rumah anda, kepedihan juga bukan rumah anda. Kesenangan dan kepedihan, kedua-duanya akan lapuk dan lenyap.\r\n\r\nGuru Yang Mulia sudah mengetahui bahwa semua kondisi adalah tidak kekal dan oleh karena itu beliau mengajarkan kita untuk melepaskan kemelekatan kita terhadap mereka. Ketika kita mencapai akhir dari kehidupan kita, kita tidak mempunyai pilihan lagi, kita tidak akan bisa membawa apa pun bersama kita. Jadi, bukankah lebih baik untuk meletakkan semuanya terlebih dahulu? Mereka hanyalah beban yang berat untuk dipikul ke mana-mana, mengapa tidak menjatuhkannya ke bawah sekarang? Mengapa harus repot-repot menjinjing barang-barang ini ke mana-mana? Lepaskan, santailah, dan biarkan keluarga anda yang menjaga anda.\r\n\r\nMereka yang merawat orang-orang sakit, akan berkembang di dalam kebajikan. Pasien yang memberikan kesempatan kepada yang lain untuk memupuk kebajikan ini, seharusnya tidak mempersulit mereka. Bila rasa sakit muncul atau beberapa masalah atau lainnya, beritahukan mereka dan jagalah pikiran agar tetap berada dalam keadaan sehat. Bagi mereka yang merawat orang tua mereka, seharusnya memenuhi pikiran mereka dengan kehangatan dan kebaikan serta tidak terperangkap di dalam keengganan. Inilah waktunya bagi kalian untuk membayar hutang kalian kepada mereka. Sejak kelahiran kalian hingga masa kanak-kanak, selama kalian tumbuh besar, kalian telah bergantung kepada orang tua kalian. Kalian berada di sini pada hari ini, itu dikarenakan ibu dan ayah kalian sudah membantu kalian di dalam banyak sekali hal. Kalian berhutang kepada mereka suatu rasa terima kasih yang luar biasa besarnya.\r\n\r\nJadi, pada hari ini, kalian semua, anak-anak dan sanak keluarga yang berkumpul bersama-sama di sini, perhatikanlah bagaimana ibu kalian telah menjadi anak kalian. Sebelumnya kalian adalah anaknya, sekarang dia telah menjadi anak kalian. Dia menjadi semakin tua dan semakin tua hingga akhirnya dia kembali menjadi seorang anak kecil lagi. Ingatannya hilang, matanya tidak bisa melihat dengan baik dan telinganya juga tidak begitu bagus. Kadang-kadang dia memutarbalikkan kata-katanya. Jangan biarkan ini membuat kalian jadi sedih. Kalian yang sedang merawat yang sakit juga harus tahu bagaimana cara untuk melepaskan. Jangan memegang apa pun, biarkan saja dia memilih jalannya sendiri. Ketika seorang anak kecil membandel, kadang-kadang orang tua membiarkannya berbuat sesuai keinginannya, hanya untuk mempertahankan ketenangan, hanya untuk membuatnya bahagia. Kini, ibu kalian adalah persis seperti anak kecil. Ingatan dan persepsinya membingungkannya. Kadang-kadang dia mengacaukan nama kalian, atau meminta kalian membawakannya cangkir padahal yang dia inginkan sebenarnya adalah piring. Ini adalah hal yang normal, janganlah bersedih karenanya.\r\n\r\nBiarkan si pasien merasakan di dalam pikirannya kebaikan orang-orang yang merawatnya dan yang dengan sabar menahan perasaan sedih dan sakit di dalam hati mereka. Berusahalah dengan keras di dalam batin anda, jangan biarkan pikiran menjadi terpecah berserakan dan bingung, dan jangan mempersulit mereka-mereka yang sedang merawat anda. Biarkan mereka yang sedang merawat untuk memenuhi pikiran mereka dengan kebaikan. Jangan merasa enggan terhadap sisi yang tidak menarik dari pekerjaan tersebut, membersihkan ludah dan dahak, air seni dan tinja. Lakukanlah yang terbaik. Setiap orang dalam keluarga saling bahu membahu.\r\n\r\nDia adalah satu-satunya ibu yang kalian miliki. Dia memberikan kalian kehidupan, dia telah menjadi guru kalian, dokter kalian, dan perawat kalian – dia telah menjadi segalanya bagi kalian. Dia sudah membesarkan kalian, membagi kekayaannya dengan kalian dan menjadikan kalian sebagai ahli warisnya, dan itu merupakan kebajikan yang sangat besar dari orang tua. Itulah mengapa Sang Buddha mengajarkan kebaikan dari katannu dan katavedi, mengetahui hutang rasa terima kasih kita dan mencoba untuk membayarnya. Kedua dhamma ini saling melengkapi. Bila orang tua kita membutuhkan bantuan, tidak sehat atau berada dalam kesulitan, maka kita melakukan yang terbaik untuk membantu mereka. Inilah katannu-katavedi, kebaikan yang telah mempertahankan kelangsungan dunia ini. Ia mencegah keluarga agar tidak menjadi berantakan dan tercerai berai, dan membuatnya stabil dan harmonis.\r\n\r\nHari ini, saya telah memberikan hadiah Dhamma untuk anda di saat anda sedang sakit. Saya tidak memiliki benda-benda materi untuk diberikan kepada anda, karena kelihatannya sudah cukup banyak barang-barang di rumah ini. Jadi, saya memberikan anda Dhamma, sesuatu yang amat berharga, sesuatu yang tidak akan bisa habis anda pakai. Setelah menerimanya, anda dapat menyampaikannya kepada orang lain sebanyak yang anda inginkan, dan ia tidak akan pernah habis. Ini adalah sifat sejati dari Kebenaran. Saya merasa senang dapat memberikan hadiah Dhamma ini kepada anda, dengan harapan semoga ia akan memberikan anda kekuatan untuk menghadapi rasa sakit anda.\r\n\r\n* Note : Pembicaraan ini ditujukan kepada seorang murid umat awam yang sudah tua dan sedang mendekati kematiannya.\r\n\r\n* Dikutip dan diterjemahkan dari buku : “The Teachings Of Ajahn Chah”, sub judul : “Living Dhamma – Our Real Home”.
Multi Quote Quote
Nice article……………. Amazing thinking…………… Intinya mengajarkan agar kita tidak melekat terhadap segala hal……….. Bahwa dengan adanya kemelekatan, maka hidup menjadi sengsara dan segala sesuatu tidak bisa dilihat sebagaimana sesuatu itu sesungguhnya…………..
Multi Quote Quote
Wah, dah lama gue ngak baca yang se dalam ini… great reading
Multi Quote Quote
bagi yang dah banyak rugi main saham, liatlah artikel yang bung fundamental tuliskan: Jika rumah anda kebanjiran atau terbakar habis, atau apapun ancaman terhadapnya, biarkanlah ia berurusan hanya dengan rumahnya saja. Jika ada banjir, jangan biarkan ia membanjiri batin anda. Jika ada kebakaran, jangan biarkan ia membakar hati anda. Biarkan saja rumah itu yang mengalaminya sendirian, yang berada di luar anda, apakah ia kebanjiran ataupun terbakar. Kini sudah saatnya anda mengizinkan batin anda untuk melepaskan segala kemelekatan. Kata yang sangat sederhana…………. tetapi memiliki arti yang begitu mendalam………….. Luar biasa………….
Multi Quote Quote
Bung funda, siapa sih ajahn chah? Trims.
Multi Quote Quote
menurutku keuntungan kita dari trading2 yaitu dari kerugian orang lain, benar tidak?
Multi Quote Quote
Bung funda, siapa sih ajahn chah? Trims. Beliau adalah bhikku hutan di Thailand bagian utara (Ubon Ratchatani), tapi sudah wafat tahun 1992. Kata ‘'bhikku hutan’' sendiri mungkin terasa asing, karena di Indonesia tidak bisa dijumpai bhikku macam ini. Yang anda lihat sekarang mungkin bhikku-bhikku kota yang tinggal di vihara-vihara mewah, tidur di kamar ber AC, ke mana2 diantar dengan mobil. Sehingga keyakinan kita sendiri tidak begitu kuat terhadap mereka. Dan mungkin kita menganggap bahwa pencerahan itu sudah tidak mungkin di abad modern ini. But .. wait … Ketika saya berkunjung ke Thailand bagian utara, pemandangan2 yang terlintas di vihara-vihara hutan adalah bagaimana bhikku-bhikku di sana sangat ‘'miskin di luar, tapi kaya di dalam’'. Masyarakat kota seperti kita mungkin bertanya dalam hati: "bagaimana mereka bisa hidup seperti itu seumur hidup? Bahkan anjing juga tidak tahan kali hidup seperti ini". Mereka makan sehari sekali (sekitar jam 8 pagi), makan dari bowl, tiap pagi pergi keliling ke desa-desa mengumpulkan makanan, tinggal di hutan/gua, sering menjumpai ular2 berbisa dan harimau di hutan. Inilah bentuk murni Buddhisme … Buddhism in its pure form. Nanti saya buka satu thread khusus untuk memuat artikel2 berkaitan tradisi hutan … ngak enak membajak thread orang lain … smile
Multi Quote Quote
Di dalam masyarakat terutama di negara berkembang, banyak sekali masyarakatnya yang terjangkit penyakit mitos-mitos yang menyesatkan. Di antara mitos itu adalah: 1. mitos pendidikan, "Saya tidak bisa sukses karena pendidikan saya rendah". 2. Mitos nasib, "Biar berjuang bagaimanapun, saya tidak mungkin sukses karena nasib saya memang sudah begini dari sononya". 3. Mitos kesehatan, merasa diri tidak kuat secara fisik. 4. Mitos usia, "Ini pekerjaan untuk anak muda, saya terlalu tua untuk pekerjaan ini". 5. Mitos gender, "Jelas aja bisa, dia kan perempuan sayakan pria" atau sebaliknya. 6. Mitos shio, "dia shio macan memang bisa sukses, saya kan shio babi" dan lain sebagainya. Dan penyakit mitos-mitos lainnya. Jika mitos-mitos itu telah dijadikan pedoman hidup, maka nasib kita akan sulit berubah. Sikap mental negatif seperti di atas, jelas merupakan pengertian yang salah. Apalagi jika sudah masuk ke alam bawah sadar kita, maka akan membawa dampak sangat negatif dalam kehidupan kita secara menyeluruh. Membuat kita kalah dan gagal sebelum berjuang!!! Dalam memasuki dunia bisnis, ada dua mitos yang berpengaruh paling besar, yaitu masalah modal dan pendidikan. Saya justru tidak memiliki keduanya saat memulai usaha dulu. Yang saya miliki hanyalah ide membuat kartu kata-kata mutiara dan keberanian untuk mencoba. Saya memiliki kemampuan kungfu, dan potensi diri itulah yang saya manfaatkan. Saya mengajar kungfu secara privat untuk mendapatkan modal awal. Jadi saya berangkat tanpa modal, tanpa uang, tanpa pendidikan formal yang memadai, tapi mana yang mendahului usaha saya? Ide! Dan keyakinan bahwa saya bisa sukses, saya berhak untuk sukses! Dengan pemahaman itu, muncul keberanian untuk mencoba. Dari penolakan-penolakan dan melalui proses perjuangan yang luar biasa ulet, ulet, dan ulet, usaha itu baru bisa berkembang baik. Kegagalan dan penolakan adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita hanya punya dua pilihan, berhasil atau gagal. Kuncinya dalah action dan mental yang positif. Sebab kedua pilihan itu bisa jadi "benar" karena di balik setiap kegagalan terdapat proses pendidikan, sebuah pelajaran untuk kita berbuat dan bertindak lebih bijak di kemudian hari. Seperti kata-kata mutiara yang sering saya ucapkan: "Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir, tetapi dari proses perjuangannya". Jika itu disadari oleh semua orang, maka tidak ada lagi yang namanya larut dalam frustasi, kecewa, depresi, apatis, kehilangan motivasi, apalagi putus asa. TETAP MENJADI YANG TERBAIK. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Perlu motivasi yang kuat, komitmen pada tujuan, serta melewati proses latihan dalam praktek kehidupan yang nyata. Sebagai manusia yang mengerti, menyadari, dan dapat berpikir jernih, maka kita harus bisa dan berani menentukan sikap dengan segenap tenaga, waktu, dan pikiran untuk tetap mengembangkan diri semaksimal mungkin. Ilmu untuk memelihara motivasi diri bisa dipelajari oleh siapa pun. Salah satu latihan yang paling mudah untuk menguatkan diri sendiri adalah melakukan self talk. Kita gali potensi-potensi positif dalam diri kita dengan melakkukan dialog dengan diri kita sendiri. Yakinkan bahwa diri kita memiliki kemampuan untuk sukses. Jika orang lain bisa sukses, kita pun mempunyai hak untuk sukses sama seperti mereka. Keyakinan kepada Tuhan, serta doa dan praktek dalam kehidupan ini merupakan upaya yang mampu memberikan kekuatan motivasi diri yang luar biasa. Sikap mental lain yan perlu kita pelihara adalah menyadari bahwa sukses yang kita raih bukan hanya sekedar mengandalkan diri sendiri, selalu ada andil orang lain di dalamnya. Rendah hati adalah kata kuncinya, tetapi sebaliknya, tidak rendah diri pada saat mengalami kegagalan. Dengan demikian tidak hanya semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan ini, yang pasti kualitas kehidupan kita akan semakin baik, semakin sukses, yang pada akhirnya akan bermanfaat pula bagi orang lain. PASTIKAN menjadi yang terbaik !!! BE THE BEST!!!!
Multi Quote Quote
Suatu hari Satan dan Yesus sedang ngobrol bareng. Satan baru dikeluarkan dari Taman Eden, dan ia sedang BT… "iya, sir, saya baru melihat dunia dengan banyak manusia d bawah sana. Saya(Satan) memasang perangkap dan menggunakan umpan. Saya yakin mereka ga bisa menolaknya. Saya akan mendapatkan mreka smua! Yesus bertanya "apa yang akan kamu lakukan kepada mrka?". Satan menjawab "Oh, saya akan bersenang"! Saya kan mengajar mereka bagaimana untuk menikah dan bercerai dengan sesamanya, bagaimana juga untuk membenci sesamanya, bagaimana untuk mabok, merokok, dan mengutuk. Saya kan mengajar mereka bagaimana cara membuat senjata, bom, dan cara membunuh sesamanya.. Saya benar" akan bersenang!" Yesus bertanya "Dan apa yg akan kamu lakukan ketika semua itu telah kamu ajarkan kepada mreka?". Kata Satan dengan bangga "Oh, saya akan bunuh mreka," Yesus bertaya "Brapa harga yang harus dibayar untuk menebus mereka?" Jawab Satan "Oh, Kamu tidak akan menginginkan mereka. Ga ada bagusnya mereka. Lihat, Kamu akan mengambil mereka dan mereka akan membenciMu. Mereka meludahiMu, mengutukMu dan membunuhMu. Kamu tidak akan menginginkan mereka!!" Yesus bertanya lagi "Brapa harganya?" Satan melihat Tuhan dan berkata "Smua darah, air mata, dan hidupMu." Yesus berkata dengan tegas "BAIK!" Lalu Ia membayar harga tersebut. - Bukankah lucu bagaimana manusia semudah itu membuang Tuhan dan bertanya kenapa dunia seperti NERAKA? - Bukankah lucu bagaimana seseorg berkata "Saya percaya kepada Yesus" tapi tetap mengikuti jalan Satan? - Bukankah lucu bagaimana kamu bisa mempost kembali ribuan crita" lucu lewat bulentin board dan mereka tersebar dengan sangat cepat, tetapi ketika kamu mempost bulentin tentang Tuhan, kamu berpikir dua kali untuk membagikannya? - Bukankah lucu bagaimana Saya jadi tambah kuatir dengan apa yang orang lain pikir dari pada apa yang Tuhan pikir tentang saya? - Saya berdoa, buat semua yang mempost kembali bulentin ini, mereka akan diberkati melimpah oleh Tuhan dengan cara yang spesial untuk mreka. - Dan kirimkan kembali bulentin ini kepada mreka yang mengirimnya, agar mereka tahu bahwa bulentin ini telah tersebar ke banyak org. - Dan Jika Kamu Cinta Kepada Tuhan… Dan, tidak malu kepada smua perbuatanNya yang ajaib yang telah diperbuatNya kepadamu.. - Repost bulentin ini dengan judul "Baca kalau kamu punya waktu khusus buat Tuhan"..
Multi Quote Quote
Kita Ingin Membuat Kenangan\r\nHari ini saya menonton sekilas sebuah video clip yang mengisahkan seorang lelaki yang sudah meninggal dan masih berada di sekitar kekasihnya. Dia memandang kekasih wanitanya yang juga sedang merindukannya tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya memandang. Video clip ini membuat saya merenung, “Andaikan suatu saat saya harus meninggalkan orang-orang yang saya kasihi, kenangan apa yang saya tinggalkan di dalam hati mereka?” Saya pun jadi teringat sebuah buku berjudul “Who Will Cry When You Die” tulisan Robin Sharma. Judul di buku itu membuat keaktifan pikiran saya berhenti sebentar dan meninggalkan sebuah pertanyaan yang masih membekas sampai sekarang. Pertanyaan itu seperti menyentuh saya untuk mencari esensi dari hidup saya ini. Jika setiap orang pun akhirnya akan mati dan suatu saat hidup ini akan berakhir, maka apa yang harus dilakukan dalam hidup ini? Jika setiap kehidupan memang sangat berharga, maka bagaimana cara menghargai kehidupan ini?\r\n\r\nBanyak klien datang ke terapi karena memiliki luka batin di dalam hidupnya. Beberapa adalah korban perkosaan semasa kecil oleh orang terdekat mereka. Beberapa korban kekerasan oleh orang yang mereka cintai. Dan semua itu menimbulkan luka yang sangat dalam dan membekas sepanjang hidup mereka. Seorang anak menjadi menyimpan sebuah kenangan buruk atas perlakuan kekerasan ayahnya, seorang istri menyimpan kenangan terburuk dalam hidupnya atas kekerasan yang dilakukan suaminya, seorang menantu menjadi trauma terhadap perkawinan karena perlakuan kasar mertuanya, seorang kekasih mencoba mengakhiri hidup atas perselingkuhan pasangannya. Semua itu membuat saya merenung, betapa besar peran yang kita lakukan dalam hidup ini dan bagaimana peran itu bisa meninggalkan goresan luka batin yang sedemikian dalam; tapi juga bisa meninggalkan sebuah kenangan yang sangat menginspirasi.\r\n\r\nBeberapa waktu lalu saya membaca buku tulisan Anand Krisna yang berjudul “Atisha”. Di salah satu bab buku itu, ada seorang murid Atisha bertanya kepadanya yang kurang lebih seperti ini, “Guru, jika murid-murid yang kau bimbing sekarang akhirnya menghujat dan menjatuhkanmu, maka untuk apa guru masih terus mengajar?”, lalu Atisha menjawab dengan sangat simple, “Karena saya menyukai mengajar.” Saat itu saya bingung dengan jawaban Atisha. Sangat masuk akal pertanyaan muridnya, bukankah semestinya Atisha berhenti saja mengajar dari pada harus menjalani kehidupan yang penuh hujatan?\r\n\r\n\r\nKetika pertama kali saya diundang untuk berbicara di sebuah talk show, saya sangat berdebar-debar karena tidak tahu apa yang akan saya bicarakan. Dalam relaksasi ke Superconscious Mind, muncul jawaban “Bicarakan apa yang kamu sukai.” Jawaban itu mengingatkan kembali kata-kata Atisha kepada muridnya. Lalu saya menyusun sebuah presentasi tentang hal yang membuat saya kagum di bidang Regresi Kehidupan Lalu dan saya selalu merasa senang jika mensharingkan hal tersebut. Setelah talk show itu saya menjadi lebih mengerti jawaban Atisha. Ada peran-peran yang sudah ter-build-up secara otomatis di dalam diri kita. Sepasang perempuan dan lelaki menikah lalu mempunyai anak, maka peran sebagai seorang suami dan ayah langsung ter-build-up di dalam diri lelaki itu, peran sebagai istri dan ibu langsung ter-build-up dalam diri sang wanita, dan peran sebagai anak ter-build-up di dalam sang anak. Seseorang yang menduduki posisi lebih tinggi di dalam perusahaan maka peran pemimpin dan guru langsung ter-build-up di dalam dirinya. Seorang dokter atau terapis maka peran penyembuh langsung ter-build-up di dalam dirinya. Dan dengan adanya peran-peran itu maka jawaban Atisha menjadi sebuah jawaban yang sangat bijaksana. Terkadang kita hanya perlu menjalankan peran-peran itu dengan yang terbaik dan belajar menyukainya. Jika Atisha tidak menjalankan perannya sebagai guru maka mungkin sekarang tidak akan ada ajarannya yang ternyata telah menginspirasi banyak orang. Peran apa pun yang kita lakukan akan meninggalkan blue print dalam hidup orang lain. Peran seorang ayah yang baik akan meninggalkan blue print yang indah pada diri anaknya, peran suami/istri yang setia akan membuat blue print yang saling mengisihi pada diri pasangannya, dll. Dan blue print itulah kenangan yang kita tinggalkan dalam diri masing-masing orang yang telah kita temui. Tubuh kita akan mati dan musnah namun kenangan kita akan tetap tercetak di dalam blue print kehidupan orang-orang lainnya. Dan jika kita ingin membuat kenangan, semoga itu adalah kenangan yang indah.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...