KISAH & CERITA YG MEMOTIVATOR

"nokiasam1"
8 KEBOHONGAN IBU Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, aku tidak penat" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya ada duit" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : "Aku tak biasa tinggal di negara orang" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN. Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu..!" Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.[/q :cry: :cry: :cry: ..sungguh semua itu saya alami sendiri dgn alm.papah mamah saya tercinta…sunguh nga tahan utk tidak meneteskan air mata rindu dan sangat sangat terharu baca crita 8 kebohongan diatas…hatijadi rindu lagi utk bisa mencicipi segala yg kita rasakan sekarang bersama papah mamah tercinta..selamat utk nokiasam yg begitu care dgn ibu nya…segala rasa sayang kita sama papah mamah nga pernah bisa puas…selalu menyesalkenapa ngga cukup waktu utk ber-sama2 lebih lama lagi…rasanya ingin bilang sama TUHAN PENCIPTA kita salam sayang dan rindu sm ke dua orang tua kita…yg pasti sekarang saya mendorong isteri saya untuk lebih care dan sayang sama mamah nya..JBU all always :x :x :applause: :applause: :peace:
Multi Quote Quote
Jasa seorang ibu yang tdak bisa dipungkiri : 1. Kebaikan didalam memberikan perlindungan dan penjagaan anak di dalam kandungan. 2. Kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kelahiran. 3. Kebaikan untuk melupakan semua kesakitan apabila anaknya telah dilahirkan selamat. 4. Kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan memberikan yang manis untuk anaknya. 5. Kebaikan untuk memindahkan anaknya ketempat yang kering, dan dirinya sendiri rela berbaring di tempat yang basah. 6. Kebaikan menyusuikan anak pada payudaranya, memberikan makan dan membesarkan anaknya. 7. Kebaikan dalam membersihkan kotoran-kotoran anaknya. 8. Kebaikan dari selalu meikirkan anaknya bila berjalan jauh. 9. Kebaikan dalam pengabdian dan pengorbanan untuk anaknya. 10. Kebaikan dari rasa kasih dan simpati yang dalam untuk anaknya.
Multi Quote Quote
Dalam Agama Buddha, Sang Buddha bersabda walaupun sang anak melakukan upaya membalas budi dengan berbagai cara antara lain : 1. Bila anaknya mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya dengan bahu kanannya, mengeliling Puncak Semeru selama seratus ribu Kalpa. Perbuatan itu belum bisa membalas kebaikan orang tuanya. 2. Bila anaknya selama ratusan ribu kalpa memotong sebagian daging tubuhnya untuk diberikan makan kepada orang tuanya, demi mereka tidak kelaparan. Perbuatan ini belum bisa membalas kebaikan orang tuanya. 3. Bila ada seorang anak demi orang tuanya, rela membelah dadanya dan mengeluarkan jantung serta hatinya selama beratus ribu kalpa, tidak mengeluh dan merasa kesakitan. Perbuatan inipun belum bisa membalas kebaikan orang tua. 4. Bila ada anak yang demi orang tuanya, tabah dan rela menerima tusukan dan sabetan segala jenis senjata tajam, menghancurkan tubuhnya hingga beratus ribu kalpa. Perbuatan inipun belum bisa membalas kebaikan orang tua. 5. Bila ada seorang anak demi kesehatan dan ketentraman orang tuanya menawarkan badannya untuk dibakar, untuk dana penerangan Buddha selama ratusan ribu kalpa. Perbuatan inipun belum bisa membalas kebaikan orang tua. 6. Bila seorang anak demi membalas jerih payah orang tua, memukul tulangnya hingga ke sum-sumnya, selama ratusan ribu kalpa. Perbuatan inipun belum bisa membalas kebaikan orang tua. 7. Bila ada seorang anak demi tanggung jawab dan membalas kebajikan orang tuanya, menelan butiran-butiran besi panas yang mencair, sehingga tubuhnya terluka dan hancur selama ratusan ribu kalpa. Perbuatan inipun belum bisa membalas kebaikan orang tua.
Multi Quote Quote
Jasa seorang Ibu sesungguhnya tak terbalaskan……….. Karenanya tidaklah berlebihan bilamana dikatakan: Surga berada di telapak kaki Ibu
Multi Quote Quote
Aku Mau Mama Kembali - Sebuah kisah teladan dari negeri China (Cicilia-China) Dear Zev, Untuk siapapun yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari ortu kuncinya satu memaafkan , sehingga kedamaian ada pada hidup kita , jaman dulu sdh biasa ortu bertindak seperti itu , banyak faktor, salah satunya kemiskinan dan pendidikan yg rendah. Moga 2 tulisan dibawah ini membawa kita semua , terutama yg mengalami hal 2 buruk, setelah membaca e-mail ini ada damai dalam hidup kita, Amin. Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China. Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit. Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari. Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik. Aku Mau Mama Kembali. Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu" Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap. Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya. Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan…. bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.
Multi Quote Quote
Sebuah lagu yang sangat menyentuh :\r\n\r\nTangan Halus Dan Suci\r\nTlah Mengangkat Diri Ini\r\nJiwa Raga Dan Seluruh Hidup\r\nRela Dia Berikan\r\n\r\nOh bunda Ada Dan Tiada Dirimu\r\nKan Slalu Ada Di Dalam Hatiku …
Multi Quote Quote
Pikiran yang besar membicarakan ide-ide; Pikiran yang rata-rata membicarakan kejadian-kejadian; Dan pikiran yang kerdil membicarakan orang-orang. :peace:
Multi Quote Quote
”Jika seorang manusia sudah memiliki dua lembah yang penuh berisi dengan harta, maka pasti ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak akan pernah manusia merasa kenyang hingga tanah sudah kena pada perutnya.”\r\n\r\n- Al-Hadits –
Multi Quote Quote
Nilai Kesuksesan \r\n\r\nDi sebuah sekolah, seorang guru mendapat pertanyaan dari salah seorang muridnya yang paling kritis. "Guru, apakah kami semua nanti bisa sukses?" Sang guru tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak lama, ia mengeluarkan uang senilai seratus ribu dari kantongnya. "Hayoo, siapa yang mau uang ini?" Semua anak berebutan mengacungkan tangannya. Uang senilai itu bagi mereka sangat besar.\r\n\r\nTiba-tiba, sang guru melipat-lipat dan meremas uang itu hingga kucel dan tidak karuan bentuknya. Ia pun berujar lagi, ”Hayoo, siapa yang mau uang ini?” Walaupun merasa heran dengan kelakuan gurunya, murid-murid tidak peduli, mereka kembali mengacungkan jarinya, sambil berteriak ”Saya..saya..saya..” Semua serempak mengajukan diri untuk mendapatkan uang itu.\r\n\r\nMelihat antusiasme muridnya, sang guru kemudian menjatuhkan uang tersebut ke lantai dan menginjak-injak uang itu hingga kecil, tidak karuan dan kotor. Mendapati gurunya melakukan hal itu pada uang tersebut, sebagian murid melongo. Mereka tak tahu apa maksudnya sang guru menginjak-injak uang yang nilainya sangat besar bagi mereka itu. Guru pun kembali bertanya, ”Hayoo, siapa yang masih menginginkan uang ini?”\r\n\r\nTernyata, meski uang itu menjadi jelek, kumal dan bahkan bercampur sedikit lumpur yang berasal dari injakan sepatu guru, masih banyak murid yang antusias mendapatkan uang tersebut. ”Aku guru..aku..”\r\n”Kalian tetap saja mau dengan uang ini? Kalian tidak melihat betapa uang ini sangat kucel, jelek, kumal dan bau?”\r\n”Jelek itu kan hanya bentuknya saja guru. Tetapi saja uang itu nilainya seratus ribu,” jawab murid-murid yang tetap antusias meminta gurunya memberikan uang itu.\r\n\r\nSang guru pun kemudian berujar, ”Kalian benar. Meskipun sudah tidak karuan bentuknya, uang itu tetap berharga dan kalian tetap ingin memilikinya. Nah, jika tadi ada pertanyaan, apakah semua bisa sukses? Jawabannya sama seperti nilai uang ini. Dalam proses menuju ke arah kesuksesan, kalian pasti akan mengalami berbagai ujian dan cobaan, mungkin mengalami jatuh, diinjak, dan dilecehkan. Walaupun begitu, nilai diri kalian tidak akan berubah. Semua tergantung kalian sendiri, bisa menjaga nilai yang ada dalam diri kalian atau tidak. Jika kalian mampu menghargai diri sendiri dan menentukan nilai diri, dengan keyakinan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, maka sukses pasti kalian dapatkan.”\r\n\r\nPembaca yang budiman,\r\nTak peduli berbagai ujian, cobaan, halangan, dan tantangan yang menghadang, jika kita punya satu nilai dalam keyakinan dalam diri, bahwa sukses adalah hak saya, maka jalan kesuksesan pasti akan selalu terbuka.\r\n\r\nKarena itu, seberat apapun perjuangan yang kita lakukan, seganas apapun padang gurun yang kita harus lewati, setinggi apapun gunung yang akan kita daki, seluas apapun samudra yang kita seberangi, tetaplah pelihara semangat ”Success is my right!” Tanamkan dalam diri, dan teruslah bekerja keras untuk mewujudkan semua mimpi. Harta tak ternilai itu ada dalam diri Anda. Perjuangkan!!!
Multi Quote Quote
Bekas Jejak Langkah \r\nDiceritakan tentang seorang biksu yang baru saja menghuni vihara untuk mengemban tugas pelayanan kepada umat. Pada hari yang sama biksu pemimpin memberikan tugas pertama kepadanya, yaitu mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Di depan biksu pemimpin ia menunjukkan sikap senang karena telah dipercaya mengemban tanggung jawab tersebut.\r\n\r\nTetapi sampai keesokan siang harinya, biksu tersebut belum terlihat melaksanakan tanggung jawabnya. Biksu pemimpin justru mendapati biksu tersebut tidur. “Kenapa kamu tidak segera menjalankan tanggung jawabmu?” tanya biksu pemimpin.\r\n\r\nIa berusaha menghindar dari tanggung jawabnya, dengan beralasan jika beraktifitas akan merusakkan puluhan pasang sepatu. “Daripada saya beraktifitas, bukankah lebih baik saya diam di kamar supaya sepatu-sepatu itu tidak rusak dan bisa digunakan oleh penghuni wihara lain,” ujarnya beralasan sambil menunjukkan puluhan pasang sepatu di bawah ranjangnya.\r\n\r\nBiksu pemimpin mengernyitkan dahi, lalu mengajak biksu muda itu menuju halaman depan wihara. “Kalau kamu ingin menjadi biksu yang bijaksana dan disegani di negri ini, saya akan mengajarkan sebuah cara,” kata biksu pemimpin.\r\n\r\n“Apakah kemarin kamu sudah pernah melewati halaman depan ini?” lanjut biksu pemimpin bertanya.\r\n\r\n“Ya. Kemarin mudah dilalui karena tidak becek seperti ini,” jawab biksu muda itu.\r\n\r\n“Semalam hujan deras, sehingga sekarang tanahnya becek. Coba kamu lewati lagi halaman ini. Pasti kamu meninggalkan jejak kakimu,” perintah sang biksu pemimpin.\r\n\r\nBiksu muda mengikuti perintah sang guru, dan ia memang meninggalkan jejak kaki. “Lalu apa artinya semua ini?” tanya biksu muda.\r\n\r\n“Jalan yang becek adalah perumpamaan sebuah perjalanan hidup yang membutuhkan perjuangan keras. Tetapi perjuangan itu akan menjadi kenangan manis dan selalu kita kenang ketika kita berhasil melaluinya dengan baik, seperti jejak-jejak kakimu itu yang terlihat jelas,” terang biksu pemimpin.\r\n\r\nPenjelasan guru pemimpin benar-benar mengetuk kesadaran biksu muda tersebut. Selanjutnya ia selalu gigih berusaha menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, meskipun tantangan yang harus ia terkadang cukup sulit. Setelah melewati proses perjalanan waktu yang cukup panjang, nama biksu tersebut semakin harum sebagai tokoh pendidikan ajaran Buddha terkemuka di Cina.\r\n\r\nPesan:\r\n\r\nTantangan kehidupan adalah produk perubahan. Sedangkan perubahan itu sendiri bersifat konstan atau abadi. Artinya selama kita masih bernafas, maka kita akan terus menghadapi berbagai bentuk tantangan.\r\n\r\nDari kisah diatas kita dapat belajar bahwa tantangan tak harus kita takuti atau dihindari. Karena tantangan-tantangan mendorong kita menyesuaikan diri, misalnya memperbaiki penampilan, pola pikir lebih positif dan kinerja aktif, kreatif, meningkatkan kemampuan, keimanan dan lain sebagainya. Bahkan tantangan dapat dikatakan sebagai satu hal yang senantiasa dibutuhkan manusia supaya lebih maju. “Anda tidak akan menjadi sukses tanpa menghadapi dan mengatasi sejumlah tantangan dan masalah,” tandas Mark Victor Hansen.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...