CNKO.....saatnya jualan?

Posted: Feb 23, 2007 - 09:17 AM Tahun 2006, posisi net buyer didominasi oleh SM & PW. Tahun 2007, sampai dengan tanggal 19 Feb 2007 (price terakhir = 14smile net buyer masih didominasi oleh SM & PW. Tiga hari ini (tgl 20 - 22 Feb), merupakan banjir besar yang melanda CNKO, padahal Batman sedang cuti ikut merayakan imlek di Gotham city :cry: Tanggal 20 Feb 2007, net buyer dengan jumlah banyak : YP, LG, SP, CP, KK, dll sedangkan SM & PW net sell. Sebelumnya tidak pernah ada broker lain (penumpang gelap) yang berani net buy dengan jumlah sampai milyaran. Tanggal 21 Feb 2007, kejadian sama terulang. Tanggal 22 Feb 2007, SM net sell, PW net buy (sedikit). Sampai hari kemarin setelah SM net sell, kalau tidak ada buyback dari emiten berarti mayoritas kepemilikan saham akan dipegang public. Untuk membuktikan benar penumpang gelap atau BD sedang melakukan distribusi, wait & see dulu aja lah…! Setelah gw perhatikan semenjak tgl. 20 sampai hari ini tidak ada dana yang dimainkan SM ke saham lain (SM ada main2 di ETWA sedikit tapi sudah out lagi / CL kemarin & hari ini). Penumpang Gelap yang gw sebut diatas, sekarang gw angkat menjadi BD CNKO yang baru untuk menggantikan SM yang bloon alias culun. Kalau SM mau masuk lagi mungkin akan gw maafkan dan dipertimbangkan kembali ! Mulai besok retail jangan ada yang mau jualan < 100 Ttd. Batman SETUJU, RIELER JANGAN TAKUT DENGAN CENKO maksudnya oom bebek apaan neh ??? Orang LIEUR/Orang PUSING yang punya cenko :evil :rofl: :rofl: :evil
Multi Quote Quote
pisss man….pokoke yg ginian jgn disimpan lebih 2 hari dah….lsg kadaluarsa kekekek….
Multi Quote Quote
Cie & Ko, buruan lari, katanya mau dikejar MITI…….. :palu:
Multi Quote Quote
hari ini akan > 95. hajar…
Multi Quote Quote
Cie & Ko, buruan lari, katanya mau dikejar MITI…….. :palu: maksudnya lari ke jigo gicu……ya itu emang pantas tuk celana kolor smile smile smile smile
Multi Quote Quote
bisnis Indonesia Selasa, 27 pebruari 2007 Memerahputihkan PLTU berskala kecil oleh : Ranti Rusli "Beri kami kesempatan berperan dalam proyek crash program PLTU 10.000 MW," ujar Agus Supraptomo, Presdir PT Nusantara Turbin dan Propulsi, dalam seminar Membangun PLTU Batu bara dengan Mengoptimalkan Potensi Dalam Negeri, belum lama ini. Permintaan yang terkesan sederhana tersebut, tidak hanya masalah bisnis semata, namun juga tercantum dalam rencana pemerintah yaitu memajukan industri nasional. Dengan industri yang semakin berkembang, tingkat pengangguran akan berkurang, sehingga dapat menuntaskan kemiskinan. Pemerintah telah menugaskan PT Perusahaan Listrik Negara untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik menggunakan batu bara sebesar 10.000 MW yang tersebar di seluruh Tanah Air. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menargetkan proyek hampir senilai US$10 miliar tersebut sudah harus beroperasi pada 2009. Tugas ini tentunya pekerjaan berat bagi PLN karena harus menyelesaikan megaproyek dengan waktu singkat, selain itu juga harus memperhitungkan tingkat keandalannya. Tender PLTU milik PLN Lokasi Kapasitas * Kelas 100 MW-200 MW Nanggroe Aceh Darussalam 2 x 100-150 Sumatra Barat 2 x 100-150 Lampung 2 x 100-150 PLTU 2 Sumatra Utara 2 x 200 * Kelas 50 MW-65 MW PLTU 1 Kalimantan Barat 2 x 50 Sulawesi Selatan 2 x 50 PLTU 1 Kalimantan Tengah 2 x 60 Kalimantan Selatan 2 x 65 * Kelas 7 MW-25 MW PLTU 2 Riau 2 x 7 Kepulauan Riau 2 x 7 PLTU 1 NTT 2 x 7 Maluku Utara 2 x 7 PLTU 1 Papua 2 x 7 PLTU 1 Riau 2 x 10 PLTU 1 NTB 2 x 10 Sulawesi Tenggara 2 x 10 PLTU 2 Papua 2 x 10 PLTU 4 Bangka Belitung 2 x 15 PLTU 2 NTT 2 x 15 Maluku 2 x 15 PLTU 4 Bangka Belitung 2 x 25 PLTU 2 Kalimantan Barat 2 x 25 PLTU 2 NTB 2 x 25 PLTU 2 Sulawesi Utara 2 x 25 Gorontalo 2 x 25 Proyek ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh industri nasional. Orang bilang, sekali mengayuh sampan, dua-tiga pulau terlampaui. Jadi, percepatan PLTU berhasil dengan membonceng perekonomian nasional. Makanya beberapa waktu lalu, Wapres Jusuf Kalla mengatakan crash program (program percepatan) pembangunan PLTU 10.000 MW itu, terutama di luar Jawa harus memaksimalkan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri. Lebih diutamakan luar Jawa karena PLTU di lokasi tersebut pada umumnya berskala kecil sampai menengah. Industri lokal yang masih seperti bayi jika dibandingkan dengan pemain internasional dianggap baru dapat melaksanakan proyek dengan kapasitas tersebut. Peraturan Dirjen LPE Guna mendukung penggunaan produksi dalam negeri, pemerintah mengeluarkan kebijakan, di antaranya Peraturan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 751-12/44/600.4/2005 tentang Penggunaan Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri pada Pembangunan PLTU Batubara Kapasitas Terpasang sampai dengan 8 MW. Begitu juga sektor perindustrian, Menteri Perindustrian Fahmi Idris telah mengidentifikasi kemampuan industri dalam negeri dalam membangun PLTU batu bara dengan tingkat komponen dalam negeri untuk masing-masing kapasitas pembangkitan. (lihat tabel) Nampaknya, niat baik itu akan terganjal dari sisi pendanaan. Ketua Harian Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Yogo Pratomo, mengatakan pengertian perusahaan nasional terdiri atas dua, yaitu pendanaan (financing) dan dan konten lokal. "Kedua hal tersebut saling terkait." ungkapnya. Apabila pemerintah menginginkan konten lokal tinggi tetapi pendanaan lokal rendah, maka tidak akan sesuai. Misalnya, pemerintah mengharapkan penggunaan produk lokal 50%, sementara pendanaan lokal hanya 25%, sisanya 25% dari luar negeri, maka yang 50% tidak akan terwujud karena adanya kecenderungan pemain luar hanya mau menggunakan peralatan negara mereka sendiri. Jadi, jelas dia, kalau ingin produk lokal tinggi, maka pendanaan lokal juga harus tinggi. Makanya kepada perbankan nasional agar banyak membiayai pembangunan pembangkit skala kecil. "Daripada menyimpan uang triliun rupiah di BI dalam bentuk SBI , kan lebih baik digunakan untuk membiayai proyek ini," tutur Yogo. PLTU di luar Jawa Bali, tersebar di 25 lokasi dengan total kapasitas 3.000 MW. Diperkirakan untuk pembangunan akan menghabiskan dana sebesar US$2,5 miliar. Sejauh ini, Bank Mandiri dan BNI berniat mendanai proyek ini. Bank lain, mungkin bukan karena tidak mau, akan tetapi karena selama ini mendanai sektor yang berbeda. Sebagaimana diketahui, peraturan perbankan membatasi jumlah dana yang boleh diberikan, sementara dana di sektor pembangkitan ini besar. Namun, itu bisa diakali dengan melakukan konsorsium dengan perbankan lain. Dengan kontribusi sedikit, crash program terbiayai oleh perbankan nasional. Bagaimana kalau peran konten lokal diwajibkan dalam proyek tersebut, seperti jumlah yang diusulkan oleh Depperin di atas? Mungkin dengan begini, baik pendanaan lokal maupun luar mau tidak mau tetap harus menggunakan konten lokal. "Karena itu sudah tertera dalam kontrak." Dicantumkan Djoko Winarno, Ketua Forum Komunikasi Produsen Listrik Swasta, mengatakan untuk tender EPC (engineering, procurement & construction) kontrak Jawa Bali di bawah 65 MW, panitia lelang diminta untuk mencantumkan pada dokumen tender bahwa seluruh jasa dan produksi dalam negeri benar-benar dicantumkan dalam dokumen tender tersebut. "Kami sudah melihat niat baik Depperin, tapi belum di PLN. Kami mau itu tertulis dalam kontrak tender, supaya pasti," tuturnya. Yogo menjelaskan PLN tidak melarang pelaku industri lokal untuk ikut proyek, tetapi BUMN itu meminta jaminan apakah para pengusaha tersebut sanggup ikut dalam proyek tersebut dan memenuhi standar, misalnya tepat waktu dan sesuai dengan sasaran. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Dirut PLN Eddie Widiono Suwondho. "Kami tidak pernah menghalagi penggunaan konten lokal dalam tender. Malahan kami mengharapkan adanya PLTU Merah Putih, di mana semua komponennya hasil anak negeri." J. Purwono, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan saat ini pemerintah sedang merampungkan draf surat keputusan bersama (SKB) antara Menteri ESDM dengan Menteri Perindustrian. "SKB tersebut merupakan komitmen penggunaan kandungan lokal seoptimal mungkin." Menurut dia, pemerintah mengupayakan penggunaan komponen lokal tercantum dalam kontrak tersebut minimal 20%. Dengan begitu dapat mendorong industri dan manufaktur nasional. Eddie mengatakan jika itu memang sudah program pemerintah, tentu akan diaplikasikan. Namun, mengenai jumlah (persentase) komponen lokal tersebut harus ada kajian lebih dalam. "Karena untuk memenuhi persentase tersebut ada harga tertentu yang didorong." Menurut dia, yang diukur adalah nilai, selama ini produk lokal lebih mahal, sehingga ada kecenderungan orang malas membeli. Ali Herman Ibrahim, Direktur pembangkitan dan Pengembangan Energi Primer PLN, mengemukakan pihaknya memberikan kesempatan kepada industri lokal dalam proyek PLTU kecil dan menengah. Namun, pihaknya mempertanyakan kesanggupan industri lokal untuk memenuhi kebutuhan proyek tersebut dalam waktu cepat karena sebagai suatu perusahaan pihaknya menginginkan perusahaan yang mampu memberikan harga yang murah, cepat, efisien, bagus, dan andal. "Kami tantang industri lokal apakah sudah sanggup, karena kalau tidak jangan sampai kontraktor kena penalti." Sekarang bola sudah dilempar, agar industri nasional dapat menangkapnya mengapa tidak segera membentuk konsorsium supaya menjadi tim yang kuat. CNKO di atas angin :party:
Multi Quote Quote
gak ada yang nge-bandarin ya barang ni smile ayo dong pak BD dibandarin dong smile
Multi Quote Quote
Wah… berita bagus ini, boleh di koleksi kembali… Kira2 bisa ga yach menembus 200 bung Batman ??? :smile:
Multi Quote Quote
:#-o masa bd-nya ngak bisa ar kayak shm2 sejenis ya???? bag bung batman bisa dibantu…. :siul: :siul:
Multi Quote Quote
:getar: tembus 50 pasti bisa kekeke :getar:
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...