Indonesia: news/indikator ekonomi, moneter dan perbankan

Utang JBIC Tidak Dibayar Berbarengan dengan IMF Kamis, 15 Juni 2006 17:07:54 StockWatch (Jakarta) - Utang pemerintah kepada Japan Bank for International Cooperation (JBIC) senilai US$ 780 juta tidak dibayar berbarengan dengan utang ke Dana Moneter Internasional (IMF). Pernyataan resmi tentang hal ini telah diterima pemerintah dari pihak JBIC Kamis (15/6). “Jadi kalau BI (Bank Indonesia) mempercepat pembayaran ya nggak ada masalah. Kita sudah negoisasi. Hari ini rencananya ditandatangani oleh dirjen JBIC. Dirjen JBIC akhir bulan ini akan datang ke Indonesia untuk menyampaikan hal ini,” papar Dirjen Perbendaharaan Negara, Mulia Nasution kepada pers usai membahas RUU APBN 2007 dengan Panitia Anggaran DPR RI, di Jakarta. Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, berdasarkan perjanjian jika pemerintah mempercepat pelunasan utang ke IMF maka secara paralel harus pula membayar utang ke JBIC. Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah memaparkan, pemerintah akan melunasi utang kepada IMF enilai US$ 751 juta dalam dua tahap. Pembayaran pertama pada Juli 2006, sisanya akan diupayakan dalam tahun ini atau paling lambat awal 2007. Pinjaman Indonesia kepada IMF baru akan jatuh tempo 2010 namun karena melihat cadangan devisa meningkat hingga mencapai US$ 43 miliar Pemerintah dan BI sepakat mempercepat pelunasan utang tersebut.
Multi Quote Quote
Investor Asing Pandang Positif Indonesia Kamis, 15 Juni 2006 15:53:13 StockWatch (Jakarta) - Tiga investor asing yaitu UBS, Credit Suisse First Boston dan Credit Lyonnais menyatakan komitmennya untuk tetap menanamkan investasinya di Indonesia, demikian Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), Fuad Rahmani kepada pers usai berbicara dalam investor forum yang diadakan oleh PT Mandiri Sekuritas, Kamis (15/6) di Jakarta. “Kami pernah bertemu mereka. Investasi mereka di sini bersifat voluntary. Mereka memang mengatakan seperti itu. Investor asing umumnya berpandangan positif kepada Indonesia,” katanya. Fuad juga menyatakan, guna meningkatkan transaksi di pasar obligasi, Bapepam berencana memperbaiki peraturan dan mekanisme yang terkait dengan transaksi di perdagangan obligasi. Investor asing saat ini menguasai sebesar Rp 50 triliun obligasi pemerintah. Apabila mereka keluar, maka dampaknya akan cukup besar terhadap pasar obligasi di Indonesia. Menurut Fuad, langkah yang akan ditempuh oleh Bapapem adalah memperluas basis investor, memperluas pasar obligasi di Indonesia. Di pasar saham, Bapepem juga berupaya mengundang emiten baru yang berkualitas agar transaksi di pasar saham semakin atraktif. Selain itu, Pemerintah diharapkan segera menyelesaikan pembentukan primary dealer, electronic trading flatform dan master repo agreement untuk meningkatkan transaksi obligasi.
Multi Quote Quote
Tuesday, June 20, 2006\r\n‘Indonesia may raise 80 trln rph in 2006 bonds’\r\n\r\nMANADO: The Indonesian government may raise 80 trillion rupiah ($8.5 billion) via new bond issues in 2006, Finance Minister Sri Mulyani Indrawati told reporters on Monday on the sidelines of a seminar.\r\n\r\n“In the revised 2006 budget, the amount of new bonds we will issue may reach 80 trillion rupiah. Taking into account the repayments, the net (financing) may be 38 trillion rupiah,” she said.\r\n\r\nEarlier Indrawati had said the budget deficit may increase to 1.5 percent of the country’s gross domestic product from the 0.7 percent previously set.\r\n\r\nShe had attributed the possible increase partly to the cost of rehabilitation of the areas in Central Java and Yogyakarta hit by a devastating earthquake on May 27. (Reuters)
Multi Quote Quote
Itulah bung alfa. Inpestor asing selalu pandang positip Indonesia. Biar Indonesia ngutang lagi. Bayar utangnya dengan jual aset, jual proyek, jual pertambangan. Masih trend begitu. Jadi ladang kaum kapitalis mendulang untung! :kesel: Pejabat Pemerentah tinggal disogok pake kertas yang ada nomernya banyak juga mao, sementara aset negara yang bernilai tinggi di-gadaikan. Kasihan oh kasihan rakyat… :whew: smile|)
Multi Quote Quote
Akhirnya gimana yah ? terus ngutang, atau ?
Multi Quote Quote
Lepas dari jerat utang masih 1 abad lage… bukti kebobrokan sistem hukum & ekonomi masa lalu… (masa sekarang masih sih… )
Multi Quote Quote
Miranda: Tunggu Hasil Rapat Dewan Gubernur Rabu, 5 Juli 2006 18:36:17 StockWatch (Jakarta) - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Miranda S. Goeltom mengatakan, ruang untuk penurunan sukubunga BI Rate masih cukup terbuka lebar dari level saat ini 12,50%. Meski begitu, BI akan secara berhati-hati mengamati situasi makro ekonomi Indonesia dan faktor global sebelum menurunkannya. “Kami akan selalu mengamati ekspektasi inflasi, tapi itu bukan satu-satunya. Kami juga harus melihat gerak-gerik eksternal seperti Fed Fund rate, harga minyak dunia dan ketidakseimbangan global,” katanya, Rabu (5/7) di Jakarta. Menurut Miranda, tanda-tanda untuk penurunan BI Rate itu masih ada. Itu dapat dilihat dari apakah nilai tukar stabil, konsumen semakin meningkat, stimulus fiskal sudah berjalan atau belum. “Banyak yang harus kami perhatikan, tunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI besok (Kamis 6/7) apakah BI Rate turun atau tidak,” katanya. Miranda menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini dan penurunan inflasi memang dapat memberi kesempatan kepada BI untuk menurunkan BI Rate. Tapi, BI akan melihat dulu apakah aliran dana yang masuk dari luar itu akan tetap dalam jangka waku lama atau pendek. Di samping itu, BI juga masih melihat stimulus fiskal Pemerintah memberikan dampak pada pertumbuhnn ekonomi Indonesia dan mulai terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran, sehinggga tidak menimbulkan gejolak inflasi lagi. Seluruh faktor ini akan menjadi perhatian BI dalam memutuskan BI Rate yang pantas dalam RDG besok.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...