Akankan Bunga Deposito Mencapai 20% di Tahun 2006 ?

Menurut ane klo suku bunga deposito naik ampe 20%, BI rate mau naik ampe berapa??? Klo BI rate naik, lendind ratenya mau naik ampe berapa??? 20%??? (soory OT, membahas sektor riil) Wong skrg dgn lending rate 16-17% saja sektor riil udah “koma”… Gimana 20%, sektor riil pasti bakal “ke laut”… Katakanlah, klo lending rate naik ampe 20%, salahsatu cara u/ menyiasati agar sektor riil tidak “ke laut” adalah dengan memberikan subsidi silang dan pengurangan pajak (PPh, PPN) seperti yg dilakukan o/ RRC… PEACE…!!!
Multi Quote Quote
Ekonomi Indonesia, Non-linear dan Irrasional Laporan - Oleh: Martin PH Panggabean Ph.D.*) Jika harus berterus terang, gambaran ekonomi tahun 2006 sebenarnya sulit diramal. Selain tahun kalender 2005 belum berakhir, perekonomian Indonesia baru saja terkena beberapa kejutan. Kejutan tersebut, selain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan wabah flu burung, tragedi bom Bali II masih membekas. Untuk BBM, pada tahun 2005 ini sebenarnya sudah tiga kali terjadi kenaikan BBM, dan bukan dua kali. Kenaikan harga BBM terjadi pada bulan Maret, Agustus, dan Oktober. Studi yang penulis lakukan menunjukkan, setiap kejutan terhadap inflasi akan memakan waktu enam bulan sebelum efeknya hilang. Secara faktual, kejutan BBM bulan Maret sudah mulai hilang dampaknya pada Juli. Hal ini terlihat dengan makin melambatnya laju inflasi pada bulan Juli lalu. Sayangnya, kembali terjadi kejutan kenaikan harga BBM industri sebesar 30% pada Agustus. Hal ini segera tercermin pada semakin tingginya angka inflasi inti Bank Mandiri pada September. Sementara dampak kenaikan harga BBM Agustus sedang dalam tahapan yang menguat dengan cepat, sudah pula muncul kejutan kenaikan lanjutan sebesar 100% lebih. Oleh sebab itu, saat ini saya menantikan dengan cukup berdebar-debar besarnya angka inflasi inti pada Oktober dan November ini. Data inflasi inti ini, walaupun keluar pada saat puasa dan Lebaran, sudah bersih dari pengaruh musiman dan bersifat riil mencerminkan tekanan inflasi yang sesungguhnya. Kelemahan Perhitungan Ekonomi Dengan kejutan yang baru saja terjadi, bagaimana kita menyikapi sukubunga SBI yang sebesar 11%? Apakah angka SBI ini sudah cukup ataukah masih akan terjadi kenaikan yang lebih besar? Dalam banyak hal, ini akan tergantung kepada seberapa besar tekanan inflasi di masa depan. Sejumlah pernyataan yang dilansir Bank Indonesia menunjukkan kegamangannya pada situasi inflasi yang sangat sulit dibaca. Pada berbagai kesempatan Bank Indonesia mengungkapkan bahwa inflasi tahun 2005 ini dapat mencapai 12% dalam kondisi optimistis. Dengan kata lain, ada kemungkinan inflasi akan berada di atas angka 12% itu. Sesungguhnya, bukan cuma Bank Indonesia yang gamang. Saya pun merasakan hal serupa menghadapi kondisi yang ada. Paling tidak, ada dua alasan di balik kekhawatiran saya. Pertama, sebagai seorang peneliti, saya menyadari beberapa kelemahan asumsi yang mendasari dari berbagai model ekonomi yang ada. Asumsi matematis terpenting yang mendasari banyak sekali model dan logika ekonomi adalah linearitas. Jika harga BBM naik 10%, maka inflasi bertambah sebesar 1%, sehingga secara linear kita juga mengatakan bahwa jika harga BBM naik 30%, inflasi akan naik 3%. Ini contoh perhitungan linear. Namun, perhitungan yang berdasar asumsi linearitas kerap kali terbang ditiup angin pada saat terjadi kejutan besar. Dengan kata lain, perhitungan ekonomi akan akurat selama ada kejutan sekitar sebesar 30%. Kalau Anda tidak percaya, coba lihat bagaimana banyak teori ekonomi konvensional tumbang pascakejutan kurs tahun 1998. Dalam praktiknya, kejutan ekonomi yang besar cenderung mengubah respons pelaku ekonomi ke arah yang tidak terduga. Oleh karena kejutan harga BBM yang terjadi tahun ini adalah nyaris 200% (hasil kumulatif dari tiga kali kenaikan BBM), sebenarnya sulit bagi kita untuk terlalu percaya pada akurasi perhitungan ekonomi yang ada. Apalagi karena amat mungkin perilaku masyarakat berubah drastis. Selain asumsi linearitas, kekhawatiran saya yang kedua adalah asumsi di mana pelaku pasar berlaku rasional. Justru yang terjadi berkali-kali adalah tontonan irasionalitas para pelaku pasar di Indonesia. Coba lihat reaksi irasional masyarakat terhadap penutupan 16 bank kecil pada tahun 1997. Coba lihat pula reaksi irasional masyarakat investor pada kasus anjloknya reksa dana baru-baru ini. Namun, kalau dipikir lebih lanjut, apakah juga rasional untuk menaikkan harga BBM sebesar 100% walaupun tidak didukung oleh perhitungan teknis ekonomi? Apakah ada di antara kita yang sedang berpikir bahwa irasionalitas adalah bagian (dan bukan lawan) dari rasionalitas? Dalam kondisi yang tidak pasti seperti sekarang di mana ada kemungkinan semua perhitungan ekonomi bisa terbang jauh tertiup badai non-linearitas dan irasionalitas, data terkini seperti data inflasi inti yang akan keluar pada bulan Oktober dan November adalah penting. Jauh lebih penting ketimbang perhitungan ekonomi yang tak pasti. Saya merasa bahwa keputusan Bank Indonesia untuk menetapkan SBI sebesar 11% pada saat ini adalah tindakan paling tepat. Lebih baik sedikit agresif dan menunggu ketimbang bertindak terlalu agresif. Dari sudut ini, saya juga lega melihat pernyataan para petinggi Bank Indonesia yang menolak memberikan komitmen bunga rendah kepada publik, walaupun mendapat tekanan dari pengelola fiskal dan pengusaha. Memang seharusnya begitu. Kita mesti menunggu dan melihat bagaimana reaksi pelaku ekonomi terhadap kenaikan harga BBM yang sangat besar ini. Indikasi awal reaksi ekonomi akan ditunjukkan oleh angka inflasi inti yang terjadi pada bulan Oktober dan November ini. Harapan Jadi, bagaimana dengan sukubunga kita di masa depan? Kalau dipaksa membuat perkiraan, saya cenderung mengatakan bahwa angka SBI 11% ini kelihatannya bukanlah angka final. Saya percaya masih akan ada kenaikan lainnya yang menbuat SBI sangat mungkin menyentuh (atau bahkan melebihi) tingkat 12%. Kalau Anda melihat ini sebagai kondisi yang muram, paling tidak ada beberapa kondisi yang dapat membalikkan keadaan yang bernada suram seperti ini. Dua kondisi yang dapat dikemukakan adalah penurunan harga minyak dunia yang diiringi penguatan kurs rupiah secara substansial dan permanen. Nampaknya ini sulit menjadi kenyataan. Yang lebih mendekati kenyataan adalah berkurangnya daya beli masyarakat sehingga tekanan inflasi juga berkurang. Percaya atau tidak, ini sudah dan masih akan terjadi. Fakta berbicara bahwa pertumbuhan ekonomi terus melambat semenjak tampuk kepresidenan berpindah-tangan pada Oktober 2004. Berbagai data yang dikumpulkan Bank Mandiri juga menunjukkan bahwa, seandainya kenaikan BBM tidak terjadi sekalipun, perekonomian masih akan terus melambat pada beberapa bulan mendatang. Sejalan dengan itu, diperkirakan pertumbuhan ekonomi 2005 nampaknya harus kita revisi menjadi hanya 5,2%, dan antara 4,5-5% pada 2006. Hal ini potensial akan semakin diperparah oleh bom Bali II. Kita semua tentu berharap, bersama-sama dengan rakyat Bali, bahwa dampak bom Bali II ini hanya akan bersifat temporer. Namun, dalam kosa kata bahasa Inggris, ada perbedaan yang nyata antara hope dan wish. Penyerbuan penjara di Bali seakan mewakili kekhawatiran masyarakat setempat bahwa dampak negatif ini mungkin butuh waktu lebih lama dari sekadar enam bulan. Di satu pihak, pelambatan ekonomi jelas adalah suatu wanprestasi, walaupun dilain pihak hal ini dapat membawa dampak positif karena dengan demikian sedikit mengurangi tekanan terhadap inflasi dan suku bunga. Namun masakan kita mengharapkan rakyat menganggur cuma agar inflasi dan sukubunga tidak tinggi? Tapi, siapa sih yang menyarankan pada pemerintah untuk menaikkan BBM 100%? (*) *) Ekonom Kepala Bank Mandiri *)Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
Multi Quote Quote
Apakah irrasionalitas akan membawa IHSG ke level 300? (pada Kurs Emas-Rp = 100,000) smile
Multi Quote Quote
wah,saya vote TIDAK, kalo bunga deposito mencapai 20% ntar pasti banyak perusahaan (terutama yg punya utang banyak di bank)) yang gulung tikar neh,phk karyawan,likuidasi bank,dll smile( , coba bayangin dengan bunga deposito segitu, nanti bunga kredit bank terus barapa?. walaupun untuk mengimbangi inflasi pemerintah akan menaikkan bunga, tp itu gak akan berlangsung lama, kita kan punya the dream team yg udah lama makan asam garam dunia bisnis. lagian ntar pasar modal sepi dong kalo bunga deposito segitu, para investor dan trader lebih tertarik mengalihkan dananya ke deposito. smile smile smile
Multi Quote Quote
Paling tidak sih seperti dulu lagi cuma 16-17%
Multi Quote Quote
NO WAY BI will maintain ASBI rate below inflation in mid term… that why the index IJO LAGI !!!!! JO IJO IJO IJO IJO IJO IJO IJO IJO
Multi Quote Quote
BI will maintain ASBI rate below inflation in mid term… The Fed juga akan melakukan yang sama. Emas dan Perak, platina akan terbang. Saya sudah mengumpulkan beberapa saham emas/perak/platina untuk tahun 2006. Siap-siap trading di US market.
Multi Quote Quote
SAYA RASA juga tidak akan !!
Multi Quote Quote
Let''s bet!
Multi Quote Quote
Never get trapped in hyper-analysis… smile
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...