Ipotnews -Membuka perdagangan awal pekan, di bulan terakhir tahun ini, Senin (2/12), bursa saham Asia dibuka melaju, merespon rilis data aktivitas pabrikan China periode November yang menunjukkan kenaikan melebihi ekspektasi, di tengah ketidakpastian perundingan dagang AS-China. IndeksMSCIAsia ex-Jepang naik 0,16%. Mengawali perdagangan saham hari ini, indeksASX 200, Australia dibuka menguat 0,44%, di tengah kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks berlanjut naik 0,51% (35,20 poin) menjadi 6.881,20 pada pukul 8:15 WIB. Pada jam yang sama indeksNikkei 225, Jepang bergerak melaju 0,97% (225,27 poin) ke level 23.519,18, setelah dibuka melompat 0,76%, diwarnai lonjakan harga saham Fanuc sebesar 1,03%. IndeksKospi, Korea Selatan dibuka melaju 0,62% dan berlanjut naik 0,59% menjadi 2.100. IndeksHang Seng, Hongkong dibuka naik 0,49% (128,85 poin) ke level 26.475,34 pada pukul 8:35 WIB. IndeksShanghai Composite, China menguat 0,09% di posisi 2.874,45. Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dihadapkan pada tren kenaikan indeks di bursa saham Asia, setelah mengakhiri pekan lalu dengan kenaikan tajam 0,99% ke level 6.011. Namun harga ETF saham Indonesia(EIDO)di New York Stocks Exchange turun 0,87% menjadi USD24,03. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakanIHSGhari ini berpotensi melanjutkan kenaikan setelah sempat turun ke bawah level psikologis 6.000, didukung rilis data inflasi November yang akan dirilis hari ini. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan di area jenuh jual. Tim Riset Indo Premier berpendapat kekhawatiran investor seputar perkembangan negosiasi dagang AS-China yang tidak menentu setelah China mengancam akan membalas langkah AS, diprediksi akan memberikan sentimen negatif.Sementara itu menguatnya beberapa harga komoditas seperti CPO, timah dan batu bara diprediksi akan menjadi katalis positif di pasar. Dari dalam negeri, investor akan mencermati rilisnya data inflasi pada bulan November dimana menurut konsensus akan berada di level 3,06% yoy.IHSGdiprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan support di level 5.950 dan resistancedi level 6.070. Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain; [list][li]Saham:[url=]JPFA[/url](Buy, Support: Rp1.635, Resist: Rp1.700),[url=]SIMP[/url](Buy, Support: Rp354, Resist: Rp370), [url=]BMRI[/url](Buy, Support: Rp6.775, Resist: Rp7.175),[url=]AALI[/url](Buy, Support: Rp12.350, Resist: Rp12.850). [/li][li]ETF:[url=]XIPI[/url](Buy, Support: Rp166, Resist: Rp170),[url=]XIIF[/url](Buy, Support: Rp598, Resist: Rp605), [url=]XPFT[/url](Buy, Support: Rp520, Resist: Rp532). [/li][/list] Amerika Serikat dan Eropa Perdagangan saham di bursa Wall Streetmengakhiri pekan terakhir November dengan melemah, dalam sesi perdagangan setengah hari libur Thanksgiving. Investor mengkhawatirkan kelanjutan negosiasi perdagangan AS-China, terkait dukungan Washington terhadap gerakan pro demokrasi di Hongkong, menjadi sentimen negatif bagi Wall Street. Indeks saham peritel melorot 0,8% karena penjualan pada momentBlack Friday tidak naik signifikan. Data Adobe mengindikasikan belanja online masyarakat turun USD7 miliar selama Black Friday. Namun secara bulanan indeks SP 500 naik 3,4%, Dow Jones melaju 3,7% dan Nasdaq melonjak 4,5 persen, kenaikan bulanan terbesar untuk ketiga indeks sejak Juni. Reuters memberitakan, Washington dapat memperluas kekuatannya untuk menghentikan lebih banyak pengiriman produk asing dengan teknologi AS ke Huawei China. Aksi penjualan makin melonjak di jam terakhir perdagangan setelah rilis pemberitaan tentang Huawei. Philadelphia Semiconductor, indeks saham emiten semikonduktor yang sensitif terhadap sentimen perang dagang merosot 1,1%. Volume perdagangan sedikit lesu, hanya 3,55 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata 6,86 miliar selama 20 sesi terakhir. [list][li]Dow Jones Industrial Average turun 0,40% (-112,59 poin) ke posisi 28.051,41.[/li][li] [/li][li]SP 500 juga melorot 0,40% (-12,65 poin) menjadi 3.140,98.[/li][li] [/li][li]Nasdaq Composite merosot 0,46% (-39,70 poin) ke level 8.665,47.[/li][/list]Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup turun, ke level terendah dalam sebulan terakhir. Investor mengkhawatirkan negosiasi perdagangan AS-China setelah China mengkritik keras UU pro demokrasi di Hong Kong yang diterbitkan AS. Tanpa adanya kesepakatan, tarif AS akan mulai berlaku pada impor Cina pada 15 Desember. Investor mengabaikan data yang menunjukkan inflasi zona euro pada November melaju lebih cepat dari yang diharapkan, sementara tekanan tingkat upah sebagai salah satu pendorong inflasi mereda. Indeks acuan bursa saham Eropa,STOXX 600anjlok 0,44% menjadi 407,43, namun masih membukukan kenaikan mingguan terkuat dalam tiga pekan terakhir. Saham DNB, rontok 6%, polisi sedang menyelidiki bank terbesar di Norwegia itu, terkait kemungkinan pelanggaran hukum dalam penanganan pembayaran dari perusahaan perikanan Islandia ke Namibia. Harga saham toko grosir online Inggris Ocado melonjak 10% setelah menandatangani kesepakatan pertama di Asia dengan Aeon Jepang. [list][li]FTSE 100 London anjlok 0,94% (-69,90poin) ke level 7.346,53.[/li][li] [/li][li]DAX 30 Franksfurt turun tipis 0,07%(-9,20 poin) di posisi 13.236,38.[/li][li] [/li][li]CAC 40 Paris melemah 0,13% (-7,55 poin) menjadi ke 5.905,17.[/li][/list] Nilai Tukar Dolar AS Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup melemah. Poundsterling menguat terhadap dolar setelah data jajak pendapat menjelang pemilu12 Desember mengindikasikan kemenangan Parta Konservatif pendukung PM Boris Johnson. Rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III sedikit naik, bertolak belakang dengan berbagai indikator yang menunjukkan perlambatan dalam aktivitas global. Indeks dolar AS melemah 0,10% menjadi 98,273. Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot CurrencyValueChange% ChangeEuro (EUR-USD)1.10180.0009+0.08%Poundsterling (GBP-USD)1.29250.0013+0.10%Yen (USD-JPY)109.49-0.02-0.02%Yuan (USD-CNY)7.0324-0.0029-0.04%Rupiah (USD-IDR)14,108.0016.50+0.12% Sumber : Bloomberg.com, 29/11/2019 (ET) Komoditas Harga minyakmentahWest Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup menurun tajam seiring meningkatnya kembali ketegangan perang dagang AS-China dan rekor tinggi produksi minyak mentah AS. Namun secara bulanan harga minyak masih menguat; minyak Brent naik 6% dan WTI naik 2,3%. Laporan bulanan pemerintah AS menunjukkan, pertumbuhan produksi AS, yang naik ke rekor baru 12,46 juta barel per hari pada September dari 12,397 juta bph pada Agustus. Dukungan terhadap harga minyak datang menjelang pertemuan minggu depan OPEC + pekan depan, yang diperkirakan akan memperpanjang pengurangan produksi minyak yang ada hingga pertengahan 2020. Survei Reuters mengindikasikan bahwa total output OPEC turun 110.000 barel per hari (bph) di bulan November. Empat puluh dua ekonom dan analis memperkirakan Brent rata-rata USD 62,50 per barel tahun depan, sedikit berubah dari perkiraan bulan lalu sebesar USD 62,38. [list][li]Harga minyak berjangka Brent turun USD 1,44 menjadi USD 62,43 per barel, turun 1,5% secara mingguan.[/li][li] [/li][li]Harga minyak berjangka WTI turun USD2,94 menjadi USD 55,17 per barel, turun 4,1% secara mingguan.[/li][/list]Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan menguat. Pasar menunggu perkembangan perundingan dagang AS-Cina, setelah Beijing menyatakan akan membalas langkah Washington mengesahkan UU yang mendukung unjuk rasa Hongkong. Namun secara bulanan, harga emas melorot 3,5%, di jalur penurunan bulanan terbesar sejak November 2016. Tapi secara tahunan, harga emas masih di jalur kenaikan terbaik sejak 2010, dengan kenaikan 13,5% sepanjang tahun ini. [list][li]Harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi USD 1,460.08 per ounce.[/li][li] [/li][li]Harga emas berjangka naik 0,4% menjadi USD 1,459.40 per ounce.[/li][/list] (AFP, CNBC , Reuters) #YukNabungETF #IPOTKaryaAnakBangsa #BanggaPakeIPOT #IPOTPionner
Multi Quote Quote