Meskipun perolehan laba bersih di 2018 terkoreksi dibandingkan pencapaian laba bersih di tahun lalu, namun PT Acset Indonusa Tbk (ACST) masih royal untuk membagikan dividen senilai Rp3,5 miliar atas laba bersih 2018. Keputusan pembagian dividen disepakati para pemegang saham dalam rapat umum pemegang shaam tahunan (RUPST). Maria Cesilia Hapsari, Corporate Secretary Investor Relations Acset Indonusa mengatakan bahwa para pemegang saham menyetujui untuk mendapatkan dividen Rp5 per saham atau 20% dari laba bersih pada 2018 yakni Rp 18,3 miliar. “Hal ini merupakan implikasi dari perolehan laba bersih tahun 2018 yang terkoreksi,”ujarnya di Jakarta. Sementara sisa dari pembagian saham tersebut ditetapkan sebagai laba ditahan perseroan. Nantinya laba yang ditahan tersebut akan digunakan perseroan untuk membiayai proyek-proyek yang akan dikerjakan perseroan pada 2019. Pada 2019, ACST menetapkan target perolehan kontrak baru senilai Rp15 triliun. Optimisme tersebut diklaim sejalan dengan upaya perbaikan perusahaan dalam aspek finansial, operasional, dan juga pengembangan sumber daya di internal. Presiden Direktur Acset Indonusa, Jeffrey Gunadi Chandrawijaya mengatakan, anjloknya laba bersih perusahaan disebabkan molornya pengerjaan proyek yang sedang berjalan dan kenaikan biaya konstruksi yang akhirnya berimbas menekan laba bersih perseroan tahun 2018. Dalam rapat tersebut, pemegang saham Acset juga menyetujui perubahan komposisi pengurus perseroan. Frans Kesuma diangkat sebagai presiden komisaris, Tan tiam Seng Ronnie ditunjuk sebagai komisaris, dan Wiltarsa Halim juga diangkat sebagai komisaris independen. Selain menyetujui perubahan anggaran dasar, rapat juga menyetujui laporan keuangan untuk tahun buku 2018 dan penunjukkan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk melakukan audit atas laporan keuangan Acset2019. Kendati laba bersih perusahaan terpangkas di tahun lalu, tapi pendapatan perseroan naik 23,06% menjadi Rp 3,7 triliun dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 3,03 triliun. Komposisi pendapatan pada periode ini masih didominasi oleh sektor infrastruktur sebesar 76%, konstruksi 17%, dan kemudian diikuti oleh sektor fondasi 5% serta lainnya 2%.
Multi Quote Quote