Ipotnews- Pasar minyak jatuh, Jumat siang, terbebani kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global, meski pengurangan pasokan yang dimotori OPEC dan sanksi AS terhadap Venezuela memberikan minyak mentah beberapa dukungan. Patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), turun 40 sen atau 0,8 persen menjadi USD52,24 per barel pada pukul 13.41 WIB, demikian laporanReuters, di Singapura, Jumat (8/2). WTI anjlok sekitar 2,5 persen di sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menyusut 41 sen, atau sekitar 0,7 persen, menjadi USD61,22 per barel, setelah merosot 1,7 persen di sesi sebelumnya. Membebani pasar keuangan, termasuk minyak mentah berjangka, adalah kekhawatiran bahwa perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan China akan tetap tidak terselesaikan, merusak prospek pertumbuhan ekonomi global. Kamis, Presiden Donald Trump mengatakan dia tidak berencana untuk bertemu Presiden China Xi Jinping sebelum batas waktu 1 Maret yang ditetapkan kedua negara untuk mencapai kesepakatan perdagangan. Jika tidak ada kesepakatan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu, Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap impor China. Putaran pembicaraan lainnya dijadwalkan digelar pekan depan di Beijing. "Harga minyak mentah kembali ke posisi terendah dalam sepekan karena prospek pertumbuhan yang lebih lambat...bisa mengisyaratkan persediaan kembali meningkat," kata Edward Moya, analis pasar di pialang berjangka OANDA. Komisi Eropa memotong tajam perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi zona euro, Kamis, karena ketegangan perdagangan global dan berbagai tantangan domestik. Komisi itu mengatakan pertumbuhan zona euro tahun ini akan melambat menjadi 1,3 persen dari 1,9 persen pada 2018, sebelumreboundpada 2020 menjadi 1,6 persen. Meski demikian, para pedagang mengatakan harga minyak mentah tidak jatuh terlalu dalam karena pemotongan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), yang diadopsi akhir tahun lalu dengan tujuan memperketat pasar dan menopang harga. Sebagai bagian dari pemotongan itu, pemimpin OPEC , Arab Saudi, memangkas produksi pada Januari sekitar 400.000 barel per hari (bph) menjadi 10,24 juta bph, menurut sumber OPEC. Itu menempatkan produksi minyak mentah Saudi hampir 1,7 juta bph di bawah Amerika Serikat, yang menghasilkan sekitar 11,9 juta bph pada akhir 2018 dan awal 2019 - melonjak lebih dari dua juta bph dari tahun sebelumnya. Risiko lain untuk pasokan datang dari Venezuela setelah penerapan sanksi AS terhadap industri perminyakan anggota OPEC itu pada akhir Januari. Analis memperkirakan langkah itu akan menggerus 300.000-500.000 bph dari ekspor. (ef) Sumber : Admin
Multi Quote Quote