Ipotnews- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan hari Kamis (25/10) di tengah bearish pasar saham global.IHSGmenguat +0,80 persen (+45 poin) ke level 5.754. Indeks LQ45 +1,23% ke leavel 902 poin. IDX30 +1,28% ke level 495 poin. Indeks JII +1,16% ke level 636. Indeks Kompas100 +1,06% ke level 1.157. Indeks Sri Kehati +1,33% ke posisi 341. Indeks Sinfra18 +0,51% ke level 297. Saham-saham teraktif yang diperdagangkan:[url=]KPAS[/url],[url=]LPPF[/url],[url=]BBRI[/url],[url=]TLKM[/url],[url=]BBCA[/url],[url=]PGAS[/url]dan[url=]LPPS[/url] Saham-saham top gainer LQ45:[url=]MNCN[/url],[url=]INKP[/url],[url=]PTBA[/url],[url=]INTP[/url],[url=]SSMS[/url],[url=]UNVR[/url]dan[url=]KLBF[/url] Saham-saham top loser LQ45:[url=]SCMA[/url],[url=]ELSA[/url],[url=]EXCL[/url],[url=]BKSL[/url],[url=]ADRO[/url],[url=]INCO[/url]dan[url=]SMGR[/url] Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp7,44 triliun dengan volume trading sebanyak 88,82 juta lot saham. Pemodal asing aksi beli bersih (net buy) senilai Rp114,03 miliar. Sektor industri dasar dan konsumer menjadi penopang utama lajuIHSG. Kedua sektor tersebut menguat masing-masing +1,6 persen dan +1,21 persen. Laporan keuangan beberapa emiten kuartal ketiga yang positif menjadi katalis positif bagiIHSG, demikian menurut ulasan Tim Analis Indo Premier Sekuritas selain karena faktor posisi indeks yang sudah terlalu rendah. Nilai tukar rupiah -0,04 persen ke level Rp15.188 (pukul 04:00 pm) Bursa Asia Market saham Asia tumbang pada sesi pagi perdagangan hari Kamis (25/10). Dana ratusan miliar dolar AS hengkang dari pasar saham global setelah saham-saham tekno menyebabkan bursa Wall Street turun harian paling buruk sejak 2011. Kalangan analis menilai pasar saham global mengisyaratkan bearish. Indeks MSCI Asia Pasifik turun 18,5 persen sehingga turun 2 persen secara tahunan pada 2018 saat perdagangan hari Kamis. Investor pasar saham menjadi semakin gugup terhadap valuasi saham, suatu kemungkinan puncak saat momentum rilis kinerja keuangan emiten. Selain itu karena faktor kenaikan suku bunga lebih cepat di USA serta perang dagang USA dengan China yang jadi ancaman untuk menekan pertumbuhan global. Head of Equity Research Nomura, Jim McCafferty menilai perusahaan-perusahaan dengan dukungan anggaran capex menghadapi ketidakpastian dalam beberapa tahun ke depan terkait perang dagang serta sentimen Brexit. Beberapa analis merasa pasar saham USA bearish sehingga mungkin lebih baik fokus di luar pasar USA, setidaknya untuk saat ini. "Beberapa poin tekanan pada pasar saham Eropa telah menandai situasi bearish dalam beberapa bagian di 2 bulan terakhir," kata James Stanley, Analis pada Daily FX. Menurut Stanley, sekarang pasar punya konfirmasi bahwa kebijakan tarif impor membawa dampak nyata bagi kinerja perusahaan USA. Mungkin jadi sebuah bola salju yang menyebabkan faktor lain yang mengkhawatirkan yang perlu dipertimbangkan. Indeks acuan bursa saham China bergerak variatif. Indeks Shenzhen turun 0,34 persen sedangkan Indeks Shanghai menguat. Tekanan di bursa Hong Kong, mengantarkan Indeks Hang Seng turun signifikan. Sedangkan Indeks Nikkei 225 dan Indeks Topix di bursa Jepang juga dalam tekanan. Indeks Topix turun 3,1 persen. Adapun Indeks Kospi di Korsel turun 1,63 persen seiring tekanan yang terjadi pada saham-saham unggulan. Harga saham Samsung Electronics turun 3 persen. Juga saham SK Hynix turun 3 persen. Sementara itu Indeks ASX200 (Australia) jatuh 2,83 persen. Sebagian besar sektor saham tertekan. Sektor energi drop 2,18 persen. Sektor finansial drop 2,3 persen. Di bursa Wall Street, Indeks Dow Jones turun 608,01 poin. Indeks SP 500 drop 3,1 persen dan Indeks Nasdaq drop 4,4 persen. Pada pasar valas, Indeks dolar AS ke posisi 96,274 mengalami pelemahan dibandingkan posisi sesi kemarin di level 96,377. Sementara nilai tukar yen menguat ke level 112,07 jika dibandingkan sesi kemarin di level 112,6. Sinyal bearish telah nyata terjadi di luar pasar saham USA, berdasarkan data yang dianalisis Reuters. Selain itu riset Bank of America Merryl Lynch baru-baru ini menemukan bahwa 58 persen dari 2.767 saham dalam Indeks MSCI Global saat ini berada di teritori bearish. Indeks Nikkei 225 (Jepang) -3,72% ke posisi level 21.268. Indeks Hang Seng (Hong -1,01% ke posisi 24.994. Indeks Shanghai (China) +0,02% ke posisi 2.603. Indeks Straits Times (Singapura) -0,77% ke level 3.008. Bursa Eropa Market saham Eropa melemah di menit-menit awal perdagangan hari Kamis (25/10) pagi waktu setempat. Hal ini terjadi di tengah terjadinya aksi jual masif pasar saham global karena para pemodal mendalami laporan keuangan emiten sekaligus memantau keputusan suku bunga acuan oleh bank sentral Eropa. Indeks FTSE 100 (Inggris)-0.59% ke posisi 6.922. Indeks DAX (Jerman) -0.10% di level 11.180. Indeks CAC (Perancis) +0.30% pada posisi 4.967. Oil Harga minyak melemah pada perdagangan hari Kamis (25/10) seiring jatuhnya pasar saham Asia dan Eropa merespon aksi jual masif di bursa Wall Street ke level terendah harian sejak 2011. Minyak Brent drop 82 sen ke harga USD75,35 per barel (pukul 09:00 GMT). Harga minyak WTI melemah 30 sen ke harga USD66,52 per barel. (cnbc/awsj/reuters/idx) Sumber : admin
Multi Quote Quote