Ipotnews -Awali pekan ini, Senin (13/smile, bursa saham Asia dibuka melemah, melanjutkan tren penurunan indeks di bursa saham utama Eropa dan Wall Street akhir pekan lalu, yang terpengaruh oleh sentimen negatif kejatuhan lira, Turki karena perseteruannya dengan AS. Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeksASX 200, Australia sebesar 0,26% pada sesi awal perdagangan yang terbebani oleh penurunan harga saham sektor keuangan, di tengah menguatnya saham sektor energi dan teknologi informasi. Penurunan indeks berlanjut 0,24% (14,80 poin) di level 6.263,60 pada pukul 8:15 WIB. Pada jam yang sama indeksNikkei 225, Jepang terperosok 1,07% (-237,92 poin) ke level 22.060,16, setelah dibuka melorot 0,92% terpengaruh oleh penguatan yen yang menekan harga saham eksportir, terutama otomotif dan barang elektronika. Saham perbankan rontok 2,04%. IndeksKospi, Korea Selatan dibuka merosot 0,68% terseret kejatuhan harga saham teknologi, dan berlanjut anjlok 0,72% menjadi 2.266,44. Melanjutkan tren pelemahan Asia, indeksHang Seng, Hongkong dibuka rontok 1,44% (-409,84 poin) ke level 27.956,78 pada pukul 8:35 WIB. IndeksShanghai Composite, China terpangkas 0,94% menjadi 2.769,02. Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks saham acuan di bursa global dan regional, setelah berhasil menutup pekan lalu dengan membukukan kenaikan 0,20% di posisi 6.077,17. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih akan berada di fase konsolidasi dengan potensi menguat di tengah kekhawatiran akan merembetnya sentimen negatif Turki keemerging market. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensibullish continuation,dengan sinyalbearishdi area jenuh beli. Tim Riset Indo Premier berpendapat, memanasnya hubungan perang dagang antara Amerika dengan Turki, serta datacurrent account deficitdi kuartal kedua yang turun dari USD5,7 miliar menjadi USD8 miliardiprediksi akan menekan indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentangsupportdi level 6.045 danresistancedi6.110. [list][li]Saham :R-LQ45X(Buy, Support: Rp1.005, Resist: Rp1.016),[url=]XIIF[/url](Buy, Support: Rp663, Resist: Rp671), [url=]XBLQ[/url](Buy, Support: Rp483, Resist: Rp48smile. [/li][/list] Amerika Serikat dan Eropa Perdagangan saham di bursaWall Streetakhir pekan lalu ditutup melemah tertekan penurunan harga saham sektor energi dan keuangan. Krisis ekonomi di Turki ikut menyeret turun saham-saham perbankan AS. Indeks Dow Jones dan SP 500 membukukan penurunan mingguan 0,6% dan 0,3%, setelah selama lima pekan berturut-turut membukukan keuntungan. Data inflasi AS periode Juli naik 0,2%, sedangkan inflasi inti mencapai level tertinggi sejak September 2008, sebesar 2,4 %. Nasdaq naik 0,3%. Saham Intel merosot 2,6%, dan Microchip Technology rontok 10,9%. Facebook, Alphabet dan Amazon juga melemah. Citigroup melorot 2,4 %. JPMorgan, Wells Fargo dan Bank of America juga melemah. Boeing, 3M dan Caterpillar, semuanya turun sedikitnya 1%. Tapi Tesla Inc., melaju 0,9%. Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 0,77%(-196,09 poin) ke level 25.313,14. Standard Poor's 500 melorot 0,71% (-20,30 poin) ke posisi 2.833,28. Nasdaq Composite turun 0,67% (52,67 poin) menjadi 7.893,11. Harga ETF saham Indonesia(EIDO)di New York Stocks Exchange turun 1,72% menjadi USD24,00. Bursa saham utamaEropaakhir pekan lalu juga ditutup melemah seiring pelemahan nilai tukar Lira yang berlangsung dramatis dan menghentak pasar karena memburuknya hubungan Turki-Washingto. Para investor resah mencermati dampak politik dan ekonomi yang bersumber dari Turki. Indeks European-Stoxx turun 1,07% menjadi 385,86, atau melemah 0,9% secara mingguan. Beberapa sektor termasuk banks dan sumber daya dasar mengakhiri pekan lalu dengan 2% lebih rendah. Saham perbankan berguguran setelah The Financial Times memberitakan bahwa bank sentral Eropa mengkhawatirkan eksposur sejumlah bank besar Eropa di Turki, seiring jatuhnya mata uang Lira. Saham BPN Paribas anjlok 3%. UniCredit, tergerus 4,7 % dan BBVA rontok 5,1 % FTSE 100 London melorot 0,97% (-74,76 poin) ke level 7.667. DAX 30 Frankfurt anjlok 1,99% (-251.76 poin) ke posisi 12.424 CAC 40 Paris merosot 1,59 % (87,57 poin) menjadi 5.414. NilaiTukar Dolar AS Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu diutup dengan mncatatkan lonjakan, setelah Presiden AS ,Donald Trump secara resmi menggandakan tarif pada produk baja dan aluminium dari Turki, masing-masing menjadi 50% dan 20%. Ketegangan meningkat antara kedua negara karena kasus penahanan seorang pendeta AS oleh Turki sejak 2016 lalu. Rilis indeks Harga Konsumen AS periode Juli untuk Semua Konsumen Perkotaan naik 0,2 %, sesuai dengan estimasi pasar. Selama 12 bulan terakhir, indeks semua item naik 2,9 % sebelum penyesuaian secara musiman. Indeks dolar AS, yang mengukurgreenbackterhadap enam mata uang negara maju, naik 0,89 % menjadi 96,357. Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot CurrencyValueChange% ChangeEuro (EUR-USD)1.1413-0.0114-0.99%Poundsterling (GBP-USD)1.2758-0.0066-0.51%Yen (USD-JPY)110.83-0.25-0.23%Yuan (USD-CNY)6.84670.0257+0.38%Rupiah (USD-IDR)14,478.0062.00+0.43%Sumber : Bloomberg.com, 10/8/2018 (ET) Komoditas Harga minyakmentahWest Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup menguat di tengah sanksi AS terhadap Iran. Namun secara mingguan harga minyak WTI turun 1%, dan Brent melemah 0,5% dibanding akhir pekan sebelumnya, terbebani kekhawatiran terhadap sengketa dagang yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta permintaan terhadap energi. Sebagian besar perekonomian negaraemerging markettermasuk China, India dan Turki meredup seiring tekanan terhadap mata uang negara mereka. Para analis memperkirakan ekspor minyak Iran turun antara 500 ribu hingga 1,3 juta barel per hari. Jumlah anjungan pengeboran minyak AS yang beroperasi pada akhir pekan lalu bertambah 10 unit menjadi 869 rig, tertinggi sejak Maret 2015. Harga minyak mentah berjangka WTI naik 82 sen (1,2%) menjadi USD67,63 per barel. Harga minyak mentah berjangka Brent naik 72 sen (1,0%) menjadi USD72,79 per barel. Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan bergerak mendatar namun cenderung melemah, di tengah menguatnya dolar AS dan rontoknya mata uang Lira, Turki karena tekanan AS yang melipatgandakan tarif impor logam dari Turki. Namun secara mingguan, harga emas terjebak di jalur pelemahan selama 5 pekan berturut-turut. Hingga pekan lalu, harga emas sudah rontok 11% dari harga tertinggi yang dicapai pada April lalu. Para investor hengkang dari investasi emas karena merebaknya spekulasi akan berlanjutnya pelemahan harga emas. Kepemilikan ETF emas turun 3,7 juta ounces, atau 6.3% sejak akhir Mei lalu, terendah dalam hampir setahun terakhir. Harga emas di pasar spot mendatar di kisaran USD1.212,24 per ounce. Harga emas untuk pengiriman Desember turun 90 sen menjadi USD1,219 per ounce. (AFP, CNBC , Reuters)
Multi Quote Quote