Ipotnews- Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, menegaskan akan terus mengawal proses gugatan terkait putusan final bea masuk imbalan (countervailing duty) atas produk biodiesel Indonesia oleh United States Department of Commerce (USDOC). Pihaknya menyatakan sudah menyampaikan nota keberatan tersebut kepada World Trade Organization (WTO). "Itu sudah kami sampaikan (ke WTO), kita pastikan akan terus mengawal prosesnya sampai putusan final," kata Enggar di Jakarta, Selasa (12/12). Dalam kunjungan kerjanya yang dilaksanakan pada 7 hingga 17 Desember ke Argentina dan Chili dalam agenda WTO, Enggar menyatakan akan menanyakan perkembangan gugatan atas kasus tersebut. Dia berharap dalam forum resmi internasional tersebut keluhan yang disampaikan pemerintah Indonesia dapat difasilitasi oleh WTO. "Ya tentu masalah itu merugikan kita semua, makanya kita akan pantau terus agar apa yang kita sampaikan direspon dengan baik oleh Amerika," ujarnya. Sebelumnya, pemerintah menilai keputusan USDOC terkait bea masuk imbalan (countervailing duty) atas produk biodiesel Indonesia tarifnya terlalu tinggi. Hal itu dinilai akan mengganggu stabilitas dan daya saing produk biodiesel Indonesia. Pemerintah mendesak agar pemerintah AS menurunkannya. Pada November 2017 lalu, USDOC mengumumkan putusan final bea masuk imbalan produk biodiesel impor dari Indonesia dan Argentina yang dinilai oleh kedua negara over protektif. USDOC menetapkan bea masuk imbalan antara 34,45 persen - 64,73 persen untuk Indonesia. Sementara itu, Argentina dikenakan bea masuk antara 71,45 persen - 72,28 persen. Sangat jelas sekali bahwa putusan itu akan merugikan negara pengimpor produk biodiesel ke AS. "Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali putusan ini dan menghargai hubungan baik kedua negara dalam semangat perdagangan bebas dan adil. Indonesia tidak segan-segan mengajukan gugatan melalui mahkamah AS maupun melalui jalur Dispute Settlement Body WTO, ujar Mendag. (Marjudin)
Multi Quote Quote