Sepanjang bulan Agustus 2017, saham INDY menjadi salah satu saham dengan kenaikan harga tertinggi, di mana harga sahamnya naik dari 800 an ke 1200 an, atau naik 50% an dalam waktu satu bulan. Dan analisa mengenai INDY sudah pernah kita tuangkan sebelumnya, yang dapat Anda baca lagi disini. Terkait dengan hal tersebut, di mana INDY merupakan holding group yang memiliki beberapa anak usaha, di mana salah satu yang menarik perhatian adalah MBSS. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)adalah penyedia solusi logistik dan transportasi laut terpadu untuk bahan curah yang terkemuka di Indonesia, khusus nya batubara. Didirikan di Jakarta pada tahun 1994, MBSS memulai dari usaha perusahaan pelayaran (shipping company). MBSS sewaktu itu memulai denganbarging contractdengan PT Varia Usaha (anak usaha Semen Gresik) dan PT Arutmin Indonesia untuk transportasi batubara domestik. Ketika tahun 1998, MBSS juga mendapatkan kontrak jangka panjang untuk transportasi batubara dari PT Bahari Cakrawala Sebuku. Seiring waktu, MBSS tumbuh menjadi penyedia jasa logistik dan transportasi utama (dengan layanan yang lebih komprehensif ketimbang hanya perusahaan pelayaran). Dan pada tanggal 6 April 2011, MBSS memulai pencatatan Perdana di Bursa Efek Indonesia (waktu itu namanya masih Bursa Efek Jakarta). Dan pada tahun dan bulan yang sama, PT Indika Energy (INDY) mengakuisisi 51% saham di MBSS dan menjadi pengendali di MBSS. Ownership Structure MBSS (source: company presentation) Per Agustus 2017, MBSS memiliki 85 Tug Boat (kapal penarik tongkang), 4 floating cranes (FC), 2 Floating Loading Facilities (FLF), 71 barges (kapal tongkang). Jika dilihat secara historikal selama beberapa tahun ke belakang, perusahaan tidak menambah jumlah armada nya, setidaknya itulah yang terlihat dari arus kas investasi MBSS yang positif $ 290.4 ribu per semester I 2017 ini. Di sisi lain, jumlah pendapatan juga masih flat ketimbang periode yang sama di tahun lalu. Per semester I 2017, pendapatan MBSS sejumlah $ 33.1 juta, hanya naik 0.25% dibandingkan semester I 2016. Meskipun demikian, MBSS masih memiliki sejumlah klien besar seperti Kaltim Prima Coal (KPC) dan Adaro yang memiliki kontrak sampai 2017 ini, Kideco Jaya Agung (kontrak sampai 2019), Berau Coal (kontrak sampai 2022), dan beberapa klien besar lainnya sampai 2018. Sejatinya MBSS adalah perusahaan yangprofitablesejak IPO, di mana pada tahun 2011 misalkan MBSS mencatatkan laba bersih $ 29.6 juta. Laba bersih ini terus naik hingga pada tahun 2013, MBSS mencatatkan laba bersih $ 38.2 juta. Penurunan harga komoditas batubara berkepanjangan yang dimulai pada akhir tahun 2012, turut mempengaruhi kinerja MBSS sejak 2014, di mana laba bersih nya turun hampir setengahnya, yaitu hanya tercatat $ 20.1 juta. Dan lebih parahnya lagi, MBSS mencatatkan rugi bersih sejak tahun 2015 sampai dengan kuartal II 2017 (tahun 2015 : rugi $ 12.1 juta, tahun 2016 : rugi $ 29.8 juta). Saat harga komoditas batubara mulai naik sejak pertengahan tahun 2016, banyak investor berharap bahwa MBSS juga akan mencatatkan profit di tahun 2017 ini seperti layaknya induk usahanya. Namun sampai dengan semester I 2017, MBSS masih belum juga berhasil mencatatkan profit. Per semester I 2017, MBSS masih mencatatkan rugi bersih $ 3.8 juta. Net Profit / (Loss) MBSS 2011 – 2017 Anlz (dalam Rp miliar) Source: idx.co.id yang diolah Pertanyaannya sudah tentu,mengapa MBSS masih rugi di tengah meningkatnya harga komoditas batubara?Kalau kita bedah lebih dalam, problem utama MBSS ini terletak didirect costataucost of goods sold,sehingga menekan Gross Profit nya. Coba bandingkan pada tahun 2013 saat puncak kejayaan MBSS, Gross Profit nya bisa mencapai 40%. Sedangkan di semester I 2017,Gross Profit MBSS hanya 5.9%. Kalau kita bedah lagidirect costperusahaan di tahun 2016,direct costterbesar perusahaan adalah dariDepreciation yang berkontribusi terhadap 37.0% totaldirect costperusahaan, diikuti olehFuel atau biaya bahan bakar (17.9%), biaya gaji (13.6%), RM (9.0%), rental (1.5%) dan biaya lain-lainnya (21.0%). Dari komponen-komponen cost tersebut, perusahaan sebenarnya bisa menekan biaya rental, biaya gaji, dan biaya RM, hanya sayangnyakomponen tersebut hanya berkontribusi sekitar 24.1% dari totalDirect Costperusahaan. Sementarakomponen Direct Cost yang berkontribusi lebih besar seperti Fuel naik 17.9% YoY dan Depresiasi naik 1.7%. Direct Cost MBSS 2016 VS 2017 (Source : company presentation) Sekilas, kita melihat bahwa MBSS ini belum layak untuk diinvest karena di satu sisi perusahaan masih rugi, dan di sisi lain perusahaan juga masih terbebani cost yang tinggi. Namun, mengapa investor sekelas Pak LKH berani berinvestasi di MBSS sebanyak 48 juta lembar saham (2.74% dari total saham beredar)? Pemegang Saham MBSS (Source : MBSS Annual Report 2016) Saya coba melihat dari sisi lain bahwa, meskipun perusahaan sejak 2015 sampai dengan Semester I 2017 ini masih rugi, namun perusahaan tergolongperusahaan yang tidak terlalu bergantung kepada hutang. Sebagai perbandingan, hutang MBSS saat 2011 adalah Rp 1.1 triliun dan hutang MBSS saat ini (Semester I 2017) adalah Rp 749 miliar. Di sisi lain, ekuitas MBSS saat 2011 adalah Rp 1.6 triliun dan ekuitas MBSS saat ini (Semester I 2017) adalah Rp 2.4 triliun. Dengan kata lain,jumlah hutang MBSS saat ini hanya 30% dari total ekuitas nya.Dan seperti yang dikatakan oleh Peter Lynch “Companies that have no debt can’t go bankrupt”. Dilihat dari valuasinya pun MBSS masih sangat murah. Meskipun kita tidak mungkin melihat dari sisi PER karena perusahaan masih rugi, namun dariPBV saat ini masih tercatat hanya 0.3X. Jika kita relate dengan INDY, di manasaat perusahaan masih dalam kondisi rugi hingga harga sahamnya terpuruk di 100 an, tapi lihat harga saham INDY sekarang bertengger di 1200 an.Who knows, hal yang sama juga akan terjadi di MBSS, mengingat MBSS pernah dihargai di harga 1400 an (bahkan pernah di 1600 saat 2012), sebelum kemudian turun ke 300 – 400 an saat ini. Itu artinya, harga sahamnya sudah turun lebih dari 75%. Jadi, meskipun perusahaan saat ini belum bisa kembali mencetak profit seperti usaha induknya (INDY), namun di sisi lain ekuitas perusahaan bisa terus bertumbuh dan liabilitas terus menurun, yang disertai dengan arus kas yang stabil. Well, itu bukankah itu artinyaperusahaan sedang melalui masa yang sulit saja? Jadi bukan karena perusahaan nya yang jelek.Jika nanti (saya juga tidak tahu kapan persisnya) perusahaan kembali mencetak untung bersih, maka bukan tidak mungkin harga sahamnya akan kembali ke harga 1000 an. Seperti kata-kata yang sering disampaikan Pak LKH:buy in bad times, sell in good times, and you will be rich. However, analisa ini sifatnya adalah informasi, bukan rekomendasi ajakan untuk menjual atau membeli saham ini.Do your own research, dan Disclaimer is ON. By : Rivan Kurniawan Notes : Tulisan ini pernah dimuat juga dalam http://rivankurniawan.com Info: Monthly Investing Plan September 2017sudah terbit, Anda bisa berlangganan disini. Jadwal Workshop Value InvestingdiKota Jakarta 9 16 September 2017.Pendaftaran via online di :http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi viaSMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan)atauemail : info@ticmi.co.id.
Multi Quote Quote