Selamat pagi…

Sentimen negatif dari data ekonomi, telah mengirimkan indeks Dow Jones Industrial (DJI) untuk bergerak turun sebesar 106,47 poin (-0,58 persen) pada pergerakan tadi malam. Indeks Dow Jones Industrial memang masih ditutup diatas level psikologis 18.000, tepatnya pada level 18.096,90. Meskipun demikian, koreksi tersebut merupakan konfirmasi bahwa trend naik jangka pendek indeks ini memang sudah berakhir. Sentimen negatif dari koreksi DJI tersebut, direspon secara bervariasi pagi ini di Bursa kawasan Asia. Indeks Hang Seng running dengan koreksi sebesar 0,49 persen, sedangkan indeks Strait Times naik tipis 0,16 persen.

Setelah kemarin ditutup dengan signal negatif, dibawah support pertama di 5.740, IHSG pada hari ini diperkirakan masih akan bergerak bervariasi pada kisaran 5400 - 5.485. Hanya penutupan diatas resisten 5.485 yang akan mengakhiri trend turun yang baru saja muncul pada pergerakan IHSG kemarin. Sentimen negatif masih berasal dari posisi nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang pada pagi hari ini masih bercokol diatas level 13.000.

Jika dilihat dari pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir. Pemodal lokal dan pemodal asing memang terlihat memiliki visi yang berbeda. Pemodal lokal yang cenderung memiliki investment time horizon yang pendek, terlihat khawatir pada posisi nilai tukar Rupiah yang menembus level psikologis 13.000. Disisi lain, pemodal asing yang cenderung memiliki investment time horizon yang panjang, terlihat masih terus melakukan posisi beli, karena mereka melihat bahwa kedepan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik daripada apa yang berlangsung saat ini. Itu sebabnya mereka terus melakukan akumulasi dengan agresif, dengan aliran dana asing yang stabil diatas Rp 250 miliar per hari.

Melihat posisi teknikal IHSG, IHSG kalaupun terkoreksi, juga tidak bisa terlalu besar. IHSG tetap dalam trend naik jangka panjang dengan potensi kenaikan hingga kisaran 6100 - 6350 hingga satu-dua tahun kedepan. Untuk jangka pendek, konsolidasi hingga kisaran 5.300 - 5.425 adalah wajar, sehingga pemodal tetap bisa melakukan akumulasi dengan strategi Buy On Weakness.


Multi Quote Quote