PT. TRISULA INTERNATIONAL, TBK

PT Trisula International Tbk berencana melakukan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO) dengan melepas 300 juta saham ke publik. Direktur Utama Sinarmas Sekuritas Kokaryadi Chandra menuturkan, pihaknya sudah menetapkan kisaran harga saham IPO. "Kisaran harga IPO Trisula Rp 250-Rp 300 dengan PE 8 kali hingga 10 kali," ujar Kokaryadi. Artinya, dalam hajatan ini, Trisula akan mendapatkan dana segar maksimal sebesar Rp 90 miliar. Direktur Utama Trisula Internasional, Lisa Tjahjadi menjelaskan, penawaran awal saham ini dilakukan pada 5-7 Juni dengan perkiraan tanggal efektif 15 Juni. Adapun masa panawaran terlaksana pada 19-21 Juni dengan tanggal penjatahan 25 Juni. Periode distribusi dan perdagangan waran pada 27 dan 28 Juni. Nantinya, sekitar 37% dana hasil IPO akan digunakan untuk membiayai penambahan toko dan gerai untuk grand JOBB, Jack Nicklaus, UniAsia dan man Club di Jakarta, Tengerang, dan kota-kota di pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Sementara 35% lainnya untuk biaya akusisi Trisco yang merupakan perusahaan terafiliasi, di mana Trisula akan mengakuisisi 50% saham Trisco yang dimiliki TNT. Kemudian, 17% lainnya akan digunakan sebagai biaya pembetukan usaha baru, yang bekerja sama dengan investor asing asal Asia. Sisanya 11% sebagai modal kerja seperti biaya promosi dan iklan. Untuk melancarkan hajatan tersebut, Trisula sudah menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Multi Quote Quote
PT Trisula International menawarkan saham perdana sekitar 300 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Keterangan tertulis yang disampaikan Perseroan pada Senin (4/6) menyebutkan, dalam penawaran umum saham perdana ini juga bersamaan akan diterbitkan 75 juta saham waran seri I. Setiap empat saham perdana berhak atas satu lembar waran secara cuma-cuma. Waran tersebut memiliki jangka waktu lima tahun. Dana IPO akan digunakan untuk ekspansi, serta mengakuisisi PT Trisco Tailored Apparel Manufacturing (TCS). Sekitar 37% digunakan sebagai biaya penambahan toko dan gerai untuk grand JOBB, Jack Nicklaus, UniAsia dan man Club di Jakarta, Tengerang, dan kota-kota di pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Sementara 35% lainnya untuk biaya akusisi Trisco yang merupakan perusahaan terafiliasi. Di mana Trisula akan mengakuisisi 50% saham Trisco yang dimiliki TNT. Kemudian, 17% sebagai biaya pembentukan usaha baru yang bekerja sama dengan investor asing asal Asia. Sisanya 11% sebagai modal kerja seperti biaya promosi dan iklan.
Multi Quote Quote
PT Trisula Internasional Tbk menargetkan penjualan tahun ini bisa mencapai Rp 660 miliar. Sementara, untuk laba bersih, perusahaan retail apparel tersebut optimistis bisa mendapatkan Rp 41 miliar. "Kami menargetkan kenaikan laba bersih hingga 100%," kata Direktur Utama Trisula, Lisa Tjahjadi, saat paparan publik di Jakarta, Selasa (5/6). Sebagai catatan, penjualan bersih Trisula pada 2011 lalu sebesar Rp 288 miliar. Nah, terkait target tersebut, Trisula berniat melakukan akuisisi terhadap Trisco Tailored Apparel Manufacturing (TSC) dengan kepemilikan 50% saham. Nantinya, anak usaha tersebut ditargetkan akan memberikan kontribusi sekitar 30% dari pendapatan Trisula. "Nilai akuisisinya sekitar Rp 28 miliar dan kami sudah melakukan evaluasi," tambah Lisa. Selain itu, perusahaan juga berniat menambah porfolio merek pakaian yang dimilikinya. Saat ini, sudah ada dua brand internasional yang sedang dijajaki. Salah satu brand akan melakukan kerjasama dengan Trisula pada 2012 dan satu brand lagi akan menjalin kerjasama pada tahun depan. "Mayoritas brand yang kami tawarkan adalah pakaian pria. Tetapi, kali ini, ada juga brand untuk pakaian wanita," jelasnya. Sayang, Lisa masih enggan mengungkapkan merek yang tengah diincarnya. Yang pasti, salah satu merek merupakan brand asal Asia. Selain itu, tahun ini Trisula juga mematok target penambahan sekitar 25 hingga 30 titik penjualan brand yang dimiliki di pusat perbelanjaan terkenal. Pada 2015 mendatang, perusahaan ini menargetkan 350 titik penjualan di Indonesia. Per akhir 2011 lalu, sudah terdapat 165 titik penjualan yang tersebar di pusat perbelanjaan besar seperti Seibu, Sogo, Debenhams, Metro, Centro, Matahari, Sarinah dan lain-lain. Selain itu ada juga penjualan stand alone shop seperti di Kelapa Gading Mall, Pondok Indah Mall, Plaza Indonesia dan lain-lain.
Multi Quote Quote
PT Trisula International Tbk, distributor apperal seperti JOBB, Jack Nicklaus, dan lainnya membanderol harga saham perdana alias initial public offering (IPO) sekitar Rp 250-Rp 300 per lembar. Total dana yang didapat maksimal Rp 90 miliar. Demikian disampaikan Direktur Utama Trisula, Lisa Tjahjadi di Jakarta, Selasa (5/6/2012).
Multi Quote Quote
smile smile smile ayo buruan daftar, paling lambat 7 jun 2012. sinarmas sekuritas udah terkenal sebagai sinterklas pada hari pertama ipo. smile smile smile
Multi Quote Quote
Banyak perusahan berlomba-lomba mentransformasi jati dirinya dari Perusahaan kelas teri menjadi Kapal Keruk :rofl: :rofl: :rofl:
Multi Quote Quote
Banyak perusahan berlomba-lomba mentransformasi jati dirinya dari Perusahaan kelas teri menjadi Kapal Keruk :rofl: :rofl: :rofl: smile smile smile makanya manfaatkan euphoria hari perdana. daftar bookbuilding sekarang buat dibuang saat itu. bukan untuk tujuan invest. smile smile smile
Multi Quote Quote
PT Trisula Internasional Tbk berharap hingga akhir tahun ini bisa mencapai price to earning ratio (P/E) atau rasio harga saham terhadap laba bersih per lembar saham di kisaran 8-10 kali.\r\n\r\n"Dengan pertumbuhan kinerja perusahaan yang relatif stabil, perseroan meyakini target P/E rasio ini kendati murah tetapi sangat menarik. Kami percaya dengan proyeksi pertumbuhan jangka panjang yang terus membaik, investor akan menikmati hasil yang menarik dengan prediksi valuasi saham yang naik terus,” ungkap Direktur Utama PT Trisula International, Lisa Tjahjadi.\r\n\r\nSementara Direktur Utama Sinar Mas Sekuritas, Kokoaryadi Chandra menambahkan, Perseroan memang tidak mematok level P/E ratio yang tinggi di awal penjualan saham perdana. Apalagi dengan kapitalisasi pasar pasca IPO sebesar Rp300 miliar, Trisula Internasional masuk dalam kategori emiten small and medium corporation.\r\n\r\n“Namun kita mengetahui bahwa Perseroan mempunyai kinerja yang baik, dan ke depan mempunyai prospek yang bagus. Apalagi dengan beberapa merk terkenal seperti Jobb dan Jack Nicklaus yang dijual Perseroan, pasti akan memberikan nilai lebih bagi investor,” katanya di kesempatan yang sama.\r\n\r\nBahkan, sebagai penjamin emisi, pihaknya pun sudah memperhitungkan kondisi pasar yang ada dalam menggelar IPO tersebut, antara lain ancaman dari masalah regional, Eropa, recovery Amerika, dan slowdown-nya ekonomi China. “Itu kita jadikan peluang, dan kesempatan kita untuk menarik perhatian investor. Kendati P/E rasio murah, tetapi perusahaan ini punya prospektus yang bagus, sehingga kami yakin dapat menarik perhatian investor,” jelas Kokoaryadi.\r\n\r\nUntuk diketahui, penjualan bersih perseroan dalam tiga tahun terakhir terus meningkat. Jika 2009 Trisula mencatat sebesar Rp178 miliar, di akhir 2010 dan 2011 mengalami peningkatan masing-masing menjadi Rp231 miliar dan Rp288 miliar. Artinya laba perseroan mengalami peningkatan hingga 60%. “Tahun depan kita targetkan laba Rp41 miliar, dan pendapatan sebesar Rp 660 miliar,” kata Lisa lebih lanjut.\r\n\r\nLisa menegaskan, target pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan aksi perseroan yang telah menuntaskan akuisisi hingga 50% satu perusahaan baru, yakni PT Trisco Tailored Apparel Manufacturing (TSC). Sehingga dalam enam bulan beroperasi di tahun ini, TSC diharapkan mendukung performance perseroan di 2013. “Kontribusi revenue TSC sekitar 30%. Industri ritel kita sendiri kontribusinya 25%,” ungkap Lisa.\r\n\r\nAdapun untuk akusisi tersebut, menurut Lisa, perseroan mengeluarkan biaya hingga Rp28 miliar. “Sumber dananya sekitar 35% dari hasil IPO” kata Lisa.\r\n\r\nSementara sisanya akan dialoaksikan untuk membiayai ekspansi bisnis perseroan. “Ekpansi untuk bangun gerai dan toko baru,” imbuhnya.\r\n\r\nAdapun tahun ini, lanjut Lisa, perseroan berencana membuka 20-30 gerai baru. Akhir 2011 lalu perseroan telah hadir di 165 lokasi di seluruh Indonesia. Dan dalam 5 tahun diharapkan perseroan telah hadir di 350 lokasi. “Sehingga 2016 nanti penjualan kita bisa capai Rp1 triliun,” harap Lisa.\r\n\r\nMenurut Lisa, tahun ini perseroan mengalokasakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp20 miliar yang akan digunakan untuk ekspansi gerai dan toko. Dia mengaku untuk membangun satu buah toko membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding pembangunan gerai. “Investasi toko bisa mencapai Rp1 miliar, sementara untuk bangun gerai itu hanya membutuhkan Rp50 juta hingga Rp75 juta,” katanya seraya menambahkan bahwa saat ini market share perseoan sebesar 10% secara nasional.\r\n\r\nDirektur Utama Trisula Lisa Tjahjadi mengatakan,sebelum IPO, sebanyak 40% saham PT Trisula Internasional dimiliki PT Karya Dwimanunggal Sejahtera (KDS) dan sisanya 60% dimiliki oleh PT Trisula Insan Tiara (TNT). “Namun setelah IPO, sebesar 30% sahamnya akan dimiliki oleh publik,KDS 28%,danTNT 42%,”ucapnya.
Multi Quote Quote
smile smile smile saham yang dilepas cuma 300jt lembar, dan dapat waran dengan ratio 4 : 1. smile smile smile
Multi Quote Quote
PT Trisula International telah memiliki anchor buyer alias calon investor yang siap menampung saham initial public offering (IPO). Melalui IPO, perusahaan ritel pakaian itu, akan menerbitkan 300 juta saham dengan harga penawaran berkisar Rp 250-Rp 300 per saham. Presiden Direktur Trisula International, Lisa Tjahjadi, mengatakan, sudah ada beberapa investor yang siap menyerap dana IPO. Calon investor itu berkomitmen mengeksekusi 50% dari total saham yang ditawarkan. "Mereka (calon investor) pemain lokal, karena size kami juga tidak terlalu besar," ujar dia, Selasa (6/5). Tapi Lisa enggan mengungkapkan identitas calon investor itu. Direktur Utama Sinarmas Sekuritas, Kokarjadi Chandra, menambahkan, kemungkinan calon investor yang berminat mencaplok saham IPO Trisula adalah rekan kerja perseroan ini. "Seperti perusahaan distribusi yang memasarkan produk-produknya ke luar negeri," tutur dia. Kehadiran anchor buyer itu membuat Trisula tidak berlama-lama melaksanakan penawaran awal (book building). Proses book building biasanya berlangsung selama seminggu, tapi Trisula hanya menetapkan waktu tiga hari dimulai sejak Selasa (5/6) hingga Kamis (7/6).
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...