KISAH DAN CERITA YANG MEMOTIVASI - EDISI 2

"Hargailah wanitamu selagi kamu masih ada waktu, karena akan sangat menyakitkan bila melihat pria lain yang akan lebih menghargai dia" bro herman apa poligami termasuk cara menghargai wanita ? karena kalau wanita nya lagi gak mau ladeni suami, bisa cari yg lain istri lain poligami way :party: :hug: Termasuk Bro, tapi yg di ‘'Poly’'-in harus yg berusia > 60 th, karena sebagaimana seorang kolektor barang seni menghargai barang-barang kuno … Lihatlah orang perancis kalo minum anggur, semakin tua umur anggurnya akan semakin mahal harganya ……. !!! :hug::hug::hug: nach tuch…si "kolektor" dach ngasih "resep" nya…… smile :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl:
Multi Quote Quote
"Hargailah wanitamu selagi kamu masih ada waktu, karena akan sangat menyakitkan bila melihat pria lain yang akan lebih menghargai dia" bro herman apa poligami termasuk cara menghargai wanita ? karena kalau wanita nya lagi gak mau ladeni suami, bisa cari yg lain istri lain poligami way :party: :hug: Termasuk Bro, tapi yg di ‘'Poly’'-in harus yg berusia > 60 th, karena sebagaimana seorang kolektor barang seni menghargai barang-barang kuno … Lihatlah orang perancis kalo minum anggur, semakin tua umur anggurnya akan semakin mahal harganya ……. !!! :hug::hug::hug: nach tuch…si "kolektor" dach ngasih "resep" nya…… smile :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: :rofl: katanya org alab malah doyan kawin sama balita bahkan bisa kawin kontrak sama bayi cewek yg masih umur 1-2 thn…. :-O
Multi Quote Quote
Kisah di Balik Layar "Soegija"\r\n\r\nTahun 1942, serdadu Jepang hendak merampas Gereja Katedral Randusari, Semarang; untuk dijadikan markas. Mgr Albertus Soegijapranata SJ menolak dengan tegas. "Ini tempat yang disucikan, langkahi dulu mayat saya," tantangnya.\r\n\r\nNamun, tentara Jepang itu tetap memaksa para pastor dan suster keluar dari gereja, dan membawa mereka pergi dengan truk besar. "Apa yang bisa kita perbuat, Romo Kanjeng?" tanya koster Tugimin kepada Mgr Soegija. Spontan Soegija meneteskan air mata sembari berkata, "Ada saat di mana kita tidak bisa berbuat apa-apa."\r\n\r\nItulah salah-satu adegan film Soegija, yang disutradarai Garin Nugroho. Dengan metode kerja Garin yang penuh improvisasi, skenario tidak mutlak menjadi acuan. Pola kerja seperti ini, di satu pihak, bisa menyiksa para pemain untuk benar-benar menghayati peran mereka. Menurut pemeran Soegija, Nirwan Dewanto, "Saya sampai ikut meneteskan air mata karena merasa larut dalam adegan itu."\r\n\r\nPara kru film juga ikut terhanyut. "Improvisasi Garin memang canggih dalam mempengaruhi emosi pemain," puji Nirwan.\r\n\r\nNirwan memerankan tokoh Mgr Soegijapranata, dalam periode tahun 1940-1949. Soegija adalah uskup pribumi pertama, diangkat oleh Paus Pius XII pada 1940. Menurut Nirwan, posisi sebagai uskup pribumi pertama ini penting sekali, karena sebelumnya di Hindia Belanda, hanya ada empat uskup berkebangsaan Eropa. Mereka adalah Mgr Peter Johannes Willekens SJ sebagai Vikaris Apostolik Batavia; Mgr Mattia Leonardo Trudone Brans OFMCap, Vikaris Apostolik Padang; Mgr Tarcisius Henricus Josephus van Valenberg OFMCap, Vikaris Apostolik Pontianak; dan Mgr Heinrich Leven SVD, Vikaris Apostolik Isole della Piccola Sonda (Ende).\r\n\r\nPada waktu itu juga sedang terjadi Perang Dunia II. Posisi Belanda sebagai penguasa Hindia Belanda terancam, karena pada waktu itu mereka sudah dikuasai Jerman. "Saya kira ada unsur politik yang membuat Paus mengangkat seorang uskup pribumi pertama," kata Nirwan.\r\n\r\nSelanjutnya, Nirwan menjelaskan, Soegija berusaha mengambil sikap tegas terhadap peristiwa sosial politik pada saat itu. Misalnya, ketika Jepang hendak mengambil harta Gereja, sikap Soegija tegas, yaitu melawan. Dengan segala daya upaya, ia mempertahankan otoritas dan hak milik Gereja.\r\n\r\nSecara cerdik Soegija mengatakan kepada penguasa Jepang: "Gereja Katolik bukan bagian dari Pemerintah Hindia Belanda, melainkan berada di bawah Pemerintah Vatikan, yang juga punya hubungan diplomatik dengan Pemerintah Jepang."\r\n\r\nSoegija, kata Nirwan, tetap tegas setelah Proklamasi Kemerdekaan, yang kemudian dilanjutkan dengan revolusi fisik. "Sikapnya tetap pro Republik." Misalnya, ia memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta, untuk mendukung pemerintahan Republik, yang waktu itu berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Sikap itu kelihatan dalam tulisan dan ucapannya. "Seratus persen Katolik itu ya seratus persen Republik," demikian Nirwan menyitir jargon Soegija kala itu.\r\n\r\nKetika Nirwan disodori peran ini, ia sebenarnya ragu. Namun, setelah dibujuk sang sutradara, akhirnya ia bersedia. "Garin meyakinkan saya bahwa saya mampu, dan mengatakan, tidak ada calon lain yang lebih cocok," seloroh Nirwan. Lalu, Nirwan mulai membaca biografi Mgr Soegijapranata. "Saya juga berdiskusi dengan Romo Murti Hadi Wijayanto SJ, sahabat saya," katanya. Bahkan, Romo Murti mendampingi Nirwan tinggal di Girisonta, Semarang, tempat para novis Yesuit. Setelah memerankan sosok Soegija, Nirwan mengapresiasi bahwa Katolik itu inklusif, dan bisa menjawab masalah kebangsaan.\r\n\r\nShooting film Soegija dilaksanakan pada 7 November sampai 9 Desember 2011, dengan lokasi antara lain di Kota Lama Semarang, Museum Kereta Api Ambarawa, dan Gereja Bintaran Yogyakarta. Sebagai sebuah film kolosal, Soegija melibatkan pemain cukup besar, yaitu 2.775 orang. Saat ini Dewan Pertimbangan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sudah menyetujui usulan Rekor MURI atas film Soegija dengan nama "Film dengan Jumlah Pemain Terbanyak, 2.775 Orang". Selain itu, film Soegija juga didaftarkan ke dalam catatan MURI sebagai film dengan jumlah bahasa terbanyak, yaitu Indonesia, Jawa, Inggris, Belanda, Jepang, dan Latin.\r\n\r\nSang sutradara Garin Nugroho mengungkapkan, ia bertemu dengan Paus Benekdiktus VI di Vatikan, bersama para seniman dari seluruh dunia pada 2010. Setelah pulang ke Indonesia, ia membuat pameran instalasi bertajuk Maria. "Rasanya seperti ada dorongan alamiah dari dalam jiwa saya," tutur Garin.\r\n\r\nMengapa Garin mengangkat sosok Soegija, bahkan ini merupakan film termahal Garin? Garin mengungkapkan, Soegija adalah sosok pemimpin pribumi pertama yang menjadi uskup di tengah perubahan-perubahan dunia. Selanjutnya, Mgr Soegija adalah seorang penulis, pemikir, pengelola majalah Katolik pada saat itu. Bagi Garin, Soegija adalah seorang yang memiliki nilai politik dalam dirinya, yaitu politik kenegarawanan. Dan, tentu saja kemampuan Soegija meletakkan kepemimpinan di tengah beragam krisis.\r\n\r\nPria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini mengaku tersentuh dengan perkataan-perkataan Soegija. Misalnya, "Apa artinya merdeka jika kita tidak bisa mendidik diri sendiri?"; "Cinta kasih saja tidak cukup tapi memerlukan ketegaran yang lembut".\r\n\r\n"Kata-kata ini memiliki makna bagi zaman ini," tegas Garin saat ditemui HIDUP di Epicentrum Walk, Jakarta Pusat, Kamis, 26/4. Ia juga tidak memiliki jarak dalam proses pembuatan film ini. "Saya merasa bahagia bisa menjadi sutradara film Soegija," kata Garin sembari tersenyum.\r\n\r\nArtis Olga Lydia sebagai pemeran Ibu Ling Ling mengisahkan, film Soegija sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam film ini, ia diculik Jepang. Kala itu memang banyak perempuan diculik, lalu dijadikan jogun ianfu. "Kebetulan pada saat take hujan ya…, jadi rasanya sangat mencekam," tuturnya. "Sebenarnya, awalnya di-set tanpa ada hujan, tapi ketika mau take pas hujan, dan Mas Garin bilang jalan terus, jadi tidak bisa nolak," lanjut Olga.\r\n\r\nOlga mengatakan, tidak bisa mengerti jika saat ini ada orang, apa pun alasannya, menyetujui perang. Olga berargumen, korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Dalam setiap perang, pasti merekalah yang selalu menjadi korban. Apabila ada perang, pemerkosaan itu menjadi hal yang cukup umum terjadi. Meski ini hanya dalam film, Olga merasa ada efek yang begitu traumatik bagi dirinya.\r\n\r\n\r\nJudul film : Soegija\r\nSutradara : Garin Nugroho\r\nProduser Eksekutif : Y.I. Iswarahadi SJ\r\nProduser : Djaduk Ferianto, F.X. Murti Hadi Wijayanto SJ, Tri Geovanni\r\nProduksi : Studio Audio Visual Puskat\r\nPemain : Nirwan Dewanto, Annisa Hertami Kusumastuti, Butet Kertaradjasa, Olga Lydia, Wouter Braff, Wouter Zweers\r\n\r\nSinopsis:\r\nFilm ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949). Tokoh utama dalam film ini adalah Mgr Alb. Soegijapranata SJ (diperankan Nirwan Dewanto). Baginya, kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya. Dan, perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia.\r\n\r\nKetika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Buddhist, tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu pada ibunya.\r\n\r\nDi tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.
Multi Quote Quote
sebuah film yang amat sangat bagus bin menarik sebenarnya terutama bila digarap oleh si GARING…eh, GARIN NUGROHO….. smile smile smile
Multi Quote Quote
sebuah film yang amat sangat bagus bin menarik sebenarnya terutama bila digarap oleh si GARING…eh, GARIN NUGROHO….. smile smile smile smile smile smile umat katolik disuruh nonton semua. bagus deh dibandingkan film horor esek2nya jupe & depe. smile smile smile
Multi Quote Quote
sebuah film yang amat sangat bagus bin menarik sebenarnya terutama bila digarap oleh si GARING…eh, GARIN NUGROHO….. smile smile smile smile smile smile umat katolik disuruh nonton semua. bagus deh dibandingkan film horor esek2nya jupe & depe. smile smile smile habib resik kalo dikasih tiket nonton mau gak yah kira2 ? smile
Multi Quote Quote
sebuah film yang amat sangat bagus bin menarik sebenarnya terutama bila digarap oleh si GARING…eh, GARIN NUGROHO….. smile smile smile smile smile smile umat katolik disuruh nonton semua. bagus deh dibandingkan film horor esek2nya jupe & depe. smile smile smile habib resik kalo dikasih tiket nonton mau gak yah kira2 ? smile pada kebakaran jenggot….. smile smile smile :rofl: :rofl: :rofl:
Multi Quote Quote
SEDIKIT YANG BISA DISADUR DARI BUKU : SEPATU DAHLAN…...(inspired by real story of Dahlan Iskan)\r\n—————————-\r\n• Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS\r\n\r\n• Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR\r\n\r\n• Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR\r\n\r\n• Seorang yang dekat dengan TUHAN, bukan berarti tidak ada air mata\r\n\r\n• Seorang yang TAAT pada TUHAN, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN\r\n\r\n• Seorang yang TEKUN berdoa, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT\r\n\r\n• Biarlah TUHAN yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena TUHAN mengetahui yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK\r\n\r\n• Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN\r\n\r\n• Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN\r\n\r\n• Ketika hatimu terluka sangat dalam……, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN\r\n\r\n• Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN\r\n\r\n• Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN\r\n\r\n• Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN\r\n\r\n•Tetap semangat….\r\n\r\n•Tetap sabar….\r\n\r\n• Tetap tersenyum….\r\n.\r\nKarena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN \r\n\r\n• TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”……\r\n \r\n• Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.\r\n\r\n• MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA….
Multi Quote Quote
SEDIKIT YANG BISA DISADUR DARI BUKU : SEPATU DAHLAN…...(inspired by real story of Dahlan Iskan)\r\n—————————-\r\n• Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS\r\n\r\n• Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR\r\n\r\n• Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR\r\n\r\n• Seorang yang dekat dengan TUHAN, bukan berarti tidak ada air mata\r\n\r\n• Seorang yang TAAT pada TUHAN, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN\r\n\r\n• Seorang yang TEKUN berdoa, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT\r\n\r\n• Biarlah TUHAN yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena TUHAN mengetahui yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK\r\n\r\n• Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN\r\n\r\n• Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN\r\n\r\n• Ketika hatimu terluka sangat dalam……, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN\r\n\r\n• Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN\r\n\r\n• Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN\r\n\r\n• Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN\r\n\r\n•Tetap semangat….\r\n\r\n•Tetap sabar….\r\n\r\n• Tetap tersenyum….\r\n.\r\nKarena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN \r\n\r\n• TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”……\r\n \r\n• Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.\r\n\r\n• MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA….\r\n\r\n :applause: :applause: :applause:
Multi Quote Quote
Nirwan memerankan tokoh Mgr Soegijapranata, dalam periode tahun 1940-1949. Soegija adalah uskup pribumi pertama, diangkat oleh Paus Pius XII pada 1940. Menurut Nirwan, posisi sebagai uskup pribumi pertama ini penting sekali, karena sebelumnya di Hindia Belanda, hanya ada empat uskup berkebangsaan Eropa. Mereka adalah Mgr Peter Johannes Willekens SJ sebagai Vikaris Apostolik Batavia; Mgr Mattia Leonardo Trudone Brans OFMCap, Vikaris Apostolik Padang; Mgr Tarcisius Henricus Josephus van Valenberg OFMCap, Vikaris Apostolik Pontianak; dan Mgr Heinrich Leven SVD, Vikaris Apostolik Isole della Piccola Sonda (Ende). . Sebenarnya siapa sih "pribumi" itu sebenarnya? soalnya saya banyak bincang2 dengan teman2 dari luar pulau jawa dan kebanyakan dari mereka merasa tidak termasuk kepada "pribumi" ini. Mereka melihat dan merasa bahwa selama ini istilah "pribumi" hanya muncul bila dikaitkan dengan "orang jawa/pulau jawa" sedangkan mereka sendiri sering merasa terasingkan/tersisihkan.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...