IPO PT. SOLUSI TUNAS PRATAMA, TBK

Kegiatan Usaha : Penunjang telekomunikasi, yang meliputi penyediaan, pengelolaan dan penyewaan menara Base Transceiver Station (BTS)\r\n\r\nJumlah Emisi Saham : Sebanyak-banyaknya 100.000.000 (seratus juta) lembar Saham Biasa Atas Nama\r\n\r\nHarga Penawaran : Rp 3200,- – Rp 3800,- per lembar saham\r\n\r\nPenjamin Pelaksana : PT Ciptadana Securities
Multi Quote Quote
Sekilas Outlook Sektor Menara Telekomunikasi\r\n\r\nDalam waktu dekat ini, BEI akan kembali kedatangan beberapa emiten baru. Salah satunya adalah PT Solusi Tunas Pratama (STP), sebuah perusahaan penyewaan menara telekomunikasi, atau biasa disebut menara BTS (base transceiver station). Menariknya, STP adalah perusahaan penyewaan BTS ketiga yang listing di BEI. Dua perusahaan yang bergerak di bidang yang sama yang sudah terlebih dahulu listing adalah PT Sarana Menara Nusantara (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Seperti apa sih, bisnis penyewaan menara BTS ini?\r\n\r\nBisnis telekomunikasi seluler alias telekomunikasi yang menggunakan ponsel, sudah berkembang di Indonesia sejak tahun 90-an. Ketika itu, Telkomsel merupakan pemain tunggal di bisnis ini, sehingga perusahaan tersebut menikmati margin keuntungan yang besar dari harga pulsa yang luar biasa mahal. Seiring dengan berjalannya waktu, para pesaing pun mulai bermunculan, mulai dari Indosat, XL Axiata, Bakrie Telecom, Hutchison, hingga Axis dan Smartfren. Alhasil para operator telekomunikasi tak terkecuali Telkomsel harus menurunkan tarif pulsa agar mampu bersaing. Namun penurunan tarif berarti penurunan pendapatan, sehingga para operator telekomunikasi ini harus memutar otak untuk mengurangi pengeluaran, agar laba bersih yang diperoleh tetap tinggi meskipun pendapatan mereka tertekan.\r\n\r\nSalah satu pengeluaran terbesar para operator telekomunikasi adalah biaya untuk mendirikan menara BTS, yaitu sekitar Rp1 – 1.5 milyar per menara. BTS adalah fasilitas yang menghubungkan ponsel dengan jaringan, atau simpelnya fasilitas yang memancarkan sinyal ponsel di satu lokasi tertentu. Katakanlah kalau biaya mendirikan sebuah menara BTS adalah 1 milyar pas, maka jika satu operator membutuhkan 1,000 BTS, dia harus mengeluarkan dana hingga 1 trilyun. Karena itulah kemudian muncul ide: Gimana kalau satu BTS dipake bareng-bareng? Daripada Telkomsel, Indosat, XL Axiata dll ngabisin duit trilyunan untuk mendirikan BTS sendiri-sendiri, kenapa gak pake BTS yang sama aja? Toh itu tidak akan mengurangi kualitas jaringan. Lagipula bakalan ribet jadinya kalau dalam satu lokasi berdiri banyak menara BTS sekaligus. Akan lebih gampang kalau dalam satu lokasi hanya ada satu menara, dan itu dipakai bersama-sama oleh banyak operator.\r\n\r\nMasalahnya, Telkomsel mungkin nggak akan mau kalau menaranya dipake sama Indosat. Sementara Indosat sendiri juga gak akan mau kalau menaranya dipake XL Axiata. Maka kemudian muncullah perusahaan penyewaan menara BTS. Perusahaan ini bukanlah operator telekomunikasi, tapi mereka mendirikan menara-menara BTS yang kemudian disewakan ke operator. Bisnis ‘rental menara’ pun kemudian berkembang. Belakangan, para perusahaan rental menara ini juga mulai mengambil alih menara-menara milik operator telekomunikasi. Terakhir, Indosat dikabarkan akan menjual 4,000 menaranya kepada perusahaan rental menara.\r\n\r\nSaat ini di Indonesia sudah terdapat puluhan perusahaan rental menara, namun yang paling besar hanya dua, yaitu TOWR dan TBIG. Dua perusahaan ini dimiliki oleh Grup Djarum dan Grup Recapital. Sementara STP tergolong berukuran menengah kalau dilihat dari aset dan jumlah menaranya.\r\n\r\nOke, lalu bagaimana prospek dari sektor anyar ini?\r\n\r\nBisnis telekomunikasi adalah bisnis jangka panjang, karena sampai kapanpun orang-orang akan selalu membutuhkan jaringan telekomunikasi untuk menelpon, mengirim SMS, dan mengakses internet. Biasanya para operator telekomunikasi akan menyewa menara untuk jangka panjang. Disisi lain seperti yang sudah disebutkan diatas, biaya untuk mendirikan menara BTS cukup mahal, sehingga kebanyakan perusahaan di bidang ini tidak punya uang kas yang cukup untuk mendirikan atau mengakuisisi banyak menara sekaligus. Karena itulah perusahaan-perusahaan tersebut kemudian mengajukan pinjaman jangka panjang kepada para bank. TOWR dan TBIG kemudian menjadi perusahaan terbesar di sektor ini, karena Grup Djarum dan Recapital memiliki akses yang lebih bagus ke para kreditor dibanding grup-grup usaha lainnya. TBIG bahkan sudah memperoleh jaminan pendanaan hingga US$ 2 milyar dari para kreditornya.\r\n\r\nSementara STP juga memiliki utang bank yang cukup besar. Pada kuartal pertama 2011, STP mencatat total utang 1.6 trilyun, sementara modalnya hanya 486 milyar. Sebagian besar dari utang tersebut yaitu 1.4 trilyun, merupakan utang jangka panjang.\r\n\r\nLalu bagaimana dengan kinerja mereka? Pada semester pertama 2011, TOWR dan TBIG masing-masing mencatat laba bersih komprehensif 245 dan 253 milyar. Angka tersebut mencetak ROA masing-masing 9.4% dan 6.3%, cukup lumayan meski tidak terlalu bagus (dalam hal ini ROA lebih mencerminkan kinerja perusahaan dibanding ROE, karena kedua perusahaan memiliki utang yang lebih besar dari modalnya). Sementara pada kuartal pertama 2011, STP mencatat ROA 5.4%, paling jelek diantara ketiganya. Tapi mungkin pada semester pertama kemarin, kinerja STP mengalami perbaikan.\r\n\r\nMeski dari sisi profitabilitas tidak terlalu menarik, namun bisnis rental menara menjanjikan pertumbuhan bisnis yang cepat di masa-masa yang akan datang, mungkin bisa sampai 50% per tahun, karena diperkirakan nantinya para operator telekomunikasi akan sepenuhnya menggunakan menara BTS dari para perusahaan rental menara ini, karena lebih efisien. Ketika itulah, para perusahaan rental menara ini akan mulai mencatat pendapatan yang besar. Makanya para bank juga berani ngasih pinjaman yang gede ke mereka. Sayangnya karena para perusahaan rental menara ini memiliki banyak utang bank, maka bisnis mereka tentu rawan krisis.\r\n\r\nDisisi lain perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia pada saat ini sedang terhambat oleh masalah teknologi. Kita tahu bahwa para operator telekomunikasi sudah tidak bisa lagi mengandalkan pendapatan dari layanan telepon dan SMS. Satu-satunya layanan yang akan terus tumbuh dimasa depan adalah layanan akses internet. Namun pembangunan infrastruktur broadband untuk mendukung akses internet berkecepatan tinggi yang mampu menjangkau hingga ke pelosok daerah, membutuhkan investasi yang sangat mahal hingga milyaran dollar, karena ketergantungan teknologi pada perusahaan asing. Indonesia, harus diakui, sangat ketinggalan dalam masalah teknologi informasi, bahkan jika dibanding negara-negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Jadi kecuali para operator telekomunikasi mampu menemukan solusi agar mereka dapat mengembangkan bisnis layanan internet tanpa harus mengeluarkan investasi yang sangat besar, maka bisnis penyewaan menara BTS juga hampir pasti akan ikut-ikutan mandek.\r\n\r\nBut okay, kita asumsikan saja bahwa cepat atau lambat, teknologi informasi di Indonesia pada akhirnya akan berkembang pesat juga. Hari ini pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang, dan masih terus bertambah. Padahal sepuluh tahun lalu, pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 1 juta orang. Setiap orang, mungkin termasuk anda juga, boleh-boleh saja mengeluhkan koneksi internet yang leletnya minta ampun. Tapi toh anda tetap saja berlangganan provider internet bukan? Karena hari gini kita emang udah gak bisa lagi hidup tanpa internet. Fasilitas online trading saham juga gak akan ada kalau gak ada internet.\r\n\r\nSekarang, bagaimana dengan saham dari para perusahaan rental menara ini?\r\n\r\nSayangnya bahkan kalaupun anda menganggap bahwa sektor penyewaan menara BTS ini memiliki prospek pertumbuhan yang menarik, namun anda akan kesulitan untuk menemukan saham yang layak koleksi di sektor ini. Saham TOWR sama sekali tidak likuid, yang mungkin karena TOWR ini hanyalah perusahaan holding untuk PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo. Tadinya Grup Djarum akan meng-IPO-kan Protelindo ini, tapi nggak jadi karena perusahaannya tersangkut masalah hukum. Jadilah kemudian TOWR didirikan sebagai induk dari Protelindo, dan TOWR ini yang lalu di-IPO-kan ke bursa.\r\n\r\nSementara TBIG, perusahaannya cukup bagus dan sahamnya juga cukup likuid. Namun valuasinya sejak awal sudah cukup mahal, sehingga sulit bagi dia untuk menguat lebih lanjut. STP? Sama saja: mahal. Dan saham STP ini mungkin juga tidak akan likuid, mengingat jumlah saham yang dilepas ke publik pada saat IPO cuma 95 juta lembar.\r\n\r\nSebenarnya penulis pribadi menganggap kalau sektor ini cukup menarik, terutama karena satu menara bisa disewakan ke beberapa operator telekomunikasi sekaligus, dan karena margin laba bersih dibanding pendapatannya cukup besar, yaitu sekitar 40%. Perhitungan simpelnya begini: Saat ini rata-rata harga sewa BTS adalah sekitar Rp25 juta sebulan. Jika satu menara disewa oleh tiga operator, maka akan diperoleh total pendapatan 75 juta, atau 900 juta per tahun. Berdasarkan laporan keuangan TBIG, TOWR, dan STP, rata-rata margin laba bersih dibanding pendapatan, seperti yang sudah disebut diatas, adalah 40%. Jadi dari pendapatan 900 juta tadi, akan diperoleh laba bersih sekitar 360 juta. Karena biaya pendirian satu menara adalah sekitar Rp1 milyar, maka dalam waktu kurang dari tiga tahun biaya pendirian menara tersebut akan balik modal. Jika kita mempertimbangkan bahwa harga sewa menara akan naik dari waktu ke waktu, maka waktu yang dibutuhkan untuk balik modal akan lebih cepat, mungkin kurang dari dua tahun. Dan mengingat bahwa satu menara bisa saja disewa oleh lebih banyak operator, katakanlah empat atau lima operator sekaligus, maka laba bersih yang diperoleh tentunya bisa lebih besar lagi.\r\n\r\nHanya memang di BEI belum ada saham di sektor ini yang cukup bagus buat dikoleksi. Kalau nanti ada grup usaha dengan reputasi bagus, seperti misalnya Grup Astra, ikut terjun ke bisnis rental menara ini dan melepas sahamnya ke publik, maka mungkin sahamnya bisa kita ambil.\r\n\r\nAtau mungkin kalau anda punya banyak duit dan kenal sama orang bank, anda bisa mendirikan perusahaan penyewaan menara BTS milik anda sendiri?\r\n\r\nsumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/09/sekilas-outlook-sektor-menara.html
Multi Quote Quote
smile smile smile udah begini, siapa yang berani ikut bookbuilding? bisa sepi nih ipo. smile smile smile
Multi Quote Quote
smile smile smile udah begini, siapa yang berani ikut bookbuilding? bisa sepi nih ipo. smile smile smile boleh barter ama menyan boz…. smile smile smile :rofl: :rofl: :rofl:
Multi Quote Quote
Kinerja Keuangan dan Valuasi\r\n• Selama tiga tahun terakhir (2008‐2010) pertumbuhan CAGR penjualan perseroan signifikan yaitu 170%, sedangkan pertumbuhan CAGR laba bersih pada periode sama sebesar 77%. Namun pertumbuhan dan penjualan tersebut tidak disertai oleh pertumbuhan marjin laba. Terlihat bahwa marjin laba cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun.\r\n• Berdasarkan laporan keuangan triwulan I 2011, dengan kisaran harga IPO IDR 3,200 ‐ IDR 3,800 per saham, maka kisaran PE perseroan sekitar 42x—49x dan PBV berkisar 3.95x‐4.7x. Jika dibandingkan dengan PE rata ‐rata industri sejenis sebesar 13.3x, maka harga penawaran perseroan relatif mahal.\r\n\r\nRisiko Usaha\r\n• Risiko ketergantungan pendapatan perseroan pada pelanggan tertentu\r\n• Risiko perseroan terpengaruh oleh kelayakan kredit dan kekuatan finansial pada tenants\r\nmenara yang disebabkan oleh ketergantungan perseroan terhadap sewa jangka panjang\r\ndari tenants menara\r\n• Risiko karena ketatnya persaingan di industri penyewaan menara dapat menyebabkan\r\ntekanan pada harga yang dapat berdampak negatif secara material terhadap perseroan.\r\n• Risiko terbatasnya sejarah kegiatan usaha perseroan sebagai dasar yang memadai untuk\r\nmenilai prospek usaha dan hasil operasional perseroan di masa yang akan datang.\r\n• Risiko merger atau konsolidasi yang dilakukan oleh para pelanggan perseroan yang bisa\r\nberdampak negatif dan material terhadap pendapatan dan arus kas perseroan.\r\n• Risiko tidak berhasilnya pelaksanaan strategi pengembangan usaha perseroan.\r\n• Risiko bahwa pinjaman perseroan dapat berdampak negatif kepada bisnis, kondisi keuangan,\r\nhasil usaha dan prospek usaha perseroan.\r\n• Risiko kegagalan perolehan pembiayaan dengan persyaratan yang menguntungkan secara\r\nkomersial\r\n• Risiko kemungkinan cidera janji perseroan terhadap perjanjian fasilitas pinjaman senilai\r\nIDR 1.08 triliun\r\n• Risiko ketergantungan pada hasil kerja kontraktor perseroan\r\n• Risiko atas tingkat bunga tinggi\r\n• Risiko biaya operasional yang tinggi dapat mengurangi marjin operasi.\r\n\r\nStrategi Usaha\r\n• Peningkatan kolokasi pada portofolio menara telekomunikasi yang dimiliki saat ini\r\n• Pertumbuhan operasional melakui akuisisi secara selektif dan fokus pada wilayah strategis\r\n• Pertumbuhan operasional melalui konstruksi menara telekomunikasi\r\n• Tetap terfokus pada kinerja operasional yang efisien\r\n• Menerapkan teknologi baru untuk meningkatkan pemanfaatan infrastruktur menara\r\ntelekomunikasi dan peningkatan layanan.\r\n\r\nPelanggan Perseroan\r\n• PT Bakrie Telecom Tbk\r\n• PT Ericsson Indonesia\r\n• PT Telekomunikasi Selular\r\n• PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk\r\n• PT Indosat Tbk\r\n• PT XL Axiata Tbk\r\n• PT Hutchison CP Telecommunications\r\n• PT First Media Tbk\r\n\r\nDewan Komisaris dan Direksi\r\n• Dewan Komisaris:\r\nKomisaris Utama : Jennivine Yuwono\r\nKomisaris : Thong Thong Sennelius\r\nKomisaris Independen : Muhammad Senang Sembiring\r\n• Dewan Direksi:\r\nDirektur Utama : Nobel Tanihaha\r\nDirektur : Flavius Joanna\r\nDirektur Tidak Terafiliasi : Eko Abdurrahman Saleh\r\nDirektur Tidak Terafiliasi : Juliawati Gunawan\r\n\r\nKegiatan Usaha\r\n• Perseroan merupakan penyedia jasa penyewaan menara telekomunikasi independen\r\nterbesar di wilayah Jabodetabek dan ketiga terbesar di Indonesia, yang masing‐masing\r\ndiukur dengan jumlah menara telekomunikasi, menurut laporan Frost & Sullivan yang\r\nditerbitkan pada bulan Mei 2011. Per 31 Maret 2011, perseroan memiliki 1,121 menara\r\ntelekomunikasi dengan 836 menara telekomunikasi atau 75% dari seluruh menara telekomunikasi\r\nberlokasi di Jabodetabek.\r\n• Strategi perseroan saat ini adalah berfokus pada pengembangan portofolio menara telekomunikasi\r\ndi daerah perkotaan yang berpenduduk padat, untuk memenuhi peningkatan\r\npermintaan kapasitas dan jangkaun jaringan pada pelanggan perkotaan terhadap telekomunikasi\r\nnirkabel dan layanan broadband nirkabel. Per 31 Maret 2011, perseroan telah\r\nmenyewakan 1,571 sites kepada delapan operator telekomunikasi, dengan 1,238 sites\r\nyang tersewa terletak di wilayah Jabodetabek.\r\n• Perseroan mengembangkan portofolio menara telekomunikasi dengan mengakuisisi\r\nmenara telekomunikasi yang ada dan membangun menara telekomunikasi baru secara\r\nbuild to suit.\r\n\r\nKeunggulan Kompetitif\r\n• Penyedia menara telekomunikasi independen terbesar di wilayah Jabodetabek\r\n• Prospek yang menguntungkan bagi industri penyewaan menara telekomunikasi di Indonesia\r\n• Model bisnis yang stabil berdasarkan kontrak jangka panjang dengan pelanggan strategis\r\ndan kepastian akan pendapatan di masa mendatang\r\n• Marjin keuntungan yang memimpin industri yang didukung oleh arus kas yang kuat dari\r\nkegiatan operasional.\r\n• Tim manajemen yang berpengalaman dengan kemampuan yang telah terbukti untuk\r\npertumbuhan kolokasi dan portofolio menara telekomunikasi perseroan.\r\n\r\nRencana Penggunaan Dana\r\n• Sekitar 35% akan digunakan oleh perseroan dalam kurun waktu\r\n2011 sampai dengan 2013 untuk pembiayaan investasi yang\r\nberkaitan dengan pembangunan menara dan/atau penambahan\r\nsites telekomunikasi baru, yang terutama berlokasi di\r\nJabodetabek, Jawa, Bali dan Sumatera.\r\n• Sekitar 50% akan digunakan dalam kurun waktu 2011‐2013 untuk\r\ninvestasi yang berkaitan dengan kesempatan akuisisi guna\r\nperluasan kegiatan usaha perseroan dan penambahan portofolio\r\nmenara dan/atau sites telekomunikasi.\r\n• Sekitar 15% akan digunakan untuk modal kerja perseroan, antara\r\nlain untuk biaya operasional perseroan.\r\n\r\nPenawaran Umum\r\n• Perseroan menawarkan sebanyak 100,000,000 saham biasa atas\r\nnama dengan nilai nominal IDR 100 per saham atau sebesar 16.7%\r\ndari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan\r\nsetelah penawaran umum yang ditawarkan dengan harga\r\npenawaran pada kisaran IDR 3,200‐ IDR 3,800 per saham.\r\n• Pelaksanaan program kepemilikan saham perseroan oleh\r\nmanajemen dan karyawan (MESA) dengan mengalokasikan\r\nsebanyak‐banyaknya 5% dari seluruh jumlah saham yang\r\nditawarkan dalam IPO atau maksimal 5.000.000 saham.\r\n\r\nJadwal Penawaran Umum: (tentative)\r\nBook Building : 19‐27 September 2011\r\nPernyataan efektif : 29 September 2011\r\nPenawaran : 3‐5 Oktober 2011\r\nPenjatahan : 7 Oktober 2011\r\nDistribusi Saham secara elektronik : 10 Oktober 2011\r\nPengembalian uang pemesanan : 10 Oktober 2011\r\nPencatatan saham : 11 Oktober 2011
Multi Quote Quote
6000
Multi Quote Quote
Ada yg ikutan bookbuilding smr utama? dapat brp? thanks
Multi Quote Quote
INILAH.COM, Jakarta – PT Solusi Tunas Pratama Tbk menetapkan harga penawaran saham perdana sebesar Rp3.400 per saham.\r\n\r\nHal itu disampaikan Direktur Utama PT Ciptadana Securities, Ferry B Tanja saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (29/9). ”Harga saham perdana yang ditetapkan Rp3.400 per saham,” ujar Ferry.\r\n\r\nLebih lanjut ia mengatakan, penawaran saham perdana PT Solusi Tunas Pratama cukup diminati investor saat masa penawaran awal. Investor lokal cukup meminati saham perdana PT Solusi Tunas Pratama Tbk. Perseroan diperkirakan meraih dana sebesar Rp340 miliar dari hasil penawaran umum saham perdana.\r\n\r\nPT Solusi Tunas Pratama menawarkan 100 juta saham atau 16,7% saham ke publik dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dana hasil penawaran saham perdana akan digunakan untuk pembiayaan investasi berkaitan dengan pembangunan menara atau penambahan sites telekomunikasi baru terutama berlokasi di Jabodetabek, Bali, dan Sumatra sekitar 35%.\r\n\r\nSekitar 50% dana IPO akan digunakan untuk akuisisi guna perluasan kegiatan usaha dan penambahan portofolio menara, atau sites telekomunikasi. Sekitar 15% akan digunakan untuk modal kerja perseroan seperti biaya operasional perusahaan.\r\n\r\nAdapun jadwal masa penawaran umum direncanakan pada 3-5 Oktober 2011 dan saham perdana akan dicatatkan pada 11 Oktober 2011.\r\n\r\nSelain itu, Perseroan akan mempertimbangkan untuk mengeluarkan saham baru dan efek yang bersifat ekuitas selain saham dan efek lain untuk dapat dikonversi menjadi saham dalam waktu 12 bulan setelah pernyataan pendaftaran perseroan yang dinyatakan efektif Bapepam-LK.
Multi Quote Quote
ada yg ikutan bookbuilding?
Multi Quote Quote
kaga ada….mahallllllllll… :rofl:
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...