DIVERSIFIKASI (Risk Management)- binatang apa pula itu??

Hampir semua orang yang berkecimpung dalam pasar modal pasti pernah mendengar istilah ini, dan mengerti inti dari strategi ini. Ungkapan2 terkenal berikut berkaitan erat dengan diversifikasi: "Jangan taruh telur dalam satu keranjang". Namun pertanyaan biasanya timbul setelah mendengar ungkapan ini: trus berapa keranjang yang paling bagus? kalau saya punya 100 telur, berapa keranjang yang harus saya punya. 2, 5, 10, 30, 100??? Berapa keranjang kah jumlah yang terbaik untuk telur2 saya. Kemudian timbul lagi pertanyaan setelah memutuskan untuk mempunyai 30 keranjang… wuiihhh gileee 30 keranjang…, tiap keranjang isinya cuman 3 telor…, mubazir banget nih.. lagian tidak muat buat mobil avanza saya… hmmm… 2 keranjang aja deh…, saya cuman perlu ke rumah tetangga sebelah. atau… ya udah 5 keranjang aja deh, saya mesti keluar kota soalnya, takutnya kalo cuman 2 keranjang nanti jika 1 keranjang jatuh hilang separuh telur2 saya… Trus berapa jumlah keranjang yang tepat dalam diversifikasi? Setelah membaca banyak buku2 investing, dan melihat para master2 investor bertindak…, jawabannya kira2 sama dengan ilustrasi diatas… tergantung situasi dan kondisi. Diversifikasi bukan hanya sekadar menentukan jumlah saham yang harus dibeli, dan strategi itu tidak otomatis langsung memperkecil resiko dan memperbesar gain portfolio kita. Diversifikasi harus "performance based". Lebih aman menaruh 100 telur di keranjang stainless steel yang berlapis spon kualitas tertinggi, daripada di 10 keranjang rotan yang dibeli dari pasar. Namun begitu, menaruh 100 telur di 2 keranjang stainless steel selalu lebih bagus daripada di 1 keranjang stainless steel. Tiap perusahaan yang kita beli harus memenuhi kriteria performance (baik dari segi FA atau TA) yang ketat. Sebagai ilustrasi…, jika anda membeli GGRM di level 5000 pada 2 tahun lalu, buat apa diversifikasi ke KIJA, KARK, UNSP, JPRS, BHIT, MNCN, CMNP dll? JIka diversifikasi ke SMGR di 2000, ASII di 12000, nah itu baru make sense. Diversifikasi yang terlalu lebar akan meningkatkan resiko portfolio, karena kita kehilangan fokus untuk memanage saham yang jumlahnya terlalu banyak. Diversification sacrifice focus for stability. Jumlah yang tepat tergantung pada comfort-level diri kita masing2, berapa yang pas, hanya diri kita yang tahu. Jumlah2 di buku merupakan guidance saja. Personally, jarang saya memiliki lebih dari 6 saham. Tapi ada orang yang comfortable dengan 10 saham. Atau 15 saham. dsb… Diversifikasi harus sesuai kebutuhan. Jika memang tidak ada saham bagus yang bisa kita beli selain yang kita punya, maka mungkin tidak perlu juga diversifikasi. Toh tujuan utama diversifikasi adalah memperkecil resiko portfolio, dengan membeli saham dengan grade lebih rendah itu malah akan menambah resiko portfolio kita. Sekian sharing saya tentang diversifikasi, the widely known animal, but often misunderstood. Rekan2 lain mungkin ada yang menambah atau mengoreksi?? :hug:
Multi Quote Quote
Agree….GOKU SAN
Multi Quote Quote
Hampir semua orang yang berkecimpung dalam pasar modal pasti pernah mendengar istilah ini, dan mengerti inti dari strategi ini. Ungkapan2 terkenal berikut berkaitan erat dengan diversifikasi: "Jangan taruh telur dalam satu keranjang". Namun pertanyaan biasanya timbul setelah mendengar ungkapan ini: trus berapa keranjang yang paling bagus? kalau saya punya 100 telur, berapa keranjang yang harus saya punya. 2, 5, 10, 30, 100??? Berapa keranjang kah jumlah yang terbaik untuk telur2 saya. Kemudian timbul lagi pertanyaan setelah memutuskan untuk mempunyai 30 keranjang… wuiihhh gileee 30 keranjang…, tiap keranjang isinya cuman 3 telor…, mubazir banget nih.. lagian tidak muat buat mobil avanza saya… hmmm… 2 keranjang aja deh…, saya cuman perlu ke rumah tetangga sebelah. atau… ya udah 5 keranjang aja deh, saya mesti keluar kota soalnya, takutnya kalo cuman 2 keranjang nanti jika 1 keranjang jatuh hilang separuh telur2 saya… Trus berapa jumlah keranjang yang tepat dalam diversifikasi? Setelah membaca banyak buku2 investing, dan melihat para master2 investor bertindak…, jawabannya kira2 sama dengan ilustrasi diatas… tergantung situasi dan kondisi. Diversifikasi bukan hanya sekadar menentukan jumlah saham yang harus dibeli, dan strategi itu tidak otomatis langsung memperkecil resiko dan memperbesar gain portfolio kita. Diversifikasi harus "performance based". Lebih aman menaruh 100 telur di keranjang stainless steel yang berlapis spon kualitas tertinggi, daripada di 10 keranjang rotan yang dibeli dari pasar. Namun begitu, menaruh 100 telur di 2 keranjang stainless steel selalu lebih bagus daripada di 1 keranjang stainless steel. Tiap perusahaan yang kita beli harus memenuhi kriteria performance (baik dari segi FA atau TA) yang ketat. Sebagai ilustrasi…, jika anda membeli GGRM di level 5000 pada 2 tahun lalu, buat apa diversifikasi ke KIJA, KARK, UNSP, JPRS, BHIT, MNCN, CMNP dll? JIka diversifikasi ke SMGR di 2000, ASII di 12000, nah itu baru make sense. Diversifikasi yang terlalu lebar akan meningkatkan resiko portfolio, karena kita kehilangan fokus untuk memanage saham yang jumlahnya terlalu banyak. Diversification sacrifice focus for stability. Jumlah yang tepat tergantung pada comfort-level diri kita masing2, berapa yang pas, hanya diri kita yang tahu. Jumlah2 di buku merupakan guidance saja. Personally, jarang saya memiliki lebih dari 6 saham. Tapi ada orang yang comfortable dengan 10 saham. Atau 15 saham. dsb… Diversifikasi harus sesuai kebutuhan. Jika memang tidak ada saham bagus yang bisa kita beli selain yang kita punya, maka mungkin tidak perlu juga diversifikasi. Toh tujuan utama diversifikasi adalah memperkecil resiko portfolio, dengan membeli saham dengan grade lebih rendah itu malah akan menambah resiko portfolio kita. Sekian sharing saya tentang diversifikasi, the widely known animal, but often misunderstood. Rekan2 lain mungkin ada yang menambah atau mengoreksi?? :hug: yup………overdiversifikasi akan membuat tidak fokus. :peace:
Multi Quote Quote
diversifikasi jelas bukan just for the sake of diversifikasi smile cuma kadang yah dalam dunia saham ini kan banyak perusahaaan2 yang bagus dan murah .. jadi secara alamiah terjadilah diversifikasi smile as peter lynch said: the more stones you turn, the more values you find smile
Multi Quote Quote
Kalau ada keyakinan suatu saham bisa lari kencang dan jadi incaran fund manager besar … ada baiknya tidak usah diversifikasi (TETAPI keyakinan ini harus sifatnya 99 benar) Mungkin lebih baik pemilihan saham yang bagus … dan masih undervalue, kalau mau diversifikasi tetapi harus juga memilih perusahaan yang bagus dan masih undervalue Di saat index setinggi ini mungkin ada baiknya diversifikasi tetapi jangan lebih dari 3-5 saham … Jauh lebih mudah memonitor 3 saham daripada 10-20 saham … pusing … Apalgi kalau 20 saham yang kit miliki lagi volatile naik dan turun … apa gak bingung … atau pada waktu laporan keuangan 15 perusahaan di hari yang sama dan rata rata jelek semua … apa gak bingung CL nya ?
Multi Quote Quote
Kalau ada keyakinan suatu saham bisa lari kencang dan jadi incaran fund manager besar … ada baiknya tidak usah diversifikasi (TETAPI keyakinan ini harus sifatnya 99 benar) Mungkin lebih baik pemilihan saham yang bagus … dan masih undervalue, kalau mau diversifikasi tetapi harus juga memilih perusahaan yang bagus dan masih undervalue Di saat index setinggi ini mungkin ada baiknya diversifikasi tetapi jangan lebih dari 3-5 saham … Jauh lebih mudah memonitor 3 saham daripada 10-20 saham … pusing … Apalgi kalau 20 saham yang kit miliki lagi volatile naik dan turun … apa gak bingung … atau pada waktu laporan keuangan 15 perusahaan di hari yang sama dan rata rata jelek semua … apa gak bingung CL nya ? Yup, diversifikasi memang harus sesuai kebutuhan.
Multi Quote Quote
diversifikasi jelas bukan just for the sake of diversifikasi smile cuma kadang yah dalam dunia saham ini kan banyak perusahaaan2 yang bagus dan murah .. jadi secara alamiah terjadilah diversifikasi smile as peter lynch said: the more stones you turn, the more values you find smile Exactly my point!
Multi Quote Quote
Satu aspect tambahan yang terkait sangat erat dengan diversifikasi adalah POSITION SIZING. Position sizing adalah upaya me''manage besarnya suatu posisi saham dalam portfolio kita. Setelah kita memutuskan untuk berinvestasi dalam suatu saham, keputusan yang selanjutnya harus kita buat adalah, berapa banyak kita beli? Kalau di Indo ada ungkapan "ada udang dibalik batu", maka seperti yang bung Funda quote tentang Peter Lynch "semakin banyak batu yang anda balik, semakin banyak harta karun (atau udang hehehe) yang dapat anda temui". Saya sangat suka membaca buku2 Peter Lynch, dan Peter Lynch dikenal untuk memiliki jumlah saham yang fenomenal dalam portfolionya. Bahkan di Wall Street ada olok2 saham apa sih yang gak disukai Peter Lynch? jawabnya gak ada hehehe… yah karena Peter Lynch dalam kariernya sebagai fund manager memiliki 1400+ saham. Yang menarik adalah, dari total portfolio value sebesar $9 Billion (per 1989/tahun terakhir sebelum dia retire), separuh diinvestasikan di 100 saham, atau 2/3 di 200 saham. Dan dari total asset, 1 % diinvestasikan di 500 posisi saham. Ternyata dari 1400+ saham yang dia miliki, Peter Lynch hanya berkonsentrasi di sekitar 100-200 saham saja. Jadi bukan 1400+ saham semua dibagi rata. Persentase terbesar asset memang harus ditaruh pada saham2 dengan potensi gain tertinggi dan resiko loss terendah. Setiap saham memiliki profile resiko yang berbeda-beda. GGRM tidak sama dengan CTRA. ASII tidak sama dengan BUMI. Namun, bukan berarti GGRM juga selalu memiliki profile resiko yang sama. Kalau dari sisi value investing, GGRM di harga 10.000 jelas memiliki profile resiko lebih rendah daripada GGRM di 40.000, apalagi di 50.000. ASII pada level 15000, atau 25000, jelas jauh lebih menarik dibanding ketika berharga 50.000an seperti saat ini. Jika portfolio bisa kita manage dengan saham2 yang memiliki downside risk lebih kecil daripada upside potential, maka portfolio kita akan selalu terjaga pada waktu koreksi, dan berpotensi gain tinggi ketika market rally. Pada bagian terakhir, 1% diinvestasikan di 500 posisi, mengapa?? 1% dari 9$ billion (bayangkan ini tahun 1989 dia sudah manage $9 billion), adalah $90 juta, atau kalau menurut US rate sekarang sekitarRp 810 miliar. Berarti per posisi secara average sebesar 1.6 milliar. Peter Lynch terkenal sebagai seseorang yang sangat aktif mengikuti perkembangan suatu saham atau industri, dan dia sangat agresif. Dengan membagi 1% dari total asset ke saham kecil2 yang menurut dia bisa berprospek di kemudian hari, dia bisa mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga saham small-caps ini dengan resiko yang rendah (karena jika dibeli dengan jumlah banyak tentu beresiko tinggi) dan di sisi lain, jika salah satunya ternyata adalah the next McDonald, maka dia mempunyai bahan research yang kuat karena dia sudah memiliki dan mengikuti perkembangan saham tsb. Dengan mengalokasikan 1% dari aset, Peter Lynch dapat memancing the next McDonald/WalMart/Nike/Home Depot dengan resiko yang rendah. Dalam Position Sizing, Cash juga merupakan suatu posisi aset. Posisi cash yang cukup, membuat portfolio flexible. Mau market naik, kita dapat gain. Mau market turun kita bisa beli saham favorite dengan harga murah. Cash harus merupakan bagian dari strategy diversifikasi. Portfolio tanpa cash, akan sangat rentan terhadap pergolakan market. Janganlah terpaku dengan kata2 bahwa kita harus selalu fully invested, biasanya yang mengatakan hal2 ini adalah Fund Manager. Suatu Fund/Reksadana selalu mendapatkan aliran cash flow dari nasabah2 baru, maka mereka tidak perlu peduli dengan cash position. Warren Buffet mendapatkan cash tersebut dari premi asuransi yang dia jual. Kita tidak mempunyai akses terhadap fasilitas tersebut, so we must take care of ourselves by having enough cash in our portfolio.
Multi Quote Quote
market mo koreksi, profit taking, masuk pada saham2 ber fundamental bagus, TAPIII kalo bearish hati2 yaa smile
Multi Quote Quote
Satu aspect tambahan yang terkait sangat erat dengan diversifikasi adalah POSITION SIZING. Position sizing adalah upaya me''manage besarnya suatu posisi saham dalam portfolio kita. Setelah kita memutuskan untuk berinvestasi dalam suatu saham, keputusan yang selanjutnya harus kita buat adalah, berapa banyak kita beli? Kalau di Indo ada ungkapan "ada udang dibalik batu", maka seperti yang bung Funda quote tentang Peter Lynch "semakin banyak batu yang anda balik, semakin banyak harta karun (atau udang hehehe) yang dapat anda temui". Saya sangat suka membaca buku2 Peter Lynch, dan Peter Lynch dikenal untuk memiliki jumlah saham yang fenomenal dalam portfolionya. Bahkan di Wall Street ada olok2 saham apa sih yang gak disukai Peter Lynch? jawabnya gak ada hehehe… yah karena Peter Lynch dalam kariernya sebagai fund manager memiliki 1400+ saham. Yang menarik adalah, dari total portfolio value sebesar $9 Billion (per 1989/tahun terakhir sebelum dia retire), separuh diinvestasikan di 100 saham, atau 2/3 di 200 saham. Dan dari total asset, 1 % diinvestasikan di 500 posisi saham. Ternyata dari 1400+ saham yang dia miliki, Peter Lynch hanya berkonsentrasi di sekitar 100-200 saham saja. Jadi bukan 1400+ saham semua dibagi rata. Persentase terbesar asset memang harus ditaruh pada saham2 dengan potensi gain tertinggi dan resiko loss terendah. Setiap saham memiliki profile resiko yang berbeda-beda. GGRM tidak sama dengan CTRA. ASII tidak sama dengan BUMI. Namun, bukan berarti GGRM juga selalu memiliki profile resiko yang sama. Kalau dari sisi value investing, GGRM di harga 10.000 jelas memiliki profile resiko lebih rendah daripada GGRM di 40.000, apalagi di 50.000. ASII pada level 15000, atau 25000, jelas jauh lebih menarik dibanding ketika berharga 50.000an seperti saat ini. Jika portfolio bisa kita manage dengan saham2 yang memiliki downside risk lebih kecil daripada upside potential, maka portfolio kita akan selalu terjaga pada waktu koreksi, dan berpotensi gain tinggi ketika market rally. Pada bagian terakhir, 1% diinvestasikan di 500 posisi, mengapa?? 1% dari 9$ billion (bayangkan ini tahun 1989 dia sudah manage $9 billion), adalah $90 juta, atau kalau menurut US rate sekarang sekitarRp 810 miliar. Berarti per posisi secara average sebesar 1.6 milliar. Peter Lynch terkenal sebagai seseorang yang sangat aktif mengikuti perkembangan suatu saham atau industri, dan dia sangat agresif. Dengan membagi 1% dari total asset ke saham kecil2 yang menurut dia bisa berprospek di kemudian hari, dia bisa mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga saham small-caps ini dengan resiko yang rendah (karena jika dibeli dengan jumlah banyak tentu beresiko tinggi) dan di sisi lain, jika salah satunya ternyata adalah the next McDonald, maka dia mempunyai bahan research yang kuat karena dia sudah memiliki dan mengikuti perkembangan saham tsb. Dengan mengalokasikan 1% dari aset, Peter Lynch dapat memancing the next McDonald/WalMart/Nike/Home Depot dengan resiko yang rendah. Dalam Position Sizing, Cash juga merupakan suatu posisi aset. Posisi cash yang cukup, membuat portfolio flexible. Mau market naik, kita dapat gain. Mau market turun kita bisa beli saham favorite dengan harga murah. Cash harus merupakan bagian dari strategy diversifikasi. Portfolio tanpa cash, akan sangat rentan terhadap pergolakan market. Janganlah terpaku dengan kata2 bahwa kita harus selalu fully invested, biasanya yang mengatakan hal2 ini adalah Fund Manager. Suatu Fund/Reksadana selalu mendapatkan aliran cash flow dari nasabah2 baru, maka mereka tidak perlu peduli dengan cash position. Warren Buffet mendapatkan cash tersebut dari premi asuransi yang dia jual. Kita tidak mempunyai akses terhadap fasilitas tersebut, so we must take care of ourselves by having enough cash in our portfolio. Penjelasannya gamblang sekali … :applause: :applause: :applause: Cuma pingin tanya sampai punya ratusan saham … apa gak bingung yah … Gue suruh lebih dari 5 sudah pusing smile Tapi penjelasannya bener bener gamblang :applause: :applause:
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...