MA 60 : Anak Haram Merpati

Bozz… Padahal didaerah tersebut, banyak yang pasang spanduk… MERPATI KINI DENGAN PESAWAT BARU….. trus gimana ya????
Multi Quote Quote
Saya dari tadi ingin berkomentar soal kecelakaan pesawat Merpati. Merpati kalau punya uang kenapa tidak beli pesawat Mercy, smile Pesawat Boeing, Airbus yang terkenal sangat mahal dan berbadan lebar dan sanggup terbang diketinggian. Pasawat boeing pun pernah kecelakaan dan hancur seperti adam air dulu mungkin karena spareparts. Soal Pesawat MA 60, kalau tidak suka jangan dibeli dong biarkan mereka jadi pesawat cargo barang saja. Tentu harus dilihat juga pesawat dengan rotor kipas mengangkut orang begitu banyak dikawasan Timur, kemana sih otak-otak mereka. Pesawat baling-baling kipas menempuh lautan dengan kecepatan angin besar. tentu kalau pesawat murah harus rajin dirawat. jangan jadi mobil bis kota kejar setoran… Kalau sudah ada duit banyak kenapa harus beli pesawat MA 60 kenapa tidak beli boeing saja. gitu aja refot (Gus Dur). Kalau memang transportasi udara berbahaya dengan pesawat kecil kenapa tidak pakai kereta cepat bawah tanah seperti di eropa dan china. yang menembus lautan dan daratan.
Multi Quote Quote
DPR Terus Cecar ‘'Dalang’' Pembelian Pesawat China Merpati Jakarta - Komisi XI DPR masih meributkan pembelian pesawat MA-60 buatan China yang pada Sabtu lalu terjadi kecelakaan di Kaimana, Papua dan memakan korban hingga 20 jiwa. Para Anggota Komisi XI DPR ingin mendengarkan penjelasan dari Direksi Merpati, Kementerian Keuangan, dan juga Kementerian BUMN soal siapa yang menjadi pengambil keputusan pembelian pesawat MA-60 tersebut. Rapat dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/5/2011). Penjelasan awal pun dibuka oleh Sekjen Kemenkeu Mulia Nasution yang menyampaikan proses pengadaan pesawat tersebut satu persatu dari 2005 hingga 2010. "Pemerintah China ada kerjasama dengan pemerintah Indonesia antara lain menawarkan pembelian concessional loan kepada pemerintah. Itu untuk pengadaan pesawat MA-60 dari 29 Agustus 2005. Kemudian ada MoU antara PT MNA (Merpati Nusantara Airlines) dengan Xi''an Aircraft Industry tentang rencana pembelian 15 unit pesawat MA-60 pada 24 November tahun 2005," kata Mulia memulai penjelasannya. Kemudian Mulia melanjutkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Aircraft Type Certificate (ATC) untuk pesawat MA-60 ini. ATC dari pemerintah dikeluarkan 22 Juni 2003, sehingga secara teknis pesawat ini dinyatakan layak. "PT Merpati melakukan kontrak pengadaan pada 7 Juni 2006," lanjutnya menjelaskan. Lalu, penjelasan dari Mulia berlanjut dengan bertahap proses yang pada akhirnya menjurus ke penerusan pinjaman (Subsidiary Loan Agreement/SLA). Setelah penjelasan yang merinci, Mulia menyampaikan terkait penerusan pinjaman tersebut sudah disetujui di Badan Anggaran DPR pada 30 Agustus 2010. Pemerintah dan Badan Anggaran sepakat untuk meneruskan pinjaman (SLA) dan merestrukturisasi Merpati. Setelah mendengarkan penjelasan dari Mulia Nasution, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Aziz yang memimpin rapat lanjutan tersebut menyatakan Komisi XI tidak merasa adanya terusan persetujuan SLA tersebut untuk penerusan pinjaman terkait. Sehingga rapat berangsur-angsur menimbulkan perdebatan. Sebelumnya, pesawat BUMN aviasi ini jatuh di Teluk Kaimana, Sabtu (7/5/2011). Pesawat MZ-8968 mengangkut 19 penumpang dan 6 orang awak. Sebanyak 20 jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. Merpati memiliki 15 pesawat tipe M-60 buatan Xi''an Aircraft Industry China bernilai US$ 161 juta. Merpati mendapatkan pesawat ini dari Kementerian Keuangan hasil pinjaman dari Bank Of China. Pesawat berkapasitas 56 penumpang ini dihargai sekitar US$ 11 juta per unit. Saat ini ada 189 pesawat jenis M-60 produksi Xi''an Aircraft Industry yang digunakan di dunia. Ada 10 negara di dunia yang menggunakan pesawat buatan China ini.
Multi Quote Quote
Dirut Merpati: Kita Bukan Maskapai AS, Tak butuh Lisensi FAA Jakarta - Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Sardjono Jhony Tjitrokusumo menyampaikan pihaknya tidak membutuhkan pesawat yang berlisensi FAA (Federal Aviasions Administration) yang dikeluarkan oleh AS untuk menerbangkan pesawat MA-60 buatan China. Dirinya menegaskan Merpati bukan merupakan operator maskapai penerbangan yang bekerja di AS, melainkan di Indonesia. Jadi lisensi yang dibutuhkan adalah lisensi dari Indonesia dan juga negara manufaktur pesawat tersebut, yakni China. "FAA itu nggak perlu, kita kan tidak beroperasi di sana. Kita juga bukan operator maskapai Amerika. Yang kita butuhkan adalah sertifikasi dari negara manufaktur dan dari negara kita, sebagai operator di negara ini," katanya saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/5/2011). Jhony juga menambahkan, lisensi yang dikeluarkan oleh pihak Indonesia, yakni Kementerian Perhubungan merupakan indikasi pesawat MA-60 tersebut layak untuk beroperasi di Indonesia. "Kemenhub kan isinya orang-orang yang expert," tambah Jhony. "Di tahun 2005 kemarin kan ada Aircraft Type Certificate (ATC) untuk MA-60. Jadi, jelas bahwa pesawat itu sertified, dan layak," ungkapnya. Jhony menyampaikan pihak Merpati membutuhkan penambahan pesawat. Banyak beberapa daerah yang membutuhkan, sehingga Merpati mengusulkan untuk pengadaan pesawat. "Kan daerah meminta, operator yang ada saat itu adalah Trigana dan Merpati yang beroperasi di situ, ya kita butuh," ungkapnya. "Kita butuh pesawat 50 seater, kemudian kan kajian langsung kita cari. Sampai ATC belum dikeluarkan, kita tidak melakukan kontrak (pengadaan pesawat). Setelah ada baru lakukan kontrak," lanjut Jhony.
Multi Quote Quote
Merpati Tak Hentikan Pesawat China Sampai Ada Bukti Jelas Jakarta - PT Merpati Nusantara Airlines bakal terus mengoperasikan pesawat MA-60 buatan China pasca kecelakaan di Kaimana, Papua. Ini dilakukan sebelum ada bukti jelas adanya kesalahan pesawat tersebut. Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis dini hari (12/5/2011). "Dua minggu lalu kecelakan boeing 737 di India, masa sih Boeing 737 di-grounded? Pesawat itu di-grounded ketika penyebabnya obvius, umpamanya Airbus punya masalah di fuel line, itu obvius. Jadi mereka tahu itu penyebabnya, jadi pesawat semuanya di-grounded untuk dicek," jelasnya. Jadi, Merpati bakal menunggu hasil dari pemeriksaan kotak hitam pesawatnya yang jatuh di Papua. "Berapa hari ini bisa dibaca. Tunggu saja. Kita lihat saja kondisinya seperti apa," imbuhnya. Jhony mengatakan, pengadaan pesawat dari China ini sudah diaudit lengkap. Bahkan Merpati tak akan membatalkan pengiriman 2 pesawat MA-60 dari China pada 19-20 Mei 2011. "Ayo mau on board sama saya nanti pesawat yang dua lagi? Jaminannya kan bareng saya on board," kata Jhony mengajak wartawan.
Multi Quote Quote
Mari Pangestu Tak Mau Berpolemik Soal Pembelian Pesawat China akarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu akhirnya angkat bicara soal kisruh pembelian pesawat M-60 asal China oleh PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Mari sebagai salah satu pihak yang dianggap terlibat dalam negosiasi pembelian M-60 mengaku enggan berpolemik soal keterlibatan dirinya. "Kita masih dalam suasana duka, tunggu saja sampai hasil investigasi. Jangan terlalu banyak polemik, sampai investigasi selesai," kata Mari saat ditemui di kantor menko perekonomian, Jl Lapangan Banteng, Rabu (11/5/2011) Ia menegaskan apa yang terjadi pada pesawat M-60 Merpati buatan China yang jatuh adalah kecelakaan. Mari meminta semua pihak untuk menunggu hasil investigasi. "Pada saatnya semua akan bisa dijelaskan," tutup Mari tanpa bersedia menjelaskan soal keterlibatannya soal pengadaan pesawat dari China itu. Seperti diketahui, pesawat M-60 milik Merpati jatuh di Teluk Kaimana, Papua pada Sabtu (7/5/2011) lalu. Tragedi itu melebar menjadi polemik soal asal muasal pembelian China yang diduga syarat dengan kepentingan. Rencana pembelian pesawat asal China ini merupakan cerita lama yang cukup panjang dan alot negosiasinya. Rencana ini sudah digadang-gadang sejak tahun 2007. Ketika itu, Merpati berniat mendatangkan dua pesawat MA 60 dari Xian Kemudian pada tahun 2009, Xian Aircraft Industry Company Ltd sebagai pabrikan pesawat yang mendapat pesanan 15 unit pesawat MA60 menggugat Merpati belum juga menyelesaikan masalah pembayaran pembelian pesawat. Nilai gugatan mencapai Rp 1 truliun. Dari 15 unit pesanan, sudah 2 unit tiba ke Indonesia sementara 13 unit lainnya masih tertunda. Kementerian BUMN mendorong Merpati melawan ancaman itu. Merpati mengaku tidak rela dipaksa menerima kontrak pembelian pesawat dari pabrikan China. Kontrak tersebut dinilai sangat bisa membuat Merpati bangkrut. Kemudian pemerintah pun menunjuk Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu untuk melakukan lobi ke China. Negosiasi mencakup soal harga, jumlah, jaminan kualitas termasuk jaminan pembelian kembali. Masalah negosiasi pembelian pesawat MA 60 semakin rumit ketika diwarnai langkah pemerintah China menahan pendanaan proyek listrik 10 ribu MW tahap pertama. "China menahan pencarian dana untuk 10.000 MW tahap pertama karena semula Merpati mau beli pesawat dari perusahaan China tapi ternyata dibatalkan karena harga pesawat dinilai terlalu tinggi," kata Menteri ESDM yang waktu itu dijabat Purnomo Yusgiantoro di sela raker dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/2/2009) waktu itu. Ketika itu, Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengaku tidak mengetahui secara jelas hubungan rencana pembelian pesawat Merpati dengan pendanaan 10.000 MW. Menurut Said, Merpati tidak mau dipaksa pemerintah menerima kontrak tersebut. "Saya nggak tahu hubungannya dengan 10.000 MW. Intinya kita nggak rela dipaksa pemerintah terima kontrak itu, nantinya bisa bikin bangkrut," kata Said beberapa waktu lalu. Kisruh semakin pelik. Masalah pembelian pesawat tak lagi menjadi business to business (B to B) tetapi jadi melibatkan pemerintah antara kedua negara (goverment to goverment/G to G). Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian yang ketika itu dijabat Sri Mulyani pun langsung bertolak ke China untuk melakukan negosiasi. Akhirnya, 15 pesawat MA 60 pabrikan Xian jadi didatangkan. Merpati berencana mendatangkan sekitar 22 pesawat hingga tahun 2010 untuk menambah armada perseroan. Sebanyak 15 pesawat dengan jenis MA60 didatangkan dari Xian Aircraft, sedangkan 7 sisanya berupa ATR 72 dari Perancis.
Multi Quote Quote
Saya dari tadi ingin berkomentar soal kecelakaan pesawat Merpati. Merpati kalau punya uang kenapa tidak beli pesawat Mercy, smile Pesawat Boeing, Airbus yang terkenal sangat mahal dan berbadan lebar dan sanggup terbang diketinggian. Pasawat boeing pun pernah kecelakaan dan hancur seperti adam air dulu mungkin karena spareparts. Soal Pesawat MA 60, kalau tidak suka jangan dibeli dong biarkan mereka jadi pesawat cargo barang saja. Tentu harus dilihat juga pesawat dengan rotor kipas mengangkut orang begitu banyak dikawasan Timur, kemana sih otak-otak mereka. Pesawat baling-baling kipas menempuh lautan dengan kecepatan angin besar. tentu kalau pesawat murah harus rajin dirawat. jangan jadi mobil bis kota kejar setoran… Kalau sudah ada duit banyak kenapa harus beli pesawat MA 60 kenapa tidak beli boeing saja. gitu aja refot (Gus Dur). Kalau memang transportasi udara berbahaya dengan pesawat kecil kenapa tidak pakai kereta cepat bawah tanah seperti di eropa dan china. yang menembus lautan dan daratan. Bro Momentum.. Kayaknya kita disini masuk arus monolog dech… hehehehe… smile smile smile smile smile smile smile
Multi Quote Quote
kalo mo adil waktu CN235 banyak kecelakaan juga dibahas, dalam kondisi cuaca ga begitu jelek bisa nabrak gunung berkali2, baik yg dipakai sipil maupun militer, CN235 banyak dipakai negara lain krn faktor politik, kecelakaan CN235, di antaranya th 1997 dipake militer, 1998, th 2000 an di filipina dan turki (sipil) dll…….. merpati sendiripun dulu pakai CN235 kecelakaan 1992…… silahkan google……:peace: sepertinya sih rada sulit cari datanya banyak yg udah ga ada, maklumlah……. liat yg tulis MA60 dan CN235, MA 60 banya bener yg tulis (indonesia) CN235 jarang (padahal kecelakaan dg korban jiwa 30 an org sudah 5-6 kali)…….
Multi Quote Quote
Saya dari tadi ingin berkomentar soal kecelakaan pesawat Merpati. Merpati kalau punya uang kenapa tidak beli pesawat Mercy, smile Pesawat Boeing, Airbus yang terkenal sangat mahal dan berbadan lebar dan sanggup terbang diketinggian. Pasawat boeing pun pernah kecelakaan dan hancur seperti adam air dulu mungkin karena spareparts. Soal Pesawat MA 60, kalau tidak suka jangan dibeli dong biarkan mereka jadi pesawat cargo barang saja. Tentu harus dilihat juga pesawat dengan rotor kipas mengangkut orang begitu banyak dikawasan Timur, kemana sih otak-otak mereka. Pesawat baling-baling kipas menempuh lautan dengan kecepatan angin besar. tentu kalau pesawat murah harus rajin dirawat. jangan jadi mobil bis kota kejar setoran… Kalau sudah ada duit banyak kenapa harus beli pesawat MA 60 kenapa tidak beli boeing saja. gitu aja refot (Gus Dur). Kalau memang transportasi udara berbahaya dengan pesawat kecil kenapa tidak pakai kereta cepat bawah tanah seperti di eropa dan china. yang menembus lautan dan daratan. kecelakaan merpati yg di papua krn cuaca kan? cuaca buruk jadi hrs mendarat darurat entah itu di darat atau di laut…….. CN 235 kalo cuaca ga terlalu buruk tapi kira2 di depan ada gunung, udah siap2 parasut aja dah smile
Multi Quote Quote
Bingung Cari Dalang Pesawat China, DPR Tunda Rapat Seminggu Jakarta - Komisi XI DPR masih belum juga menemukan dalang di balik pembelian pesawat M-60 buatan China yang dimiliki PT Merpati Nusantara Airlines. Akhirnya rapat pembahasan pun ditunda 2 minggu. Padahal kesepakatan sebelumnya, rapat seharusnya dijadwalkan dapat tuntas dan ada keputusannya hari ini. Namun, beberapa anggota Komisi XI DPR RI yang hadir dan setelah menerima keterangan-keterangan tertulis maupun data-data dari pihak pemerintah dan Merpati masih mengeluhkan nada ketidakpuasan. "Kemarin mana? Proses negosiasinya siapa yang terlibat? Apa ada pertemuan lanjutan setelah Join Comission Meeting pemerintah dan China, jadinya bagaimana? Belum terjawab," keluh Anggota Komisi XI dari Fraksi Golkar Meutya Hafidz, di ruang sidang Komisi XI, Senayan, Jakarta, Kamis (12/5/2011). Selain itu pun masih banyak beberapa keluhan yang timbul. Andi Timo, salah satu anggota dari Fraksi Partai Demokrat masih mempertanyakan perihal masalah pengadaan pesawat MA-60 yang bisa masuk ke APBN 2010 tanpa ada persetujuan dari Komisi XI sebelumnya. Perdebatan pun masih berlangsung, sehingga membuat pihak Komisi XI DPR membuat sebuah rancangan kesimpulan sementara yang pada akhirnya rapat dengar pendapat yang sudah berlangsung untuk ketiga kalinya ini berujung ditunda. "Ini menjadi sikap Komisi XI, kita sudah sampai ke titik akhir. Maka itu kita buat kesimpulan dan memberikan pihak pemerintah dan Merpati untuk mempersiapkan lagi pada waktu berikutnya," kata Harry Azhar Aziz dari Fraksi Golkar, yang memimpin rapat hari ini. Kesimpulan pun akhirnya dibacakan, dan berikut ini adalah kesimpulan untuk rapat yang tertunda sekali lagi hari ini: 1. Komisi XI DPR menyatakan dengan tegas, bahwa setiap rupiah uang negara yang dialokasikan melalui APBN harus wajib melindungi jiwa dan raga seluruh rakyat Indonesia dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, karena itu Komisi XI DPR mendesak atau meminta pemerintah untuk memberikan jaminan keselamatan setiap modus transportasi yang digunakan di Indonesia. 2. Komisi DPR mempertanyakan kepada Menteri Keuangan tentang SLA Merpati yang tidak dibahas dan belum mendapat persetujuan Komisi XI DPR RI. 3. Sesuai dengan wilayah kerja Komisi XI DPR RI yang menyangkut tentang keuangan negara, Komisi XI DPR RI mengingatkan kepada Menteri Keuangan untuk melakukan konsultasi dan mendapatkan persetujuan DPR terkait alokasi penggunaan uang negara yang bersumber dari APBN seperti yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Komisi XI DPR RI mempertanyakan kepada pemerintah mengenai proses pemilihan dan pembelian pesawat MA-60 oleh Merpati yang semula melalui proses B to B menjadi proses G to G, juga terhadap proses penggunaan dana SLA: Kewajaran harga dan insentif dalam pembelian MA-60. Tata cara pembayaran; Skema pinjaman yang mengikat (tied loan) yang tidak lagi diperkenankan; Telah melakukan ikatan perjanjian sebelum adanya keputusan tentang alokasi SLA dalam APBN; Perbedaan catatan SLA antara PT Merpati dengan kementerian keuangan. Dasar hukum pemerintah mengenaan selisih bunga pinjaman SLA; Asuransi yang melinungi pesawat MA-60 yang jatuh, terkait dengan struktur SLA. Dasar hukum penggunaan dualisme neraca keuangan khususnya terkait dengan pembelian MA-60. 5. Komisi XI DPR RI meminta pemerintah dan Merpati untuk menyampaikan jawabn tertulis secara rinci atas pertanyaan yang disampaikan dalam RDP 10-11 Mei 2011. Paling lambt tanggal 30 Mei 2011; 6. Komisi XI DPR RI memberikan kesempatan kepada anggota Komisi XI DPR RI untuk menyampaikan peranyyaan tambahan dan disampaikan paling lambat tanggal 18 mei 2011 untuk diteruskan kepada pemerntah melalui sekretariat Komisi XI DPR RI. 7. Komisi XI DPR RI akan melanjutkan RDP dengan pemerintah dan Merpati setelah mempelajari bahan-bahan yang telah disampaikan.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...