MA 60 : Anak Haram Merpati

Jenazah Sumaryani, Dikhabarkan Utuh Jakarta,CyberNews. Tim SAR yang mengevakuasi kesemua korban pesawat Merpati hari Sabtu siang 7 Mei 2011 memastikan, jenazah Sumaryani, salah satu pramugari Merpati yang berasal dari Semarang, dalam keadaan utuh. Keluarga pramugari Sumaryani, yang tinggal di Kampung Bustaman, Semarang ini menerima khabar pertama kali dari adik almarhuman Isah, setelah menyaksikan berita terjadi kecelakaan pesawat di Teluk Kaimana, Papua. Namun khabar baru diterima dari pihak Merpati sore yang memastikan salah satu korban adalah Sumaryani. "Tentu ibu kami shock dan terus menangis," kata Prasetyo, kakak sulung Sumaryani. Hari Minggu (8/5), rumah duka di Kampung Bustaman tampak didatangi para tetangga yang ikut berbelasungkawa. Namun banyak wartawan yang tidak bisa menemui Suratmi, ibu kandung almarhumah. Menurut rencana jenazah akan tiba di Semarang Minggu sore. Namun pihak keluarga belum bisa menerima kepastian, apakah jenazah akan langung diterbangkan ke Semarang atau harus disemayamkan dulu di Jakarta. "Khabarnya masih simpang siur," kata Prasetyo.
Multi Quote Quote
SAR Sorong Kirim Empat Penyelam Timika, CyberNews. Untuk membantu proses pencarian korban kecelakaan pesawat Merpati Airlines di perairan Kaimana, Sabtu (7/5), Kantor SAR Sorong, Papua Barat mengirim empat orang anggota tim penyelam beserta peralatan pendukung. Kepala Kantor SAR Sorong, Zulfikar, Minggu (8/5) mengatakan tim yang dipimpin Efendi Rajaloa telah tiba di Kaimana pagi hari tadi dengan penerbangan langsung dari Sorong. Namun, hingga kini mereka masih harus menunggu akomodasi ke Kaimana. "Kami belum dapat kepastian untuk berangkat ke Kaimana karena jadwal penerbangan Trigana Air baru ada hari Selasa. Kantor SAR Timika dalam posisi stand by," jelas Zulfikar, Minggu (8/5). Pihaknya telah telah menerima laporan dari Kepala SAR Sorong yang saat ini ada di Kaimana. "Posisi pesawat Merpati tersebut berada di kedalaman sekitar 15 meter. Kemungkinan besar para korban yang belum ditemukan berada dalam bangkai pesawat," jelas Zulfikar. Dirinya juga optimis para tim penyelam mampu menemukan seluruh korban kecelakaan pesawat Merpati. Zulfikar menambahkan, Minggu (8/5) siang, Kepala Badan SAR Nasional, Nono Sampono dijadwalkan akan tiba di Kaimana dari Ambon menggunakan pesawat Casa TNI-AL, bersama personel penyelam dari Kantor SAR Ambon.
Multi Quote Quote
Kotak Hitam Pesawat Merpati Belum Ditemukan Liputan6.com, Jakarta: Merpati Nusantara Airlines belum bisa memastikan penyebab pasti jatuhnya pesawat tipe MA 60 buatan Cina itu. Sebab, kotak hitam pesawat itu hingga Sabtu (7/5) malam, belum ditemukan. Pesawat Merpati dengan rute Sorong-Kaimana itu mengalami kecelakaan di perairan Kaimana. Tepatnya di laut dekat Bandar Udara Utarung, Kaimana, Papua Barat, Sabtu siang. Saat kejadian pesawat membawa 27 penumpang, yakni enam awak pesawat, 18 penumpang dewasa, satu anak dan dua bayi. Sebanyak 17 jenazah korban tewas telah ditemukan dan sedang diidentifikasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kaimana.
Multi Quote Quote
Kotak Hitam Pesawat Merpati Ditemukan\r\n\r\nTEMPO Interaktif, Jayapura - Kotak hitam Pesawat Merpati MA 60 yang jatuh kemarin sekitar pukul 14.00 WIT akhirnya ditemukan di sekitar lokasi peristiwa. Kotak hitam atau Blackbox yang merekam aktivitas penerbangan itu selanjutnya akan diperiksa pihak berwenang untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat berbaling-baling itu. \r\n\r\n“Sudah ditemukan tadi sekitar pukul 16.00 WIT. Saat ini sementara disimpan di posko,” kata Kepala Polres Kaimana AKBP Antonius Wantri Julianto, Minggu, 8 Mei 2011.\r\n\r\nJulianto mengatakan, kondisi kotak hitam tersebut dalam keadaan baik dan tidak rusak. Tim penyelam menemukan kotak itu dan langsung membawanya ke darat.\r\n\r\nJulianto menambahkan, pencarian jenazah korban masih dilanjutkan hingga malam. “Jika cuaca baik dan tidak hujan, kemungkinan akan terus berjalan sampai seluruh korban ditemukan hari ini.”\r\n\r\nPihaknya telah mengamankan lokasi pencarian dengan memasang police line kurang lebih 200 meter dari lokasi. “Kami turunkan semua personel untuk membantu pengamanan di sini, maksudnya agar jangan sampai ada gangguan selama proses evakuasi.”\r\n\r\nInsiden nahas itu menewaskan pilot Capt Purwandi Wahyu dan Co Pilot Paul Nap. Dua pramugari yang jadi korban adalah Sumaryani dan Indriyana Puspasari. Pesawat tersebut juga membawa dua teknisi, Joko serta Dadi Tarsidik, 18 penumpang dewasa, 2 bayi, dan seorang bocah.\r\n\r\nSementara Kepala Bagian Operasi Polres Kaimana AKP Tedi Effendi, istri, serta anaknya yang ikut tewas dalam kecelakaan pesawat Merpati MA 60 itu telah dikirim ke keluarganya di Kota Sorong, Papua Barat, pagi tadi.
Multi Quote Quote
apakah KPK berani masuk periksa kasus ini ????
Multi Quote Quote
Siapa Saja Negara Pengguna Pesawat M-60? Jakarta - Saat ini ada 189 pesawat jenis M-60 produksi Xi''an Aircraft Industry yang digunakan di dunia. Ada 10 negara di dunia yang menggunakan pesawat buatan China ini. Siapa saja? Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti mengatakan, dari 189 pesawat tersebut, Indonesia mempunyai sekitar 14 pesawat buatan China ini. "Yang menggunakan pesawat ini (MA-60) adalah China, Laos, Zimambwe, Kongo, Zambia, Indonesia, Filipina, Myanmar, Srilangka, dan Tajikistan," tutur Herry kepada detikFinance, Selasa (10/5/2011). Herry mengatakan, sebenarnya tidak ada masalah dalam pembelian pesawat buatan China ini. Namun pihaknya tetap akan mengevaluasi apakah pihak PT Merpati Nusantara Airlines melakukan perawatan pesawat dengan benar. Evaluasi dilakukan pasca kecelakaan yang terjadi di Kaimana, Papua akhir pekan lalu. "Kita tetap evaluasi apakah Merpati melaksanakan perawatan dan pengoperasian pesawat tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku," ucap Herry. Saat ini masalah pembelian pesawat dari China menimbulkan pro dan kontra usai kecelakaan yang terjadi. Setelah kecelakaan, Merpati masih mempunyai 12 pesawat tipe MA-60 ini. Bahkan pada 19 dan 20 Mei 2011 ini Merpati akan mendatangkan pesawat tipe yang sama sebanyak 2 unit. Pesawat milik Merpati yang jatuh di Kaimana tersebut didatangkan dari China pada 3 Desember 2010. Pesawat tersebut mulai beroperasi pada 6 Desember 2010 dengan rute Bali-Nusa. Lalu pada 16 Maret 2011 mulai beroperasi ke Papua. Seperti diketahui, pesawat BUMN aviasi ini jatuh di Teluk Kaimana, Sabtu (7/5/2011). Pesawat MZ-8968 mengangkut 19 penumpang dan 6 orang awak. Sebanyak 17 jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. Dengan ditemukannya 3 jenazah itu, berarti hingga kini sudah 20 jenazah yang ditemukan.
Multi Quote Quote
Dirut Merpati: Jangan Samakan Pesawat China dengan Mocin akarta - Pihak PT Merpati Nusantara Airlines membantah jika pesawat tipe MA-60 buatan Xi''an Aircraft Industry China berkualitas rendah. Menurutnya, China sudah berpengalaman membuat pesawat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5/2011). "Jangan samakan pesawat China dengan Mocin (Motor China). China itu sudah capable. Mereka sudah lama bikin pesawat sudah lebih dulu dari PT DI," kata Jhony. Jhony mengatakan, China sudah bisa memproduksi pesawat sejak 1958. Jauh lebih berpengalaman dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI). "Bahkan mereka sudah membuat bomber sendiri. Dan banyak seperti Airbus dan Boeing yang membuat wing box di sana (China). Inikan (kecelakaan) musibah. Kita lihat dulu seperti apa," tutur Jhony. Saat ini, ujar Jhony, teknisi dari China akan datang untuk mengecek kondisi pesawat MA-60. "Untuk black box (kotak hitam) sudah dikirim ke China. Sebab Singapura tidak bisa membacanya. Nanti malam black box sampai di China," imbuh Jhony.
Multi Quote Quote
Dirut Merpati: Kalau Ada Kesalahan Teknis, Saya Akan Mundur! Jakarta - Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony Tjitrokusumo siap untuk mundur jika terbukti ada kesalahan teknis pada pesawat MA-60 yang jatuh di Kaimana, Papua. "MA-60 itu pesawat yang save (aman). Kalau terbukti ada kesalahan teknis saya akan mengundurkan diri," tutur Jhony di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5/2011). Sementara menanggapi soal penolakan dari Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla soal pembelian pesawat M-60 ini, Jhony tidak mau berdebat panjang. "Kalau Pak JK menolak terserah karena dia tidak terlibat," imbuh Jhony. Dikatakan Jhony, kecelakaan yang terjadi di Kaimana tidak menurunkan minat masyarakat untuk menggunakan pesawat Merpati. "Sejauh ini tidak (terpengaruh). Masih penuh kok," kata Jhony.
Multi Quote Quote
Merpati Dapat 15 Pesawat M-60 dari Kemenkeu Hasil Ngutang Jakarta - Pembelian 15 pesawat tipe M-60 buatan Xi''an Aircraft Industry China bernilai US$ 161 juta. PT Merpati Nusantara Airlines mendapatkan pesawat ini dari Kementerian Keuangan hasil pinjaman dari Bank Of China. Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, asal muasal Merpati mendapatkan pesawat ini. Merpati mendapatkan penerusan pinjaman atau SLA (Subsidiary Loan Agreement) di 2010 sebesar Rp 2,17 triliun dari Kemenkeu berupa alat produksi dan 15 buah pesawat M-60. "Jadi dari total SLA, US$ 13 juta untuk pengadaan simulator full option, sebesar US$ 18 juta untuk pelatihan, sebesar US$ 20 juta untuk alat-alat pendukung operasional, US$ 8 juta untuk pemenuhan KM 43. Dan US$ 161 juta untuk 15 pesawat. Jadi 1 pesawat harganya US$ 11,206 juta," tutur Jhony dalam rapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5/2011). Pesawat ini diterima Merpati pada DEsember 2010 lalu. Saat ini Merpati mengakui mempunyai 13 buah pesawat M-60 dan akan datang lagi 2 unit pada 19 dan 20 Mei 2011. Di tempat yang sama, Sekjen Kemenkeu Mulia Nasution menjelaskan alasan Kemenkeu membeli 15 pesawat buatan China ini. Mulia mengisahkan, pada 2006 lalu Merpati telah menandatangani kontrak untuk pengadaan 15 unit pesawat dari China. Tapi uang pembeliannya baru dituangkan dalam perjanjian SLA. "Pemerintah meminjam uang dari Bank of China kemudian meneruskan kepada Merpati untuk dibayarkan atas pesawat yang sudah diterima yaitu 15 buah," jelas Mulia. Jumlah pinjaman Kemenkeu ke Bank of China berjumlah 1,8 miliar yuan yang kemudian diteruskan ke Merpati. Pemerintah dalam hal ini Kemenkeu mendapatkan bunga 2,5% setahun. Sedangkan pemerintah mengenakan bunga 3% ke Merpati atas utang ini.
Multi Quote Quote
DPR Belum Berhasil Korek Dalang Pembelian M-60 China Jakarta - Komisi XI DPR RI masih mempertanyakan siapa pengambil keputusan dibelinya pesawat buatan China jenis MA-60 yang digunakan oleh Merpati Nusantara Airlines. Komisi XI terpaksa menunda rapat dengar pendapat hingga esok hari dilanjutkan kembali karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Rapat yang dimulai pada pukul 19.30 akhirnya dihentikan pada pukul 22.00 WIB, Selasa (10/5/2011). Rapat dengar pendapat tersebut dilaksanakan di ruang sidang Komisi XI dimana pihak yang diundang adalah Direktur Utama Merpati, Sardjono Jhony Tjitrokusumo, Sekjen Kementerian Keuangan Mulya Nasution, Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Pandu Djajanto dan Direktur Utama PPA Boyke Wibowo Mukijat. Pemanggilan pihak-pihak tersebut oleh Komisi XI terkait adanya PMN (Penyertaan Modal Negara) kepada Merpati yang berjumlah Rp 75 miliar di APBN 2005 dan Rp 450 miliar di APBN 2006 yang digunakan untuk merevitalisasi armada dan peningkatan produktivitas Merpati. "Jelaskan penggunaan dana PMN sebesar Rp 75 miliar dan Rp 450 miliar yang tujuannya untuk revitalisasi armada. Sehingga, diharapkan musibah yang tidak perlu dapat dihindari, selain itu kami juga meminta kepada pejabat BUMN yang hadir di sini untuk menjelaskan proses pembelian, peremajaan armada terkait PMN yang sudah disetujui tersebut," kata pimpinan rapat Harry Azhar Aziz dari Fraksi Golkar. Maka rapat pun berlanjut dengan penjelasan awal dari Sekjen Kemenkeu Mulia Nasution yang menjelaskan satu persatu terkait PMN yang ada pada perusahaan BUMN penerbangan tersebut. Namun berdasarkan penjelasannya, PMN yang senilai Rp 74 miliar dan Rp 450 miliar tersebut tidak ada sangkut pautnya mengenai pembelian pesawat MA 60. "Yang terkait dengan pengadaan pesawat MA 60 adalah, bahwa sehubungan dengan pengadaan MA-60 untuk National Bridge Project, maka pada tahun 2010, kemudian pemerintah menandatangani perjanjian penerusan pinjaman untuk membiayai pengadaan pesawat tersebut," jelas Mulia. Sehingga dikatakan bahwa pembelian MA-60 tersebut berasal dari Subsidiary Loan Agreement (SLA/Penerusan Pinjaman) yang berasal dari Exim Bank Of China dimana dana yang berjumlah 1,8 miliar Yuan diteruskan kepada Merpati. "Kalau di-Rupiahkan jumlahnya kira-kira Rp 2,1 triliun," terang Mulia. Selanjutnya, penjelasan pun dilanjutkan oleh keterangan dari Direktur Utama PPA Boyke Mukijat dan juga Deputi Restrukturisasi Kementerian BUMN, Pandu Djajanto yang menjelaskan terkait hal ihwal yang ada pada permasalahan keuangan Merpati. Hal yang sama juga dilontakan oleh Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo dimana dirinya menyampaikan bahwa pembelian pesawat MA-60 merupakan SLA yang berasal dari Exim Bank Of China. Penjelasannya juga serupa dengan keterangan yang diberikan oleh Mulia Nasution sebelumnya. Namun pihak Komisi XI DPR RI menilai bahwa keterangan-ketarangan tersebut tidak memuaskan. Komisi XI mulai mempertanyakan siapa pengambil keputusan agar membeli pesawat MA-60 buatan China pada waktu itu. "Kami ingin tahu betul siapa yang mengambil keputusan pembelian MA-60 ini," tegas Hari, memotong penjelasan para pihak-pihak yang dipanggilnya. Dari rapat itu terlihat bahwa pihak Komisi XI tidak puas atas penjelasan yang ada. Mereka benar-benar ingin tahu siapa yang mengambil keputusan pembelian pesawat MA-60 tersebut. Baik itu dari penjelasan dari Dirut Merpati maupun Sekjen Kemenkeu ketika ditanya hal tersebut selalu bermuara pada jawaban proses SLA pembelian pesawat MA-60. Namun hingga larut malam, tidak ada yang menjelaskan siapa pihak pengambil keputusan pembelian pesawat tersebut. Sehingga sontak, hal ini membuat Harry yang memimpin rapat dengar pendapat memutuskan untuk menundanya.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...