FPI : Front Pembela Investor !

Satu Keluarga Bunuh Diri Yanuar Nekat Bunuh Anak & Istri Diduga Kalah Main Valas Surabaya - Sedikit demi sedikit polisi menemukan titik terang yang melatar belakangi Yanuar membunuh anak dan istrinya sebelum karyawan kopi Kapal Api ini bunuh diri. Yanuar nekat bunuh diri diduga bangkrut gara-gara bermain valas (Valuta Asing). Dari barang bukti berupa laptop merek Acer yang diamankan, polisi mendapat data-data tentang valas dan bursa saham. Selain menemukan data-data itu, layar laptop milik korban yang diamankan unit identifikasi Polres Surabaya Timur pecah karena terkena pisau. Pecahan di layar itu sepanjang sekitar 8 cm, dan juga terdapat bercak darah. Meski di layar terdapat darah, namun di tombol power tidak terdapat bercak darah, yang ada hanya sidik jari Yanuar. "Ini berarti ia menyalakan laptop sebelum bunuh diri, dan membunuh anak dan istrinya," kata seorang petugas identifikasi Polres Surabaya Timur yang enggan disebut namanya kepada wartawan di Mapolres Surabaya Timur, Jalan Kapasan, Jumat (26/9/200smile. Petugas menduga, setelah membunuh anak dan istrinya, Yanuar bergerak ke laptopnya dan melihat sebentar, lalu memecah layar laptop menggunakan pisau. Setelah itu dia menutup laptop tanpa mematikan. Indikasi ini karena saat diamankan laptop dalam keadaan menyala dan di balik layar terdapat bercak darah. Di dalam laptop itu terdapat data-data tentang valas dan bursa saham. Data ini baru diketahui setelah tim identifikasi membuka laptop tersebut. Sebelumnya, data ini belum diketahui. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Surabaya Timur AKP Hartoyo membenarkan bahwa ada kaitan Yanuar dengan valas. Namun hal itu tidak bisa dijadikan faktor utama yang menyebabkan karyawan Kapal Api itu bunuh diri. "Faktor itu hanya sebagian kecil. Jangan dijadikan alasan utama yang mengaburkan pembunuhan yang diakhiri dengan bunuh diri," ucapnya (bdh/bdh)
Multi Quote Quote
Jadi Korban Krisis, Milyuner Jerman Bunuh Diri Blaubeuren - Krisis finansial telah membuat banyak orang frustasi. Termasuk milyuner Jerman, Adolf Merckle yang memilih bunuh diri setelah kerajaan bisnisnya runtuh diterpa badai krisis. Orang terkaya ke-94 di dunia versi Majalah Forbes itu tewas setelah ditabrak kereta. Petugas mengatakan, Merckle, 74 tahun, meninggalkan kantornya pada Senin (5/1/2009) dan meninggal setelah ditabrak kereta di dekat kota Balubeuren, Jerman. Ia meninggalkan secarik kertas ‘'bunuh diri’' untuk keluarganya. Tidak ada tanda-tanda pihak lain terlibat dalam bunuh diri ini. Hingga Selasa kemarin, ceceran darah Merckle masih ada di hamparan salju di sekitar rel kereta. Polisi telah mengamankan tempat kejadian perkara di wilayah tersebut. "Situasi yang sangat menyedihkan dari perusahaannya akibat krisis finansial, ketidakpastian dalam beberapa pekan terakhir dan ketidakmampuannya untuk bereaksi telah mematahkan kesabaran dan dia memilih mengakhiri hidupnya," demikian pernyataan dari keluarga Merckle seperti dikutip dari Reuters, Rabu (7/1/2009). Merckle, kelahiran Dresden, Jerman tahun 1934, pada usia 30 tahunan mewarisi perusahaan farmasi dari ayahnya yang ketika itu hanya memiliki 80 karyawan. Secara perlahan Merckle berhasil membangun kerajaan bisnisnya hingga memiliki sekitar 100.000 karyawan dengan penjualan tahunan mencapai 30 miliar euro. Pada tahun 2008, Merckle berada di peringkat ke-94 dalam daftar orang paling kaya di dunia versi majalah Forbes. Sementara untuk Jerman, Merckle berada di peringkat ke-5 dengan kekayaan sekitar US$ 9 miliar. Kerajaan bisnis Merckle sangat luas mulai dari semen hingga industri farmasi. Merckle menguasai VEM Holding yang mengontrol perusahaan farmasi Ratiopharm, HeidelbergCement dan salah satu produsen obat terbesar Eropa, Phoenix. Namun ia mengalami kerugian besar saat ‘'bertaruh’' di saham VW, yang mengalami gejolak besar bersamaan dengan industri otomotif lain selama tahun 2008. Sebuah sumber mengatakan bahwa keluarga Merckle mengalami kerugian hingga ratusan juta euro untuk investasinya, dengan kerugian investasi khusus di VW mencapai 400 juta euro. Pihak Merckle juga terus berupaya melakukan negosiasi dengan bank untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Sumber dari kalangan perbankan mengatakan bahwa kematian Merckle diharapkan tidak mempengaruhi kesepakatan utang dengan keluarganya. "Beberapa investor takut bahwa tidak akan ada orang yang memimpin negosiasi selama situasi yang sensitif di perusahaan," ujar seorang pialang di Frankfurt. Kasus bunuh diri Merckle ini sekaligus melengkapi kisah-kisah tragis selama masa krisis finansial. Pada bulan lalu, investor Perancis Thierry Magon de la Villehuchet juga melkukan bunuh diri setelah perusahaannya, Acces International juga mengalami kerugian hingga US$ 1,4 miliar akibat terkena tipu-tipu investasi Bernard Madoff.
Multi Quote Quote
Krisis ekonomi yang melanda AS telah memicu banyak orang berpikiran pendek. Beberapa di antaranya memilih bunuh diri untuk mengatasi masalahnya. Kasus terbaru paling menggemparkan ketika seorang menejer keuangan di California membunuh enam angota keluarganya lalu bunuh diri karena stres tak kunjung mendapatkan pekerjaan, pekan lalu. Kasus lain, seorang janda berusia 90 tahun menembak dadanya sendiri saat petugas datang untuk menyita rumah yang telah ia tempati selama 38 tahun. Di Massachusetts, seorang ibu rumah tangga mengirimkan pesan kepada sebuah perusahaan hipotek: "Jika saat ini Anda menyita rumahku, saya akan mati." Wanita bernama Carlene Balderrama itu kemudian menembak dirinya hingga tewas. Ia meninggalkan sebuah polis asuransi dan pesan bunuh diri di atas meja. Switchboard Miami mencatat terdapat lebih dari 500 permintaan sita tahun ini. Kini, Pemerintah AS cemas krisis keuangan akan meningkatkan aksi kekerasan dan bunuh diri. Karena itu, pemerintah meminta warga yang mengalami masalah segera meminta bantuan. Di beberapa tempat, seperti dilaporkan CNN, Selasa (14/10), hotline kesehatan mental dibanjiri pelanggan. Pelanggan layanan jasa konseling juga meningkat. "Saya mendengar banyak orang mengatakan ini (krisis) paling mencemaskan setelah 9/11 (serangan teroris di WTC menewaskan 3.000 orang)," kata Pendeta Canon Ann Malonee dari Trinity Church di New York. Ketika tidak ada lagi tempat mengadu, banyak orang menelepon hotline pencegahan bunuh diri. Sebuah hotline pencegahan bunuh diri, Samaritans New York, mencatat ada peningkatan penelepon sebanyak 16 persen dibandingkan tahun lalu. Banyak di antaranya karena kasus ekonomi. "Banyak orang mengadu kepada kami, mereka kehilangan segalanya. Mereka kehilangan rumah mereka, mereka kehilangan pekerjaan," kata Virginia Cervasio, direktur eksekutif pusat pencegahan bunuh diri di Lee County, Florida tenggara.
Multi Quote Quote
Case #2 Situasi ekonomi yang suram dituding sebagai penyebab meningkatnya gelombang bunuh diri di Korea Selatan, situasi yang mengulang dampak krisis finansial Asia pada 1997-1998 di negara itu. Para pakar kesehatan di Negeri Ginseng itu menyatakan, sakit mental juga telah merebak di tengah terjungkalnya pasar saham belakangan ini. Kantor berita Yonhap melaporkan, seorang pria berusia 47 tahun di Gwangju, barat daya Korsel, melakukan bunuh diri pada pekan lalu setelah menderita kerugian besar dalam investasinya di pasar saham. Ia ditemukan tergantung di kamar mandi apartemennya pada Jumat lalu, kata Yonhap mengutip laporan polisi setempat. Pria itu menanam modal di pasar saham dengan nilai 370 juta won atau sekitar Rp 3 miliar, dua tahun lalu. Namun, pria itu mengalami kerugian dua pertiganya dari modalnya akibat jatuhnya pasar saham. "Mereka yang mengalami depresi cenderung menyalahkan diri sendiri bila segala hal menjadi kacau. Mereka menyiksa diri akibat kehancuran pasar saham sekalipun krisis itu merupakan krisis global," kata pakar. Bertindak atas petunjuk keluarganya, polisi menemukan pria itu menulis surat pemberitahuan bunuh diri di mobilnya yang diparkir di tempat sepi, dengan seutas kabel melingkar di lehernya. Istrinya dapat diselamatkan setelah minum pil tidur di rumahnya. Pada 9 Oktober, Korea Times melaporkan seorang karyawan perusahaan jasa keamanan berusia 32 tahun ditemukan gantung diri di sebuah penginapan di Seoul. Pria itu juga diduga bunuh diri terkait tumbangnya pasar saham. "Suami saya terus berkata dirinya bersalah di depan keluarga dan ingin mati saja," kata istrinya kepada polisi. Pada hari yang sama, polisi berhasil menggagalkan upaya bunuh diri sepasang suami-istri berusia 60 tahunan, tulis surat kabar itu. Mereka meminjam 100 juta won dari sebuah perusahaan sekuritas pada Oktober lalu dan menanamkannya semua di pasar modal dan modal mereka amblas seketika. "Sekitar 20 persen pasien saya mengeluhkan kepedihan yang mendalam akibat kejatuhan pasar saham. Itulah alasannya mengapa mereka mengalami depresi," kata Ha Jee-Hyun, seorang psikiater di RS Universitas Konkuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa krisis ekonomi global kemungkinan akan menyebabkan naiknya angka bunuh diri dan sakit jiwa, dengan banyak orang sedang berjuang mengatasi kerugian akibat disitanya rumah mereka atau lenyapnya penghasilan mereka
Multi Quote Quote
Nama Vierjamal, 40 tahun, hedge fund manager yang tertarik membeli PT Sarijaya Permana Sekuritas menimbulkan kejutan. Apalagi, nama ini mendadak muncul sebagai investor ketika Sarijaya tengah dirundung masalah. \r\n\r\nNamanya tiba-tiba mencuat saat manajemen Sarijaya jumpa pers pada Rabu lalu di Permata Tower, Jl. Jend Sudirman, Jakarta. Pria yang mengenakan baju batik berwarna coklat memperkenalkan diri sebagai calon investor. Itu terjadi hanya sehari setelah aktivitas Sarijaya dihentikan sementara oleh otoritas bursa Indonesia.\r\n\r\nMenariknya, pada kesempatan tersebut, dalam tempo sekejap, ia mengaku telah disokong oleh tiga calon investor untuk membeli Sarijaya. Dana yang diperlukan sekitar Rp 400 miliar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 250 miliar dipakai untuk recovery asset, sedangkan Rp 150 miliar untuk ekspansi bisnis.\r\n\r\nPertanyaannya, siapa sesungguhnya Vierjamal?\r\n\r\nPria agak tambun ini adalah praktisi yang sudah berkecimpung di bursa saham sejak 15 tahun lalu. "Saya bahkan pernah bangkrut pada 12 tahun lalu sebagai pemain saham di pasar modal," ujar Vierjamal kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat, 9 Januari 2009. Kabarnya, dia pernah bangkrut beberapa miliar rupiah saat main saham di bursa Wall Street.\r\n\r\nNamun, kebangkrutan itu tak mengikis semangat dirinya sebagai investor di bursa saham. "Kalah menang di bursa itu biasa."\r\n\r\nKini, Ketua Indonesia Direct Investor Club ini mengklaim sepak terjangnya banyak dikenal oleh para investor di pasar modal. Buktinya, saat berniat mengakuisisi Sarijaya Sekuritas, banyak calon investor menghubungi dirinya. "Saya dengan mudah menghubungi investor institusi atau perorangan untuk menghimpun dana guna membeli Sarijaya."\r\n\r\nTerkait pembelian Sarijaya ini, Vierjamal mengaku berperan seperti Sandiaga Uno, pemilik Recapital Advisors. Ini sejenis private equity fund, yakni lembaga investasi yang mengincar perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilainya sebelum dijual lagi.\r\n\r\nBegitupun dengan niat pembelian Sarijaya. Jika pembelian sukses, ia akan mempermak ‘'wajah’' Sarijaya. "Setelah nilai perusahaan berkali lipat, saya akan jual lagi ke investor lain," kata dia.\r\n\r\nBertempat tinggal di Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Barat bukan saja dikenal sebagai praktisi pasar modal. Namun, ia juga aktif sebagai pengajar dan pembicara tentang investasi kepada para pemula.\r\n\r\nBahkan, di kota wisata ini, ia memiliki pusat pelatihan investasi, Vier Learning Center di Canadian Broadway CBD 12 Kota Wisata Cibubur. Di sini, pada Sabtu hari ini, 10 Januari 2009, melalui blognya, www.vierjamal.blogspot.com, ia akan menjadi pembicara dalam pelatihan investasi. Topiknya, "Double your money in 2009”\r\n• VIVAnews
Multi Quote Quote
Dari warung sebelah, From: Aryadi <aryadi> Date: Mon, 26 Jul 2010 01:18:18 -0700 (PDT) Subject: Hari ini, saya memutuskan berhenti dari saham Setelah mempertimbangkan baik-baik dan mengaji untung ruginya, akhirnya pada hari ini saya memutuskan untuk berhenti bermain saham. Saya keluar sebagai seorang looser, seorang yang telah kalah bermain. Dana saya saat ini tersisa tinggal 20%, dan hari ini semua portfolio saya yang masih tersisa telah saya jual. Saya telah mempertaruhkan semua uang yang saya miliki, dan rupanya ini bukanlah hal yang bijaksana. Ini adalah kebodohan yang terbesar yang pernah saya lakukan dalam hidup saya. Masih terbayang-bayang jumlah uang ratusan juta yang pernah saya miliki, hasil menabung selama bertahun-tahun yang sekarang telah sirna. Saya tak hendak mengatakan bahwa permainan investasi saham tak menguntungkan. Beberapa orang mungkin jadi kaya dari investasi tersebut. Namun ini lebih tentang saya, saya sangat bodoh untuk menghasilkan uang dari investasi saham tersebut. Jadi, sayalah yang bodoh, bukan bursa saham nya yang salah. Saya telah mencoba membeli saham blue chip, saham lapis kedua, dan saham gorengan. Suatu saat berbuah untung, namun lain saat lebih banyak ruginya. Akhirnya, hari ini, saya memutuskan untuk berhenti bermain saham untuk selamanya. Good luck buat yang lain, semoga Anda tak seperti saya. Wassalam, Adi
Multi Quote Quote
Pemain Saham Berani Itu Akhirnya Bunuh Diri Reporter : Irna Gustia detikcom - Jakarta, Gagal dalam bisnis saham ditambah tanggungan utang nasabah yang sangat besar, seorang pemain saham bernama Yulianus Indrajaya akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menenggak insektisida. Namanya sendiri sempat mengacaukan transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun lalu dengan kasus gagal bayar milyaran rupiah. Bagi kalangan pasar modal, nama Yulianus Indrajaya sangat dikenal. Ia merupakan salah satu pemain saham yang sering memutarkan dana-dana nasabahnya dengan berani. Tapi pada Agustus 2002 sepak terjangnya yang berani di pasar modal terhenti karena ketahuan oleh otoritas bursa dia melakukan perdagangan semu yakni transaksi dimana pembeli dan penjual adalah orang yang sama. Perdagangan semu sendiri jelas-jelas melanggar aturan pasar modal karena menyesatkan kegiatan perdagangan dan merupakan tindakan pidana. Saat itu Yulianus melalui perusahaannya PT Jasabanda Garta melakukan pembelian saham PT Dharma Samudera Fishing Tbk (DSFI) senilai Rp 80 miliar. Saham yang dibeli itu ternyata kemudian digoreng untuk memperoleh keuntungan dengan cara menaikturunkan harga. Sayang, penggorengan saham itu tidak berjalan mulus, bukan untung yang diterima malahan Yulianus tidak bisa membayar saham yang telah dibeli. Akibatnya pada waktu itu dana PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) yang merupakan tempat penyelesaian pembayaran saham nyaris jebol. Kejadian itu sempat memukul pasar modal Indonesia. Dimana jumlah investor di bursa langsung menurun karena takut dananya lenyap dimainkan perusahaan sekuritas. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEJ pun mengalami koreksi karena kasus ini dinilai telah mencoreng wajah pasar modal Indonesia. Yulianus sendiri ditemukan tewas pada Kamis (3/4/2003) di Hotel Ibis Slipi, Jakarta. Polisi mengidentifikasi dia telah melakukan bunuh diri dengan cara menenggak insektisida. Dalam surat wasiat yang ditulisnya, Yulianus mengaku mengambil jalan pintas tersebut karena gagal dalam bisnis saham. Seperti diungkapkan pengacaranya, Indra Sahnun Lubis kepada detikcom, Sabtu (5/4/2003), Yulianus memang sedang dicari-cari oleh nasabahnya. "Jumlah dana nasabah yang dipegangnya kurang lebih Rp 500 miliar dan ini harus segera dibayar," kata Indra. Utang sebanyak itu merupakan dana nasabah dari dana pensiun Bank Mandiri, dana pensiun PT Pos, dana pensiun Jasindo dan sebagainya. "Nasabahnya mungkin 100 lebih yang harus dibayar," kata Indra. Diakui Indra, dana sebesar itu memang salah satunya digunakan oleh Yulianus untuk membayar gagal bayar kepada KPEI yang sudah diselesaikan pada Sepetmber 2002. Hal senada diakui oelh Direktur KPEI Eddy Sugito. "Kewajiban Yulianus kepada KPEI sudah selesai, darimana uangnya saya tidak perlu tahu karena dia memang harus bertanggung jawab," kata Eddy ketika dikonfirmasi Sabtu (5/4/2003). Indra sendiri mengaku menyesalkan tindakan bodoh yang dilakukan Yulianus. "Sebenarnya tidak perlu bunuh diri, utang itu sudah ada penyelesaiannya. Dengan bunuh diri malah seolah menujukkan dia tidak bertanggung jawab dengan nasabahnya," kata Indra yang mengaku sejak satu bulan ini putus komunikasi dengan Yulianus. Untuk menenangkan nasabahnya, menurut Indra, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan rapat dengan manajemen Jasabanda Garta. Yulianus sendiri sebagai pendiri Jasabanda memiliki sejumlah saham di perusahaan itu. Yang jelas, kata Indra, dana nasabah nantinya akan ditanggung bersama oleh direksi Jasabanda lainnya.
Multi Quote Quote
Saham\r\n \r\nWallstreet jatuh, harga saham terjun bebas. Sejumlah pialang saham pun terbanting. Ketika itu, dunia tercengang: orang-orang yang mencari penghasilan atau kekayaan lewat dunia persahaman banyak yang bunuh diri lantaran tiba-tiba jatuh melarat. Itulah Black Monday, 19 Oktober 1987.\r\nToh, salah satu tambang uang ini tak kekurangan peminat. Di samping kisah tragis, cerita sukses tak kurang pula menjadi omongan. Sebut saja Soros, konon meraup miliaran dolar dari permainan saham.\r\n\r\n\r\n\r\nTiba-tiba, seorang pialang saham Indonesia yang cukup besar, lebih dari 16 tahun setelah Black Monday, kedapatan meninggal. Autopsi menyimpulkan ia bunuh diri. Polisi masih menyelidiki lebih lanjut. Sementara itu, ada dugaan ia dibunuh. Inikah tragedi pertama dunia persahaman Indonesia?\r\nTapi berbeda dengan Black Monday, kematian ini tak dimulai dari Bursa Efek Jakarta. Ini bukan tragedi massal, mungkin sebuah urusan yang lebih pribadi, atau persoalan berkaitan dengan perusahaan sang pialang. Bukan karena ekonomi yang memburuk dan saham terjun bebas.\r\n\r\nApa pun persoalannya, dunia persahaman memang berbeda dibandingkan usaha sektor industri, misalnya. Dalam industri, pabrik mobil umpamanya, harga produk tak bisa disetir oleh para agen atau subagen. Perusahaan-lah yang menentukan.\r\n\r\nSedangkan di dunia persahaman, dikenal istilah ”penggorengan” saham. Seorang atau satu kelompok pialang bisa sedemikian rupa memainkan harga saham tertentu hingga naik atau turun di luar perhitungan sehat. Ini tentulah demi keuntungan satu pihak—yang tentu saja bisa dimanfaatkan pula oleh pihak lain, dan sudah tentu ada pula korbannya.\r\nAdakah pialang yang meninggal itu korban goreng-menggoreng ini? Belum jelas benar.\r\n\r\nBagi perusahaan yang go public, penjualan saham adalah cara lain mendapatkan modal murah dibandingkan utang ke bank. Masalahnya kemudian, tak sepenuhnya harga saham dikendalikan oleh penerbitnya. Para pialang siap bermain, sudah tentu dengan perhitungan keuntungan bakal mengalir. Bila peraturan ditaati, sebenarnya go public adalah sebuah cara yang fair untuk mengundang banyak pihak ikut menentukan kebijakan perusahaan yang go public itu. Yang diduga terjadi, goreng-menggoreng menimbulkan jarak hingga antara harga saham dan kinerja perusahaan tak lagi berjalan paralel.\r\n\r\nKiat ”buruk” ini sempat—mungkin sekarang masih, tapi tak seintensif beberapa tahun lalu—menimpa dunia lukisan. Ketika bursa saham dianggap tak cerah, sejumlah pemain saham terjun ke dunia seni lukis: menjadi kolektor. Ini tentu saja bermanfaat mendukung perkembangan seni lukis. Apa lacur, kolektor-kolektor baru nan beruang ini memperlakukan lukisan bak saham: digoreng.\r\n\r\nSyahdan, harga lukisan pun berjarak dengan ”mutu” karya kreatif itu. Karya yang dianggap masih ”mentah” tiba-tiba melejit seharga puluhan juta rupiah, sedangkan karya para empu hanya belasan, malah kurang. Sampai-sampai seorang kritikus berteriak: pasar seni lukis telah memiskinkan kreativitas. Seorang sejarawan seni rupa dari Amerika yang menekuni seni rupa Indonesia pun terkejut dan menulis panjang lebar bahwa pasar seni rupa memerlukan referensi sejarah seni rupa.\r\n\r\nTapi tak ada kolektor yang bunuh diri atau dibunuh. Mungkin karena lukisan bukan saham, masih ada kritikus dan sejarawan yang tanpa pamrih menjadi semacam penjaga moral. Di dunia saham? Uang adalah segalanya.\r\nSebenarnya, di dunia persahaman pun bisa ada semacam kritikus itu. Tragedi Black Monday itu, misalnya, punya ”kritikus” yang kemudian dengan kerja kerasnya menegakkan kembali perdagangan saham. Alan Greenspan, orang itu, Gubernur Bank Sentral Amerika hingga hari ini.\r\n\r\nGreenspan memang mengakui sendiri kepentingannya adalah mempertahankan ekonomi dan nilai dolar. Tapi, di balik itu ada sesuatu yang lain: ia mempertahankannya bukan dengan segala cara. Ada batas, yang memberinya suluh agar tak tersesat. Ia mempertahankan ekonomi dan nilai dolar untuk membuka lapangan kerja. Renungkanlah sedikit jauh, tidakkah sebenarnya Greenspan bekerja untuk kesejahteraan manusia?\r\nKetika itu, tak perlu ada yang dibunuh atau bunuh diri.
Multi Quote Quote
thanks bung binggung for sharing…………… Inti dari cerita cerita di atas adalah INVESTASI DI SAHAM MENGANDUNG RESIKO YANG SANGAT BESAR……………. ANDA DIHARUSKAN MENGERTI KEADAAN INI DAN SIAP MENERIMA KEADAAN INI JIKA TIDAK MEMPERSIAPKAN DIRI SEBAIK BAIKNYA………. INVEST YOUR TIME BEFORE INVEST YOUR MONEY.
Multi Quote Quote
you re welcome bro nok. Bursa saham memang sangat menggiurkan banyak yang kaya dalam waktu cepat tapi banyak juga yang hampir bankrut. Profesor peraih nobel keuangan Myron Scholes dan Robert Merton pun bisa bankrut
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...