Info untuk Waspada dan Hati-hati

Cerita dari temen nich… Sekedar info untuk Waspada dan Hati-hati Today at 10:19am Temen2, hati2 untuk aplikasi credit card.. Ada orang yang nelpon ke handphone untuk menawarkan aplikasi creditcard (kebetulan dia mengaku dari tim marketing credit card BNI). Setelah mendapatkan informasi alamat rumah dll, mereka datang ke rumah dengan alasan untuk mendapatkan tandatangan. Sewaktu kedatangan, mereka meminta untuk mengisi formulir credit card yang asli. Disertai fotokopi KTP dan credit card lainnya, mereka pun pulang. Ternyata beberapa waktu kemudian (sekitar 1mingguan), petugas creditcard Mandiri (kebetulan saya memberikan fotokopi Mandiri dan Citibank) menelpon untuk mengkonfirmasikan aplikasi saya untuk transfer danauntuk kredit tanpa agunan. Mereka membuka rekening di Bank Bumiputra atas nama saya. Untung saja bank mandiri menelpon saya. Transfer pun dibatalkan. Saya pikir semua udah aman, tapi ternyata baru saja saya menerima sms dari citibank bahwa proses perubahan nomor hp saya disetujui. Saya pun kaget,padahal saya gak pernah merubah data saya di citibank. Langsung saya telp citibank dan ternyata memang benar mereka telah merubah nomor hp saya. Mereka telah belajar dari kesalahan di bank mandiri. Terlebih dahulu mereka merubah nomor hp saya, trus mereka melakukan transaksi lainnya. Mereka telah melakukan pembelian 2x voucher simpati dan meng-apply kredit tanpa agunan sebesar 30juta rupiah!!! Gak tau apakah dananya sudah ditransfer atau belum, tapi citibank akan melakukan investigasi. Credit card saya langsung diblokir. Wah… ini sungguh cara penipuan yang canggih. Temen2 harus lebih hati2, jangan pernah apply credit card kepada orang yang gak jelas.
Multi Quote Quote
kiriman dr teman ……………. Semoga kita bisa lebih waspada. Modus Penipuan (berdasarkan pengalaman pribadi) ; harap sebarkan berita ini ke saudara2 / temen2 Anda supaya dapat lebih berhati-hati, jangan sampai termakan oleh trik penipuan ini ! Pada tgl 12 Juni 2010, saya memasang iklan di koran Kompas mengenai rencana penjualan salah satu dari rumah saya. Pada hari yang sama, saya menerima sms sebagai berikut : "Saya Lindah mengenai rumah anda, sudah saya survey dan setujui dengan keluarga. Untuk harga silahkan dibicarakan sama suami saya, 0813-8976-5777 Haryadi. Pengirim sms : 0838-9665-3394, 12 Jun 2010 16:25 WIB" Tertarik dengan sms tsb, saya langsung menelepon ke no HP yg mengaku nama Lindah tapi selalu terdengar : "no telp yang Anda tuju, sedang dialihkan…". Kemudian saya telp ke no. HP Haryadi, berikut pembicaraannya : Haryadi : Oh iya benar Pak, saya memang mau beli rumah Anda, tujuan mau investasi… Kebetulan istri saya sudah merasa sangat cocok dengan lokasi dan kondisi rumah Bapak… Saya sedang di Medan, tapi sebaiknya Bapak negokan dulu harganya dengan saya supaya minggu depan waktu saya balik ke Jakarta, kita bisa langsung selesaikan administrasinya dll. Oknum ini sangat antusias menanyakan soal status kepemilikan rumah, fasilitas di dalam rumah dll dan semuanya saya jelaskan dgn baik. Oknum keliatan semakin senang dan meminta harga "yang hanya turun sedikit" dari harga yang saya tawarkan. Suara oknum terdengar begitu bijak, baik dan profesional. Saya : Soal harga yang Bapak tawar tadi, saya setujui. Tapi tanpa melihat seisi rumah, bagaimana Bapak begitu yakin dengan harga yang Bapak tawar tadi? Haryadi : Oh tak masalah Pak. Istri saya kan sudah survey, jadi kalau istri saya sudah merasa cocok, pasti saya akan setuju. Kalau tidak, buat apa saya bernegosiasi dengan Bapak? OK Pak, nanti kalau sudah jadi, jangan lupa sisakan beberapa item perabotan untuk saya, sebagai bonus atau kenang2an, hehehe… Saya : Tak masalah Pak, bisa diatur. Sampai jumpa nanti setelah Bapak balik dari Medan… Pada tgl. 13 Juni (sekitar jam 12 siang), Haryadi kembali menelepon saya. Haryadi : Hai apa kabar Pak Henry? Senang bisa kembali berbicara dengan Anda. Saya mau sampaikan, kebetulan saya sedang pegang uang sejumlah 25 juta. Bagaimana kl saya transfer aja ke rek bank Bapak sebagai DP tanda jadi supaya Bapak tidak lepas rumah Bapak ke orang lain? Saya : OK, terima kasih Pak. Tapi bagaimana dengan kwitansi tanda terimanya? Saya kirim kemana? Atau saya antar ke Bu Linda? Haryadi : Itu gampang Pak, bisa menyusul. Saya percaya sama Bapak, toh bukti transfernya kan nantinya masih ada di saya.. Tolong sms ke saya no. rekening Bapak sekarang… Saya : Baik Pak, banyak terima kasih. Kemudian saya kirim sms ke org tsb : Rek. BCA saya no. 6550****** atas nama Henry Lore Setengah jam kemudian, Haryadi telp kembali. Haryadi : Pak, barusan saya transfer lewat ATM, tolong check segera dan kabarkan ke saya kalau sudah terima supaya saya merasa tenang… Saya : Baik Pak, saya pergi ke ATM sekarang juga. Dalam perjalanan, pikiran saya saya agak bingung, hari gini kok ada yah orang beli rumah & kirim duit segampang beli kacang goreng? Ada 2 kemungkinan : penipu atau…. pejabat korup yang punya banyak duit mau melakukan money laundry? Akh bodoh amat, toh saya di posisi sbg penerima duit, kaga ada ruginya. Setiba di ATM, ternyata saldo saya masih belum berubah. Saya telp ke Haryadi lagi. Saya : Pak, saya sudah check tapi tak ada dana masuk? Haryadi : Hah??? Masa??? Aduh! padahal tadi saldo saya sudah berkurang 25 juta loh? Ada apa yah?? Saya : Tolong Bapak kirimkan aja bukti transfernya kesaya melalui fax..? Haryadi : kebetulan tadi waktu saya transfer, mesinnya tidak mengeluarkan struk! aduh gimana yah??? 25 juta loh Pak??? (suaranya terdengar gemetar dan panik sekali) Saya : jangan panik dulu Pak, transaksi seperti ini tidak akan terjadi kesalahan. Bapak bisa cetak di buku tabungan Bapak dan kita bisa bersama2 klaim ke BCA hari Senin besok.. bagaimana Pak? Haryadi : Ini kan hari minggu, saya mana bisa tenang Pak diminta tunggu sampai besok? (dgn begitu paniknya dia baca ulang no. rek BCA saya, saya bilang benar. Dia minta saya check ulang, tetap saldo belum ada dana masuk) Saya : begini aja Pak, biar saya telp halo BCA sekarang, menanyakan status transfer Bapak. Haryadi : OK, biar saya aja yg telp skrg. Bapak jangan tutup telp yah, biar kita bicara ber-3 dengan operator halo BCA. Saya dengarkan nada telp masuk : "selamat datang di Halo BCA, tekan 1 untuk layanan bahasa Indonesia bla bla bla ……. sampai tersambung ke operator. Operator : selamat sore dengan Halo BCA ada yang bisa saya bantu? Haryadi : langsung buru2 menceritakan perihal transfer yang tidak saya terima Operator : Oh maaf Pak, jaringan BCA memang sedang ada gangguan. Mohon ditunggu, dana seharusnya akan diterima setelah bbrp jam kemudian.. Haryadi : tapi saya tidak bisa menunggu lama2 Pak, uang 25 juta bukan uang kecil, saya harsu pastikan secepatnya! Operator : kalau Bpk mau cepat, saya bisa minta penerima check melalui ATM, tolong saya bicara langsung dengan beliau. Saya : ini saya penerima Pak, saya sudah mendengar semua percakapan Bapak. Operator : bagus, kalau begitu, coba bapak sekarang masukkan kartu ke ATM, check sekali lagi. Saya : sudah Pak, tetap belum ada dananya. Operator : berapa jumlah saldo Bapak sekarang? Saya : hmmm…. kenapa Bapak tanya soal saldo saya? Operator : mau pastikan aja apakah bapak sudah terima tau belum Saya : emmmm (jawab asal2an), ada saldo 5 juta Pak. Operator : diam sebentar dan… kalau masuk 25 juta harusnya sekarang 30 juta yah? Saya : ya iyalah! masalahnya skrg blm ada yang masuk?! Operator : OK begini aja, supaya cepat untuk mengetahui status transfer, bapak coba tekan "transaksi lain" Saya : Sudah, terus? Operator : terus tekan "transfer" Saya : Pak, saya ini mau check uang masuk! bukan mau kirim uang! Operator : (tiba2 berubah nada bicaranya seperti preman) : bapak kalau dengar belum jelas, jangan kompalin dulu, ngerti???! Saya langsung cubit tangan saya untuk memastikan apakah saya sedang dibawah pengaruh hipnotis. Tapi akh, saya tak percaya mistis begituan. Logika saya masih bekerja normal dan sudah tekad tidak melanjutkan transaksi. Terdengar nada peringatan di ATM, apakah saya masih mau memperpanjang waktu tarnsaksi. Operator : Tuh, sudah bunyi! cepat tekan YA utk memperpanjang waktu, geraknya jgn lambat Pak! (dengan nada setengah membentak). Wuihhh.. sejak kapan yah operator BCA seperti preman & lbh galak dari Customer? Saya tdk menekan YA tapi malah mencabut kartu ATM, taruh di kantong saya tapi masih berpura2 lanjut bertanya. Saya : saya sudah tekan TRANSFER Pak. Operator : bagus! sekarang tekan mata uang Rp! Saya : terus? Operator : nah disitukan muncul kolom yang harusnya diisi dgn jumlah uang yang akan ditransfer, tapi jgn takut Pak, Bapak isi aja dengan nomor ini … 088***721 (saya lupa no persisnya, tp total 9 atau 10 digit). Operator : Setelah itu, kan muncul no rekening yang dituju, nah disitu isi dgn no. rekening bapak sendiri. Saya : loh kenapa saya harus ikut intruksi ini Pak? Operator : (mulai emosi), ITU SUPAYA BAPAK TAU 25 JUTANYA UDAH MASUK ATAU BELUM!! Jgn banyak tanya, ikutin aja petunjuk saya. Kenapa bapak takut sekali dan tak percaya sama saya? saya kan operator??? Toh bapak tidak disuruh masukkan angka duit tapi 088***721 dan tertuju ke no. rek bapak sndri?? ikutin aja dulu, nanti setelah masuk no. rek yang dituju kan msh ada pilihat YA atau CANCEL?? kalau bapak tak setuju, kan belum telat, tinggal telp CANCEL! Saya : Maaf, saya tidak bisa melakukan transaksi diluar normal seperti ini, saya akan telp ke Halo BCA Pusat Pak. Haryadi : tak usah telp lagi Pak! ikutin aja pentunjuk dia, saya yang punya uang merasa tidak tenang tau nggak? (bernada seperti panik dan mau menangis). Saya akui, sandiwaranya hampir mulus tapi bodoh amat. saya putuskan telp. Belum sempat saya tekan telp ke Halo BCA, masuk interupsi telp dari Haryadi sekitar 10X! Cuma 1x yang saya angkat, dia tetap ngotot anjurkan saya tak buang waktu lagi, langsung ikutin operator yang tadi. Saya tutup aja telp nya. Mau marah atau apa terserah, batal beli rumah juga tak masalah! Kemudian telp saya tersambung dgn operator BCA resmi bbrp menit kemudian dan langsung ceritakan dgn ringkas dan jelas mengenai kasus yang saya hadapi. Operator : Perlu Bapak ketahui bahwa, tidak ada sejarahnya seorang operator perbankan diperbolehkan bertanya ttg jumlah saldo milik customer, apalagi menuntun seorang customer melakukan transaksi di depan ATM. Sudah pasti ini percobaan penipuan! No 088***721 yang diperintahkan tsb adalah no / kombinasi angka yang digunakan kriminal sbg pengganti PIN yang dapat membuat saldo Anda berpindah tangan / hilang tuntas setelah anda menekan / memasukkan no. rekening pribadi Anda. Terima kasih. SEtelah itu, saya telp Haryadi, tidak diangkat lagi. Saya kirim sms mengajak Haryadi sama2 kekantor BCA untuk klarifikasi atau bila belum puas, boleh juga ke kantor polisi, sama sekali tidak dibalas lagi. Haryadi dan operator gadungan telah menghilang seperti ditelan hantu. Saya bersyukur kepada Tuhan yang berada di pihak saya dan melindungi saya. Semoga kisah pribadi saya ini bisa dijadikan pengalaman supaya Anda tidak terbuai oleh permainan sandiwara dari orang2 yang tak bertanggung jawab. Best regards, HL
Multi Quote Quote
trima kasih om ed atas infonya yg sangat berguna……… gile yah sekarang canggih amat modus penipuannya :-O :-O
Multi Quote Quote
iya tuh hati2….. saya juga pernah kena modus kaya gitu… mereka bilangnya mau beli barang jualan saya.. harga ga masalah, nanti mau krm lwt atm…. sisanya mirip sm diatas… saya laporin no tlp yg nelpon saya ke telkonsel. saya blg ini penipuan…. jawabannya bkn gondok…. mereka ga bisa apa2 kalo ga ada laporan minimal dari 5/10 orang dah……kalo ga salah… jadi hati2 aja… KALO RAGU/JANGGAL, SEGERA PERGI / BATALKAN….
Multi Quote Quote
trims atas sharingnya
Multi Quote Quote
sama2 trima kasih pula pd Anda skalian, Bung Wandi88chang, Bung Heppi jg Bung Nokiasam1, mohon andai bkenan Anda dan/ rekan2 KSC ikutan sharing, pengalaman dan/ ceritanya, shg dpt bmanfaat dan menambah kewaspadaan kita semua……… salam sejahtra bagi kita semua……… GBU all …………
Multi Quote Quote
Bukan pengalaman pribadi, tetapi dari maillist. Semoga bisa dijadikan pelajaran agar kita lebih berhati-hati. ========================================================= PENIPUAN DI ATM GAYA BARU Peristiwa ini menimpa saya Hari Minggu yang lalu di salah satu ATM Mandiri (sebut saja ATM1). Semoga tidak terulang pada pembaca. Kejadian ini berawal ketika saya mau menarik uang di ATM Mandiri. Seperti kadang-kadang terjadi setelah saya masukkan kartu ATM, layar ATM menyatakan bahwa …..out of service atau ….maaf sementara tidak dapat melayani. Tentu saja saya langsung tekan tombol Cancel untuk membatalkan transaksi. Namun ternyata kartu ATM tidak kunjung keluar walaupun saya ulangi berkali kali dan saya tunggu. Di saat saya berharap kartu ATM segera keluar, tiba-tiba ada seseorang laki-laki (sebut saja Mr X) yang membuka pintu ATM dan tindakan kurang etis ini tentu agak mengejutkan saya. Orang tersebut yang tampil dengan sikap dan wajah innocent (tanpa dosa) dan dengan cukup santai bertanya: Bisa Pak? Kartu saya tadi tertelan pak! Karena merasa senasib, sikap saya berubah dari curiga menjadi welcome. Setelah saya amati, ternyata kartu saya tampak sedikit (kurang lebih satu millimeter) di bibir lobang kartu ATM dan saya berusaha dengan menyelipkan dua kartu tipis untuk menjepit kartu tersebut agar dapat saya keluarkan. Usaha saya itu mendapat respon yang bersahabat dari Mr X dan segera pula ia membantu saya untuk menjepit dengan kertas yang saya gunakan tetapi kartu ATM saya juga tidak berhasil dikeluarkan. Usaha berikutnya dilakukan oleh Mr X dengan menelpon "Bank" (katanya saya telpon bank saja pak, 14000 ya? tanyanya dan tidak saya jawab karena saya konsentrasi dengan usaha saya untuk mengeluarkan kartu ATM). Setelah dia menceritakan apa yang telah terjadi dan salah satu ungkapannya di telepon "kartu saya terganjal oleh bapak setelah saya pak!". Mr X segera menyerahkan HPnya karena pihak "Bank" mau bicara dengan saya. Pihak "Bank" setelah menanyakan beberapa data seperti nama, tanggal lahir, nama ibu kandung segera menuntun saya agar dapat mengeluarkan kartu ATM saya dan tentu saja saya turuti. Tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak; tekan ENTER. Keluar tidak pak? Tanyanya. Tidak, jawab saya. Ok pak saya akan bantu sekali lagi mengeluarkan kartu bapak. Ikuti petunjuk saya tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak (pelan-pelan pak) dan saya sempat berpikir mengapa harus pelan?; tekan ENTER. Singkatnya saya menekan PIN saya sampai sekitar tiga kali yang disaksikan oleh Mr. X. Saya tidak sampai hati meminta Mr X keluar dari ruang ATM karena ia telah meminjami HP dan "menolong saya". Adegan ini berarkhir ketika pihak "Bank" tidak berhasil membantu saya dengan mengatakan: Ok pak, karena kartu bapak tidak bisa keluar, KARTU BAPAK SAYA BLOKIR SAJA DAN SAAT INI KARTU BAPAK SUDAH TIDAK BERFUNGSI. Besuk bapak segera ke Bank Mandiri setempat untuk minta terbitkan kartu baru. Karena merasa aman, saya segera tinggalkan ruang ATM dengan mengucapkan terima kasih kepada Mr. X setelah anak saya segera keluar dari mobil, menyusul ke ruang ATM menanyakan apa yang terjadi (kata saya: kartu sudah diblokir, kita pindah ATM lain saja nak). Untungnya saya tidak menaruh semua telor saya dalam satu keranjang. Masih ada keranjang lain tidak peduli ukurannya. Segera saya menuju ATM (sebut saja ATM2) yang lain karena saya sudah ditunggu di salah satu toko untuk suatu transaksi. Sebelum saya (bersama isteri dan anak saya) masuk ke ATM2 tiba-tiba SMS banking masuk dan menyatakan rekening saya terdebet Rp 1.500.000,-. Ketika itu saya baru sadar (menurut saya bukan karena hipnotis, tetapi logis) bahwa MR X TADI TERNYATA PENIPU dan pihak "Bank" yang bicara dengan saya adalah anggota sindikatnya. Segera saya menuju ATM1 dengan melanggar lampu merah di perempatan jalan sambil menghampiri Polantas setempat. Sampai di tempat kejadian, tentu saja pelaku sudah kabur dan selama saya menuju kembali ke ATM1, rekening saya selalu terdebet hampir setiap setengah menit Rp 1,5 juta dan berkali-kali. Saya berusaha keras untuk memblokir via 14000 tetapi selalu dijawab oleh mesin penjawab dan setelah sekian lama saya baru bisa bicara dengan operator untuk melakukan pemblokiran. Apa boleh buat saat pemblokiran saldo tinggal tersisa Rp 82 ribu. Setelah dihubungi oleh pihak kepolisian, tidak lama berselang petugas ATM Bank Mandiri datang dan membongkar mesin ATM. Ternyata di dalam ruang kartu masuk telah diselipkan SEBATANG KOREK API yang telah dipotong "pentolan" nya. Kata petuga bank: Inilah pak yang membuat kartu bapak tidak bisa masuk….kejadian ini sudah sekitar satu tahun tapi pelakunya belum juga tertangkap.. .. Dia (Mr X) bisa mengeluarkan kartu bapak dengan tang/penjepit kecil…..Minggu lalu juga kejadian. Begitu memasuki hari kerja saya laporkan ke Bank Mandiri dan petugas Customer Service menyatakan kasus ini baru pak (wah rupanya pihak bank ketinggalan juga, red) setelah dicek transaksi penarikan (oleh Mr X cs) tiga kali Rp1,5jt; 1xRp500rb; dan karena maksimum penarikan per hari Rp5jt, sisanya dihabiskan untuk belanja kilat (mungkin di toko emas) tentu dengan memalsukan tanda tangan saya. Maaf pembaca, total kehilangan tidak perlu saya beberkan semua, yang jelas tinggal Rp82rb alias habis dalam waktu transaksi 17 menit. KESIMPULAN: 1. Sindikat penipu memilih ATM yang terpencil, bukan yang di kantor bank dan/ atau yang ada security-nya. 2. Mereka memilih hari libur agar nasabah tidak dapat menghubungi bank setempat. TIP AGAR HAL SERUPA TIDAK TERULANG PADA PEMBACA: 1. Gunakan ATM yang ada Bank-nya atau yang dekat security, hindari ATM terpencil walaupun di ATM terpencil kita tidak perlu antre. 2. Jika kartu macet dan tidak bisa keluar dengan usaha sendiri, tinggalkan saja karena orang lain tidak bisa menggunakan tanpa mengetahui PIN-nya dan segera lapor ke bank setempat (tentu pada hari kerja). 3. Pada saat pembaca panik karena jadwal padat, ditunggu dalam waktu singkat, sehingga secara emosional tidak stabil, mungkin juga sedang berantem sebaiknya hindari transaksi menggunakan ATM karena daya analisa menurun dan sangat memungkinkan terjadi kesalahan. 4. (Walau yang keempat ini tidak terkait dengan sub judul di atas) rekening yang ber kartu ATM batasi jumlahnya. Yang lain simpan saja di rekening tanpa kartu ATM dan jika terlanjur diberikan kartu ATM, kembalikan saja ke bank dan bertransaksilah via kasir. Mohon maaf jika pembaca tersita waktunya untuk membaca ulasan peristiwa ini terutama bagi yang telah mendengar peristiwa serupa sebelumnya. Jika kurang bermanfaat bagi pembaca, berikan (forward) info ini kepada rekan yang lain, siapa tahu mereka membutuhkan. Terima kasih. Jika suatu saat info ini sampai kepada Mr. X yang telah menipu saya, saya berpesan carilah uang dengan cara lain karena melalui jerih payah, hasil akan lebih bisa dinikmati. Anda berkualitas dalam mendapatkan uang cepat, namun kualitas hendaknya memenuhi 5 indikator keseimbangan yaitu QCDSM (Quality, Cost, Delivery, Safety, Morale). Anda baik dari sisi Quality (cerdik); anda baik dari sisi Cost (dengan biaya rendah, hanya sebatang korek api); anda baik dari sisi Delivery (dapat uang dalam waktu cepat); tapi dari sisi Safety (anda aman….tapi hanya sementara lho); dan dari sisi Morale (sayang angkanya cuma nol) karena melanggar norma.
Multi Quote Quote
iya tuh hati2….. saya juga pernah kena modus kaya gitu… mereka bilangnya mau beli barang jualan saya.. harga ga masalah, nanti mau krm lwt atm…. sisanya mirip sm diatas… saya laporin no tlp yg nelpon saya ke telkonsel. saya blg ini penipuan…. jawabannya bkn gondok…. mereka ga bisa apa2 kalo ga ada laporan minimal dari 5/10 orang dah……kalo ga salah… jadi hati2 aja… KALO RAGU/JANGGAL, SEGERA PERGI / BATALKAN…. kk heppi jualan barang apa ?
Multi Quote Quote
iya tuh hati2….. saya juga pernah kena modus kaya gitu… mereka bilangnya mau beli barang jualan saya.. harga ga masalah, nanti mau krm lwt atm…. sisanya mirip sm diatas… saya laporin no tlp yg nelpon saya ke telkonsel. saya blg ini penipuan…. jawabannya bkn gondok…. mereka ga bisa apa2 kalo ga ada laporan minimal dari 5/10 orang dah……kalo ga salah… jadi hati2 aja… KALO RAGU/JANGGAL, SEGERA PERGI / BATALKAN…. kk heppi jualan barang apa ? escort cungkuo… :p
Multi Quote Quote
Bukan pengalaman pribadi, tetapi dari maillist. Semoga bisa dijadikan pelajaran agar kita lebih berhati-hati. ========================================================= PENIPUAN DI ATM GAYA BARU Peristiwa ini menimpa saya Hari Minggu yang lalu di salah satu ATM Mandiri (sebut saja ATM1). Semoga tidak terulang pada pembaca. Kejadian ini berawal ketika saya mau menarik uang di ATM Mandiri. Seperti kadang-kadang terjadi setelah saya masukkan kartu ATM, layar ATM menyatakan bahwa …..out of service atau ….maaf sementara tidak dapat melayani. Tentu saja saya langsung tekan tombol Cancel untuk membatalkan transaksi. Namun ternyata kartu ATM tidak kunjung keluar walaupun saya ulangi berkali kali dan saya tunggu. Di saat saya berharap kartu ATM segera keluar, tiba-tiba ada seseorang laki-laki (sebut saja Mr X) yang membuka pintu ATM dan tindakan kurang etis ini tentu agak mengejutkan saya. Orang tersebut yang tampil dengan sikap dan wajah innocent (tanpa dosa) dan dengan cukup santai bertanya: Bisa Pak? Kartu saya tadi tertelan pak! Karena merasa senasib, sikap saya berubah dari curiga menjadi welcome. Setelah saya amati, ternyata kartu saya tampak sedikit (kurang lebih satu millimeter) di bibir lobang kartu ATM dan saya berusaha dengan menyelipkan dua kartu tipis untuk menjepit kartu tersebut agar dapat saya keluarkan. Usaha saya itu mendapat respon yang bersahabat dari Mr X dan segera pula ia membantu saya untuk menjepit dengan kertas yang saya gunakan tetapi kartu ATM saya juga tidak berhasil dikeluarkan. Usaha berikutnya dilakukan oleh Mr X dengan menelpon "Bank" (katanya saya telpon bank saja pak, 14000 ya? tanyanya dan tidak saya jawab karena saya konsentrasi dengan usaha saya untuk mengeluarkan kartu ATM). Setelah dia menceritakan apa yang telah terjadi dan salah satu ungkapannya di telepon "kartu saya terganjal oleh bapak setelah saya pak!". Mr X segera menyerahkan HPnya karena pihak "Bank" mau bicara dengan saya. Pihak "Bank" setelah menanyakan beberapa data seperti nama, tanggal lahir, nama ibu kandung segera menuntun saya agar dapat mengeluarkan kartu ATM saya dan tentu saja saya turuti. Tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak; tekan ENTER. Keluar tidak pak? Tanyanya. Tidak, jawab saya. Ok pak saya akan bantu sekali lagi mengeluarkan kartu bapak. Ikuti petunjuk saya tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak (pelan-pelan pak) dan saya sempat berpikir mengapa harus pelan?; tekan ENTER. Singkatnya saya menekan PIN saya sampai sekitar tiga kali yang disaksikan oleh Mr. X. Saya tidak sampai hati meminta Mr X keluar dari ruang ATM karena ia telah meminjami HP dan "menolong saya". Adegan ini berarkhir ketika pihak "Bank" tidak berhasil membantu saya dengan mengatakan: Ok pak, karena kartu bapak tidak bisa keluar, KARTU BAPAK SAYA BLOKIR SAJA DAN SAAT INI KARTU BAPAK SUDAH TIDAK BERFUNGSI. Besuk bapak segera ke Bank Mandiri setempat untuk minta terbitkan kartu baru. Karena merasa aman, saya segera tinggalkan ruang ATM dengan mengucapkan terima kasih kepada Mr. X setelah anak saya segera keluar dari mobil, menyusul ke ruang ATM menanyakan apa yang terjadi (kata saya: kartu sudah diblokir, kita pindah ATM lain saja nak). Untungnya saya tidak menaruh semua telor saya dalam satu keranjang. Masih ada keranjang lain tidak peduli ukurannya. Segera saya menuju ATM (sebut saja ATM2) yang lain karena saya sudah ditunggu di salah satu toko untuk suatu transaksi. Sebelum saya (bersama isteri dan anak saya) masuk ke ATM2 tiba-tiba SMS banking masuk dan menyatakan rekening saya terdebet Rp 1.500.000,-. Ketika itu saya baru sadar (menurut saya bukan karena hipnotis, tetapi logis) bahwa MR X TADI TERNYATA PENIPU dan pihak "Bank" yang bicara dengan saya adalah anggota sindikatnya. Segera saya menuju ATM1 dengan melanggar lampu merah di perempatan jalan sambil menghampiri Polantas setempat. Sampai di tempat kejadian, tentu saja pelaku sudah kabur dan selama saya menuju kembali ke ATM1, rekening saya selalu terdebet hampir setiap setengah menit Rp 1,5 juta dan berkali-kali. Saya berusaha keras untuk memblokir via 14000 tetapi selalu dijawab oleh mesin penjawab dan setelah sekian lama saya baru bisa bicara dengan operator untuk melakukan pemblokiran. Apa boleh buat saat pemblokiran saldo tinggal tersisa Rp 82 ribu. Setelah dihubungi oleh pihak kepolisian, tidak lama berselang petugas ATM Bank Mandiri datang dan membongkar mesin ATM. Ternyata di dalam ruang kartu masuk telah diselipkan SEBATANG KOREK API yang telah dipotong "pentolan" nya. Kata petuga bank: Inilah pak yang membuat kartu bapak tidak bisa masuk….kejadian ini sudah sekitar satu tahun tapi pelakunya belum juga tertangkap.. .. Dia (Mr X) bisa mengeluarkan kartu bapak dengan tang/penjepit kecil…..Minggu lalu juga kejadian. Begitu memasuki hari kerja saya laporkan ke Bank Mandiri dan petugas Customer Service menyatakan kasus ini baru pak (wah rupanya pihak bank ketinggalan juga, red) setelah dicek transaksi penarikan (oleh Mr X cs) tiga kali Rp1,5jt; 1xRp500rb; dan karena maksimum penarikan per hari Rp5jt, sisanya dihabiskan untuk belanja kilat (mungkin di toko emas) tentu dengan memalsukan tanda tangan saya. Maaf pembaca, total kehilangan tidak perlu saya beberkan semua, yang jelas tinggal Rp82rb alias habis dalam waktu transaksi 17 menit. KESIMPULAN: 1. Sindikat penipu memilih ATM yang terpencil, bukan yang di kantor bank dan/ atau yang ada security-nya. 2. Mereka memilih hari libur agar nasabah tidak dapat menghubungi bank setempat. TIP AGAR HAL SERUPA TIDAK TERULANG PADA PEMBACA: 1. Gunakan ATM yang ada Bank-nya atau yang dekat security, hindari ATM terpencil walaupun di ATM terpencil kita tidak perlu antre. 2. Jika kartu macet dan tidak bisa keluar dengan usaha sendiri, tinggalkan saja karena orang lain tidak bisa menggunakan tanpa mengetahui PIN-nya dan segera lapor ke bank setempat (tentu pada hari kerja). 3. Pada saat pembaca panik karena jadwal padat, ditunggu dalam waktu singkat, sehingga secara emosional tidak stabil, mungkin juga sedang berantem sebaiknya hindari transaksi menggunakan ATM karena daya analisa menurun dan sangat memungkinkan terjadi kesalahan. 4. (Walau yang keempat ini tidak terkait dengan sub judul di atas) rekening yang ber kartu ATM batasi jumlahnya. Yang lain simpan saja di rekening tanpa kartu ATM dan jika terlanjur diberikan kartu ATM, kembalikan saja ke bank dan bertransaksilah via kasir. Mohon maaf jika pembaca tersita waktunya untuk membaca ulasan peristiwa ini terutama bagi yang telah mendengar peristiwa serupa sebelumnya. Jika kurang bermanfaat bagi pembaca, berikan (forward) info ini kepada rekan yang lain, siapa tahu mereka membutuhkan. Terima kasih. Jika suatu saat info ini sampai kepada Mr. X yang telah menipu saya, saya berpesan carilah uang dengan cara lain karena melalui jerih payah, hasil akan lebih bisa dinikmati. Anda berkualitas dalam mendapatkan uang cepat, namun kualitas hendaknya memenuhi 5 indikator keseimbangan yaitu QCDSM (Quality, Cost, Delivery, Safety, Morale). Anda baik dari sisi Quality (cerdik); anda baik dari sisi Cost (dengan biaya rendah, hanya sebatang korek api); anda baik dari sisi Delivery (dapat uang dalam waktu cepat); tapi dari sisi Safety (anda aman….tapi hanya sementara lho); dan dari sisi Morale (sayang angkanya cuma nol) karena melanggar norma. atas kesediaan Anda berbagi, thank''s bung Nokiasam1, ……….. posting Anda pasti memberi manfaat & menambah wawasan saya …… mohon ijin buat copas, bagi2 keteman y lain. selamat ber week end & GBU all ………..
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...