Dahlan Iskan : Kerja, Kerja, Kerja...........

Dukung Dahlan Iskan, :applause: Berantas semua mafia di PLN :applause: :applause: :applause:
Multi Quote Quote
Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya? Oleh : Dahlan Iskan/ Direktur Utama PLN RASANYA tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi pada akhir bulan Januari 2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu lamanya. Tapi, itulah kenyataannya. Tanggal 30 Januari 2010 kemarin, ada satu kawasan kecil di Surabaya (tepatnya di sebuah RT di Tenggilis Mejoyo, Surabaya) listrik mati sejak pukul 15.00 dan baru hidup pukul 24.00. Itu saya ketahui dari SMS yang masuk ke HP saya. Saat itu masih pukul 17.00, berarti mati lampunya sudah dua jam. Saat itu saya lagi di ruang rapat kantor PLN pusat. Saya lagi membaca sebuah konsep perubahan pelayanan pelanggan PLN yang tenunya juga membahas soal mati lampu yang menjadi keluhan utama pelanggan. Menurut konsep tersebut, penyebab utama kejadian mati lampu yang bersifat lokal seperti di Tenggilis itu umumnya akibat kerusakan trafo 200 kva (trafo untuk melayani sekitar 200 sampai 500 rumah). Ketika saya tiba di Surabaya Jumat tengah malam, saya bertekad keesokannya saya harus ke lokasi yang mati lampu itu. Saya harus tahu secara detail apa yang terjadi di Tenggilis Mejoyo tersebut. Ini penting karena semua kasus mati lampu di mana pun kira-kira penyebabnya sama. Kalau saya bisa menghayati apa yang terjadi di Tenggilis tersebut, tentu saya bisa memperoleh gambaran begitulah yang terjadi di seluruh Indonesia. Sebenarnya, saya sendiri bertekad tidak akan mendalami dulu masalah-masalah distribusi dan pelayanan pelanggan seperti ini. Saya berencana baru akan mendalaminya mulai April mendatang. Yakni, harus menyelesaikan dulu masalah-masalah yang terjadi di hulu dan yang lebih mendasar. Misalnya, soal kekurangan gas 1 juta mmbtu setiap hari. Atau, bagaimana mengatasi kekurangan daya (strum) di luar Jawa. Atau, bagaimana memperbaiki sistem pengadaan barang/jasa yang harus lebih hemat. Tahun ini, PLN harus membeli barang/jasa lebih dari Rp 70 triliun. Alangkah besarnya. Saya ingin agar pembelian tersebut jangan sembarangan. Perlu langkah penghematan yang nyata dalam membelanjakan uang sebanyak itu. Kalau masalah-masalah mendasar tersebut sudah tertata, barulah saya bertekad mendalami persoalan yang menyangkut peningkatan pelayanan pelanggan. Tapi, kejadian mati lampu di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya selama 10 jam yang tidak masuk akal itu membuat saya harus mengetahui detail persoalannya. Mungkin saya belum akan melakukan perbaikan, tapi setidaknya sudah mengetahui akar masalahnya. Apalagi, beberapa masalah mendasar memang sudah berhasil ditata. Perjuangan untuk pengadaan gas yang bisa menghemat dana Rp 15 triliun per tahun itu sudah menunjukkan hasil. Pemerintah sudah memutuskan bahwa mulai September tahun depan PLN bisa mendapatkan kekurangan seluruh gas yang diinginkan. Gambaran bagaimana mengatasi krisis listrik luar Jawa juga sudah selesai dipetakan dan dibuatkan road map-nya. Bahkan, sistem baru pengadaan barang/jasa juga mulai berjalan. Hasilnya luar biasa: pengadaan barang strategis pertama yang kami lakukan minggu lalu (satu jenis barang saja) sudah bisa menghemat lebih dari Rp 50 miliar. Barang yang dulu harus kita beli dengan harga Rp 120 miliar/buah, dengan sistem baru itu, bisa kita beli dengan harga Rp 65 miliar/buah. Hemat Rp 55 miliar untuk satu barang. Maka, ketika ada berita mati lampu selama 10 jam di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya, saya menyelipkan agenda ini di sela-sela kesibukan saya yang sangat padat selama sebulan menjabat Dirut PLN ini. Tidak masuk akal ada peristiwa mati lampu 10 jam! Tapi, itulah kenyataannya. Saya khawatir kejadian ini tidak hanya terjadi di Tengglis Mejoyo. Saya khawatir kejadian serupa juga terjadi di Bekasi, Bantul, atau daerah lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sabtu pagi kemarin, pukul 06.30 WIB, saya minta salah seorang manajer PLN menemani saya ke Tenggilis Mejoyo. Saya hanya mau ditemani manajer yang paling bawah yang tahu persis keadaan lapangan. Tidak perlu ditemani para pimpinan PLN tingkat atas. Toh, saya tidak bermaksud melakukan inspeksi atau sidak. Saya benar-benar hanya ingin belajar memahami apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan apakah bisa dicarikan jalan keluar yang sifatnya lebih mendasar dan lebih berlaku umum. Yakni, jalan keluar yang bisa diterapkan untuk mengatasi persoalan yang sama di seluruh Indonesia. Mula-mula saya minta diantar ke sebuah rumah pelanggan di Tenggilis Mejoyo yang lampunya mati 10 jam itu. Saya ingin menelusuri persoalan dari yang paling bawah sampai yang paling pokok. Di rumah pelanggan tersebut, saya minta ditunjukkan sistem kabelnya. Lalu, ke mana alirannya. Terus, ke mana lagi dan ke mana lagi. Sampai akhirnya ke gardu induk. Kabel listrik di sebuah rumah selalu berasal dari satu tiang yang ada di depan rumah tersebut. Itulah yang disebut tiang TR (tegangan rendah). Saya menyebutnya tiang pembagi. Satu tiang seperti itu melayani 6 atau 8 rumah. Di ujung atas tiang TR tersebut ada 8 buah konektor. Masing-masing untuk satu rumah. Kalau misalnya ada kejadian hanya satu rumah yang mati lampu, persoalannya ada di konektor itu. Biasanya konektor ke rumah tersebut terbakar. Penyebab terbakarnya konektor adalah karena ‘'’'gigitan'''' konektornya merenggang. Karena renggang itulah, konektornya panas sekali, lalu terbakar. Mengapa ‘'’'gigitan'''' konektor tersebut merenggang? Ini umumnya disebabkan saat pemasangannya dulu kurang teliti dan kurang sempurna. Dalam satu kawasan setingkat kira-kira satu kecamatan, terjadi kebakaran konektor rata-rata 10 kali sehari. Karena pemasangan konektor itu dilakukan kontraktor, persoalan pokoknya adalah: bagaimana PLN harus mengontrol para kontraktor. Dari tiang-tiang TR tersebut, saya terus menelusuri dari mana kabelnya berasal. Maka, penelusuran sampailah ke trafo 200 kva. Yakni, trafo berbentuk kotak besi yang biasanya dipasang di pinggir jalan, di sela-sela dua tiang yang berjarak sekitar 1,5 meter. Trafonya sendiri ada di bagian atas, sedangkan kotak besinya itu instalasinya. Satu trafo tersebut melayani sekitar 30 sampai 50 tiang TR. Dalam hal kejadian mati lampu 10 jam di Tenggilis Mejoyo tersebut, penyebabnya adalah rusaknya trafo 200 kva itu. Yakni, sebuah trafo di pinggir jalan di dekat sebuah sekolahan. Mengapa trafo itu rusak? Lama saya berada di trafo tersebut. Tapi, tidak berhasil mendapat jawaban. Trafo yang rusak itu sudah dilepas dan sudah dibawa ke gudang di Sukolilo. Saya hanya bisa melihat trafo yang baru yang sudah terpasang. Apakah trafo yang dipasang itu sama dengan trafo yang rusak? Dari segi spesifikasinya sama. Tapi, mereknya berbeda. Oh, saya tahu bahwa ada merek-merek tertentu yang kualitasnya lebih rendah daripada merek-merek lainnya. Ini persoalan mendasar yang harus dipecahkan kelak: bagaimana memilih trafo yang baik. Tapi, mengapa mengganti trafo seperti itu memerlukan waktu mati lampu sampai 10 jam? Bukankah cukup 3 jam? Ternyata, ada persoalan lain: PLN baru tahu kawasan itu mati lampu setelah pukul 19.00! Padahal, matinya sudah sejak pukul 15.00. Berarti, ketika mati lampu sudah berlangsung 4 jam, belum ada yang tahu. Seperti orang stroke yang mati di dalam kamar mandi saja. PLN baru tahu bahwa ada kematian mendadak itu setelah seorang warga Tenggilis mengadu ke kantor PLN pukul 19.00. Alangkah mengecewakannya. Sudah mati selama 4 jam, PLN belum tahu. Warga tentu mengira PLN sudah tahu. Sedangkan PLN mengira sepanjang tidak ada warga yang mengadu, berarti tidak ada yang mati. Oh, saya tahu ada masalah berat di sini: masalah komunikasi dan sistem komunikasinya. Maka, saya bertanya ke petugas PLN yang mendampingi saya. Yakni, Ir Mukhtar yang lulusan Fakultas Elektro Unhas: Mungkinkah di dalam kotak trafo tersebut dipasangi komputer, sehingga kalau trafonya rusak PLN otomatis tahu? Sehingga tidak perlu menunggu ada warga yang mengadu? Ir Mukhtar memang bukan orang yang harus bertanggung jawab di kawasan tersebut. Wilayah tugasnya di Sidoarjo. Tapi, hari itu dialah yang bisa mendampingi saya. Jawab Mukhtar ternyata mengejutkan saya. Petugas PLN tersebut punya solusi yang lebih sederhana. Sebuah solusi yang dia sudah tahu, tapi tidak berdaya untuk melakukannya. Dia mengusulkan agar di luar kotak trafo 200 kva tersebut dipasangi meteran digital. Tujuannya banyak: bisa memberi sinyal kepada bagian pengaduan PLN, bisa melaporkan kondisi trafo setiap saat, dan bisa pula mengontrol beban di wilayah itu, sehingga bisa langsung tahu kalau terjadi kasus kelebihan beban. Oh, saya tahu: Ada teknologi yang bisa mengatasi kematian yang diketahui orang seperti itu. Mengapa sebuah trafo hanya melayani 50-an tiang konektor? Tidak bisakah beberapa trafo 200 kva itu digabung ke sebuah trafo yang lebih besar? Agar jumlah trafo tidak terlalu banyak, sehingga mengontrolnya lebih mudah? Ini menarik untuk diperdebatkan. Tapi, saya memaklumi mengapa trafo kecil banyak dipakai. Trafo kecil itu mula-mula diperlukan karena dulunya perumahan di situ masih sedikit. Kian lama rumahnya kian banyak. Trafo kecil tersebut tidak cukup lagi. Lalu, dibangun trafo kecil lainnya tidak jauh dari situ. Tapi, jumlah rumah masih terus bertambah lagi. Maka, trafo pun ditambah lagi, ditambah lagi. Begitulah seterusnya, sehingga terlalu banyak trafo kecil di mana-mana. Terlalu banyaknya trafo kecil 200 kva tersebut membuat kontrol dan pemeliharaannya kian sulit. Rupanya, karena itu kontrol dan pemeliharaan trafo tersebut diserahkan ke pihak swasta. Outsourcing, istilahnya. Apakah pemeliharaan trafo itu cukup? Petugas PLN yang mendampingi saya mengatakan sudah cukup. Swasta yang melakukan pekerjaan itu selalu melaporkan datanya. Hanya, saya agak kaget ketika diberi tahu bahwa kontrol yang disebutkan cukup itu ternyata ini: enam bulan sekali. Itulah kontrak yang dilakukan antara PLN dengan swasta yang melakukan tugas kontrol tersebut. Oh, saya tahu: Saya harus belajar banyak lagi apakah kontrol trafo setahun dua kali itu cukup? Apakah laporan hasil kontrol itu juga dikontrol dengan baik? Saya lalu minta diantar ke gudang yang dipakai menyimpan trafo rusak tersebut. Letaknya cukup jauh, tapi penelusuran ini harus sampai pada ujungnya. Di gudang itulah saya melihat bahwa trafo yang rusak tersebut masih teronggok di luar gudang. Masih belum dianalisis apa penyebab kerusakannya. Mungkin juga tidak pernah dianalisis. Trafo itu dari jenis/merek yang kurang disukai oleh para operator PLN karena tidak sebagus trafo yang lain. Tapi, dia tidak berdaya untuk tidak memakainya karena urusan memilih trafo bukan kewenangannya. Dari penelusuran kabel-kabel mulai rumah pelanggan sampai gardu induk tersebut, saya benar-benar belajar sistem distribusi listrik yang sangat mendasar. Terlalu banyak ide untuk mengubahnya. Tapi, saya mengambil kesimpulan tetap lebih baik kalau saya memprioritaskan pembenahan hulu-hulunya dulu. Maafkan saya. Pembenahan di hilir tidak akan ada artinya (bahkan membuat frustrasi saja) kalau hulunya belum dibenahi dulu. Begitulah urutan berpikir dan bertindaknya. (*)
Multi Quote Quote
Ide yg baik bila Direktur2 BUMN mulai ngeblog utk menceritakan tindakan2 yg diambil dan pengalaman2 selama bertugas seperti yg ditulis diatas.
Multi Quote Quote
CURI LISTRIK SAJA. SETTING DAN PERALATANNYA CUMA 3.5 JUTA. AMAN DAN SULIT DILACAK. DARIPADA PLN DIGEMBOSIN OLEH OKNUM-OKNUMNYA, LEBIH BAIK KITA YANG IKUT GEMBOSIN! Wakaka ketahuan nih maling listrik.
Multi Quote Quote
Ide yg baik bila Direktur2 BUMN mulai ngeblog utk menceritakan tindakan2 yg diambil dan pengalaman2 selama bertugas seperti yg ditulis diatas. sering kok pln kayak gitu, pengen listrik naik, jakarta dibuat byar pett, pengen utang ada-ada aja yg dirusak, junjungannya ga beres sih………. suka teror :peace: cidukin aja pimpinan pln yg sarat korupsi, termasuk kasus yg dulu dibekuin bongkar lagi………
Multi Quote Quote
Listrik Padam, Demo KNPI di Kantor PLN Ricuh Liputan6.com, Ambon: Kesal dengan pemadaman listrik oleh PLN selama 10 jam setiap hari, sejumlah pemuda yang mengaku dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), berdemo di kantor PLN wilayah Maluku, di kawasan Tugu Trikora, Ambon. Aksi sekelompok pemuda ini diwarnai kericuhan, karena pendemo merobohkan pagar kantor PLN. Kericuhan bermula saat pendemo memaksa masuk ke dalam kantor PLN yang sudah mendapat pengawalan polisi. Karena dihalangi polisi, terjadi saling dorong antarkedua belah pihak. Polisi bahkan berupaya menghalau pendemo keluar dari kawasan perkantoran PLN. Tidak terima dengan pengusiran ini, pendemo merangsek masuk dengan merobohkan pagar kantor. Belum puas, mereka juga membakar berbagai atribut aksi di pintu masuk gedung. Beruntung, polisi bergerak cepat mematikan kobaran api, sehingga kebakaran di depan gedung bisa dihindari. Dalam aksi ini, pendemo menagih janji PLN, yang sebelumnya menjamin tidak akan ada pemadaman listrik pada 2010. Selain itu, mereka juga mendesak manajemen PLN wilayah Maluku mengganti kerugian yang diderita pelanggan, akibat pemadaman listrik setiap hari. Sayangnya aksi ini tidak mendapat tanggapan dari pihak manajemen. Pendemo akhirnya melanjutkan aksi simpatik di jalan raya, dengan membagikan lilin kepada pengguna jalan, sebagai simbol penderitaan warga atas krisis listrik di Ambon. (ETA)
Multi Quote Quote
Mahasiswa Demo Bakar Ban Depan PLN NILAH.COM, Ambon - Puluhan mahasiswa di Kota Ambon, sejak sore hingga Senin malam (1/2) menggelar demo depan kantor perwakilan PLN Kota Ambon. Mereka memprotes listrik yang hanya menyala 4 jam dalam sehari. Para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi itu berdemo tepat di depan kantor perwakilan PLN Kota Ambon, Senin (1/1) sejak sore sampai malam. Mereka juga membakar ban bekas hingga menarik perhatian masyarakat. Para mahasiswa itu menuduh bahwa pemadaman listrik di Kota Ambon sudah tidak wajar. Selama ini, di Kota Ambon dilakukan pemadaman bergiliran. Tiap hari, listrik hanya menyala 4 jam untuk tiap wilayah yang tidak dipadamkan. Akibatnya, situasi ekonomi dan sosial masyarakat Kota Ambon lumpuh. Menurut keterangan beberapa petugas PLN, situasi pemadaman ini sulit diatasi. Kemungkinan, listrik di Kota Ambon akan normal pada bulan Juli nanti
Multi Quote Quote
Rabu, 10/02/2010 20:41 WIB Pelanggan PLN di Atas 6.600 VA Mulai Merasakan Tarif Listrik Baru Jakarta - Pelanggan listrik berdaya di atas 6.600 voltampere (VA) mulai merasakan perhitungan tarif baru yang diterapkan PT PLN (Persero). Imbas dari kebijakan ini mulai dirasakan di tagihan bulan Februari. Menurut General Manager PLN wilayah Ditribusi Jakarta dan Tangerang, Purnomo Willy, mulai bulan Januari lalu, perseroan memperketat batas hemat pemakaian listrik kepada pelanggan dengan daya 6.600 VA. "Jika sebelumnya batas hematnya sebesar 98 jam, sekarang 50 jam. Ini berlaku sejak bulan lalu dan tagihannya mulai masuk di bulan ini," kata Purnomo saat dihubungi detikFinance, Rabu (10/2/2010). Ia mencontohkan, untuk pelanggan 6.600 VA yang memakai listrik sebanyak 90 jam dalam sebulan, maka 50 jam dari pemakaian si pelanggan masih dibayar dengan menggunakan tarif subsidi. "Sedangkan sisanya sebanyak 40 jam harus dibayar dengan menggunakan tarif non subsidi sebesar Rp 1.380 per Kwh," kata dia. Para pelanggan listrik berdaya di atas 6.600 VA juga dikirimi surat pemberitahuan oleh PLN terkait perhitungan tarif baru ini. Dalam surat tersebut, PLN memberikan simulasi perhitungan tarif baru bagi pelanggannya dengan daya 6.600 VA ke atas. Solusi Verona : CURI LISTRIK SAJA. SETTING DAN PERALATANNYA CUMA 3.5 JUTA. AMAN DAN SULIT DILACAK.?????????????????? Curi Listrik Tidak bisa ditindak oleh PLN karena pegawai PLN bukan PNS lagi, jadi tidak BERHAK jadi Penyidik, yang bisa tangkap pencuri listrik harus Polisi, hayo Dahlan Iskan bisa apa????? :-$
Multi Quote Quote
Naikkan saja PLN dengan pelanggan diatas 6600 watt mereka mampu subsidi silang tetapi yang dibawah itu harus murah bahkan 2200 dan kebawahnya harus diskon habis.
Multi Quote Quote
Dahlan Iskan: Kuliah Malam dengan Penerangan Lilin BETAPA menyentuhnya foto yang dimuat di koran-koran edisi Kamis (26/2): mahasiswa Universitas Muhammadiyah kuliah malam dengan penerangan lilin yang dinyalakan di setiap kursi mahasiswa. Sebagai direktur utama PLN yang baru, saya tentu amat terpukul dengan foto yang begitu menyentuh. Lama sekali saya memandangi foto itu dengan perasaan teriris-iris. Tapi, saya tidak boleh menyerah. Apalagi, sejak lebih dari sebulan lalu saya terus memonitor persoalan kelangkaan listrik di Sumut. Saya tahu setiap hari dan setiap malam berapa banyak kekurangan listrik di Medan. Bahkan, ada yang satu malam saja harus ada 80.000 pelanggan yang rumahnya gelap karena terkena giliran. Dua minggu lalu sebenarnya hati saya sudah agak lega. Tim yang lagi memperbaiki mesin pembangkit di Belawan yang disebut GT 12 melaporkan bahwa malam itu perbaikan sudah selesai. Keesokan harinya sudah bisa dicoba. Saya berharap benar bahwa uji coba keesokan harinya akan lancar. Tapi, saya seperti menangis ketika mendapat laporan bahwa percobaan yang dijalankan kembali itu gagal: ketika kecepatan perputaran turbin dinaikkan untuk menghasilkan listrik lebih banyak, turbin itu bergetar! Maka, uji coba dihentikan. Padahal, kalau saja perbaikan mesin GT 12 itu berhasil, Medan mendapatkan tambahan daya listrik 155 MW! Jumlah yang cukup untuk melistriki 150.000 rumah! Maka, begitu mendengar percobaan itu gagal, saya kembali lemas. Mesin harus dihentikan. Kalau tidak, justru akan pecah. Mesin harus dibuka kembali. Untuk disetel ulang. Tapi, penyetelan ulang tidak bisa dilakukan saat itu juga. Harus menunggu mesin dingin dulu: 6 jam kemudian. Setelah dingin, barulah mesin dibuka untuk dilihat mengapa ketika dalam posisi kecepatan tinggi turbin bergetar. Dua hari kemudian penyetelan ulang selesai. Harapan kembali muncul dengan sepenuh doa: semoga kali ini turbin tidak lagi bergetar. Begitu besarnya harapan saya akan keberhasilan hari itu, sampai-sampai saya yang lagi rapat dengan Gubernur Sumut Syamsul Arifin di Jakarta sudah berani menyatakan kegembiraan saya. Bahkan, gubernur mengatakan akan ikut mendorong semangat tim yang lagi memperbaiki pembangkit di Belawan itu. Yakni, dengan cara berkunjung ke sana. Ternyata masih gagal. Lalu, proses yang sama diulangi lagi dan gagal lagi. Saya tahu, tim tersebut sudah bekerja amat keras. Siang dan malam. Tapi, karena beberapa kali masih gagal, saya pun berusaha mencari tahu: di seluruh Indonesia ini ada berapakah ahli penyetelan turbin? Ternyata ada lima orang. Lalu, saya mencari tahu di mana saja mereka itu. Ternyata mereka tersebar. Salah satu di antaranya di Medan itu. Tapi, ahli turbin terbaik sedang di Surabaya. Maka, saat itu juga saya meminta ahli turbin terbaik tersebut terbang ke Medan untuk memperkuat tim yang sudah ada. Karena keputusan itu saya buat malam hari, perintahnya mendadak: jam 6 pagi keesokan harinya sudah harus terbang ke Medan. Tambahan tenaga ahli itu ternyata membuat tim semakin kuat. Maka, Rabu kemarin penyetelan ulang selesai. Lalu, dicoba: alhamdulillah! Sampai menghasilkan tenaga listrik 100 MW, turbin tidak bergetar. Maka, teman-teman yang berada di Medan membuat keputusan: kecepatan turbin jangan dinaikkan lagi. Biarlah bekerja stabil di 100 MW. Daripada dinaikkan menjadi 140 MW tapi gagal. Kan lumayan. Dengan memproduksi 100 MW, itu bisa melistriki 100.000 rumah! Apalagi, pembangkit itu bisa menghasilkan tenaga tambahan lewat sistem combine cycle 55 MW. Maka, keberhasilan perbaikan GT 12 itu sejak tadi malam sudah bisa menambah listrik di Medan sebanyak 155 MW. Kegembiraan itu bertambah-tambah karena pemasangan mesin pembangkit lot-3 yang letaknya juga di kompleks Belawan itu kemarin selesai. Sudah diuji coba. Sampai pada putaran yang menghasilkan 100 MW, masih stabil. Maka, teman-teman di pembangkitan Medan juga memutuskan untuk tidak menaikkan lagi kecepatannya. Takut kalau bergetar. Meski sikap seperti itu kiurang benar, sementara saya mendukung. Maka, sejak kemarin Sumut mendapatkan tambahan pasokkan listrik 255 MW! Dengan tambahan itu, pasokan listrik di Medan cukup. Meskipun masih pas-pasan. Tidak ada lagi pemadaman bergilir. Kalau toh nanti ada pemadaman di suatu RT atau RW, itu bukan karena listriknya tidak ada. Bisa saja hanya karena di RT tersebut sedang diadakan pemeliharaan trafo secara bergantian. Tapi, pemadaman seperti itu tidak lama. Hanya sekitar 3 jam. Juga hanya memengaruhi beberapa rumah di satu kawasan. Sudah bisa tenangkah? Belum. Sebab, sifatnya masih pas-pasan. Dengan posisi pas-pasan, kalau ada mesin yang rusak, akan terjadi pemadaman bergilir lagi. Maka, doa saya agar semua mesin yang sudah berjalan itu jangan sampai rusak lagi. Masalahnya, mesin adalah buatan manusia. Kadang harus rusak dan kadang harus sudah waktunya dimatikan untuk diperbaiki. Medan baru akan bisa benar-benar tenang kalau listrik dari Asahan I, sebanyak 200 MW lebih, sudah bisa mengalir ke Medan. Menurut perencanaan, Asahan I selesai Mei 2010. Empat bulan lagi. Karena itu, kita sebaiknya berdoa keras agar jangan ada mesin yang rusak sampai Mei yang akan datang. Harapan lain adalah ini: tambahan dari PLTU Sibolga. Kini konsentrasi saya beralih ke Sibolga. Hampir setiap hari saya menelepon Sibolga untuk mengikuti perkembangan kinerja PLTU itu. Saya harus ikut mengontrol kualitas batu baranya hingga ke soal onderdilnya. Saya menargetkan pada Mei nanti PLTU Sibolga juga harus lancar. Itu berarti bisa menambah 200 MW lagi. Mudah-mudahan foto mahasiswa kuliah malam yang menggunakan lilin itu menjadi kenangan pahit dan manis sekaligus pada awal masa jabatan saya ini.
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...