Bursa Efek Ponari

Artikel ini saya ambil dari harian Kontan hari ini tanggal 20 Maret 2009 halaman 23\r\n\r\nBursa Efek Ponari\r\n\r\nLukas Setia Atmaja\r\nVCCG Workgroup\r\nPrasetiya Mulya Business School\r\n\r\nBocah Ponari mendadak sakti setelah, konon, tersambar petir dan memiliki batu yang dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit. Bagi orang sakit yang kurang mampu. Ponari adalah asa sehingga mereka rela antre meski berisiko mati terinjak. Mudah bagi kita untuk menghakimi perilaku pemuja Ponari sebagai bodoh, tidak nalar. Benarkah mereka tidak rasional? Apakah ketidakrasionalan (irrationality) selalu dekat dengan kaum jelata berpendidikan rendah?\r\n\r\nTanpa kita sadari sebenarnya para investor di bursa saham yang dianggap lebih intelek sering berperilaku seperti pemuja Ponari. Menurut Malcolm Baker, pakar behavioral finance Harvard, keputusan investor amat dipengaruhi oleh bias psikologis. Senada dengan Baker, Dan Ariely, pakar behavioral economics MIT dan penulis buku laris Predictably Irrational mengingatkan bahwa keputusan investor dipengaruhi oleh emosi, harapan, dan norma sosial.\r\n\r\nSama dengan pemuja Ponari yang memimpikan kesembuhan cepat, sebagian besar investor di bursa saham punya paradigma “How to make a lot of money quickly” Akibatnya, mereka sering membeli saham dengan harapan yang berlebihan (building castle in the air) dan bertindak sangat spekulatif. Tidak salah jika Muhammad Yunus, pemenang Nobel dari Bangladesh, mengecam bahwa investor telah mengubah bursa saham menjadi tempat berjudi.\r\n\r\nPerilaku kelompok\r\n\r\nPerilaku ikut-ikutan (herd behavior) turut berperan dalam pembentukan investor yang tidak rasional. Mereka begitu takut ketinggalan kereta api yang dipercaya sedang menuju ke ranah kemakmuran. Mirip dengan komunitas pemuja Ponari yang segera terbentuk ketika berita kesaktian Ponari tersebar. Percaya tidak percaya, mereka berlomba menjajal; kesaktian batu petir. Siapa tahu sembuh?\r\n\r\nMenurut Gustave Le Bon, pakar psikologi sosial, individu cenderung mengorbankan prinsip pribadi dan cenderung mengikuti perilaku kelompok (Crowd). Berbagai riset empiris di dunia menunjukan bahwa hero behavior terjadi tidak hanya di kalangan investor tapi juga para analis saham. Akibatnya, suatu hal yang tidak nalar berangsur-angsur menjadi berasa nalar karena didukung banyak orang.\r\n\r\nPerilaku investor yang tidak rasional telah menciptakan ratusan financial Bubble. Mulai dari Tulip Mania ( Abad 17 ), South Sea Bubble ( Abad 18 ), Dot Com Bubble ( Abad 20 ), hingga bubble harga minyak di 2008. Ambil contoh ketika Netscape, perusahaan perintis web browser, melakukan penjualan saham perdana tahun 1995. Saham terjual seharga US$ 28 per lembar dan naik 100% saat diperdagangkan di hari pertama di bursa sekunder.\r\n\r\nKapitalisasi pasarnya melebihi US$ 1 miliar meskipun Netscape memiliki pendapatan hanya US$ 16 juta dan masih merugi US$ 5 juta. Bahkan, beberapa bulan kemudian harga melonjak mencapai US$ 200 per lembar, yang berarti investor mengharapkan Netscape bertumbuh 550% per tahun selama 10 tahun ke depan. Jelas sesuatu yang mustahil, sama seperti mengharapkan kesembuhan instan dari batu petir Ponari.\r\n\r\nDi bursa kita juga pernah terjadi bubble yang disebabkan oleh batu, yakni batubara. Sepanjang 2007, akibat kenaikan harga komoditas mendadak menjadi primadona dan diburu para investor. Segera terbentuk komunitas pemuja saham PT Bumi Resources (BUMI). Harga saham BUMI yang Rp 900 di awal 2007, melonjak menjadi hampir sepuluh kali lipat dalam kurun waktu setahun.\r\n\r\nFee lebih penting\r\n\r\nKasus Ponari bisa di analogikan dengan sebuah bursa saham. Di “Bursa Efek Ponari” setiap hari ribuan orang mengantre untuk berobat. Mereka membeli tiket seharga Rp 5000. Di bursa efek betulkan, investor membeli saham dengan harga kemahalan. Ponari adalah emiten yang sebenarnya diperjual-belikan. Ia ibarat Netscape, BUMI, dan semua perusahaan yang dianggap memberi harapan untuk imbal hasil tinggi.\r\n\r\nKesembuhan ajaib yang dirasakan pasien Ponari bisa di analogikan dengan imbal hasil fantastis bagi investor. Lalu muncul dukun cilik Dewi yang menawarkan jasa serupa. Praktek dukun cilik telah menjadi sebuah industri yang menghidupi banyak pihak. Ada panitia yang mengatur antrean dan menjual tiket. Mereka memperoleh fee dari pendapatan tiket yang mencapai Rp 25 juta per hari. Bagi pihak panitia fee lebih penting daripada nasib pasien. Bukankah ini mirip perilaku pengelola dan anggota bursa efek? Bagi mereka jumlah transaksi lebih penting daripada nasib investor. Ketika IHSG sedang bullish sepanjang 2007 dan kuartal pertama 2008, pengelola dan pelaku bursa tersenyum karena transaksi saham dan tentunya fee meroket.\r\n\r\nKenaikan IHSG sebesar 55% dalam beberapa bulan dianggap hal yang sangat wajar dan rasional. Saat IHSG mulai terjun bebas, saham dianggap undervalued dan investor dituduh tidak rasional (over-reacted). Mendadak kita merasa bahwa bursa saham adalah ajang di mana manusia menjadi serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).\r\n\r\nTernyata irrationality bukan hanya milik mereka yang miskin dan kurang intelek. Ia, sampai level tertentu, ada dalam diri setiap investor di bursa efek. Saat polisi turun tangan menutup praktek perdukunan Ponari, selamatlah ratusan ribu calon pasien dari sebuah bubble maupun penipuan. Kasus ini mengingatkan agar Bapepam-LK lebih serius menjalankan fungsinya sebagai “polisi” bursa. Tanpa itu jangan harap kita akan memiliki sebuah bursa yang sehat.
Multi Quote Quote
terus ane musti kasih komen gimana niy boss? smile
Multi Quote Quote
Bagaimana Indonesia dan negara2x di ASIA bisa punya bursa saham yg sehat, kita kan belajar dari sana ??? di USA saja, sering terjadi kasus seperti ENRON dll. lagipula, apa mungkin Growth emiten bertambah terus setiap tahun ??? kecuali mereka melakukan FINANCIAL ENGINEERING, tetapi lama kelamaan BUBBLE nya pasti pecah. kayaknya memang di sengaja, kalau nggak siapa yg mau jual beli saham??? Otoritas bursa mana mau tahu dg kerugian INVESTOR, yg penting kasino tiap hari ONLINE dan menghasilkan FEE yg banyak. DISCLAIMER ya smile smile smile
Multi Quote Quote
Kalo saya sih berbeda pendapat dengan penulis artikel Bursa Efek Ponari pada paragraph terakhir yang dia tulis mengatakan bahwa Bapepam-LK harus lebih serius menjalankan fungsinya sebagai "polisi" bursa agar kita dapat memiliki sebuah bursa yang sehat. Buat saya bubble dan crash akibat perilaku manusia yang tidak rasional menciptakan KESEMPATAN bagi mereka yang bisa mengendalikan emosinya dan tetap bersikap rasional. Contoh, Jesse Lauriston Livermore yang mendapatkan keuntungan besar saat dia melakukan Short Selling pada saham-saham saat Bubble Crash 1929. Kemudian Warren Buffett yang selamat dari Dot-Com Bubble karena dia tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang di luar kompetensinya. Juga George Soros yang baru-baru ini melakukan Short Selling saat oil bubble diatas $100 per barrel. Percuma saja pasar diatur-atur oleh Bapepam-LK supaya tidak terjadi Bubble. Silahkan baca referensi saya bahwa pada kondisi market yang terkontrol sekalipun Bubble tetap terjadi. The market is usually right. Usually doesn''t means Always. Reference: Puzzlingly, bubbles occur even in highly predictable experimental markets, where uncertainty is eliminated and market participants should be able to calculate the intrinsic value of the assets simply by examining the expected stream of dividends.
Multi Quote Quote
Kalo saya sih berbeda pendapat dengan penulis artikel Bursa Efek Ponari pada paragraph terakhir yang dia tulis mengatakan bahwa Bapepam-LK harus lebih serius menjalankan fungsinya sebagai "polisi" bursa agar kita dapat memiliki sebuah bursa yang sehat. Buat saya bubble dan crash akibat perilaku manusia yang tidak rasional menciptakan KESEMPATAN bagi mereka yang bisa mengendalikan emosinya dan tetap bersikap rasional. Contoh, Jesse Lauriston Livermore yang mendapatkan keuntungan besar saat dia melakukan Short Selling pada saham-saham saat Bubble Crash 1929. Kemudian Warren Buffett yang selamat dari Dot-Com Bubble karena dia tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang di luar kompetensinya. Juga George Soros yang baru-baru ini melakukan Short Selling saat oil bubble diatas $100 per barrel. Percuma saja pasar diatur-atur oleh Bapepam-LK supaya tidak terjadi Bubble. Silahkan baca referensi saya bahwa pada kondisi market yang terkontrol sekalipun Bubble tetap terjadi. The market is usually right. Usually doesn''t means Always. Reference: Puzzlingly, bubbles occur even in highly predictable experimental markets, where uncertainty is eliminated and market participants should be able to calculate the intrinsic value of the assets simply by examining the expected stream of dividends. kalau di chart perilaku market selalu ada tergambar di sebelah kanan (right), hehehe…..
Multi Quote Quote
menurut saya, artikelnya bagus, tapi agak gak nyambung. di awal2, penulisnya bilang irrational behavior yg terjadi di mana saja, termasuk pasien ponari sampai pemain di bursa. tapi kok konklusinya malah Bapepam musti menjalankan fungsi "polisi" pasar modal. agak aneh aja. kalo pemain2 di pasar modal mau dijauhkan dari irrational behavior, mustinya solusi yg diajukan seperti training, pelatihan, exposure public, dsb, yg tujuannya utk mendevelop knowledge para pelaku pasar. kalo soal penegakan hukum, gak usah dijelaskan lagi, memang udah jadi tugasnya Bapepam utk jadi watchdog.
Multi Quote Quote
Pak Lukas dulu dosen saya di atma jaya jogja…. Pinter, enerjik dan kreatif… Setelah P.Hd kok pindah ke prasetya mulya… Yang jelas fulus lebih menarik… Tapi saya malah lebih inget sosok seniornya Prof.Dr. Sukmawati Sukamulya yang rendah hati karena selalu balas email saya.. Sekarang dirut pasca UAJY dan ttp komit di Atma… Beliau jadi milyarder karena menyimpan saham telkom sejak menikah karena dihadiahi sang suami… Dan membukti ajaran mbah WB bener, beliau kaya mendadak karena menjual sahamnya pas TLKM lagi mahal2nya kemarin2 sebelum crisis… Beliau skrg juga sbg trainer di banyak world corporate yang ada di indonesia ttg risk management…. Intinya, saya belum pernah dengar beliau (pak lukas) invest di saham dan cerita di class soal case study pasar modal.. Sekarang seh gak tahu.. Mudah2an, nggak cuman commentator… Sorry lho Koh Lukas,,,, Sukses buat Anda smile smile smile :peace:
Multi Quote Quote
Pak Lukas dulu dosen saya di atma jaya jogja…. Pinter, enerjik dan kreatif… Setelah P.Hd kok pindah ke prasetya mulya… Yang jelas fulus lebih menarik… Tapi saya malah lebih inget sosok seniornya Prof.Dr. Sukmawati Sukamulya yang rendah hati karena selalu balas email saya.. Sekarang dirut pasca UAJY dan ttp komit di Atma… Beliau jadi milyarder karena menyimpan saham telkom sejak menikah karena dihadiahi sang suami… Dan membukti ajaran mbah WB bener, beliau kaya mendadak karena menjual sahamnya pas TLKM lagi mahal2nya kemarin2 sebelum crisis… Beliau skrg juga sbg trainer di banyak world corporate yang ada di indonesia ttg risk management…. Intinya, saya belum pernah dengar beliau (pak lukas) invest di saham dan cerita di class soal case study pasar modal.. Sekarang seh gak tahu.. Mudah2an, nggak cuman commentator… Sorry lho Koh Lukas,,,, Sukses buat Anda smile smile smile :peace: Kalau boleh tau, sekarang buy saham apa yah, buat 10-20 tahun lagi ? mau buy unvr udah mahal, tlkm juga….
Multi Quote Quote
Indofood , saham2 Bakrie
Multi Quote Quote
saham2 bakrie mau buat invest… ntar bisa mati kena serangan jantung bung untar… kagak kuat nahan goyangannya… smile smile smile
Multi Quote Quote
Sign up or Sign in to create a reply.

Recent Updates


Loading...