Bursa Sore: Lonjakan Inflasi Diyakini Hanya Sementara, IHSG Serta Market Asia Solid

Bursa Sore: Lonjakan Inflasi Diyakini Hanya Sementara, IHSG Serta Market Asia Solid

Posted by Written on 10 June 2021


Ipotnews IHSG masih terus melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Kamis (10/6). Naik 0,99 persen (+60 poin), IHSG finis di level 6.107 setelah konsisten di zona hijau sejak awal perdagangan.

Indeks LQ45 +0,72% ke 905.

Indeks IDX30 +0,72% ke 484.

Indeks IDX80 +0,48% ke 129.

Jakarta Islamic Indes (JII) +0,13% ke 564.

Indeks Kompas100 +0,64% ke 1.128.

Indeks Sri Kehati +1,09% ke 347.

Indeks SMInfra18 -0,08% ke 307.

Saham Paling Aktif: BCAPAGROBGTGDMMXBKSWBBRIBNBA

Saham Top Gainers LQ45: ERAAEXCLMNCNPGASTLKMBTPSWIKA

Saham Top Losers LQ45: INTPTKIMINKPINDFADROITMGMEDC

Nilai transaksi Rp12,03 triliun. Volume perdagangan sebanyak 242,57 juta lot saham. Investor asing net sell Rp44,83 miliar.

Rupiah bergerak menguat 0,06 persen terhadap USD ke kevel Rp14.247 (03.30 PM).


Bursa Asia

Pada trading hari Kamis (10/6), market saham Asia menguat tipis dengan tetap mempertahankan rentang pergerakan yang terjadi belakangan ini. Investor fokus pada rilis data inflasi USA serta risiko kejutan yang berpotensi mendorong the Fed untuk memulai pengurangan stimulus masifnya.

Semalam, pasar surat utang menjadi penggerak penting bagi market. Kalangan analis menunjuk kemunduran (di pasar fixed income) lebih banyak ke arah upaya stimulus USA. Sementara di sisi lain menunjukkan kemungkinan penyelesaian posisi jual obligasi pemerintah USA menjelang rilis data inflasi bulan Mei. Menurut JPMorgan, posisi jual di pasar surat utang adalah yang tertinggi sejak 2018.

Yield US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 1,4891 persen dari sebelumnya di posisi 1,528 persen. Pelemahan di bawah level 1,47 persen akan mengantarkan yield tersebut terendah sejak 4 Maret tahun ini.

"Kenaikan inflasi yang signifikan dapat mendorong diskusi tapering the Fed lebih cepat dari perkiraan meskipun mayoritas masih akan mencari kemajuan substansial menuju lapangan kerja maksimum sebelum mempertimbangkan pengurangan stimulus," papar tim riset ANZ.

Menurut ANZ sejauh ini pelaku pasar menerima pandangan the Fed bahwa kenaikan inflasi hanya bersifat sementara dan the Fed tidak akan mengubah target kebijakannya pada pertemuan FOMC minggu depan.

Pasar saham Tiongkok finis positif saat akhir sesi. Indeks Shanghai Composite naik 0,54 persen ke 3.610 dan Indeks Shenzhen Component naik 1,19 persen ke 14.893. Sedangkan Indeks Hang Seng (Hong Kong) melorot 0,1 persen.

Bursa saham Tokyo mengakhiri trading di zona hijau. Indeks Nikkei 225 naik 0,34 persen ke 28.958 dan Indeks Topix stagnan pada level 1.956. Indeks Kospi di bursa Korsel naik 0,26 persen ke level 3.224.
Indeks acuan regional, MSCI Asia Pasifik (tidak termasuk pasar saham Jepang) melaju 0,38 persen. Sedangkan Indeks S&P/ASX200 up 0,44 persen menuju ke level 7.302.
Indeks dolar AS naik tipis ke 90,235 dari level sebelumnya di posisi 90.
Kurs yen drop tipis ke posisi ke 109,50 terhadap USD dari posisi sebelumnya pada 109,2.
Nilai tukar dolar Australia bergerak melemah ke posisi $0,7731 dari sebelumnya di $0,776.

Bursa Eropa
Market saham Eropa bergerak bervariatif saat menit-menit awal pada perdagangan hari Kamis (10/6) pagi waktu setempat. Pasar global bersiap mengantisipasi rilis terbaru data inflasi USA.
Indeks DAX (Jerman) -0,06% pada level 15.571.
Indeks FTSE (Inggris) +0,12% di posisi 7.089.
Indeks CAC (Perancis) +0,01% ke level 6.563.

Minyak
Harga minyak merosot pada perdagangan sesi sore hari Kamis (10/6) di pasar komoditas Asia seiring kenaikan persediaan minyak USA ditunjukkkan dengan naiknya stok BBM. Hal ini menjadi indikasi demand BBM lebih rendah dari perkiraan pada saat dimulainya musim panas, periode puncak musim mengendarai.
Minyak WTI drop 0,5 persen per barel ke harga USD69,61 per barel. Minyak Brent turun 0,5 persen ke harga USD71,68 per barel. (pkl 06.51 GMT)

(cnbc/idx/bloomberg)

Sumber : Admin

#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author