Bursa Pagi: AS-Asia Melemah, Potensi Rebound IHSG Dibayangi Risiko Koreksi Lanjutan

Bursa Pagi: AS-Asia Melemah, Potensi Rebound IHSG Dibayangi Risiko Koreksi Lanjutan

Posted by Written on 17 March 2021


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (17/3), dibuka cenderung melemah, melanjutkan tren pelemahan indeks acuan pada penutupan bursa saham Wall Street, setelah ditutup menguat di bursa saham utama Eropa.

Pasar menunggu hasil rapat kebijakan Federal Reserve AS, dan beberapa bank sentral global. Analis mengatakan, bursa global berisiko memerah jika The Fed tidak cukup  dovish  dalam pernyataan hasil rapatnya, Rabu ini.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,39%, di tengah penurunan hampir semua indeks sektoral. Indeks sektor minyak dan bahan baku melorot 0,92% dan 1,12%. Saham Rio Tinto dan BHP anjlok 1,4% dan 1,13%. Indeks berlanjut melorot 0,57% (-38,70 poin) ke posisi 6.788,40 pada pukul 8:10 WIB.

Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka merosot 0,64%, dan berlanjut turun lebih dalam 0,71% ke level 3.045,39.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak menurun tipis 0,08% (-24,70 poin) menjadi 29.896,39, setelah dibuka sedikit melemah di kisaran level 29.895, Topix juga melemah.

Lanjutkan tren pelemahan, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melorot mencapai 0,66% (-191,87 poin) ke posisi 28.835,82 pada pukul 8:40 WIB. IndkaShanghai Composite, China merosot 0,80% ke level 3.419,06.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks di bursa saham Wall Street dan Asia yang cenderung melemah, setelah gagal mempertahankan  rebound  pada sesi awal perdagangan dan ditutup melemah 0,23% menjadi 6.309. Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange juga turun 0,22% menjadi USD22,93.

Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi teknikal rebound namun tetap dibayangi risiko koreksi lanjutan. Sejumlah indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya peluang terjadinya penguatan minimal, berfluktuasi di area jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, terkoreksinya mayoritas indeks di bursa Wall Street seiring sikap kehati-hatian investor menanti respon Jerome Powell terkait kenaikan yield obligasi dan keberlangsungan kebijakan moneter longgar diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu terkoreksinya mayoritas komoditas dan sepinya sentimen dari dalam negeri berisiko menambah sentimen negatif.

IHSG diprediksikan melanjutkan pelemahannya dengan  support  di level 6,250 dan  resistance  di level 6,370.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: BBRI (Buy). Support: Rp4,640, Resist: Rp4,800, CPIN (Buy). Support: Rp6,600, Resist: Rp6,800, 

    PWON (Buy on Weakness). Support: Rp580, Resist: Rp600, TLKM (Buy on Weakness). Support: Rp3,330 Resist: Rp3,400.

  • ETF: XDIF (Buy on Weakness). Support: Rp452, Resist: Rp460, XIID (Buy on Weakness). Support: Rp497, Resist: Rp506, XPFT (Buy on Weakness). Support: Rp509, Resist: Rp517.

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir tergelincir dari rekor tertinggi, menghentikan kenaikan tujuh hari berturut-turut, menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve, Rabu ini di AS. Imbal hasil  benchmark  US Treasury 10-tahun naik sebentar di atas 1,62% dalam perdagangan sesi petang. Rilis data penjualan ritel Februari turun lebih dari ekspektasi, merosot 3%. Namun, angka penjualan ritel Januari direvisi naik menjadi 7,6% dari 5,3%, sehingga pasar mengabaikan angka tersebut.

Nasdaq menguat didukung saham raksasa teknologi. Apple dan Alphabet melonjak 1,3% dan 1,4%, dan Amazon menguat 0,3%. Saham Boeing anjlok hampir 4%. Pasar bergerak relatif tenang, Indeks Volatilitas Cboe turun di bawah 20 dan mencapai level terendah sejak Februari tahun lalu.

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,39% (-127,51 poin) menjadi 32.825,95.

  • S&P 500 melemah 0,16% (-6,23 poin) di posisi 3.962,71.

  • Nasdaq Composite naik tipis 0,09% (11,86 poin) di level 13.471,57.
Bursa saham utama Eropa tadi malam ditutup menguat, perhatian pasar terfokus pada pemulihan ekonomi global dan rapat kebijakan Federal Reserve AS. Lonjakan imbal hasil obligasi dan rebound ekonomi AS membuat analis pasar mempertanyakan kapan The Fed dapat mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter ultra-longgar. Bank of England dan Bank of Japan akan menggelar rapat kebijakan Kamis pekan ini.

Berita vaksin virus korona menjadi fokus setelah Jerman, Spanyol dan Prancis menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca-University of Oxford karena masalah pembekuan darah. WHO mengatakan saat ini tidak ada bukti keterkaitan vaksin dengan penggumpalan darah. Badan Obat Eropa sedang melakukan penyelidikan.

Indeks STOXX 600 naik 0,88% menjadi 426,82, dipimpin saham sektor otomotif yang melesat 2%. Namun saham minyak dan gas anjlok 1%. Saham Volkswagen melesat 6,7% karena menargetkan margin operasi 5-6,5% pada 2021 dan 7-8% di tahun-tahun berikutnya. Produsen aki mobil Jerman, Varta, melambung lebih dari 14% setelah mengumumkan akan mulai memproduksi sel baterai untuk elektromobilitas. Zalando dan perusahaan telekomunikasi Prancis, Iliad, melejit 5% dan 4,5%. Perusahaan bioteknologi Jerman, MorphoSys, rontok 10% setelah merilis laporan laba setahun penuh.

  • DAX 30 Jerman meningkat 0,66% (96,16 poin) ke posisi 14.557,58.

  • FTSE 100 Inggris melaju 0,80% (53,91 poin) ke level 6.803,61.

  • CAC 40 Prancis naik 0,32% (19,46 poin) menjadi 6.055,43.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup menguat tipis dalam perdagangan yang relatif tenang. Pelaku pasar menunggu hasil rapat The Fed. Dolar AS secara keseluruhan membukukan kenaikan terhadap euro dan mata uang berbasis komoditas. The Fed diprediksi tidak akan mengubah kebijakan moneternya, meski memperkirakan bahwa ekonomi AS akan tumbuh pesat pada 2021, dengan penurunan angka pengangguran dan kenaikan inflasi. Investor juga mewaspadai kenaikan imbal hasil surat utang, yang dipicu spekulasi bahwa pertumbuhan ekonomi dan inflasi dapat mendorong normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat dari ekspektasi.

Rilis data penjualan ritel AS pada Februari lalu merosot 3,0%, sebagian karena cuaca buruk selama Februari. Penjualan ritel anjlok 3,5%, jika tidak memperhitungkan penjualan mobil, bensin, bahan bangunan dan layanan makanan. Euro melemah setelah Jerman, Prancis dan Italia mengatakan akan menangguhkan suntikan vaksin Covid-19 dari AstraZeneca, yang memunculkan ekspektasi pemulihan ekonomi Eropa yang lebih lambat. Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran kurs  greenback  terhadap sekeranjang mata uang enam negara maju, naik tipis kurang dari 0,1%, menjadi 91,84.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.19030.000.00%7:25 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.39020.0011+0.08%7:26 PM
Yen (USD-JPY)109.030.03+0.03%7:26 PM
Yuan (USD-CNY)6.5060.0059+0.09%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,410.007.50+0.05%3:58 AM

Sumber : Bloomberg.com, 16/3/2021 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi melanjutkan penurunan, memasuki hari ketiga beruntun. Jerman, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya menangguhkan penggunaan vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca, sehingga mengancam pemulihan permintaan bahan bakar. WHO mengatakan tidak ada kaitan yang pasti antara kasus penggumpalan darah dengan vaksin tersebut. Pengawas obat-obatan Eropa mengatakan manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar ketimbang risikonya.

Persediaan minyak mentah meningkat karena kilang belum pulih sepenuhnya dari cuaca dingin ekstrim pada pertengahan Februari. Stok minyak mentah AS melonjak hampir 14 juta barel pada pekan pertama Maret, jauh melebihi perkiraan kenaikan kurang dari 1 juta barel. Analis memperkirakan kenaikan stok dalam rilis data API dan Departemen Energi AS pekan ini.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 49 sen menjadi USD68,39 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI melorot 59 sen menjadi USD64,80 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi berakhirmelemah, tertekan penguatan tipis dolar AS. Investor menunggu isyarat kebijakan dari rapat kebijakan dua hari The Fed. Analis mengatakan risiko terbesarnya adalah jika The Fed tidak menekan kembali pasar obligasi, yang akan memicu sehari  panic selling  emas.

The Fed diekspektasikan akan mengulangi janjinya untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai perekonomian mencapai  full-employment.  Harga logam berharga lainnya; paladium melesat 4,4% menjadi USD2.493,25 per ounce, perak anjlok 1,5% menjadi USD25,87 per ounce dan platinum turun 0,3% menjadi USD1.208,59 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,2% menjadi USD1.729,01 per ounce.

  • Harga emas berjangka melemah 0,1% menjadi USD1.730,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)

#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author