Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, IHSG Hadapi Tekanan Koreksi

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, IHSG Hadapi Tekanan Koreksi

Posted by Written on 24 August 2020


Ipotnews - Mengawali pekan terakhir Agustus, Senin (24/8), bursa saham Asia dibuka melemah, perhatian investor tertuju pada perkembangan kasus virus korona yang terus meningkat. Pasar juga mengamati pelaksanaan seri pertama listing ChiNext Board ala Nasdaq, dengan sistem IPO yang direvisi, hari ini. Indeks MSCI Asia ex-Jepang turun 0,15%.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan pelemahan indeks ASX200, Australia sebesar 0,16%. Indeks berlanjut turun 0,22% (-13,20 poin) menjadi 6.098,00 pada pukul 8:00 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melemah 0,10% (-23,34 poin) di posisi 22.896,96, setelah dibuka turun tipis dari kisaran level 22.892, indeks Topix juga sedikit melemah. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka turun 0,38% dan berlanjut menguat 0,19% ke level 2.308,97.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melompat 0,96% (238,95 poin) ke level 25.352,79 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China naik 0,31% ke posisi 3.380,61.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks di bursa saham Asia , setelah gagal mempertahankan manuvernya di zona hijau pada sesi perdagangan jelang akhir pekan lalu, dan ditutup turun 0,42% menjadi 5.272. Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange juga turun 0,41% menjadi USD19,49.

Beberapa analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini cenderung tertekan, berpotensi terkoreksi. Secara teknikal sejumlah indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi koreksi wajar, dengan bergerak menjenuh dalam kondisi  overbought.

Tim Riset indo Premier berpendapat, menguatnya indeks di bursa Wall Street yang didorong oleh solidnya data ekonomi yaitu manufaktur, jasa dan penjualan rumah diprediksi akan menjadi sentimen positif. Di sisi lain terkoreksinya beberapa komoditas seperti minyak mentah, CPO, timah dan batu bara berpeluang menjadi sentimen negatif di pasar.

IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan  support  di level 5,245 dan  resistance  di level 5,310. 

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: PGAS (Buy). Support: Rp1,255, Resist: Rp1,350, ITMG (Buy). Support: Rp8,025 Resist: Rp8,375, 

    ERAA (Buy). Support: Rp1,705 Resist: Rp1,825, BTPS (Buy). Support: Rp3,790 Resist: Rp3,950.

  • ETF: XBNI (Buy on Weakness). Support: Rp941, Resist: Rp959, XPID (Buy on Weakness). Support: Rp458, Resist: Rp467, XPLQ (Buy on Weakness). Support: Rp427, Resist: Rp436.

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup dengan mencatatkan rekor tertinggi baru indeks S&P500 dan Nasdaq, didukung rilis data indikator penguatan ekonomi AS. Survei aktivitas bisnis AS periode Agustus dari IHS Markit menunjukkan penguatan ke level tertinggi sejak 2019. Perusahaan-perusahaan di sektor manufaktur dan jasa memperlihatkan lonjakan pesanan baru. Laporan lain menunjukkan penjualan rumah AS periode Juli naik untuk bulan kedua berturut-turut, dengan kenaikan harga rumah ke posisi tertinggi sepanjang masa. Namun investor masih mengkhawatirkan kebuntuan dalam pembicaraan antara Demokrat dan Gedung Putih mengenai stimulus fiskal AS

Secara mingguan, indeks Dow Jones hampir tidak berubah, S&P 500 melaju 0,7% dan Nasdaq melonjak 2,7%. Indeks sektor teknologi informasi S&P 500, melonjak 1,2%, indeks industri naik 0,35%. Harga saham Apple Inc menguat lebih dari 5% karena nilai pasarnya membengkak dengan  market cap  USD triliun. Harga saham Tesla melejit 2,4% melewati USD2.000 per saham pada Kamis lalu, menjelang  stock split.  Saham Deere & Co, perusahaan pembuat peralatan pertanian terbesar di dunia melesat 4,4%.

  • Dow Jones Industrial Average meningkat 0,69% (190,6 poin) ke level 27.930 ,33.

  • S&P 500 menguat 0,34% (11,65 poin) ke posisi 3.397,16.

  • Nasdaq Composite naik 0,42% (46.85 poin) menjadi 11.311,8.
Bursa saham utama Eropa mengakhiri pekan lalu di zona merah, tertekan oleh rilis data indikator ekonomi zona euro yang suram, mengindikasikan terhentinya pemulihan di kawasan itu. Hasil survei Purchasing Managers Index (PMI) zona euro periode Agustus turun menjadi 51,6dari 54,9 di Juli lalu, meskipun aktivitas pabrik kembali pulih. Tapi indeks PMI Inggris justru meningkat menjadi 60,3, melebihi ekspektasi 57,1, dari 57,0 pada Juli lalu. Kenaikan indeks Wall Street membatasi pelemahan. Saham sektor-sektor terkait siklus pertumbuhan seperti bank, perusahaan minyak dan gas, serta pabrikan otomotif terpukul, karena beberapa negara Eropa memperlihatkan kebangkitan kasus virus korona.

Indeks STOXX 600 turun 0,16% menjadi 365,09, mencatatkan penurunan 0,9% dibanding akhir pekan sebelumnya. Saham terkait perjalanan dan wisata melonjak 3,1%. Harga saham Accor, Prancis dan saingannya InterContinental Hotels, Inggris melonjak karena laporan kemungkinan merger. Saham perusahaan bahan bangunan dan isolasi Irlandia, Kingspan, melambung 8,9%. Produsen obat Swiss Novartis naik 0,5%. 

Perusahaan pemrosesan pembayaran Belanda Adyen anjlok 3,7% karena beberapa eksekutifnya menjual 15 persen saham mereka. Saham Netcompany Denmark melambung 9%

  • DAX 30 Jerman tergelicir 0,51% (-65,2 poin) ke level 12.764,8.

  • FTSE 100 Inggris melemah 0,19% (-11,45 poin) menjadi 6.001,89.

  • CAC 40 Prancis turun 0,30% (-14,91 poin) ke posisi 4.896,33.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat, di tengah pelemahan euro seiring hasil survei bisnis Eropa bulan Agustus yang melemah. 

Greenback  lolos dari tekanan penurunan mingguan kesembilan berturut-turut, terpanjang sejak musim panas 2010, terbantu oleh indeks aktivitas bisnis AS periode Agustus kembali ke level tertinggi sejak awal 2019. Perusahaan di sektor manufaktur dan jasa mengalami kenaikan pesanan baru, bahkan ketika kasus baru COVID-19 di AS tetap tinggi. Indeks dolar AS (indeks DXY) terhadap sekeranjang enam mata uang negara maju naik 0,49% menjadi 93,247.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.1797-0.0063-0.53%8/21/2020
Poundsterling (GBP-USD)1.3090-0.0124-0.94%8/21/2020
Yen (USD-JPY)105.800.000.00%8/21/2020
Yuan (USD-CNY)6.91950.0037+0.05%8/21/2020
Rupiah (USD-IDR)14,772.50-72.50-0.49%8/19/2020

Sumber : Bloomberg.com, 21/8/2020 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan lalu. Pemulihan ekonomi di seluruh dunia menunjukkan adanya hambatan seiring kembalinya  lockdown  virus korona di sejumlah negara dan kekhawatiran tentang meningkatnya pasokan minyak mentah. Jumlah impor minyak mentah India periode Juli turun ke level terendah sejak Maret 2010. Sementara itu, data Departemen Transportasi AS menunjukkan penurunan angka berkendara sekitar 13% lebih sedikit pada bulan Juni. Operasi rig minyak dan gas alam AS pada pekan lalu, menurut Baker Hughes Co bertambah untuk pertama kalinya sejak Maret.

Harga minyak Brent turun sekitar 2% sepanjang pekan lalu, sedangkan minyak WTI naik hampir 1%, secara mingguan. Perusahaan minyak nasional Libya mengatakan, dapat memulai kembali ekspor minyak setelah Tripoli mengumumkan gencatan senjata. Ekspor minyak Libya akan menambah output dari OPEC + sehingga menekan harga minyak. OPEC + meminta anggotanya agar tidak memproduksi minyak berlebihan dan bertentangan dengan komitmen mereka untuk memangkas produksi. Sebuah laporan internal menunjukkan kelompok itu menginginkan kelebihan pasokan antara Mei dan Juli dikompensasi dengan pemotongan bulan ini dan berikutnya. PEC+ memperkirakan permintaan minyak pada tahun 2020 turun 9,1 juta bph, dan sebanyak 11,2 juta bph jika ada kebangkitan kembali infeksi virus korona.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 84 sen (-1,9%) menjadi USD44,06 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 48 sen (-1,12%) menjadi USD42,34 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange juga mengkhiri pekan lalu dengan melemah, memasuki penurunan mingguan kedua berturut-turut. Dolar AS menguat dan imbal hasil Treasury AS naik tipis seiring kebangkitan kembali aktivitas bisnis AS ke level tertinggi sejak awal 2019. sehingga mengurangi daya tarik emas batangan sebagai  safe haven.

Secara mingguan harga emas turun 0,3%, menjauh dari USD 2.000 yang terlampaui pada awal pekan. Investor terus mencermati perkembangan seputar RUU stimulus fiskal virus korona AS setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi pada hari Kamis mengatakan dia menentang RUU stimulus fiskal dengan jumlah anggaran yang lebih kecil. Harga logam berharga lainnya, seperti perak turun 1,9%menjadi USD 26,71 per ounce, platinum mendatar di USD 917,61, dan paladium turun 0,2 persen menjadi USD 2.177.

  • Harga emas spot turun 0,2% menjadi USD 1.939 per ounce.

  • Harga emas berjangka AS sedikit melemah menjadi USD 1.947 pe ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)

#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author