Bursa Pagi: Lonjakan Korban Covid-19 di Luar China Rontokkan Asia, IHSG Bearish

Bursa Pagi: Lonjakan Korban Covid-19 di Luar China Rontokkan Asia, IHSG Bearish

Posted by Written on 24 February 2020


Ipotnews - Mengawali pekan ini, di pekan terakhir Februari (Senin,24/2), bursa saham Asia dibuka dalam suasana muram, tertekan oleh kekhawatiran terhadap peningkatan penyebaran virus korona tipe baru (Covid-19) di luar daratan China. Jumlah kasus terinfeksi Covid-19 di Korea Selatan melambung menjadi lebih dari 600 korban, dan ada lebih 130 korban di Italia. Bursa saham Jepang hari ini libur. Indeks MSCI Asia ex-Jepang melorot 0,7%.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kejatuhan indeks saham ASX 200, Australia sebesar 1,8%. Saham-saham sektor energi anjlok sekitar 3% seiring kejatuhan harga minyak. Saham Santos dan Woodside Petroleum masing-masing terpangkas 2,65% dan 5%. Indeks berlanjut meluncur turun 2,11% (-150,30 poin) ke level 6.988,70 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama, indeks Kospi, Korea Selatan rontok 2,64% (-57,12 poin) ke posisi 2.105,72, setelah dibuka terjungkal lebih dari 2%, dan Kosdaq tumbang 2,25%. Saham Samsung Electronics mengumumkan penutupan komplek pabriknya di negara itu karena adanya kasus penularan Covid-19 di fasilitas tersebut. Harga saham Samsung anjlok 2,5%.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melorot 0,75% (-203,46 poin) ke level 27.105,35 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China turun 0,39% menjadi 3.027,89.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks acuandi bursa saham global dan regional, setelah merosot lbih dari 1% pada akhir sesei perdagangan pekan lalu ke level 5.882. Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,21% menjadi USD23,95.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan di tengah upaya melanjutkan tren penguatan mingguan. Beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi  bearish dengan kemungkinan konsolidasi minor di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, kekhawatiran investor seiring dengan terus bertambahnya jumlah kasus baru dari virus korona baik di dalam maupun luar China, khususnya Korea Selatan diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar.

Sementara itu melemahnya beberapa harga komoditas seperti minyak mentah, nikel dan batu bara diprediksi akan menjadi tambahan katalis negatif bagi indeks. IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan support di level 5.840 dan  resistance  di level 5.920.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: ERAA (Buy, Support: Rp1.805, Resist: Rp1.915), GGRM (Buy, Support: Rp55.100, Resist: Rp56.800), TLKM (Buy, Support: Rp3.640, Resist: Rp3.740), BBCA (Buy, Support: Rp32.825, Resist: Rp33.300).

  • ETF: XBNI ( SELL , Support: Rp1.049, Resist: Rp1.070), XPLQ ( SELL , Support: Rp471, Resist: Rp483), 

    XBLQ ( SELL , Support: Rp457, Resist: Rp467).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup dengan membukukukan penurunan tajam, dipicu oleh lonjakan kasus virus korona terutama di luar China, serta aktivitas bisnis di AS yang lesu. Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi 75.000 kasus virus korona dan 2.200 orang meninggal, dengan lebih dari 880 kasus baru. Sedangkan pemerintah Korsel merilis 200 kasus, dan 80 orang dinyatakan positif di Jepang. Data penjualan mobil China anjlok 92 persen dalam 2 pekan pertama Februari.

Indeks PMI IHS Markit menunjukkan aktivitas di sektor jasa AS pada Februari turun ke level terendah sejak lebih dari 6 tahun terakhir. Saham-saham teknologi menjadi lokomotif pelemahan bursa Wall Street, turun 2,3%. Saham Microsoft terperosok 3%, Amazon, dan Apple melorot setidaknya 1,5%, membebani indeks S&P 500. 

Investor mengalihkan dananya ke aset  safe haven . Imbal hasil US Treasury 30 tahun turun menembus rekor terendah, di bawah 1,9%. Harga emas melonjak lebih dari 1%.

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,78% (-227,57 poin) menjadi 28.992,41.

  • S&P 500 merosot 1,05% (-35,48 poin) ke posisi 3.337,75.

  • Nasdaq Composite anjlok 1,79% (-174,38 poin) ke level 9.576,59.
Bursa saham utama Eropa juga menutup pekan ini dengan membukukan penurunan, terpengaruh rilis data aktivitas bisnis di AS dan lonjakan kasus virus Covid-19 di dalam dan luar China. Tekanan terhadap indeks saham acuan teredam oleh rilis indeks PMI Uni Eropa periode Februari tercatat sebesar 51,6 atau naik dibanding periode Januari di level 51.3, mengalahkan perkiraan para analis. Sedangkan aktivitas manufaktur naik menjadi 49,1, dari 47,9 di bulan Januari, tertinggi dalam 12 bulan terakhir, jauh melebihi ekspektasi 47,5. Di Inggris, indkes PMI gabungan mencapai 53,3, melebihi konsesnus 52,8.

Indeks STOXX 600 turun 0,49% menjadi 428,07,dipimpin penurunan harga saham sektor otomotif sebanyak 1,9%. Sejak awal tahun ini, sektor otomotif telah tergerus 8%. Saham-saham teknologi juga berguguran; SAP melorot 1,3%, AMS AG dan STMicroelectronics turun 0,9%. Burberry Group, emiten dengan brand barang-barang mewah, terpangkas 2,6%.

  • FTES 100 London melemah 0,44% (-32,72 poin) menjadi 7.403,92.

  • DAX 30 Frankfurt melorot 0,62% (-84,67 poin) ke level 13.570,33.

  • CAC 40 Paris turun 0,54% (-32,59 poin) ke posisi 6.029,72.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu diturup melemah, tertekan oleh oeh rilis angka PMI aktivitas bisnis AS di sektor manufaktur dan jasa terhenti pada Februari. Investor juga mencemaskan perluasan penyebaran Covid-19. Indeks PMI sektor jasa AS dari IHS Markit bulan ini turun menjadi 49,4 terendah sejak Oktober 2013 dan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2016. Jauh di bawah perkiraan ekpektasi sebesar 53.

Sedangkan indeks PMI sektor manufaktur berada di 50,8, terendah sejak Agustus. Euro menguat karena aktivitas bisnis di zona euro meningkat lebih tinggi dari ekspektasi. Indeks Dolar AS melorot 0,60% menjadi 99,262. Yen menguat, namun memgalami tekanan sepanjang pekan karena adanya indikasi bahwa negara ini sudah dalam resesi. Poundsterling juga menguat, karena pabrik-pabrik Inggris melaporkan kenaikan tercepat dalam produksi selama 10 bulan pada Februari.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.08470.0062+0.57%
Poundsterling (GBP-USD)1.29640.0082+0.64%
Yen (USD-JPY)111.61-0.49-0.44%
Yuan (USD-CNY)7.02710.0041+0.06%
Rupiah (USD-IDR)13,760.0010.00+0.07%

Sumber : Bloomberg.com, 21/2/2020 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges pekan lalu berakhir turun hingga 1%. Permintaan minyak mentah dikhawatirkan akan tertekan oleh dampak ekonomi wabah Covid-19. Sementara negara produsen minyak tampaknya tidak terburu-buru untuk mengekang produksi. Blokade terbaru di Libya tidak mampu menaikkan harga minyak. Namun sepanjang pekan lalu, harga minyak Brent dan WTI masing-masing naik 1,8% dan 2,3% dibanding akhir pekan sebelumnya.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,4% menjadi USD58,46 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 0,9%, di posisi USD53,38 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan membukukan lonjakan, ke level tertinggi dalam 7 tahun terakhir. Para pemodal berburu aset safe haven seiring kekhawatiran terhadap kejatuhan ekonomi global akibat virus corona yang menyebar cepat. Pelemahan data perekonomian AS dan dampak Covid-19 diperkirakan akan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Secara mingguan harga emas batangan naik 3,6%, pekan terbaik sejak awal Agustus. Harga logam mulia lainnya; palladium turun 0,3% menjadi USD2.681,58 per ounce, perak naik 0,8% menjadi USD18,50, dan platinum turun 0,24% menjadi USD975,53.

  • Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi USD1.640,50 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 1,4% menjadi USD1.643,2 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)

 #YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author