Bursa Pagi: Korban Virus Korona Bertambah Lagi, Asia Melorot Hambat Peluang IHSG

Bursa Pagi: Korban Virus Korona Bertambah Lagi, Asia Melorot Hambat Peluang IHSG

Posted by Written on 10 February 2020


Ipotnews - Mengawali pekan kedua Februari, Senin (10/2), bursa saham Asia dibuka melemah melanjutkan tren pelemahan indeks acuan pada penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Street akhir pekan lalu. 
Sejumlah pabrikan China akan mulai beroperasi kembali hari ini, namun diperkirakan masih banyak yang akan tetap tutup. Hingga Minggu malam, korban tewas akibat virus korona telah menembus 900 orang dan lebih 40.000 terinfeksi di China
Pasar juga menunggu rilis data inflasi China hari ini. Indeks MSCI Asia ex-Jepang turun 0,4%.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,45%, di tengah pelemahan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks berlanjut turun 0,44% (-31,20 poin) ke posisi 6.991,40 pada pukul 8:00 WIB.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang juga bergerak turun 0,58% (-138,57 poin) menjadi 23.689,41, setelah dibuka merosot 0,69%, dan Topix anjlok 0,75%. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka terperosok 1,15% dan berlanjut anjlok 1,24% ke level 2.184,48.
Lanjutkan tren penurunan global, indeks Hang Seng, Hongkong juga dibuka turun, anjlok 1,14% (-312,12 poin) ke level 27.092,15 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China melorot 0,54% ke posisi 2.860,50.
Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah gagal menembus level 6.000 pada penutupan sesi perdagangan akhir pekan lalu meskipun menguat 0,21% di level 5.999. Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange melorot 1,21% menjadi USD24,58.
Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan kenaikan, berusaha bertahan di atas level 6.000. Beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan di area netral.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks bursa global seiring dengan kekhawatiran investor terhadap melambatnya ekonomi China akibat terus bertambahnya jumlah terinfeksi virus korona akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu turunnya sebagian besar harga komoditas yaitu minyak mentah, CPO, nikel, timah, batu bara juga diprediksi akan menambah katalis negatif bagi indeks.
IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan support di level 5.970 dan resistance  di level 6.025.
Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;
  • Saham: INDF (Buy, Support: Rp7.675, Resist: Rp8.000), PTPP (Buy, Support: Rp1.430, Resist: Rp1.515), 

    AKRA (Buy, Support: Rp3.310, Resist: Rp3.500), BBCA (Buy, Support: Rp33.550, Resist: Rp34.225).

  • ETF: XMTS (Buy, Support: Rp484, Resist: Rp488), XIIC ( SELL , Support: Rp1.102, Resist: Rp1.108), 

    XDIF (Buy, Support: Rp482, Resist: Rp486).


Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street mengakhiri pekan lalu dengan membukukan penurunan, kekhawatiran terhadap perkembangan wabah virus corona yang telah menewaskan 636 orang menekan rilis data lapangan pekerjaan AS. Rilis data penggajian tenaga kerja non pertanian AS periode Januari sebesar 225.000, jauh di atas perkiraan sebesar 160.000 lapangan pekerjaan. Tingkat upah juga naik 3.1% (yoy). The Fed menyebut risiko utama perekonomian AS telah surut namun Fed mencatat risiko dari wabah virus corona.
Meski demikian, Wall Street masih membukukan kenaikan yang solid secara mingguan. Indeks S&P 500 mencatat kenaikan mingguan lebih dari 3%, terbesar sejak awal Juni. Dow Jones juga naik 3%, dan Nasdaq melejit 4%. Sebagian besar saham dalam indeks S&P 500 terkoreksi, dipimpin kejatuhan di sektor material dan teknologi. Sementara itu, data IBES dan Refinitiv memperkirakan dari lebih separuh emiten S&P 500 yang telah merilis kinerja, mengalami kenaikan laba 2,3%. Saham Caterpillar dan Boeing merosot 2.8% dan 1.6%, Disney dan Goldman Sachs juga turun lebih dari 1%
  • Dow Jones Industrial Average anjlok 0,94% (-277,26 poin) ke level 29.102,51.

  • S&P 500 drop 0,54% (-18,08 poin) menjadi 3.327,71.

  • Nasdaq Composite melorot 0,54% (-51,64 poin) ke posisi 9.520,51.
Bursa saham utama Eropa juga mengakhiri pekan lalu di zona merah, karena laporan laba emiten yang mengecewakan dan kekhawatiran wabah virus korona yang menyebabkan terhentinya operasi banyak perusahaan di China. S&P Global Ratings menurunkan perkiraan pertumbuhan China tahun 2020 dari 5,7% menjadi 5%. Indeks semakin tertekan oleh rilis data penurunan produksi sektor industri Jerman periode Desember sebesar 3,5% dibanding November, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,1%. Output industri Prancis juga turun 2,8% jauh di bawah ekspektasi penurunan 0,4%.
Indeks STOXX 600 turun 0,27% menjadi 424,36, dipimpin penururnan sektor industri dasar, otomotif dan barang ritel mewah, mengalami pelemahan terburuk dalam 2 pekan terakhir. Saham Nokia dan Ericsson melaju sekitar 6% setelah AS mendesak sekutunya untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan Eropa agar melawan dominasi Huawei dalam teknologi nirkabel 5G.
  • FTSE 100 London melorot 0,51% (-38,09 poin) ke level 7.466,70.

  • DAX 30 Frankfurt turun 0,45% (-61,01 poin) ke posisi 13.513,81.

  • CAC 40 Paris melemah 0,14% (-8,43 poin) menjadi 6.029,75.

Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York menutup pekan lalu dengan melonjak ke tingkat tertinggi empat bulan didorong oleh laporan ketenagakerjaan non-pertanian AS yang kuat. 
Pekerjaan di lokasi konstruksi naik tertinggi dalam satu tahun terakhir. Muncul perkiraana bahwa The Fed akan mempertahan suku bunga stabil. Laju dolar AS tertahan oleh rilis laporan kebijakan moneter terbaru The Fed kepada Kongres AS, yang menyebutkan dampak dari penyebaran virus sebagai salah satu risiko terhadap prospek ekonomi AS.
Nilai tukar dolar AS mencapai level tertinggi dua bulan terhadap poundsterling dan dolar Kanada, dan tertinggi empat bulan terhadap euro. Dolar menguat terhadap franc Swiss, namun melemah terhadap yen Jepang. 
Indeks dolar AS menguat 0,19% menjadi 98,684, mencatatkan persentase kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.0946-0.0037-0.34%
Poundsterling (GBP-USD)1.2892-0.0039-0.30%
Yen (USD-JPY)109.75-0.24-0.22%
Yuan (USD-CNY)7.00240.0316+0.45%
Rupiah (USD-IDR)13,675.0040.50+0.30%

Sumber : Bloomberg.com, 7/2/2020 (ET)

Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup turun, terpengaruh pernyataan Rusia bahwa butuh waktu lebih banyak sebelum membuat kesepakatan pengurangan produksi. Kementerian energi Rusia memperkirakan permintaan minyak global akan turun 150.000 hingga 200.000 barel per hari pada 2020 sebagian karena faktor wabah virus korona. Sebelumnya, panel OPEC + menyarankan pengurangan produksi 600.000 bph.
Wacana pengurangan produksi muncul mengantisipasi kekhawatiran pelemahan permintaan minyak global akibat wabah virus korona. Harga minyak melemah 5 pekan berturut-turut. Secara mingguan Brent turun 6% dan WTI melemah 2,4%.
  • Harga minyak berjangka Brent turun 41 sen menjadi USD 54,52 per barel.

  • Harga minyak berjangka WTI turun 63 sen menjadi USD 50,32 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup menguat seiring meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat wabah virus korona. Eksepektasi suku bunga yang tetap rendah mengimbangi data ekonomi AS yang kuat. Namun secara mingguan harga emas di pasar spot turun 1,3%, pelemahan mingguan terburuk sejak awal November.
Sementara itu harga logam berharga lainnya; paladium turun 2% menjadi USD2.298,87 per ounce, perak turun 0,7% ke harga USD17,69, platinum naik 0,1 persen menjadi USD962,76.
  • Harga emas di pasar spot naik 0,15% menjadi USD 1.572,6 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 0,1% menjadi USD 1.571,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)
#YukNabungETF 
#IPOTKaryaAnakBangsa 
#BanggaPakeIPOT 
#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author