Bursa Pagi: Wall Street - Asia Cenderung Melemah, Ancam Peluang Laju IHSG

Bursa Pagi: Wall Street - Asia Cenderung Melemah, Ancam Peluang Laju IHSG

Posted by Written on 15 January 2020


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (15/1), dibuka bervariasi cenderung melemah, jelang penandatanganan fase satu perjanjian dagang AS-China yang mendorong kenaikan indeks acuan di bursa saham utama Eropa, namun cenderung melemah di bursa Wall Street.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,34%, dengan sebagian besar sektor bertengger di zona hijau. Indeks berlanjut naik 0,32% (22,60 poin) ke level 6.984,80 pada pukul 8:15 WIB.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang meluncur turun 0,37% (-89,17 poin) ke posisi 23.936,00, setelah dibuka turun 0,23%, dan Topix melemah 0,19%. Indeks Kospi, Korea Selatan, dibuka tergelincir 0,43% dan berlanjut melorot 0,57% ke level 2.226,17.
Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik tipis 0,02% (5,93 poin) di posisi 28.891,07 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China melemah 0,12% mmenjadi 3.103,17.
Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada pergerakan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang bervariasi cenderung melemah, setelah berhasil mempertahankan laju kenaikan pada sesei perdagangan kemarin. IHSG ditutup naik 0,46% menjadi 6.325, namun harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange melemah 0,08% menjadi USD26,37.
Beberapa analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berada dalam rentang konsolidasi, berpeluang melanjutkan kenaikan. Sejumlah indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan di area positif.
Tim Riset indo Premier berpendapat, kekhawatiran investor karena adanya laporan bahwa AS tetap akan mengenakan tarif terhadap barang asal China hingga berlangsungnya pilpres AS di bulan November 2020, diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu menguatnya beberapa harga komoditas seperti minyak mentah dan timah diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar.
Dari dalam negeri, investor juga akan mencermati data neraca dagang pada bulan Desember yang menurut konsensus akan membukukan defisit sebesar USD0,47 miliar atau lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar USD1,33 miliar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan support di level 6.300 dan resistance di level 6.350.
Beberapa ekuitas yang direkomendasikan antara lain;
  • Saham: JPFA (Buy, Support: Rp1.640, Resist: Rp1.715), SSIA (Buy, Support: Rp685, Resist: Rp740), 

    TOWR (Buy, Support: Rp790, Resist: Rp810), BBCA (Buy, Support: Rp33.725, Resist: Rp34.975).

  • ETF: XISC (Buy, Support: Rp726, Resist: Rp734), XIHD (Buy, Support: Rp512, Resist: Rp518), 

    XISR (Buy, Support: Rp411, Resist: Rp417).


Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir cenderung melemah. Musim laporan keuangan emiten dibuka dengan inerja perbankan yang variatif menjelang penandatanganan perjanjian perdagangan AS-China, Rabu ini. Indeks juga terberbani oleh berita bahwa AS bisa mempertahankan tarif lebih dari USD300 miliar terhadap barang-barang China hingga November 2020, ketika pilpres AS dihelat.
Saham Citi melesat 1,6% dan JP Morgan Chase melonjak 1,2%, memimpin kenaikan sektor perbankan didukung kinerja kuartal keempat yang kuat. Tapi Wells Fargo merosot 5,4% karena gagal memenuhi ekspektasi laba. Saham Delta Airlines dan FedEX masing-masing melonjak 3,3% dan 1,8%. Namun ekspektasi musim laporan keuangan versi FactSet relatif rendah. Laba emiten S&P 500 diperkirakan turun 2% pada kuartal keempat ( year-over-year ).
  • Dow Jones Industrial Average,menguiat 0,11% (31 poin) menjadi 28.939,67.

  • S&P 500 melemah 0,15% (-4,98 poin) ke posisi 3.283,15.

  • Nasdaq Composite Index turun 0,24% (-22,60 poin) ke level 9.251,33.
Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir di zona hijau, merespon sinyal baik Departemen Keuangan AS, menyambut delegasi China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Liu He dengan mencabut China dari daftar manipulator mata uang. Rilis data ekonomi Inggris periode November menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi ke level terlemah sejak 2012, mendorong ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank of England dan menekan poundsterling.
Indeks STOXX 600 naik 0,29% menjadi 419,59, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Saham barang rumah tangga rata-rata meningkat 0,65%, saham perjalanan dan wisata melaju 0,75%, namun sektor migas turun 0,39%. Saham NMC Health melambung lebih dari 10% menjelang pertempuran hukum dengan aktivis short seller AS, Muddy Waters. Saham Old Mutual melejit 2,7% setelah pengadilan Afrika Selatan menguatkan banding perusahaan itu. Evonik merosot 4% setelah pemegang saham pengendali perusahaan kimia itu menjual lebih dari 5% sahamnya. Tullow Oilanjlok 4,9%.
  • FTSE 100 London naik tipis 0,06% (4,75 poin) di posisi 7.622,35.

  • DAX 30 Frankfurt bertambah 0,04% (4,97 poin) di level 13.456,49.

  • CAC 40 Paris menguat 0,08% (4,75 poin) menjadi 6.040,89.

Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup sedikit menguat. Sehari sebelum penandatanganan perjanjian perdagangan AS-China, muncul berita bahwa AS akan mempertahankan tarif barang-barang China hingga pilpres AS November 2020, sehingga merusak sentimen terhadap aset berisiko. Sebelumnya, Washington telah menghapus China dari daftar manipulator mata uang, yang dinilai sebagai tindakan perdamaian sebelum penandatanganan kesepakatan itu.
Rilis indeks harga konsumen AS pada Desember sedikit menguat dan tekanan inflasi bulanan menurun, sehingga memungkinkan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga sepanjang tahun ini. Indeks dolar AS menguat 0,03% menjadi 97,372.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.11280.000.00%6:29 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.30200.0001+0.01%6:29 PM
Yen (USD-JPY)109.92-0.07-0.06%6:28 PM
Yuan (USD-CNY)6.8843-0.0095-0.14%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)13,680.007.50+0.05%3:51 AM

Sumber : Bloomberg.com, 14/1/2020 (ET)

Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi tadi bergerak menguat, setelah lima hari penurunan. 
AS dan China bersiap untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dan ketegangan Timur Tengah mereda. China dikabarkan menjanjikan untuk membeli lebih dari USD50 miliar pasokan energi dari AS selama dua tahun ke depan, menurut sumber yang menjelaskan tentang kesepakatan perdagangan itu. Impor minyak mentah China melonjak 9,5% sepanjang 2019, rekor tahunan ke-17 berturut-turut karena pertumbuhan permintaan dari kilang-kilang baru.
Analis menyebutkan harga minyak juga menemukan technical support setelah WTI turun ke level terendah lima pekan di posisi USD57,72 per barel. Badan Informasi Energi (EIA) AS memproyeksikan laju pertumbuhan produksi minyak AS ke rekor tertinggi akan melambat menjadi 3% pada 2021, terendah sejak 2016. Jajak pendapat Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS akan turun sekitar 500.000 barel pada pekan lalu.
  • Harga minyak mentah berjangka Brent, naik 29 sen (0,5%) menjadi USD64,49 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI, naik 15 sen (0,3%) menjadi USD58,23 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi berakhir melemah jelang kesepakatan dagang AS-China, yang mengurangi daya tarik bullionPalladium mencatat rekor tertinggi karena defisit pasokan berkelanjutan. Harga konsumen AS pada Desember naik, sedikit di bawah ekspektasi, dan tekanan inflasi dasar bulanan menurun, yang dapat memungkinkan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tidak berubah setidaknya sampai tahun ini. Harga paladium melonjak 2,7% menjadi USD2.189,77 per ounce, perak anjlok 1% menjadi USD17,78, dan platinum naik 0,9% menjadi USD982,26.
  • Harga emas di pasar spot turun 0,1% menjadi USD1.546,48 per ounce.

  • Harga emas berjangka melemah 0,4% menjadi USD1.544,60 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)
#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author