Bursa Pagi: Asia Bergerak Melemah, IHSG Masih Berpotensi Menguat

Bursa Pagi: Asia Bergerak Melemah, IHSG Masih Berpotensi Menguat

Posted by Written on 07 October 2019


Ipotnews - Mengawali pekan kedua Oktober, Senin (7/10), bursa saham Asia dibuka menguat namun berlanjut cenderung melemah. Investor menunggu kabar tentang rencana putaran baru perundingan dagang AS-China yang dijadwalkan jelang akhir pekan ini. Indeks MSCI Asia ex-Jepang naik 0,22%. Bursa Hingkong dan China, hari ini libur.

Membuka perdagangan saham pekan ini, indeks ASX 200, Australia dibuka naik 0,37%, namun volume perdagangan hari ini diperkirakan akan rendah karena libur Hari Buruh. Indeks berlanjut naik 0,35% (23,00 poin) ke level 6.540,10 pada pukul 8:25 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang turun 0,29% (-62,51 poin) menjadi 21.347,69, setelah dibuka naik namun dengan cepat melemah 0,25%, dan Topix menyusut 0,10%. Saham berkapitalisasi besar menguat dan Softbank Group melonjak 1,12%. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka naik tipis 0,09% namun berlanjut melemah 0,01% di posisi 2.020,47.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) akhir pekan lalu berhasil menghindar dari tekanan ke bawah level 6.000 dan ditutup menguat 0,38% ke level 6.061. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini berpotensi menguat, didukung capital inflow dan katalis positif rilis data cadangan devisa dan pertumbuhan kredit perbankan. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan menjauhi area jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya indeks bursa global seiring dengan solidnya data tenaga kerja Amerika pada bulan September diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk indeks.  Rebound nilai tukar rupiah serta naiknya sejumlah harga komoditas seperti minyak mentah, CPO, nikel dan batu bara juga diprediksi akan menjadi tambahan katalis positif untuk indeks.

IHSG diprediksi akan bergerak menguat dengan support di level 6.030 dan  resistance  di level 6.090.
Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: PGAS (Buy, Support: Rp2.050, Resist: Rp2.150), BBRI (Buy, Support: Rp3.870, Resist: Rp4.030), 

    INDF (Buy, Support: Rp7.750, Resist: Rp7.950), MAPI (Buy, Support: Rp965, Resist : Rp1.015).

  • ETF: XPFT (Buy, Support: Rp513, Resist: Rp521), XIHD (Buy, Support: Rp468, Resist: Rp474), 

    XISR (Buy, Support: Rp381, Resist: Rp386).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat signifikan didukung rilis data ketenagakerjaan AS yang meredam kekhawatiran resesi ekonomi. Data lapangan kerja di AS periode September naik 136 ribu meskipun masih di bawah estimasi sebesar 145 ribu. Angka pengangguran mencapai 3,5%, terendah dalam 50 tahun terakhir. Data lapangan kerja ini dinilai tetap cukup untuk mendorong the Fed ke jalur kebijakan pelonggaran moneter akhir bulan ini. Ekspektasi FedWatch CME Group untuk penurunan suku bunga the Fed sebesar 25 bps mencapai 79 persen.

Saham sektor teknologi mencatatkan kinerja terbaik dengan melaju 1,7%. Saham Apple Inc melonjak 2,8% karna dikabarkan akan meningkatkan produksi iPhone 11 sebesar 10%. Yield surat utang AS tenor 10 tahun naik ke level 1,51%. Namun sepanjang pekan lalu indeks Dow Jones dan S&P 500 membukukan pelemahan tiga pekan berturut-turut, sedangkan Nasdaq naik 0,5% dibanding pekan sebelumnya.

  • Dow Jones Industrial Average melonjak 1,42% (372 poin) ke level 26.573,72.

  • S&P 500 melompat 1,42% (41,38 poin) ke posisi 2.952,01.

  • Nasdaq Composite meningkat 1,40% (110,21 poin) menjadi7.982,47.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,88% menjadi USD24,15.

Bursa saham utama Eropa mengakhiri pekan lalu dengan mencatatkan kenaikan, terpengaruh oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang menguat. Indeks STOXX 600 naik 0,73% menjadi 380,22, dipimpin kenaikan harga saham sektor teknologi. Saham AMS, Infineon Technologies, STMicro dan Dialog semiconductor naik dengan kisaran 2% hingga 4,3%. Indeks FTSE 100 Inggris mencatatkan kenaikan, namun berada di jalur pelemahan mingguan terburuk dalam setahun terakhir tertekan oleh kekhawatiran Brexit dan ancaman resesi.

Saham sektor utilitas, kimia, dan perawatan kesehatan naik lebih dari 1%, namun sektor otomotif turun 0,7%. Saham BMW turun 1,2% setelah Australia meminta penarikan 20 ribu mobil, termasuk BMW, dengan kondisi airbag rusak,. Saham London Stock Exchange Group Plc melonjak 3% setelah dikabarkan meminta otoritas bursa saham Hong Kong untuk meningkatkan penawaran akuisisi sebesar 20%. Saham BP naik 0,8% seteah mengumumkan rencana pengunduran diri CEO-nya, Maret tahun depan. Mark & Spencer anjlok 4,0% karena HSBC mengubah rekomendasi sahamnya menjadi " reduce ".

  • FTSE 100 London melaju 1,10% (77,74 poin) ke level 7.155,38.

  • DAX 30 Frankfurt naik 0,73% (87,56 poin) menjadi 12.012,81.

  • CAC 40 Paris meningkat 0,91% (49,55 poin) ke posisi 5.588,32.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup melemah, kendati para analis menilai solid rilis data ketenagakerjaan AS. Data penggajian non pertanian AS periode September mencapai 136 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 145 ribu, turun jauh dari angka revisi Agustus sebesar 168.000. Angka pengangguran ke level terendah dalam 50 tahun sebesar 3,5%.

Namun rilis indeks aktivitas non manufaktur periode September, Kamis lalu, turun menjadi 52,6, terendah sejak Agustus 2016. Dokumen diplomatik yang dirilis Kamis pekan ini memperlihatkan para pejabat AS menekan kolega mereka di pemerintahan Ukraina agar merilis penyelidikan yang dapat menguntungkan agenda politik pribadi Presiden AS Donald Trump. Indeks dolar AS melemah 0,06% menjadi 98,808.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.09790.0014+0.13%
Poundsterling (GBP-USD)1.2331-0.0001-0.01%
Yen (USD-JPY)106.940.02+0.02%
Yuan (USD-CNY)7.14830.0256+0.36%
Rupiah (USD-IDR)14137.5-34.5-0.24%

Sumber : Bloomberg.com, 4/10/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges pekan lalu berakhir dengan menguat tipis, seiring perbaikan data lapangan kerja AS yang meredakan kecemasan perlambatan ekonomi global. Namun secara mingguan harga minyak melemah untuk pekan kedua berturut-turut. Analis mengatakan, kenaikan harga minyak masih dipengaruhi oleh isu makro ekonomi, dan tidak berdasarkan permintaan dan pasokan yang sesungguhnya.

Pasar musti bersiap menghadapi harga minyak yang lebih rendah karena Arab Saudi menyatakan telah kembali memproduksi minyak secara penuh setelah serangan drone terhadap fasilitas minyaknya bulan lalu. Data Baker Hughes menyebutkan jumlah rig perusahaan minyak AS yang beroperasi hingga 4 Oktober turun 3 rig menjadi 710, terendah sejak Mei 2017.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 52 sen menjadi USD 58,23 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI naik 36 sen menjadi USD 52,81 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu cenderung stabil, setelah terpangkas pada sesi sebelumnya. Harga emas pasar spot naik 0,1% menjadi USD 1.506,31 per ounce. Secara mingguan, harga emas naik 0,8%. Data lapangan kerja di AS periode September naik secara moderat, sedikit meredakan kekhawatiran karena suramnya data ekonomi AS lainya, seperti aktivitas sektor manufaktur yang jasa. Para trader berspekulasi the Fed akan memangkas suku bunga lagi pada rapat mendatang. Harga logam mulai lainnya, seperti platinum turun 1,5% menjadi USD 876,79 per ounce, turun 5% secara mingguan. Perak turun 0,2% menjadi USD 17,52 per ounce, dan paladium naik 1,7% menjadi USD 1.681,06.


(AFP, CNBC , Reuters)

#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author