Bursa Pagi: Asia Menguat, Tekanan Koreksi Bayangi Potensi Laju IHSG

Bursa Pagi: Asia Menguat, Tekanan Koreksi Bayangi Potensi Laju IHSG

Posted by Written on 09 September 2019


Ipotnews - Mengawali pekan kedua September, Senin (9/9) bursa saham Asia dibuka menguat, merespon rilis beberapa data ekonomi AS dan China yang bervariasi pada akhir peka. Data ketenagakerjaan AS periode Agustus menguat, namun lebih rendah dari ekspektasi. Bank Rakyat China menyiapkan pemangkasan persyaratan pencadangan bank antara 50 hingga 100 basis poin untuk mendorong pertumbuhan. Rilis data ekspor China periode Agustus, turun 1% (yoy), jauh di bawah ekspektasi kenaikan sebesar 2%. Indeks MSCI Asia ex-Jepang menguat 0,12%.

Membuka perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka cenderung mendatar di kisaran level 6.650 , di tengah kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks bergerak menguat 0,14% (9,60 poin) menjadi 6.656,90 pada pukul 8:20 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak meningkat 0,48% (101,75 poin) ke posisi 21.301,32, setelah dibuka naik 0,4%, diwarnai rilis revisi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua menjadi 1,3% (yoy) dari estimasi sebelumnya sebesar 1,8%. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka melaju 0,76%, saham SK Hynix melompat 2,08%, dan berlanjut melaju 0,81% ke level 2.025,36.

Lanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik 0,20% (52,60 poin) menjadi 26.743,36 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China melaju 0,81% (24,18 poin) ke level 3.023,78.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks yang cenderung menguat pada pembukaan Asia, setelah berhasil mencatatkan kenaikan tipis 0,03% di level 6.308 pada sesi perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp354,01 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan jangka pendek, namun diwarnai tekanan koreksi. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi koreksi di tengah upaya menggeser rentang konsolidasi ke arah positif.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, mengecewakannya data tenaga kerja AS pada bulan Agustus diprediksi akan menjadi sentimen negatif bagi indeks Selain itu melemahnya beberapa harga komoditas seperti timah dan batu bara juga akan menambah katalis negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan  support  di level 6.280 dan resistance  di level 6.340.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;


  • Saham: BBRI (Buy, Support: Rp4.220, Resist: Rp4.300), ISAT (Buy, Support: Rp3.420, Resist: Rp3.640), 

    SMRA (Buy, Support: Rp1.120, Resist: Rp1.210), MYOR (Buy, Support: Rp2.470, Resist : Rp2.510).


  • ETFs : XIIF (Buy, Support: Rp648, Resist: Rp654), XPSG (Buy, Support: Rp454, Resist: Rp460),

    XPES( SELL ,Support:Rp436,Resist: Rp439).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup cenderung mendatar setelah rilis data ketenagakerjaan AS periode Agustus, yang bertambah 130.000, tapi lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 150.000. Presentase pengangguran bertahan di 3,7%, meskipun tingkat upah naik 0,4% secara bulanan atau meningkat 3,2% (yoy). Namun secara mingguan Wall Street menguat didukung optimisme berlanjutnya negosiasi dagang AS-China yang akan dimulai lagi pada awal Oktober. Dow Jones naik 1,5%, dan Nasdaq meningkat 1,8%.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun turun menjadi 1,57% dari kisaran 1,6%. Chairman The Fed Jerome Powell menyatakan, bak sentral akan bertindak jika diperlukan untuk mempertahankan ekspansi ekonomi yang sedang berjalan, dan tidak mengekspektasikan ekonomi AS akan jatuh ke dalam resesi. Saham Lululemon melompat lebih dari 7%, Land's End dan Signet Jewelers masing-masing naik 2,5% dan 4%.

  • Dow Jones Industrial Average naik 0,26% (69,31 poin) ke level 26.797,46

  • S&P 500 menguat 0,09% (2,71 poin) menjadi 2.978,71.

  • Nasdaq Composite melemah 0,17% (-13,75 poin) di posisi 8.103,07.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,59% menjadi USD25,43.

Bursa saham utama Eropa mengakhiri pekan lalu dengan menguat merespon positif kebijakan China untuk meningkatkan volume kredit perbankan demi mendorong likuiditas guna mendongkrak ekonomi yang melambat.

Kabar dari China mengalahkan sentimen negatif data pertumbuhan lapangan kerja di AS lebih lambat dari perkiraan serta pelemahan data output industri Jerman. Data Eurostat mengungkapkan bahwa pertumbuhan PDB zona euro kuartal II-2019 hanya mencapai 0,2%, hanya separuh dari pertumbuhan kuartal sebelumnya. Investor mengambil risiko meskipun terdapat kekhawatiran bahwa perang dagang yang berkepanjangan akan adanya resesi.

Indeks STOXX 600 naik 0,32% menjadi 387,14, melaju 1,7% secara mingguan, dipimpin kenaikan harga saham di bidang kimia dan industri. Saham Thyssenkrupp AG melonjak 5%, ke level tertinggi dalam 2 bulan terakhir. 

Saham-saham otomotif Jerman melemah terpukul kabar bahwa Departemen Kehakiman AS menginvestigasi keputusan perusahaan otomotif Jerman yang bersepakat dengan pemerintah federal California guna mengadopsi standard emisi yang menentang UU Anti Monopoli.

  • DAX 30 Frankfurt naik 0,54% (65,95 poin) ke level 12.191,73.

  • FTSE 100 London) menguat 0,15% (11,17 poin) ke posisi 7.292,34.

  • CAC 40 Paris bertambah 0,19% ( 10,62 poin) menjadi 5.603,99.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York juga mengakhiri pekan lalu dengan sedikt melemah, tertekan oleh rilis data ketenagakerjaan AS periode Agustus, yang di bawah estimasi. 

Para trader menanti sinyal kebijakan the Fed selanjutnya, pasca penurunan suku bunga pada Juli lalu.
Data lapangan kerja di AS periode Agustus sebanyak 130 ribu atau lebih rendah dibanding perkiraan sebanyak 158.000. Tingkat upah naik 0,4 persen atau lebih tinggi dibanding perkiraan analis sebesar 0,3 persen. Indeks dolar AS naik tipis 0,02% menjadi 98,394, namun secara mingguan turun 0,67%, level terendah sejak Juni tahun ini.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1029-0.0006-0.05%
Poundsterling (GBP-USD)1.2283-0.0051-0.41%
Yen (USD-JPY)106.92-0.02-0.02%
Yuan (USD-CNY)7.1164-0.0325-0.45%
Rupiah (USD-IDR)14,101.00-54.00-0.38%

Sumber : Bloomberg.com, 6/9/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup menguat, seiring pernyataan pimpinan The Fed yang akan bertindak selayaknya demi menopang ekspansi ekonomi. Harga minyak sempat terkoreksi merespon rilis data lapangan kerja di AS yang yang lebih rendah dari ekspektasi, serta berlanjutnya perang dagang AS-China.

Analis UBS mengatakan pertumbuhan permintaan minyak secara global hanya sebesar 900 ribu per barel pada 2019 dan 2020. Proyeksi pertumbuhan permintaan minyak berkurang menjadi sekitar 1 juta barel per hari, turun dari proyeksi pada awal tahun sebesar 1,3 juta bph. Harga minyak Brent diperkirakan akan ditransaksikan di kisaran USD 55 per barel pada tahun depan

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 52 sen (0,9%) menjadi USD61,47 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI naik 22 sen (0,4%) menjadi USD 56,52 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup melemah, meskipun rilis data lapangan kerja AS periode Agustus, tumbuh lebih rendah dari perkiraan. Emas berada pada jalur pelemahan mingguan kedua, tertekan oleh pernyataan pimpinan The Fed, Jerome Powell yang mengaku walaupun terdapat ketidakpastian perdagangan internasional, namun tidak melihat atau memperkirakan adanya resesi. Harga emas sudah melambung 17,6% sepanjang tahun ini.

Analis mengatakan, prospek emas secara keseluruhan dalam jangka pajang masih tetap kuat dan akan menjadi sedikit berfluktuatif menjelang keputusan suku bunga the Fed pada pertengahan September. Sementara itu, harga logam mulia lain seperti perak anjlok 3% ke level USD 18,06 per ounce, platinum turun 1% menjadi USD 949,67 per ounce, dan palladium merosot 1,2% ke posisi USD 1.541,15.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,7% menjadi USD1.508 per ounce.

  • Harga emas berjangka turun USD10 menjadi USD1.515,50 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author