Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, Hambat Peluang Laju IHSG

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, Hambat Peluang Laju IHSG

Posted by Written on 02 September 2019


Ipotnews - Membuka perdagangan pekan ini, di awal September (Senin, 2/9), bursa saham Asia dibuka melemah, seiring dengan diberlakukannya tarif impor tambahan dalam perang dagang AS-China, masing-masing senilai USD112 miliar dan USD75 miliar. Indeks MSCI Asia ex-Jepang melemah 0,11%.

Mengawali perdagangan hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka sedikit melemah di kisaran level 6.590. Harga minyak melemah pada pembukaan pasar Asia. Indeks berlanjut turun 0,24% (-15,80 poin) menjadi 6.588,40 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, melorot 0,40% (-82,01 poin) ke level 20.622,36, setelah dibuka turun 0,35%, dan Topix melemah 0,25% diwarnai penurunan tajam harga saham Softbank Group sebesar 1,8%. 

Indeks Kospi, Korea Selatan, juga menyusut 0,22%tertekan kejatuhan harga saham saham LG Chem sebesar 3%, dan berlanjut di posisi 1.963,38.

Melanjutkan tren pelemahan Asia indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,38% (-96,90 poin) ke level 25.627,83 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China sedikit bertambah, 0,02% di posisi 2.886,94.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tekanan pelemahan di bursa saham Asia, setelah berhasil mengakhiri pekan lalu dengan mencatatkan kenaikan indeks sebesar 0,63% menjadi 6.328. Investor asing membukukan pembelian bersih Rp68,49 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpotensi melanjutkan kenaikan didukung kembalinya capital in-flow dan rilis data inflasi Badan Pusat Statistik. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi koreksi wajar di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, sikap hati-hati investor menjelang pertemuan dagang AS-China serta mulai diterapkannya tarif impor antar kedua negara pada awal bulan September diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Dari dalam negeri, investor juga akan mencermati data inflasi pada bulan Agustus, yang berdasarkan konsensus akan berada di level 3,54%  yoy.

Sementara itu, menguatnya sebagian besar harga komoditas seperti minyak mentah, CPO, nikel, timah dan batu bara diprediksi akan menjadi katalis positif bagi indeks. IHSG diprediksikan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan  support  di level 6.300 dan  resistance  di level 6.360.


Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: BEST (Buy, Support: Rp308, Resist: Rp316), ASII (Buy, Support: Rp6.500, Resist: Rp6.850), 

    BBRI (Buy, Support: Rp4.190, Resist: Rp4.350), BMRI (Buy, Support: Rp7.125, Resist : Rp7.375).

  • ETF: XBLQ (Buy, Support: Rp489, Resist: Rp501), XIIT (Buy, Support: Rp554, Resist: Rp571), 

    XDIF (Buy, Support: Rp498, Resist: Rp511).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street mengakhiri pekan lalu dengan cenderung mendatar, para investor menarik diri dari keriuhan aktivitas perdagangan bulan ini yang bergerak liar menunggu sinyal perkembangan pekan depan. Tekanan perang dagang AS-China mereda menjelang akhir pekan, mendongkrak indeks S&P 500 hampir mencapai 3% sepanjang pekan lalu, terbaik sejak Juni lalu. Indeks saham acuan lainnya juga naik, mengakhiri tren penurunan selama empat pekan berturut-turut.

Departemen Perdagangan AS menyatakan, data ekonomi AS masih kuat, belanja konsumen juli naik 0,6%, melebihi ekspektasi 0,5%. Sementara itu, keyakinan konsumen tetap berada tinggi, mendekati level tertinggi sejak hampir 20 tahun terakhir.

  • Dow Jones Industrial Average naik 0,16% (41,03 poin) menjadi 26.403,28.
  • S&P 500 menguat tipis 0,06% (1,88 poin) di posisi 2.926,46.

  • Nasdaq Composite melemah 0,13% (-10,51 poin) di level 7.962,88.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,72% menjadi USD25,19.

Bursa saham utama Eropa menutup pekan lalu dengan berlabuh di zona hijau, ke level tertinggi dalam sebulan terakhir. Investor ditenangkan oleh sikap akomodatif China dan AS untuk kembali ke negosiasi perang dagang. 

Indeks STOXX 600 naik 0,73% menjadi 379,48, posisi tertinggi selama Agustus, dipimpin lonjakan harga saham komoditas yang melesat 2.5%. Sektor lain yang sensitif terhadap perang dagang seperti otomotif melonjak 1%, dan sektor teknologi melaju 0,9%. Sektor real estate melompat 2% mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak Oktober 2018.

Namun gejolak selama Agustus, menggerus indeks FTSE 100 sebanyak 5,3% dibanding bulan sebelumnya, penurunan bulanan terburuk sejak Agustus 2015. Hasil survei sentimen konsumen Inggris memperlihatkan penurunan kepercayaan pengusaha dan konsumen pada Agustus, akibat kekacauan politik yang berdampak pada perekonomian. Sementara itu, Indeks harga konsumen Prancis periode Agustus mencapai 1,2% (yoy) lebih rendah dibanding Juli, namun sejalan dengan ekspektasi. Penjualan ritel Spanyol periode Juli naik 3,2% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 2,5%.

  • FTSE 100 London menguat 0,32% (22,86 poin) menjadi 7.207,18.

  • DAX 30 Frankfurt melaju 0,85% (100,40 poin) ke level 11.939,28.

  • CAC 40 Paris, meningkat 0,56% (30,51 poin) ke posisi 5.480,48.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat, di tengah koreksi yuan China yang membentuk koreksi bulanan 3,6%, terburuk sejak 1994. Mulai 1 September, AS memberlakukan tarif impor tambahan 5% pada impor barang asal China senilai USD 125 miliar. Penguatan dolar juga disokong oleh rilis data kenaikan belanja konsumen AS periode Juli.

Sementara itu, mata uang  safe haven,  yen naik 0,34% menuju kenaikan bulanan tertinggi dalam 3 bulan terakhir, sebagian didorong oleh reli surat utang pemerintah global, dibarengi penurunan yield di sebagian besar negara maju ke teritori negatif. Indeks dolar AS naik 0,42% menjadi 98,916.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.0982-0.0075-0.68%
Poundsterling (GBP-USD)1.2156-0.0025-0.21%
Yen (USD-JPY)106.2800-0.2400-0.23%
Yuan (USD-CNY)7.15650.0120+0.17%
Rupiah (USD-IDR)14,197.50-40.00-0.28%

Sumber : Bloomberg.com, 30/8/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu terkoreksi. Serangan badai Dorian dekat pantai Florida AS menekan permintaan namun secara mingguan harga minyak masih menguat. Menurut survei Reuters, produksi minyak OPEC naik 80 ribu barel per hari di periode Agustus, kenaikan bulanan pertama tahun ini.

Para analis memproyeksikan harga minyak Brent di level USD65,02 pada tahun 2019, terendah dalam 16 bulan lebih karena melemahnya permintaan akibat perlambatan ekonomi dan perdagangan. Namun demikian harga minyak WTI naik 1,7% sepanjang pekan lalu didukung harapan menurunnya tekanan perdagangan AS-China.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 65 sen (-1,1%) menjadi USD60,43 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,61 (-2,8%) menjadi USD55,10 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange juga mengakhiri pekan lalu dengan melemah, di tengah pemulihan di bursa saham dan imbal hasil surat utang global. Namun harga emas mengakhiri Agustus dengan melanjutkan kenaikan bulanan yang keempat berturut-turut. Ekspektasi berlanjutnya perundingan dagang AS-China meredam kenaikan harga emas pada pekan lalu. Harga logam lain, seperti perak juga turun 0,2% menjadi USD18,21 per ounce, namun platinum naik 1,3% ke USD928,05, dan palladium melesat 4,1% menjadi USD 1,535,45.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi USD 1.520 per ounce, naik 7,4% secara bulanan.
  • Harga emas berjangka turun 0,5% menjadi USD 1.529 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author