Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, Dukung Potensi Penguatan IHSG

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, Dukung Potensi Penguatan IHSG

Posted by Written on 19 August 2019


Ipotnews - Mengawali pekan ini, Senin (19/8), bursa saham Asia dibuka menguat melanjutkan tren kenaikan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu. Imbal hasil US Treasury 10 tahun dan 30 tahun  rebound , setelah sempat anjlok sehingga menyebabkan kepanikan pasar pada pertengahan pekan lalu. Indeks MSCI Asia ex-Jepang naik 0,24%. Pasar menunggu kebijakan baru bank sentral China untuk mendorong pertumbuhan.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan lonjakan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,86%, diwarnai kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks melaju 0,66% (42,00 poin) ke posisi 6.447,50 pada pukul 8:05 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,64% (130,03 poin) ke level 20.548,84, setelah dibuka melaju 0,87%, dan indeks Topix meningkat 0,62%, di tengah lonjakan harga saham FamilyMart sebesar 5,34%. Indeks Kospi, Korea Selatan, naik 0,36% dan berlanjut menguat 0,38% menjadi 1.934,43.

Memperkuat tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melonjak 1,01% (260,58 poin) ke level 25.994,80 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China naik 0,41% menjadi 2.835,52.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren kenaikan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu dengan kenaikan 0,46% ke level 6.286. Namun investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp722,62 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpotensi melanjutkan tren penguatan jangka panjang ditopang kembalinya  capital inflow.  Secara teknikal beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan mendekati area jenuh beli sehingga cenderung tertahan.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, meredanya kekhawatiran investor seiring dengan  rebound yield  US Treasurytenor 30 tahun dan 10 tahun serta dilanjutkannya perundingan dagang AS-China yang akan berlangsung pada bulan September diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar.

Di sisi lain, terkoreksinya mayoritas harga komoditas yaitu CPO, nikel, timah, emas dan batu bara diprediksi akan menjadi katalis negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan  support  di level 6.250 dan  resistance  di level 6.320.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: CTRA (Buy, Support: Rp1.205, Resist: Rp1.265), BEST (Buy, Support: Rp302, Resist: Rp326), 

    INTP (Buy, Support: Rp21.400, Resist: Rp22.750), TOWR (Buy, Support: Rp750, Resist : Rp775).

  • ETF: XIIF ( SELL , Support: Rp674, Resist: Rp680), XBNI ( SELL , Support: Rp1.078, Resist: Rp1.086), 

    XPDV (Buy, Support: Rp472, Resist: Rp479).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat tajam, didukung  rebound yield  obligasi AS tenor 30 tahun dan tenor 10 tahun yang sempat anjlok ke level terendah 3 tahun, sehingga melonggarkan kekhawatiran akan kemungkinan resesi ekonomi. Para analis mengaitkan  rebound yield  obligasi ini dengan kabar bahwa pemerintah Jerman akan menerbitkan lebih banyak surat utang untuk menstimulasi perekonomiannya.

Pasar meyakini ada banyak alasan untuk mengabaikan momentum  bearish  karena pemerintah AS da The Fed tidak ingin harga saham jatuh. Sementara konsumen AS mungkin tidak terlalu memperhatikan inversi yield obligasi. Harga saham sektor perbankan melonjak; saham Bank of America dan Citigroup masing-masing melonjak 3% dan 3,5%. Namun indeks Dow Jones merosot 1,5% sepanjang pekan lalu.

  • Dow Jones Industrial Average ( DJIA ) melaju 1,20% (306,62 poin) ke posisi 25.886,01.

  • S&P 500 melonjak 1,44% (41,08 poin) ke level 2.888,68.

  • Nasdaq Composite melompat 1,67% (129,38 poin) menjadi 7.895,99.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 1,14% menjadi USD24,81.

Bursa saham utama Eropa juga mengakhiri pekan lalu dengan membukukan  rebound  dari level terendah dalam 6 bulan terakhir, ditopang kebijakan fiskal pemerintah Jerman. Majalah Der Spiegel mengabarkan, koalisi pemerintahan Jerman akan menyiapkan aturan neraca keuangan pemerintah serta menerbitkan utang baru guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi. Stimulus oleh bank sentral juga menambah optimisme setelah European Central Bank melalui seorang pejabatnya, Olli Rehn menyatakan segera melonggarkan moneter secara agresif.

Indeks STOXX 600 naik 1,24% menjadi 369,63, dengan menempatkan semua sektor di zona hijau. Saham sektor perbankan melesat 2,4%, mencatatkan level tertinggi dalam 4,5 bulan terakhir, setelah rontok 8% sepanjang bulan ini karena tertekan oleh jatuhnya  yield  surat utang. Sektor teknologi melaju 1,7% seiring kenaikan saham-saham Nvidia, AMS, Infineon, STMicroelectronics dengan kisaran kenaikan antara 1,2% hingga 2,1%. saham sektor utilitas juga meningkat 1,7%.

  • DAX 30 Frankfurt melonjak 1,31% (150,07 poin) ke level 11.562,74.

  • FTSE 100 London meningkat 0,71% (50,14 poin) menjadi 7117,15.

  • CAC 40 Paris melaju 1,22% (63,86 poin) ke posisi 5.300,79.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup cenderung mendatar, para pelaku pasar mempertimbangkan rilis sejumlah data ekonomi AS. Pengeluaran konsumen AS pada Juli lalu meningkat sehingga penjualan ritel dan jasa makanan naik 0,7% menjadi USD523,5 miliar. Namun hasil survei konsumen Universitas Michigan memperlihatkan sentimen konsumen AS menurun pada awal Agustus menjadi 92,1, terendah sejak awal tahun.

Pembangunan perumahan AS pada Juli lalu turun, memasuki bulan ketiga berturut-turut. "Kebijakan moneter dan perdagangan telah meningkatkan ketidakpastian konsumen, tetapi bukan pesimisme, tentang prospek keuangan masa depan mereka," kata survei itu. Indeks dolar AS, yang mengukur kurs  greenback  terhadap enam mata uang negara maju naik tipis 0,01% menjadi 98,142.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1090-0.0017-0.15%
Poundsterling (GBP-USD)1.21490.0061+0.50%
Yen (USD-JPY)106.380.26+0.25%
Yuan (USD-CNY)7.04280.0088+0.13%
Rupiah (USD-IDR)14,240.00-33.50-0.23%

Sumber : Bloomberg.com, 16/8/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges juga mengakhiri pekan lalu dengan membukukan kenaikan. 

Harga minyak  rebound  bersama pasar saham karena faktor ekspektasi stimulus bank sentral, yang diyakini akan menolong untuk mengendurkan kekhawatiran terhadap resesi. Penguatan harga minyak agak terbatas karena OPEC memperkirakan permintaan minyak global akan melemah karena prospek perlambatan ekonomi di sisa tahun 2019. OPEC juga menyoroti tantangan tahun 2020 dimana negara pesaing akan meningkatkan produksi. BNP Paribas memperkirakan harga minyak WTI pada 2019 ke posisi USD 55 per barel dan Brent ke harga USD 62 per barel. BNP memangkas proyeksi harga seiring faktor perang dagang AS dan China yang masih berlangsung.

  • Harga minyak berjanga Brent naik 49 sen (0,8%) menjadi USD 58,72 per barel.

  • Harga minyak berjangka WTI naik 40 sen
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan pelemahan, tertekan apresiasi dolar AS dan lonjakan di bursa saham Wall Street. Namun kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian konflik dagang AS-China masih mendorong harga emas di jalur penguatan mingguan ketiga. Para pemodal mulai fokus pada simposium the Fed pekan depan untuk memantau sinyal pelonggaran moneter.

Analis Reuters, menilai emas pasar spot mungkin akan melemah di rentang harga USD 1.483 - USD 1.503 per ounce. Harga logam mulai laiinnya, seperti perak turun 0,6% menjadi USD17,16 per ounce, platinum naik 0,9% menjadi USD849,95, dan palladium naik 0,4% menjadi USD1.450,7.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi USD 1.514,70 per ounce, naik 1%secara mingguan.

  • Harga emas berjangka turun 0,5% menjadi USD 1.523,6 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author