Bursa Pagi: Ancaman Resesi Tekan Global-Regional, Hambat Laju IHSG

Bursa Pagi: Ancaman Resesi Tekan Global-Regional, Hambat Laju IHSG

Posted by Written on 15 August 2019


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Kamis (15/8) dibuka turun, melanjutkan kejatuhan tajam indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street, karena kekhawatiran resesi setelah inversi imbal hasil obligasi AS dan pelemahan data ekonomi China dan Eropa. Indeks MSCI Asia ex-Jepang turun 0,34%.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan tajam indeks ASX 200, Australia sebesar 1,91%, di tengah penurunan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Saham sektor keuangan merosot lebih dari 1,5%. Indeks berlanjut menukik 1,92% (-126,80 poin) ke level 6.469,10 padap pukul 8:20 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang meluncur deras 1,93% (-398,40 poin) ke posisi 20.256,73, setelah dibuka anjlok 1,91%, dan indeks Topix terperosok 1,95%, diwarnai penguatan yen. Saham Mitsubishi UFJ Financial Group melorot 1,88%, dan Nomura tumbang 2.59%. Bursa saham Korea Selatan dan India hari ini libur.

Melanjutkan kejatuhan global, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka merosot 1,30% (-329,69 poin) ke level 24.972,59 pada pukul 8:45 WIB. Indeks Shanghai Composite, China anjlok 1,53% ke posisi 2.765,80.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dihadapkan pada kecenderungan kejatuhan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil  rebound  dengan membukukan kenaikan 0,91% ke level 6,267 pada sesi perdagangan kemarin. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp573,86 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan kenaikan jangka panjang, namun dengan dibayangi momentum koreksi. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya adanya potensi penguatan terbatas, menguji  bearish trend line.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, meningkatnya kekhawatiran investor akan adanya sinyal resesi ekonomi seiring dengan jatuhnya yield obligasi Amerika tenor 10 tahun diprediksi akan menjadi sentimen negatif bagi indeks.Melemahnya nilai tukar rupiah serta sejumlah harga komoditas yaitu minyak mentah dan batu bara juga diprediksi akan menjadi tambahan katalis negatif di pasar.

Sementara itu investor juga akan mencermati data neraca dagang di bulan Juli yang menurut konsensus akan membukukan defisit sebesar USD0,42 miliar. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan  support  di level 6.235 dan resistance  di level 6.300.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: WIKA (Buy, Support: Rp2.280, Resist: Rp2.340), BBNI (Buy, Support: Rp8.000, Resist: Rp8.200), 

    LPKR (Buy, Support: Rp256, Resist: Rp266), PTPP (Buy, Support: Rp1.850, Resist : Rp1.990).

  • ETF: XISI (Buy, Support: Rp356, Resist: Rp369), XISC (Buy, Support: Rp756, Resist: Rp786), 

    XPFT (Buy, Support: Rp535, Resist: Rp545).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir membara, indeks Dow Jones mencatatkan penurunan terburuk tahun ini setelah pasar obligasi memancarkan sinyal mengkhawatirkan tentang ekonomi AS. Imbal hasil US Treasury bertenor 10-tahun, jatuh ke bawah imbal hasil obligasi 2 tahun, fenomena pasar obligasi (inversi) yang menjadi indikator potensi terjadinya resesi ekonomi. Menurut data Credit Suisse, resesi terjadi rata-rata, 22 bulan setelah inversi. Terakhir kali terjadi pada Desember 2005, dua tahun sebelum resesi yang diakibatkan krisis keuangan.

Saham perbankan memimpin kejatuhan. Bank of America, Citigroup dan JP Morgan masing-masing rontok 4,6%, 5,3%, dan 4,2%. Presiden AS Donald Trump sekali lagi menyalahkan Federal Reserve atas inversi kurva imbal hasil tersebut, dan menuding bank sentral sebagai ancaman yang lebih besar daripada China. 

Data output  pabrik China juga mencatatkan tingkat terlemah dalam 17 tahun dan data ekonomi Jerman menunjukkan kontraksi pada kuartal kedua. Laporan ekonomi yang suram itu memicu ekspektasi bahwa bank sentral utama akan mengumumkan langkah-langkah stimulus yang baru.

  • Dow Jones Industrial Average terpenggal 3,05% (-800,49 poin)ke level 2.5479,42.

  • S&P 500 terperosok 2,93% (-85,72 poin) menjadi 2.840,6.

  • Nasdaq Composite terjungkal 3,02% (-242,42 poin) ke posisi 7.773,94.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 1,81% menjadi USD24,35.

Bursa saham utama Eropa tadi malam juga ditutup merosot tajam, terpukul oleh data ekonomi yang lemah dan inversi kurva imbal hasil obligasi yang memicu kekhawatiran resesi global. PDB Jerman kuartal II menyusut sebesar 0,1%, memicu kekhawatiran akan resesi di ekonomi terbesar Eropa itu. PDB zona euro tumbuh hanya 0,2% dibanding kuartal sebelumnya, perlambatan signifikan dari pertumbuhan 0,4% pada kuartal I tahun ini. Kekhawatiran resesi semakin diperparah karena kurva imbal hasil US Treasury bertenor 2-tahun dan 10-tahun berbalik untuk kali pertama sejak 2007.

Imbal hasil obligasi Eropa mengikuti US Treasury mencapai rekor terendah baru. Imbal hasil obligasi 10-tahun dan 30-tahun Jerman jatuh ke rekor terendah sepanjang masa, bersama dengan  yield  10-tahun Prancis. Indeks STOXX 600 anjlok 1,68% menjadi 366,16 Saham kelompok infrastruktur Inggris, Balfour Beatty, naik 10% dan mencapai level tertinggi sejak 2002 setelah laporan keuangan yang kuat. Saham raksasa baja dan pertambangan Arcelormittal, rontok 8%.

  • FTSE 100 London anjlok 1,42% (-103,02 poin) menjadi 7.147,88.

  • DAX 30 Frankfurt terpangkas 2,19% (-257,47 poin) ke level 11.492,66.

  • CAC 40 Paris terjerembab 2,08% (-111,77 poin) ke posisi 5.251,30.

Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir menguat, setelah kurva imbal hasil US Treasury terbalik untuk kali pertama sejak 2007. Investor, dicekam ketakutan resesi global dan beralih ke aset yang dinilai lebih aman. Inversi kurva imbal hasil terjadi ketika  spread  antara imbal hasil US Treasury bertenor 2 dan 10 tahun turun ke bawah nol, indikator akan terjadinya resesi.

Kondisi tersebut menekan pasar global yang sudah terbebani oleh data yang lemah dari China dan Jerman, ketidakpastian politik di Italia dan Inggris, serta memudarnya optimisme perundingan dagang AS-China. Kendati inversi kurva imbal hasil mungkin menimbulkan kekhawatiran tentang ekonomi AS, fundamental di negara-negara G10 lainnya terlihat lebih buruk, sehingga meningkatkan daya tarik dolar. Indeks dolar, yang mengukur kurs  greenback  terhadap enam mata uang negara maju naik 0,18% menjadi 97,987.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.11440.0005+0.04%7:22 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.2059-0.0001-0.01%7:22 PM
Yen (USD-JPY)105.84-0.07-0.07%7:22 PM
Yuan (USD-CNY)7.0244-0.0189-0.27%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,245.00-80.00-0.56%4:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 14/8/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi melorot, anjlok hingga 3% tertekan data ekonomi China dan Eropa yang menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap permintaan global. Persediaan minyak AS di luar dugaan meningkat dua pekan berturut-turut. Badan Informasi Energi AS melaporkan, stok minyak mentah AS pekan lalu tumbuh 1,6 juta barel menjadi 440,5 juta barel, sekitar 3% di atas rata-rata lima tahun, jauh dari ekspektasi penurunan 2,8 juta barel. Stok bensin turun 1,4 juta barel, melenceng dari ekspektasi kenaikan 25.000 barel, karena permintaan melonjak ke rekor 9,93 juta barel per hari.

China melaporkan data makro Juli yang mengecewakan, termasuk penurunan pertumbuhan  output  industri ke level terendah lebih dari 17 tahun. Perlambatan ekonomi global, diperkuat oleh konflik tarif dan ketidakpastian Brexit yang memukul ekonomi Eropa, dan diperberat dengan penurunan ekspor Jerman pada kuartal kedua. PDB zona euro hampir tidak tumbuh pada kuartal kedua 2019.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD1,84 (-3,2%) menjadi USD59,36 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,87 (-3,3%) menjadi USD55,23 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi berakhir dengan membukukan kenaikan lebih dari 1%, merespon inversi kurva imbal hasil US Treasury, dan data ekonomi zona euro dan China yang lemah. PDB zona euro hampir tidak tumbuh pada kuartal kedua karena ekonomi di seluruh blok itu kehilangan tenaga dan yang terbesar, Jerman, mengalami kontraksi karena perlambatan global yang didorong oleh perselisihan perdagangan dan ketidakpastian Brexit.Pertumbuhan  output  industri China pada Juli melambat, paling lambat dalam lebih dari 17 tahun.

Selasa lalu harga emas sempat melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun, USD1.534,31 per ounce, karena kerusuhan di Hong Kong dan depresiasi peso Argentina, sebelum berbalik turun 2% investor menunggu konklaf tahunan Federal Reserve, di Wyoming, pekan depan. Kepemilikan emas SPDR , mengalami outflow sekitar 11 ton - terbesar sejak awal April - pada Selasa lalu ketika kepemilikan berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Perak melonjak 1,7% menjadi USD17,25 per ounce, platinum tergelincir 0,7% menjadi USD845,89, dan palladium anjlok 1,7% menjadi USD1.430,56.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,8% menjadi USD1.513,34 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 0,75% menjadi USD1.525,40 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author