Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed Melemah, IHSG Berkutat di Rentang Konsolidasi

Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed Melemah, IHSG Berkutat di Rentang Konsolidasi

Posted by Written on 29 July 2019


Ipotnews - Mengawali pekan terakhir Juli, Senin (29/7), bursa saham Asia dibuka  mixed  cenderung melemah, mewaspadai rencana kelanjutan perundingan dagang AS-China, yang tidak mengindikasikan adanya terobosan untuk mengakhiri sengketa kedua negara. Rilis data keuntungan industrial China periode Juni melorot 3,1% (yoy), setelah mencatatkan kenaikan 1,1% pada Mei lalu. Pasar menunggu rapat kebijakan Federal Reserve AS yang akan digelar mulai Selasa besok.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,35%, di tengah penurunan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Penguatan indeks berlanjut 0,34% (23,40 poin) menjadi 6.816,80 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang merosot 0,52% (113,38 poin) ke level 21.544,577, setela dibuka melemah 0,1% diwarnai penurunan tajam saham Fanuc sebesar 1,2%. Indeks Topix juga turun 0,1%. 

Indeks Kospi, Korea Selatan turun 0,31%, saham SK Hynix anjlok 1,63%, dan berlanjut menyusut 1,00% ke posisi 2.045,63.

Melanjutkan tren penurunan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,35% (098,95 poin) ke level 28.298,79 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China sedikit menguat 0,05% di posisi 2.945,96.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada kecenderungan pelemahan indeks acuan di bursa saham Asia, setelah mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan membukukan penurunan tajam 1,19% ke level 6.325. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp1,54 triliun, terbesar sejak Juni lalu.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berada dalam rentang konsolidasi, tekanan aksi jual masih membayangi laju indeks pada perdagangan awal pekan ini. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks masih sinyal pelemahan lanjutan dengan potensi  technical rebound  yang sangat terbatas.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya indeks bursa global seiring dengan solidnya kinerja keuangan emiten sektor teknologi serta positifnya data PDB Amerika di kuartal II/2019 diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar. Sementara itu sikap hati-hati investor seiring dengan berlanjutnya rilis laporan keuangan emiten di 2Q19, serta melemahnya beberapa harga komoditas seperti timah dan batu bara ,diprediksi akan menjadi sentimen negatif bagi indeks. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan  support  di level 6.270 dan  resistance  di level 6.375.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: WTON (Buy, Support: Rp570, Resist: Rp600), MEDC (Buy, Support: Rp835, Resist: Rp870), 

    KIJA (Buy, Support: Rp304, Resist: Rp312), ACES (Buy on Weakness, Support: Rp1.785, Resist : Rp1.815).

  • ETF: XIIF ( SELL , Support: Rp700, Resist: Rp718), XIJI ( SELL , Support: Rp680, Resist: Rp706), 

    XPES ( SELL , Support: Rp430, Resist: Rp444).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup di zona hijau ditopang penguatan saham-saham raksasa teknologi seperti Intel dan Alphabet, yang mengantarkan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ke rekor tertinggi baru. Indeks sempat melemah setelah Penasehat Ekonomi Pemerintah AS, Larry Kudlow mengatakan, tidak berharap adanya kesepakatan penting dalam negosiasi dagang dengan China pada pekan ini. Namun indeks menguat kembali setelah rilis data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua yang naik 2,1%, lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 1,8%, didorong belanja rumah tangga yang naik 5,5%.

Saham Alphabet melambung 9,6% karena melaporkan laba lebih baik dari perkiraan sekaligus mengumumkan  buyback  saham senilai USD25 miliar. Twitter melesat 8% didukung kinerja laba kuartal kedua yang melampaui perkiraan. Starbucks melonjak 8,9% dan McDonald's naik 0,5% setelah menggelar kampanye promosi yang membuahkan pendapatan lebih baik dari perkiraan. Investor menunggu pengumuman suku bunga acuan The Fed yang dijadwalkan pada Rabu siang waktu setempat.

  • S&P 500 melaju 0,74% (22,19 poin) ke level 3.025,86.

  • Nasdaq Composite melompat 1,1% (91,67 poin) ke posisi 8.330,21.

  • Dow Jones Industrial Average menguat 0,19% (51,47 poin) menjadi 27.192,45.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 0,88% menjadi USD25,89.

Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup menguat, emiten-emiten  big cap  menopang laju pasar terdorong sentimen Bank Sentral Eropa. Indeks STOXX 600 naik 0,31% menjadi 390,73, atau naik 0,8% secara mingguan ditopang oleh harapan kebijakan pelonggaran moneter ECB karena memburuknya prospek ekonomi Eropa. Saham unggulan bursa London, Vodafone melambung 10,6%ke harga tertinggi sejak 2002, seiring rencana  spin off  unit bisnis menara di Eropa.

Harga saham Cellnex, pengelola tower terbesar Eropa, melonjak 3,3% dan Telecom Italia melesat 4,1% setelah Vodafone menyetujui jaringan 5G di Italia dengan melakukan merger pengelolaan tower. Nestle meningkat 2% karena membukukan penjualan kuartalan tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Emiten bank asal Spanyol, Banco Sabadell dan Caixabank terperosok 6,5% karena menurunkan target laba di 2019. Emiten barang mewah, Kering anjlok 7% akibat penjualan merek Gucci yang lebih rendah dari harapan.

  • FTSE 100 London melaju 0,80% (60,01 poin) ke level 7.549,06.

  • DAX 30 Frankfurt naik 0,47% (57,80 poin) menjadi 12.419,90.

  • CAC 40 Paris meningkat 0,57% (32 poin) ke posisi 5.610,05.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu berakhir di level tertinggi dalam 2 bulan terakhir, setelah Penasehat Ekonomi AS, Larry Kudlow mengatakan tidak akan ada intervensi terhadap dolar AS. Pasar merespon positif rilis data PDB AS kuartal II yang naik 2,1%, lebih baik dari ekspektasi kenaikan 1,8%, dan diperkirakan tidak akan mengubah keyakinan the Fed. PDB AS kuartal pertama tumbuh 3,1%. The Fed diperkirakan memangkas suku bunga acuan 0,25%.

Euro turun 0,2%, selisih  yield  obligasi AS dengan Jerman melebar menjadi 249 basis poin. Secara mingguan euro turun 0,8% setelah ECB mengindikasikan persiapan penurunan suku bunga serta mempertimbangkan opsi lain pelonggaran moneter pada rapat berikutnya, di bulan September. Investor kecewa terhadap hasil rapat kebijakan ECB pada Kamis lalu, dan menunggu rapat kebijakan The Fed yang dimulai pada Selasa besok. Indeks dolar AS naik 0,20% ke posisi 98,01.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1128-0.0019-0.17%
Poundsterling (GBP-USD)1.2384-0.0074-0.59%
Yen (USD-JPY)108.680.05+0.05%
Yuan (USD-CNY)6.88040.008+0.12%
Rupiah (USD-IDR)14,008.5031.50+0.23%

Sumber : Bloomberg.com, 24/7/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges mengakhiri pekan lalu dengan menguat, didukung oleh optimisme data ekonomi AS serta perhatian terhadap keselamatan angkutan tanker minyak di Selat Hormuz. 

Secara mingguan, harga Brent dan WTI masig-masing naik 1%dan 0,5% setelah secara komulatif melorot 6% dan 7,5% pada pekan sebelumnya.

Perlambatan ekonomi yang meluas khususnya di Asia dan Eropa dapat melemahkan permintaan terhadap minyak dan menekan harga. Reli ekuitas dan penurunan produksi minyak perusahaan BUMN Mexico, Pemex ikut menopang harga minyak naik. Tensi geopolitik masih tinggi di kawasan Selat Hormuz, jalur minyak paling penting dunia antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

  • Harga minyak berjangka Brent naik 5 sen menjadi USD 63,44 per barel.

  • Harga minyak berjangka WTI naik 18 sen menjadi USD 56,20 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu juga ditutup menguat merespon rilis data PDB AS kuartal II yang lebih baik dari perkiraan, terdorong oleh kuatnya belanja rumah tangga. Namun sepanjang pekan lalu, harga emas masih berada di zona pelemahan mingguan, pertama kali dalam 3 pekan terakhir, tertekan oleh apresiasi dolar AS. Ketidakpastian arah perundingan konflik dagang AS-China yang akan berlangsung pekan ini, ikut mendongkrak harga emas.

Harga emas diprediksi akan terus terkoreksi, namun ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan risiko eskalasi geopolitik di Timur Tengah diharapkan akan membatasi potensi koreksi emas. Harga logam lain seperti platinum turun 0,2% menjadi USD863,50 per ounce, palladium flat di USD 1.528, dan perak turun 0,3% menjadi USD 16,35.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,29% menjadi USD 1.418,21 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 0,28% menjadi USD 1418,7 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author